Enak di Kantor atau di Rumah?

Wuiiih… lama banget aku tidak mengunjungi blogku sendiri. Sepertinya blog ini sudah lumutan dan beberapa kali atapnya bocor kena hujan. (Halah! Mulai lebay deh… Hehe.) Beberapa hari kemarin memang banyak hal yang harus dikerjakan. (Mulai buat alasan …) Dan aku tak punya stok naskah yang bisa langsung dipublikasikan di blog. Ada sih tulisan pendek-pendek, tapi ibarat makanan, itu belum matang. Masih harus ditambahi, diedit… dan kalau perlu ditulis ulang. Hehehe.

Oke, sekarang mau cerita apa enaknya? Cerita yang ringan-ringan saja ya. Sesuatu yang menyerempet-nyerempet pekerjaanku.

Beberapa kali setiap ketemu orang baru, aku sering ditanyai: “Kerja di mana?” Nah, ini sebenarnya pertanyaan yang agak panjang penjelasannya. Kata “di mana” berarti menunjuk tempat, kan? Jadi, aku jawab, “Di rumah.” Dan tak jarang orang agak bingung waktu mendengar jawabanku. Kok kerja di rumah? Ibu rumah tangga? Ya. Sebagai istri, ya aku jadi ibu rumah tangga biasa. Eh, belum ibu ding. Istri rumah tangga aja kalau begitu. Hehehe. Tapi memang aku benar-benar bekerja di rumah. Alias, pekerjaanku kukerjakan di rumah. Bukan di kantor.

Selama ini aktivitasku tak jauh-jauh dari komputer dan internet. Ah, cuma ngetik-ngetik saja kok. Kalau ada yang perlu diketik, ya diketik. Kalau ada yang perlu diganti bahasanya, ya diganti. Kalau ada kalimat yang agak kurang enak, ya diubah dikit-dikit. Biasa saja. Bukan pekerjaan yang wah atau bagaimana gitu. Tapi ya begitulah, semuanya kukerjakan di rumah. Nah, tapi tidak semua orang mengerti soal ini.

Biasanya sih setelah aku menjelaskan soal pekerjaanku, orang akan bilang, “Wah enak ya?” Hmmm … Aku biasanya aku menjawab, “Sama saja. Ada enak, ada enggaknya.” Aku pernah mengalami menjadi karyawan biasa. Sebagai pegawai kantoran, kupikir ada enaknya juga. Tiap bulan, gaji dengan nominal yang relatif tetap (bahkan bisa naik kan tiap tahun), masuk ke rekening. Enggak enaknya kerja kantoran kalau bagiku tuh soal waktu yang kadang tidak bisa fleksibel. Kadang jatah cuti bukannya nambah, malah kepotong cuti bersama. (Itu kalau kantorku dulu sih.) Kadang pas ingin mencoba hal-hal baru, kita kepentok dengan aturan kantor. Kalau kita cukup bagus prestasinya, syukur-syukur bosnya baik, karier bisa naik. Kalau tidak ya apes saja, mentok di situ-situ saja. Tapi kalau bosnya bikin eneg, kerja kantoran ya ibarat neraka. Malessss…. Ke laut aja deh Pak, Bu Bos…! Itu kelebihan dan kekurangan bekerja kantoran–menurutku lo.

Nah, kalau kerja di rumah? Aku tak tahu apa yang ada di pikiran orang-orang setiap kali kita aku mengatakan aku bekerja di rumah. Soalnya tanggapannya hampir selalu sama: “Enak ya.” Mungkin bayangan orang-orang tuh, kalau bekerja di rumah, aku bisa tidur-tiduran. Hihihi. Tapi memang bisa begitu sih. Setidaknya kalau siang kita ngantuk, aku bisa tidur. Tapi ya tetep saja tidak bisa selalu begitu kan. Soalnya kalau tidur terus, kapan kerjanya? Bekerja di rumah tidak enaknya adalah, tidak setiap bulan ada gaji tetap yang masuk. Kadang dapat banyak, kadang sedikit. Kalau kerjaan belum selesai, ya jangan berharap bakal ada uang yang masuk rekening kita. Jadi, semuanya tergantung pada usaha kita. Yang enak lagi, jika bekerja di rumah, kalau kita ingin mengeksplorasi sesuatu hal yang sesuai minat kita, waktu bisa lebih longgar. Tidak perlu menunggu akhir pekan atau saat cuti. Rasanya lebih bebas sih. Satu lagi enaknya kerja di rumah jika di Jakarta ini: tidak perlu menghadapi macetnya jalanan di waktu jam berangkat dan pulang kantor! Macet itu sangat tidak nikmaaaat …. Selain itu, aku tidak perlu menghadapi gosip-gosip di kantor yang tidak perlu, politik kantor, dan teman-teman atau atasan yang kadang bikin eneg. *Eit, ini nggak menyindir siapa-siapa lo. Cuma kadang denger curhat dari temen-temen yang masih ngantor…. Hehehe. Tapi kalau merasa tersindir, ya tidak dilarang. Hahaha :p*

Setelah dipikir-pikir, enak mana sih sebenarnya: kerja di rumah atau kerja kantoran? Semua ada enak dan tidaknya. Yang jelas, kalau kita menyukai apa pun yang kita kerjakan, semuanya akan terasa menyenangkan. Iya kan?

Si Jo

Aku biasa memanggilnya Jo. Dengan huruf O seperti jika kita melafalkan kata “orang” atau “ongkos”. Suka-suka aku, enak mana. Karena dia pun–dalam pandanganku–juga anak yang suka-suka gue. Ceria. Begitulah jika aku diminta menggambarkan dia dalam satu kata. Tapi yah, itu lagi-lagi pandanganku secara subjektif. Aku tak tahu bagaimana dia memandang dirinya sendiri.

Ketika kami masih berseragam putih biru, kami sekelas waktu kelas 2. Menurutku, itu kelas paling wuenak. Kami kompak dan selalu gembira. Dan aku ingat betul dulu aku dan si Jo itu merasakan hal yang sama. Nah, karena kelas 3 kami akan dikembalikan seperti kelas 1 dulu, aku dan Jo pagi-pagi menghadap Pak Dawud selaku kepala sekolah SMP dulu. “Pak, bagaimana kalau nanti naik kelas 3, kami kelasnya tetep seperti kelas 2 ini? Nggak usah dikembalikan seperti kelas 1 dulu. Ya, Pak? Ya?” begitu pinta kami. Eh lebih tepatnya Jo yang bilang begitu kepada Kepala Sekolah. Bukan aku. Wong aku pemalu begini. Jadi ya cuma mengompori Jo supaya dia tidak gentar mengajukan permintaan itu. Dan kupikir itu adalah permintaan konyol yang cuma dibalas dengan senyuman plus ucapan, “Ya, nggak bisa begitu.” Dan kami mendadak merasa putus asa. Lha wong sudah menghadap Kepala Sekolah lo, kok ya nggak ada hasil.

Tapi sungguh, mengingat keberanian kami itu, aku suka geli sendiri. Wong untuk urusan komposisi kelas saja kami berani menghadap beliau. Memang, di masa SMP antara guru dan murid rasanya hampir tiada jarak. Murid sering bercanda dengan guru, dan guru pun tak canggung ikut mengobrol dengan murid-murid. Jadi, kalau sekadar menghadap Kepala Sekolah, itu bukan hal besar. Yaaa … kalau aku sih pakai acara deg-degan sih. Tapi Kepala Sekolah kami dulu bukan orang yang “sangar” atau sangat ditakuti. Biasa saja. Segan sih. Tapi tidak sampai pada tataran takut.

Si Jo Beruang dan pisang-pisangnya.
Si Jo Beruang dan pisang-pisangnya. Katanya sih itu pisang utk bikin kue. Nggak tahu kalau dimakan sendiri... hihihi

Oiya, kembali ke Jo. Sebenarnya siapa sih nama aslinya? Nama aslinya ya memang ada unsur Jo. Joice tepatnya. Meviana Joice R. R-nya siapa aku lupa. Hehe. (Sorry ya Jo…) Panggilannya bukan cuma Jo, tapi ada pula yang memanggilnya Jus, Is, dan dia sendiri di FB melabeli dirinya sendiri Jo Beruang. Hahaha. Anaknya memang tergolong lebih lebar dibandingkan teman-teman yang lain. Jadi, ya maklum kalau dia menyebut dirinya Beruang. Atau jangan-jangan “beruang” itu artinya memiliki (banyak) uang? Amiiin. Moga-moga aku dapat jatah traktirannya. :p

Ngomong-ngomong kenapa sih aku khusus menulis buat Jo? Ulang tahunnya toh masih nanti bulan Agustus. Bukan karena ulang tahunnya, bukan pula karena ingat dulu suatu sore yang mendung dia mengantarkan ke rumahku serantang menu ala imlek berupa rebung campur daging B2 dan daging B2 masak kecap. (Mendadak lapar deh!) Tapi semata-mata karena aku terinspirasi padanya.

Well, bagaimana ceritanya?

Ceritanya suatu siang aku mendapat kabar dari ayahku jika mamanya Joice meninggal. He? Meninggal? Ingatanku melayang pada sosok perempuan yang ramah, yang selalu mengingat nama kecilku. Dan yang membuatku lebih shock lagi adalah perempuan setengah baya itu meninggal karena ditabrak kereta. Duh! Bagiku tabrakan kereta adalah peristiwa yang tak mungkin menimpa orang yang kukenal. Tapi ternyata tidak. Mamanya Jo adalah salah satu korbannya 😦

Aku tak tahu bagaimana kabar Joice selepas Mamanya tiada. Kabar tentang dirinya hanya kudengar sepotong-sepotong. Sempat bertemu saat kami akan membeli tiket kereta api di Stasiun Madiun, aku hanya bertukar kabar singkat. Dia tinggal di Semarang. Katanya sih dia membuat roti di sana. Dan kemudian dari salah seorang kawan, katanya dia bekerja di perusahaan pembuat celana dalam. Biyuh, jauh banget hubungannya ya? Dari roti sampai ke celana dalam. 😀

Aku, Joice, Pauline and Joanna, setelah kenyang nasi jotos

Nah, saat pulang ke Madiun kemarin aku bertemu dengannya lagi. Apalagi kemarin beberapa teman juga pulang. Malam itu beberapa teman menyempatkan ke rumahku karena kebetulan rumahku letaknya bisa dikatakan di tengah-tengah. Setelah ngobrol di rumahku, kami–aku, Joanna, Pauline, dan Joice akhirnya makan malam di sebuah warung nasi jotos. Kalau kubilang sih benernya mirip angkringan di Jogja dengan menu nasi kucing, sih.

Salah satu bahan obrolan kami di warung nasi jotos itu adalah aktivitas Joice yang kini menjadi pembuat roti.

“Siapa yang membantumu Jo?” tanya kami.
“Pegawaiku ada delapan,” jawabnya.
Wah! Aku sendiri tak punya bayangan memiliki usaha sendiri apalagi sampai punya pegawai 8 orang.
“Kakakmu ada membantumu?”
“Nggak. Ya, cuma aku sendiri.”
“Roti apa saja sih yang kamu buat?”
“Ah, cuma roti biasa sih. Donat dan kue-kue seribuan yang dititipkan di toko atau warung. Dan kue-kue sesuai pesanan orang saja, sih.”

Ternyata sejak masih remaja, Jo memang sering diminta membantu membuat kue orang orang tuanya. “Lha karena badanku yang besar ini, maka akulah yang diminta membanting-banting adonan donat.” Hihihi. Aku cuma terkekeh membayangkan Jo yang gempal itu membanting-banting adonan donat.

kue tar buatan joice
kue tar buatan Joice. dia terima pesanan kue apa pun. jadi termasuk kue tar (foto dipinjam dari FB-nya si Jo)

Malam itu kami mendengarkan cerita Joice bagaimana ia memulai usahanya itu. “Awalnya aku bikin kue dari tepung sekilo. Besoknya karena ada permintaan, jadi nambah tepung dua kilo. Begitu seterusnya. Sekarang aku menghabiskan tepung 1 sak untuk bikin kue.” Katanya, pelanggannya datang begitu saja. Kepergian mamanya, ayahnya yang sakit, dan kakak-kakaknya yang sudah memiliki kehidupan sendiri membuat Jo mau tak mau harus melanjutkan hidup dengan kemampuan yang ia miliki–membuat kue.

Perjumpaanku dengan Jo waktu pulang kemarin membuatku perlu menambahkan label padanya: kemandirian dan tidak putus asa. Dan satu lagi, dia jago dalam mengoordinir reuni ;). Jadi, di saat aku kepengin malas-malasan di hari yang mendung ini, aku jadi teringat padanya. Siang ini kurasa dia sedang bekerja keras membuat kue-kue. Jadi, ayo kerja, Kris! Jangan malas!

Hari Baik

Aku orang Jawa. Jadi, masih sering mendengar istilah “hari baik”. Hari baik untuk bepergian, untuk memulai bisnis, dan semacamnya, yang disesuaikan dengan weton atau hari lahir. Tapi biarpun aku orang Jawa dan sering mendengar istilah hari baik, jangan tanya padaku mengenai hari baik ya. Aku sama sekali tidak tahu.

Tapi hari ini aku merasa hari ini adalah hari baik. Aku merasa mengalami banyak keberuntungan hari ini. Semua berjalan lancar, hampir tak ada hambatan. Dan ada “kado-kado” sederhana yang membuatku tersenyum. Tidak, aku tidak berulang tahun seperti Mbak Imelda yang merayakan hari kelahirannya pada hari ini. Tapi entah mengapa sepertinya ada banyak kado menarik yang disodorkan kepadaku–tanpa kusangka-sangka.

Salah satu kado sangat istimewa yang kuterima adalah sebuah buku dengan tanda tangan penulisnya. Buku apa sih? Judulnya Abad Bapak Saya, karya Geert Mak, yang edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh PT Suara Harapan Bangsa. Aku awalnya juga tidak tahu siapa Geert Mak itu. Tetapi kenapa ujug-ujug alias mendadak aku tertarik padanya sampai aku mendapatkan buku itu? Ah, ceritanya cukup panjang sebenarnya. Begini … awalnya adalah karena belakangan ini entah mengapa aku mulai menyukai buku-buku sejarah. Mungkin karena suamiku suka sejarah, jadi ceritanya, ini adalah minat yang menular–walaupun dia tentu lebih jago soal sejarah dari aku. Dan suatu siang, seorang teman, Mbak Retty, tiba-tiba menghubungiku via YM bahwa di Erasmus Huis akan ada lokakarya penulisan dengan penulis dari Belanda. “Menarik nih,” pikirku. Lagi pula dengan embel-embel “gratis”, makin bersemangatlah aku. Hehe. Tapi bagaimana caranya untuk ikut? Mbak Retty yang baik itu kemudian memberiku alamat email untuk pendaftaran plus link untuk mengetahui informasinya lebih lanjut.

Jadilah pagi ini aku ikut suamiku menembus kemacetan Jakarta untuk menuju Erasmus Huis. Hmm … cukup jauh sih sebenarnya. Dan biarpun dari rumah pukul 6 pagi, jalan raya yang paling dekat dengan rumahku sudah maceeeet. Jakarta … oh Jakarta! Tapi yo wis, aku nikmati saja kemacetan ini. Toh tidak tiap hari aku menghadapi kemacetan to? Akhirnya setelah melewati beberapa ruas jalan yang macet, mengisi perut dengan semangkuk soto, melanjutkan perjalanan dengan TransJakarta dengan sangat lancar, aku sampai di Erasmus Huis sekitar pukul 9. Setelah tanda tangan di daftar hadir, aku sempat melirik di meja seberang. Di situ berjejer buku berjudul Abad Bapak Saya setebal hampir 5 cm dan berukuran 32 x 15 cm. Wah, berapa harganya ya? Naksir berat pada pandangan pertama, apalagi itu buku sejarah berbalutkan sejarah keluarga Geert Mak, aku cuma membatin, “Duitku cukup nggak ya untuk beli buku itu?” Tapi rupanya hari ini sungguh-sungguh hari baik bagiku, buku yang kutaksir itu dibagikan cuma-cuma kepada para peserta! Huaaa… hampir saja aku melompat saking senangnya. Tapi ya malu dong, jaim dikit lah… Hihihi! (Di akhir acara itu, kulihat buku itu dijual seharga 80 ribu rupiah. Jadi, kalau buku itu diberikan cuma-cuma, sangat-sangat lumayan kan? :D)

Acara dimulai pukul 9.30. Peserta yang menurutku tidak terlalu banyak itu rupanya cukup antusias. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir tak henti-hentinya. Jadi, ceritanya Geert Mak ini seorang jurnalis sekaligus sejarawan. Dan dia menulis buku ini dengan bahasa Belanda, bahasa ibunya. Buku yang dalam edisi bahasa Indonesia ini setebal 756 halaman, ditulis 15 tahun setelah ayahnya meninggal. Buku sejarah ini ditulisnya dengan menggabungkan sejarah keluarganya sendiri dengan sejarah Belanda pada abad ke-20. Cakupan buku ini cukup luas, mulai dari sejarah Belanda, sejarah Eropa, sejarah Indonesia, dan keadaan sosial budaya pada masa itu. Dalam buku ini dia bercerita soal timbulnya pengelompokan Katolik, Protestan dan Golongan Merah, krisis dan antisemitisme di tahun 30-an, dunia lain dari “Hindia kita”, perang di Eropa dan Asia, mentalitas pembangunan kembali impian tahun 60-an dan sifat penuh perhitungan sesudahnya. Buku ini ditulis dari sudut pandang keluarga yang biasa-biasa saja.

Sebagai seorang jurnalis kawakan, Geert Mak tidak menulis buku ini secara serampangan. Namanya juga buku sejarah, je …. Dia sudah pasti melakukan wawancara. Dan dia mengumpulkan artikel, berita koran yang terbit pada masa itu untuk mengetahui betul apa sih yang ada di benak orang-orang pada masa itu dan terutama ayahnya serta keluarganya. Baginya, aspek sejarah itu adalah apa pemikiran orang pada suatu masa serta mentalitas mereka. Dan karena ia memasukkan sejarah keluarga sendiri, dia juga mengumpulkan foto serta setumpuk surat-surat keluarganya. Tentunya dia sangat ketat dalam hal data untuk penulisan bukunya itu.

Geert Mak sendiri mengaku tak pernah mengira bahwa buku yang ditulisnya itu akan membawanya ke Indonesia dan duduk di depan kami. Buku ini sebenarnya ia tulis karena ia ingin menulis buku sejarah yang enak dibaca, mengingat saat ini banyak orang Belanda yang tidak mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Dia sendiri memang suka menulis dan melakukan riset.

Pukul 12 acara usai. Dan kami disuguhi makan siang. Eh, sebelumnya aku mengantri mendapatkan tanda tangan di buku tulisannya itu, ding. Aku sepertinya berada di urutan terakhir pada antrian itu. Dan Geert Mak, saking antusiasnya, saat membubuhkan tanda tangan membuat robekan kecil di halaman depan di bukuku. Yah, tak apalah. Wong penulisnya sendiri yang merobekkannya. Hehe. Dimaafkan kok. Nanti tinggal aku tempel selotip saja supaya robekannya tidak makin lebar. Gitu aja kok repot…

Hari ini, selain bertemu Geert Mak dan Mbak Retty, aku sempat berkenalan dengan Dian seorang perempuan manis yang bekerja di sebuah kantor humas dan Pak Wendie yang mendirikan sekolah di bawah naungan Yayasan Keluarga Bunda, di Bekasi Selatan. Kami bertukar obrolan yang cukup mengasyikkan. Lalu, aku sempat juga ikut reriungan mengobrol dengan seorang bapak yang menjadi tour guide yang selalu bersemangat dan tampaknya pengetahuannya cukup luas. Well, bertemu dengan orang-orang yang bersemangat memang menyenangkan ya? Jadi, tak salah rasanya jika kusebut hari ini adalah hari baikku. 😉 Lagi pula, setiap hari adalah baik, kan?

ki-ka: Pak Wendi, Geert Mak, Mbak Retty Hakim, aku
foto bareng Pak Wendi, Geert Mak, dan Mbak Retty Hakim (foto diambil oleh Dian dengan memakai kamera Mbak Retty :D)

Nostalgia Madiun

– Aslinya dari mana Mbak?
+ Madiun.
– Madiunnya mana?
+ ??

Itu adalah pertanyaan klasik yang sering diutarakan kepadaku. Setiap kali mendapat pertanyaan seperti itu, aku lalu bertanya-tanya, Orang ini sudah pernah ke Madiun atau belum? Atau jangan-jangan dia sudah pernah ke Madiun tapi bukan ke kotanya, tetapi ke daerah pinggiran/kabupaten? Apa maksud pertanyaan, Madiunnya mana?

Bagiku, Madiun ya Madiun saja. Mungkin karena aku tinggal tak jauh dari pusat kota. Jadi, kalau ditanya Madiunnya mana, ya paling-paling aku menyebut jalan tempat rumahku berada, yaitu Jalan Bali atau suatu tempat yang cukup dikenal masyarakat–Rumah Sakit Umum–yang cukup dekat dengan rumahku.

Aku tak tahu betul apa yang muncul di benak orang-orang ketika mendengar kata Madiun. Apakah Madiun dianggap kota besar atau kecil? Kota seluas 33,23 km2 itu hanya terdiri dari tiga kecamatan besar: Kartoharjo, Manguharjo, dan Taman. Kalau mau muter-muter keliling kota, tidak sampai satu jam pasti sudah rampung. Apalagi bagiku yang rumahnya tak jauh dari pusat kota, mau ke stasiun kereta paling cuma 10 menit dengan naik motor pelan-pelan (atau malah tidak sampai segitu ya?). Ke Gereja (St. Cornelius), paling ya 10 menit, tanpa ngebut. Bagaimana mau ngebut? Wong motorku di Madiun cuma BMW … Bebek Merah Warnanya yang sudah sepuh itu.

Saat ini aku bersyukur dibesarkan di kota kecil seperti Madiun. Kenapa? Karena hidup terasa sederhana. Dan saat ini baru kusadari bahwa bisa makan siang bersama keluarga itu adalah suatu keistimewaan yang langka jika di kota besar macam Jakarta ini. Dulu, hampir bisa dipastikan ayahku makan siang di rumah. Karena sebagai seorang guru, ayahku biasanya pulang ke rumah pukul 12 atau 1 siang. Nanti, setelah beristirahat sebentar, ayahku akan melanjutkan mengajar lagi karena sekolah tempatnya bekerja masuk pagi dan siang. Agak berbeda dengan ibuku. Ibuku biasanya sampai rumah pukul 2 siang. Jadi memang acara makan siang itu ibuku jarang ikut. Tapi toh tak mengapa, karena biasanya aku, kakakku, dan ayahku bisa makan siang bersama. Kalau di Jakarta, rasanya sangat jarang keluarga yang bisa seperti itu ya? Contohnya tak usah jauh-jauh, yaitu aku dan suamiku sendiri. Suamiku saja berangkat pagi dan sampai rumah lagi saat sudah mendekati jam makan malam. Sarapan pagi paling hanya setangkup roti tawar. Siang dia makan di tempat kerja. Dan kalau sudah keburu lapar, sebelum sampai rumah di malam hari, dia makan di luar. Jadi, sudah sangat biasa kalau aku masak dan makan sendiri di rumah. Bisa benar-benar makan bersama itu kalau suamiku libur. Jadi, berbahagialah kalian yang tinggal atau tumbuh di kota kecil 😀

Kini setelah tinggal di Jakarta, jika aku pulang, berarti selain ke Jogja aku juga pasti ke Madiun. Jarak kedua kota itu lumayan dekat. Apalagi sekarang ada kereta Sancaka jurusan Jogja-Surabaya yang lewat Madiun; Jogja-Madiun paling hanya 2,5-3 jam. Dan kalau aku pulang, salah satu hal wajib yang aku lakukan adalah … wisata kuliner! Lebih tepatnya adalah bernostalgia untuk mencicipi makanan atau minuman yang pernah sangat akrab dengan lidahku beberapa belas tahun silam. Lalu apa saja sih menu yang ada dalam daftarku?

1. Putu di pojok jalan utara Jalan Bali.

putu yang gendut-gendut...
putu yang gendut-gendut...

Menurutku, itu adalah putu paling enak yang pernah kurasakan. Mak nyus buanget! Putu itu besarnya hampir dua kali dengan putu-putu yang biasa kita jumpai. Dan aromanya harum sekali. Rasanya mantap, lembut di lidah. Isian gula merah dan parutan kelapanya membuat putu itu semakin gurih saja. Dulu kupikir semua putu itu ya seperti putu di jalan Bali itu. Ternyata tidak. Selain di situ, putu yang dijual di pasaran (setidaknya yang pernah kujumpai di kota lain) biasanya kecil-kecil dan kurang gurih.

2. Tepo tahu di pojok selatan Jalan Bali.
Makanan apa pula ini? Tepo itu sodara dekat dengan lontong. Rasanya sama. Nah, kalau tepo tahu itu adalah tahu yang dipotong dadu lalu digoreng pakai telor. Setelah matang, diiris-iris dan ditambahkan irisan tepo lalu diberi taburan taoge, daun seledri, dan brambang (bawang merah) goreng. Lalu diberi kuah kacang plus kecap. Hmmm… apa lagi ya campurannya yang lain? Seingatku sih cuma itu. Tapi tolong bagi yang tahu, koreksi ya jika aku salah menyebutkannya. Penjual tepo tahu itu belum berganti sejak aku masih kecil. Tempatnya berjualan sangat sempit. Jadi biasanya aku memilih supaya tepo tahu itu dibungkus saja dan dimakan di rumah.

3. Pecel

Pecel jalan Barito, Madiun. Porsinya cukup mengenyangkan
Pecel jalan Barito, Madiun. Porsinya cukup mengenyangkan

Ini menu wajib karena pecel adalah makanan khas Madiun. Dan di lidahku, pecel Madiun itu beda dengan pecel di kota lain. Menurutku yang membedakan adalah bumbu pecelnya dan sayurannya. Sayuran yang biasanya ada adalah sayur hijau (kalau tidak salah campuran daun singkong, daun pepaya, atau kadang cuma bayam), taoge. Kadang ada juga daun kenikir, krai rebus (aku tidak tahu krai itu apa ya bahasa Indonesianya. Tapi itu semacam mentimun berkulit hijau tua dengan garis-garis kuning), kunci muda yang direbus, rebusan ontong pisang (calon pisang), bunga turi, kemangi, petai cina. Tapi jarang sekali kita menemui pecel dengan sayuran bermacam-macam seperti itu. Biasanya sih cuma sayuran hijau dan taoge. Nah, pas pulang kemarin aku dapat pecel dengan rebusan krai dan kunci muda. Ini makanan langka bagiku. Hehe. Dan satu lagi, jangan lupa tambahkan serundeng, kerupuk atau keripik tempe, ya. Untuk menikmati nasi pecel biasa (tanpa lauk daging lo, ya), kita cukup mengeluarkan uang Rp 2.500-3.000 saja. Karena pecel adalah makanan khas Madiun, banyak sekali yang jual. Aku sendiri tidak terlalu fanatik dengan penjual tertentu. Tapi suamiku biasanya selalu mengajak makan pecel di jalan Barito (di dekat persimpangan dengan jalan Citandui). Tapi di situ malah sayurannya standar. Sambelnya yang cukup enak. Bahkan kata ayahku, pak walikota suka makan pecel di situ pula.

4. Dawet Suronatan

Dawet Suronatan yang bisa meredam panasnya siang yang terik
Dawet Suronatan yang bisa meredam panasnya siang yang terik

Hampir pasti aku menyempatkan diri mencari dawet Suronatan kalau pulang ke Madiun. Menurutku ini dawet paling enak yang pernah aku rasakan. Dan suamiku ketagihan lo. Sekali kuajak ke sana, dia selalu pengen kembali. Isinya adalah tape ketan, ketan hitam, bubur sumsum, dan cendol. Porsinya dari dulu tidak berubah; sekarang harganya Rp 3.500,00. Dawet Suronatan ini letaknya di jalan Merbabu, dekat Alon-alon Madiun.

5. Cemoe
Aku tak tahu di daerah lain apakah ada cemoe atau tidak. Tapi setahuku, hanya di Madiun yang ada cemoe. Cemoe adalah wedang manis dengan campuran santan. Isinya ketan putih. Gurih manis rasanya. Aku tak perlu jauh-jauh mencari cemoe. Cukup berjalan sekitar 100 meter dari rumahku. (See, banyak makanan enak yang tak jauh dari rumahku…). Aku lupa berapa harganya, kalau tidak salah sih Rp 3000,00 semangkuk.

Sebenarnya masih ada lagi makanan lain yang enak misalnya rujak cingur dan soto lamongan. Tapi setidaknya lima makanan/minuman itu yang biasanya kucari. Dan kurasa sekarang pasti ada lebih banyak lagi makanan yang enak di Madiun.

Selain wisata kuliner di Madiun, pas aku pulang kemarin aku bertemu dengan teman-teman lamaku semasa SMP. Dan menyenangkan sekali bertemu teman-teman lama setelah sekian belas tahun kami tidak bertemu. Rasanya jadi ketagihan pulang nih! 😀

Pulang

(Dua minggu lebih blog ini aku anggurin. Maklum, kalau lagi pas pulang, seringnya nggak pernah konek internet. Ini adalah tulisan pertama di tahun 2010 tentang pemikiranku akan arti kata pulang…)

Bagiku, kata pulang mengalami variasi arti. Ketika masih duduk di Sekolah Dasar dulu, pulang kurang lebih berarti kembali ke rumah setelah bersekolah atau mengikuti kegiatan di luar rumah. Aku kurang bisa merasakan dalamnya makna yang lain. Karena itu aku merasa heran ketika ada kerabat ayahku dari desa yang tinggal bersama kami, dan dia merengek ingin pulang ke desanya. Aku sebenarnya cukup senang dengan kehadirannya dan kurasa rumahku cukup menyenangkan. Yang kumaksud cukup menyenangkan adalah, dia tak perlu bersusah payah menimba air karena di rumahku sudah ada kran yang mengucurkan air untuk keperluan sehari-hari. Dinding rumah juga bertembok sehingga tak ada angin yang membuat kedinginan yang menerobos di sela-sela anyaman bambu seperti rumah kerabat ayahku itu. Tetapi dia ngeyel mau pulang. Ia lebih suka berada di kampungnya. Apa enaknya tinggal di rumah berdinding bambu yang reot dan dekat dengan kandang sapi? Aku tak habis pikir dengannya.

Menjelang aku SMP, kakakku melanjutkan sekolah SMA di luar kota. Dia bersekolah di Jogja, di sebuah SMA khusus laki-laki (dia kakak kelasnya DV, tapi kakak kelas jauuuuh). Walaupun ketika masih kecil dulu kami suka berantem, tapi saat dia pergi kok rasanya gimanaaaa gitu, ya? Ada yang mendadak hilang. Tidak ada lagi yang mengusili aku, adiknya yang kadang (eh sering kali ya?) merajuk ini. Orang tuaku pasti agak berlega hati karena tak ada teriakan kami saat berantem atau tangisan cengengku karena digoda kakakku. Biar cuma dua bersaudara, kami rame lo kalau berantem 😀 Kupikir sejak kakakku sekolah di luar kota itulah kami jadi lebih akur. Paling tidak, kalau ketemu kami bisa mengobrol dengan enak bukannya saling mencela seperti dulu. Dan saat itulah aku merindukan saat-saat ketika kakakku pulang. Kata pulang berarti kembalinya saudaraku yang paling dekat ke rumah dan kami berkumpul bersama lagi.

Aku lalu melanjutkan kuliah di Jogja. Nah, saat itulah pulang memiliki arti khusus buatku. Bagi anak perantuan, pasti tahu kan bagaimana rasanya jauh dari rumah? Awal-awal tinggal di Jogja, rasanya pengen pulaaaang terus. Jarak tempuh Jogja-Madiun selama 4-5 jam di bus terasa singkat. Akhir minggu menjadi saat yang kunantikan karena di saat itu aku bisa pulang ke Madiun. Saat itu, pulang ke Madiun berarti menikmati kamarku di rumah Madiun, menengok kembali isi laci dan buku-bukuku, dan bisa berguling-guling di tempat tidurku yang waktu itu rasanya lebar banget, menikmati suasana rumah yang khas. Saat itu aku masih bisa bertemu dengan beberapa teman gereja dan teman main.

Tapi masa ketika aku sering homesick itu sepertinya tidak berlangsung lama. Banyak temanku di Madiun yang merantau. Padahal kalau pulang kan aku pengen ketemu mereka juga. Dan, frekuensiku untuk pulang ke Madiun pun berkurang. Apalagi ketika aku sudah merasa menjadi bagian dari kota Jogja, aku jadi sedikit malas untuk pulang. Akhir Minggu lebih suka kuhabiskan bersantai di asrama.

Setelah lulus kuliah aku dan kakakku sama-sama bekerja di Jogja. Sekeluarnya dari asrama, aku bergabung dengan kakakku tinggal di rumah Nenek. Tapi itu hanya berjalan setahun. Orang tuaku memutuskan untuk membangun rumah di pojok utara Jogja, tepatnya di Wedomartani; 1,5 km dari Minomartani. Kami menyebut rumah ini: Rumah Krapyak, karena terletak di dusun Krapyak, Wedomartani. Rumah ini awalnya terasa amat jauh dari mana-mana. Lagi pula, jauhnya itu lo… nggak ketulungan rasanya. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai pusat kota. Kalau ke Kaliurang juga butuh waktu kira-kira 30 menit. Jauh ya? Awalnya begitu. Tapi lama-lama biasa saja. Dan aku semakin mencintai rumah itu. Walaupun tetangganya masih

semak-semak yang hijau di samping rumah Krapyak
semak-semak yang hijau di samping rumah Krapyak

sedikit, aku enjoy saja tuh. Suasananya sepi dan kiri kanan masih cukup hijau. Jadi, begitu memasuki daerah dekat rumahku, hawa dingin mulai menyergap dan segar sekali. (Sangat kontras dengan keadaan rumah yang kutempati di Jakarta ini… 😦 ).

Kini, setelah aku tinggal di Jakarta, setiap kali menyebut kata pulang, yang terbayang adalah rumah Krapyak. Ya, walaupun orang tuaku masih tinggal di Madiun, tapi aku merasa sebagian diriku tertinggal di Krapyak. Di rumah itu, aku merasa bisa benar-benar pulang: melepaskan kepenatan, mengumpulkan energi kembali. Biasanya kalau di rumah aku tidak melakukan banyak aktivitas alias bersantai. Rasanya begitu damai dan bebas.

Aku sendiri kadang agak repot juga menjelaskan ke orang-orang kalau ditanya ke mana aku pulang. Ke Madiun atau ke Jogja? Hampir seluruh hidupku dihabiskan di dua kota itu. Kalau ke Madiun, aku menemui orang tua dan menelusuri kembali kenangan masa kecilku. Kalau ke Jogja, aku merasa bebas dan rasanya aku selalu tahu apa yang harus kulakukan dan mau ke mana. Di Jogja, aku tahu ke mana aku harus pergi ketika mencari apa yang kubutuhkan. Tapi Madiun dan Jogja adalah dua kota yang tidak bisa kulepaskan begitu saja. Aku menyukai keduanya. Masing-masing memiliki keunikan sendiri.

Merenungkan kata pulang, aku lalu teringat pada kerabat ayahku yang kuceritakan di awal tulisan ini. Aku kini tahu kenapa dia begitu ingin pulang ke kampungnya, kembali ke rumahnya yang sangat sederhana. Kurasa itu karena di sanalah dia bisa mengumpulkan kembali semangat dan energinya, melepaskan kepenatan, merasa lebih bebas. Nah, begitu pula yang kurasakan jika aku pulang. Tapi satu hal yang aku sukai, aku paling suka pulang jika bersama suamiku. Bisa dolan bareng dan it’s fun! 🙂