Pentingnya Naik Kendaraan Umum di Jakarta

Selama di Jakarta, aku ke mana-mana naik kendaraan umum. Ini termasuk sesuatu yang baru bagiku karena sebelumnya saat masih di Madiun atau di Jogja, aku biasanya naik sepeda ontel atau sepeda motor. Waktu tinggal di asrama aku juga naik kendaraan umum ding. Tapi itu untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Dan begitu keluar asrama, aku kembali bermotor ria.

Dan kini, setelah sekian belas tahun terbiasa naik sepeda motor ke mana-mana, aku mesti membiasakan diri naik kendaraan umum? Rasanya? Aneh. Hehehe. Awalnya rasanya tidak bebas dan ini bisa dibilang salah satu cara untuk melatih kesabaran. Sungguh. Soalnya kita mesti menunggu datangnya kendaraan umum yang (seringnya) tidak bisa diprediksi–kecuali memang kendaraannya banyak sih. Dan belum lagi soal kelakuan sopir dan para penumpangnya yang kadang ajaib. Kalau ketemu sopir yang anteng mengemudikan kendaraannya, Anda mesti bersyukur. Yang sering kujumpai adalah sopir dan para penumpang yang merokok. 😦 Bayangkan, dalam kendaraan umum yang padat, kadang masih saja ada penumpang yang merokok. Pengen kubanting deh rasanya tuh orang. Mbok ya jangan egois to. Sudah di dalam angkot itu kita berebut oksigen, e … masih ditambahi asap rokok.

Sabtu pagi yang lalu, ada temanku yang posting di FB cerita tentang anaknya yang “mengomel” karena sang ibu (ya temanku itu tadi) mengajak anaknya naik kendaraan umum ketika mau ke pusat perbelanjaan. Si anak bilang, coba kalau ibu mau belajar menyetir, kan mereka tidak perlu “menderita” di dalam angkot. Yah, memang harus diakui bahwa naik kendaraan umum di Jakarta–dan kupikir di Indonesia pada umumnya–itu bukan pengalaman yang kurang menyenangkan. Tapi ya, kalau kita mau ambil sisi positifnya selalu bisa saja sih. Itu tergantung kreativitas kita saja kan? 😉

Nah, dari postingan temanku itu tadi, aku bertanya-tanya, “Sebetulnya anak perlu nggak diajak atau diperkenalkan naik kendaraan umum?” Pertanyaan ini berlaku bagi orang yang punya kendaraan pribadi atau yang selalu punya uang lebih untuk naik taksi. Menurutku, meskipun naik kendaraan umum itu tidak enak, kurasa seorang anak perlu diajak naik kendaraan umum. Kenapa? Karena inilah wajah Indonesia yang sebenarnya. Hihihi … segitunya! Rasanya memang tidak terlalu berlebihan sih aku ngomong begitu. Karena dalam kendaraan umum kita bisa tahu “O … ternyata sopir angkot itu suka ngebut karena harus berebut penumpang. yang kalau dihitung kasar, rata-rata itu seharga dua atau tiga ribu rupiah (saja).” Yaaa … pemikiran-pemikiran semacam itulah. Ini Indonesia banget kan ya? 😀 Dan sungguh, perlu kutegaskan lagi, naik kendaraan umum itu adalah salah satu cara terampuh melatih kesabaran. 😀

Masih cerita di hari Sabtu yang lalu, aku naik angkot ke sebuah pusat perbelanjaan dengan suamiku. Angkot yang kami tumpangi itu cukup sepi. Sampai agak jauh, penumpangnya hanya kami berdua. Di depan pak sopir ditemani seorang lelaki setengah baya. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa Jawa dengan suara yang agak keras, jadi aku bisa mendengar isi obrolan mereka. Menarik cerita mereka. Ini sedikit kutipan obrolan mereka:
+ Jadi sopir sekarang itu kalau sehari dapat 100-150 ribu, seperti tidak dapat apa-apa. Apalagi kalau keluarga kita ada di sini. Habis sudah uang segitu untuk makan dan keluarga.
– Tapi Bapak kan enak, sudah jadi sopir pribadi.
+ Ah, ya sama saja. Kalau kamu dapat majikan yang baik, itu baru enak. Kalau tidak, kamu ibaratnya cuma bisa menangis.
– Betul juga Pak.

Mendengar percakapan mereka, mendadak aku teringat salah satu isi spanduk seorang calon gubernur DKI. Kira-kira seperti ini isinya: “Enak tinggal di Jakarta. Banyak gratisannya. Sekolah gratis, layanan kesehatan gratis.” Aku jadi penasaran, itu si bapak yang nyalon jadi gubernur pernah naik angkot nggak ya keliling Jakarta? Kalau belum, aku ingin menyarankan, “Pak, coba deh seminggu sekali menyamar jadi warga biasa dan naik kendaraan umum keliling Jakarta. Mungkin Bapak bisa dapat masukan yang lebih cerdas untuk masang tulisan di spanduk.”

Siapa yang Naik Angkot di Jakarta?

Ini cerita hari Minggu yang lalu. Agak terlambat aku menuliskannya. Jadi begini, suamiku selama dua minggu ke depan dapat tugas dari kantornya untuk mengajar di sebuah sekolah tinggi di daerah Bintaro. Tidak setiap hari, hanya Senin, Rabu, dan Jumat. Ini baru pertama kali dia diminta mengajar di sana. Dia hanya diminta mengajar materi persiapan tes GMAT untuk mendapatkan beasiswa.

Aku selama ini jarang sekali ke Bintaro. Pernah sih ke sana, tetapi selama ini kalau ke sana selalu nebeng saudara yang rumahnya tak jauh dari daerah tersebut. Karena ini terbilang “daerah baru” bagi kami, kami mencari-cari rute yang paling mudah untuk ke sana. Sebenarnya cukup banyak kendaraan ke sana. Bisa naik feeder busway dari depan Ratu Plasa, bisa pula naik kereta komuter. Tapi karena Senin pagi sebelum pukul 8 suamiku harus sudah sampai sana, ini jadi masalah. Kereta yang bisa membawanya ke sana tanpa terlambat adalah kereta pukul 06.25 dari stasiun Tanah Abang. Padahal, jarak dari rumah ke stasiun Tanah Abang cukup lumayan. Jika berangkat pagi-pagi, rasanya agak sulit mengandalkan metromini atau kopaja. Kalau kopajanya ngetem lama, bisa tak dapat kereta kan? Dan siapa yang bisa menjamin kopaja tak akan ngetem?

Oya, untuk mendapatkan informasi tentang jadwal kereta itu pun butuh cara berliku. Awalnya aku tanya ke teman-teman yang rumahnya di Bintaro, tanya juga ke teman yang biasa naik kereta dari dan ke arah sana. Sebagian besar temanku memang menjawab, tetapi ada pula yang tidak. Sebagian besar, hanya mengatakan naik kereta saja dari Tanah Abang lalu turun stasiun Pondok Ranji. Tapi jam berapa saja keretanya? Tak ada yang bisa menjawab. Ya, memang bukan pegawai PT KAI sih, ya… tentu tak hapal jadwal kereta. Hehe. Kebanyakan tahunya adalah jadwal kereta sore ke arah Bintaro/Serpong. Lah, kami kan butuhnya kereta yang pagi. Memang melawan arus sih. Kebanyakan orang pada pagi hari naik kereta dari Serpong ke Jakarta, bukan sebaliknya. Memang melawan arus itu agak repot ya. Hehe. Susah dapat informasinya.

Akhirnya kami coba browsing internet, mencari jadwal kereta. Sampai di situs PT KAI, kami kesulitan membaca jadwal yang tertulis di sana. Kalau ada yang bisa membaca jadwal kereta di sana dengan mudah, tolong kasih tahu aku ya. Mungkin aku yang terlalu bodoh hanya untuk membaca jadwal. Akhirnya dapat juga infonya, tapi itu pun dari sebuah situs lain.

Untuk memastikan, kami ke stasiun terdekat, yaitu ke Manggarai. Ternyata, di sana justru tidak banyak membantu. Kereta paling pagi ke arah Serpong pukul 7.30-an. Suamiku bisa terlambat dong mengajarnya. Jadi, memang mau tak mau harus ke Tanah Abang pagi-pagi.

Karena Senin kemarin adalah hari pertamanya, maka dia tak ambil risiko. Untung aku punya saudara yang rumahnya tak jauh dari sekolah tinggi tersebut. Akhirnya, aku minta izin untuk menginap supaya Senin pagi suamiku tak kerepotan. Jadi, Minggu sore aku dan suamiku menginap di rumah saudaraku. Karena tak pernah ke sana naik kendaraan umum, aku hanya tanya setelah turun di stasiun Pondok Ranji, nanti naik angkot apa? Saudaraku hanya bilang, nanti banyak angkot warna putih di sana. Naik itu saja, katanya. Kami dikasih pula ancer-ancernya, nanti kira-kira turun mana. Tapi aku tak mendapat informasi, mesti naik angkot nomor berapa, jurusan apa. Maklum, saudaraku ini tak pernah naik kendaraan umum. Selama ini kalau bepergian naik kendaraan pribadi atau taksi, dan baru dua bulan terakhir ini saja naik kereta komuter. Tapi kalau ke stasiun, ya naik kendaraan pribadi.

Aku dan suamiku akhirnya bermodal semangat, “Let’s get lost!” Toh kami bawa peta. Dan kami memang angkoter sejati. Ke mana-mana naik angkot. Lagi pula, ini kan masih Indonesia, kalau tanya masih bisa pakai bahasa Indonesia dan senyasar-nyasarnya paling ke mana sih? Nggak sampai ke daerah antah berantah kan? Hehe. Dan kami tak nyasar. Supir angkot yang kami tanyai tak memberi info keliru.

Namun, dari pengalaman itu, aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa sih yang mau naik angkot di Jakarta? Semua orang pasti sudah tahu betapa buruknya layanan kendaraan umum di Jakarta. Sopir metromini yang terkenal suka ngebut, angkot yang penuh dan panas, adanya penodongan dan bahkan belakangan ini pemerkosaan di kendaraan umum, dan kadang kalau belum sampai tujuan kita bisa dioper, dialihkan ke kendaraan lain yang lebih penuh. Sama sekali tidak nyaman. Aku kadang berpikir, kalau orang tua naik kendaraan umum, bagaimana ya? Ibu temanku pernah cerita bahwa ia sampai nangis waktu harus naik turun metromini. Uangnya tak cukup untuk naik taksi atau bajaj. Ia diturunkan dengan buru-buru dan langsung terpapar polusi. Yah, bagi orang yang sudah berumur, pengalaman seperti itu tidaklah mengenakkan. Aku tak sepenuhnya menyalahkan orang yang akhirnya memilih naik kendaraan pribadi. Aku yakin, orang yang mampu pasti memilih naik mobil pribadi daripada harus mengalami kekonyolan-kekonyolan yang tidak penting saat naik kendaraan umum. Tapi sampai kapan akan seperti ini?

Buatku, transportasi umum yang bisa diandalkan itu penting. Kalau tidak, semua orang pasti akan beralih ke kendaraan pribadi. Dan kalau kebanyakan orang naik kendaraan pribadi, jalanan akan makin penuh, kemacetan di mana-mana. Aku merasa, pemerintah tak punya niat baik untuk memperbaiki kendaraan umum. Aku baru tiga tahun di Jakarta, tetapi sama sekali tidak melihat adanya perbaikan yang signifikan dalam hal ini. Bahkan TransJakarta pun kubilang tak bisa diandalkan. Kalau jam sibuk, antrinya bisa setengah jam lebih. Dan lihat saja betapa panjangnya antrian di halte bus TransJakarta. Belum lagi kita akan didorong-dorong saat mengantri. Kadang bus yang ditunggu tak datang-datang. Kadang ada yang lewat, tetapi tidak mengangkut penumpang.

Jadi, sebenarnya siapa sih yang naik kendaraan umum di Jakarta ini? Mestinya kalau kendaraan umum di Jakarta ini bisa diandalkan, para walikota, pak gubernur, dan para pejabat lain kalau ke kantor selalu naik angkot tanpa pengawalan khusus ya? Buktinya, tidak kan?