Menginap di Mana Kalau ke Bandung?

Akhir pekan kemarin aku dan suamiku ke Bandung. Adik iparku menikah. Mama, Papa mertua datang. Bapak, Ibu, kakakku dan istrinya juga datang. Jadi, ramai-ramai kami berkumpul di Bandung. Pernikahan adikku itu tidak diadakan secara besar-besaran, jadi hanya keluarga dekat saja yang datang.

Beberapa minggu sebelumnya, aku dan suamiku sempat cari-cari hotel untuk menginap. Cari yang murah dan sederhana saja. Tapi kemudian, adik iparku memesan kamar di asrama biara Ursulin, asrama Providentia (kebanyakan orang menyebutnya Asrama Prova). Jadi, kami tidak jadi menginap di hotel.

Tidur di asrama dan menginap di tempat yang berhubungan dengan biara bukan hal yang aneh buatku. Toh waktu kuliah aku lima tahun tinggal di asrama yang dikelola oleh suster-suster CB. Dan waktu SD aku pun sekolah yang dikelola oleh suster-suster Ursulin. Waktu SD pun aku cukup dekat dengan seorang suster (guru agama), jadi kadang aku main-main ke biara juga. Cuma, ini baru pertama kali aku ke luar kota lalu menginap di asrama. Sempat terbayang di kepalaku aku akan tidur di tempat jadul. Haha. Aduh, segitunya ya?

Sesampainya di Bandung, setelah bermacet-macet ria di dekat tol Pasteur dan beberapa ruas jalan Bandung, aku pun sampai di Asrama Prova. Halamannya sepi, hanya kulihat sebuah mobil terparkir di halaman. Tapi pintu asrama yang besar itu tertutup. Sempat bingung juga, mesti gimana. Mau mengetuk pintu, jelas tak akan terdengar sampai ke dalam dong. Lalu aku menelepon Bapak yang sudah sampai terlebih dahulu. Bapak bilang supaya memencet bel lalu cari suster yang bertugas mengelola penginapan. Setelah ketemu suster, kami diantar ke kamar. Mertuaku sudah datang, begitu pula dengan orang tuaku serta kakakku.

Wah, aku kok langsung merasa kerasan ya saat melihat kamarnya. Aku kayaknya bener-bener anak asrama deh. 😀 Tempat menginap kami sederhana, tapi bersih dan rapi. Jadi, tempat menginap itu seperti rumah kecil dan di dalamnya terdiri dari beberapa kamar. Di bagian tengah ada meja besar untuk duduk-duduk bersama dan makan. Lalu ada kamar mandi, wastafel, dan kulkas kecil. Di dekat meja makan tersedia air minum (galon) plus beberapa bungkus kopi, teh, dan gula. Waktu mau mandi juga ada air panas. Ah, enak deh. Serasa di rumah sendiri.

Aku cukup suka menginap di sana. Tapi mungkin beberapa orang kurang suka karena kesannya biara banget. Dan kalau malam, jam 21.00 pintu sudah ditutup. Tidak seperti di hotel ya yang bisa keluar masuk jam berapa saja. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan suasana seperti itu, jadi oke-oke saja kalau ada peraturan semacam itu.

Taman di biara

Selain itu, masih menempel di kompleks Prova itu ada taman yang rapi banget dan luas. Sepertinya itu memang tamannya biara Ursulin. Hmm, sebenarnya di dalam Prova sendiri ada tamannya juga, tapi menurutku taman biara Ursulin masih jauh lebih rapi. Di taman yang luas itu ada makam suster-suster Ursulin. Makam itu juga diatur rapi. Ada satu makam gabungan (jadi satu nisan untuk beberapa suster; sepertinya ini untuk yang sudah lama sekali), dan beberapa makam tersendiri.

Aku pikir asrama ini bisa jadi salah satu alternatif tempat menginap di Bandung. Mungkin cocok untuk keluarga, karena suasananya benar-benar seperti rumah. Aku kurang tahu persis berapa tarifnya, tapi kurasa tidak mahal. Dan kalau pagi bisa dapat sarapan. Jadi pengin ke Bandung lagi deh … hehehe.

Pendidikan Karakter, Adakah Hasilnya?

Ya ampun, judulnya serius amat sih?

Hari itu siang menjelang sore. Aku dan suamiku hendak ke Jatinegara, ke resto vegetarian favorit kami. Tidak seperti biasanya, kami naik metromini ke sana. Biasanya sih naik mikrolet 02, tapi pengalaman naik 02 terakhir di depan LP Cipinang belakangan suka macet karena ada pembangunan jalur busway dan banyak mobil parkir di depan kantor imigrasi, kami pun naik metromini 46. Pikirnya sih untuk menghindari macet. Yah, tapi sebenarnya sama saja sih, menjelang pasar Jatinegara, macetnya pol-polan. Jakarta macet sudah biasa bukan? Bukan …

Selama naik metromini itu, kami sempat berbincang beberapa hal. Salah satunya sih soal pendidikan karakter di sekolah. Ya ampun, serius banget sih bahan obrolannya? Itu dipicu karena di sekitar Pasar Sunan Giri terjadi kemacetan juga dan kebetulan di situ ada sekolah. Kok sekolah bikin macet sih? Karena banyak mobil parkir di depannya. Jadi jalan yang mestinya bisa untuk dua jalur, jadi cuma bisa satu jalur saja. Dan lagi, kemacetan itu imbas dari lampu merah di simpang Sunan Giri. Yo uwis, rasanya kalau menghadapi kemacetan cuma bisa bersabar ya? Itu kata orang-orang sih. Bukan kataku hihi. Tapi memang ada pilihan lain selain bersabar dan “menikmatinya”? Entahlah. Coba tanya saja pada orang yang tiap hari merasakannya. Aku sih kebanyakan di rumah, jadi jarang kena macet. :p

Awalnya di tengah kemacetan itu aku tanya ke suamiku soal tawaran menulis buku anak-anak tentang multikultur. Tapi akhirnya nyambung ke pendidikan karakter. Dia bilang, pendidikan karakter sih kayaknya cuma banyak gembar-gembornya saja. Hasilnya belum tentu. Tak usah jauh-jauh, kalau sekolahnya benar, tidak akan ada parkir berderet-deret dan memakan ruas jalan di depan sekolah kan? Idealnya, sekolah yang katanya mencetak manusia jadi lebih beradab, tidak menyulitkan dan merepotkan masyarakat di sekitarnya. Tapi kenyataannya? Mana mungkin? Memang susah sih ya kalau anak sekolah kebanyakan tidak naik kendaraan umum atau yaaa … kalau mau sih jalan kaki atau naik sepeda. Kendaraan umumnya juga nggak jelas. Memang sih, kulihat ada kok anak sekolah yang mau naik kendaraan umum, bahkan yang masih TK. Tapi jumlahnya sedikit dan itu juga mungkin jaraknya dekat. Kebanyakan masih diantar orang tuanya, dan mobil-mobil orang tua itulah yang sepertinya banyak parkir di jalanan depan sekolah. Biarpun di pagar sekolah sudah ditulisi “dilarang parkir”, tetap saja mereka parkir di situ. (Aku sempat bertanya-tanya, apakah mereka menunggui anaknya sekolah ya? Soalnya parkirnya itu bisa sepanjang hari loh.) Kalau seperti ini, apa yang terlebih dahulu harus dibereskan? Semua saling terkait. Untuk urusan parkir dan kemacetan di depan sekolah saja, rantai yang terkait sepertinya panjang betul.

Oke deh … selesai obrolannya.

Ketika sampai di jalan Pramuka, di sekitar Kayu Manis, kulihat ada banyak anak sekolah. Dari seragamnya sih kayaknya anak SMP. Mereka ramai-ramai naik. Mulai rusuh deh. Aku agak khawatir kalau mereka tawuran. Sudah beberapa kali melihat langsung tawuran di jalan, dan awalnya ya sepertinya gerombolan anak sekolah seperti itu. Sebenarnya metromini yang kutumpangi sedikit penumpangnya dan kalau anak-anak itu mau duduk, masih ada tempat. Tapi kebanyakan dari mereka berdiri bergelantungan di depan pintu. Jadi, susah kalau ada orang yang mau naik. Pak sopir sudah menyuruh mereka masuk saja, atau kalau nggak mau mereka sebaiknya turun. Tapi omongan pak sopir tidak didengarkan, bahkan mereka bilang, “Nanti dibayar kok.” Rupanya omongan mereka cuma sesumbar. Tak jauh dari Pasar Pramuka, mereka turun semua dan … tidak ada satu pun yang membayar! Padahal tadi kira-kira yang naik ada deh kalau 10 orang. Kata pak sopir, itu sudah biasa. Kasihan …. Rasanya kalau orang sudah bergerombol dan ramai-ramai begitu, mereka tampaknya sah-sah saja mau berbuat apa saja–termasuk jika perbuatan itu merugikan orang lain.

Aku jadi berpikir, jadi memang sepertinya betul ya, pendidikan karakter di sekolah itu tak ada gunanya. Buktinya sudah kulihat di depan mataku. Kata suamiku, hal seperti itu adalah peristiwa lazim di sini. Kalau hal yang seharusnya tidak patut, tetapi oleh semua orang dianggap wajar, apa yang mau kamu harapkan?

Aku jadi bertanya-tanya, apa iya masyarakat kita sudah “sakit parah”? Dulu rasanya tidak separah ini deh. Kalau di sekolah ada yang mencontek, guru akan menegur dengan keras, memberi hukuman, dan bisa mempermalukan si pencontek di depan kelas. Tapi sekarang, mencontek massal agar dapat nilai bagus, sudah dianggap wajar. Di sekolah dulu selalu diajarkan untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tapi di sini sering sekali aku lihat orang menerobos lampu merah sambil memboncengkan anak-anak. Kadang kupikir, orang itu gila apa ya? Itu kan membahayakan nyawanya sendiri? Dan lagi ini jelas bukan teladan yang baik untuk anak-anak yang dibonceng, kan? Jadi rasa-rasanya kok sekarang pelajaran tentang budi pekerti dan pendidikan karakter di sekolah cuma jadi teori saja, ya? Praktik di masyarakat? Entahlah.

Bisa kebayang nggak Indonesia ke depan mau jadi seperti apa? Semoga masih banyak orang yang mau menjadikan Indonesia menjadi lebih baik. Semoga anak-anak sekolah seperti yang kuceritakan tadi hanya sebagian kecil saja jumlahnya. Semoga …

Hari Nano-nano

Kemarin itu hari gado-gado bin nano-nano buatku. Ceritanya kemarin ada teman dari Bandung, Pak James, datang ke Jakarta untuk hadir di Christian bookfair (pameran buku Kristen) di Citraland. Aku mangu-mangu mau datang ke sana. Utamanya sih karena jauhnya dan memakan waktu. Mesti menghitung waktu dan tenaga. Buatku, bepergian di Jakarta itu butuh tenaga ekstra dan mesti diniati. Kalau tidak, ujung-ujungnya aku pasti tidak berangkat. Sebenarnya tidak hanya ketemu teman dari Bandung itu saja, tetapi juga sekalian ketemu teman lain, Thomdean, si tukang gambar. Sudah lama tidak mengobrol dengannya. Dan kurasa kalau ketemu dengan Pak James dari Bandung dan Thomdean, pasti akan muncul ide-ide untuk berkarya. Oke deh, aku berangkat.

Tapi jujur saja, aku ragu-ragu waktu mau berangkat. Mendung dan angin yang berembus terasa dingin. Pasti akan hujan. Dan kehujanan di jalan itu biasanya sebisa mungkin aku hindari. Tapi kapan lagi bisa bertemu dengan sekaligus beberapa teman? Setelah tanya sana-sini kalau ke Citraland naik kendaraan apa, aku pun berangkat. Aku ke Kampung Melayu dulu untuk naik bus 213. Bus besar ini selalu penuh, jadi mesti berangkat dari Kampung Melayu supaya dapat tempat duduk. Sesampainya di Kampung Melayu, hujan langsung turun. Bres! Aku buru-buru membuka payung dan berlari-lari supaya bisa dapat 213 yang sudah akan berangkat. Dan untung aku dapat duduk yang cukup aman dari terpaan hujan. Maklum, kalau naik bus umum, hujan tetap bisa masuk dari sela-sela jendela dan pintu bus kan tidak pernah ditutup (kecuali bus patas, ya).

Selama ini aku kalau naik bus 213 seringnya cuma sampai jalan Sudirman saja atau pol sampai Slipi. Citraland adalah daerah yang hampir tak pernah aku sentuh sendirian. Aduh, kenapa ya aku ini masih suka deg-degan pergi sendiri di daerah yang jarang sekali aku kunjungi di Jakarta ini. Aku pernah ke Citraland, tapi rasanya cuma sekali. Itu pun sama suamiku. Ndeso sangat ya? Hehe. Aku memang kuper di Jakarta karena jarang keluar rumah (sendiri). Tahunya cuma daerah seputar tempat tinggalku. Kalau dilepas sendirian di Jakarta sepertinya bisa nyasar deh 🙂

Nah, akhirnya aku sampai Citraland dengan selamat. Ternyata bus 213 itu berhenti di samping mal tersebut. Sampai sana tidak hujan, hanya mendung, padahal tadi waktu lewat Sudirman hujan deras banget. Sesampainya di sana, aku ketemu teman-teman bekas kantorku dulu. Tapi aku segera bergabung dengan Thomdean dan Pak James untuk mengobrol soal buku. Memang kalau jadi pekerja lepas begini, mesti mencari teman sendiri, soalnya sehari-hari kan kerja sendirian. Kalau ada event dan bisa bertemu teman, kadang aku datang. Dengan bertemu teman-teman seperti itu, biasanya bisa memacu diri untuk berkarya.

Setelah mengobrol dengan mereka di foodcourt, aku lalu mampir ke stand penerbitan kantorku dulu. Aku cari-cari buku yang pernah kugarap. Banyak buku baru, dan hanya beberapa saja yang ikut kugarap. Buku-buku lama yang pernah kugarap itu ingin kujadikan kenang-kenangan, karena aku lupa, apakah masih menyimpan nomor buktinya. (Nomor bukti = setiap penerjemah atau penyunting akan mendapat buku yang dikerjakannya, buku itu disebut nomor bukti. Aku tidak tahu kalau di penerbit lain, hal itu disebutnya nomor bukti atau tidak.)

Nah, ini buku yang aku beli kemarin:


Buku ini berisi kumpulan kisah pergumulan orang-orang saat berdoa. Menarik sih menurutku. Jadi dikuatkan saat aku menerjemahkannya. Buku ini diterbitkan oleh Gloria Graffa, Oktober 2007 (224 halaman). Kemarin dapat diskon 40%, jadi harganya Rp 22.200.

Kalau yang ini berisi kumpulan kisah seputar Natal. Diterbitkan oleh Gloria Graffa, Oktober 2005 (112 halaman). Karena sudah lama banget, buku ini didiskon heboh, harganya Rp 6.000.

Pulangnya, aku bareng Thomdean. Agak lama juga menunggu 213. Ditambah lagi, aku pulangnya jam 4-an, jam pulang kantor. “Semestinya kita menghindari jam-jam seperti ini,” kata Thom. Ya, aku tahu sih. Begini deh, kalau lupa pakai jam tangan. Jadi nggak perhatian dengan waktu. Dan kami sukses naik bus 213. Bus sudah penuh, tidak dapat kursi. Tapi tempat untuk berdiri masih longgar banget. Sembari di jalan dilanjutkan lagi berbincang dengan Thom sebelum dia turun di Slipi. Ternyata dia suka main board game, sama seperti suamiku yang koleksi beberapa board game. Kayaknya mereka berdua harus bertemu dan main board game bareng deh. Soal board game rasanya perlu aku tulis kapan-kapan. 🙂

Bus 213 yang kutumpangi makin penuh. Rasanya berdiri masih cukup manusiawi dibandingkan naik kereta yang penuh saat jam orang berangkat dan pulang kantor, asal berdirinya jangan di depan pintu ya. Yang harus diwaspadai adalah jangan sampai kecopetan. Selepas dari Slipi bus seperti hampir tidak bergerak. Itu kira-kira sampai 30 menit deh. Atau lebih ya? It seemed forever. Capek berdiri, dan aku takjub dengan orang-orang yang harus berdesak-desakan di dalam bus setiap hari! Oh, no! Kalau penuh tapi jalanan lancar, rasanya masih mendingan deh. Tapi kalau tidak dapat tempat dalam kendaraan umum dan mesti terjebak dalam kemacetan, rasanya itu adalah latihan kesabaran yang baik hihi. Aku jadi bersyukur tidak harus mengalami hal seperti itu setiap hari. Bisa cepet kurus kayaknya ya? :p

Aku sudah putus asa; pasti tidak akan dapat tempat nih sampai Salemba. Aku cuma berkata dalam hati, “Tuhan, aku capek sekali. Aku pengin dapat tempat duduk.” Sebenarnya ada satu-dua penumpang yang turun, tetapi tempat duduknya sudah keburu dipakai orang karena tempatku berdiri agak jauh dari penumpang yang turun itu. Tapi waktu sampai Sudirman, mendadak bapak-bapak yang duduk di dekatku turun, dan aku dapat menggantikan tempat duduknya. Leganyaaaa … Sampai aku menulis ini, aku masih takjub kok bisa ya doaku terkabul? Memang doa itu sederhana sekali, cuma minta tempat duduk di dalam bus yang penuh. Tapi aku senang waktu dikabulkan. 🙂

Aku sampai rumah jam 19.30 malam. Wew! Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Aku keluar rumah pukul 11.30 siang, dan sampai rumah lagi 19.30. Delapan jam (!) dan rasanya setengahnya aku habiskan di jalan. 😀 Kalau tiap hari seperti ini, memang bisa tua di jalan ya. Tapi aku senang bertemu teman-teman dan dapat buku-buku.

Sisi-sisi Jakarta Dahulu dan Kini dalam Benakku

Ketika aku masih SD, liburan yang paling kutunggu adalah pergi ke rumah Simbah di Jogja. Bagiku, rumah itu menyenangkan. Yang paling kuingat adalah banyaknya tanaman yang diatur rapi dan terawat dengan baik. Mbak Kakung maupun Mbah Putri memang suka dengan tanaman. Dan mereka betul-betul memelihara sendiri, mulai dari menyiangi tanaman, menyiram, dan memberi pupuk. Seingatku, Mbah Kakung selalu menyediakan lubang yang khusus untuk membuang dedaunan kering di halaman rumahnya. Jika sudah penuh, akan digali lubang lagi untuk keperluan yang sama.

Berlibur di rumah Simbah itu berarti menikmati sarapan roti tawar dengan susu kental manis, menyantap burjo menjelang tengah hari, makan bakso untuk makan siang, dan makan sate di malam hati. Selain itu juga berarti mendengarkan berbagai cerita Mbah Putri, salah satunya adalah cerita tentang beberapa anak yang dibanggakannya. Bukan, bukan ibuku yang dibanggakan, tetapi anaknya simbah yang tinggal di Jakarta. Kepada setiap orang yang datang–terlebih orang baru atau tamu–simbah akan bercerita bahwa salah satu anaknya bekerja di Astra. Terus terang, aku tidak tahu persis kenapa Astra dan Jakarta adalah hal yang perlu dibanggakan dan diulang-ulang. Namun, di pemikiranku yang masih belia itu, aku hanya menangkap Jakarta adalah sebuah kota nun jauh di sana yang punya tingkat kemakmuran melebihi kota-kota yang kukenal–Madiun dan Jogja.

Suatu ketika Ibu mengajakku ke Jakarta. Aku lupa, waktu itu aku kelas berapa. Tapi sudah cukup besar rasanya. Ibu mengajak aku, kakakku, dan beberapa kerabatku ke Jakarta. Saat itu, kami menginap di rumah adik ibuku. Karena adik ibuku ada tiga yang tinggal di seputaran Jakarta, maka kami berpindah-pindah menginapnya supaya semua kebagian. Ketika itu, yang kutangkap Jakarta adalah kota yang besar, dan rasanya saudara-saudara ibuku rasanya cukup berada. Salah satu kategori yang kupakai untuk menunjukkan seseorang cukup berada adalah punya mobil. (Namun, di kemudian hari, kategori itu kuanggap tidak terlalu benar, apalagi untuk orang Jakarta.) Ya, ketiga adik ibuku itu punya mobil semuanya. Dengan adanya mobil kami tidak perlu naik kendaraan umum untuk menikmati Jakarta.

Waktu berlalu. Ketika kakakku lulus kuliah, dia menyatakan mau bekerja di Jakarta. “Di sanalah kita bisa mengumpulkan uang karena 80% uang Indonesia berputar di sana.” Aku masih tidak mengerti apa maksud kata-katanya itu. Yang aku tahu, dia lalu menumpang di rumah tanteku dan mulai bekerja. Aku ingat pernah menjenguknya satu kali. Kali itu aku datang ke Jakarta bersama Ibu saja, lalu langsung menuju rumah Tante. Kami tiba menjelang sore. Aku berharap, tak lama lagi aku bisa bertemu dengan kakakku. Ketika kutanya Tante jam berapa kakakku biasanya tiba di rumah, dia menjawab kira-kira pukul 8 malam. Wah, malam sekali. Aku berpikir dalam hati, mampir ke mana saja dia? Dia kan tahu aku dan Ibu datang, sudah sepantasnya dia pulang lebih cepat, kan? Benar saja, kira-kira pukul 8 kakakku datang. Dia kelihatan lelah. Dia mengatakan tidak mampir ke mana-mana. Langsung pulang setelah jam kantornya usai. Kami kemudian mengobrol sebentar, lalu tidur. Dia mengatakan harus bangun pagi-pagi benar, karena pukul 05.30 harus sudah keluar rumah untuk berangkat ke tempat kerja.

Aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia mesti berangkat pagi-pagi begitu. Dia hanya bilang, waktu tempuh ke kantornya cukup lama dari rumah tanteku itu. Ah, masak harus pergi sepagi itu sih? Aku masih tak mengerti.

Akhirnya kakakku tidak betah berlama-lama di Jakarta. Awalnya dia mengeluh atasannya tidak menyenangkan. Suka merokok di ruangannya yang ber-AC, gajinya kecil pula. Dia sudah berusaha mencari tempat kerja yang lain, tetapi belum dapat juga. Mungkin kurang mujur. Dan dia pun memutuskan pulang ke Jogja–kota yang sudah diakrabinya selama belasan tahun sejak dia SMA. Mau kerja apa di Jogja, belum tahu juga. Yang penting pulang dulu ke Jogja. Kulihat dia beberapa kali memasukkan lamaran dan mencari informasi. Akhirnya setelah beberapa bulan, dia pun mendapat pekerjaan sebagai tenaga pengajar di sebuah universitas swasta katolik. (Sekarang aku berpikir, itulah kemujuran kakakku: Bisa pulang ke Jogja dan mendapat pekerjaan yang layak di sana. Jika tidak, mungkin dia akan tetap berada di Jakarta dan untuk bekerja, ia harus tetap berangkat pagi pulang malam. Kurasa itu adalah salah satu hal yang paling disyukurinya.)

Pengalaman kakakku selalu terpatri di benakku. Aku ingat betul mengantarkannya berjalan keluar kompleks perumahan tante pagi-pagi benar. Setelah sebelumnya bangun di pagi buta, mandi, lalu makan. Tak terbayangkan bagiku seperti itulah arti bekerja di Jakarta. Selama ini, bekerja di kantor berarti berangkat pagi pukul 06.30 seperti Bapak atau pukul 07.00 seperti Ibu. Lalu siang hari, pukul 12.00 atau 13.00 Bapak akan pulang untuk makan siang dan tidur siang sejenak. Nanti pukul 14.00 akan berangkat lagi ke sekolah tempatnya mengajar. Pukul 17.00 atau 18.00 sudah di rumah lagi. Sedangkan ibuku biasanya pukul 14.00 sudah berada di rumah. Itu saja menurutku jam kerja mereka lama sekali. Tapi itu belum apa-apa jika dibandingkan dengan kakakku yang berangkat pukul 05.30 dan sampai rumah pukul 20.00. Sabtu dia pun masih masuk sampai pukul 13.00. Aku sama sekali tidak bercita-cita mengikuti pengalaman kakakku untuk menghabiskan waktu terlalu lama di jalan dan bekerja di perusahaan yang buruk.

Kini setelah aku tinggal di Jakarta selama kurang lebih 3 tahun, aku jadi berpikir lain tentang Jakarta. Dulu aku menganggap Jakarta adalah kota yang gemerlap dan makmur. Sekarang aku berpikir, gemerlapnya Jakarta adalah tanda tidak meratanya pembangunan. Jakarta bagaikan teplok yang memijarkan cahayanya, lalu laron-laron akan mengerubutinya. Jika dulu aku berpikir, alangkah kayanya orang yang punya mobil (di Jakarta), kini aku berpikir, memang begitulah “tuntutan” masyarakatnya. Kebanyakan orang punya rumah jauh di pinggiran sana (seperti adik-adik ibuku), sehingga punya mobil bagaikan suatu keharusan jika mau hidup lebih enak sedikit–apalagi jika sudah punya anak–karena kendaraan umum yang sama sekali tidak bisa diandalkan waktu dan kenyamanannya. Lagi pula, di sini kredit mobil sepertinya semakin dipermudah. Beberapa orang bahkan mendapat bonus mobil jika memberikan kontribusi sampai level tertentu pada perusahaannya. Selain itu mungkin jika dikalkulasi, pulang-pergi ke tempat kerja dengan naik kendaraan sendiri lebih murah dibanding jika naik kendaraan umum. Jika dulu aku selalu menganggap bekerja kantoran itu berarti berangkat pukul 07.00 dan akan tiba di kantor kira-kira 10 atau 15 menit kemudian, kini aku berpikir hal itu adalah kenikmatan di luar Jakarta. Kini aku mengerti kenapa kakakku dulu mesti berangkat pagi-pagi dan pulang menjelang jam tidur. Perjalanan di kota ini selalu memakan waktu–dan tenaga.

Rasanya kota ini selalu saja bisa memberikan penawaran yang membuat banyak orang rela mengorbankan apa pun–termasuk kualitas hidupnya–agar bisa bertahan hidup dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan kota-kota di daerah lain. Setelah menjejakkan kaki di kota ini dan melihat sisi-sisinya yang jarang sekali ditampilkan oleh televisi, kini aku punya pandangan yang berbeda tentang Jakarta. Kota ini punya kekurangan dan kelebihannya: kemacetan dan banjir yang sudah dianggap wajar oleh warganya, banyaknya peluang kerja, berbagai fasilitas yang mungkin lebih mudah didapat dibandingkan dengan daerah lain, tuntutan hidup yang berat, dan masih banyak lagi jika kuperinci. Tetapi yang jelas, aku tak ingin masuk dalam pusarannya yang penuh tuntutan. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.

Memperpanjang Usia

Iseng buka-buka folder koleksi foto, aku menemukan foto ini:

Itu adalah hasil keisenganku. Ceritanya, ada bolpen yang isinya masih banyak dan masih bisa dipakai, tetapi bagian luarnya (bagian body yang biasa kita pegang) rusak. Aku lalu berpikir, kok sayang ya, isi bolpen ini sebenarnya masih bisa dipakai. Aku lalu teringat seorang pemilik toko kelontong di depan rumahku saat aku masih kecil. Dia punya bolpen yang bergagang kertas. Lalu, aku pun mencoba membuat gagang bolpen dari kertas, dan begitulah bentuknya. Haha. Nggak rapi ya? Tapi mending lah, dan isi bolpen itu bisa dipakai lagi. Akhirnya tak lama aku dapat bolpen yang isinya sudah habis, dan aku lalu menukarnya dengan isi bolpen yang tadinya kuberi “baju” kertas tersebut. Itu tadi adalah salah satu cara kreatif yang kulakukan untuk memperpanjang usia pakai suatu benda. Kreatif kah? Entahlah. Dengan begitu, gagang bolpen yang isinya sudah habis itu akhirnya bisa dipakai lebih lama lagi. 🙂

Aku memang kadang menyimpan benda-benda bekas yang kurasa masih bisa dipakai lagi. Salah satunya adalah amplop cokelat. Kadang aku mendapat kiriman barang, biasanya buku, dengan bungkus amplop cokelat. Biasanya aku akan membuka kiriman itu dengan hati-hati supaya amplopnya tidak sobek. Buat apa? Amplop itu kan bisa dipakai lagi untuk mengirim barang. Hehe. Pelit kah? Aku cuma berpikir demikian: Apa salahnya memperpanjang masa pakai suatu benda? Ini bukannya tidak menghormati orang yang kukirimi barang, tetapi semata-mata untuk membuat bumi ini lebih baik. Ah, masak segitunya? Sekarang coba pikir, kertas itu terbuat dari pohon. Dan jika kita bisa memperpanjang masa pakai kertas tersebut, berapa banyak pohon yang bisa dikurangi untuk ditebang? Padahal, itu cuma untuk bungkus. Ya, bungkus yang kemudian dibuang ke tong sampah. Aku sendiri tidak keberatan diberi barang tanpa dibungkus. Kertas pembungkus–atau dalam hal ini amplop cokelat–tidak memengaruhi nilai benda yang dibungkus itu kan? Jadi, tidak masalah apakah benda itu dibungkus pakai koran bekas atau amplop bekas–asal pembungkusnya cukup bersih dan tidak merusak benda itu. Dan aku sebenarnya kurang suka membeli kertas pembungkus kado. Gambarnya bagus-bagus sih. Cuma aku suka sayang kalau kertas itu “hanya” untuk membungkus kado, lalu dia akan disobek dan dibuang saat kado itu dibuka. Padahal gambarnya bagus-bagus lo. Masa pakainya hanya sebentar, lalu dia dibuang. Sayang banget rasanya.

Barang bekas lain yang biasanya kupakai agar “usianya lebih panjang” salah satunya adalah botol bekas air minum mineral. Botol-botol ini biasa kupakai untuk kujadikan wadah misalnya wadah cairan pembersih lantai atau cairan pencuci piring. Aku biasanya membeli cairan-cairan pembersih itu yang kemasan refill. Lagi pula, kalau beli yang kemasannya refill, kan sedikit lebih murah. Lumayan buat nambah ongkos naik angkot. 🙂 Dulu waktu di asrama, kulihat beberapa temanku memakai botol bekas air minum mineral ini (yang ukuran besar) untuk wadah deterjen bubuk. Hehe. Idenya ada-ada saja.

Kalau kamu, barang (bekas) apa yang kaupanjangkan umurnya?