Teman Pada Suatu Masa

Aku menemukan permenungan di bawah ini pada sebuah blog.

Reason, Season, or Lifetime

People come into your life for a reason, a season or a lifetime.
When you figure out which one it is,
you will know what to do for each person.

When someone is in your life for a REASON,
it is usually to meet a need you have expressed.
They have come to assist you through a difficulty;
to provide you with guidance and support;
to aid you physically, emotionally or spiritually.
They may seem like a godsend, and they are.
They are there for the reason you need them to be.
Then, without any wrongdoing on your part or at an inconvenient time,
this person will say or do something to bring the relationship to an end.
Sometimes they die. Sometimes they walk away.
Sometimes they act up and force you to take a stand.
What we must realize is that our need has been met, our desire fulfilled; their work is done.
The prayer you sent up has been answered and now it is time to move on.

Some people come into your life for a SEASON,
because your turn has come to share, grow or learn.
They bring you an experience of peace or make you laugh.
They may teach you something you have never done.
They usually give you an unbelievable amount of joy.
Believe it. It is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime lessons;
things you must build upon in order to have a solid emotional foundation.
Your job is to accept the lesson, love the person, and put what you have learned to use
in all other relationships and areas of your life.
It is said that love is blind but friendship is clairvoyant.

Diambil dari: Acts of Faith by Iyanla Vanzant.

Lalu aku teringat pada hal yang kurenungkan akhir-akhir ini. Ada teman yang pindah ke kota lain. Ada teman yang mulai jarang ketemu. Aku merasa setiap pribadi yang kujumpai itu datang dan menemaniku pada masa tertentu. Misalnya, ketika aku di asrama, aku bertemu Mbak Tutik. Dia bahkan menemaniku sampai aku bekerja. Dia sempat tinggal di rumahku, lalu akhirnya dia pindah ke kota lain, dan akhirnya dia pindah ke “dunia lain” lebih dulu.

Ada suatu masa ketika aku sulit menerima kepergian teman-teman–terutama teman-teman yang dulunya hampir setiap hari ketemu, beraktivitas bersama, lalu karena pindah kota atau pindah pekerjaan akhirnya kami berpisah. Ada kalanya timbul perasaan ditinggalkan.

Namun, sekarang kurasa… memang begitulah hidup. Ada kalanya aku harus menggenggam, ada kalanya aku harus membuka tangan untuk melepaskan. Ketika menggenggam, awalnya aku ragu. Aku lebih banyak mengamati dan berusaha tidak tergesa-gesa. Lalu ketika akhirnya harus melepaskan, aku baru menyadari genggaman itu terasa kuat sehingga benar-benar kehilangan.

Yah, begitulah hidup.

Aku lalu teringat obrolan dengan seorang teman yang punya kemampuan menolong arwah supaya menemukan “jalan pulang”. Saat seseorang meninggal, kadang jalannya terhambat. Yang menghambat adalah jika ada yang belum dilepaskan, belum dimaafkan/memaafkan, atau ada yang belum ikhlas dia pergi. Ternyata melepaskan itu penting. Pada akhirnya hidup adalah soal menerima dan memberi; menggenggam dan melepaskan. Hidup itu mestinya ikhlas, penuh cinta, dan bersedia mengampuni setiap saat.

Advertisements

Malaikat Pamomong dan Sowan “Ibuk”

Ketika masih kecil dulu, aku belum punya jam beker. Aku baru punya jam beker itu ketika SMP. Pemberian. Sepertinya bukan kado ulang tahun atau peristiwa penting. Tapi aku lupa. Yang jelas, jam beker itu masih kupakai sampai sekarang. Pernah rusak sekali, tapi diperbaiki dan bisa berjalan lagi sampai sekarang. Awet ya.  Aku suka sekali dengan jam beker itu.

Ketika belum punya jam beker, sesekali aku mesti bangun pagi-pagi banget kalau aku harus mengikuti suatu kegiatan atau acara. Misalnya, mau berangkat darmawisata dan naik bus pagi-pagi. Malamnya aku biasanya mbanyaki dan takut kalau bangun kesiangan. Ibuk dan Bapak biasanya akan ngayem-ngayemi dan bilang akan membangunkanku. Tapi namanya tukang mbanyaki dan mbingungi, aku tetap cemas. Kalau aku ketinggalan bus gimana? Biasanya Ibuk lalu bilang ke aku begini: “Minta sama malaikat pamomong supaya membangunkan kamu jam 4.” Agak tidak percaya, tapi tetap kulakukan.

Dan berhasil!

Selalu berhasil seingatku. Aku selalu bangun persis atau kira-kira kurang 5 menit dari waktu yang kuminta.

Kemarin aku bertemu teman lama. Ngobrol ngalor ngidul. Panjang kali lebar. Ngobrol sama dia enaknya tidak dihakimi–bahwa aku mesti begini, begitu. Tidak saling mengunggulkan bahwa aku sudah begini, kamu pun mestinya juga sudah mencapai ini dan itu. Sebenarnya aku berangkat menemui dia dalam kondisi tidak fit. Hidung meler dan tenggorokan sudah berteriak-teriak karena hampir radang. Tapi pas mengobrol dengannya, aku seperti mendapat energi cukup positif sehingga bisa duduk beberapa jam untuk saling mendengarkan.

Lalu sampailah kami pada suatu obrolan lama tentang “unfinished business” dengan beberapa orang di masa lalu dan masa sekarang. Salah satu saran darinya mengingatkanku pada pesan ibuku: “Cobalah ajak bicara sang malaikat pelindung—alias malaikat pamomong. Ajak bicara dalam tataran jiwa.”

Haish! Berat amat ya.

Pengalaman dibangunkan pagi-pagi dulu membuatku percaya bahwa malaikat pelindung itu ada dan kita bisa minta tolong kepadanya. Entah bagaimana teorinya, tapi aku mau mencoba. Setidaknya, obrolan kami kemarin mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa–hal yang akhir-akhir ini rada mbleret dan mbuh ra karuan.

Jadi, ya… aku mau coba memulai lagi sesuatu yang sudah lama kutinggalkan. Plus mau sowan Ibuk Maria lagi–yang pasti cuma geleng-geleng kepala melihatku yang masih begitu-begitu saja.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae.

 

Pekerjaan

Apa yang kamu bayangkan ketika membaca kata “pekerjaan”? Bagiku, pekerjaan adalah tumpukan file di folder PC. Kadang entah kenapa ketika aku melihat file-file itu saja rasanya sudah capek. Seperti tumpukan baju kotor yang mau tak mau harus kubawa ke ember, kurendam, lalu kucuci. Kalau baju kotor aku bisa mengalihkan pekerjaanku pada mesin cuci. Tapi pekerjaan? Cuma aku dan harus aku. File-file itu bisa berubah menjadi angka-angka di rekeningku dan aku tersenyum. Kebanyakan pekerjaan itu bentuknya file naskah yang harus dialihbahasakan.

Eiy… tapi ada juga terselip satu dua naskah yang belum selesai-selesai. Sebetulnya di antara file-file itu, file cerita itu membuatku bergairah. Membuatku ingin melamun, googling mencari bahan, lalu membubuhkan satu-dua kalimat lagi atau menghapus bagian-bagian yang tidak perlu agar lebih padat. Tapi… tapi… kenapa ya, rasanya kok aku seperti merasa bersalah kalau kebanyakan melamun dan mencari ide?

Konon katanya pekerjaan mestinya aktivitas yang membahagiakan. Pekerjaan kita sehari-hari semestinya membuat kita menjadi manusia yang utuh. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu kan? Ada yang malah merasa capek setengah mati. Ada yang gara-gara pekerjaan menjadi stres, kehilangan waktu untuk melakukan hal-hal yang diinginkan. Ada yang ketika melihat pekerjaan orang lain, timbul rasa iri. Aku sebenarnya percaya bahwa kita masing-masing punya pekerjaan yang cocok, yang membuat kita bisa merasa menjadi manusia yang utuh, merasa berprestasi, berguna, dan akhirnya bahagia.

Aku sendiri bagaimana dong? Aku hanya ingin mencoba mencatat aktivitasku belakangan ini yang membuatku merasa senang, bersemangat, dan merasa penuh. Pagi ini aku bangun dan menilik sabun-sabun hasil eksperimen yang ada di dalam cetakan. Eh, aku belum bilang ya? Aku belakangan sedang hobi coba-coba membuat sabun. Kali ini aku mencoba memakai cetakan baru. Bentuknya mawar dan hati. Sudah dua hari sabun itu dalam cetakan. Kemarin aku mencoba membukanya, tapi ternyata belum padat benar. Hari ini sudah lebih padat. Yay! Lumayan berhasil. Dan aku suka baunya: pandan bercampur mawar. Masih perlu waktu sebulan lagi agar sabun itu bisa dipakai.

sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.
sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.

Satu lagi yang membuatku senang adalah ketika aku mendapat kiriman foto dari teman-temanku yang sudah menerima bukuku. Mereka membeli bukuku untuk anak-anaknya. Aku senang ketika mereka mengatakan bahwa anak-anak mereka menikmati bukuku. Yay! Aku sadar, aku masih perlu belajar banyak untuk bisa membuat cerita anak yang menarik. Tapi menerima foto dan kabar bahwa anak-anak mereka menyukai ceritaku, membuatku jadi berbesar hati. Mongkok, Saudara-saudara! Hehe.

Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.
Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.

Ada hal yang membuatku senang, yaitu eksperimen di memasak. Rasanya deg-degan gimanaaa gitu. Seperti apa nanti hasil masakanku? Enak nggak? Apakah disukai? Aku tidak sering-sering amat melakukan eksperimen di dapur karena memasak perlu waktu lumayan bagiku. Mulai dari persiapan sampai beres-beres. Terakhir aku eksperimen membuat brownies pisang. Bagiku yang jarang bikin kue, mendapat pujian atas brownies yang kubuat itu rasanya sueneeeng.

Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.
Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.

Ah, ya… kadang (atau sering?), kita perlu undur diri sejenak dari pekerjaan yang rasanya bikin gimanaaa gitu. Ya, ya… mestinya sih pekerjaan itu arena untuk bermain-main. Tapi yah… mungkin aku aja yang lagi geje. Jadi, sudahlah, postingan seperti ini untuk mengingatkanku bahwa aku melakukan beberapa hal yang membuatku cukup berprestasi. Merasa berprestasi itu penting lo, supaya kita nggak gampang depresi.

Ujian Tujuh Tahun

Bulan lalu, ketika aku ulang tahun, salah satu yang mengucapkan selamat adalah seorang teman lama. Teman SD-SMP. Aku agak surprised waktu menerima ucapan darinya. Sebenarnya ucapannya biasa saja, tapi tahu bahwa dia masih ingat diriku dan ingat tanggal ulang tahunku, itu surprising. Aku sendiri, masih selalu ingat tanggal ulang tahunnya–semata-mata karena kami ulang tahun di bulan yang sama. Hanya selisih kira-kira satu minggu. Tapi memang sih di antara banyak teman sekolah dulu, hanya satu-dua orang yang masih berkontak denganku, salah satunya ya dia itu. Walaupun tidak sering kontaknya, paling tidak pas aku pulang, aku sesekali masih main ke rumahnya.

Pernah, suatu kali aku ditanya suamiku, “Kalau bisa balik ke masa lalu, kamu mau balik ke masa kapan?” Aku segera menjawab: “Masa SMP.” Bagiku, masa SMP itu asyik banget. Aku mendapat teman-teman yang menyenangkan. Guru-gurunya juga asyik. Mungkin kalau anak sekarang bilang: Guru-gurunya gaul. Salah satu ulang tahun terbaik yang pernah kualami adalah masa SMP—dirayakan pas malam satu suro, kalau nggak salah, trus waktu itu entah gimana ada beberapa teman melekan di sekolah. Hadiah yang kuterima waktu itu adalah sisir yang guedeee banget!. Haha. Aku masih ingat sampai sekarang.

Soal pertemanan, belakangan aku merasa sepertinya aku lebih banyak berteman lewat dunia maya–lewat FB dan belakangan WhatsApp (WA). Kalau di FB, teman-teman di ada di daftarku rata-rata teman sekolah dulu, teman blog, sesama penerjemah, beberapa teman penulis, teman asrama, teman eks kantor. Kalau di WA, aku ikut—lebih tepatnya diikutkan—beberapa grup. Tapi hanya dua yang biasanya aku cukup aktif nimbrung: grup teman kuliah di Sastra Inggris dulu dan grup Litara Sista—teman dari grup Litara yang pernah ikut workshop awal tahun lalu.

Di dua grup WA itu, aku merasa “punya teman.” Ng… maksudnya gini, karena aku lebih sering bekerja sendiri di rumah, tanpa rekan kerja, teman-teman di grup itu jadi semacam teman yang ada di seberang meja yang meramaikan ruang kerjaku. Di grup teman kuliah, bahasannya ngalor ngidul dan teman-teman cukup ramai sahut-sahutan. Akibatnya bagi yang tidak suka keriuhan biasanya meninggalkan grup tersebut. Kalau di grup Litara Sista, yang dibahas macam-macam. Mulai soal tips dan trik nulis sampai soal kontrakan rumah. Beneran kaya punya saudara-saudara perempuan kalau di grup ini. 😀

Dan pagi ini aku menemukan (lagi) kutipan ini: If a friendship lasts longer than 7 years, psychologists say it will last a lifetime. Jika persahabatan berjalan lebih dari 7 tahun, para psikolog mengatakan persahabatan itu akan langgeng seumur hidup. Seketika aku teringat teman-teman lamaku, juga teman-teman di grup WA tersebut. Aku tidak tahu sampai berapa lama teman-teman yang ada di grup WA itu akan bertahan. Lagi pula, WA sendiri bakal bertahan sampai berapa lama? 😀 😀 Tapi mengingat beberapa teman lamaku yang masih berkontak sampai sekarang, rasanya jelas sudah tujuh tahun berlalu kami berteman. Kalau bisa sih, saat usiaku semakin bertambah nanti, aku pengin punya teman-teman lama yang tetap saling mendukung, saling mengingat, saling menyayangi.

Belajar Atau Tinggalkan

Ada kata-kata atau kalimat yang menancap di kepalaku. Tidak banyak, tapi ada. Kalimat itu bisa diucapkan oleh orang terdekat, orang yang baru kukenal, atau kalimat yang kubaca entah di mana. Misalnya, suamiku sering bilang: “Kamu jangan terlampau memperhatikan omongan orang lain tentang kamu.” Itu yang sering dia bilang kalau aku mulai tidak bersemangat karena dapat kritikan–entah soal pekerjaan atau yang lain. Maksudnya, aku kerap kali terlalu merenungkan dan memasukkan ke dalam hati omongan orang lain yang bernada mengecilkan. Efeknya? Awalnya aku biasa saja. Tapi lama-lama kok bikin bete, ya? Sebenarnya sih kalau kita bisa menerima kritikan orang lain, mengolahnya, menarik pelajaran dari situ, itu pasti bagus banget. Cuma yaaa… betenya itu loh.

Beberapa waktu lalu, saat aku pulang ke Jogja, dengan kondisi setengah mengantuk, aku mengantarkan suamiku ke Wikikopi, di Pasar Kranggan. Itu adalah tempat kita bisa belajar tentang kopi mulai dari kenalan dengan petani sampai mengelola kafe. Semacam komunitas sih. Untuk lebih jelasnya, kurasa aku perlu bertanya lebih jauh nanti ke teman yang mengelolanya. Oke, bukan soal belajar tentang kopi yang mau kutulis, tapi soal kondisi setengah mengantuk dan kalimat yang akhirnya menancap di kepalaku sampai saat ini. Saat kami tiba di Wikikopi, ternyata di sana sudah banyak orang. Ternyata semacam ada “kuliah singkat”. Terlalu berat kali, ya istilahnya? Diskusi lah. Eh, masih berat? Ya, pokoknya omong-omong gitu deh. Temanya sendiri saat itu aku sudah lupa, tapi membahas soal apa itu seni, apakah kita merasa baik-baik saja pas ngopi di kafe padahal kalau kita mau lebih jauh petani kopi hidupnya masih susah, dan sebagainya… dan sebagainya. Lalu menjelang akhir kuliah singkat itu, terlontar kalimat: Belajar atau tinggalkan.

Ya, belajar atau tinggalkan.

Kalimat itu sampai sekarang menggema, dan walaupun sudah terlepas dari konteks pembicaraan saat itu, aku merasa kalimat itu menggelitikku. Kadang aku tidak cukup sabar bertahan di satu bidang yang kutekuni. Ya, dan hal ini belakangan kurasakan. Entah kurang sabar, entah kurang sreg dengan orang-orang yang sama-sama bergelut di bidang yang sama, entah ini, entah itu… Banyak alasan. Tapi alasan-alasan itu seolah akhirnya berujung pada pertanyaan: Terus mau belajar atau tidak? Kalau tidak, tinggalkan saja, kan?

Belajar atau tinggalkan.

Belajar itu bisa memetik hikmah dari kritikan, bisa dari pengalaman orang lain, bisa dari buku, dari apa saja, dari mana saja.

Akhir-akhir ini aku tertarik merajut–crochet dan knitting. Tahu bedanya, kan? Kalau crochet, pakai satu jarum–hakpen. Kalau knitting, pakai dua jarum. Sebenarnya kalau crochet, pernah kupelajari waktu SD; waktu pelajaran prakarya. Kalau knitting, pernah juga belajar sama teman pas kuliah, tapi mandeg karena mutung nggak bisa-bisa. Belajar merajut ini kulakoni dengan antara niat dan nggak niat. Semacam hangat-hangat tahi ayam gitu, deh. Haha, kebiasaan. Kalau crochet, aku sudah cukup bisa beberapa macam tusukan (stitch). Kalau bikin syal, sih… keciiil. Sombong dikit. 😀 Tapi tetep, ya… aku mesti lebih banyak belajar supaya lebih mahir. Nah, kalau knitting itu seperti pelajaran baru buatku. Aku mesti mulai lagi dari nol. Tapi satu hal yang kupetik dari pengalamanku saat latihan merajut: belajar itu jangan takut salah. Dan memang sih, kalau terus bertahan dalam satu bidang, mau tidak mau mesti mau terus belajar dan meningkatkan kemampuan dalam bidang itu. Kalau tidak, kita yang tertinggal.

Kapan Kamu Merasa Tua?

Sampai sekarang aku merasa umurku seakan berhenti sampai masa SMA atau kuliah. =)) *Minta ditimpuk.* Aku belum merasa tua. Hanya sayangnya rambutku yang sudah putih makin banyak saja, jadi mungkin wajah bisa dibilang terlihat masih muda, tapi rambut? Hmm… itu adalah kenyataan yang kadang kurasa cukup menjengkelkan. Hampir semua keluarga besarku yang seumur denganku pun begitu (para sepupu, maksudku). Jadi, kuterima saja.

Beberapa bulan lalu, aku ditelepon ibuku. “Ini kain kebaya mau dikirim ke Jakarta atau dijahitkan ke penjahit langganan Ibu di Madiun?” Loh, kebaya buat apa? Ternyata keponakanku mau menikah. Iya, keponakan, bukan sepupu. Mendengar kabar itu aku mendadak merasa disadarkan bahwa yah… ternyata memang usiaku tidak berhenti pada angka 17.

Sejak Simbah tidak ada, keluarga besarku jarang berkumpul. Dulu hampir pasti lebaran adalah saat kami berkumpul–entah bagi yang merayakan atau tidak. Yang penting adalah sowan dan sungkem sama Simbah. Jadi ketika ada acara kawinan kami baru berkumpul. Nah, saat acara kawinan ponakanku minggu lalu kami akhirnya berkumpul plus update berita. Bukan berita heboh sih, tapi bagiku cukup mengagetkan. Misalnya sepupuku yang rasanya baru beberapa waktu lalu SMP sekarang sudah mau kuliah, ada sepupuku yang kuliahnya sudah hampir selesai, ada yang kemarin rasanya masih TK sekarang sudah lulus SD. Kaget nggak sih?

Dulu, waktu aku masih kecil, aku suka sebel kalau para sesepuh bertanya kepadaku: “Sekarang kelas berapa?” Ampun, deh. Rasanya itu pertanyaan yang nggak penting banget. Tapi sekarang aku sadar itu pertanyaan penting bagi orang yang sudah tidak lagi sekolah, yang tidak muda lagi, yang mungkin merasa umur mereka berhenti pada angka 17 atau 25. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang akan menyadarkan mereka bahwa waktu memang berjalan menggilas kelincahan dan mungkin kekonyolan yang mungkin sedikit-sedikit perlu dikurangi demi bisa memberi teladan yang lebih baik kepada generasi di bawahnya.

Kadang aku berpikir, apakah kita perlu awet muda? Secara fisik, tentunya tidak semua orang bisa tampak awet muda. Konon, kalau banyak makan sayur dan buah, plus olahraga semacam yoga begitu kita bisa terlihat awet muda. Aku pernah lihat sih guru yoga yang wajahnya terlihat seperti masih gadis, tapi ternyata anaknya sudah kuliah. Tapi aku juga jadi ingat Sr. Ben, suster kepala asramaku dulu. Waktu aku masuk asrama, aku melihat suster itu sudah tua. Tapi sekarang, dari foto-foto unggahan beberapa teman yang bertemu beliau akhir-akhir ini, wajahnya tidak berubah. Kalau soal penglihatannya yang kabur, dari dulu sudah kabur sih. Memang mata beliau bermasalah. Tapi kurasa daya ingatnya masih baik. Coba deh tanya nama anak-anak asrama kepadanya, aku yakin beliau masih hapal.

Ah, ya… kadang aku lupa bahwa waktu memang benar-benar berjalan. Kadang aku lupa bahwa bergantinya hari juga memakan jatah waktuku di dunia. Kadang aku lupa bahwa suatu saat gerakanku mungkin tidak selincah ketika aku berumur 17 tahun. Tapi semoga aku tidak lupa untuk menuntaskan misi hidupku. Tulisan ini semoga bisa menjadi penanda supaya aku tidak lupa.

100_3216
mungkin hidup itu semacam lilin yang termakan api, lama-lama habis. tapi semoga kita masih ingat untuk menyala.

Sebuah Pertanyaan Tentang Benci

Ada suatu hal yang memunculkan pertanyaan di benakku: Kenapa orang membenci orang lain?

Sebetulnya hal yang memicu pertanyaan itu adalah peristiwa yang tampaknya jadi lazim terjadi akhir-akhir ini: perundungan (duh, aku masih kagok pakai kata perundungan ini sebenarnya) di medsos. Ada orang mengajukan pertanyaan, lalu dijawab dengan serangan yang bertubi-tubi. Orang itu memang mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang yah… bisa dibilang kurang bagus. Sayangnya, pertanyaan itu diajukan di grup yang orang-orangnya berkutat dengan bahasa. Tahu kan… orang-orang yang biasa “rese” hanya karena salah satu huruf, tanda baca keliru jadi masalah. Ngerti kan? Jadi, begitu orang itu mengajukan pertanyaan dengan kalimat yang mestinya diedit dulu, jawaban yang diberikan isinya adalah supaya dia memperbaiki kata-katanya. Singkat cerita, orang itu dan orang-orang yang menjawabnya pun kesal. Orang-orang jadi merundung si penanya.

Waktu menyaksikan hal itu, aku cuma membatin, “Pak, Bu, Om, Tante, Mas, Mbak… sampeyan kok selo banget sampai sempat menjawab pertanyaan itu? Plus kok sampeyan selo banget sih memberikan wejangan supaya mesti begini, mesti begitu?” Ah, iya, aku kok ya selo banget sih nulis kaya beginian di blog? Kurang kerjaan, barangkali.

Lalu seperti belum cukup meramaikan utas di grup itu, beberapa orang lalu menuliskan tanggapan di laman media sosialnya masing-masing. Sampeyan-sampeyan itu pancen selo tenan. Menurutku yang mengajukan pertanyaan maupun yang menjawab di utas itu memang selo banget dan sami mawon. Yang satu mau bertanya, tapi pakai bahasa yang buruk. Sementara yang lainnya, merasa perlu membetulkan. Sudah tahu orang yang bertanya itu tidak bisa bertanya, kok ya dijawab? Lagi pula, yang mewajibkan menjawab pertanyaan itu siapa? Ini mengingatkanku pada orang-orang yang gemar mengajukan pertanyaan saat ada seminar, workshop, atau acara-acara semacam itu. Di situ biasanya ada saja orang yang bertanya dengan pendahuluan panjang lebar, lalu pertanyaannya jadi kabur kanginan. Seandainya aku jadi guru dan ada murid yang bertanya tidak jelas begitu, mungkin aku akan bilang: “Coba kamu belajar dulu bagaimana mengajukan pertanyaan.” Alias, kamu itu maksudnya mau tanya apa? Kalau cuma mbulet dan muter-muter, itu sama saja membuat polusi.

Perundungan yang terjadi di utas tanya-jawab yang tidak jelas itu kemudian memunculkan pertanyaan yang hari ini menggema di kepalaku. Mungkin tidak berhubungan langsung dengan kejadian itu. Tapi entah kenapa di kepalaku muncul pertanyaan ini: Kenapa orang membenci orang lain?

Percaya tidak percaya, tidak hanya merenung, aku sampai googling mencari jawaban itu. Aku lalu melontarkan pertanyaan itu kepada suamiku. Begini kira-kira percakapan kami.
+Kenapa orang membenci orang lain ya?
-Karena ada perbedaan.
+Hanya karena perbedaan orang lalu membenci?
-Iya, kan? Orang lebih suka bertemu dengan orang yang punya kesamaan dengannya.

Sepertinya memang begitu. Kita benci, kesal, sebal terhadap orang lain karena ada hal yang berbeda antara aku/kita dengan dia/mereka.

…dan aku menuliskan ini sepertinya karena kurang kerjaan dan terlalu selo. Setidaknya ini menjadi permenungan pribadiku saja. Dan mungkin menjadi pengingat bahwa adu pendapat yang sifatnya memojokkan atau menyerang, rasanya hanya buang-buang tenaga dan waktu. Mbok mending nyapu ngepel, luwih genah lan cetho hasile.