Jejak Cerita Lama

Kupikir dulu pandemi akan berakhir dalam hitungan 2-3 bulan saja. Semua akan berjalan baik-baik saja tanpa ada sesuatu yang berarti. Optimis sekali aku saat itu. Memang ada kekhawatiran, tetapi rasanya tidak perlu membesar-besarkan ketakutan.

Bulan berganti menjadi tahun. Lalu muncul berita si A sakit, si B harus isolasi, si C tidak bisa pulang, dsb. Tapi waktu itu si A, B, C itu orang jauh yang tak kukenal. Makin lama, mulai ada kenalanku yang terkena covid dan dampaknya. Awalnya hanya kenalan, selanjutnya orang yang kukenal baik. Rasanya setiap hari perlu mengabsen dan saling kabar untuk memastikan bahwa teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang menempati tempat khusus di hatiku baik-baik saja. Sayangnya kenyataan kadang tidak demikian.

Kemarin beberapa teman mengabarkan kepergian seorang bapak. Sebut saja Pak SD. Mendengar berita itu lalu berkelebat-kelebat muncul di kepalaku ingatan beberapa dekade silam tentang sosok lelaki muda, usia SMA. Wajahnya sedikit panjang, dagunya lancip. Rambutnya lurus, rapi, belah samping. Matanya sedikit sipit, dan belakangan kuketahui dia memakai kacamata. Bibirnya lebar, tipis, dan mudah sekali tersenyum. Aku masih ingat betul garis wajahnya.

Dia selalu tampil rapi setiap misa–bahkan untuk misa harian. Biasanya dia memakai kaus berkerah, bukan kaus gombor. Celana jinnya memang agak belel, tapi masih rapi. Seingatku kukunya pun selalu rapi, tak pernah kulihat ia berkuku panjang. Atau aku salah ingat?

Yang jelas, aku tidak salah ingat dengan nama panjangnya. Aku pernah menghapal namanya, termasuk huruf mana yang dobel, dan suku kata mana yang mesti ditambah “h”. Aku tahu itu karena dia pernah kuminta menuliskan biodatanya di agendaku. Aku dulu pasti konyol sekali waktu memintanya menulis biodatanya di agendaku bersampul putih itu. Sama konyolnya ketika temanku AS mengompori untuk main ke rumah si mas itu. Ya ampun! Heran aku kenapa bisa seberani itu? Dia menemui kami di ruang tamunya yang luas dan rapi. Sumpah, aku masih ingat betapa deg-degannya hari Minggu itu.

Masa deg-degan itu perlahan-lahan berakhir ketika si mas akhirnya melanjutkan kuliah di Surabaya. Kami tak pernah bertemu lagi. Sesekali dia pulang waktu Natal atau Paskah, dan aku melihat dia misa bersama keluarganya. Rasanya seperti dapat kado sinterklas kalau melihat dia misa Natal. Sueneeeng pol! Haha. Konyol ya? Padahal cuma melihat dari jauh. Kalau beruntung aku bisa bersalaman mengucapkan selamat Natal ketika bubaran misa.

Tahun berganti. Jejak mas berdagu lancip itu tak kudengar. Aku hanya pernah mendengar ayahnya bercerita pada Bapak bahwa anak lelakinya itu sekarang bekerja di instansi bonafid di Jakarta. Kadang ia bekerja sampai larut malam. Aku membayangkan, mas berambut rapi itu seorang pekerja keras, dan sungguh amat keren. Ketika aku tinggal di Jakarta, sempat aku berharap bisa berjumpa dengannya di sekitar Kuningan, Sudirman, atau Thamrin … di daerah perkantoran yang cukup elit. Kadang ketika sedang ke mal dan naik lift bersama rombongan (yang tampaknya) karyawan, aku meneliti wajah mereka dan berharap mendapati senyum lebarnya. Tapi tak sekali pun aku berjumpa dengannya. Aku tak pernah mendengar kabar dia menikah. Tapi kurasa kini dia sudah menikah. Perempuan mana yang akan menolak senyum manisnya? Mungkin istrinya cantik, keibuan. Mungkin dia kini tinggal di kompleks perumahan yang cukup bagus di salah satu pojok ibu kota–mengingat dia seorang pekerja keras, pasti punya gaji lumayan untuk membeli rumah yang bagus.

Gelombang kami tidak pernah senada. Dia benar-benar jauh dari jangkauan. Jejaknya tersapu arus kehidupan. Kehidupan kami tak pernah beririsan sejak dia mulai jarang kulihat di gereja di kotaku, dan aku pun sudah beranjak ke kota lain.

Kemarin diberitakan Pak SD meninggal, menyusul istrinya yang berpulang tujuh tahun silam. Dia adalah ayah dari mas yang selalu berbaju rapi dan bermotor astrea itu. Aku pun mencoba mencari jejak si mas yang sempat membuatku deg-degan setiap kali masuk gereja. Tapi hanya namanya yang terpampang di layar pencarianku. Lalu aku mendadak merasakan sebuah kesedihan yang tipis. Beberapa pertanyaan bermunculan, tapi aku tak tahu ke mana mencari jawabannya. Semoga mas berdagu lancip itu dapat melewati masa duka dengan baik.

Aku tidak berharap kami bisa bertemu lagi. Dan harapanku memang bukan untuknya lagi.

Ilusi Deadline?

Malam ini aku merasa lega sekaligus seperti kehilangan pekerjaan. Eh, bukan kehilangan pekerjaan ding. Jadi, begini … beberapa waktu terakhir ini aku terlibat dalam proyek pembuatan modul pembelajaran dan buku pelajaran SD. Sebagian tugas sudah selesai. Lalu merasa lega. Lega karena sebelum Natal sebagian pekerjaan sudah kukirim.

Namun, di sisi lain aku merasa seperti orang yang habis berlari lalu tiba-tiba berhenti. Aku jadi buta arah. Lagi pula kalau kupikir-pikir, Natal ini mau ngapain sih? Tidak ngapa-ngapain. Tidak ke mana-mana. Cuma hatiku yang ke sana-sini.

Lalu aku melihat rak sabunku yang setengah kosong. Juga stoples kue yang sepertinya menunggu untuk diisi. Kulihat rak buku yang berisi tumpukan buku. Kulihat lagi folder di laptop, yang berisi tulisan-tulisan setengah jadi dan beberapa hal yang harus kukerjakan.

Apakah sebenarnya deadline itu ilusi?

Selalu ada hal yang harus dikerjakan. Setidaknya piring kotor dan baju dari jemuran selalu ada dan minta disentuh. Cuma kalau urusan piring dan baju itu memang tak ada duitnya. Jadi, besok aku mau ngapain ya? Bikin kue atau sabun? Atau sekadar bermedsos tanpa arah dan tujuan? Kalau kamu, mau ngapain?

Bangsa Spanduk

Kemarin ada pertemuan PKK di kampung. Sebenar-benarnya, aku sungguh amat malas ikutan. Masa-masa mesti jaga jarak begini malah ada pertemuan? Tapi aku kemarin akhirnya memutuskan ikut karena aku mesti tahu apakah aku nunggak bayar iuran dan arisan. Enggak enak banget kalau jadi batu sandungan orang lain hanya gara-gara duit sekitar sepuluh ribuan. Aku pun ingin bayar sekalian untuk beberapa bulan supaya besok-besok bisa bolos kalau ada pertemuan. Lagi pula di grup ibuk-ibuk ada foto yang menunjukkan peserta bisa duduk di luar pakai kursi dan jarak antar kursi cukup lebar. Biasanya di dalam sekretariat dan duduk lesehan gitu. Kan mana bisa jaga jarak ya?

Kemarin rupanya ada petugas dari puskesmas memberi penyuluhan soal kesehatan masyarakat dan pola makan. Informasi yang disampaikan para petugas puskesmas itu sebetulnya sudah banyak beredar yaitu bahwa selama pandemi ini kita melakukan adaptasi kebiasaan baru, mesti jaga jarak, pakai masker, dan rajin cuci tangan. Lalu pola makan mesti dijaga, banyak makan sayur dan buah, karbohidrat sudah harus dikurangi bagi ibu-ibu yang sudah 30 tahun ke atas, dan sebagainya, dan seterusnya.

Aku berpikir, kenapa ya untuk hal seperti itu perlu mendatangkan petugas dari puskesmas? Tidakkah itu informasi yang sudah jamak diketahui? Informasi yang diberikan sifatnya top-down. Sesudahnya memang ada tanya jawab, tapi terlalu singkat. Perlu ada jalur khusus untuk menampung pertanyaan-pertanyaan itu dan membahasnya.

Yang agak lucu adalah sesudah kegiatan tersebut para peserta diajak foto bersama! Lha… tadi diminta untuk jaga jarak, apa gunanya dong? Mana ada ceritanya foto bersama dengan jaga jarak mengingat peserta yang hadir lebih dari 50 orang?

Jadi, aku memilih pulang. Mungkin kita ini bangsa “spanduk”. Apa maksudnya? Kita biasa kan melihat slogan-slogan pada spanduk yang ada di jalan-jalan. Misalnya: Kita tegakkan persatuan dan kesatuan bangsa; Kita menjunjung tinggi toleransi, Masyarakat Sehat, Bangsa Kuat. Kenyataannya? Masih ada gerakan intoleransi, gerakan hidup sehat juga gitu-gitu aja. Jadi, singkatnya kalau sudah ditulis di spanduk, sudah cukuplah.

Berubah itu sulit kok. Aku sadar itu. Memang paling mudah ditulis doang. Diobrolin doang. Pelaksanaan itu nanti-nanti saja kalau ada pemeriksaan oleh petugas. Hidup tak usah dibuat serius.

Hal-hal Kecil yang Menyenangkan

1. Bisa bangun pagi-pagi, ketika hari masih sejuk dan syahdu
2. Tempat tidur dengan sprei yang baru diganti
3. Mandi dan ganti baju bersih
4. Masuk rumah pas sebelum hujan turun
5. Mencium aroma kue yang baru matang
6. Mencicipi kue yang baruuuu saja matang
7. Ketemu teman lama dan masih nyambung ketika diajak ngobrol
8. Dapat paket berisi kue atau jajanan (ya ampun, makanan lagi!)
9. Jalan pagi pas matahari masih hangat
10. Menginjak tanah berumput (apalagi pas tanah itu barusan disiram)
11. Ketemu kucing lucu dan dia mau disayang-sayang
12. Ketemu anjing lucu dan dia senang dielus-elus
13. Ke pasar pagi-pagi banget, pas semua sayuran masih lengkap dan banyaaaak!
14. Bisa yoga minimal 30 menit
15. Ada yang mau bantuin nyuci piring
16. Ada yang mau bantuin jemur cucian
17. Lantai yang barusan dipel
18. Air putih hangat yang diminum pagi hari
19. Bisa menikmati aroma bunga di halaman yang segar
20. Makan mi rebus atau bakso pas sore

Nanti kutambah kalau ingat yang lain.

Merawat Mimpi = Merawat Cinta?

Tadi aku ikut sebuah acara di LIP. Di situ salah seorang pembicara bercerita tentang keinginannya yang menggebu-gebu untuk sekolah ke luar negeri. Namun, ada beberapa hal yang menjadi kendala. Bukan soal kendala atau bagaimana cara dia menggapai impiannya yang ingin kutulis di sini. Yang menarik adalah bagaimana dia terus merawat impiannya itu.

Dalam perjalanan pulang, aku mengobrol dengan suamiku. Dia menceritakan bagaimana teman kuliahnya dulu merawat mimpinya sebagai film maker. “Walaupun mimpinya sebagai film maker ‘dibelokkan’ orang tuanya dengan menyuruhnya kuliah di jurusan teknik, dia tetap menjaga agar mimpinya terus menyala. Dia bergabung di komunitas-komunitas film. Dia terus menulis skrip film sampai akhirnya skripnya dilirik sutradara.”

Tak perlu lah kusebut siapa orang itu, yaaa, tapi cukup punya namalah orang itu. Dari cerita itu, aku menarik kesimpulan bahwa mimpi itu seperti cinta. Jika dia dirawat, dia akan menemukan jalannya sendiri sampai akhirnya terwujud. Kadang ada orang-orang terdekatmu yang berusaha membelokkan impianmu, tetapi yang menentukan apakah mimpi akan terwujud atau tidak adalah kekonsistenan kita dalam merawat impian itu. Salah satu bagian penting dalam merawat mimpi adalah langkah-langkah mewujudkannya. Seperti impian film maker tersebut, dia tetap berusaha berkenalan dengan komunitas film dan terus menulis skrip film.

Lalu, bagaimana aku sendiri merawat mimpiku? Harus kuakui, belakangan ini aku agak tak peduli dengan impianku. Aku merasa begini saja cukup. Selain itu, ada beberapa pekerjaan yang menuntutku. Kebanyakan alasan ya?

Mungkin aku kurang mencintai mimpiku, ya. Tapi obrolan tadi sore dengan seorang teman, mengusikku. Dua butiran Milo ini kalau bertemu ngobrolnya seputar naskah dan buku. Apa lagi? Jadi, kapan butiran Milo ini bakal mewujudkan mimpi?

Hidup Impian vs Pekerjaan Impian

Kemarin aku ketemu teman lama. Dia menjelaskan sebuah bisnis kepadaku yang pada intinya dia menawariku ikut MLM. Ini soal hidup impian, katanya. “Mungkin kamu punya pekerjaan impian saat ini, tapi mungkin hidup yang kamu impikan belum tercapai.”

Ucapannya itu seperti sebuah tamparan. Mungkin lugasnya demikian: “Pekerjaanmu memang terdengar keren dan menarik. Tapi kalau kulihat-lihat, kayaknya kok kamu nggak kaya-kaya?”

Aku pernah sampai pada titik memiliki pekerjaan impian. Tapi entah kenapa ya, ketika sampai pada titik itu, aku tidak bisa mengelak dari rasa jenuh. Aku sempat mempertanyakan apa manfaat positif hasil kerjaku untuk orang lain. Ada buku-buku yang ketika kukerjakan itu membuatku terus bertanya-tanya, “Kenapa aku mengerjakan ini? Apakah ini membuat hidup orang lain berubah?”

Kupikir-pikir, aku butuh mengetahui bahwa apa yang kukerjakan membawa dampak positif pada orang lain. Dampak positif itu tidak sekadar perasaan senang, tetapi hasil pekerjaanku itu benar-benar membantu. Misalnya, tentu berbeda ketika seseorang membuat kerupuk dari tepung, pewarna buatan, dan tambahan micin dibanding ketika seseorang membuat kerupuk dari tepung non gluten, tanpa pewarna buatan, tanpa tambahan perasa. Sama-sama kerupuk, tetapi beda segmen. Beda dampaknya.

Aku kadang merasa yang kukerjakan itu biasa-biasa saja. Selama ini aku menerjemahkan buku atau artikel; memenuhi pesanan tulisan artikel. Namun, setelah aku coba-coba menulis cerita anak, aku merasa kok lain ya? Misalnya ketika aku tahu buku yang kutulis itu bisa membantu seorang anak belajar membaca, penasaran dan ingin membuat masakan seperti yang ada di bukuku, aku merasa hal ini sangat menyenangkan dan memuaskan. Namun, menulis buku anak sayangnya tidak bisa kukerjakan dengan cepat. Aku selalu lama memikirkan ide, karakter, objektif, dan segala printilan tulisan.

Balik lagi ke soal pekerjaan impian vs hidup impian tadi. Aku pikir, aku tidak bisa menikmati hidup impian jika aku tidak memiliki pekerjaan impian yang memuaskan dan menyenangkan. Sulit buatku untuk mengerjakan sesuatu yang tidak bisa kunikmati dan semata-mata tujuannya adalah uang. Mungkin ada yang bilang, kan nggak melulu uang. Iya memang, tapi sayangnya iming-iming yang ditawarkan di awal adalah materi yang berlimpah.

Mungkin aku naif kalau bilang nggak butuh uang. Aku cuma merasa aku belum melihat apa perlunya aku bergabung dalam bisnis itu. Katakanlah itu sambilan, aku kok nggak percaya ya. Dari pengalamanku selama ini, yang memberikan hasil terbaik adalah jika dikerjakan secara fokus. Nggak disambi-sambi. Aku pikir, saat ini aku memutuskan untuk berkata tidak pada bisnis tersebut. Entah kalau nanti.

Dan satu hal yang kusayangkan dan membuatku bertanya-tanya: Kenapa ya kalau teman lama mengajak bertemu, ada saja yang lalu menawari bisnis MLM? Aku tidak sering mengalaminya, tetapi hal seperti ini tidak terlalu menyenangkan buatku. Kamu pernah mengalami hal yang sama?

Misa Harian

Ini hari ke-3 pada tahun 2018. Aku membuka hari ini dengan ikut misa harian di Banteng. Memang beberapa waktu belakangan ini aku mulai ikut misa harian–sebuah kebiasaan yang lama sekali kutinggalkan.

Sebenarnya yang kurindukan dari misa harian adalah keheningan pagi ketika memasuki gereja dan duduk di bangku. Rasanya seperti dilingkupi keheningan yang damai.

Memang kadang ketika misa aku tidak bisa menghentikan pikiran dan ada saja distraksi yang membuatku kurang fokus saat mendengarkan bacaan dan homili. Biasanya ketika tersadar aku lalu mengatur napas dan berusaha kembali fokus.

Hmm, yah… fokus itu PR banget buatku.

Aku tak ingat apa yang menggerakkanku untuk kembali misa harian. Mungkin semacam ada rasa kangen. Kangen kesunyian. Kangen menembus dinginnya pagi dengan sepeda motor. Yang aku ingat, ketika aku ikut misa harian lagi setelah sekian lama, aku merasa dibuai kesunyian dan hal itu nikmat sekali. Membuatku ingin mengulangnya lagi.

Misa harian bukan menandakan aku semakin “suci”. Tidak. Aku masih merasa banyak hal yang perlu kubereskan dalam hidupku. Aku hanya butuh “teman” dan ketika misa, ketika menerima komuni, aku merasakan kehadiran “Teman” itu nyata. He’s within me. Terlibat dalam keseharianku, kebobrokanku. Tak semua teman bisa terlibat begitu dekat seperti itu. Bahkan malah putus asa.

Beberapa kali aku bertanya-tanya, “Don’t You give up on me?”

Soalnya aku sering dan mudah “give up” terhadap orang-orang yang menjengkelkan. Pada orang-orang yang melakukan kesalahan yang sama. Pada orang-orang yang tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau Tuhan give up sama aku, gimana dong?

Yah, pada akhirnya setiap perjalanan waktu adalah petualangan untuk menjadikan diri menjadi lebih baik.

Manusia Gelembung

Belakangan aku berpikir bahwa orang sulit untuk benar-benar objektif. Aku membayangkan setiap orang itu seperti berada sebuah gelembung. Lewat balik gelembung itulah seseorang melihat fakta dan dunia di sekitarnya. Di dalam gelembung-gelembung itu isinya bermacam-macam: ideologi, agama, pengetahuan, pengalaman, masa lalu, dan sebagainya.

Ketika dia melihat sebuah kenyataan, dia akan “membacanya” dengan segala yang dia miliki dalam gelembung itu. Misalnya, jika dia melihat orang memakai baju hitam, dari pengalamannya selama ini, orang yang memakai hitam itu ingin menutupi tubuhnya yang gemuk. Lalu dia menilai orang yang berbaju hitam itu seperti itu.

Untuk bisa melihat sesuatu dengan jernih, pertama-tama diperlukan kesadaran. Kesadaran bahwa dirinya tanpa sadar telah memakai kacamata tertentu–agama, pengalaman, ideologi, dll–untuk melihat suatu realita. Kedua, diperlukan keberanian untuk melepaskan kacamata serta keluar dari gelembungnya. Itu sulit. Kebanyakan orang tidak “sadar” dan tidak berani keluar dari gelembung. Berada dalam gelembung itu nyaman. Namun, sesuatu yang nyaman tidak selamanya baik.

Menurutmu sendiri bagaimana?

Teman Pada Suatu Masa

Aku menemukan permenungan di bawah ini pada sebuah blog.

Reason, Season, or Lifetime

People come into your life for a reason, a season or a lifetime.
When you figure out which one it is,
you will know what to do for each person.

When someone is in your life for a REASON,
it is usually to meet a need you have expressed.
They have come to assist you through a difficulty;
to provide you with guidance and support;
to aid you physically, emotionally or spiritually.
They may seem like a godsend, and they are.
They are there for the reason you need them to be.
Then, without any wrongdoing on your part or at an inconvenient time,
this person will say or do something to bring the relationship to an end.
Sometimes they die. Sometimes they walk away.
Sometimes they act up and force you to take a stand.
What we must realize is that our need has been met, our desire fulfilled; their work is done.
The prayer you sent up has been answered and now it is time to move on.

Some people come into your life for a SEASON,
because your turn has come to share, grow or learn.
They bring you an experience of peace or make you laugh.
They may teach you something you have never done.
They usually give you an unbelievable amount of joy.
Believe it. It is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime lessons;
things you must build upon in order to have a solid emotional foundation.
Your job is to accept the lesson, love the person, and put what you have learned to use
in all other relationships and areas of your life.
It is said that love is blind but friendship is clairvoyant.

Diambil dari: Acts of Faith by Iyanla Vanzant.

Lalu aku teringat pada hal yang kurenungkan akhir-akhir ini. Ada teman yang pindah ke kota lain. Ada teman yang mulai jarang ketemu. Aku merasa setiap pribadi yang kujumpai itu datang dan menemaniku pada masa tertentu. Misalnya, ketika aku di asrama, aku bertemu Mbak Tutik. Dia bahkan menemaniku sampai aku bekerja. Dia sempat tinggal di rumahku, lalu akhirnya dia pindah ke kota lain, dan akhirnya dia pindah ke “dunia lain” lebih dulu.

Ada suatu masa ketika aku sulit menerima kepergian teman-teman–terutama teman-teman yang dulunya hampir setiap hari ketemu, beraktivitas bersama, lalu karena pindah kota atau pindah pekerjaan akhirnya kami berpisah. Ada kalanya timbul perasaan ditinggalkan.

Namun, sekarang kurasa… memang begitulah hidup. Ada kalanya aku harus menggenggam, ada kalanya aku harus membuka tangan untuk melepaskan. Ketika menggenggam, awalnya aku ragu. Aku lebih banyak mengamati dan berusaha tidak tergesa-gesa. Lalu ketika akhirnya harus melepaskan, aku baru menyadari genggaman itu terasa kuat sehingga benar-benar kehilangan.

Yah, begitulah hidup.

Aku lalu teringat obrolan dengan seorang teman yang punya kemampuan menolong arwah supaya menemukan “jalan pulang”. Saat seseorang meninggal, kadang jalannya terhambat. Yang menghambat adalah jika ada yang belum dilepaskan, belum dimaafkan/memaafkan, atau ada yang belum ikhlas dia pergi. Ternyata melepaskan itu penting. Pada akhirnya hidup adalah soal menerima dan memberi; menggenggam dan melepaskan. Hidup itu mestinya ikhlas, penuh cinta, dan bersedia mengampuni setiap saat.

Malaikat Pamomong dan Sowan “Ibuk”

Ketika masih kecil dulu, aku belum punya jam beker. Aku baru punya jam beker itu ketika SMP. Pemberian. Sepertinya bukan kado ulang tahun atau peristiwa penting. Tapi aku lupa. Yang jelas, jam beker itu masih kupakai sampai sekarang. Pernah rusak sekali, tapi diperbaiki dan bisa berjalan lagi sampai sekarang. Awet ya.  Aku suka sekali dengan jam beker itu.

Ketika belum punya jam beker, sesekali aku mesti bangun pagi-pagi banget kalau aku harus mengikuti suatu kegiatan atau acara. Misalnya, mau berangkat darmawisata dan naik bus pagi-pagi. Malamnya aku biasanya mbanyaki dan takut kalau bangun kesiangan. Ibuk dan Bapak biasanya akan ngayem-ngayemi dan bilang akan membangunkanku. Tapi namanya tukang mbanyaki dan mbingungi, aku tetap cemas. Kalau aku ketinggalan bus gimana? Biasanya Ibuk lalu bilang ke aku begini: “Minta sama malaikat pamomong supaya membangunkan kamu jam 4.” Agak tidak percaya, tapi tetap kulakukan.

Dan berhasil!

Selalu berhasil seingatku. Aku selalu bangun persis atau kira-kira kurang 5 menit dari waktu yang kuminta.

Kemarin aku bertemu teman lama. Ngobrol ngalor ngidul. Panjang kali lebar. Ngobrol sama dia enaknya tidak dihakimi–bahwa aku mesti begini, begitu. Tidak saling mengunggulkan bahwa aku sudah begini, kamu pun mestinya juga sudah mencapai ini dan itu. Sebenarnya aku berangkat menemui dia dalam kondisi tidak fit. Hidung meler dan tenggorokan sudah berteriak-teriak karena hampir radang. Tapi pas mengobrol dengannya, aku seperti mendapat energi cukup positif sehingga bisa duduk beberapa jam untuk saling mendengarkan.

Lalu sampailah kami pada suatu obrolan lama tentang “unfinished business” dengan beberapa orang di masa lalu dan masa sekarang. Salah satu saran darinya mengingatkanku pada pesan ibuku: “Cobalah ajak bicara sang malaikat pelindung—alias malaikat pamomong. Ajak bicara dalam tataran jiwa.”

Haish! Berat amat ya.

Pengalaman dibangunkan pagi-pagi dulu membuatku percaya bahwa malaikat pelindung itu ada dan kita bisa minta tolong kepadanya. Entah bagaimana teorinya, tapi aku mau mencoba. Setidaknya, obrolan kami kemarin mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa–hal yang akhir-akhir ini rada mbleret dan mbuh ra karuan.

Jadi, ya… aku mau coba memulai lagi sesuatu yang sudah lama kutinggalkan. Plus mau sowan Ibuk Maria lagi–yang pasti cuma geleng-geleng kepala melihatku yang masih begitu-begitu saja.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae.