Mencari Jejakmu

Mengunjungi kota ini rasanya seperti mimpi. Bertahun-tahun aku berharap bisa menapakkan kaki menyusuri jalan-jalan yang selama ini kuhidupkan dalam benakku. Pohon-pohon akasia di sepanjang jalan protokol, trotoar dengan tegel merah…

Dengan sedikit berdebar aku berbelok di dekat rumah berpagar rendah dengan sebatang pohon mangga menjulur ke jalan. Dari situ ke kanan, tiga rumah di seberang timur adalah rumah Ning. Dari sini aku sudah bisa melihat pagar rumahnya. Catnya bukan kuning lagi seperti dulu, tapi biru.

Debaran jantungku semakin terasa ketika aku berada di depan rumah itu. Rumah berhalaman luas, dengan rumpun melati berjajar sampai hampir dekat pintu ruang tamu. Pintu ruang tamu itu masih seperti dulu, cat kuning gading. Hanya saja kini cat itu sudah jauh lebih pucat, termakan cuaca. Di kepalaku seakan berdenting irama lagu Natal, lagu yang akan terdengar ketika bel yang ada di kanan pintu itu kupencet.

Ning, apakah kau ada di dalam sana?

Dulu, belum sampai aku mematikan mesin motorku, Ning pasti sudah membukakan pintu. Ekspresinya macam-macam, tergantung suasana hatinya. Kadang tersenyum lebar, kadang matanya menyorotkan kesedihan, kadang senyumnya ditahan.

Serta-merta benakku melukiskan sosok gadis mungil dengan mata bulat. Lengkap dengan sapaannya, “Mas Tok, ayo masuk.” Tapi, adakah Ning di dalam sana?

Entah sudah berapa lama aku berdiri di depan pagar biru ini. Kakiku seakan tertancap di situ; berharap Ning membuka pintu dan memamerkan senyum lebarnya yang khas.

Ciit… Suara kendaraan direm mengembalikan kesadaranku. Kontan aku menoleh. Seorang wanita yang berambut perak turun dari becak.

“Nak… Tanto?” sapanya.

Aku mengangguk. “Inggih. Ibu masih ingat, to?” Kusalami dia. Rasanya aku ingin segera menanyakan apakah Ning ada di rumah.

“Mana mungkin Ibu lupa? Ning dulu kan sering bercerita tentang Nak Tanto.”

Dulu? Sekarang?

“Nak Tanto kok baru tiba?”

“Iya, Bu. Baru sempat ke sini sekarang. Ng… apakah Dik Ning…?” Nama itu seolah terlontar begitu saja dari bibirku. Aku tak sabar ingin mengetahui kabar gadis itu.

“Ning? Lho, Nak Tanto tidak janjian dengan dia? Baru saja dia berangkat ke Jakarta naik kereta. Ini Ibu baru saja mengantarkannya ke stasiun.”

Rasanya seperti ada yang gugur di sudut hatiku.

Advertisements

Sebuah Pertanyaan Tentang Benci

Ada suatu hal yang memunculkan pertanyaan di benakku: Kenapa orang membenci orang lain?

Sebetulnya hal yang memicu pertanyaan itu adalah peristiwa yang tampaknya jadi lazim terjadi akhir-akhir ini: perundungan (duh, aku masih kagok pakai kata perundungan ini sebenarnya) di medsos. Ada orang mengajukan pertanyaan, lalu dijawab dengan serangan yang bertubi-tubi. Orang itu memang mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang yah… bisa dibilang kurang bagus. Sayangnya, pertanyaan itu diajukan di grup yang orang-orangnya berkutat dengan bahasa. Tahu kan… orang-orang yang biasa “rese” hanya karena salah satu huruf, tanda baca keliru jadi masalah. Ngerti kan? Jadi, begitu orang itu mengajukan pertanyaan dengan kalimat yang mestinya diedit dulu, jawaban yang diberikan isinya adalah supaya dia memperbaiki kata-katanya. Singkat cerita, orang itu dan orang-orang yang menjawabnya pun kesal. Orang-orang jadi merundung si penanya.

Waktu menyaksikan hal itu, aku cuma membatin, “Pak, Bu, Om, Tante, Mas, Mbak… sampeyan kok selo banget sampai sempat menjawab pertanyaan itu? Plus kok sampeyan selo banget sih memberikan wejangan supaya mesti begini, mesti begitu?” Ah, iya, aku kok ya selo banget sih nulis kaya beginian di blog? Kurang kerjaan, barangkali.

Lalu seperti belum cukup meramaikan utas di grup itu, beberapa orang lalu menuliskan tanggapan di laman media sosialnya masing-masing. Sampeyan-sampeyan itu pancen selo tenan. Menurutku yang mengajukan pertanyaan maupun yang menjawab di utas itu memang selo banget dan sami mawon. Yang satu mau bertanya, tapi pakai bahasa yang buruk. Sementara yang lainnya, merasa perlu membetulkan. Sudah tahu orang yang bertanya itu tidak bisa bertanya, kok ya dijawab? Lagi pula, yang mewajibkan menjawab pertanyaan itu siapa? Ini mengingatkanku pada orang-orang yang gemar mengajukan pertanyaan saat ada seminar, workshop, atau acara-acara semacam itu. Di situ biasanya ada saja orang yang bertanya dengan pendahuluan panjang lebar, lalu pertanyaannya jadi kabur kanginan. Seandainya aku jadi guru dan ada murid yang bertanya tidak jelas begitu, mungkin aku akan bilang: “Coba kamu belajar dulu bagaimana mengajukan pertanyaan.” Alias, kamu itu maksudnya mau tanya apa? Kalau cuma mbulet dan muter-muter, itu sama saja membuat polusi.

Perundungan yang terjadi di utas tanya-jawab yang tidak jelas itu kemudian memunculkan pertanyaan yang hari ini menggema di kepalaku. Mungkin tidak berhubungan langsung dengan kejadian itu. Tapi entah kenapa di kepalaku muncul pertanyaan ini: Kenapa orang membenci orang lain?

Percaya tidak percaya, tidak hanya merenung, aku sampai googling mencari jawaban itu. Aku lalu melontarkan pertanyaan itu kepada suamiku. Begini kira-kira percakapan kami.
+Kenapa orang membenci orang lain ya?
-Karena ada perbedaan.
+Hanya karena perbedaan orang lalu membenci?
-Iya, kan? Orang lebih suka bertemu dengan orang yang punya kesamaan dengannya.

Sepertinya memang begitu. Kita benci, kesal, sebal terhadap orang lain karena ada hal yang berbeda antara aku/kita dengan dia/mereka.

…dan aku menuliskan ini sepertinya karena kurang kerjaan dan terlalu selo. Setidaknya ini menjadi permenungan pribadiku saja. Dan mungkin menjadi pengingat bahwa adu pendapat yang sifatnya memojokkan atau menyerang, rasanya hanya buang-buang tenaga dan waktu. Mbok mending nyapu ngepel, luwih genah lan cetho hasile.

Di Hari Nyepi Ini…

Pagi tadi aku terbangun dan mendengar suara kokok ayam tertawa milik tetangga. Yang pertama kupikirkan saat itu juga adalah hal-hal yang akan kulakukan hari ini. Aku sudah membuat daftar di kepalaku. Tapi kemudian aku mulai mencoba menarik napas dalam-dalam dan entah bagaimana, aku berpikir sepertinya aku sudah merusak pagi ini dengan daftar ini-itu dalam kepalaku. Kenapa aku lupa mensyukuri hal-hal kecil yang begitu dekat dengan diriku? Aku lupa bersyukur bahwa aku terbangun di rumah yang walaupun masih mengontrak, rumah ini memberi naungan yang cukup nyaman buatku. Aku lupa bersyukur bahwa telingaku masih normal, masih bisa mendengar suara ayam berkokok. Aku lupa menyadari bahwa aku bisa menarik napas dalam-dalam. Aku cukup sehat, aku bisa beraktivitas dengan baik. Rasanya mensyukuri hal-hal kecil seperti itu perlu lebih dibiasakan. Menurutku, bersyukur adalah seni melihat dan merasa bahagia dengan hal-hal yang dekat dan yang berada dalam jangkauanku. Memang dengan bersyukur, hati rasanya lebih ringan. Tidak kemrungsung atau seperti diburu-buru.

Sejak beberapa hari lalu, suamiku memintaku untuk menemaninya olahraga panahan di Senayan. Dia janjian dengan beberapa temannya. Kami berangkat sekitar pukul 8 lewat–setelah insiden mencari power bank yang ternyata nyelip di tumpukan baju (ya ampun!). Kupikir tadinya mau naik busway. Tapi suamiku bilang, “Nggak keburu. Naik taksi saja.” Okelah…

Kami dapat taksi BB. Supirnya–menurutku–agak masam tampangnya. Kurang senyum. Tapi tak apalah. Asal nyupirnya tidak gobras-gabrus alias ngebut tidak aturan. Memang dia nyupirnya biasa saja, tapi setelah sampai simpang Megaria (dari arah jalan Proklamasi), dia ambil arah Menteng. “Lho, kok lewat sini, Bang?” Aku heran. Padahal dia sebetulnya bisa belok kiri langsung ke jalan Diponegoro. Pertanyaan itu dijawab, “Sama saja. Nanti juga tembusnya dekat HI.” Sebetulnya aku agak kurang suka dengan pilihan arah yang diambil pak supir. Menurutku lebih jauh. Tapi sudahlah. Malas berdebat. Aku ambil positifnya saja, aku bisa melihat suasana baru daerah Menteng, jalan yang jarang kulewati (karena aku biasanya lebih sering lewat jalan Diponegoro).

Saat di taksi, aku sempat membuka FB lewat android dan membaca postingan salah seorang teman. Aku baru sadar ini hari Nyepi. Temanku share tulisan Gobind Vashdev yang menulis sekilas tentang Nyepi. Bagus juga ya Nyepi ini. Ini adalah hari raya keagamaan di mana umatnya diajak untuk hening. (Begitu pemahamanku, tolong koreksi jika keliru atau kurang tepat, ya.) Rasanya keheningan itu perlu karena sepanjang tahun kita biasanya begitu sibuk melakukan ini dan itu, pikiran melompat ke sana ke mari. Yah, aku merasa ucapan “Aku sibuk” rasanya sudah menjadi semacam label yang mungkin tanpa sadar dirasa membanggakan. Orang senang jika sibuk. Atau, mungkin lebih tepatnya, orang senang jika dianggap sibuk, karena sibuk berarti kita menjadi orang penting. Mungkin ya….

Syukurlah lalu lintas cukup lancar. Tidak ada kemacetan. Kami tiba di Senayan lebih awal daripada teman-teman yang lain. Jadinya, kami malah menunggu agak lumayan lama. Sebenarnya, aku agak kurang suka dengan hal seperti ini. Aku malas menunggu. Sambil menunggu aku mengamati beberapa orang yang latihan memanah. Asyik juga kelihatannya. Sayangnya lapangan memanah di Senayan kurang terawat–menurutku. Bukan buruk sih. Tapi kurasa kalau lebih dirawat, bisa jauh lebih rapi. Biasalah, Indonesia gitu loh. Olahraga bukan dianggap hal penting oleh pemerintah, jadi yaaa … gitu deh. Karena semalam hujan, lapangan bagian tepinya sebagian tergenang air.

Menjelang pukul 10, beberapa teman suamiku datang. Dan mereka mulai latihan memanah. Sebenarnya aku agak penasaran juga dengan olahraga ini setelah sempat menyaksikan beberapa orang latihan. Tapi tanganku mudah sekali bermasalah. Kalau salah urat atau ketarik nggak jelas, bisa-bisa sembuhnya semingguan deh. Beberapa bulan lalu, gara-gara cuma memikser adonan kue, tanganku sempat sakit. Dan aku jadi susah mengetik selama beberapa hari. Jadi, kuputuskan tidak ikut mencoba memanah. Cukuplah jadi penonton yang baik.

Pulang dari Senayan, kami mampir ke Kokas. Niatnya sih mau menservis laptop yang baterainya error. Waktu tanya ke petugas, dijawab ternyata tempat servis itu tutup karena… ini tanggal merah, hari raya Nyepi. Ealah… kenapa aku tidak sadar ya? Padahal tadi waktu di taksi, saat berangkat ke Senayan, kan aku sudah membaca postingan soal Nyepi.

Ya, sudahlah. Di Kokas toh sebenarnya suamiku ada janji bertemu temannya. Jadi, yaaa… tidak rugi-rugi amat.

Hari ini mencoba mensyukuri segala hal yang aku alami. Oya, ada satu hal yang kurasa perlu kutulis di sini, mengutip dari status Gobind. Meher Baba, seorang Sufi dari India mengatakan, ” Pikiran yang cepat adalah pikiran yang sakit, pikiran yang pelan adalah pikiran yang sehat, dan pikiran yang hening adalah Pikiran Ilahi.” Ini mengingatkanku supaya tidak menjejalkan begitu banyak hal dalam pikiranku, tidak menatanya, sehingga memutar pikiranku lebih cepat, lalu akhirnya jadi cemas sendiri.

Selamat merayakan Nyepi buat teman-teman yang merayakan. 🙂

Ketika Berusaha Bangun dari Lamunan (Pelajaran Selama Musim Revisi)

Ketika mengumpulkan tulisan untuk ikut workshop Room to Read-Provisi lewat pintu Litara, aku tidak berpikir jauh. Aku hanya berpikir aku perlu menjajal kemampuanku. Banyak orang ingin menulis, ingin bukunya terbit. Tapi apa yang dilakukan? Melamun. Iya, itu aku sih. Kadang yang kulakukan adalah ke toko buku, lihat-lihat buku yang terbit, dan dalam hati berkata, “Besok aku juga mau menerbitkan buku seperti ini.” Tapi besok itu kapan? Kapan-kapan. Huh, aku kesal sama diriku sendiri. Jadi, aku merasa perlu “menabok” diriku sendiri dan mulai membuat langkah kecil.

Langkah kecil yang kubuat adalah iseng mengirimkan tulisan untuk ikut workshop Room to Read yang lalu. Buntut keisengan itu adalah merevisi tulisan tiada akhir. Haha, lebay. 😀 Ya, begitulah. Pokoknya revisi, revisi, revisi… Di sinilah aku kadang merasa bingung dan beruntung. Dua hal bertolak belakang ya? Bingungnya adalah ketika perlu memeras otak saat memperbaiki tulisan untuk memenuhi tuntutan editor. Tulisan ini perlu diotak-atik sebelah mana lagi? Cunthel. Di sisi lain aku merasa beruntung. Pertama, karena aku mendapat editor yang detail banget menguliti naskahku yang secuil itu (iya, cuma 24 halaman, kok), masukannya kadang membuat mules, tapi memang kuakui bisa membuat tulisan jadi lebih bagus. Kedua, karena aku bertemu teman-teman yang membuat semangat. Walaupun ketemunya di dunia maya, tapi menyenangkan. 🙂

Long time ago in Bethlehem… someone encouraged me to write. Ada yang membuatku merasa yakin bahwa aku mampu menulis setelah surat-surat dan tulisanku yang lain dibacanya. Baiklah, aku akan menulis, begitu janjiku. Dan aku berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada orang itu, yang membuatku yakin bisa menulis. 🙂 Apa jadinya diriku tanpa dirinya? Hahaha. Ini sih lebay banget.

Waktu berlalu dan ternyata aku hanya menulis di buku harian. Belakangan memang nulis di blog sih. Sempat juga menulis satu-dua buku. Dulu pernah aku menulis buku kumpulan refleksi iman. Tapi itu sudah cukup lama. Bisa dibilang aku belum terlalu menjajal kemampuanku menulis. Jago kandang doang. Ah, tidak lucu memang. Dan aku tidak suka bagian diriku yang ini–kelamaan berangan-angan, kurang aksi.

Aku pernah juga berpikir, tulisan seperti itu kok bisa masuk media sih? Kok bisa terbit sih? Sepertinya kurang nendang deh. Aku memang kebanyakan mengkritik, tapi aku sendiri tidak menunjukkan karya. Memang kadang ada ketakutan yang berdiri di antara keinginanku. Takut dikritik, takut kalau akhirnya aku hanya bisa membuat karya yang buruk, takut ideku lucu atau aneh. Cemen banget ya?

Setelah sekian lama memendam rasa, (halah, apaan sih ini?)… aku pikir aku perlu bertindak. Do something, begitu kata orang sekarang. Jangan cuma pengin, tapi mulai mewujudkan keinginan. Jangan cuma mengkritik, tapi tunjukkan karya juga. Mengubah lamunan dan dorongan untuk menjadi sesuatu yang nyata itu butuh menggerakkan tangan dan kaki. Mewujudkan impian itu mesti bangun dari mimpi lalu mulai turun dari ranjang, melangkah, mandi, jangan lupa makan, bekerja, riset, berdiskusi, mempersiapkan hati menerima masukan dari sana-sini, mulai bekerja lagi, … dan seterusnya.

Satu hal penting yang kupelajari dari proses “bangun dari mimpi” ini adalah mesti mau menyisihkan waktu, berani sakit, dan belajar rendah hati. Dulu aku merasa, tulisanku sudah bagus. Tapi ketika aku ketemu editor yang sungguhan editor (maksudnya, beneran mampu melihat kekurangan tulisanku dan memberikan masukan nendang), aku merasa bahwa perjalananku untuk menghasilkan tulisan yang bagus itu masih jauh. Banyak sisi yang perlu diasah. Banyak teman yang melesat lebih dulu dan kaya pengalaman. Jadi, aku pun perlu melatih “stamina” untuk tidak mudah loyo.

Hal lain yang perlu kuperhatikan adalah soal fokus. Apa sih yang mau aku lakukan? Apa yang mau aku tulis? Untuk bagian ini mengasahnya lewat banyak membaca, perbanyak referensi, dan terus berlatih mengerucutkan apa yang ada dalam kepala. Kadang memang rasanya kepalaku ini penuh. Kemruwek. Ruwet. Kalau sudah seperti ini, biasanya yang perlu kulakukan adalah menuliskan dalam catatan pribadiku hal-hal yang memenuhi kepala. Biasanya cukup menolong, walaupun tidak selamanya bisa menyelesaikan semuanya. Tapi paling tidak, cukup membantu.

Ada satu buku karya Kobi Yamada, judulnya What Do You Do with an Idea? yang membuatku merenungkan kembali keinginanku. Aku suka dengan buku ini. Buku ini cukup memotivasi diriku, mendorongku untuk lebih memberikan perhatian pada keinginan dan harapanku.

Yah, singkat kata, masih banyak hal yang perlu kuperbaiki di sana-sini. Dan semoga aku tidak loyo di tengah jalan, ya. Kalau semangatku mulai kendor, aku berharap yang kutulis ini bisa memompa semangatku lagi.

Soal yang Mainstream-mainstream Itu

Kalimat: “Ah, itu sudah terlalu mainstream…” beberapa kali kudengar belakangan ini. Entah sejak kapan mulainya, tapi rasanya kalimat itu cukup sering kudengar.

Kadang kalimat itu rasanya “gue banget”. Tidak mau ikut-ikutan. Misalnya soal pakai BB. Aku sampai sekarang tidak punya BB, dan masih keukeuh tidak instal aplikasi BBM. Alasan tidak punya BB sih karena… mahal! Haha. Bilang saja nggak punya duit lebih. Hihi… iya, sih. Salah satu alasan terbesarku untuk malas beli BB (dulu–sampai sekarang) karena rasanya itu rasanya terlalu mainstream, sama kaya orang-orang. Entah ya kalau pikiranku di kemudian hari berubah.

Aku mau cerita soal lain. Begini, awal aku di Jakarta, aku pernah diajak ke Puncak. Waktu itu kupikir jalan ke Puncak itu cuma sak-nyuk seperti kalau aku mau ke Kaliurang di rumahku di Jogja sana. Itu kan pikiran orang ndeso, ya. Kupikir memang dekat dan tidak memakan waktu. Ternyata tidak sedekat yang kukira. Lalu yang paling membuat malas soal Puncak adalah soal macetnya yang aduhai. Untung kemarin waktu ke sana aku tidak terlalu kena macet. Tapi tetap saja aku menyaksikan dan sedikit mencicipi kemacetan.

Ketika bulan lalu aku diajak ke Puncak, aku sebenarnya agak malas. Tapi berhubung yang mengajak keluarga sendiri, ya sudahlah. Ikut saja.

Dalam perjalanan ke Puncak, kami mampir ke restoran yang sepertinya sudah terkenal, Cim*ry. Kami makan di sana… dan entah kenapa menurutku, rasa makanannya biasa saja. Bukannya tidak enak sih. Hanya menurutku, cukup mahal dan porsinya tidak terlalu banyak.

Singkat kata, aku merasa Puncak dan restoran yang kami kunjungi itu adalah sesuatu yang mainstream. Aku melihat, sesuatu yang mainstream itu kadang tidak terasa lagi keunikannya. Mungkin karena terlalu banyak orang yang datang ke sana, jadi terasa biasa.

Masih soal mainstream, aku beberapa waktu lalu pergi ke Pasar Santa. Untuk ke sana, ternyata dibutuhkan kesabaran super mencari tempat parkir mobil. Parkir di pasar itu penuh. Mungkin itu karena banyak orang yang penasaran seperti aku, dan berbondong-bondonglah orang ke sana.

Waktu sampai di dalam, aku lihat memang orang sudah banyak sekali. Kulihat pertama kali paling banyak orang mengantre hotdog hitam. Orang bisa mengantre sampai kira-kira satu jam untuk mendapatkan hotdog tersebut. Apakah rasa hotdog itu sepadan dengan lamanya mengantre? Hmmm… kalau mau jujur sih, sebenarnya rasanya biasa saja. Uniknya karena hotdog itu rotinya hitam. Itu saja.

Lalu aku mencoba mengantre kopi ABCD. Kesannya? Jujur saja, aku kurang terlalu pintar mencicipi kopi. Sebenarnya waktu ke sana, aku berharap dapat kopi hitam saja. Tapi kemarin dapatnya kopi yang sudah dicampur susu. Yaaa… agak kecewa sedikit. Kalau menurutku sih, aku lebih suka konsepnya Klinik Kopi. Kalau di ABCD itu kita sebagai pengunjung tidak dapat cerita tentang kopi. Sedangkan di Klinik Kopi, kita pengunjung dapat cerita soal kopi. Jadi, tidak hanya minum, lalu pulang, tapi ada interaksi dengan barista, yaitu Mas Pepeng.

Menurutku, Pasar Santa sudah menjadi tempat yang mainstream. Terlalu banyak pengunjung. Walaupun konsepnya cukup unik ya. Tapi mungkin karena orang yang datang banyak sekali, ditambah kedainya mungil-mungil, jalannya pun sempit (ya iyalah… kan itu aslinya pasar), aku merasa kurang begitu menikmati.

Mungkin pada dasarnya aku orang yang tidak terlalu menyukai keramaian. Jadi, tempat yang ramai tidak menarik lagi bagiku. Biasanya kalau seperti ini, aku lebih memilih undur diri, tidak ikut larut dalam keramaian tersebut.