Sepotong Cerita Titu dan I Belog dari Balik Layar

Tahun lalu, pada bulan September, aku ikut workshop penulisan cerita anak yang diadakan Room to Read dan Provisi. Awalnya aku tidak terlalu berminat ikut karena dua tahun yang lalu aku sudah pernah ikut, bukuku sendiri yang berjudul Kue Ulang Tahun Widi sudah terbit, dan memenangi Second Prize Winner di ajang Samsung Kidstime Author’s Award, Singapore. Aku tidak punya ide. Tapi entah bagaimana aku dapat wangsit ide cerita dan akhirnya terdorong ikut audisi. Ndilalah ceritaku lolos audisi, jadi akhirnya aku berangkat. (FYI, mengikuti workshop penulisan cerita anak tersebut gratis, hanya saja kami harus lolos audisi. Kalau ceritamu dianggap bagus oleh panitia, kamu bisa ikut workshop. Jadi, ada unsur kerja keras dan keberuntungan agar bisa ikut workshop tersebut.)

Uniknya, aku bisa ikut workshop itu bersama Oni, suamiku. Kalau kupikir-pikir, lucu juga kami bisa ikut berdua. Kok bisa? Aku sendiri ya heran. Waktu Mbak Rina (dari Provisi) memberitahu bahwa naskah kami lolos dan bisa ikut workshop, yang ditelepon malah suamiku. Usai ditelepon, Oni bilang bahwa aku diminta mengirim data diri ke Provisi. “Loh, kok yang ditelepon kamu?” tanyaku ke Oni. “Naskahku lolos juga,” jawabnya. Astaga, selama ini aku tidak tahu kalau Oni ikut mengirim naskah audisi. Lah, kirain yang minat nulis cerita anak aku doang. Ternyata my roommate tertarik juga. Surprising! Dan aku menyadari kelemotanku karena rupanya waktu mengirim naskah audisi, aku tidak menyertakan form yang berisi data diriku. Duh! Dasar telmi.

Keikutsertaan kami di workshop itu menjadi semacam piknik buat kami. Lumayan kan bisa jalan-jalan sampai Lembang dan dibayari. πŸ˜€ πŸ˜€ Sudah lama nggak piknik soalnya. πŸ˜€ Hal lain yang menguntungkan adalah aku bisa meminjam laptopnya saat laptopku bermasalah. Untung banget, deh!

Workshop bersama Room to Read dan Provisi selalu mengasyikkan: menambah ilmu dan meluaskan jejaring. Buatku sendiri, dengan mengikuti workshop sekali lagi, aku jadi lebih memahami seluk beluk penulisan naskah picture book, terutama untuk anak-anak yang baru belajar membaca (buku level 1 dan 2). Tidak semudah yang kubayangkan dulu. Bikin otak melintir :p. Seperti biasa, kalau Oni ikut belajar, dia biasanya lebih mudeng ketimbang aku. Jadi, aku bisa tanya-tanya lagi sama dia kalau belum mudeng. πŸ˜€ πŸ˜€

Sepulang dari workshop, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku dan suamiku masuk ke grup yang didampingi Penerbit Kanisius, Jogja. Selain kami berdua, ada Yuniar Khairani dan Nancy Sitohang yang sekelompok dengan kami.

Setelah melewati masa revisi selama beberapa bulan yang cukup melelahkan, ditambah ikut field testing yang mengasyikkan, akhirnya buku kami jadi juga. Judulnya Titu dan Titi yang diilustrasi oleh Lyly Young. Sedangkan karya suamiku berjudul I Belog yang diilustrasi oleh Dewi Tri Kusumah.

Titu lagi baca buku diintip Tuti
Foto oleh: Mbak Flora.

 

I Belog yang lucu.
Foto oleh: Mbak Flora

Siang tadi, aku mendapat kiriman foto dari beberapa teman berkaitan dengan peluncuran buku kami di AFCC, Singapura. Naskah I Belog dipentaskan pada saat acara pembukaan peluncuran buku tersebut. Senang juga rasanya hasil jerih payah kami bisa mejeng di AFCC–walau kami tidak bisa datang ke sana dan menyaksikannya sendiri. Semoga lain waktu kami punya rejeki dan berkesempatan menghadiri AFCC. Selain itu–ini yang terpenting–semoga buku-buku kami bisa dinikmati anak-anak di Indonesia.

Titu dan I Belog mejeng bareng karya teman-teman yang lain.
Foto oleh: Mbak Flora

 

Pementasan I Belog
Foto oleh: Mbak Eva Nukman

Terima kasih buat teman-teman yang selalu mendukung, terutama Mbak Flora, Mas Widi, dan Mas Saras dari Kanisius. Terima kasih pada Lyly Young sebagai ilustrator yang telah menghidupkan tokoh Titu. Juga terima kasih atas kerja keras Alfredo Santos dari Room to Read, Mbak Rina dari Provisi. Salam literasi!

Advertisements

Yang Dibutuhkan Penulis

Judul ini sudah terlintas di kepalaku lama sekali. Aku mau menuliskan hal ini dari dulu, tapi urung terus.

Aku sering sekali membaca tulisan pendek tentang tips-tips untuk penulis. Misalnya, bagus kalau bisa menulis dengan gaya “show don’t tell“. Pakailah kata-kata sifat yang bisa membangkitkan emosi. Hmm… apa lagi ya? Aku lupa.

Aku rasa yang dibutuhkan penulis itu bukan (hanya) tips seperti itu. Iya, tips seperti itu memang bagus kok kalau diketahui, diingat, dan diaplikasikan dalam tulisan. Tapi aku ada hal lain yang menurutku krusial–setidaknya untukku sendiri–yaitu teman-teman yang mau membaca tulisan kita pertama kali dan memberikan masukan yang jujur. Teman-teman yang mau bilang jelek kalau tulisan kita tidak ada ide dasar yang kuat. Teman-teman yang punya kemampuan mengupas tulisan kita. Jadi, bukan hanya teman yang bilang: Ini bagus. Tapi juga teman yang bisa menjelaskan, bagusnya di sebelah mana. Atau yang mengatakan: Ini jelek, tapi sekaligus menyebutkan jeleknya itu apanya. Misalnya karakternya tidak kuat, plot twist-nya kurang nendang.

Penulis itu ibarat penjahit. Minimal bisa menjahit baju untuk dirinya sendiri. Begitu pula penulis, setidaknya dia bisa menulis untuk dirinya sendiri. Tulisan yang memang ingin dia baca dan menimbulkan rasa senang saat dia sendiri membacanya. Aku membayangkan, penjahit itu untuk mengepaskan baju mesti bercermin. Dengan demikian, dia akan tahu bagian mana yang mesti diperbaiki. Apakah lehernya terlalu rendah? Apakah bagian pinggang masih kedodoran? Apakah baju itu terlalu panjang? Begitu pun dengan tulisan. Penulis yang baik akan bisa merasakan bahwa tulisannya masih bisa dipangkas, kurang fokus, karakternya kurang kuat, dll. Tapi sering kali untuk bisa melihat kekurangan, yang bisa menunjukkan adalah orang lain. Ya, itulah gunanya teman yang bisa memberi masukan.

Aku pikir, berbahagialah penulis yang punya teman-teman yang mau memberi masukan jujur. Yang tidak hanya menyemangati dengan bilang, “Ayo terus menulis,” tetapi juga yang bisa bilang, “Ini kurang pas. Endingnya terlalu cepat, ini bisa dibuat plot twist yang keren setelah diulik bagian ini… itu…”

Dan aku berterima kasih untuk teman-temanku yang menemani dan memberi masukan ini itu untuk tulisanku. Terima kasih. Nama kalian akan selalu kusimpan di dalam hati.

Ketika Berusaha Bangun dari Lamunan (Pelajaran Selama Musim Revisi)

Ketika mengumpulkan tulisan untuk ikut workshop Room to Read-Provisi lewat pintu Litara, aku tidak berpikir jauh. Aku hanya berpikir aku perlu menjajal kemampuanku. Banyak orang ingin menulis, ingin bukunya terbit. Tapi apa yang dilakukan? Melamun. Iya, itu aku sih. Kadang yang kulakukan adalah ke toko buku, lihat-lihat buku yang terbit, dan dalam hati berkata, “Besok aku juga mau menerbitkan buku seperti ini.” Tapi besok itu kapan? Kapan-kapan. Huh, aku kesal sama diriku sendiri. Jadi, aku merasa perlu “menabok” diriku sendiri dan mulai membuat langkah kecil.

Langkah kecil yang kubuat adalah iseng mengirimkan tulisan untuk ikut workshop Room to Read yang lalu. Buntut keisengan itu adalah merevisi tulisan tiada akhir. Haha, lebay. πŸ˜€ Ya, begitulah. Pokoknya revisi, revisi, revisi… Di sinilah aku kadang merasa bingung dan beruntung. Dua hal bertolak belakang ya? Bingungnya adalah ketika perlu memeras otak saat memperbaiki tulisan untuk memenuhi tuntutan editor. Tulisan ini perlu diotak-atik sebelah mana lagi? Cunthel. Di sisi lain aku merasa beruntung. Pertama, karena aku mendapat editor yang detail banget menguliti naskahku yang secuil itu (iya, cuma 24 halaman, kok), masukannya kadang membuat mules, tapi memang kuakui bisa membuat tulisan jadi lebih bagus. Kedua, karena aku bertemu teman-teman yang membuat semangat. Walaupun ketemunya di dunia maya, tapi menyenangkan. πŸ™‚

Long time ago in Bethlehem… someone encouraged me to write. Ada yang membuatku merasa yakin bahwa aku mampu menulis setelah surat-surat dan tulisanku yang lain dibacanya. Baiklah, aku akan menulis, begitu janjiku. Dan aku berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada orang itu, yang membuatku yakin bisa menulis. πŸ™‚ Apa jadinya diriku tanpa dirinya? Hahaha. Ini sih lebay banget.

Waktu berlalu dan ternyata aku hanya menulis di buku harian. Belakangan memang nulis di blog sih. Sempat juga menulis satu-dua buku. Dulu pernah aku menulis buku kumpulan refleksi iman. Tapi itu sudah cukup lama. Bisa dibilang aku belum terlalu menjajal kemampuanku menulis. Jago kandang doang. Ah, tidak lucu memang. Dan aku tidak suka bagian diriku yang ini–kelamaan berangan-angan, kurang aksi.

Aku pernah juga berpikir, tulisan seperti itu kok bisa masuk media sih? Kok bisa terbit sih? Sepertinya kurang nendang deh. Aku memang kebanyakan mengkritik, tapi aku sendiri tidak menunjukkan karya. Memang kadang ada ketakutan yang berdiri di antara keinginanku. Takut dikritik, takut kalau akhirnya aku hanya bisa membuat karya yang buruk, takut ideku lucu atau aneh. Cemen banget ya?

Setelah sekian lama memendam rasa, (halah, apaan sih ini?)… aku pikir aku perlu bertindak. Do something, begitu kata orang sekarang. Jangan cuma pengin, tapi mulai mewujudkan keinginan. Jangan cuma mengkritik, tapi tunjukkan karya juga. Mengubah lamunan dan dorongan untuk menjadi sesuatu yang nyata itu butuh menggerakkan tangan dan kaki. Mewujudkan impian itu mesti bangun dari mimpi lalu mulai turun dari ranjang, melangkah, mandi, jangan lupa makan, bekerja, riset, berdiskusi, mempersiapkan hati menerima masukan dari sana-sini, mulai bekerja lagi, … dan seterusnya.

Satu hal penting yang kupelajari dari proses “bangun dari mimpi” ini adalah mesti mau menyisihkan waktu, berani sakit, dan belajar rendah hati. Dulu aku merasa, tulisanku sudah bagus. Tapi ketika aku ketemu editor yang sungguhan editor (maksudnya, beneran mampu melihat kekurangan tulisanku dan memberikan masukan nendang), aku merasa bahwa perjalananku untuk menghasilkan tulisan yang bagus itu masih jauh. Banyak sisi yang perlu diasah. Banyak teman yang melesat lebih dulu dan kaya pengalaman. Jadi, aku pun perlu melatih “stamina” untuk tidak mudah loyo.

Hal lain yang perlu kuperhatikan adalah soal fokus. Apa sih yang mau aku lakukan? Apa yang mau aku tulis? Untuk bagian ini mengasahnya lewat banyak membaca, perbanyak referensi, dan terus berlatih mengerucutkan apa yang ada dalam kepala. Kadang memang rasanya kepalaku ini penuh. Kemruwek. Ruwet. Kalau sudah seperti ini, biasanya yang perlu kulakukan adalah menuliskan dalam catatan pribadiku hal-hal yang memenuhi kepala. Biasanya cukup menolong, walaupun tidak selamanya bisa menyelesaikan semuanya. Tapi paling tidak, cukup membantu.

Ada satu buku karya Kobi Yamada, judulnya What Do You Do with an Idea? yang membuatku merenungkan kembali keinginanku. Aku suka dengan buku ini. Buku ini cukup memotivasi diriku, mendorongku untuk lebih memberikan perhatian pada keinginan dan harapanku.

Yah, singkat kata, masih banyak hal yang perlu kuperbaiki di sana-sini. Dan semoga aku tidak loyo di tengah jalan, ya. Kalau semangatku mulai kendor, aku berharap yang kutulis ini bisa memompa semangatku lagi.

Pengalaman Sebulan yang Lalu: Workshop Bersama Room to Read

Aku punya utang menulis cukup banyak sebetulnya. Paling tidak tulisan yang perlu–menurutku sendiri sih–untuk dipasang di blog ini. Blog ini kumaksudkan untuk pengingat pribadi. Jadi, semestinya jika ada hal yang kurasa penting, perlu kutulis dan disematkan di sini.

Aku agak bingung juga mau memilih tema dan topik mana yang semestinya kutulis saat ini. Saking njelimet dan bundetnya isi kepalaku, aku sampai bingung sendiri. πŸ˜€ πŸ˜€ Tapi, baiklah… aku sebaiknya menulis dari hal yang semestinya kutulis sebulan lalu. Lama sekali yaaa… πŸ˜€ Sok syibuk…

Ceritanya, sebulan yang lalu aku ikut sebuah workshop penulisan. Workshop ini diadakan di Lembang, Bandung. Penyelenggaranya adalah Room to Read, bekerja sama dengan Provisi Education. Room to Read adalah sebuah NGO yang punya visi misi literasi serta penyetaraan gender. Untuk lebih lengkapnya, silakan baca di sini. Dalam rangka mewujudkan visi misinya itu, Room to Read (RtR) akan menerbitkan buku anak, dan mendistribusikannya ke 24 perpustakaan sekolah. Untuk penerbitan buku anak itu RtR bekerja sama dengan penerbit Mizan, Kanisius, Litara, dan Literasi Anak Indonesia (LAI). Nah, berkaitan dengan hal itulah RtR mengadakan workshop penulisan cerita anak.

Awal ceritanya bermula kira-kira November awal 2014 aku membaca pengumuman di grup Komunitas Penulis Bacaan Anak di FB, Yayasan Litara membuka audisi cerita anak. Bagi yang lolos audisi ini akan ikut workshop RtR. Kupikir, tak ada salahnya aku ikut. Memang sudah lama aku ingin menulis cerita anak. Sayangnya, selama ini keinginanku itu hanya kubiarkan “jamuran”. Aku sadar, keinginan itu tidak akan terwujud begitu saja, jadi aku mesti mulai melakukan sesuatu. Nah, kupikir, ikut audisi yang diadakan Litara ini bisa menjadi salah satu langkah kecilku. Aku sebetulnya agak terburu-buru menulis cerita yang kukirimkan tersebut karena saat itu aku sudah akan berangkat ke Rawaseneng. (Aku di Rawaseneng selama tiga mingguan. Aku ragu apakah di sana mudah mendapatkan koneksi internet. Dan memang, di sana koneksi internetnya cukup payah. Untung aku sudah mengirimkannya sebelum berangkat ke Rawaseneng.) Proses antara menemukan ide, menulis, dan mengirimkannya ke Litara sepertinya hanya seminggu atau sepuluh harian. Aku lupa persisnya. Karena hendak pergi, aku merasa tak punya cukup waktu banyak untuk menulis. Tapi bukan berarti aku tidak serius. Aku hanya mengikuti kata hati dan sebelum mengirimkan tulisan, aku masih sempat kok membacanya beberapa kali dan mengeditnya. Dan aku hanya mengirimkan satu tulisan (di pengumuman dikatakan boleh mengirim dua tulisan, sepanjang masing-masing 200 kata). Singkat kata, aku lolos audisi–setelah melewati masa deg-degan karena seleksi awal terpilih 17 orang, lalu diseleksi lagi menjadi 7 orang.

Workshop diadakan tanggal 27-30 Januari 2015, di Lembang, Bandung, di Hotel SanGria. Jadi, hari ini persis sebulan lalu aku ikut workshop. Selama ini, karena aku pekerja lepas, ikut workshop berarti mesti merogoh kantong sendiri. Tapi workshop kali ini aku cukup membawa ransel. Semua ongkos diganti, termasuk penginapan dan ongkos transport ke tempat acara. πŸ˜€ πŸ˜€

Aku berangkat ke Bandung tanggal 26 Januari siang, sekitar pukul 1 siang. Sampai di Bandung, untuk ke tempat acara aku bareng dengan sesama peserta, Tyas, dan Mbak Aniek. Selama menginap di SanGria, aku sekamar dengan Mbak Dian Kristiani. Mungkin ini berkah buatku; aku jadi dapat mentor gratis karena Mbak Dian sudah menerbitkan banyak buku anak, dan sudah sangat paham lika-liku menulis cerita anak. Entah seperti apa pendapat Mbak Dian soal diriku karena selama di sana aku malah merecoki dia karena beberapa kali minta masukan soal naskahku. πŸ˜€ πŸ˜€

Selama workshop, kami dapat PR menulis yang membuatku selalu tidur larut dan bangun pagi-pagi. Pembicara utama workshop adalah Alfredo Santos, dari Filipina. Jadi, materi sebagian besar disampaikan dalam bahasa Inggris. Yang cukup menakjubkan buatku adalah Al–panggilan Alfredo–bisa memberikan masukan untuk karya yang sudah kami buat. Entah bagaimana caranya, dia bisa kasih masukan. Padahal kurasa, tentu ada penghambat dalam bahasa karena cerita yang kami tulis dalam bahasa Indonesia, sedang Al tidak bisa berbahasa Indonesia. Tapi kok ya masukannya itu cukup “kemampleng” alias menohok. Selain Al, pembicara lain yang juga sangat membantu adalah Riama Maslan, Evelyn Gozalli, Benny Rhamdani.

Aku mendapat banyak wawasan dan pengalaman berharga selama workshop. Ada beberapa hal penting yang masih kuingat. Pertama, pentingnya membangun karakter dalam sebuah cerita. Buatlah karakter yang kuat. Karakter yang kuat itu mesti memiliki tiga aspek kunci, yaitu:

  • Fisik (physiology): seperti apa penampilannya? Apakah berambut panjang? Gemuk atau jangkung? dll.
  • Internal (psychology): bagaimana sifatnya? Pemarah? Ramah?
  • Eksternal (sociological): dia tinggal atau berada di mana? Apakah dia tinggal di kota? Di desa? Di hutan?

Kedua, ketahui sasaran pembaca. Cerita kita itu nantinya untuk anak umur berapa? Buku kita nanti akan masuk kategori level berapa? Apakah untuk level satu? Buku anak ada tingkatannya loh, dan itu disesuaikan dengan kemampuan membaca anak. Mengetahui sasaran pembaca kita akan sangat mempengaruhi kata yang akan kita pakai, susunan kalimatnya, dll.

Ketiga, berhati-hatilah ketika membuat plot. Ada jebakan plot yang kemarin sering disebut-sebut, yaitu “deux ex machina”–literalnya berarti menjadikan Tuhan sebagai mesin untuk menyelesaikan masalah. Maksudnya adalah, jangan membuat suatu adegan terjadi secara tiba-tiba, tanpa ada foreshadow. Yang paling sering kita lihat contohnya adalah cerita dalam sinetron. Biasanya di sinetron si tokoh setelah berantem, lari keluar rumah, tiba-tiba ada taksi sudah ngetem di depan rumah. Untuk penjelasan lebih panjang lebar, bisa googling ya. Salah satunya bisa baca penjelasannya di sini.

Keempat, fokus… fokus… fokus. Menulis itu yang penting fokus. Karena itu sejak awal penting bagi kita untuk menetapkan topik dan tema. Singkatnya, kita mau menyampaikan apa sih dalam tulisan tersebut? Karena yang akan kami buat adalah buku cerita anak level satu (untuk pembaca pemula), sejak awal mesti sudah jelas, tema yang akan kita angkat apa. Jangan sampai ada konflik ganda yang justru akan membuat tulisan menjadi tidak fokus. Oiya, tema dan topik itu beda, ya. Contohnya demikian: Topik: Persahabatan. Tema: Berbagi membuat kamu punya banyak teman. Jadi, topik itu satu hal yang akan kita angkat, (biasanya satu kata), sedangkan tema adalah penjabaran dari topik itu. Tema biasanya satu kalimat.

Kelima, revisi adalah seni tersendiri. Sepertinya hal yang kelima ini adalah catatan pribadiku selama dan setelah mengikuti workshop. Setelah workshop selesai, ternyata aku masih “dihantui” revisi dan revisi. Tulisan yang kami buat ini masih akan diseleksi lagi. (Setidaknya dari kelompok Litara.) Jadi, revisi demi terciptanya karya yang baik adalah suatu keharusan. Saat revisi ini aku sangat terbantu oleh para editor, Mbak Eva Nukman dan Mbak Sofie Dewayani, yang selalu memberi masukan penting untuk perbaikan naskah. Juga aku merasa didukung oleh teman-teman dari grup Litara yang kemarin ikut workshop bareng: Mbak Dian, Mbak Yuniar, Mbak Aniek, Mbak Evi, Tyas, Audi.

Kurasa sekian dulu catatan yang perlu kutulis. Sisanya kalau ada yang terlupa, akan kususulkan atau kalau niat, kutulis di postingan yang lain.

Foto bareng setelah workshop. Foto oleh Debby Lukito.
Foto bareng setelah workshop. Foto oleh Debby Lukito.

On Children Literature

Maap, sok-sokan pakai judul bahasa Inggris. Soalnya bingung ngarang judulnya. πŸ˜€ πŸ˜€ *Atau barangkali ada yang mau menyumbang judul?*

Beberapa minggu lalu, temanku memberiku informasi bahwa akan ada workshop penulisan cerita anak. Aku yang waktu itu sedang berpusing-pusing merampungkan terjemahan berpikir, iya deh, nanti aku daftar. Tapi menjelang hari H aku masih belum daftar juga. Lupa. Waktu itu aku berpikir untuk batal saja. Kurasa sudah tidak ada tempat lagi. Temanku bilang, coba saja daftar. Yah… iseng-iseng saja, apa salahnya. Lagi pula setelah kutimbang-timbang dan karena temanku bilang aku boleh bareng dia berangkatnya, aku pun menghubungi pihak panitia. Toh, workshop ini gratis.

Akhirnya Sabtu kemarin, tanggal 22 Maret aku ke Museum Nasional untuk ikut workshop tersebut. Di sana aku ketemu Mbak Wikan yang bekerja di Yayasan Lontar.

Bagaimana acaranya?

Hmm… jujur saja, menurutku biasa saja. Kalau untuk pemula, atau orang yang tidak tahu sama sekali bagaimana menulis cerita anak, kurasa lumayan lah. Tapi barangkali aku sudah beberapa kali ikut pelatihan menulis, jadi kesanku workshop itu tidak jauh berbeda dengan yang pernah kuikuti dulu. Sebagian peserta kulihat orang tua bersama anak-anaknya. Sepertinya sih para ortu itu pengin anaknya jadi penulis. Sekarang memang ada penerbit yang menerbitkan buku yang ditulis anak-anak.

Oya, sekadar info, workshop ini diadakan oleh Media Indonesia. Selain workshop ada beberapa acara lain seperti lomba mewarnai untuk anak-anak, lomba story-telling, meet and greet penulis cerita anak.

Sebenarnya, sebelum berangkat ke Museum Nasional, aku melihat ada acara di TIM yang merupakan rangkaian dari Asean Literary Festival. Acara mulai pukul 4 sore. Acara itu bertajuk Children’s Literature: A Quest for Identity. Pembicaranya Arswendo, Clara Ng, dan Icha Rahmanti. Jadi, setelah dari Museum Nasional aku dan Mbak Wikan berangkat ke TIM. Ternyata untuk menuju TIM tidak susah. Hanya tinggal jalan ke dekat BI, lalu nyambung naik bus 502. Sampai deh depan TIM. Ketahuan kan kalau aku ini jarang keluar rumah. Untung bareng Mbak Wikan, jadi bisa naik kendaraan umum. πŸ˜€

Menurutku, acara di TIM jauh lebih seru. Plus waktu registrasi aku dapat buku Imung karangan Arswendo. πŸ˜€ πŸ˜€ Lumayan pakai banget :).

Arswendo bercerita bahwa dia menulis karena memang senang saja. Dia bilang, dia hanya bisa mengarang. Dari beliau aku tahu bahwa ternyata tahun 70-an pemerintah Orde Baru mengeluarkan Inpres soal pembuatan dan penyebaran buku anak kepada anak-anak. (Kurang lebih begitu deh yang kudengar kemarin. Kalau ada yang salah, tolong koreksi ya.) Waktu Arswendo ditanya, nilai apa yang ingin disampaikan ketika menulis cerita anak, beliau menjelaskan bahwa nilai yang ingin disampaikan tidak muluk-muluk; hanya agar anak tahu bisa membedakan mana yang fiksi dan tidak fiksi; bisa membedakan mana yang jahat dan yang nakal. Sederhana ya. Dikatakan bahwa seorang penulis harus memiliki kreatifitas, need for achievement, dan rasa percaya diri.

Arswendo menulis tidak dari ide-ide besar. Beliau mengatakan bahwa mungkin karena dia dibesarkan dalam keadaan miskin, jadi yang ditulis adalah hal-hal yang ada di sekitarnya.

Pembicara berikutnya adalah Clara Ng. Selama ini Clara Ng dikenal sebagai penulis cerita dewasa–chicklit, metropop. Lalu kenapa dia menulis cerita anak? Ceritanya agak panjang. Wanita bertubuh mungil ini sempat mengenyam pendidikan di Amerika. Waktu itu dia suka berkunjung ke perpustakaan. Biasanya kalau ke perpustakaan dia akan langsung menuju ke ruang tempat peminjaman yang ada di belakang. Untuk menuju ruang tersebut Clara Ng mesti melewati sebuah ruangan. Suatu kali dia penasaran, ingin tahu apa yang ada di balik ruangan itu. Memenuhi penasarannya, dia memasuki ruangan tersebut. Ternyata di situ tampak anak-anak dari berbagai usia sedang asyik memegang buku dan membaca. Bukunya pun bermacam-macam. Waktu mendengar cerita Clara Ng itu aku jadi membayangkan ruangan yang sangat luas, penuh buku. *Ngiri deh* Dia tertarik mengambil salah satu buku, judulnya The Giving Tree. Clara Ng sangat tersentuh dengan buku itu dan dia berniat kelak akan menulis buku anak. Jadi, bisa dikatakan menulis buku dewasa adalah “jalan memutar” sampai akhirnya dia menulis buku anak-anak.

Sebagai seorang ibu, Clara Ng ingin anaknya juga mengenal dan diperkaya oleh cerita anak-anak lokal. Alasan itu hampir sama seperti yang dikemukakan oleh Icha Rahmanti. Awalnya dia menulis cerita chicklit–Cintapuccino. Tapi setelah menjadi ibu, dia kemudian menulis cerita anak.

Sebetulnya kenapa sih anak-anak Indonesia perlu membaca buku cerita lokal? Entah seberapa bagusnya cerita terjemahan, pasti ada bagian yang terasa jauh bagi anak-anak. Misalnya saja dari segi budayanya. Aku ingat kalau membaca buku Lima Sekawan, biasanya seting waktunya adalah pas liburan musim panas. Jelas, anak Indonesia tidak mengenal liburan musim panas, kan? Di sini liburan biasanya liburan kenaikan kelas, libur Lebaran, atau libur Natal/akhir tahun. Keunggulan cerita lokal adalah lebih terasa dekat dan lebih terasa “gue banget.”

Waktu sesi tanya jawab, aku tidak terlalu banyak mencatat. Tapi ada satu pertanyaan yang menurutku menarik. Pertanyaannya kurang lebih begini: Bagaimana pendapat ketiga pembicara tersebut soal buku cerita anak yang ditulis oleh anak-anak. Jawaban yang paling kuingat adalah jawaban dari Clara Ng. Dia melontarkan pertanyaan (retoris): Salah nggak sih kalau ada anak yang bisa main piano lalu pentas sampai ke luar negeri? Menurutnya, anak-anak menulis itu tidak salah. Tapi ketika tulisan itu dibawa ke dunia bisnis, itu yang meresahkan. Bagaimanapun ada uang besar yang bermain di situ. Seandainya sekolah-sekolah kita menyediakan ruang untuk seni bagi anak, barangkali tidak perlu sampai ada buku-buku tersebut. Misalnya, sekolah membuat majalah sehingga anak/murid bisa menulis di situ. Bagus-bagus saja kan? Tapi murid-murid sekolah kita kebanyakan dibebani dengan UN dan segala macamnya. Jadi, ya memang sedikit sekali ruang untuk anak menyalurkan kreativitasnya. Kalau menurut Icha Rahmanti, buku-buku tersebut cukup baik sebagai gerbang untuk anak agar mereka mau membaca. Bagaimanapun, budaya baca dan menulis masih kurang di Indonesia. Arswendo sendiri sempat diminta menulis kata pengantar untuk buku semacam itu. Tapi buku tersebut batal diterbitkan karena Arswendo yang beragama Katolik dianggap tidak sepantasnya menulis kata pengantar untuk buku yang ditujukan bagi anak muslim. Yah, memang pada kenyataannya perbedaan agama kerap dijadikan alasan pengotak-kotakan di negara ini. Sayang ya. Padahal dengan perbedaan kita justru bisa belajar banyak.

Bagiku, diskusi tentang literatur anak-anak itu menarik. Mungkin karena pembicaranya juga menarik dalam menyampaikan pikiran mereka. Satu hal yang kutangkap dari diskusi itu adalah sastra anak Indonesia masih sangat kurang. Jadi, mari (membaca dan) menulis!

Mau Nulis Seperti Apa di Blog?

Sebenarnya aku cuma ingin bercerita tentang kejadian sekitar 1 tahun lalu. Waktu itu aku sedang jalan-jalan di Bandung. Singkat, kata … aku dan suamiku pengen mampir ke sebuah toko buku. Seingatku waktu itu toko buku yang hendak kami datangi itu sedang ada promosi atau apaaa gitu. Lupa deh. Aku cuma baca sekilas informasi itu di milis.

Kupikir orang seantero Bandung tahu tentang toko buku itu. Jadi, sebelum berangkat ke Bandung aku tidak mencatat apa pun tentang alamat atau ancer-ancer lokasi toko buku itu. Nanti gampang lah tanya temen yang kujumpai di Bandung.

Sesimpel itukah? Ternyata tidak, Sodara-sodara!

Waktu itu, sebelum berangkat aku cuma tanya ke seorang teman, “Eh, kamu tahu toko X?” Temanku menggeleng. Yak, jawaban yang singkat dan tepat! Seratus. Oke, nggak apa-apa. Nanti sambil jalan saja tanya orang lagi. Waktu itu aku cuma ingat nama daerahnya. Jadi, aku cuma naik angkot ke daerah itu dan berpikir akan menemukannya dengan mudah. Tapi ternyata tidak ada yang tahu!

Huuu… Gimana nih? So, mesti tanya ke siapa lagi?

Tak lama kemudian, aku melihat ada sebuah warnet. Daripada pusing-pusing, aku masuk ke warnet itu dan bertanya ke mbah Google. Yuhuuu… dalam hitungan detik, aku mendapatkan informasi yang aku butuhkan. Untuk informasi itu, aku cukup membayar 1.000 rupiah. (Tarif minimal warnet segitu kan?) Seingatku, waktu itu aku mendapat informasi itu dari sebuah blog.

Pengalamanku itu masih sangat membekas. Dan ini berkaitan dengan pemikiranku mengenai banyaknya informasi di dunia maya. Tapi kadang saking banyaknya, informasi yang ada justru membuat kita tersesat. Tersesat? Iya, karena kadang informasi yang ada justru hanya sebuah pancingan supaya kita masuk ke situs tertentu yang isinya cuma–sorry–jualan yang nggak jelas. (Jualan di internet sah-sah saja kok. Tapi kalau yang dijual tidak jelas, itu yang bikin males.)

Nah, aku pikir … menulis hal yang berguna di blog, yang berisi informasi penting dengan bahasa yang enak, bisa jadi salah satu pilihan jenis tulisan yang akan diposting di blog. Boleh-boleh saja menulis yg isinya curhat. Tapi kalau bisa sih, curhat yang membangun, yang bisa ditarik manfaatnya oleh orang lain. Apalagi kalau tulisannya enak dimengerti, dengan font yang ramah di mata. Soalnya kadang aku mendapati blog yang amburadul–ya bahasanya, tampilannya, atau isinya. Hiks, dengan sangat terpaksa, aku akan skip blog itu. Baca aja males apalagi mau komentar.

Well, aku mau blogwalking lagi ah…

Menulis Juga Butuh Keberanian

Sebenarnya ada berapa banyak tulisan yang sudah kubuat? Aku tak menghitungnya. Ada yang sudah jadi. Ada pula yang kubiarkan saja mereka tidur-tiduran dalam komputer alias ngendon di dalam sini… ya di dalam komputer sini. Ada yang isinya curcol, ada yang bentuknya opini, ada yang fiksi, ada yang baru kumpulan ide, dan ada yang yah … tidak jelas apa bentuknya. Tetapi aku betul-betul tidak menghitungnya.

Saat aku membongkar onggokan file di komputer, aku sering terkaget-kaget melihat aneka ragamnya tulisanku. Kadang aku heran, kok bisa sih aku menulis seperti itu? Ada yang kelihatannya sok bijak (padahal, aduuuuh … siapa sih aku ini? Ngomong eh, nulis aja bisanya. Kalau suruh menjalaninya, belum tentu bisa); ada yang sok puitis (yaelah … serasa bukan aku deh yang nulis); ada yang mencoba melucu tapi sama sekali nggak lucu; ada yang lebay selebay-lebaynya!

Beberapa file tulisanku menunjukkan tulisan yang belum jadi. Ibarat lukisan, aku baru membubuhkan warna dasar dan sket tipis. Niatnya sih pengen menulis yang bisa membuat hati orang tersentuh. (Duh … duh …) Yang bisa mengalirkan kata-kata dengan begitu ajeg dan tidak membosankan. Pengen rasanya bisa memasang kata-kata yang indah tetapi tetapi tidak berlebihan, yang begitu dijejerkan akan membuat hati adem, lalu terkiwir-kiwir mengikuti aliran ceritanya. Sayangnya kok belum mampu ya? Awalnya sih bisa, tapi begitu sampai di tengah, mendadak macet. Ibarat sepeda motor butut yang businya terkena cipratan air hujan. Det…det…det … Haiyah kono ora iso mlaku! (Nah lo, nggak bisa jalan!)

Dari deretan tulisan yang tidak jelas itu sebenarnya ada beberapa tulisan yang sudah jadi. Sayangnya, entah bagaimana aku tidak punya cukup keberanian untuk memasangnya di tempat umum–walaupun hanya di blog atau kutempelkan di notes di FB. Keberanianku untuk memajangnya sama sekali tidak ada. Tak ada bara keberanian sedikit pun! Jenis tulisan yang tidak berani kupasang salah satunya adalah tulisan berisi uneg-uneg. Selain itu juga tulisan fiksi. Untuk yang fiksi, aku masih khawatir kalau tulisanku itu nanti dijiplak orang. Weleh, siapa juga yang mau menjiplak ya? Kualitas belum pasti bagus aja sudah gaya amat! Hihihi. Lalu ada juga tulisan-tulisan yang isinya sok bijak. Halaaah … malu aku kalau membacanya. Aku takut nanti ada orang yang mencibir, “Ah elu, bisanya nulis doang, nggak bisa menjalaninya.” (Hhh … ya, memang kadang aku bisanya menulis doang, menjalaninya ya belum tentu bisa.)

Kemarin, aku iseng-iseng memasang status di FB begini: Writing needs a lot of practices. Ya, untuk menulis memang dibutuhkan latihan. Jadi, anggap saja onggokan file berisi tulisan tak berguna itu sebagai ajang latihan. Nah, ada salah satu temanku, Meira, memberi komentar bahwa untuk menulis juga dibutuhkan kepercayaan diri, berani malu. Wah, benar juga ya! Kesannya menulis itu hanya aktivitas biasa di belakang layar. Tapi untuk menampilkan karya kita, memang dibutuhkan suatu kepercayaan diri dan keberanian. Kalau tidak berani, ya akhirnya tulisan-tulisan kita akan ngendon di dalam komputer saja. Menaruh tulisan di blog atau di media umum lainnya itu berisiko loh–bisa dikritik orang, bisa dibilang jelek, tetapi bisa juga disanjung, dipuji ke sana-kemari. Rata-rata orang akan senang jika tulisannya disukai. Tetapi berani nggak sih, demi bisa menghasilkan tulisan yang bagus dan bermutu, kita berani memasang tulisan untuk dinilai, dikritik orang? Beranikah kita memajang tulisan yang berisi opini kita yang “tidak umum” alias bisa menuai kritik karena pendapat kita tidak sama dengan pendapat kebanyakan orang? Beranikah kita memajang tulisan kita yang memang masih berupa hasil latihan, dan tidak bagus-bagus amat jika dibandingkan tulisan orang-orang yang memang sudah mahir dalam menulis, yang jika menulis pasti mendapat pujian? Memang tidak enak sih dikritik. Memang tidak enak jika harus menerima masukan yang mengatakan bahwa tulisan kita tidak menarik. Memang tidak enak mendapati kenyataan bahwa tulisan kita tidak laku.Β  Tetapi untuk bisa menulis dengan bagus kupikir butuh latihan dan keberanian. Dan ini merupakan tantangan juga buatku πŸ˜‰

Ngomong-ngomong, butuh apa lagi ya supaya bisa menulis dengan baik?

*Terima kasih buat Meira untuk komentarnya kemarin πŸ™‚