Alat Yoga Murah Meriah

Dulu, salah satu alasanku menunda-nunda untuk yoga adalah soal peralatannya. Sebenarnya yang paling utama hanyalah yoga mat. Waktu masih di Jakarta, aku mendapatkan yoga mat yang cukup miring harganya di sebuah apotek waralaba. Buatku, yoga mat itu murah jika dibandingkan yoga mat bermerek. Murah meriah deh, kualitasnya juga setara harganya. Seingatku dulu di bawah 100 ribu. Sekarang harganya berkisar 125.000 ribuan. Buatku harga segitu cukup miring, soalnya mat yang lain harganya bisa 3 atau bahkan 10 kali lipat. Untuk pemula, mat yang murah meriah pun cukup kurasa. Kalau akhirnya serius dan rutin beryoga, baru beli mat yang lebih bagus.

Setelah punya mat, PR selanjutnya adalah soal penyimpanannya. Kalau cuma digulung dan ditaruh di pojokan kamar sih bisa saja. Hanya saja, yoga mat yang dibiarkan tanpa baju cenderung berdebu. Males kan kalau pas mau memakainya malah kita repot bersih-bersih dulu. Mat yang debuan itu malah bisa bikin kita sakit. Jadi, benda kedua yang perlu dibeli adalah tas yoga mat. Kalau kita lihat di olshop, harga tas yoga mat bervariasi. Ada yang di bawah 50 ribu, ada yang sampai seratus ribu lebih. Aku tentu saja tidak mau beli yang mahal-mahal. Demi pengiritan, aku jahitin tas yoga ke penjahit terdekat. Aku lupa berapa biayanya, yang jelas jauh lebih murah. Memang agak repot karena aku mesti beli kain sendiri dan mencari contoh tas yoga mat untuk mendapatkan ukurannya. Tapi hal itu sebanding dengan murahnya. Waktu itu aku jahitin di penjahit kampung. Murah dan rapi. Aku puas. Setelah beli mat kedua, aku beli tas yoga mat yang murah di olshop. Harganya di bawah 50 ribu, tapi kainnya cukup tebal.

Ketika mulai agak rutin berlatih yoga, pelatih yogaku menyarankan aku memakai tali yoga. Sebelumnya aku pakai kain apa saja yang ada. Bahkan aku pernah pakai jarik untuk membantuku meluruskan kaki :D. Bisa sih, tapi kurang praktis. Waktu dipinjami tali yoga oleh pelatihku, aku merasakan kepraktisannya dan sangat membantu memaksimalkan gerakan. Tapi untuk selanjutnya masak mau pinjam terus? Aku lalu buka-buka olshop, dan harganya membuatku malas beli. Tali ukuran 2,5 meter saja harganya bisa di atas 50 ribu. Bahkan ada yang sampai 150 ribu. Aduh. Mahal amit, ya?

Aku lalu berpikir, kalau aku beli tali sendiri dan menjahitkan ke penjahit tas, kurasa lebih murah. Benar dugaanku. Aku cari tali sendiri di toko yang menjual aneka tali beserta gespernya. Lalu aku menjahitkannya ke penjahit tas. Tidak pakai lama, aku sudah punya tali yoga. Biayanya sekitar 20 ribu sudah sekalian dengan ongkos jahit. Kalau mau mendapatkan tali yang lebih bagus, biayanya bisa sampai 25-30 ribu. Yang jelas kita mesti mau repot-repot cari bahan sendiri dan ke penjahit. Kalau mau praktis, beli online. Dari pengalamanku, harga tidak berbohong. Tali yoga 20 ribuan yang ada di olshop rata-rata kurang bagus. Terlalu licin. Jauh lebih baik kalau mau berburu tali sendiri dan menjahitkannya.

Perlengkapan yoga ketiga yang membantuku adalah balok. Seperti halnya peralatan yoga lainnya, balok yoga harganya bervariasi. Ada yang muahal banget, ada yang cukup terjangkau. Dari yang harganya di bawah 50 ribu, sampai ada yang ratusan ribu. Ada yang bahannya dari kayu, ada yang dari gabus. Aku sendiri memilih balok yoga dari kayu.

Pengalamanku, aku bisa mendapatkan balok yoga yang cukup murah dengan memesannya ke tukang kayu terdekat. Yang jelas, aku sudah menyertakan ukuran ketika memesannya. Ukuran balok yoga bisa dicari di internet. Ukurannya kurang lebih sama. Pilih tukang kayu yang karyanya cukup halus. Ini yang agak PR. Tapi kalau malas pesan di tukang kayu, beli di olshop saja. Ada yang harganya di bawah 50 ribu dan sudah bagus. Minimal miliki balok yoga sepasang untuk membantu kita melakukan gerakan yoga.

Doa Kecil Awal Tahun

Awal tahun bukan hanya soal berganti kalender. Jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan kalender. Awal tahun adalah tanda pertambahan umur Mas Tok. Begitu pun jauh-jauh hari aku telah merancang kalimat ucapan serta memikirkan hadiah kecil yang pantas. Tapi apakah ada kalimat dan kado yang bisa benar-benar menunjukkan hatiku?

Awal tahun adalah hari-hari tersibuk Mas Tok. Aku paham, tak semestinya aku menelepon Mas Tok pada hari-hari dan jam-jam sibuk atau pada jam-jam istirahatnya. Tidak, tidak. Aku mesti bisa menempatkan diri. Tapi kurasa kiriman teks tentu tidak akan terlalu mengganggunya. Jadi, kukirim ucapan persis dua detik pada pergantian hari, tepat saat ulang tahunnya tiba.

Mas Tok tersayang.
Selamat ulang tahun.
Doaku masih selalu sama: Semoga Mas Tok sehat-sehat dan panjang umur.
Selalu ada cinta yang tak terhitung banyaknya untukmu.
Semoga kita selalu saling menemani meskipun berjauhan. Dan semoga kita bisa berjumpa lagi.

Kuletakkan ponsel di meja samping tempat tidurku. Badanku lelah, tetapi mataku masih berjaga. Aku rasa pesan ulang tahun itu akan dibaca besok pagi-pagi.

Tring!

Alarm tubuhku memaksaku bangun dan meraih kembali ponselku.

Terima kasih ya, Dik Ning.

Aku segera membalasnya.

Terima kasih untuk Ibu juga yang melahirkan Mas Tok. Bagaimana kabar Ibu? Semoga semakin sehat ya setelah sakit kemarin. Siapa yang menemani Ibu saat Natal kemarin?

Iya, nanti kusampaikan. Mestinya Ibu senang jika ditemani calon menantu gagal yang rajin menanyakan kabarnya.

Aku senyum-senyum. Kadang Mas Tok membuat guyonan garing, tetapi entah mengapa aku malah tersenyum. Seandainya bisa kuputar kembali waktu kita, Mas Tok, tentu aku ada di sampingmu dan bersama Ibu.

Apakah Ada Rindu?

Tadi pagi FB mengingatkanku dengan menampilkan foto 2 tahun lalu, yaitu foto pelataran gereja yang basah. Pasti foto itu kuambil sepulang misa harian pada 3 Januari 2 tahun silam.

Hari ini tanggal 3 Januari jatuh pada hari Minggu dan aku belum bisa misa di gereja. Jadwal misaku adalah minggu depan. Aku mulai menimbang-nimbang apakah aku akan berangkat misa luring atau tetap di rumah saja.

Pandemi tidak berakhir hanya dengan mengganti kalender. Misa tidak bisa berlangsung dengan kehadiran umat sebanyak dulu. Kini semua siapa yang akan misa dijadwal dan diberi barcode.

Aku diam-diam menelisik hati, apakah aku memiliki kerinduan untuk ke gereja dan ikut misa? Apa yang kurindui sebenarnya?

Bagaimanapun aku rindu masuk gereja pagi-pagi sekali. Saat udara terasa menggigit kulit dan aku harus merapatkan syal serta jaket. Lalu tenggelam dalam keheningan yang memeluk dengan kuatnya.

Rindu itu bisa hadir dalam bentuk apa pun. Mungkin sah-sah saja jika yang dirindui dari pergi ke gereja adalah membeli jajanan di pelataran gereja.