Apa Harapanmu Tentang Jakarta 20 Tahun Mendatang?

Dalam menyetel radio, aku kadang mengganti-ganti saluran radio. Salah satu radio yang kudengarkan adalah Green Radio. Beberapa hari ini penyiar melontarkan pertanyaan yang kujadikan judul di atas. Jawabannya bisa dikirimkan via SMS ke 0813 81000 892. Eh ini bukan pesan sponsor loh. Siapa tahu ada yang juga tertarik untuk mengirim SMS tentang harapannya terhadap Jakarta 30 tahun mendatang, terutama soal tata ruang dan wilayah. Selain lewat SMS ke nomor itu (itu nomor Green Radio), bisa coba ikut survey-nya dengan meng-klik blog koalisi jakarta di sini.

Aku tertarik dengan pertanyaan itu. Tertarik untuk menjawab dengan panjang lebar. Tapi kalau lewat SMS saja kan tidak bisa berpanjang-panjang dalam menulis. Tadi aku sudah mengirim SMS sih, tapi biar lebih jelas dan puas “curhatnya”, kutulis saja di sini.

Sebagian orang–mungkin sebagian besar ya–berharap bahwa Jakarta 20 tahun mendatang tidak lagi macet, tidak banjir, dan angkutan umum semakin baik. Oke, setuju atas semuanya itu. Kemacetan yang sudah jadi trademark Jakarta betul-betul membuat kota ini tidak efektif. Bayangkan, jika Jakarta sudah kumat macetnya, maka aku harus rela menikmati menjadi “sarden” dalam kendaraan umum. Dan, tahu sendiri kan, bagaimana ajaibnya kendaraan umum Jakarta ini? Kadang sopirnya mengemudikan kendaraan dengan tak karuan, kadang penuh berjubel, dan kadang disusupi anak-anak yang menyodorkan amplop dengan tulisan sok melow agar kita memberi uang ke mereka. Belum lagi kalau habis hujan, maka bersiaplah untuk menikmati genangan air yang terjadi di mana-mana sehingga kendaraan di jalan raya akan tersendat-sendat jalannya.

De yure, aku bukan warga Jakarta. KTP-ku masih dikeluarkan daerah asalku. Soalnya mahal sih bikin KTP di Jakarta. Dua ratus lima puluh ribu, itu harga yang dipatok oleh Pak RT. (Heran, untuk apa saja sih uang sebanyak itu?) Bagaimanapun, sudah kira-kira dua tahun ini aku mencicipi keadaan ibu kota nan megah ini. Loh, ini bukan nyindir lo. Ibu kota ini memang megah, karena besar dan luas. Orang-orang bilang, apa saja ada di Jakarta. Mal ada. KRL ada. Kemacetan lalu lintas ada. Polusi juga melimpah. Lengkap deh! (Kalau ini nyindir beneran deh… hihi.)

Well, tapi sebenarnya apa sih harapanku akan Jakarta 20 tahun lagi? Hmmm… 20 tahun lagi itu bisa lama, bisa pula cepat. Dan 20 tahun lagi itu berarti umurku sudah kepala lima. (Weks?) Dan sebenarnya di usia segitu, aku tak ingin tinggal di Jakarta kok. Itu pengennya sih. Entah nanti bagaimana. Tapi entah aku akan di Jakarta atau tidak, inilah harapanku tentang Jakarta 20 tahun ke depan:

1. Penduduknya tidak sebanyak sekarang.
Aku merasa Jakarta ini sudah terlalu padat. Rasanya di mana-mana terdapat kerumunan orang. Orang yang terlalu banyak, tentu maunya juga banyak. Dan itu lebih susah diatur. Jika long weekend, atau minimal di hari libur biasa saja, kadang jalanan Jakarta agak lengang lo. Buatku itu lebih nyaman.

2. Tidak menjadi pusat bisnis sekaligus pusat pemerintahan.
Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, aku bersebelahan dengan seorang anak muda. Dia mengaku seorang musisi yang baru akan menjajal kemampuannya di Jakarta. Dia bilang, untuk bisa punya album dan benar-benar bisa mengembangkan karier musik, orang mesti ke Jakarta. Aku tak tahu industri musik itu bagaimana. Tetapi kupikir ada sejumput kebenaran dalam pernyataannya itu. Selain itu, banyak kawanku yang akhirnya terdampar di Jakarta, dan tidak bisa kembali ke daerah karena di Jakarta lapangan pekerjaan begitu melimpah. Kamu bisa jadi kutu loncat, berpindah-pindah pekerjaan dengan lebih mudah di Jakarta. Jika di daerah? Lapangan pekerjaan jumlahnya tidak semelimpah Jakarta. Aku pikir, itu karena Jakarta adalah pusat bisnis dan pemerintahan. Jika pusat pemerintahan dipindah, mungkin akan memberi dampak. Setidaknya, Jakarta mesti berkoordinasi dengan daerah-daerah lain. Setidaknya bagi-bagi rejeki lah buat daerah lain. Ini cuma analisaku yang bodoh, sih. Mungkin bisa dikoreksi jika aku keliru.

3. Kurangi mal, perbanyak taman atau hutan kota yang bisa diakses secara cuma-cuma oleh masyarakat.
Konon kabarnya, di Jakarta ini ada 130 mal. Padahal di kota-kota besar negara lain, jumlah malnya tidak sampai 100 loh. Dan 130 mal di Jakarta itu sepertinya masih akan bertambah lagi. Sebenarnya adanya mal itu tak apa, tapi mbok ya jangan banyak-banyak. Sampai sekarang aku tak mengerti, buat apa mal sebanyak itu. Apalagi tidak semua mal itu ramai dan banyak orang berbelanja di situ. Lebih enak kalau banyak taman atau hutan kota, di mana orang bisa “ngadem” atau refreshing murah meriah. Lagi pula, taman atau hutan kota itu bisa jadi lahan terbuka hijau yang bisa untuk menyerap air hujan, kan? Ini kurasa bisa jadi “warisan” yang berharga untuk generasi mendatang.

4. Tata Air yang baik.
Air akan menjadi masalah utama dunia di dekade-dekade mendatang. Jakarta saat ini belum berbenah menghadapi masalah besar ini. Air tanah masih disedot habis-habisan tanpa perhitungan, padahal lahan untuk serapan air semakin berkurang. Beberapa daerah di Jakarta sudah merasakan akibatnya dengan merembesnya air laut ke dalam persediaan air tanah (kualitas air tanah Kelapa Gading dan sekitarnya sudah jelek), dan amblesnya beberapa bangunan seperti di Sarinah. Sementara itu, pengelolaan limbah cair domestik lewat permukaan dengan saluran drainase juga tidak dikelola. Air got yang tidak mengalir masih banyak terdapat di mana-mana (padahal, katanya sih Jakarta dapat Adipura terus, tapi kenyataan tidak bisa berbohong). Sepertinya Dinas PU tidak tahu bagaimana mengatur tata air sehingga hujan setengah jam saja tidak mampu ditampung saluran air sehingga meluber ke jalan. Mendambakan Jakarta mampu menerapkan sistem pengolahan limbah cair tertutup seperti di Hong Kong (seluruh limbah cair di sana diolah kembali sehingga bisa dikatakan mereka meminum air kencingnya sendiri seminggu kemudian) nampaknya masih mimpi.

5. Bangun perpustakaan modern dong!
Selain perpustakaan nasional dan perpustakaan yang ada di Diknas, aku tak tahu di mana lagi perpustakaan yang cukup besar di Jakarta ini. Aku tak tahu, berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun perpustakaan yang bagus. Tapi jika mampu membangun 130 mal, tentu bisa juga membangun ya, minimal 10 perpustakaan modern lah. Di perpustakaan itu, masyarakat bisa membaca dan meminjam buku-buku terbaru yang bisa menambah wawasan mereka, mengakses internet dengan murah, berdiskusi, dll.

6. Tidak banjir, tidak macet, dan kendaraan umum sudah sangat baik.
Usul ke-6 ini rasanya adalah harapan umum. Khusus untuk kendaraan umum, usulnya sih perbanyak kereta (KRL). Kendaraan umum juga bisa benar-benar diandalkan, misalnya tidak ngetem lagi di pinggir jalan sehingga menimbulkan kemacetan, jam keberangkatannya juga tepat waktu, penumpangnya tidak berjubel.

Rasanya enam itu dulu deh harapanku. Jika tulisan ini tidak terbaca oleh pihak-pihak yang berkepentingan, setidaknya aku tidak cuma memendam usulku dalam hati.

Nah, kalau kalian sendiri, pengennya Jakarta jadi seperti apa sih 20 tahun mendatang?

Advertisements

Air … Air … Air

Kemarin sore, waktu menyetel radio, aku dengar ternyata kemarin adalah Hari Air. Wah, aku baru tahu bahwa ternyata Air punya hari khusus juga. Baguslah kalau begitu. Karena air ini sering terabaikan. Pakai awalan “ter-” lo! Maksudnya, tidak sengaja mengabaikannya. Tidak ada maksud mengabaikan, tetapi dalam kenyataannya kok sepertinya sering dicuekin. Hehe. Aku sok tahu, ya? 😀

Ngomong-ngomong soal air, aku jadi ingat kejadian beberapa minggu yang lalu. Pagi itu aku bangun pagi dan bermaksud membuka kran air untuk bak mandi. Setelah beberapa saat kutunggu, loh, kok tidak ada setetes air yang mengalir? Oh, rupanya air di tangki atas habis. Oke, aku nyalakan saklar untuk menghidupkan pompa air. Loh … loh … kok tidak terdengar bunyi mesin pompa air seperti biasanya? Ya, ampun … ternyata pompa air itu lagi ngambek. Mendadak error di pagi hari karena ada bagian yang rusak. Huuuu …! Pagi-pagi kok sudah dapat kerjaan yang nggak mutu seperti ini to?

Ya, ya … di saat seperti itulah aku baru sadar bahwa ketersediaan air bersih itu penting. Ya iyalah. Pernyataan itu tak perlu disangkal lagi. Air bersih itu penting buat mandi, masak, minum, sikat gigi, dan mencuci. Tapi rasanya aku kurang bersyukur jika air bersih mudah aku dapatkan. Kadang aku masih suka kelupaan untuk mematikan kran air. Walaupun tidak sampai bermenit-menit, toh beberapa liter air bersih terbuang percuma.

Jujur saja, dulu aku tak terlalu peduli soal air. Dari kecil sampai sekarang ini, bisa dikatakan aku tak pernah tinggal di daerah yang susah air. Paling-paling hanya sebulan. Itu pun hanya sekali seumur hidup, yaitu ketika KKN dulu. (Tok…tok… jangan lagi deh. Sekali itu saja deh.) Saat itu aku kebagian jatah tempat KKN di Gunung Kidul. Walaupun tidak ditempatkan di desa yang terpelosok, (cukup dekat dengan jalan aspal, dan tidak terlalu jauh dari kota Wonosari) toh aku tetap kebagian merasakan kurangnya air. Air bersih harus beli. Dan waktu itu rasanya cukup mahal bagi kami, para mahasiswa yang duitnya tidak seberapa ini. Kadang kami tidak bisa segera menikmati air bersih yang kami pesan itu. Entah kenapa kok kadang mobil pengangkut tangki itu tidak cepat dalam melayani pembeli ya? Aku lupa apa alasannya.

Tapi begitulah, di saat tertentu kami kami harus sangat … sangat … sangat … berhemat. Kalau perlu, mandi sekali sehari, hi hi hi. Dan kami tidak bisa mandi jebar-jebur, dengan memakai air sepuasnya. Rasanya setiap tetes air itu ada label harganya–sekian rupiah. Jadi jangan boros! Kalau mau irit, sebenarnya bisa mandi bersama para warga desa lainnya, yaitu di sungai. Tapi saat itu aku dan beberapa teman perempuan merasa malu dan canggung ikut mandi di kali. Untuk mandi kaum perempuan dan laki-laki memang dipisah, sih. Tapi yaaa tetep malu untuk mandi di tempat umum dan terbuka seperti itu. Belum lagi aku kepikiran bahwa air sungai itu di tempat lain dipakai untuk mandi atau buang air oleh orang lain. Oh, tidaaaak! Lebih baik mandi sekali sehari. Agak mahal tak apa.

Nah, pengalaman tinggal di tempat yang susah air itu masih berbekas sampai sekarang. Dan rasanya sejak saat itu aku melihat air dengan cara pandang yang berbeda. Yaaa, kadang aku masih boros air juga sih. Tapi tidak seboros dulu lah.

Dan saat di Jakarta ini, aku kadang miris melihat padatnya perumahan yang hampir tak punya lahan serapan air. Air hujan menggelontor begitu saja menyusuri jalanan berbeton, dan entah menggenang di mana. Rasa-rasanya, air hujan itu sangat sedikit yang terserap ke dalam tanah. Padahal dalam satu kawasan perumahan, ada ribuan orang yang mengonsumsi air bersih–setiap hari, setiap saat. Kalau dikonsumsi terus, tapi masyarakat tidak mengatur agar banyak air yang terserap kembali ke dalam tanah, bisa habis dong. Belum lagi sekarang semakin banyak polutan yang mencemari air bersih. Dari buku anak-anak berjudul “Aku Suka Belajar … Air” terbitan BIP, dikatakan bahwa air yang bisa digunakan manusia jumlahnya kurang dari 1% air di seluruh dunia (hal. 55). Well, ini memang “hanya” buku anak-anak sih, tapi buku anak-anak tentunya tidak berbohong kan?

Aku cuma berpikir, jangan-jangan besok, entah generasi keberapa dari sekarang, air bersih lebih mahal dari logam mulia ya?

Aku, Jazz, dan Java Jazz Festival

Ketika aku masih kecil, aku punya pengasuh. Mak’e, begitu aku memanggilnya. Ia tinggal bersama keluargaku sejak kakakku masih bayi. Bahkan ia ikut mengasuh anak-anak nenekku–alias om dan tanteku. Jadi, dia sudah lama sekali tinggal bersama kami. Kalau tidak salah awalnya dia ikut nenekku, tetapi kemudian dia tinggal bersama keluarga kami. Tapi bisa dikatakan dia adalah milik keluarga besar kami. Semua menyukai masakannya. Rasanya sampai sekarang di keluargaku belum ada yang bisa membuat masakan yang menyamai rasa masakannya. Pokoknya enak banget deh!

Karena orang tuaku bekerja, urusan pengasuhan aku dan kakakku serta segala macam urusan tetek bengek rumah tangga diurus olehnya. Yang jelas, dialah yang mengurus makan kami sekeluarga. Dia yang belanja dan memasak. Belanjanya nggak jauh-jauh sih, karena ada seorang tukang sayur yang selalu datang dan mangkal di depan rumah–Yu Nem, namanya. Mak’e biasanya berbelanja ketika aku sudah hampir berangkat ke sekolah. Walaupun belanja cuma sedikit, dia akan berlama-lama mengobrol dengan tukang sayur itu. Nah, saat yang menyenangkan adalah jika aku libur. Karena aku bisa ikut-ikutan duduk di situ, sambil mendengarkan obrolan soal harga daging yang naik, soal anak Yu Nem, atau soal nomor buntut yang keluar… hihihi. Rasanya mendadak aku ikut dewasa sejenak. Tapi aku pasti tetap dianggap anak-anak oleh mereka.

Eh, tapi apa hubungan cerita Mak’e ini dengan judul di atas? Begini, Mak’e adalah salah seorang agak-agak anti dengan musik jazz. Yang dia sukai adalah lagu-lagu lama dan klenengan–musik dengan gending Jawa. Nah, berhubung banyak waktu kuhabiskan bersama dia, maka beberapa kesukaannya dan ketidaksukaannya nular ke aku. Aku jadi menyukai lagu-lagu lama dan aku tidak menyukai musik jazz. Bagaimana mau suka musik jazz? Wong kalau ada tayangan musik jazz di televisi hitam putih kami yang jadoel itu, Mak’e selalu bilang, “Wis, jazz meneh… Pateni ae tivine.” (Wah, jazz lagi … Udah, matikan saja televisinya.) Dan itulah yang tertanam sejak kecil di benakku soal musik jazz. Musik itu tidak enak didengar. Pokoknya enggak aja deh!

Beberapa belas tahun kemudian ….

Suatu kali, beberapa minggu sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku berkesempatan mengantarkan tiga orang tamu dari Thailand. Mereka sebenarnya tamu temanku. Mereka hanya ingin puter-puter Jogja, dan karena saat itu waktuku banyak yang luang, aku ikut menemani mereka ke beberapa tempat wisata. Pada malam kedua mereka di Jogja, di depan Monumen SO ujung Malioboro ada pertunjukan musik jazz. Gratis. Waktu itu bintangnya adalah Tompi. Ketiga tamu itu rupanya suka jazz dan mereka ingin menonton. Pertunjukannya waktu itu sekitar pukul 7 atau 8 malam. Salah seorang temanku yang ikut mengantarkan ketiga tamu itu bertanya padaku: “Kamu mau ikut nonton jazz nggak?” Wedew … Sekian belas tahun aku tak pernah sekali pun benar-benar mendengarkan musik jazz, kali ini aku ditawari ikut nonton? Ya, gratis sih. Tapi dengan label bahwa musik jazz itu bukan musik yang enak didengar, kok rasanya gimanaaaa gitu, ya? Tapi kalau aku pulang duluan, kok sudah terlalu malam. Lagian waktu itu aku tidak naik motor. Mosok ya aku mau jalan kaki dari Malioboro sampai rumah? Bisa-bisa subuh baru sampai rumah deh (lebay!) Ah, sudahlah … akhirnya aku ikut nonton jazz saja. Kalau nanti di sana bosen, ya tidur aja. Beres kan?

Malam itu adalah kali pertama aku menyaksikan pertunjukan jazz secara langsung.

Lalu, bagaimana?

Rupanya aku sangat terkesan. Sangat… sangat… terkesan. Terkesan dengan para penyanyinya (sebelum Tompi muncul), yang bisa menjadikan lagu-lagu biasa jadi istimewa. Serasa baru. Apalagi waktu Tompi muncul, waaa … keren. Keren. K-e-r-e-n. Sepertinya jazz itu musik yang baru bisa dinikmati (lebih tepatnya aku sih) jika menontonnya secara langsung alias live. Waktu pertunjukan itu, yang membuatku terkesan adalah, ketika Tompi mengeluarkan keahliannya dengan mengeluarkan suara yang kaya anak kecil…. Apa itu namanya ya? Kalau di albumnya dia suka pakai teknik itu kok. Coba dengerin deh. (Dibayar berapa ya aku sama Tompi promosiin dia seperti ini? Hehehe.) Sepertinya dia pakai efek khusus (eh, ini aku sok tahu ding), tapi keren banget. Lalu para pemain musiknya juga bisa membawakan musik yang memikat. Entah kenapa kesannya, musik yang dimainkan tidak gedumbrangan. Dan satu hal yang membuatku rada terheran-heran adalah para penontonnya. Mereka itu rapi sekali duduknya, dan tidak ribut. Perilakunya lumayan baik lah. Kelihatan banget mereka–termasuk aku–sangat menikmati musik dan lagu-lagu yang dibawakan. Harap maklum ya kalau aku terkesan pada pertunjukan kali itu, soalnya aku ini anak yang kuper. Tidak pernah nonton pertunjukan musik atau band yang heboh. Jadi, pas menyaksikan pertunjukan musik jazz itu, aku merasa sangat terkesan.

Dan ndilalah … aku kok ya menikah dengan laki-laki penggemar jazz. Jadi, aku yang baru mulai kesengsem dengan jazz mulai berguru deh. Hihi. Salah satu momen untuk berguru adalah dengan menonton Java Jazz Festival (JJF). Yah, ini cerita tahun kemarin sebenarnya, karena tahun ini aku tidak nonton JJF. Wuah… aku sueneng banget bisa dapat tiketnya. Kabarnya (waktu itu) bakal banyak panggung pemusik jazz. Rasanya aku tidak sabar menunggu hari H.

Akhirnya hari itu pun tiba. Dan… aku kecewa. Loh kok?

Seperti yang kutulis di sini, aku kecewa berat dengan suasana di sana. Ya soal seluruh panggung dan tempat JJF yang ber-AC tetapi penuh dengan asap rokok (sumprit, pulang dari sana aku malah sakit), soal para penonton yang jika mengantre suka berdesak-desakan, soal makanan yang mahal. Ya, gitu deh. Mengecewakan lah. Ibaratnya, beli makanan dengan harga mahal, kita berharap dapat makanan yang enak; begitu juga di JJF dengan dengan tiket seharga dua ratusan ribu lebih, aku mengharapkan suasana dan tempat yang menyenangkan dong! Wong dulu pas nonton Tompi saja gratisan tetapi suasananya asyik kok, lha kok ini yang bayar sampe ratusan ribu suasananya jauh dari ekspetasi ya?

Minggu lalu di berlangsung JJF di Kemayoran. Mengingat pengalaman tahun lalu yang kurang menyenangkan, aku dan suamiku tidak tertarik lagi nonton jazz. Lupakan JJF. Cari pertunjukan jazz yang lain saja deh.

Sekilas Nostalgia dengan Umar Kayam

Aku mengenalnya kira-kira sepuluh tahun silam. Di sebuah perpustakaan besar yang dingin–perpustakaan terbaik yang pernah aku nikmati. Dinginnya ruang basement di perpustakaan itu sangat menggigit, tapi toh aku senang berada di sana. Dan sewaktu aku menyusuri rak-rak raksasa di situ, aku menemukannya. Ya, dia adalah sebuah buku tua yang agak tebal, berpenampilan lusuh, dan sampulnya sudah dibuat hardcover supaya tidak terlalu rusak. Judulnya bagiku kurang terlalu menarik, tapi cukup menggelitik untuk sekadar membaca sekilas halaman-halaman di dalamnya: Madhep Ngalor Sugih, Madhep Ngidul Sugih, karya Umar Kayam (UK).

Ketika aku membolak-balik buku itu, aku mulai tersenyum simpul sendirian. Isinya seolah-olah menjadi cerminan ke-Jawa-anku yang kadang-kadang tidak kusadari ini. Sebenarnya tulisannya biasa-biasa saja sih, cuma UK sering menyisipkan istilah bahasa Jawa yang rasanya pas betul untuk menggambarkan ekspresi atau suasana, misalnya:

Wates hanya sekitar 45 kilometer jauhnya dari Yogya. Dan Yogya hanya 45 menit penerbangan dari Jakarta. Artinya ukuran jauh dan dekat itu mulur-mungkret adanya.

….

Aneh juga, wong laki-laki kok senyumnya merak ati. Dan dalam era tegang dan cemberut bin mbesengut seperti sekarang ini senyum merak ati itu saya anggap aset yang dasyat sekali.

(Madhep Ngalor Sugih, Madhep Ngidul Sugih, hal. 165, Umar Kayam, Jakarta).

Ungkapan seperti mulur-mungkret, mbesengut, merak ati, itu rasanya menimbulkan efek tertentu saat membacanya. Kadang walaupun tidak lucu-lucu amat kalimatnya, bisa membuat tersenyum.

Entah mengapa, aku suka tulisan-tulisannya. Mungkin ini seperti jika aku menonton Dagelan Mataram atau dagelan lokal Jawa Timuran yang kutonton saat aku pulang–di saluran TV lokal. Rasanya guyonan yang biasa-biasa itu dekat di hati. Ibarat puzzle, seperti bisa mengepaskan posisinya di benak dan hatiku. Rasanya seperti mendengar dan menyaksikan obrolan tetangga sendiri, atau seperti ikut–nyemplung–dalam gojek kere; yaitu gojek atau gurauan yang wagu, biasa, tapi sanggup membuat kita tertawa. Dan di dalam kolomnya itu UK, memunculkan tokoh-tokoh yang tampak dekat dengan keseharianku dulu. Ya, walaupun tidak mirip banget, tapi cukup mengingatkan dan mencerminkan kondisi rumahan orang Jawa. Ada Pak Ageng, si majikan–seorang dosen biasa yang berumah di Jogja. Lalu ada pasukan wingking-nya–Mr Rigen, Ms Nansiyem, Beni Prakosa, dan Tolo-tolo–yang sepertinya sudah nderek dan melayani Pak Ageng cukup lama, dan menjadi orang kepercayaannya. Walaupun tampak ada kelas antara Pak Ageng dan Mr Rigen sekeluarga, tapi semuanya tampak selaras. Jawa banget to?

Sejak saat itu, aku mulai membaca beberapa karya UK. Ternyata UK tidak cuma piawai menulis kolom yang santai, tapi dia juga menulis banyak cerpen dan novel. Salah satu novel yang tak pernah bosan kubaca adalah Para Priyayi. Berbeda dengan tulisan di kolomnya yang santai, Para Priyayi ini tampak lebih serius.  Bercerita tentang keluarga Jawa yang priyayi, UK memotret dan memaparkan sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan priyayi. Kalau menurutku, di novel ini UK bisa mengetengahkan “soul” priyayi yang sebenarnya; yaitu bukan sekadar kelas, tetapi juga perilaku dan sikap.  (Kalau mau tahu lebih banyak, baca sendiri yaaaa :D.Ini buku bagus. Nggak akan nyesel menghabiskan waktu untuk membacanya.)

Sejak pertemuan kami di perpustakaan yang dingin itu, aku akhirnya memutuskan untuk mengoleksi karya-karya UK. Waktu itu aku masih bisa menemukan buku-bukunya dengan cukup mudah di toko buku. Tapi kurasa jika sekarang aku mengubek-ubek toko buku, belum tentu ketemu deh. Kalau Para Priyayi mungkin masih ada, tapi buku-bukunya yang lain aku tak yakin bisa menemukannya. Jadi, kurasa ada benarnya perilaku “spontan” dalam membeli buku. Soalnya kadang kalau tidak membelinya pada saat itu, belum tentu bisa menemukannya di lain kesempatan. Apalagi untuk buku-buku budaya jadul seperti itu, yang sepertinya sudah kalah dimakan dengan tren buku-buku masa kini.

Nah, beberapa hari yang lalu, entah mengapa aku tiba-tiba pengen membongkar beberapa koleksi bukuku karya Pak UK ini. Saat ini, di samping bantalku terdapat buku Madhep Ngalor Sugih, Madhep Ngidul Sugih dan Titipan Umar Kayam. Membaca buku itu seperti mengantarkanku ke gerbang Stasiun Tugu … 🙂 Dan aku seperti bisa mendengar seruan “penggeng eyem… penggeng eyem”-nya Pak Joyoboyo.