Kakak, Bunda, dan Bu Haji

Awal-awal tinggal di Jakarta dulu, aku suatu kali diajak temanku untuk membeli susu buat anaknya yang masih balita. Aku menemani dia itung-itung supaya mengenal tempat perbelanjaan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Sesampainya di bagian penjualan susu, pramuniaga yang berjaga dengan sigapnya langsung mendekati kami, “Silakan Bunda.” Kepalaku langsung merekam sebutan Bunda tersebut. Oh, jadi sebutan ini ya yang dipakai untuk ibu-ibu. Memang sih sebutan “bunda” itu kesannya gimana gitu ya. Manis-manis lembut kayaknya.

Berikutnya, temanku mengajakku ke bagian penjualan popok sekali pakai. Istilah kerennya: pampers. Sekali lagi, pramuniaga yang bertugas, dengan fasihnya memanggil kami “bunda”. Walaupun aku cuma menemani temanku, aku ikut dipanggil bunda juga. Tapi rupanya sebutan bunda itu tidak melulu dilekatkan padaku saat aku berjalan dengan temanku. Kadang kalau aku sedang jalan sendiri di toko swalayan, para pramuniaga juga memanggilku bunda. Padahal menurutku, penampilanku “nggak bunda banget” deh. Menurutku lo, ya. Atau barangkali mereka “tertipu” dengan rambut putihku?๐Ÿ˜€ Nah, sejak saat itu aku jadi agak gimana gitu kalau dengar istilah bunda. Kesannya kok ada udang di balik bakwan. Hmm … seperti mau bersikap manis, tapi sebetulnya mau jualan. Nggak tulus. Berlebihan? Mungkin. Tapi itulah yang ada di pikiranku. Sampai-sampai aku berpikir, seandainya kelak punya anak, aku nggak mau dipanggil bunda oleh anakku. Hihihi. Segitunya ya?

Selain sebutan “bunda”, sebutan yang lazim kudengar saat di toko adalah sebutan “kakak”. Biasanya bunyinya begini nih, “Boleh Kakaaaak ….” Dan seruan ini seragam hampir di semua toko atau pusat perbelanjaan di Jakarta. Ya ampun! Aku heran, siapa sih yang pertama kali menggunakan kalimat seruan itu? Dan cara pengucapan serta nadanya sama lo. Heran nggak sih? Coba deh jalan-jalan di Jakarta, maka kamu akan biasa dengan kalimat seruan ini.

Selain sebutan Bunda dan Kakak, ada lagi sebutan yang menurutku agak aneh. Bagiku lo, ya. Mungkin bagi kebanyakan kalian tidak. Begini ceritanya, dulu waktu awal mau pindah ke Jakarta, suamikulah yang cari rumah kontrakan. Waktu itu dia bilang begini, “Di depan rumah kita ada Bu Haji yang jualan lauk dan sayur matang.” Aku langsung menangkapnya begini, Oh … jadi ibu penjual lauk itu pernah naik haji. Sampai sekarang sebetulnya aku tidak tahu juga sih si ibu itu pernah naik haji atau tidak. Tapi aku melihat di sini sepertinya ada kebiasaan bahwa ibu-ibu yang berkerudung biasa dipanggil Bu Haji. Jadi dulu satu gang di tempat tinggalku yang lama ada beberapa Bu Haji. Dan aku tidak pernah memverifikasi atau menegaskan atau mencari tahu (halah banyak amat sih istilahnya), apakah mereka pernah naik haji betul atau tidak. Dan itu tidak penting bagiku. Sampai suatu kali aku naik bus patas, lalu di kejauhan ada sekelompok ibu-ibu berkerudung. Mereka memberi isyarat untuk naik bus yang kutumpangi. Nah, pas ibu-ibu itu naik, kondekturnya bilang, “Mari Bu Haji!” Nah, aku seketika jadi bertanya-tanya, apakah kondektur ini kenal dengan ibu-ibu itu ya? Maksudku, apakah kondektur itu benar-benar tahu bahwa ibu-ibu itu memang pernah naik haji? Adakah teman-teman yang bisa menjelaskan hal ini?

9 thoughts on “Kakak, Bunda, dan Bu Haji

  1. Nek menurutku itu karena ‘latah’ ya…
    Aku kadang ga nyaman dipanggil ‘Pak’, ‘Om’, ‘Mas’ ataupun ‘Dek’.

    Lebih mending langsung panggil nama atau ‘Saudara’ sebelum akhirnya tahu namaku.

    Kalau di sini sih pake, ‘Mate’ sebelum kukasi tau nama..๐Ÿ™‚

    Aku juga lebih suka dipanggil nama saja sih.

  2. hehehe…
    ada satu lagi.. fenomena manggil ‘sis’ di online shop fb.. bahkan kadang kalo yang nanya cowok pun tetep dipanggil sis. huahahaha

    aku pernah prostes tuh sama salah satu penjual online yang manggil aku “sis”. awalnya dia mau panggil aku pakai nama, tapi selanjutnya panggil aku “sis” lagi. ampuuun! sebel deh!

  3. Kalau di kampung saya, perempuan yang suaminya guru juga ikut dipanggilnya Bu Guru, padahal dia bukan seorang guru.

    Tetangga depan rumah saya ada yang dipanggil Bu Dokter, padahal dia bukan dokter hehehe

  4. untung kamu ngga dipanggil gan loh hahahaha.
    Soal bunda, aku juga merasa risih dipanggil bunda. Ngga pantes deh pokoknya๐Ÿ˜€
    Kesannya…. tuaaaaaa hahahahah

    Sama! Aku juga nggak suka dipanggil “Bu”. Tua banget ya. Padahal kan masih muda (paling nggak berjiwa muda). Hahaha

  5. Kita orang Indonesia membutuhkan suatu panggilan agar dianggap sopan. Manggil nama langsung gak sopan dan belum tentu juga SPG tahu nama kita. Dulu aku bangga tiba-tiba kalau dipanggil kakak oleh SPG, kesannya gimana gitu, masih muda..Tapi lama2 SPG lain juga ikutan, panggilan itu jadi pasaran..jibeh deh..Kalau panggilan Bunda..juga bikin aku menyerengai..walau panggilan itu amat sudah pantas aku sandang hahaha…

    Mengenai Bu Haji, biasanya yg dapat panggilan itu emang sudah pernah naik haji. Setidaknya begitu di kampungku dekat serpong dan cimanggis sana. Disini walau orangnya pakai kerudung tapi kalo belum naik haji gak dipanggil sebutan itu..Tapi itu bagi yg sudah kenal. Kalau gak kenal dan kita memakai kerudung biasanya emang di panggil Bu Haji. Soalnya orang yg memanggil mau aman saja, takut yg di panggil tersinggung…

    Jadi panggilan2 aneh itu emang tuntutan budaya kita kok Mbak Kris…Yang lalu dimanfaatkan oleh para sales…

    Ngomong2 Mbak Kris lebih suka dipanggil apa oleh orang asing? Kalau aku suka dapat panggilan Uni hehehe…

    Kalau saya lebih suka dipanggil Mbak atau Dik kalau orang itu belum tahu nama saya, Uni๐Ÿ™‚ Hm, memang iya ya, Indonesia masih butuh panggilan yang menunjukkan kesopanan.

  6. Aku sudah dipanggil dengan semua sebutan itu, he..he..,
    Satu lagi dipanggil mama sama gurunya anak2.

    Btw, suami juga jadi dipanggil pak haji kalau di sebelahku, padahal belum pergi haji

    Jadi aku boleh manggil Bu Haji Monda?๐Ÿ˜€

  7. OOT dikit : Rambut putihmu nyentrik lho Kris, hanya di pinggiran saja, selebihnya hitam. Terus putihnya juga mengkilat, jadi tanpa diwarnaipun kelihatan bagus๐Ÿ™‚

    Soal sebutan, aku sepakat dengan EVI komentator sebelum Monda๐Ÿ™‚. Awal-awal menikah agak risih juga dipanggil Tante, atau Bu. Biasa hanya dipanggil nama atau Kakak saja. Lama-lama aku terbiasa dengan panggilan Tante Riris atau Bu Riris, tapi aku agak kurang sreg kalau dipanggil Mama si Sulung (kasihan anakku yang bungsu kan? seolah-olah dia bukan anakku) Untuk Panggilan Mama Sulung, biasanya dengan lembut aku minta dikoreksi. Lagian aku punya nama sendiri kok.

    Hehe, makasih. Rambut putihku ini memang trade mark kayaknya :p

  8. Ibuku dulu pas di belitung dipanggil Mak L*la. Pindah ke Depok ganti dipangil Tante. Sekarang dipanggil Bu Haji๐Ÿ˜€
    Beda lokasi beda panggilan hahahaha

    Kayaknya cuma di seputar Jakarta ya ibu-ibu setengah baya dan berkerudung dipanggil Bu Haji?

  9. Aku juga pernah dipanggil “bunda” waktu di unit asrama dulu๐Ÿ˜€ … awalnya aneh juga, lha wong masih kinyis-kinyis je… tapi ya OK lah… karena aku nggak suka dipanggil “mami” seperti kebanyakan anak-anak unit manggil ketua/simbok unit.. kalau mau jujur, pengen dipanggil nama aja, atau pake Mbak juga gapapa…

    Tapi aku pernah risih juga waktu belanja sama keponakanku… ada SPG yang nawarin susu… “Boleh, Bunda… dicoba ini produk A dengan keunggulan ini itu, anu untuk putrinya…”
    aih… emang kesan yang kutangkap dia “bermanis-manis” supaya aku beli produknya. kujawab aja, maaf ya Mbak, anak saya sudah cocok pake produk yang lain… kalau coba-coba takut diare… hehehe… *ngibul aja sekalian… *๐Ÿ˜€

    Eh Na, mantan anak unitmu masih ada memanggilmu Bunda nggak sih sampai sekarang? Hehehe. Untung aku nggak pernah jadi ketua unit. Jadi nggak pernah dipanggil Bunda, Mami, atau Simbok.๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s