Percayakah Kamu dengan Ulasan di Blog?

Beberapa hari lalu aku membaca blog seseorang. Aku kenal orangnya, walaupun tidak kenal dekat. Pernah sih ketemu, tapi ya trus tidak kenal dekat. Pokoknya tahu dan cukup kenal saja. Titik. Selama ini aku hanya mengamati beberapa tulisannya soal menulis cerita. Tulisannya soal tips menulis cukup baik, apalagi dia seorang penulis juga yang sudah cukup banyak berkarya.

Di blog tersebut dia tidak hanya menulis soal tips menulis, tapi juga soal wisata kuliner. Nah, suatu kali aku membaca dia menulis soal sebuah tempat makan. Kebetulan tempat makan yang dia ulas itu ada cabangnya tak jauh dari tempat tinggalku. Di blog itu ditulis dia cukup puas makan di sana. Tulisan itu sukses membuatku jadi penasaran, benarkah enak menu makanan di sana? Menu makanan itu sebenarnya sepele: Nasi goreng. Tapi aku penasaran karena disebutkan bumbunya berempah. Apakah nasi goreng itu semacam nasi goreng Aceh? Jelas aku langsung ngeces ketika membayangkan.

Keinginanku itu kusampaikan ke salah seorang temanku yang tinggalnya tak jauh dari rumahku. “Katanya nasi goreng di sana enak,” begitu kataku. “Kamu sudah nyobain?” Temanku menggeleng. Beberapa kali aku mencoba pengin makan nasi goreng di sana. Tapi entah kenapa, selalu batal. Bahkan ketika aku lewat kedai nasi goreng itu, aku sempat membujuk suami untuk makan di sana, tapi bujukanku tidak berhasil. Ya sudah. Nanti kapan-kapan deh aku coba sendiri, pikirku.

Tadi sore, temanku menghubungiku lewat WA. Dia laporan kalau habis makan di kedai nasi goreng itu. “Piye?” tanyaku. Jawabannya berentet: Nggak enak. Mahal. Nyesel. Pedes aja. Nggak ada rasanya. “Rasanya kaya nasi goreng abang-abang keliling, cuma ini jauh lebih mahal. Makan bertiga habis 120 ribu–hanya untuk nasgor aja.” Duh, aku merasa agak gimana gitu mendengar laporan temanku itu. Mungkin gara-gara aku dia jadi mencoba makan di kedai nasi goreng itu, ya? Lha ternyata tidak enak dan mahal.

Ini pelajaran penting buatku. Jangan percaya mentah-mentah ulasan orang di blog–terutama kalau aku tidak kenal betul orang itu dan tahu betul seleranya. Mungkin orang itu membuat ulasan tanpa paksaan, dengan sukarela. Tapi belum tentu selera dia sama dengan seleraku. Lebih baik tanya orang yang seleranya sama denganku. Kalau dalam kasus nasi goreng itu, jelas aku lebih percaya sama temanku. Aku tahu lah selera dia. Aku tahu makanan yang dia bilang enak dan tidak. Orang menulis ulasan di blog tanpa embel-embel hadiah saja bisa membuat ulasan yang “menyesatkan” (menyesatkan versiku, yah; kalau versi dia sih mungkin enak-enak saja), apalagi kalau orang menulis ulasan dengan embel-embel hadiah? Belum tentu yang dia tulis itu jujur, kan?

Setelah Sekian Lama

Kalau melihat catatan tanggal di blog ini, aku mulai mengisi blog ini sejak tanggal 22 Oktober 2009. Baru sekitar lima tahun. Belum terlalu lama, ya. Dan blog ini pun mengalami pasang surut. Tapi di antara blog-blogku yang lain, blog ini termasuk yang paling sering kutengok dan kuisi.

Dulu setiap kali ada orang yang tanya kepadaku, “Untuk apa ngeblog?”, jawabanku adalah: “Buat cari teman.” Ya, memang blog ini awalnya kubuat ketika aku awal di Jakarta. Pas aku suka galau gitu, deh. (Kaya sekarang enggak galau aja? Hehehe.) Dulu sih, aku merasa ngeblog itu asyik. Eh, sampai sekarang juga asyik kok. Tapi begini, dulu aku memang lumayan sering blogwalking lalu tulis komentar di beberapa blog. Akibatnya, blogku juga balik dikunjungi dan diberi komentar. Rasanya senang. Kemudian aku menulis, salah satunya adalah dengan tujuan agar dibaca orang. Ya iyalah, toh ini bukan blog yang diseting privat kan. Semua orang bisa membacanya. Tapi itu dulu.

Sekarang aku merasa, tujuanku ngeblog lebih untuk diri sendiri. Egois? Hmmm… Entahlah. Tapi aku sekarang lebih ingin menulis terutama untuk diriku sendiri. Untuk pengingat. Untuk catatan bagi diriku sendiri. Dan lagi blog ini tetap bisa dibaca umum, jadi kalau apa yang kutulis ini bisa bermanfaat untuk orang lain, ya syukur. Kalau ada yang mau memberi komentar, silakan. Asal komentarnya masih nyambung dengan isi tulisanku dan bahasanya bisa dipahami (karena kadang ada yang tulisannya tidak jelas), ya oke saja.

Aku sudah jarang sekali blogwalking. Kalaupun aku main ke blog teman-teman yang lain, biasanya sekarang aku hanya jadi silent reader. Pembaca diam-diam. 😀 Jadi penikmat saja.

Satu hal yang menjadi catatanku, menulis blog itu baik. Dengan menulis blog, pertama-tama kita belajar mengungkapkan pikiran dan (kadang) perasaan. Blog bisa jadi media untuk urun pendapat. Kalau dulu opini biasanya kita baca di koran, sekarang kita bisa menuliskan opini di halaman kita sendiri. Kedua, lewat blog kita bisa berbagi bermacam-macam hal. Bisa berbagi resep, berbagi pengalaman, berbagi informasi. Kadang kalau aku sedang googling untuk mencari suatu informasi, aku menemukan informasi tersebut dari suatu blog.

Jadi, akhir kata… aku berharap aku masih bisa tetap ngeblog. Walaupun kadang malas sekali menulis; walaupun kadang merasa tidak punya waktu… setidaknya blog ini kutulis untuk diri sendiri.

Catatan Seorang Silent Reader

Ada beberapa blog yang biasa aku kunjungi. Ada yang teratur aku kunjungi, ada yang tidak. Dari beberapa blog itu, aku kadang memberi komentar, kadang ya baca-baca saja. Kalau tulisannya terlalu pribadi, biasanya aku tidak meninggalkan jejak. Misalnya, si penulis menceritakan sakitnya, aku biasanya baca diam-diam saja. Kalau sudah berteman dengan narablog tersebut, ya kadang aku nulis komentar.

Aku biasa membaca blog teman–entah teman jauh atau teman dekat. Suka aja. Membaca tulisan yang mungkin kesannya remeh temeh, tentang hal sehari-hari yang juga biasa aku jumpai, kadang membuatku merasa tidak sendirian.

Tapi seperti yang sudah aku katakan tadi, aku tidak selalu memberi komentar. Baca-baca saja.

Nah, salah satu blog yang aku ikuti adalah blognya Femi.

Femi ini seingatku kukenal ketika awal-awal aku kerja dulu. Atau pas akhir masa kuliahku ya? Lupa deh. Aku tidak kenal dekat. Aku kenal dia waktu aku bergabung di Sanggar Talenta. Ini adalah sanggar penulisan. Biasanya sanggar ini mengadakan diskusi dan kemudian sama-sama membuat tulisan. Anggotanya tidak terlalu banyak. Isinya anak muda semua. Dan Femi salah satu anggotanya.

Kami biasanya berkumpul di Kanisius. Dan memang dulunya beberapa tulisan anak Sanggar Talenta yang berupa buku antologi diterbitkan oleh Kanisius. Aku terus-terang kurang begitu tahu tentang sejarah awal sanggar ini. Wong aku ikutnya pas terakhir-terakhir.

Waktu itu kami sempat menghasilkan satu buku antologi. Senang rasanya. Seingatku itu adalah pertama kalinya tulisanku muncul dalam bentuk buku. Sempat pula mau membuat buku antologi berikutnya. Tapi entah mengapa (sepertinya) batal. Sampai sekarang tidak ada kabarnya naskah itu. Padahal kami sudah dibayar.

Waktu berlalu. Aku tak pernah mendengar kabar tentang sanggar itu lagi. Suatu kali, awal-awal aku membuat blog, aku menemukan blog Femi. Isinya tentang hal-hal sehari-hari yang ia alami. Dari blognya itu aku tahu Femi beberapa waktu lalu hampir setiap akhir pekan pulang ke Jogja (dia bekerja di Jakarta). Walaupun kedua orang tuanya sudah meninggal, dia masih pulang ke Bumijo.

Salah satu tulisan Femi yang aku ingat (sepertinya tidak dipasang di blognya), adalah tulisan tentang ibunya. Tulisan itu kubaca ketika aku hadir saat doa peringatan ibunya yang berpulang. Seingatku itu adalah tulisan yang membuatku langsung mengharu biru. Aku lupa tulisan itu seperti apa. Tapi di dalam tulisan itu aku merasakan rasa sayang Femi terhadap ibunya. Tulisan Femi di blognya juga khas: singkat dan personal. Aku kadang-kadang membaca blognya–diam-diam. Lagi pula komentar di blognya juga ditutup, jadi aku tidak pernah menulis komentar di sana.

Lalu kemarin sore aku mendapat kabar bahwa Femi adalah salah satu penumpang pesawat Sukhoi yang naas. Aku masih tidak percaya. Aku masih berharap dia baik-baik saja. Tapi jika mengikuti berita, hanya keajaiban yang membuatnya bisa selamat. Ah, dia masih muda ….

Fem, padahal aku ingin membaca kelanjutan blogmu.

Blog Femi yang lain:

http://femi.blogdrive.com/

http://femiadi.wordpress.com/

Ini juga ditulis oleh Femi: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1059

Dan ini tentang Femi: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/05/10/318757/37/5/Dukungan-Femi-Si-Wartawan-Cerdas-terus-Mengalir

 

 

 

Pengingat Manis di Dunia Maya

Sebenarnya aku ingin melanjutkan cerita waktu aku ke Jogja akhir tahun lalu. Tapi ya … belakangan ini banyak hal yang terjadi. Awalnya hardiskku rusak. Data-data hilang. Termasuk beberapa pekerjaan dan beberapa arsip foto. Untung sebagian ada yang sudah kusimpan di flashdisk. Kalau foto sebagian sudah aku unggah di FB. Aku teledor juga sih. Sebenarnya hati kecilku sudah mengingatkan agar menyimpan ulang semua pekerjaan di flashdisk. Tapi ya sudah. Untungnya pula pekerjaan yang mesti kuulang tidak sulit. Jadi cepat waktu mengerjakan ulang. Pokoknya dilihat positifnya saja deh. Hehehe. Kata temanku, pelajaran yang bagus mahal harganya. Masuk sekolah aja sekarang mahal banget kan? 😀 Yang penting semangat tidak hilang kan? Itu yang penting dan selalu kuingatkan pada diriku sendiri. Jangan menyerah walaupun beberapa calon tulisanku hilang. Jangan mundur walaupun ada bagian pekerjaan yang hilang. Katanya sih, orang yang sukses itu orang yang selalu bangkit walau sudah gagal beberapa kali. Yay! (Tepuk tangan buat diriku sendiri.)

Lalu, aku flu nggak sembuh-sembuh. Sakit sembuh. Sakit sembuh …. Sampai bosen harus tidur terus. Sekarang sih sudah mendingan. Semoga nggak tepar lagi.

Beberapa hari yang lalu aku dapat kabar ada seorang kakak asramaku dulu yang sakit, mengalami kondisi kritis, lalu akhirnya dipanggil Bapa. Sebenarnya aku tidak pernah kenal dan ketemu dia secara langsung. Angkatannya jauh di atasku. Kalau tidak salah sebaya dengan Kak Mimi. Tapi berkat grup Syantikara di FB aku jadi kenal dia. Namanya, Tabita Simawati Gunawan. Dia pernah juga menuliskan komentar di blogku, di halaman “yang di balik layar.” Siapakah dia? Dia seorang jurnalis, penerjemah, dan petarung yang tangguh dengan penyakitnya. Ada kanker yang bercokol di payudaranya. Tapi yang menarik adalah, dia tidak pantang menyerah. Lihat blognya di sini: ayomari.blogspot.com. Setiap kali aku membaca blognya, aku melihat keceriaan dan semangat pantang menyerah yang selalu ia tuangkan dalam tulisannya. Dia banyak bercerita tentang sakitnya, tentang kelemahannya sebagai manusia biasa, tetapi tidak ada kata menyerah. Kadang aku terharu membaca tulisan-tulisannya. Dan jujur saja Kak Tabita ini mengingatkanku pada sahabatku, Mbak Tutik

Aku kemudian berpikir, wah untung ya Kak Tabita menulis blog. Dan kurasa blog itu akan jadi warisan yang berharga di dunia maya yang selalu bisa dikunjungi setiap orang. Ngomong-ngomong soal warisan blog ini aku teringat pada alm. Pak Mula Harahap. Dia menulis blog juga semasa masih hidup. Coba tengok blognya di sini. Ceritanya lucu-lucu lo. Cerita tentang masa kecilnya. Dan dia jujur sekali dengan dirinya, termasuk cerita yang menurutku bisa memerahkan wajah. Tapi dia bercerita saja. Mungkin dia ingin dikenang sebagai seorang bapak, opa, paman, teman yang lucu dan ceria. Di bagian awal blognya, dia sudah merencanakan blog ini bisa jadi tempat peziarahan yang manis untuk mengenangnya. Dia menulis begini “Kalau para kekasih hati saya menziarahi makam saya … mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog saya ini.” Dia juga banyak membagikan pengalaman, pengetahuan/pemahaman yang ia miliki. Tulisan-tulisannya di blog sudah dibukukan oleh penerbit Gradien Mediatama, berjudul Ompung Odong-Odong. Buku dengan subjudul Membingkai Kenangan, Merangkai Makna itu menampung semua tulisannya, termasuk status-status beliau di FB. Aku selalu terhibur dan bisa terkekeh sendiri saat menelusuri buku ini. Memang sih, kalau mau gratis, bisa baca di blognya, tak perlu baca bukunya. Tapi entah kenapa ya, aku merasa perlu membeli buku ini. Untuk mengenang beliau. Agar bisa setiap saat menarik semangatnya. Agar bisa selalu belajar kejujuran dalam menulis–walaupun hanya tulisan di blog.

Hmmm … pada akhirnya aku mau ngomong apa sih? Apa pesan moral dari tulisan ini? (Halah, penting ya ada pesan moral? :D) Walaupun aku kurang suka dengan embel-embel pesan moral, aku cuma mau mengingatkan pada diriku sendiri lewat tulisan ini. Semoga saja hal ini juga ada gunanya untuk kalian, para pembaca blogku. Begini, pertama dari tulisan ini aku mau mengingatkan diriku sendiri supaya pantang menyerah. Walaupun ada penghalang, tetap maju terus. Entah penghalang itu berupa penyakit, kerusakan alat, cuaca, dan teman-temannya, terus maju ya. Jangan berhenti dan kecil hati. Kedua, menulislah! Bagikan semangatmu, bagikan pengalamanmu, bagikan pengetahuanmu. Untung lo sekarang ada blog. Bisa ngeblog gratis pula. Tidak perlu menunggu dimuat di koran. Walaupun kalau di koran kita bisa dapat honor, tapi orang menulis untuk berbagi tidak perlu diiming-imingi honor dulu kan? 🙂 Apa yang kita tuliskan dapat menjadi hal berharga yang bisa dinikmati orang lain. Jadi, mari kita ngeblog … Yuk, mareee!