Pada Sebuah Hari Hujan

Aku tak pernah menyukai hari hujan. Hujan membuat jalan di sekitar kosku becek. Aku pun enggan menembus rintik hujan untuk mengganjal perut.

Tapi mau tak mau aku mesti keluar mencari makan. Aku tak mau sakit maagku kambuh dan mesti meringkuk di kasur beberapa hari lagi.

Aku melompati genangan kecil. Tak bisa kuhalangi ingatan saat berhujan-hujan dengan Mas Tok kembali muncul. Sesaat mataku memanas. Di manakah Mas Tok? Dalam kesendirian seperti ini pertanyaan dan doa untuk Mas Tok selalu mengambang di permukaan hati.

Mas Tok… Mas Tok…

Aku selalu berharap masih ada gelombang yang menautkan hati kami. Mungkin hanya perjumpaan lima menit pun tak apa.

Aku berbelok di tikungan. Duh, nasi goreng terdekat dari kosku tutup.

Aku meneruskan langkah. Perutku minta diisi makanan hangat.

Di ujung jalan kulihat ada restoran baru. Aku tak pernah ke sana. Tempat itu tampak mahal. Tapi saat hari hujan begini, mau tak mau aku ke sana.

Kututup payungku. Kulangkahkan kaki ke dalam. Sekilas kubaca ada menu soto.

“Soto semangkuk, nasi sedikit ya.”

Pemuda berseragam itu mengangguk cepat. Aku mundur, hendak mencari tempat duduk.

Dug!

Kakiku menabrak orang.

“Maaf!”

“Dik Ning!”

Mendadak aku seperti dilemparkan pada hari-hari hujan bersama Mas Tok; menyusuri pinggiran hutan jati, menghirup aroma dirinya. Doaku terkabul! Masih ada gelombang yang menyatukan kami. Seketika aku merasa hangat dan sembuh.

Advertisements