Pada Suatu Senja

“Aku duluan, Ning!”
Aku menoleh lalu mengangguk. Wini melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
“Laporanmu sudah selesai?” tanyaku.
Perempuan berambut ekor kuda itu mengangguk tegas. “Sorry, kutinggal pulang duluan. Anakku sudah beberapa kali menelepon.” Kubalas pamitannya dengan tawa kecil. “Tak apa. Pulanglah. Aku sudah biasa jadi juru kunci.”

IMG_5493Kulirik jam tanganku. Hampir pukul setengah enam. Dari jendela sebelah meja kulihat langit telah berwarna jingga. Cepat sekali waktu berlalu. Laporanku belum selesai, tinggal sedikit lagi. Tapi bukan itu yang penting. Aku masih bisa berlama-lama di kantor. Sudah biasa. Toh kosku dekat kantor. Tinggal jalan kaki, lima belas menit sampai. Yang penting adalah ini adalah saat aku bisa sendirian di ruangan ini. Dorongan yang sejak tadi kurasakan semakin kuat. Dengan gerakan otomatis, kukeluarkan telepon pintarku dari kantongnya. Kutelusuri nama yang ada di urutan kontak nomor delapan dari atas, dengan angka belakang 75. Dadaku berdebar. Kurasakan napasku memburu. Benarkah ini saat yang tepat?

Jika aku terlalu terburu-buru, biasanya akan meleset. Kuletakkan lagi teleponku. Kuatur napas pelan-pelan. Dengan mengatur napas, aku seolah bisa menjangkau ruang dan waktu yang entah ada di mana. Mungkin ini tak bisa dipercaya, tapi biasanya nyaris benar begitu. Jika napasku sudah tenang, aku bisa bertanya kepada hatiku: Apakah ini saat yang tepat untuk menghubunginya? Apakah dia sedang di tengah-tengah rapat? Apakah dia sedang menyetir? Apakah dia sedang bersama teman-temannya? Kutanyakan itu semua. Tak ada jawaban. Hanya saja ketika kembali kutelusuri nomor itu, hatiku terasa tenang. Tak ada riak. Tak ada gejolak.

Tuuuut…. Nada panggil pertama.
Tuuuut…. Nada panggil kedua.

Apakah dia sedang ada tamu? Apakah dia masih rapat?
Hatiku masih tak beriak.

Tuuuut….

Aku mulai goyah. Biasanya dia cepat menjawab jika tidak sibuk.

Drrt... terasa getaran. “Halo, Dik Ning?” Suara itu begitu melegakan. Seperti gelombang halus menjalar ke hati. Seperti pelukan yang menghangatkan. Selalu begitu.
“Ya, Mas Tok. Ini Ning. Mas Tok sibuk?”

….

Hatiku tidak pernah salah. Aku tahu ini memang saat yang tepat. Senja ini aku tahu waktumu ada untukku.

IMG_5478

Advertisements

Percayakah Kamu dengan Ulasan di Blog?

Beberapa hari lalu aku membaca blog seseorang. Aku kenal orangnya, walaupun tidak kenal dekat. Pernah sih ketemu, tapi ya trus tidak kenal dekat. Pokoknya tahu dan cukup kenal saja. Titik. Selama ini aku hanya mengamati beberapa tulisannya soal menulis cerita. Tulisannya soal tips menulis cukup baik, apalagi dia seorang penulis juga yang sudah cukup banyak berkarya.

Di blog tersebut dia tidak hanya menulis soal tips menulis, tapi juga soal wisata kuliner. Nah, suatu kali aku membaca dia menulis soal sebuah tempat makan. Kebetulan tempat makan yang dia ulas itu ada cabangnya tak jauh dari tempat tinggalku. Di blog itu ditulis dia cukup puas makan di sana. Tulisan itu sukses membuatku jadi penasaran, benarkah enak menu makanan di sana? Menu makanan itu sebenarnya sepele: Nasi goreng. Tapi aku penasaran karena disebutkan bumbunya berempah. Apakah nasi goreng itu semacam nasi goreng Aceh? Jelas aku langsung ngeces ketika membayangkan.

Keinginanku itu kusampaikan ke salah seorang temanku yang tinggalnya tak jauh dari rumahku. “Katanya nasi goreng di sana enak,” begitu kataku. “Kamu sudah nyobain?” Temanku menggeleng. Beberapa kali aku mencoba pengin makan nasi goreng di sana. Tapi entah kenapa, selalu batal. Bahkan ketika aku lewat kedai nasi goreng itu, aku sempat membujuk suami untuk makan di sana, tapi bujukanku tidak berhasil. Ya sudah. Nanti kapan-kapan deh aku coba sendiri, pikirku.

Tadi sore, temanku menghubungiku lewat WA. Dia laporan kalau habis makan di kedai nasi goreng itu. “Piye?” tanyaku. Jawabannya berentet: Nggak enak. Mahal. Nyesel. Pedes aja. Nggak ada rasanya. “Rasanya kaya nasi goreng abang-abang keliling, cuma ini jauh lebih mahal. Makan bertiga habis 120 ribu–hanya untuk nasgor aja.” Duh, aku merasa agak gimana gitu mendengar laporan temanku itu. Mungkin gara-gara aku dia jadi mencoba makan di kedai nasi goreng itu, ya? Lha ternyata tidak enak dan mahal.

Ini pelajaran penting buatku. Jangan percaya mentah-mentah ulasan orang di blog–terutama kalau aku tidak kenal betul orang itu dan tahu betul seleranya. Mungkin orang itu membuat ulasan tanpa paksaan, dengan sukarela. Tapi belum tentu selera dia sama dengan seleraku. Lebih baik tanya orang yang seleranya sama denganku. Kalau dalam kasus nasi goreng itu, jelas aku lebih percaya sama temanku. Aku tahu lah selera dia. Aku tahu makanan yang dia bilang enak dan tidak. Orang menulis ulasan di blog tanpa embel-embel hadiah saja bisa membuat ulasan yang “menyesatkan” (menyesatkan versiku, yah; kalau versi dia sih mungkin enak-enak saja), apalagi kalau orang menulis ulasan dengan embel-embel hadiah? Belum tentu yang dia tulis itu jujur, kan?

Sayap Doa

Kau tahu bagaimana sayap doa bekerja?
Dia terentang, menembus ruang dan waktu.
Melintas pulau dan laut.
Lalu mendekapmu dengan kepaknya yang lembut dan halus.

Dia akan melayang masuk perlahan
melewati lubang angin kamarmu
dan menyelimutimu dengan kehangatan
yang terasa hingga lubuk hati.

 

Jakarta, pada suatu petang…

Ketika WhatsApp-ku Ngambek

Kemarin dan kemarinnya lagi WhatsApp-ku error. Entah kenapa banyak nama tidak muncul di daftar chats. Baru kali ini WA-ku ngambek. Biasanya dia baik denganku. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku install ulang. Waktu install pertama, percakapan yang lama ku-restore. Cukup berhasil walaupun ada beberapa percakapan yang hilang. Lega deh. Tapi tak berapa lama WA-ku ngambek lagi. Duh! Aku pun mengulangi cara kemarin: install ulang. Tapi kali ini aku memutuskan untuk tidak mengembalikan percakapan yang pernah tersimpan.

Hasilnya?

WA-ku baik-baik saja sih. Tapi aku mendadak merasa kehilangan.

Lebay, nggak sih?

Awalnya kupikir hilangnya percakapan-percakapan itu biasa saja. Tapi perasaan kehilangan itu menguatkan pernyataan bahwa aku ini penimbun kenangan. Ya, percakapan dengan beberapa orang memang tidak penting. Tapi percakapan dengan satu-dua orang yang punya arti khusus itu biasanya kusimpan, kueman-eman, dan kujadikan semacam harta karun hati–yang kalau dibaca lagi bisa membuat senyum-senyum sendiri atau malah mau nangis.

Sebetulnya ada pilihan email conversation di WA, tapi aku tidak pernah menggunakannya. Kupikir selama ini tidak perlu. Jadi agak menyesal.

Terlepas dari soal menyimpan atau membiarkan percakapan-percakapan itu hilang, aku berpikir bahwa melepas hal yang remeh pun kadang menimbulkan perasaan tidak enak, ada semacam nyeri yang tak terjelaskan di dalam hati. *Kumat lebaynya.* Tapi yah, kalau untuk hal kecil begini saja aku masih belum sukses “melepaskan”, bagaimana jika kelak waktuku di dunia ini habis? Seberapa rasa nyerinya? Aku jadi ingat nasihat supaya jangan menangisi orang yang meninggal karena akan memberatkan langkahnya. Mungkin benar juga. Kalau ditangisi, dia akan semakin sulit “melepaskan”.

Aku pernah suatu siang naik metromini dan melewati depan Pasar Pramuka, Jakarta. Saat itu aku benar-benar sadar bahwa aku menduduki bangku yang keras, lalu lintas di sekitarku ramai. Suasana di situ semrawut. Jakarta ini hanya rapi di sedikit tempat. Tapi aku berpikir bahwa alangkah berwarnanya dunia ini. Dunia ini memiliki keindahan tersendiri dan dunia rasanya adalah semacam samudera kemungkinan. Kalau kita mati, dunia seperti inilah yang kita tinggalkan. Ada sisi yang kacau, tapi sekaligus ada sisi ajaib dan warna-warni. Mungkin saat ini kita bosan dan kesal dengan dunia ini, tapi bagaimanapun dunia ini menyimpan hal-hal menarik. Di metromini itu aku sempat berpikir, apakah aku sudah siap melepaskan?