Vaksin Penghapus Cemas

Dulu kupikir lockdown dan pandemi ini hanya akan berjalan hitungan minggu atau bulan. Dulu kupikir, aku tak akan pernah mendengar orang-orang yang kukenal akan terkena virus yang sulit ditebak efeknya ini. Namun, belakangan ini semakin sering kuterima informasi tentang orang-orang yang terkena imbas virus corona. Tak hanya sakit fisik, sakit nonfisik pun bisa timbul karena virus ini. Kekhawatiran perlahan mulai menembus benteng ketenangan batinku. Satu sosok yang jelas-jelas kukhawatirkan adalah Mas Tok. Pekerjaan masih menuntutnya berjumpa dengan orang-orang. Sungguh aku khawatir.

Kadang kerinduan menggempur dada, menimbulkan debar yang membuatku mengetikkan pertanyaan lewat teks atau memencet nomor Mas Tok. Pagi itu aku seperti tak bisa menahan jariku untuk tidak memencet nomor ponselnya. Beberapa detik tak terangkat.

Walau aku khawatir, aku menghibur diri. Mungkin Mas Tok di jalan atau sedang bertugas. Namun, beberapa saat kemudian, kudengar suara teks masuk.

“Dik, aku sedang vaksin.”
Kabar singkat itu menyingkirkan kecemasan yang menggunung beberapa hari ini.

Aku mengirim emotikon senyum dan sebentuk hati untuknya.
“Mas Tok, aku lega banget Mas Tok vaksin. Semoga nanti aku juga bisa dapat vaksin.”

“Lalu kamu ke sini, Dik Ning?”
“Itu sih tak usah ditanya, Mas. Kangenku lebih tinggi daripada Gunung Merapi, tauk!” Kusertakan emotikon tawa.
“Dik, aku pun kangen.”

Aku lega dan ingin segera memeluknya!