Kado Unik

Ketika kami menikah, ada sejumlah kado yang kami terima. Orang paling sering memberi uang, tetapi ada pula beberapa orang yang memberi barang. Barang yang paling banyak kami terima adalah sprei. Lumayan, pikirku. Jadi, tak perlu membeli sprei lagi. Tapi ternyata sprei-sprei itu banyak yang kebesaran. 😀 Hehehe. Tak apalah … masih mending kebesaran daripada kekecilan. Masih bisa dikecilkan dan sisa kainnya bisa untuk serbet atau cempal 😀

Selain sprei, jenis barang yang cukup banyak kami dapatkan adalah peralatan dapur. Barang-barang ini juga cukup membantu kami saat awal-awal memasuki rumah tangga. Kebayang kan, kalau biasanya sendok, piring, pisau, talenan biasanya tinggal memakai, nah saat jauh dari rumah dan mulai hidup bersama suami, barang-barang itu tidak langsung tersedia. Dan untunglah, berkat kado-kado yang kami terima, sebagian barang yang kami butuhkan itu tak perlu dibeli lagi. Lumayan kan?

Ketika masih awal tinggal di Jakarta dan menempati rumah (kontrakan) baru, aku mencari-cari sikat gigi bekas untuk membersihkan sisir. “Kamu punya sikat gigi bekas?” tanyaku pada suami. “Enggak. Sudah kubuang semua waktu pindahan dari kos yang dulu,” jawabnya. Wedew … Akhirnya aku pun merelakan sikat gigiku yang masih kupakai untuk pensiun dini, agar bisa membersihkan sisir. Saat itu aku tersadar bahwa ada barang-barang kecil nan sepele, dan kadang sama sekali tak terpikirkan, yang aku butuhkan. Padahal dulu, di rumahku aku bisa mendapatkannya dengan mudah. Tapi sekarang, tidak semudah itu. Saat yang ada di rumah adalah barang-barang yang masih baru, di mana mesti mendapatkan barang bekas yang masih bisa dipakai? Barang-barang seperti itu–sikat gigi bekas, lap dari handuk yang sudah tak terpakai, kardus bekas, dll–baru bisa dijumpai setelah rumah tangga berjalan selama beberapa waktu.

Suatu kali, entah apa kejadiannya, aku lupa, tetangga depan rumah kami, memberikan sebuah kain yang sudah usang. Walaupun usang, tapi kain itu masih bersih. Hanya ada beberapa bagian yang sobek. “Ini buat mbak saja, bisa untuk lap.” Wah, pemberian yang unik nih! Selama ini aku harus membeli lap, tetapi sekarang ada yang memberi kain bekas untuk lap. He he.

Belum lama ini aku pindahan rumah. Salah satu yang membantu kami pindahan adalah tanteku. Dia bersedia menjadi sopir plus meminjamkan mobilnya untuk mengangkut barang. Rupanya sebelum berangkat, dia sudah menyiapkan kado unik buat kami: satu buah keset dari handuk bekas dan dua lap dari kaus kaki bekas. Dia memang suka menjahit dan memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai. Pemberiannya yang unik dan sederhana ini langsung terpakai begitu kami menempati tempat baru. Terima kasih, Tante!

Saat kami beres-beres rumah untuk terakhir kalinya, aku memutuskan untuk membuang barang-barang bekas yang sudah lama tidak terpakai–kertas koran, kaleng bekas, sepatu yang sudah rusak, alat-alat tulis yang tak bisa dipakai lagi, dan masih banyak lagi. Sebenarnya barang-barang itu tidak “dibuang”, tetapi sebagian aku jual ke tukang loak keliling dan sisanya aku berikan kepada Bang Jamal, seorang pemulung yang sering berkeliling di sekitar tempat tinggalku. Aku yakin, dia pasti bisa menjual barang-barang dari kami itu dan uangnya bisa menambah uang untuknya berlebaran. Tidak banyak sih, tetapi cukuplah untuk mengisi penuh karungnya yang selalu ia bawa ke mana-mana itu.

Barang bekas memang kadang tampak tak bernilai, tetapi di mata orang lain, bisa berharga sekali, tergantung siapa yang melihat dan yang hendak memanfaatkan. Dan jika kita memberikannya kepada orang yang tepat, barang yang tampaknya tak berharga itu, bisa bermanfaat dengan lebih baik lagi.

Advertisements

Lelang … Lelang (Sebuah catatan iseng)

Kemarin sore, suamiku membawa Koran Tempo (terbitan 12 Agustus 2010). Setelah membaca beberapa beritanya, sampailah aku pada bagian yang memuat daftar lelang (halaman D, berita lelang). Di situ dimuat daftar tender apa saja yang dilelangkan. Biasanya aku tak terlalu memperhatikan daftar semacam itu. Tapi kemarin aku iseng-iseng membacanya, dan ada beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya sekaligus geli. Empat kutipan di bawah ini kukutip dari lelang suku dinas pendidikan untuk wilayah Jakarta Barat .

1. Pengadaan alat pemeriksa Lembar Kerja Siswa SD/SMPN: Rp 983.999.500 (hampir 1 milyar)
Di bagian klasifikasinya tertulis:alat/peralatan/suku cadang: komputer. Kalau kupikir-pikir pemeriksa LKS itu cukup nggak sih kalau berupa bolpen, pensil, tip-ex, penghapus “saja”? Kalau alat-alatnya seperti itu, uang 1 milyar rasanya bisa untuk beli alat tulis berkarung-karung. Apalagi kalau beli banyak kan mestinya bisa dapat diskon besar.

2. Pengadaan bio camera multimedia microscope system: Rp 3.154.228.000 (3 milyar sekian…)
Ini barangnya kayak apa ya? Mahal juga.

3. Pengadaan kit matematika SD: Rp 2.351.250.000 (2 milyar sekian…)
Kit Matematika 2 milyar. Itu berupa apa saja? Kalau pakai kertas untuk oret-oretan, bolpen, pensil, penghapus, plus berbatang-batang lidi untuk hitung-hitungan, bagaimana ya?

4. Pengadaan peralatan multimedia interaktif mengenal budaya nusantara untuk SD, standar depdiknas, nasional dan internasional.: Rp. 3.448.664.230 (hampir 3,5 milyar)
Bayanganku nih, peralatan multimedia interaktif itu yaaa … komputer, software. Hmm… apa lagi ya?

Nah, sekarang coba bandingkan dengan daftar lelang berikut ini.
1. Pengembangan sarana PAM di desa rawan air. Lokasi Nagari Silago, kabupaten Damasraya, Sumatera Barat: Rp. 249.591.000
Pengembangan sarana PAM “hanya” dua ratus jutaan? Yang benar saja. Masak lebih murah dibandingkan dengan pengadaan kit matematika SD, sih?

2. Pembangunan Jembatan Sawangan, Sulawesi Utara: Rp. 1.400.000.000
Kok rasanya tidak beda jauh dengan pengadaan alat pemeriksa LKS ya?

3. Pengadaan naskah kuno dan transliterasi naskah kuno: Rp. 1.072.540.000 (1 milyar lebih sedikit)
Lah kok sedikit banget ya kalau dibandingkan dengan pengadaan peralatan multimedia? Pantesan saja kalau naskah-naskah kuno kita diambil oleh negara asing.

Rasa-rasanya aku mau usul, bagaimana kalau ditambah pengadaan kantong ajaib Doraemon? Mungkin jatuhnya akan lebih murah. 😀

Mungkin aku ini memang kurang kerjaan. Wong daftar lelang saja kok ya diurusi. Lagi pula, aku juga tidak mungkin ikut lelang. Duit dari mana? Dari Hongkong? Atau, barangkali aku yang benar-benar tidak tahu hitung-hitungan lelang semacam itu? Ah, sebodo deh! Namanya juga lagi iseng.

Oleh oleh

Suatu siang, aku chatting dengan seorang teman. Dia bercerita bahwa beberapa waktu lalu berkunjung ke Jogja. Dia bertanya kepadaku, “Bakpia mana sih yang enak?” Kemudian dia menyebutkan dua merek. Mungkin dia pikir, karena aku pernah tinggal tinggal di Jogja cukup lama, aku tahu persis mana saja bakpia yang enak.

Ya, aku pernah 11 tahun tinggal di Jogja, tetapi terus-terang, aku kurang tahu bakpia mana yang enak. Aku hanya tahu beberapa merek yang menonjol. Sebenarnya lebih tepat nomor bakpia, bukan merek. Konon kabarnya nomor bakpia itu disesuaikan dengan nomor rumah pembuatnya. Tetapi belakangan ada pula yang tidak memakai nomor, melainkan nama. Lalu apakah bakpia merek X lebih enak daripada merek Y, aku kurang tahu. Pernah sih aku makan bakpia dari merek-merek tersebut. Rasanya? Enak-enak saja.

Aku bukan pecinta fanatik bakpia. Bisa dibilang, aku amat jarang makan bakpia atau membeli bakpia secara khusus untuk camilan di rumah. Biasanya aku membeli bakpia hanya untuk oleh-oleh. Dan karena tujuannya untuk oleh-oleh, aku tidak memakannya. Jadi, aku beli untuk kemudian kuberikan kepada orang lain.

Dulu, aku hanya tahu bakpia itu hanya diproduksi di daerah Patuk, dekat Malioboro sana. Tetapi suatu kali, salah seorang teman mengatakan bahwa Minomartani juga merupakan sentra pembuat bakpia. Sejak saat itu, aku lebih memilih membeli di Minomartani, yang jaraknya dari rumahku hanya sekitar 5 menit naik motor. Kalau harus ke Patuk, aku butuh waktu kira-kira 30 menit. Tentu aku pilih yang dekat dong ….Dan harga bakpia Minomartani lebih miring. Soal rasa–menurutku–tak jauh berbeda. Ini menurutku lo, entah kalau menurut orang lain.

Hal ini berbeda dengan sambal pecel Madiun. Kalau di sana, pecel adalah makanan yang biasa dihidangkan untuk sarapan. Pecel ada di mana-mana. Rasa-rasanya di setiap pojok kampung pasti ada penjual pecel di pagi hari. Di sekitar rumahku di Madiun sana, setidaknya ada dua orang penjual pecel. Walaupun biasa untuk hidangan sarapan, pecel juga bisa didapatkan pada siang dan malam hari. Hanya saja, penjual pecel di pagi jauh lebih banyak.

Karena pecel sudah menjadi makanan yang biasa dihidangkan di meja makan, tentu aku lebih tahu mana sambel pecel yang lebih cocok dengan lidahku–dan selera orang banyak. Lagi pula, Madiun adalah kota kecil, jadi pembuat sambel pecel yang cukup besar tidak terlalu banyak. Jadi, cukup mudah bagi kita untuk mengetahui di mana pembuat sambel pecel yang favorit.

Bakpia dan sambel pecel. Bagaimanapun aku merasa lebih dekat dengan sambel pecel, karena lebih sering mengonsumsinya. Mungkin karena membuat pecel itu mudah: tinggal merebus sayuran lalu dibubuhi sambel pecel yang sudah dicairkan. Sedangkan bakpia, aku seringnya membeli untuk diberikan kepada teman atau tetangga, tetapi tak ikut mencicipinya. Mungkin karena itu pula aku tak terlalu memedulikan merek atau nomor bakpia, dan tak terlalu tahu mana bakpia yang paling enak.

Ngomong-ngomong, kamu suka yang mana? Bakpia atau (sambel) pecel?