Yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Belajar Membuat Sabun (Cold Process)

Dulu aku takjub ketika tahu bahwa ternyata kita bisa membuat sabun sendiri. Dan ternyata bisa to sabun itu “diisi” macam-macam, mulai dari kopi sampai lidah buaya. Mulai dari susu sampai kelor. Terserah mau bikin sabun apa saja bisa. Wow!

sabun-sabunku

Aku sempat googling di mana bisa belajar membuat sabun. Ada beberapa orang mengadakan kelas pembuatan sabun bagi pemula. Ternyata cukup mahal bagi kantongku. Aku sempat melupakan mimpi bisa membuat sabun sendiri. Tetapi ternyata aku cukup beruntung karena ada teman yang mau mengajari. Sempat juga ikut workshop. Aku sempat kecele ikut workshop ini. Di awal dibilang workshopnya gratis, tetapi ternyata mesti membeli kit dengan harga tertentu. Cukup mahal buatku waktu itu. Tapi ya sudahlah.

Setelah itu aku mulai bereksplorasi sendiri. Eksperimen demi eksperimen kulakukan. Aku tidak ingat berapa liter minyak mahal (untuk ukuranku) yang kubeli dulu. Mulai dari minyak biji anggur sampai minyak zaitun. Aneka minyak itu kubeli karena aku penasaran. Apakah aku pernah gagal? Pernah dong. Tidak sayang beli minyak mahal-mahal? Yah, namanya juga penasaran.

Sekarang setelah aku cukup rutin membuat sabun–walaupun sempat libur beberapa waktu–dan menjualnya, ada satu dua orang yang bilang ke aku, “Ajari dong!” Aku pernah sekali mengajari teman membuat sabun, tetapi waktu itu kami barter ilmu. Aku mengajari dia membuat sabun, sementara dia mengajariku membuat shibori. Selain itu, pernah juga aku diminta menunjukkan cara pembuatan sabun di hadapan sekumpulan ibu-ibu. Lokasinya agak lumayan jauh dari rumahku. Dan aku mesti membawa sendiri aneka peralatan membuat sabun. Rempong! Sejak saat itu aku berpikir, aku akan berpikir-pikir jika diminta mengajari membuat sabun (apalagi kalau gratisan). Ternyata repot juga membawa alat-alat sendiri dan cukup menyita waktu. Selain itu, beberapa komunitas memintaku mengajari membuat sabun dari minyak jelantah. Untuk hal ini aku sekarang cenderung menolak karena merugikan aku. Banyak orang lalu mengira sabun-sabun yang kubuat dan kujual itu dari minyak jelantah. Promosi yang buruk, pikirku. Jadi, kutolak saja.

Mengingat pengalamanku yang dulu, aku ingin menuliskan beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kamu ingin belajar membuat sabun (cold process).
1. Walaupun ada berbagai varian sabun, sebenarnya bahan dasar pembuatan sabun adalah minyak, air, dan soda api. Yang lain-lain itu adalah tambahan. Tanpa ketiga bahan utama tersebut, tidak akan jadi sabun. Kecuali kamu pengin membuat sabun dengan bahan deterjen, lain ceritanya ya. Aku tidak tahu mengenai hal itu. Silakan cari informasi sendiri, ya.

2. Ada macam-macam minyak (soft oil) yang bisa digunakan untuk membuat sabun. Siapkan dana yang cukup untuk membeli minyak-minyak tersebut. Sebetulnya sih, bisa juga pakai minyak kelapa dan minyak sawit saja. Tetapi kurasa hasilnya pasti beda kalau kita menggunakan soft oil.

3. Siapkan peralatan yang memadai. Jangan lupa pakai masker, sarung tangan, dan kalau bisa pakai kacamata pelindung. Bagaimanapun, pembuatan sabun melibatkan soda api yang cukup berbahaya kalau kena mata, kena kulit langsung, atau terhirup. Jangan memakai alat dari bahan aluminium.

4. Kalau kamu hanya penasaran dan ingin coba-coba saja, saranku lihat dulu cara pembuatan sabun di youtube. Atau, kalau ada soapmaker yang mengadakan kelas “demo”, ikut saja. Biasanya biayanya lebih murah daripada kelas “hands on”.

5. Kalau kamu memang sudah mantap akan rutin membuat sabun, siapkan peralatan penunjang seperti: timbangan digital, hand blender, baskom dari stainless steel atau plastik, cetakan silikon atau cetakan kayu, pemotong sabun (soap cutter), dan rak untuk mengangin-anginkan sabun. Siapkan dana yang cukup untuk semua itu.

Sementara itu dulu ya. Nanti kalau kuingat ada hal lain yang perlu diperhatikan, akan kutambahkan lain waktu.

Advertisements

Mimpi Jauh Sekali

Makan siang ini kantin tak seberapa penuh. Bulan puasa memang selalu begini. Hanya aku dan Tia duduk di tengah bangku-bangku kantin.

Entah bagaimana mulanya, Tia bertanya. “Apa mimpi terbesarmu, Ning?”

Aku tergagap. Aku sudah melupakan mimpi-mimpiku. Dan lama sekali tak ada yang menanyakan mimpiku. Tetapi seminggu ini aku terusik oleh sebuah mimpi. Mimpi Mas Tok dengan ibunya. Begitu pagi tiba, aku bangun dan merasakan kerinduan yang jauh terpendam. Ya, kupendam dan kubalut doa. Kami nyaris tak berkontak berbulan-bulan.

“Apa ya mimpi terbesarku?” aku balik bertanya pada diriku sendiri sambil menatap Tia. Lalu tatapanku beralih ke meja, pada serangkaian kunci bergantungan kunci bulat dengan pinggir keemasan, bertuliskan Lourdes-France. Bagian tengahnya terdapat gambar Maria yang menampakkan diri pada Bernadette.

“Ada kaitannya dengan Lourdes?” tanya Tia seolah membaca pikiranku.

“Aku lama sekali tak memikirkan apa mimpiku, Tia. Hanya saja seminggu ini aku memimpikan seseorang …”

“Pacarmu?” tebak perempuan di depanku ini.

Aku tertawa kecil. Pacar? Kutarik napas panjang. Mengingat namanya saja selalu menggetarkan hatiku. Ada perih bercampur bahagia, dan teraduk-aduklah isi dadaku. Kenangan bersamanya muncul berkelebat-kelebat. Hutan jati. Malam-malam yang syahdu. Perjalanan Sintang-Nanga Pinoh. Perjalanan di kereta. Sendangsono. Perjalanan saat bulan purnama. Pertengkaran-pertengkaran kecil. Ah!

“Teman lama, Tia. Lagi pula entah di mana dia sekarang. Kami jarang sekali berkontak.”

“Mungkin dia ingin menghubungimu lewat mimpi,” ujar Tia.

Kami terdiam cukup lama. Kubiarkan gejolak hatiku sedikit mereda.

“Dia mimpi terbesarmu?” tanya Tia hati-hati setelah beberapa menit berlalu.

Aku menunduk. Jangan sampai mataku menjelaskan semua ini pada Tia.

“Kami pernah punya mimpi bersama,” jawabku. “Entah dia ingat atau tidak.”

Sampai sore percakapan dengan Tia masih terngiang. Begitu pula ingatan pada mimpi-mimpiku belakangan ini, menghadirkan adukan emosi yang tak bisa kujelaskan.

Di kamar kos aku memain-mainkan gantungan kunci pemberian Mas Tok. Lourdes-France. Apakah dia ingat mimpi yang kami bangun bersama dulu? Dan kenapa dalam mimpiku ada ibu Mas Tok? Ah, Ibu yang lembut hati. Betapa aku tak sanggup mengoyakkan ketentramanmu demi kuraih mimpiku bersama Mas Tok.

Tanpa sadar kufoto gantungan kunci itu, lalu kukirim lewat WhatsApps kepada Mas Tok.

Aku tersadar ketika tengah malam kudengar suara “ting” pelan di telepon pintarku.

“Dik Ning, aku sedang di Lourdes bersama Ibu. Aku masih ingat mimpi kita berdua untuk ke sini.”

Bersama pesan itu terkirim foto dua sosok yang hadir dalam mimpiku beberapa malam belakangan ini. Dan aku menangis.