Refleksi Akhir Tahun

Aku tidak ingat kalau hari ini adalah hari terakhir tahun 2021. Kalau tadi tidak belanja ke warung Bu Nanik dan ditanya: “Nanti malam mau bakar-bakaran apa, Mbak?”, aku tidak akan ngeh kalau malam ini malam tahun baru. Kupikir tahun baruannya masih minggu depan. 😀

Lalu aku jadi ingat bahwa aku alpa menulis di blog ini dari bulan Oktober sampai November. Rasanya tidak ada yang istimewa. Jadi, tidak ada yang perlu ditulis–walau sebenarnya kalau niat, pasti ada saja yang bisa ditulis, kan?

Aku mencoba mengingat-ingat hal menarik apa yang kualami selama tahun 2021. Apa, ya? Sepertinya kami sekeluarga bisa melewati tahun ini tanpa sakit yang berarti adalah salah satu mukjizat. Meskipun aku sempat ketemu dan kontak erat dengan teman yang akhirnya tepar karena Covid-19, aku tidak mengalami sakit.

Aku tidak menghasilkan buku tahun ini dan sempat kecewa karena hal itu. Tapi yah, harus diakui aku kurang berusaha. Semoga tahun depan bisa keluar buku. Amin! (Aduh, kenapa aku grogi sendiri ketika mengaminkan permohonan ini? Bisa nggak sih?)

Selama setahun ini aku cukup rutin latihan yoga. Yeay! Sepertinya itu satu-satunya pencapaianku–kalau rutin latihan dianggap suatu prestasi. Sepele sekali, ya? Dan bukankah olahraga adalah kebutuhan tubuh yang sudah selayaknya dipenuhi? Aku merasa butuh yoga. Kalau tidak berlatih dalam beberapa hari, ada yang “menowel-nowel” hatiku supaya menggelar matras, mengambil balok dan tali yoga. Minimal melakukan peregangan lah. Kalau tidak begitu, kakiku berteriak-teriak dan rasanya jadi tidak nyaman sama sekali. Aku merasa sedikit lebih lentur sekarang. Kaki kananku yang semula nyeri karena sindrom piriformis menjadi lebih enakan. Paling tidak, tidak semakin parah.

Oiya, akhir tahun ini aku senang bisa bertemu dengan teman-teman lama: teman-teman asrama dan teman kuliah dulu yang pernah ikut retret bareng di Salam. Rasanya seperti balik umur 20-an lagi 😀 😀

Lalu apa harapanku tahun depan?

Aku berharap tetap sehat, rejeki lancar, dan bisa bertemu orang(-orang) yang kukasihi dalam keadaan baik. Semoga pandemi segera berakhir ya. Aku kangen jalan-jalan.

Belajar Bersyukur Saat Hujan

Beberapa malam yang lalu, hujan deras. Deras banget. Lengkap dengan angin kencang dan mati lampu. Saat itu aku dan semua orang serumah sedang di luar rumah, makan bakmi godhog di warung langganan. Tempat makannya di teras rumah si penjual, di tepi jalan pinggiran kampung yang tidak terlalu ramai.

Waktu hujan semakin deras, meja tempat kami makan terpaksa digeser agak ke dalam supaya tidak kena tempias hujan. Awalnya kupikir hujan biasa, tapi makin lama makin deras dan aku terpaksa memakai jaket supaya kausku tidak basah.

Bakmi godhog yang semula jadi “comfort food”, jadi tidak nikmat. Bakmi rebus dengan irisan ayam kampung dan kaldu yang gurih itu jadi kehilangan rasanya gara-gara hujan badai di depan mata.

Sembari makan, aku mengingatkan diriku bahwa semua badai pasti berlalu. Entah cepat atau lambat. Lampu juga akan menyala lagi. Banyak hal yang masih bisa disyukuri: kami tidak kehujanan, masih bisa makan enak, makannya juga bareng-bareng. Kami juga akan pulang tanpa berhujan-hujan karena kebetulan bawa mobil perginya. Tapi entah kenapa aku tidak tenang. Aku lalu ingat kucingku yang di rumah sendirian. Aku bertanya-tanya apakah ada ruangan yang bocor lagi di rumah? Bagaimana kalau hujan deras ini tidak berhenti sampai pagi? Apakah kami harus menginap di emperan begini? Kuakui ini memang lebay.

Aku lalu menyadari bahwa aku memang suka overthinking. Pikiranku suka lari ke mana-mana. Memang saat itu keadaan tidak nyaman, tetapi sebenarnya tidak perlu khawatir banget karena toh aku tidak kehujanan dan masih bisa makan enak. Aku justru fokus pada kondisi luar, dan melupakan hal yang sebenarnya bisa kusyukuri dan kunikmati.

Syukurlah setengah jam kemudian hujan mulai reda. Kakakku pun mengambil mobil yang diparkir di seberang jalan dan kami pulang. Begitu sampai rumah dan membuka pintu garasi, kucingku langsung menyambut. Listrik masih belum menyala, tapi hujan tinggal gerimis tipis. Rasanya lega bisa sampai rumah. Pengalaman ini menjadi pelajaran buatku supaya untuk rajin latihan melihat hal-hal yang masih bisa disyukuri selagi ada masalah di luar serta selalu mengingat: Semua badai pasti berlalu.