Pasar Becek

Beberapa saat lalu aku chatting dengan seorang teman. Entah bagaimana akhirnya kami membahas soal pengasuhan anak. Hehe, padahal aku belum punya anak. Lebih tepatnya, dia bercerita bagaimana mengasuh anak sulungnya. Satu kalimatnya yang kuingat adalah: “Aku sengaja ‘menyeret’ anakku belanja ke pasar becek.” Maksudnya, biar si anak betul-betul melihat suasana pasar yang terkesan kumuh. Ujung-ujungnya, agar si anak melihat sendiri keadaan sekitar yang tidak selamanya bagus dan menyenangkan.

Cerita temanku itu mengingatkan aku akan pengalamanku sendiri. Dulu aku beberapa kali diajak ibuku belanja ke pasar. Ini jarang-jarang terjadi. Soalnya, untuk kebutuhan masak sehari-hari, dulu ada tukang sayur yang selalu datang ke rumah. Jadi, kami tidak perlu ke pasar. Ibu biasanya ke pasar sebulan sekali untuk belanja kebutuhan bulanan seperti sabun mandi, deterjen, sampo, minyak goreng, dan sebagainya. Toko langganan ibuku terletak di seberang pasar besar. Kalau tidak salah namanya Toko Ramai. Saat memasuki toko itu hidungku selalu mencium aroma minyak goreng campur sabun. Kebayang baunya? Tengik campur segar. Perpaduan bau yang agak sulit dijelaskan. Begitu masuk, biasanya ibuku akan menyerahkan daftar belanja, lalu pelayan toko yang sigap-sigap itu akan mencarikan semua yang tertulis dalam daftar itu.

Kadang ibuku tidak ke Toko Ramai saja. Karena letak toko itu berseberangan dengan Pasar Besar, maka tidak jarang ibuku melanjutkan acara belanja itu dengan menyusuri pasar tradisional itu. Jujur saja, aku kurang suka ke pasar. Pasar itu kesanku remang-remang dan aromanya campur baur. Masih agak lumayan jika di deretan kios yang menjual barang-barang kering. Tapi kadang kala acara belanja itu berlanjut sampai ke bagian yang becek; membuatku terpaksa berjalan berjingkat menghindari lantai yang basah. Belum lagi jika belanjaan ibuku cukup banyak, mau tak mau aku kebagian membawa belanjaan yang membuat tanganku pegal. Ditambah lagi, ibuku kalau berjalan cepat sekali. Duh, rasanya sebel banget! Kalau aku mengeluh, pasti aku akan ganti diceramahi panjang lebar yang intinya anak perempuan itu harus bisa semuanya dan mandiri. Dulu aku berpikir, masak caranya mesti diajak belanja ke pasar seperti ini sih?

Sekarang kalau kupikir-pikir, pengalaman ke pasar becek ini adalah salah satu hal yang kusyukuri. Meskipun dulu tidak menikmatinya, aku merasa ini pelajaran penting dan berguna sampai sekarang. Tidak selamanya aku bisa belanja toko swalayan yang bersih dan ber-AC. Lagi pula, belanja di pasar becek lebih murah kan? Setelah terpisah dari orang tua, aku kini mau tidak mau aku harus belanja sendiri ke pasar. Jadi, aku sudah tidak kaget lagi ketika harus menyusuri pasar tradisional yang tidak sebersih toko swalayan.

Mungkin salah satu hal yang perlu dimasukkan dalam “kurikulum” pengasuhan anak adalah mengajak anak-anak melihat dan merasakan hal yang kurang yang menyenangkan ya? Siapa tahu kalau si anak sukses dan jadi pejabat, dia mau membereskan hal-hal yang kurang nyaman itu. 🙂

Angka Keberuntungan

Ketika aku masih sekolah, aku biasa memiliki nomor urut absen antara nomor 6 sampai 10. Seingatku begitu. Terakhir waktu kuliah, aku dapat angka absen dengan buntut 9. Semua itu karena nama depanku diawali dengan huruf C (Caecilia).

Aku sih senang-senang saja dapat nomor urut agak awal. Tidak terlalu depan, tapi juga tidak buncit. Pokoknya pas. Dari antara angka 6 sampai 9, aku paling suka angka 7. Entah kenapa. Kayaknya pas aja. Yang agak lucu adalah nomor rumahku di Madiun mengandung angka 7, begitu pula dengan nomor rumah suamiku di Belitung sana. Jadi berasa benar-benar berjodoh, deh. Hihi. *Apa sih?* Jadi aku selalu merasa angka 7 adalah angka keberuntunganku.

Bulan ini angka keberuntunganku agaknya bergeser. Gesernya sedikit, yaitu ke angka 8 karena pada tanggal 8 kemarin aku ketiban hoki. Hari itu aku menjadi komentator ke 25.000 di blognya Mbak Imelda, Twilight Express. Hore… hore! Aku merasa beruntung sekali. Soalnya aku jarang sekali menang undian. *Rasa-rasanya aku kok belum pernah ya menang undian?* Seperti yang sudah-sudah, ketika Mbak Imelda kasih pengumuman hadiah untuk komentator ke-25.000, aku adem ayem saja. Laah… biasanya juga nggak menang. Dulu seingatku aku pernah ikut, tapi tidak menang. Dan aku seperti mengingatkan diriku sendiri bahwa aku bukan ratu undian. Maksudnya, kalau ada lomba, biasanya keberuntunganku jauh. Jadi, aku pun melipir dan melihat segala macam lomba (apa pun itu) dari kejauhan.

Tapi tanggal 8 kemarin entah kenapa aku kumat isengnya. Pagi itu aku melihat komentar TE sudah hampir mencapai 25.000. Seingatku sih masih kurang 10 atau berapa gitu. Lupa aku. Aku pikir, ah cobain deh. Mumpung masih pagi dan koneksi lagi lumayan. Kupikir tidak ada saingan. E… ternyata diam-diam Priskila juga sedang bergerilya. Ha ha ha! Tapi rupanya hari itu keberuntungan sedang berpihak padaku. 😀 😀 Ternyata seru juga saat meniti menjadi komentator ke-25.000. Deg-degan! Dan aku sempat mengingatkan diri sendiri supaya tetap kalem. Kalau tidak dapat, ya sudah. Nggak usah ngambek, hihihi. Toh ini cuma “permainan.” Harus diakui hal seperti ini seru banget. Dan top deh buat Mbak Imelda, selalu bisa saja menarik pengunjung ke TE. 🙂

Oiya, meskipun kemarin angka keberuntunganku agak bergeser, aku tetap suka angka 7. 😀 Kalau kamu, suka angka berapa?

(Tak Lagi Terjangkiti) Post Employment Syndrom

Post Employment Syndrom. Kata-kata itu muncul beberapa waktu yang lalu di dinding FB Om NH. Karena sempat membaca postingan Bro Neo, aku jadi paham maksud kata-kata itu. Ceritanya Om NH ini kan mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Entah kenapa ya kok aku jadi ikut “mak deg” … “Loh, Om NH resign?” begitu batinku ketika membaca postingan Bro.

Tak urung aku jadi teringat masa-masa sekitar lima tahun yang lalu. Menjelang tanggal seperti sekarang ini nih aku mulai serius memikirkan niatku untuk mengundurkan diri. Sebetulnya ada beberapa alasan pengunduran diriku. Tapi alasan terbesar adalah menikah. Rencananya, setelah menikah aku ikut suami dan pindah dari Jogja ke Jakarta. Selain itu, beberapa waktu sebelumnya aku ingin menjadi penerjemah lepas saja. Membayangkan punya waktu bebas, kok kayaknya enak juga, begitu pikirku. Lagi pula, aku sudah pernah menjadi penerjemah lepas di satu-dua penerbit. Lumayan lah hasilnya. Yang jelas tidak akan jadi jatuh miskin mendadak he he. (Ssst … bahkan penerjemah yang sukses hasilnya bisa lebih banyak daripada karyawan biasa lo. Katanya sih. :D) Bagaimanapun, sebagai pekerja kantoran kan ada enaknya juga. Tiap bulan terima gaji. Tidak terlalu mikir bagaimana mencari proyek. Bisa menikmati beberapa fasilitas, misalnya asuransi kesehatan. Dan yang jelas, kalau ditanya: “Kerja di mana?” bisa menjawab dengan mudah. Bagaimanapun ini menyangkut status, harga diri, gengsi lo. Harus diakui hal-hal itu dianggap penting oleh sebagian kalangan. Iya kan? Ngaku deh!

Dulu kupikir, keluar dari tempat kerja itu adalah hal yang mudah. Semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, ternyata dugaanku salah. Rasa “semedhot” atau rasa kehilangan itu ternyata cukup kuat kurasakan. Pertamanya terasa waktu mengosongkan meja. Meskipun mejaku kecil (hanya dilengkapi satu laci dan lemari kecil), ternyata “penghuninya” banyak! Aku seperti membaca jejak-jejak perjalanan karierku. Dan oh, ternyata aku harus meninggalkan semua itu. Rasanya gimanaaa gitu. Tapi ini wajar kupikir. Kalau kita tidak merasa “semedhot“, malah aneh ya? Berarti perjalanan karier sebelumnya tidak membekas di hati dong? Waktu itu aku sudah bekerja enam tahun–dan sudah mulai menginjak tahun ketujuh–di kantorku tersebut. (Kalau aku yang cuma enam tahun bekerja saja merasa ada yang hilang, bagaimana dengan Om NH yang sudah bekerja selama 22 tahun ya?)

Awal-awal keluar dari kantor dan waktu itu aku harus pindah ke Jakarta, rasa “semedhot” ini semakin terasa. Mungkin karena aku harus adaptasi dengan tempat/suasana baru ya. Dulu biasanya setiap hari bertemu teman-teman kantor, sekarang sendiri. Walaupun ada suami sih. 🙂 Tapi kalau suami kerja, di rumah sendirian dan berada di tempat asing itu rasanya sedep-sedep aneh. 😀 Di saat seperti itu, aku jadi bisa paham seperti apa sih rasanya “post employment syndrom“. Bagiku rasanya agak-agak getir gimana gitu hi hi hi. Tapi hal seperti itu bisa diatasi kok. Caranya adalah dengan tetap beraktivitas. Kurasa lebih baik kalau aktivitas itu sudah dimulai sebelum kita mengundurkan diri/pensiun. Dengan beraktivitas, logikanya kita masih dikelilingi teman-teman dong. Bisa teman baru, bisa juga teman lama.

Tahun 2013 ini adalah tahun kelima aku benar-benar menjadi pekerja lepas (sebagai penerjemah). Apakah aku menyesali keputusanku? Jelas tidak dong. Bahkan aku merasa mendapat pengalaman yang berwarna. Pekerjaan yang pernah kutekuni dulu (sebagai editor di sebuah penerbitan) membantuku menekuni pekerjaanku sekarang. Memang harus diakui, masih banyak yang harus kulakukan untuk meningkatkan kemampuanku. Kalau dulu sebagai pekerja kantoran, urusan mengasah kemampuan itu bisa “kupasrahkan” pada kantor tempat aku bernaung, sekarang mau tidak mau harus kulakukan sendiri. Dan ini menantang! 🙂 Lagi pula, dengan adanya internet dan situs jejaring sosial, aku sangat terbantu dalam masalah pengembangan diri ini. Misalnya dengan bergabung dalam milis atau grup dan ikut dalam organisasi profesional. Intinya sih, banyak bergaul supaya wawasan terus bertambah. Dan sebagai penerjemah, aku merasa tidak sendiri. Banyak penerjemah yang merupakan pekerja lepas seperti aku. Jadi, aku suka berpikir, ini ibarat punya teman di meja lain yang tidak kulihat. Berkat internet, komunikasi tetap berjalan. Asyik kan?

Oiya, untuk Om NH, semoga sukses dalam karya yang baru. Begitu pula kalau ada teman-teman yang baru saja mengundurkan diri dari tempat kerja lama, tetap semangat, ya! 🙂

Status Facebook

Beberapa waktu lalu, aku “bertemu” seorang kawan lama di Facebook. Bukan kawan dekat sih, tapi dulu zaman kuliah kami ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Waktu aku sudah bekerja dan dia sedang cari-cari kontrakan, aku sempat ikut mencarikan (walaupun akhirnya dia tidak mengontrak di rumah yang aku infokan itu). Dulu aku pernah berkunjung ke kontrakannya dan mengobrol soal buku. So far so good lah hubungan kami. Jadi, ketika aku tahu akun FB-nya, ya aku add saja.

Sayangnya, baru beberapa hari kami “berteman” di FB aku sudah merasa terganggu dengan postingan status-statusnya yang njelehi, menyebalkan, dan … memuakkan. Aku sampai terheran-heran, kenapa temanku ini jadi seperti ini? Kenapa dia jadi memuakkan begini? Rasanya aku hampir tak percaya. Agak menyesal juga rasanya menambahkan dia ke dalam daftar temanku di FB. Aku terpikir untuk me-remove saja dia. Tapi, kok aku agak nggak enak sendiri ya. Wong baru add, kok langsung di-remove. Lagi pula sebetulnya aku bisa dibilang tidak berseteru panjang lebar di FB. Pernah sih aku komentar yang nadanya berseberangan dengan dia. Tapi sudahlah, aku akhirnya berpikir: sing waras ngalah (yang masih waras, lebih baik mengalah). Dan aku malas berselisih di dunia maya. Kayak nggak ada masalah yang lebih penting saja. Pengin rasanya aku melenyapkan dia dari dunia maya bernama FB itu. Untung ada Mbak Imelda, jadi aku bisa tanya bagaimana meng-hide status teman di FB. Maklum aku gaptek, jadi untuk urusan begini saja sampai minta nasihat ke Jepang. Hehehe. Nah sekarang selesai urusan … mmm, setidaknya sampai saat ini. Kalau akhirnya dia betul-betul mengganggu, mungkin betul-betul akan kuremove.

Status FB temanku yang menyebalkan itu bukan satu-satunya kasus. Ada juga teman lain yang kalau bikin status kata-katanya alay banget. Ini juga menyebalkan menurutku. Untuk si alay ini aku sudah mau remove dia. Tapi salah seorang temanku kemudian menceritakan masa lalu si alay yang kelam. Kupikir karena itulah status dan kalimat-kalimatnya jadi aneh bin ajaib begitu. Wah, aku jadi jatuh kasihan. Akhirnya aku tunda dulu niatku untuk me-remove dia. Sementara ini cukup aku hide dulu. Kalau dia sampai betul-betul menyebalkan, mungkin mau tidak mau akan kusingkirkan.

Lain lagi masalahnya dengan seorang temanku si X. Tiba-tiba belakangan ini dia suka posting bernada galau. Jelas saja beberapa teman menanyakan apa alasannya. Di dinding FBnya sih dia tidak menjelaskan kenapa dia bisa segalau itu. Dia cuma curhat tak jelas dan intinya ada masalah besar. Bikin penasaran teman-teman yang lain.

Kalau aku bertanya-tanya, apa sih sebaiknya yang perlu kita bagikan di FB? Ada orang yang mengatakan: “Suka-suka aku dong, ini kan akun pribadiku. Mau marah kek, mau misuh kek, mau menjelekkan orang lain kek, ya terserah saja.” Hmmm, begitu ya? Kalau melihat dari tiga kasus teman FB-ku itu, aku kadang suka risi lo kalau baca status orang. Apalagi yang isinya kasar (isi maupun bahasanya), menjelek-jelekkan pihak lain (dan merasa paling benar). Kadang aku juga sebal kalau ada teman yang statusnya mengeluh terus. Kadang aku suka niteni (apa ya bahasa Indonesianya?) status beberapa teman. Misalnya kalau si A, statusnya pasti berkisar soal anaknya; kalau si B, biasanya pada hari Sabtu dia akan ngomel-ngomel karena ditinggal suaminya bekerja terus; kalau si C dia akan mendewa-dewakan partai PK*; kalau si D, biasanya dia akan posting soal agama. Rasanya aku seperti bisa menebak isi kepala orang. Hihihi. (Nggak segitunya kali, ya.)

Kalau aku boleh memilih, sebetulnya aku lebih suka status yang adem, menenteramkan, atau yang lucu-lucu. Ya, FB itu barangkali cerminan situasi hidup ya? Kadang ada yang menyenangkan, ada yang tidak. Tapi mungkin suatu saat aku perlu melenyapkan beberapa kawan di FB, supaya hidup ini tidak jadi menyebalkan hanya karena hal-hal yang tidak penting.

Ngomong-ngomong, apakah kamu juga punya teman yang menyebalkan di Facebook?