Rasa yang Selalu Ada

Kadang telingaku seperti tak tahu sopan. Contohnya sekarang ini. Tanpa sadar aku mendengarkan obrolan di kafe, percakapan dua orang di belakangku.

“Serius Nin, kau masih menyimpan rasa cinta pertamamu?” Suaranya mengingatkanku pada penyiar radio. Renyah.
“Iya. Konyol ya? Dia itu tidak pernah terganti,” jawab suara yang lebih cempreng.
“Walaupun jalan hidup kalian sudah tak sejalan?” tanya si “penyiar radio” itu lagi.

Seketika ingatanku terbawa kepada Mas Tok. Dia tidak pernah terganti. Sama sekali tak akan pernah. Rasanya aku ingin ikut nimbrung obrolan dua perempuan di belakangku itu. Aku akan ikut bilang, bahwa cinta pertama itu tidak pernah mati. Sungguh, aku yakin mengenai hal itu. Ya, walaupun Mas Tok berada di pulau nan jauh. Walaupun tak selalu ada ucapan cinta di antara kami, tapi aku merasa apa yang kami miliki dulu masih hidup di dalam dada. Tersembunyi di antara kesibukan yang mengepung. Tersembunyi di balik norma-norma.

Aku melirik telepon pintarku. Aku lihat tanggalnya. Tiga puluh Juli. Tanggal ini peringatan penting buat Mas Tok. Refleks kupencet nomornya. Aku tak yakin dia akan mengangkat.

“Halo, Ning!”
Sepersekian detik aku terdiam. Aku terkejut dia cepat sekali mengangkat telepon.
“Mas Tok. Ng… aku tadi mengirim sesuatu untukmu. Ini salah satu hari pentingmu, kan?”
“Kamu ingat, Dik Ning?”
Aku ingin menjawab, aku ingat semua tentang kamu, Mas Tok.
“Terima kasih, ya,” katanya lagi. “Dik, tapi ini aku sedang ditunggu untuk makan bersama rekan-rekan. Terima kasih ya sudah menelepon.”
“Ya, Mas Tok. Aku senang mendengar suaramu lagi.”

Ya, tak ada taburan kata cinta dalam percakapan kami. Tapi aku bisa merasakan, ada rasa yang masih hidup. Rasa yang ada sejak puluhan purnama lalu.

Advertisements

Mengulang 1 Juli

“Apa kabar?”

Dua kata ini muncul di layar telepon pintarku. Darimu. Ini kejutan. Bisa dibilang, beberapa waktu ini kamu lumayan sering menghubungiku. Belum lama ini kamu menghubungiku, mengucapkan selamat ulang tahun. Kita berbincang cukup lama. Aku mengendap masuk di lorong kantor yang sepi supaya tak ada yang menguping pembicaraan kita. Mendengar suaramu adalah kado ternikmat buatku.

Dan ini, tumben kamu menyapaku lagi. Menanyakan kabar. Bukankah kamu tahu, kabarku selalu kangen?

Lalu muncul kalimat-kalimat selanjutnya yang membuat hatiku seperti lagu Vina Panduwinata: Membikin hatiku melompat, seperti melodi yang indah…

“Dik Ning, aku ke kotamu. Apakah kamu pulang?”

Deg.

Kutoleh kalender. Juni mencapai hari terakhirnya. Besok adalah 1 Juli.

Hatiku seperti diremas. Tugas kantor memaksaku berada ribuan kilometer dari kota kelahiranku.

“Seandainya kau pulang, kita ulangi lagi 1 Juli,” begitu lanjut kalimatmu.

Aku tak sabar. Kutekan nomormu.
“Mas Tok! Kok tidak mengabari dari kemarin?”

Kudengar tawamu di seberang. Mendadak, begitu alasanmu. “Aku tiba-tiba mendapat kabar bahwa bulikku sakit. Aku sempatkan ke rumahnya untuk menengok. Kupikir kamu pulang, Dik. Ini satu Juli, kan?” Kudengar suaramu yang empuk, tapi kali ini membuatku kecewa. Seandainya aku tahu, aku pasti pulang. Seandainya… seandainya.

Mataku memanas.

Malam itu, kutulis surat cukup panjang buatmu. Ya, surat yang akan kukirim Lewat pos. Seperti belasan tahun lalu, kita saling berkirim surat. Dengan itulah kuulangi 1 Juli.