Dua yang Pergi

Seminggu terakhir ini ada dua orang di lingkunganku yang meninggal. Yang pertama meninggal mendadak, yang kedua sebenarnya sudah sakit sekitar semingguan.

Kalau dibilang sedih, mungkin tidak sedih banget karena jujur saja aku tidak punya kedekatan emosi yang kuat dengan keduanya. Tapi aku kenal baik dengan dua bapak tersebut. Aku hanya merasa seperti ada yang kosong.

Aku nyaris tidak pernah bertemu Pak W, bapak yang meninggal pertama itu. Sejak pandemi, aku tidak pernah ikut kegiatan di lingkungan. Hampir tidak ada kegiatan juga, sih. Dan aku tidak pernah ketemu beliau misa di gereja (sejak adanya misa luring). Dasarnya aku juga jarang misa sejak pandemi, sih.

Berbeda dengan Pak A, aku beberapa kali bertemu beliau di gereja karena beliau biasanya bertugas tata laksana (yang membantu umat menemukan nomor kursinya). Aku yang biasanya datang mepet dan agak lari-lari masuk gereja, sering merasa lega ketika melihat Pak A. Beliau biasanya membantuku menemukan nomor kursiku. Jadi, aku bisa duduk sebelum romo muncul di altar. Seminggu sebelum beliau meninggal, aku sempat bertemu dengannya di gereja.

Menurutku, dua bapak ini meninggal dalam waktu yang cepat. Bisa dibilang mendadak. Yang satu beneran mendadak karena sebelumnya tidak sakit. Yang satu lagi, mendadak stroke dan akhirnya pergi. Betapa tipis jarak antara ada dan tiada–antara hidup dan mati.

Selama mengikuti doa memule (peringatan orang meninggal), aku mengamati ada orang-orang yang tinggalnya agak jauh, yang rajin ikut doa. Bahkan termasuk mereka yang kurang dekat dengan kedua almarhum. Kehadiran orang-orang seperti ini sungguh menguatkan. Ya, cuma hadir saja sudah cukup membantu. Karena kalau yang datang doa sedikit, mesti rasa duka itu akan terasa lebih menggigit.

Dari peristiwa meninggalnya dua bapak tersebut, aku merasa bahwa ketika seseorang meninggal, yang diingat sering kali bukan hal-hal besar atau tindakan heroik mereka. Yang sering membekas justru hal kebaikan yang sederhana, kecil, dan sepertinya sepele.

Apakah Menunggu Pesanan Martabak Telur Adalah Saat yang Membahagiakan?

Pertanyaan “Apakah aku bahagia?” muncul beberapa waktu lalu, tepatnya ketika aku menunggu pesananku martabak telur dibuat. Ketika akan berangkat, aku agak terburu-buru karena kulihat mendung sudah cukup gelap. Sementara itu, aku harus mengirim paket sabun, membeli roti tawar, dan ya itu tadi: membeli martabak telur untuk tambahan lauk makan malam. Aku tahu bisa kehujanan kalau aku kurang efisien menata waktu. Dan aku amat sangat menghindari hujan. Aku tak suka kedinginan di jalan–walau aku bisa memakai jas hujan supaya tidak kehujanan, tapi sungguh aku tak suka kehujanan. Apalagi hujan membuat pandanganku kabur.

Membeli martabak adalah urutan terakhir. Yang pertama tentu saja mengirim sabun supaya paket itu bisa segera diterima pembeli. Dan aku sebetulnya mulai tak sabar ketika menunggu martabak pesananku matang. Aduh, kenapa lama matangnya? Lalu sesekali aku mendongak, melihat apakah hujan sudah benar-benar akan turun. Aku sedikit agak lega ketika kulihat orang di jalanan tidak bergegas. Berarti belum hujan. Dan muncullah pertanyaan itu: Apakah aku bahagia?

Sebetulnya apa itu bahagia?

Aku meraba perasaanku dan merenungkan kembali hidupku. Aku merasa cukup nyaman berada di kota ini, tinggal di daerahku sekarang. Aku bisa dengan mudah menjangkau warung, toko, kedai, atau apa pun itu namanya, yang menjual barang kebutuhanku. Aku punya kendaraan yang layak untuk kupakai. Jaket yang kupakai saat itu memang sudah butut, tapi sudah sangat cukup membantu melawan angin atau udara dingin. Kacamataku masih bisa kupakai–walau aku mulai berpikir untuk memeriksakan mataku lagi: Jangan-jangan minus atau plusnya tambah? Sejauh ini, sampai ketika aku menunggu martabakku matang, aku merasa semua yang kumiliki sudah cukup. Lalu, apakah aku sudah bahagia?

Kupikir, perasaan cukup yang kuamati petang itu, membuatku berpikir bahwa aku sudah cukup bahagia. Entah apa pun itu definisi bahagia, aku rasa tidak perlu-perlu amat mencocokkan antara definisi dan perenunganku sore itu. Aku rasa, aku berhak menentukan standar dan definisi bahagiaku sendiri.

Aku melirik ke dalam kedai, dan kulihat martabakku sudah mulai diiris. Aku segera berdiri, mengambil dompet di dalam tas, dan menghitung jumlah uang. Tak terlalu banyak jumlahnya, dan mestinya aku perlu mengambil uang lagi di ATM. Aku mencoba mengingat-ingat berapa saldo terakhirku. Aku hanya berharap, semoga selalu ada rejeki secukupnya. Berapa pun uang yang masuk dan keluar perlu disyukuri. Begitu kutipan yang kubaca di medsos beberapa hari lalu.

Apakah aku masih bahagia ketika mengingat saldo terakhir di rekeningku?

Kupikir, cukuplah bahagiaku sore itu. Kupacu motorku sebelum hujan benar-benar datang. Hujan turun persis ketika aku memasukkan motor ke dalam garasi.

Hitunglah berkat-berkatmu, agar semua terasa cukup dan menghangatkan hati.

Belanja di Warung: Seperti Belanja pada Saudara Sendiri

Salah satu tempat favoritku adalah pasar. Iya, pasar tradisional, tepatnya. Asal pasarnya tidak becek-becek amat, aku suka menyusuri gang-gang di dalam pasar. Bagiku pasar adalah tempat untuk mendapatkan energi positif dan semangat. Hampir tak pernah kurasakan suasana sedih ketika aku berada di pasar. Rata-rata pedagang di sini cukup ramah. Ketika pagi-pagi sedang butuh suntikan semangat, aku akan berangkat ke pasar.

Namun, karena jarak pasar dari rumahku agak lumayan, aku lebih sering belanja di warung sayur. Warung sayur ini biasanya buka pagi sampai siang. Tapi ada pula yang bukanya agak siang, lalu tutupnya malam. Warung sayur langgananku ada tiga. Jaraknya tidak terlalu jauh. Yang paling dekat hanya sekitar 5 menit jalan kaki dari rumah. Satu lagi, sekitar 10 menit dari rumah jalan kaki. Yang terakhir, agak jauh, sehingga aku perlu naik motor–mengingat jalan raya depan gang rumahku cukup ramai, tak ada trotoar pula, aku merasa tidak nyaman berjalan kaki sampai agak jauh.

Bahan-bahan yang disediakan di warung sayur ini sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan masak harian. Lagi pula, masakanku biasanya hanya membutuhkan sawi, kangkung, bayam, terong, timun, wortel … tahu, tempe. Begitu-begitu saja. Kecuali aku mau masak agak istimewa, barulah aku mancal sepeda motor ke pasar.

Setiap kali ke pasar, aku mesti membawa uang lebih banyak. Soalnya, aku sering tergoda melihat sayur-sayur segar. Atau kalau awalnya mau beli ikan patin, lalu di lapak penjual ikan ada ikan tuna segar atau ikan nila, aku kan jadi tergoda juga. Minimal ada dua lembar uang lima puluhan ribu di dompet, baru aku merasa aman ketika ke pasar.

Berbeda ketika aku ke warung sayur. Karena umumnya sayur di warung tidak semeriah di pasar, aku cukup PD hanya membawa uang dua puluh ribu. Bahkan belanjaku kadang kurang dari dua puluh ribu.

Suatu kali aku dengan pedenya berangkat ke warung sayur terdekat. Waktu itu aku belum terlalu sering belanja di situ. Aku hanya ingin beli seikat kangkung seharga dua ribu rupiah. Ketika hendak membayar, aku buka bawah jok motorku karena seingatku dompetku belum kupindahkan dari bawah jok. Tapi ternyata dompetku tak ada! Buru-buru aku bilang ke pemilik warung, “Bu, ngapunten. Dompet kula kentun teng griya. Kula wangsul rumiyin mendhet dompet. Kula tinggal kangkunge.” (Bu, maaf. Dompet saya ketinggalan. Saya pulang dulu, ambil dompet. Kangkungnya biar di sini dulu.)

Namun, ibu itu menjawab begini, “Mpun, kangkunge dibeta mawon. Mbayare suk-suk mawon, mboten napa-napa.” (Sudah, bawa saja kangkungnya. Bayarnya besok-besok pun tak apa.)

Aku agak terkejut mendengar jawaban ibu pemilik warung. Kalau di toko (modern), tentu aku tak akan dibolehkan membawa pulang belanjaan tanpa bayar–walau sudah jadi pelanggan tetap sekalipun.

Hal serupa terjadi ketika aku belanja di warung sayur lain, yang lokasinya agak jauh dari rumah. Di situ aku biasa membeli pisang raja. Pisang yang dijual biasanya bagus-bagus. Sebetulnya harganya agak lebih murah dibanding harga pisang raja dengan kualitas sebagus itu di pasar. Tapi namanya pisang raja, kalau bagus, harganya lebih mahal dibanding pisang kepok, misalnya. Kadang ibu pemilik warung bilang begini, “Bawa dulu pisangnya, Mbak. Bayarnya boleh besok.” Aku paling hanya tertawa. Kalau duitku cukup, ya aku beli. Kalau tidak, ya besok aku datang lagi sambil membawa cukup uang. Kalau masih jodoh, biasanya aku masih dapat pisang raja yang bagus.

Selama ini aku tak pernah membawa pulang belanjaan tanpa membayarnya terlebih dahulu, walau si penjual membolehkan atau menawari. Aku hanya takut lupa dan malah lupa bayar. Aku rasa para penjual di sini memiliki kepercayaan cukup tinggi pada pelanggannya. Kenapa, ya? Aku sendiri merasa belanja di warung itu rasanya lebih seperti belanja ke teman atau saudara sendiri. Mungkin begitu pula yang dirasakan penjual terhadap para pelanggannya. Alasan lain belanja di warung adalah bagi-bagi rejeki; biar uangnya berputar ke tetangga terdekat.

Jejak Cerita Lama

Kupikir dulu pandemi akan berakhir dalam hitungan 2-3 bulan saja. Semua akan berjalan baik-baik saja tanpa ada sesuatu yang berarti. Optimis sekali aku saat itu. Memang ada kekhawatiran, tetapi rasanya tidak perlu membesar-besarkan ketakutan.

Bulan berganti menjadi tahun. Lalu muncul berita si A sakit, si B harus isolasi, si C tidak bisa pulang, dsb. Tapi waktu itu si A, B, C itu orang jauh yang tak kukenal. Makin lama, mulai ada kenalanku yang terkena covid dan dampaknya. Awalnya hanya kenalan, selanjutnya orang yang kukenal baik. Rasanya setiap hari perlu mengabsen dan saling kabar untuk memastikan bahwa teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang menempati tempat khusus di hatiku baik-baik saja. Sayangnya kenyataan kadang tidak demikian.

Kemarin beberapa teman mengabarkan kepergian seorang bapak. Sebut saja Pak SD. Mendengar berita itu lalu berkelebat-kelebat muncul di kepalaku ingatan beberapa dekade silam tentang sosok lelaki muda, usia SMA. Wajahnya sedikit panjang, dagunya lancip. Rambutnya lurus, rapi, belah samping. Matanya sedikit sipit, dan belakangan kuketahui dia memakai kacamata. Bibirnya lebar, tipis, dan mudah sekali tersenyum. Aku masih ingat betul garis wajahnya.

Dia selalu tampil rapi setiap misa–bahkan untuk misa harian. Biasanya dia memakai kaus berkerah, bukan kaus gombor. Celana jinnya memang agak belel, tapi masih rapi. Seingatku kukunya pun selalu rapi, tak pernah kulihat ia berkuku panjang. Atau aku salah ingat?

Yang jelas, aku tidak salah ingat dengan nama panjangnya. Aku pernah menghapal namanya, termasuk huruf mana yang dobel, dan suku kata mana yang mesti ditambah “h”. Aku tahu itu karena dia pernah kuminta menuliskan biodatanya di agendaku. Aku dulu pasti konyol sekali waktu memintanya menulis biodatanya di agendaku bersampul putih itu. Sama konyolnya ketika temanku AS mengompori untuk main ke rumah si mas itu. Ya ampun! Heran aku kenapa bisa seberani itu? Dia menemui kami di ruang tamunya yang luas dan rapi. Sumpah, aku masih ingat betapa deg-degannya hari Minggu itu.

Masa deg-degan itu perlahan-lahan berakhir ketika si mas akhirnya melanjutkan kuliah di Surabaya. Kami tak pernah bertemu lagi. Sesekali dia pulang waktu Natal atau Paskah, dan aku melihat dia misa bersama keluarganya. Rasanya seperti dapat kado sinterklas kalau melihat dia misa Natal. Sueneeeng pol! Haha. Konyol ya? Padahal cuma melihat dari jauh. Kalau beruntung aku bisa bersalaman mengucapkan selamat Natal ketika bubaran misa.

Tahun berganti. Jejak mas berdagu lancip itu tak kudengar. Aku hanya pernah mendengar ayahnya bercerita pada Bapak bahwa anak lelakinya itu sekarang bekerja di instansi bonafid di Jakarta. Kadang ia bekerja sampai larut malam. Aku membayangkan, mas berambut rapi itu seorang pekerja keras, dan sungguh amat keren. Ketika aku tinggal di Jakarta, sempat aku berharap bisa berjumpa dengannya di sekitar Kuningan, Sudirman, atau Thamrin … di daerah perkantoran yang cukup elit. Kadang ketika sedang ke mal dan naik lift bersama rombongan (yang tampaknya) karyawan, aku meneliti wajah mereka dan berharap mendapati senyum lebarnya. Tapi tak sekali pun aku berjumpa dengannya. Aku tak pernah mendengar kabar dia menikah. Tapi kurasa kini dia sudah menikah. Perempuan mana yang akan menolak senyum manisnya? Mungkin istrinya cantik, keibuan. Mungkin dia kini tinggal di kompleks perumahan yang cukup bagus di salah satu pojok ibu kota–mengingat dia seorang pekerja keras, pasti punya gaji lumayan untuk membeli rumah yang bagus.

Gelombang kami tidak pernah senada. Dia benar-benar jauh dari jangkauan. Jejaknya tersapu arus kehidupan. Kehidupan kami tak pernah beririsan sejak dia mulai jarang kulihat di gereja di kotaku, dan aku pun sudah beranjak ke kota lain.

Kemarin diberitakan Pak SD meninggal, menyusul istrinya yang berpulang tujuh tahun silam. Dia adalah ayah dari mas yang selalu berbaju rapi dan bermotor astrea itu. Aku pun mencoba mencari jejak si mas yang sempat membuatku deg-degan setiap kali masuk gereja. Tapi hanya namanya yang terpampang di layar pencarianku. Lalu aku mendadak merasakan sebuah kesedihan yang tipis. Beberapa pertanyaan bermunculan, tapi aku tak tahu ke mana mencari jawabannya. Semoga mas berdagu lancip itu dapat melewati masa duka dengan baik.

Aku tidak berharap kami bisa bertemu lagi. Dan harapanku memang bukan untuknya lagi.

Hari Raya yang Personal

Lebaran hari kedua, berapa nastar yang sudah masuk mulut?

Aku tak banyak makan nastar kali ini. Enggak beli, enggak bikin, enggak pula dapat kiriman. Hanya kemarin saja nebeng makan nastar di rumah Budhe. Paling banyak 10 biji nastar kayaknya. 😀

Lebaran kali ini sepi. Karena pandemi, masih banyak pembatasan di sana-sini. Jadi, acara kunjung-kunjung pun sangat berkurang. Kali ini aku hanya berkunjung ke rumah Budhe. Budhe-nya Maya sebenarnya, bukan Budhe asli dari keluargaku. Sebenarnya ada pula Pakdhe, kakaknya Ibuk yang merayakan lebaran yang harus dikunjungi. Tapi aku sudah mengunjungi Pakdhe sebelum lebaran. Hanya demi mengatur waktu saja, sih. Kalau dalam sehari mengunjungi 2 rumah, rasanya capek dan memakan waktu. Tidak mungkin hanya datang dan 10 menit kemudian pulang. Kalau mengunjugi Budhe (dan Tante) tak bisa sebentar. Pasti ada acara makan dan mengobrol. Dan aku senang dengan Budhe karena beliau selalu hangat kepadaku meskipun aku bukan keponakan asli.

Sebenarnya aku cukup senang dengan lebaran kali ini yang sepi. Bukan karena aku tidak merayakan, tetapi karena apa ya … aku merasa hari raya yang sepi itu lebih personal rasanya. Bahkan untuk hari Paskah atau Natal, aku senang yang sepi-sepi saja. Dulu (sebelum pandemi), paling hanya pulang ke rumah orang tua.

Sebelum pandemi, ada satu acara yang masih terasa canggung untuk kulakukan meskipun dulu waktu masih kecil, tiap tahun selalu kulakukan. Apa itu? Sungkeman. Sungkeman tidak bisa dilepaskan dari keluarga besarku sejak kecil. Rasanya itu salah satu kebiasaan orang Jawa. Waktu Simbah masih sugeng, kami semua akan sungkem urut dari Simbah sampai ke om dan tante. Ini masih mending buatku karena toh mereka masih ada hubungan darah. Yang kurang kusukai dari acara sungkeman di keluargaku adalah tangis-tangisannya. Aduh, aku terganggu sekali. Sungkem selalu diwarnai dengan derai air mata. Mungkin meminta maaf dan minta restu dari orang yang lebih tua itu terasa menyentuh hati ya? Tapi aku tidak suka. Aku tidak suka suasana yang mengharu biru. Pokoknya tidak suka aja.

Beberapa tahun lalu, karena aku tinggal di kampung, acara kunjung-kunjung saat lebaran masih menjadi suatu kewajiban. Dan aku mau tak mau harus ikut acara kunjungan ke tetangga serta sungkem itu meskipun bukan kepada kerabatku. Aku merasa canggung dan aneh saja sih rasanya. Mungkin itu hanya sebatas simbol dan penghormatan. Tapi tetap saja aku melakukan itu karena “mau tak mau”. Ketimbang dianggap alien dan jadi gunjingan orang se-RT, mending ikut kebiasaan saja. Dan syukurlah sekarang aku tidak perlu melakukannya dengan alasan pandemi.

Ya, salah satu hal positif dari pandemi ini adalah membuat suasana menjadi personal. Ucapan selamat hari raya kukirim secara personal pula ke teman atau kenalan yang aku rasa tidak akan keberatan jika kuberi ucapan. Dalam ucapan itu kusebut nama, kusampaikan selamat setulus hati. Aku khawatir jangan-jangan ada orang yang kalau dapat ucapan selamat dari orang yang beda keyakinan justru membuatnya tidak damai sejahtera. Dan pandemi membuat hal itu menjadi “sah” dan baik-baik saja. Tidak ada lagi kewajiban untuk beramai-ramai dan terpaksa ikut “rombongan”. Tidak apa-apa kan kalau aku merasa lega?

Bangsa Spanduk

Kemarin ada pertemuan PKK di kampung. Sebenar-benarnya, aku sungguh amat malas ikutan. Masa-masa mesti jaga jarak begini malah ada pertemuan? Tapi aku kemarin akhirnya memutuskan ikut karena aku mesti tahu apakah aku nunggak bayar iuran dan arisan. Enggak enak banget kalau jadi batu sandungan orang lain hanya gara-gara duit sekitar sepuluh ribuan. Aku pun ingin bayar sekalian untuk beberapa bulan supaya besok-besok bisa bolos kalau ada pertemuan. Lagi pula di grup ibuk-ibuk ada foto yang menunjukkan peserta bisa duduk di luar pakai kursi dan jarak antar kursi cukup lebar. Biasanya di dalam sekretariat dan duduk lesehan gitu. Kan mana bisa jaga jarak ya?

Kemarin rupanya ada petugas dari puskesmas memberi penyuluhan soal kesehatan masyarakat dan pola makan. Informasi yang disampaikan para petugas puskesmas itu sebetulnya sudah banyak beredar yaitu bahwa selama pandemi ini kita melakukan adaptasi kebiasaan baru, mesti jaga jarak, pakai masker, dan rajin cuci tangan. Lalu pola makan mesti dijaga, banyak makan sayur dan buah, karbohidrat sudah harus dikurangi bagi ibu-ibu yang sudah 30 tahun ke atas, dan sebagainya, dan seterusnya.

Aku berpikir, kenapa ya untuk hal seperti itu perlu mendatangkan petugas dari puskesmas? Tidakkah itu informasi yang sudah jamak diketahui? Informasi yang diberikan sifatnya top-down. Sesudahnya memang ada tanya jawab, tapi terlalu singkat. Perlu ada jalur khusus untuk menampung pertanyaan-pertanyaan itu dan membahasnya.

Yang agak lucu adalah sesudah kegiatan tersebut para peserta diajak foto bersama! Lha… tadi diminta untuk jaga jarak, apa gunanya dong? Mana ada ceritanya foto bersama dengan jaga jarak mengingat peserta yang hadir lebih dari 50 orang?

Jadi, aku memilih pulang. Mungkin kita ini bangsa “spanduk”. Apa maksudnya? Kita biasa kan melihat slogan-slogan pada spanduk yang ada di jalan-jalan. Misalnya: Kita tegakkan persatuan dan kesatuan bangsa; Kita menjunjung tinggi toleransi, Masyarakat Sehat, Bangsa Kuat. Kenyataannya? Masih ada gerakan intoleransi, gerakan hidup sehat juga gitu-gitu aja. Jadi, singkatnya kalau sudah ditulis di spanduk, sudah cukuplah.

Berubah itu sulit kok. Aku sadar itu. Memang paling mudah ditulis doang. Diobrolin doang. Pelaksanaan itu nanti-nanti saja kalau ada pemeriksaan oleh petugas. Hidup tak usah dibuat serius.

Let’s Have Fun Today!

Kemarin malam aku baru saja mengirimkan pekerjaan. Rasanya lega luar biasa. Walaupun masih ada pekerjaan lain yang menunggu, tetap saja rasanya melegakan ketika aku berhasil mengirimkan pekerjaan. Sebelum tidur aku mulai memikirkan apa yang ingin kukerjakan hari ini. Anggap saja hari ini aku libur dulu. Tepatnya meliburkan diri.

Kalimat “Let’s have fun today!” terngiang di telingaku sepanjang hari ini. Lalu apa yang kukerjakan untuk bersenang-senang? Membuat sabun! Yeay! Beberapa waktu terakhir ini urusan persabunan agak terbengkalai. Sempat bikin sabun, tapi rasanya ada yang kurang. Sepertinya aku agak buru-buru dan bras-brus kerjanya. Jadi ada sabun yang kurang oke deh. Ah, syudahlah. Bisa kuperbaiki sih, tapi kan sebenarnya agak malesin.

Buatku membuat sabun masuk dalam kategori bersenang-senang. Semacam memompa semangat. Tapi kadang aku kelamaan berpikir, mau bikin sabun yang apa ya? Beneran bisa lama banget aku memikirkannya. Bolak balik menengok bahan-bahannya doang, tapi eksekusinya tidak disegerakan. Dasar!

Cuma itu bersenang-senangnya? Sebenarnya aku ingin ke pasar tadi pagi. Tapi hujan. Batal deh. Bagi sebagian orang, hujan adalah saat yang ditunggu. Tapi bagiku tidak. Jujur saja aku kurang suka hujan. Hujan membuatku berpikir seribu kali untuk ke luar rumah. Aku tak suka memakai jas hujan. Tak bisa pakai kacamata pula. Sungguh menyiksa berkendara tanpa kacamata.

Untungnya aku masih punya persediaan kale dan selada di lemari es. Jadi aku bisa makan sayur cukup banyak hari ini. Ditambah masih ada sup ikan sedikit. Jadi, cukuplah. Sayur dan protein hewani. Semoga bisa lebih cepat kurus 😀 :D.

Bersenang-senang berikutnya adalah menulis blog. Sebenarnya pas tanggal 30 September kemarin aku mau menulis sesuatu tentang penerjemahan. Niatnya pengin ikut meramaikan Hari Penerjemahan, tapi kok ya tidak sempat menulis apa pun. Sebagai penerjemah yang benar-benar lepas (baca: tidak selalu menerjemah setiap hari), aku merasa masih sering berlindung di balik jubah profesi penerjemah. Paling tidak, di KTP profesiku masih penerjemah.

Itulah yang kulakukan untuk bersenang-senang hari ini. Besok aku ingin bersenang-senang lagi. Semoga tidak hujan. Jadi, aku bisa keluar rumah dengan leluasa.

Hal-hal Kecil yang Menyenangkan

1. Bisa bangun pagi-pagi, ketika hari masih sejuk dan syahdu
2. Tempat tidur dengan sprei yang baru diganti
3. Mandi dan ganti baju bersih
4. Masuk rumah pas sebelum hujan turun
5. Mencium aroma kue yang baru matang
6. Mencicipi kue yang baruuuu saja matang
7. Ketemu teman lama dan masih nyambung ketika diajak ngobrol
8. Dapat paket berisi kue atau jajanan (ya ampun, makanan lagi!)
9. Jalan pagi pas matahari masih hangat
10. Menginjak tanah berumput (apalagi pas tanah itu barusan disiram)
11. Ketemu kucing lucu dan dia mau disayang-sayang
12. Ketemu anjing lucu dan dia senang dielus-elus
13. Ke pasar pagi-pagi banget, pas semua sayuran masih lengkap dan banyaaaak!
14. Bisa yoga minimal 30 menit
15. Ada yang mau bantuin nyuci piring
16. Ada yang mau bantuin jemur cucian
17. Lantai yang barusan dipel
18. Air putih hangat yang diminum pagi hari
19. Bisa menikmati aroma bunga di halaman yang segar
20. Makan mi rebus atau bakso pas sore

Nanti kutambah kalau ingat yang lain.

Apakah Kamu Berubah?

Banyak orang mengatakan rutinitas hidupnya berubah gara-gara corona. Yang biasanya berangkat ke kantor pagi-pagi, kini bisa bangun lebih siang dan bisa memilih tidak mandi. Mandi dirapel sekalian sore. Aku sempat mengalami perubahan: tidur lebih tertib–tidak lebih dari jam 10 malam; masak setiap hari dan sama sekali tidak absen; jalan pagi setiap pagi, dan lain-lain.

Namun seingatku hal itu hanya berlangsung sekitar pertengahan Maret sampai awal April. Waktu itu aku merasa lebih tegang. Setiap hari membaca berita tentang corona lalu mulai eneg. Eneg secara literal. Jadi, aku merasa pusing dan deg-degan tiap kali ada berita si virus. Tidak bisa tidak membacanya. Mata seperti otomatis mengunyah berita, tapi kepala akhirnya kekenyangan dengan segala macam info.

Sebelum bulan puasa berlangsung, aku sempat mencuri-curi beli makan di luar. Belinya di dekat-dekat sini, misalnya soto di selatan kampung. Hanya saja sekarang kalau beli makan dari luar, aku bawa rantang sendiri dan tidak lupa memakai masker. Namun, aku masih sering memasak kok. Cuma ada hari-hari ketika memasak menu sederhana terasa melelahkan–misalnya hanya sekadar bikin orak-arik.

Awal-awal, aku tiap hari melakukan gerakan yoga suryanamaskar. Minimal 25 menit setiap hari, dilanjutkan jalan pagi sambil berjemur. Rajin kan? Tapi sekarang, rebahan di kasur sambil main game atau membuka medsos betul-betul menggoda. Yang terjadi adalah, aku merasa tidak segesit kemarin-kemarin. Dengan aktivitas harian lebih banyak duduk, rebahan tentu bukan perpaduan yang tepat.

Sepertinya lama-kelamaan, tingkat keteganganku menghadapi corona mulai kendur. Yang kukhawatirkan, aku juga makin tidak waspada. Seperti pernah kubaca dalam sebuah buku, menunggu musuh datang saat perang adalah saat yang membosankan. Padahal kalau masa wabah begini, mestinya jangan sampai si musuh datang. Tak ada yang mau sakit. Tetapi aku masih rajin cuci tangan kok. Untung saja kebiasaan cuci tangan ini menempel cukup erat.

Aku lalu bertanya-tanya, apakah aku berubah? Seperti pendapatku yang dulu-dulu, aku pikir manusia itu sulit berubah. Cenderung begitu-begitu saja. Berubah itu tidak enak. Seperti menyuruh anak kecil yang lagi enak-enaknya main game di sofa, lalu disuruh menyapu seluruh rumah. Lho, gak ndelok aku lagi lapo? Sampeyan ae sing nyapu, Rek! Pasti banyak sekali alasan untuk menolak. Dorongan dari luar memang bisa mengubah seseorang, tetapi kesadaran dari dalamlah yang betul-betul menghasilkan perubahan. Perubahan yang timbul dari kesadaran itulah yang biasanya lebih langgeng.

Di satu sisi, timbul sebersit kesadaran bahwa bila aku rutin beryoga, keluhan pada kakiku akan berkurang–yang mana sangat menguntungkan aku. Namun, menggerakkan kaki dan tangan untuk menggelar matras saja kadang diganduli banyak godaan. Rasa-rasanya butuh niat sebesar galaksi untuk mengusir keengganan.

Talang dan (te)Tangga

Sudah lama aku merasa was-was dengan talang rumahku. Masih ada sisa abu letusan gunung di sana. Entah abu Merapi atau Kelud, aku tak tahu persis. Walau jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi cukup untuk menumbuhkan satu-dua rumput kecil. Aku pikir kalau ada hujan deras, tumpukan abu yang menjelma menjadi semacam tanah dan lumut akan ikut arus. Tetapi coba pikir, sudah berapa lama ya letusan gunung itu terjadi? Sudah melewati hitungan tahun, tetapi toh sisa abu itu masih ada.

Aku bukannya tidak berusaha membersihkannya. Aku sudah mencoba menggosoknya dengan tongkat. Tetapi tidak hilang juga. Aku hanya bisa pasrah. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan talang air itu.

Namun, kemarin hari lalu, saat hujan deras, mendadak aku dikejutkan dengan suara keras seperti barang jatuh. Waduh, apa ya? Apakah ada genteng jatuh? Apakah ada tembok jebol? Aku sudah berpikir yang bukan-bukan. Maling? Hujan-hujan begini?

Ternyata talangku patah! Eh, bukan patah sih, tetapi klem sambungannya lepas, jadi satu bagian talang turun dan menimbulkan air terjun kecil yang dengan sukses menciprat ke ruang tengah. Bagus banget, dah!

Malam itu juga aku mengirim WA kepada tetanggaku yang biasa kumintai tolong untuk membereskan masalah rumah. Untungnya berjodoh. Si bapak menyanggupi hari ini membereskan talang. Bapak ini cukup sibuk biasanya dan dia adalah “pria panggilan” yang banyak pelanggannya.

Pagi tadi aku terbangun dan langsung ingat pada talangku. Lalu aku teringat bahwa aku tidak punya tangga yang cukup tinggi untuk mencapai talang. Nanti si bapak tukang itu pakai tangga apa dong untuk membetulkan talang? Sebetulnya aku punya tangga, tetapi ada tetanggaku yang lain yang meminjam tangga itu dan lama sekali tidak dikembalikan. Malahan dia bilang, “Tangganya aku rawat di rumahku ya?” Menyebalkan kan? Dan bodohnya aku iyain saja waktu itu. Pikirku, ah nanti beli tangga lagi saja.

Tetapi saat talang rusak di masa wabah di mana aku mesti berhemat-hemat supaya dompet tak cepat sekarat, membeli tangga baru bukan pilihan. Aku pun memilih menagih tangga ke tetangga yang notorious itu. Dan tetanggaku bilang, tangga itu tidak ada padanya. Dipinjam saudaranya yang tinggal di daerah utara sana. Tetapi aku niatku menagih tidak surut. Toh tangga itu milikku, kan? “Mintta tolong tangganya dikembalikan, ya Bu. Saya sedang butuh. Kalau pagi ini tidak bisa, saya tunggu sampai nanti siang. Betul ya, nanti siang saya tunggu.” Dua kali kutegaskan supaya dia mengembalikan tangga. Dalam hati aku sebetulnya merasa dimanfaatkan oleh tetangga yang notorious ini. Sebagai pendatang yang beragama minoritas (hanya 1-2 rumah yang beragama minoritas di sini, dan beberapa kali kudengar bahwa mereka “kecolongan” atas kehadiran kami), aku sempat merasa sebagai warga kelas dua. Tapi aku pikir, aku tak mengganggu mereka. Jadi, biarlah. Selama ini tetangga-tetangga terdekat cukup baik walau kadang ada yang yaaah… gitu deh, tetapi hal itu tak terlalu kupikirkan. Saat ini aku berusaha meminta hakku. Dan aku tidak salah dong ya?

Singkat kata, bapak tukang yang hendak membetulkan talang sudah siap. Betul perkiraanku, tak ada tangga. Tangga yang ada tidak cukup tinggi. Sementara tangga yang kutagih belum tiba. Lalu bagaimana? Untungnya ada tetangga satu lagi yang punya tangga cukup tinggi dan kokoh. Talang pun diturunkan dan dibersihkan! Ah, aku jadi lega saat aku bisa ikut membersihkan talang yang sudah lama kucemaskan karena sisa abu gunung masih menggumpal itu. Aku ikut menyikatnya sampai bersih!

Siang tadi, sebelum jam 12, talangku sudah beres dan rapi. 🙂 Lalu tangga milikku yang kutagih itu akhirnya dikembalikan–setelah talang dibetulkan. Happy ending ceritanya. Dan aku siap menanti hujan–soalnya hari ini panaaasss sekali!