Jangan Menunggu Sakit untuk Tetap Sehat

Hari ini aku batal masak untuk menu makan malam. Tadinya aku berniat masak tumis sawi. Tapi karena sore tadi diberi tahu Bapak bahwa ada kerabat yang sakit, jadilah aku dan kakakku ke rumah sakit untuk bezuk.

Sebut saja Om W. Katanya dia mengalami penyumbatan di otak. Yang tadi kulihat kaki dan tangannya lemas (aku lupa yang lemas ini sisi kiri atau kanan). Lalu, ada lendir yang sulit keluar sampai harus dilubangi tenggorokannya. Singkat kata, aku nggak tega melihatnya.

Kata istri Om W, awal sakitnya beliau adalah hipertensi. “Kalau makan enak suka sembunyi-sembunyi,” keluh istrinya. “Jadinya ya begini.”

Dalam perjalanan pulang, aku mengobrol dengan kakakku membicarakan Om W. Dulu beliau tampak sehat. Kalau melihat rumahnya yang besar dan luas, tergolong sangat mampu. Tapi kalau melihat kondisi kesehatannya sekarang, semua seperti tidak ada gunanya.

Kakakku bilang, mendengar penuturan istri Om W tentang sulitnya Om W mengatur diet, maka selagi masih sehat melatih penguasaan diri itu penting. Minimal soal mengatur pola makan–mana yang harus dimakan dan mana yang perlu dihindari. Tapi manusia kan sukanya nunggu sakit dulu, baru sibuk diet. Itu pun mesti diawasi oleh anggota keluarga terdekat, entah pasangan, anak, atau saudara.

Kalau datang ke rumah sakit dan melihat kondisi orang-orang sakit, rasanya sungguh yang kuminta hanyalah sehat. Diberi kesehatan, mestinya bisa berbuat lebih banyak. Dan yang terpenting adalah mempertahankan kesehatan. Jangan menunggu sakit untuk menjaga kesehatan. Peringatan ini penting untuk selalu kuingat dan dijalankan.

Advertisements

Apa yang Kamu Lakukan Saat Masuk Angin?

Hari-hari ini Jogja sering sekali hujan. Rasanya hampir setiap hari hujan. Kalau tidak hujan, mendung-mendung lah. Udara menjadi lembab, agak dingin. Yang agak repot tentu saja soal cucian. Lama keringnya.

Ditambah lagi beberapa waktu lalu aku mendapati ada kamar yang bocor. Hadeuh… Mesti memanggil tukang nih. Untung ada tetangga yang bisa dimintai tolong.

Di rumah aku dikepung penderita flu. Kakakku flu. Oni sempat batuk-batuk lagi. Aku sendiri masih bindeng dan tenggorokan kadang terasa tidak enak. Aku sempat berpikir, apa aku minum obat radang ya? Eh, tapi tempo hari ketika aku flu parah, aku mendapat informasi bahwa obat radang ternyata malah menurunkan imunitas tubuh. Jadi, sebaiknya tidak sembarangan mengonsumsi obat radang (tanpa resep dokter). Memang mestinya meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau memang parah, mendingan ke dokter saja.

Beberapa waktu lalu aku chatting di WA dan mendapati bahwa temanku masuk angin. Ow… ow… Kasihan. Sampai muntah pula. Aduh. Mungkin cuaca yang kurang bersahabat ini tidak hanya terjadi di Jogja, tapi sampai di seberang pulau. Waktu kutanya, dia bilang dia mau tidur brukut (baca: pakai selimut tebal biar hangat). Aku sempat menyarankan dia supaya minum obat anti masuk angin yang dijual bebas. Aku biasanya minum Tolak Angin. Tapi dia bilang, dia tidak suka. Ya, sudahlah. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengatasi masuk angin. Semoga cepat sembuh ya, Kakaaak….

Dari informasi yang kudapat saat browsing, masuk angin sebenarnya gabungan dari kelelahan fisik, terlambat makan, dan stres pikiran. Akibatnya terbentuk gas berlebihan di lambung dan usus. Lalu usus terasa penuh, mulas, mual, dan… ujung-ujungnya bisa muntah. Biasanya orang masuk angin karena terpapar udara dingin. Misalnya, di ruangan ber-AC terlalu lama atau kehujanan. Selain itu, orang bisa masuk angin karena kurang tidur atau kurang istirahat. Jadi, ketika bangun pagi esok pagi, badan terasa tidak enak.

Aku sendiri sekarang berusaha tidak tidur terlalu malam. Paling malam jam 23.00 lah. Kalau bisa jam 22.00 sudah bobok manis. Mending bangun pagi-pagi daripada begadang lalu besoknya mangsuk ngain. Huh. Mana enak?

Mencegah masuk angin itu penting buatku. Soalnya kalau sudah masuk angin, bisa berlanjut deh. Bisa flu. Bisa diare. Kalau flu, aku takut kalau sampai batuk. Lama deh nanti sakitnya. Jadi, penting banget bagiku menjaga badan supaya tidak masuk angin.

Tapi kalau telanjur masuk angin bagaimana dong?

Pertama-tama, aku selalu punya stok Tolak Angin. Penting tuh. Selama ini aku paling cocok minum itu. Jarang mencoba yang lain-lain juga sih. Kalau badan sudah terasa agak tidak enak, cepet-cepet minum si tolak bala itu deh. Lalu selimutan brukut dan tidur.

Kedua, pakai bantal panas. Itu loh, bantal listrik yang bisa jadi anget. Ini membantu banget buatku. Dulu, aku demen banget kerokan. Tapi kebiasaan itu sudah lama kuganti dengan memakai bantal panas saat tubuhku terasa dingin. Paling enak bantal itu ditaruh di punggung. Rasanya kaya dipijit.

Ketiga, minum wedang jahe. Biasanya aku bikin sendiri. Lebih mantep rasanya. Aku biasanya bikin wedang menggunakan slow cooker. Praktis. Tidak usah nungguin. Tidak khawatir luber. Seringnya aku tambahkan kunyit dan sereh ke wedang jahe itu. Jadinya bukan wedang jahe lagi dong ya? Ha ha. Apalah namanya, pokoknya wedang aja deh.

Keempat, mandi air hangat. Aku jarang banget mandi air hangat. Tapi kalau lagi masuk angin, aku memaksa diri mandi air hangat.

Kelima, makan sup. Atau makan apa pun yang berkuah dan panas. Nyam! Yang penting perut kenyang. Badan hangat.

Kelima, jalan pagi. Buatku ini salah satu aktivitas yang membantu menghangatkan tubuh. Paling enak jalan pagi saat matahari masih belum terlalu panas. Jam 6 pagi paling pas, deh. Jadi, badan akan terpapar sinar matahari yang hangat.

Begitulah caraku untuk mengusir si angin yang membuat badan tidak enak. Kamu punya tips lain?

Bubur Ayam dan Bonus Cerita Seorang Nenek

Sudah sejak bulan puasa lalu aku “puasa” makan bubur ayam. Aku cukup suka bubur, dan kadang-kadang beli bubur di abang penjual bubur yang tiap pagi lewat depan rumah. Tetapi bulan puasa lalu, abang penjual bubur ini ikut libur. Mungkin ia berpikir tak akan ada yang membeli buburnya karena banyak orang puasa. Padahal, aku sebenarnya masih mau beli buburnya untuk sarapan. 🙂

Selain abang penjual bubur yang lewat depan rumah, tak terlalu jauh dari rumahku, di jalan Tenggiri, ada kedai bubur. Di bagian depan tertulis bubur ceker. Awalnya aku tertarik karena ada embel-embel “ceker” tersebut. Tetapi belakangan aku justru lebih memilih bubur telor. Jadi, di bubur ini diceploki telor ayam kampung yang masih mentah. Lalu telor yang masih mentah itu “dikubur” dengan bubur yang masih panas. Dengan begitu telor itu menjadi setengah matang. Karena aku suka telor setengah matang, aku belakangan lebih memilih bubur telor daripada bubur ceker. Kurasa tidak semua orang suka bubur telor semacam itu. Sebagian orang yang kutemui mengatakan tidak suka. Amis katanya. Dan memang harganya lebih mahal daripada bubur gerobakan yang dijual oleh abang-abang. Yah, selera orang memang beda-beda ya. Aku dari kecil memang suka telor setengah matang. Bahkan waktu kecil, waktu sakit aku diminta makan telor ayam kampung yang masih mentah. Dan, doyan-doyan saja tuh. Dan puji Tuhan, selama ini tidak mengalami efek yang tidak mengenakkan setelah makan telor mentah atau setengah matang. Memang aku tidak sering memakannya. Belum tentu juga sebulan makan satu telor setengah matang. Bahkan belum tentu juga dalam seminggu makan telor. Loh, kok malah membahas telor sih? Hehehe.

Jadi, sudah beberapa hari ini aku pengin makan bubur ayam. Tapi aku bukan orang yang langsung menuruti keinginan yang muncul begitu saja. Walaupun tiap pagi mendengar abang bubur memukul-mukul mangkuknya, aku tetap bergeming. “Ah, besok saja deh makan buburnya,” begitu pikirku selalu.

Pagi tadi aku sengaja ikut jalan suamiku. Tiap pagi dia mesti keluar gang lalu menunggu angkot yang akan membawanya ke terminal, tempat ia biasa naik bus patas ke kantor. Aku lalu ikut dia sampai di ujung jalan tempat biasa menunggu angkot. Tapi aku tidak ikut naik angkot, aku lanjut jalan pagi di seputar jalan Tawes. Katanya jalan kaki itu olahraga yang bagus, kan? Siapa tahu jadi agak kurusan hehe. Tapi sebelum berangkat, suamiku memberiku uang untuk beli bubur. Hehehe. Baik kan dia? 😀 Dan kali ini aku beli bubur telor di jalan Tenggiri.

Waktu sampai di kedai bubur itu, si mbak yang biasa melayani pembeli tidak ada. Tak pembeli yang lain pula. Walaupun aku sudah bilang “Permisi…” beberapa kali ke arah dalam (di situ tak ada bel), tak ada tanda-tanda orang yang muncul. Aku duduk sebentar, berharap si mbak muncul. Karena tak muncul juga, aku memberanikan diri masuk ke dalam. Kulihat ada nenek sang pemilik rumah. “Oh, sebentar ya!” katanya ramah. “Maaf tidak dengar. Dan saya sedang sakit kaki nih,” katanya.

Aku pun menunggu lagi. Tak lama si mbak mengangsurkan bubur telor kepadaku. Saat aku hampir selesai makan, sang nenek datang dan duduk di sebelahku. Dia lalu cerita sudah beberapa hari kakinya sakit. “Pegel banget,” ujarnya. Aku tanya, apakah ia habis jatuh. Dia mengatakan tidak. “Barangkali karena umur,” jawabnya sambil terkekeh. Nenek ini berbadan kecil dan berkulit kuning langsat. Wajahnya masih menunjukkan kecantikan di masa muda. “Entah kenapa kaki saya tiba-tiba sakit. Umur saya sudah 70 tahun, jadi barangkali wajar kalau sakit. Tetapi Kakek itu umurnya sudah 74 tahun; dia tidak pernah sakit. Tidak pernah ada keluhan apa-apa,” ujarnya.

“Memang Kakek itu makannya sehat,” tambahnya. “Tiap pagi makan havermot dan minum susu. Masih olahraga. Dan sampai sekarang masih diperbantukan di kantornya. Naik mobil juga kadang tak mau pakai sopir; nyetir sendiri,” demikian cerita nenek itu. Ada nada bangga terhadap suaminya. “Dia juga mengurangi makan daging. Kalau ikan, dia suka.”

Aku lalu teringat pada kata-kata pakdeku yang sudah seusia nenek itu. Pakde mengatakan bahwa di usia tua, akan terlihat bagaimana seseorang menjaga kesehatannya di masa muda. Kalau mendengar cerita sang nenek tentang suaminya, memang terlihat bahwa sang kakek menjaga kesehatan. Ia menjaga makanan dan juga masih berolahraga.

Melihat atau mendengar kabar bahwa orang yang sudah tua tetap sehat adalah hal yang menyenangkan bagiku. Sekarang tak jarang kudengar orang yang masih muda pun sakit macam-macam. Ada yang sudah kadar kolesterolnya tinggi, darah tinggi atau kadang darah rendah, atau berbagai keluhan kesehatan lainnya.

Kalau dari cerita nenek tadi tentang suaminya, aku memetik dua hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan. Yang pertama memperhatikan kualitas makanan yang kita konsumsi, dan yang kedua adalah olahraga. Wah, rasanya dua hal ini pun perlu kucermati dari sekarang. Untuk soal makan, kadang aku masih abai dalam memperhatikan gizinya. Aku sering tergoda untuk mementingkan segi rasa, gizi nomor dua. Yang penting enak. Padahal belum tentu yang enak itu memberi manfaat ke tubuh. Dan memang belum tentu juga sih makanan sehat itu tidak enak. Asal bisa mengolahnya, kurasa enak ya. Aku juga kadang masih malas olahraga. Tapi setidaknya dalam minggu ini aku sudah jalan kaki selama hampir 30 menit sebanyak dua kali lo! 😀 Untung di sini aku masih bisa jalan-jalan di tempat yang tidak banyak polusinya. Dan semoga acara jalan kaki ini tidak berhenti sampai minggu ini saja, ya.

Kalau kamu, apa yang sudah kamu lakukan untuk menjaga kesehatan? Lebih baik menjaga kesehatan kan daripada membayar mahal untuk ke dokter? 😉

Silakan Merokok, Tapi Jangan Minta Sokongan Duit Negara

Kemarin sore, waktu mendengarkan I-Radio, dikabarkan bahwa Pemprov DKI tidak akan memberikan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK-Gakin) maupun Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) kepada pemegang kartu yang merupakan perokok berat. Tadi pagi, hal serupa diberitakan oleh KBR 68 H. Kenapa bisa begitu? Alasannya adalah 70% perokok (berat) berasal dari kalangan kelas bawah, alias orang miskinlah yang selama ini paling banyak mengonsumsi rokok. Jadi kalau ada perusahaan rokok yang bisa menjadi besar dan kelihatan “wah”, orang-orang yang bekerja di sana sebaiknya berterima kasih kepada orang-orang miskin yang menjadi pelanggan tetap produk mereka. (Du … du … du …. siapa ya? :D) Bahkan bagi mereka, rokok sudah jadi kebutuhan nomor dua–kalau tidak salah setelah kebutuhan untuk membeli makan. Logikanya begini, kenapa pemerintah mesti peduli dengan kesehatan mereka jika mereka sendiri tidak peduli dengan kesehatan diri mereka sendiri? Dengan kata lain, ini kan tindakan meracuni diri sendiri yang disengaja. Lagipula, uang untuk subsidi kesehatan mereka itu kan uang negara. Uang kita-kita juga. Bukan uang yang mak pluk… turun dari langit. Ya, kurang lebih begitulah yang aku dengar dari radio dari kemarin dan pagi tadi.

Aku tak tahu bagaimana pelaksanaannya di lapangan nantinya. Dan bagaimana caranya mengecek apakah si X perokok atau bukan? Aku sendiri kadang kecele ketika melihat seseorang yang dari tampangnya tidak kelihatan perokok, tapi ternyata dia merokok juga. Mungkin tidak sering sih–sesekali saja. Tapi kan tetep saja dia perokok.

Aku memang tidak suka dengan perokok. Tapi lebih jauh lagi kupikir, merokok atau tidak itu pilihan. (Termasuk memilih pasangan yang merokok atau tidak :p) Kalau mau merokok ya silakan saja, asal tidak mengganggu orang lain. Minimal tidak merokok di ruangan publik sehingga mengganggu orang-orang di sekitarnya yang berhak mendapatkan udara bersih. Dan kalau kemudian pemerintah mengeluarkan seperti yang diberitakan oleh radio tadi, itu kudukung banget deh!

Tak lama setelah aku mendengarkan radio tadi pagi, majalah Newsweek langganan kami datang. Dan ndilalah, ada sebuah artikel yang pas cocok dengan kebijakan pemerintah tadi. Judulnya: Crimes of The Heart, ditulis oleh Walter C Willet dan Anne Underwood. Apa isi artikel itu? Ini adalah feature tentang kota Albert Lea, Minnesota, Amerika. Jadi ceritanya, penduduk kota itu tahun kemarin tidak lebih sehat daripada penduduk Amerika lainnya. Tapi kemudian kota itu menjadi kota Amerika pertama yang menandatangani AARP/Blue Zones Vitality Project. Itu adalah proyek untuk menjadikan kotanya memiliki kebiasaan yang sehat. Gagasan ini dilontarkan oleh Dan Buettner, yang menulis buku The Blue Zones. Di buku itu dia mengemukakan kebiasaan-kebiasaan yang sehat. Tujuannya? Supaya orang-orang Amerika mengadopsinya. Caranya bagiamana? Bukan dengan memaksa orang untuk berdiet atau berolah raga. Lha terus? Tapi dengan mengubah lingkungan mereka sehingga mendukung gaya hidup yang sehat.

Perubahan apa saja yang sudah dilakukan kota itu? Kota itu membangun jalan yang menghubungkan kompleks perumahan penduduk dengan sekolah dan pusat perbelanjaan. Lalu juga dibuat jalan untuk rekreasi di sekeliling danau dan akan dibuat taman yang bisa dinikmati oleh masyarakat. Restoran-restoran mengganti menu mereka dengan menu yang sehat. Sekolah mengeluarkan larangan bagi murid-muridnya untuk makan di koridor–jadi, anak-anak tidak jajan. Lebih dari 2.600 orang dari 18.000 penduduk menjadi sukarelawan untuk menyeleksi apa saja yang menyehatkan jantung. Piring-piring superbesar yang memungkinkan orang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar dieliminasi. Lalu mereka membentuk “walking schoolbuses” untuk mendampingi anak-anak berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. (Kalau naik sepeda sebenarnya asyik juga ya.)

Hasilnya? Dalam 6 bulan, orang-orang yang berpartisipasi dalam kegiatan itu berat badannya turun rata-rata 1,14 kg dan meningkatkan harapan hidup mereka 3,1 tahun. Hal ini bisa terjadi berkat pengaruh jaringan sosial (social network). Sebenarnya diet dan olahraga rutin itu gagal “melakukan tugasnya”–untuk membuat kita jadi lebih sehat–bukan karena kurangnya semangat, tetapi karena lingkungan sekitar tidak mendukung gaya hidup sehat. Sebenarnya kalau lingkungan kita mendukungnya dan semua–atau hampir semua–orang bergaya hidup sehat, sepertinya kita akan jadi terpengaruh untuk menjalankan gaya hidup sehat kan? Misalnya, kalau semua orang di rumah rajin berolahraga, kurasa aku juga akan ikut rajin olahraga juga hehehe. (Ketahuan kalau males olahraga :p).

Dalam gaya hidup sehat, tentu tak ada ruang bagi rokok. Kurasa sih, bukan soal orang (miskin) itu nggak mau berhenti merokok, tetapi karena lingkungan di sekitarnya sangat memungkinkan dia merokok dengan bebas. Harga rokok masih terjangkau. Larangan merokok di area publik tidak ditegakkan. Bahkan pernah aku melihat seorang polisi asyik merokok di dekat tanda dilarang merokok.

Tapi kupikir barangkali ada satu poin yang bisa dikemukakan: gaya hidup sehat itu pilihan. Orang bisa memilih untuk merokok atau tidak. Dan pemerintah memiliki “kuasa” yang sangat cukup untuk mendukung terbentuknya gaya hidup sehat itu. Mungkin ada yang dikorbankan, dan yang penting: mau atau tidak?