Bahagia?

Aku kadang memperhatikan iklan beberapa produk. Salah satunya adalah iklan produk makanan. Biasanya iklan yang ditayangkan menggambarkan suasana kekeluargaan–saat keluarga duduk santai bersama. Lalu, untuk menyemarakkan suasana, dimunculkan produk tersebut. Jadi, produk itu identik dengan kegembiraan, kebahagiaan, atau sukacita kebersamaan.

Melihat iklan itu, kadang aku berpikir bahwa para produsen suatu produk itu mencoba mendefinisikan kebahagiaan kita. Kebahagiaan itu bisa berarti kebersamaan bersama keluarga, atau saat berdua dengan kekasih, atau saat berkumpul bersama teman-teman.

Nah, saat akhir minggu kemarin, aku dan suamiku memutuskan untuk menginap ke rumah salah satu omku yang di Bekasi. Acara kumpul-kumpul ini semakin meriah setelah satu per satu keluarga tanteku datang, lalu disusul keluarga omku yang lain. Tempat untuk kumpul-kumpul itu tak jauh-jauh dari depan TV dan meja snack. Tanteku memang top deh kalau urusan makanan. Meja pendek di depan TV itu penuh dengan berbagai kue, kacang-kacangan, dan buah. Gimana aku nggak tambah gendut kalau di sana? :p

Seketika ingatanku melayang pada iklan-iklan yang ada di televisi itu. Aku berpikir, apakah ini yang namanya kebahagiaan? Sebenarnya apa yang aku rasakan?

Diam-diam aku mencoba meraba hatiku. (Yaelah! Bahasaku ini lo!) Apakah aku senang? Apakah ada semacam getar-getar gimanaaaa gitu?

Sebenarnya … kok aku tidak merasakan apa-apa ya? (Duh, jangan-jangan bisa dipentungin om-om dan tante-tanteku ya kalau jawabanku seperti itu?) Maksudku, perasaanku datar-datar saja. Tidak seneng buanget, tetapi juga tidak sedih.  Ya kadang kalau ada yang melucu, aku ikut tertawa.  Tapi, lalu aku berpikir apakah ini ya yang namanya bahagia? Atau parameter perasaanku saja yang dodol? Entahlah.

Karena aku sendiri tidak puas dengan jawabanku itu, aku lalu berpikir ulang lagi. Jadi sebenarnya, bagaimana caranya supaya aku bisa merasakan kebahagiaan seperti yang ditayangkan oleh iklan-iklan itu?

Setelah mencoba merenung di sela-sela keriuhan obrolan keluarga itu, aku menemukan jawabannya. Aku tak tahu ini jawaban klise atau jawaban ala kadarnya. Tapi setidaknya aku cukup puas. Caranya adalah menikmati setiap detik yang berlangsung. Hmm … sesederhana itukah? Aku tidak tahu. Tapi mungkin saja begitu. Setidaknya dengan menikmati setiap detik yang berlangsung, aku jadi merasa semuanya tidak tergelincir begitu saja. Mungkin ini seperti kalau kita makan, kita tidak cuma mengunyah dan langsung menelan makanan. Tetapi benar-benar menyecap setiap rasa yang mampir di lidah.

Aku lalu teringat kata-kata temanku. Kata dia, satu detik memiliki kedalaman waktu yang sangat luas. Itu katanya lo. Tapi mungkin ada benarnya juga.