Butuh Membuat Jarak

Kemarin aku membaca di status temanku begini kira-kira: Sesuatu yang kamu benci itu mungkin sesuatu yang membutuhkan lebih banyak cinta darimu.

Membaca itu aku jadi tertegun.

Hari-hari belakangan ini aku sedang bruwet. Aku marah, kesal, dan benci dengan beberapa kerabat ibuku. Mungkin sudah sampai tahap muak. (Aku jarang banget kan nulis seperti ini. Tapi aku butuh “tempat sampah” dan apa yang terjadi akhir-akhir ini perlu kuingat untuk pembelajaran.) Mengapa mereka hanya memikirkan materi dan bahkan sampai menyengsarakan orang lain? Yang membuatku muak adalah semua itu dibungkus dengan kata-kata agamis dan dilakukan orang-orang yang menyandang gelar tinggi.

Tapi ketika membaca status temanku itu, aku rasanya jadi sangat sedih. Aku sedih mengingat mereka dan diriku sendiri. Aku sempat bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya kurasakan? Do we lack of love? Aku sampai benar-benar kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang yang mestinya kuhormati.

Ya, mungkin aku yang kurang mencintai mereka. Tetapi aku butuh diam dan membuat jarak sejenak.

Advertisements

Jangan Menunggu Sakit untuk Tetap Sehat

Hari ini aku batal masak untuk menu makan malam. Tadinya aku berniat masak tumis sawi. Tapi karena sore tadi diberi tahu Bapak bahwa ada kerabat yang sakit, jadilah aku dan kakakku ke rumah sakit untuk bezuk.

Sebut saja Om W. Katanya dia mengalami penyumbatan di otak. Yang tadi kulihat kaki dan tangannya lemas (aku lupa yang lemas ini sisi kiri atau kanan). Lalu, ada lendir yang sulit keluar sampai harus dilubangi tenggorokannya. Singkat kata, aku nggak tega melihatnya.

Kata istri Om W, awal sakitnya beliau adalah hipertensi. “Kalau makan enak suka sembunyi-sembunyi,” keluh istrinya. “Jadinya ya begini.”

Dalam perjalanan pulang, aku mengobrol dengan kakakku membicarakan Om W. Dulu beliau tampak sehat. Kalau melihat rumahnya yang besar dan luas, tergolong sangat mampu. Tapi kalau melihat kondisi kesehatannya sekarang, semua seperti tidak ada gunanya.

Kakakku bilang, mendengar penuturan istri Om W tentang sulitnya Om W mengatur diet, maka selagi masih sehat melatih penguasaan diri itu penting. Minimal soal mengatur pola makan–mana yang harus dimakan dan mana yang perlu dihindari. Tapi manusia kan sukanya nunggu sakit dulu, baru sibuk diet. Itu pun mesti diawasi oleh anggota keluarga terdekat, entah pasangan, anak, atau saudara.

Kalau datang ke rumah sakit dan melihat kondisi orang-orang sakit, rasanya sungguh yang kuminta hanyalah sehat. Diberi kesehatan, mestinya bisa berbuat lebih banyak. Dan yang terpenting adalah mempertahankan kesehatan. Jangan menunggu sakit untuk menjaga kesehatan. Peringatan ini penting untuk selalu kuingat dan dijalankan.

Cerita Lebaran 2018

Seperti biasanya, Idulfitri kulalui dengan di rumah saja. Maksudnya, aku tidak ke luar kota. Membayangkan penuhnya kendaraan umum membuatku enggan untuk mudik. Hanya berkunjung ke tetangga kiri-kanan. Kebiasaan ini rasanya tidak bisa ditinggalkan ya. Walau tidak merayakan Idulfitri, aku dan keluargaku tetap ikut “ujung-ujung” ke tetangga. Yang dekat-dekat saja, terutama yang sudah sepuh. Selain itu aku ke rumah Maya (iparku) di Ngasem untuk bertemu Budhe dan Tante yang berlebaran.

Saat lebaran, suguhan yang paling ditunggu-tunggu biasanya adalah tape ketan. Tapi kali ini tape ketan kurang terasa gregetnya karena tape buatanku ternyata lebih enak. Hahaha. Aku mencicipi tape di dua rumah tetanggaku, dan agak kecewa. Tape itu kurasa belum terlalu lama diperam. Teksturnya kurang lembut dan kurang berasa alkoholnya.

Lebaran kali ini keluargaku mendapat opor, krecek, kering tempe, lontong, dan ketupat. Semuanya itu dari tetangga dan Budhe. Jadi, aku tidak perlu memasak setidaknya selama 1 hari. Padahal aku sudah menyetok sayuran, takut nanti pas lebaran tidak ada yang jual makanan dan sayuran segar. Sebelum lebaran hari H aku sudah bertanya ke penjual makanan yang biasa kudatangi. Ada yang sebagian sudah buka pada H+2. Kulihat rata-rata penjual bakso sudah buka juga. Jadi, sebetulnya cukup aman jika aku tidak masak pun.

Opor dan teman-temannya itu menghiasi meja makan di rumah sampai 2 hari. Setelah itu, mulut dan perut rasanya kangen sayuran. Untungnya di kebun belakang bisa memetik kecombrang dan sayur pepaya papua (entah apa nama latinnya, yang jelas ini sayur andalan kalau lagi malas pergi beli sayur di pasar/warung). Tinggal beli toge, wortel, dan tempe. Sambel pecel masih ada di kulkas.

Nah, bagaimana lalu lintas Yogya selama lebaran? Saat H-1, jalanan agak lengang. Hari itu aku pergi ke rumah temanku di dekat Plengkung Wijilan. Aku tidak mengalami kemacetan yang berarti. Malah rasanya agak lengang. Ini di daerah kota ya. Tapi menurut laporan temanku yang lain, ring road lumayan macet. Mungkin jalanan mulai dipenuhi oleh para pemudik dari luar kota.

Waktu lebaran hari pertama, jalanan benar-benar sepiii. Seneng deh. Jadi, aku ke Ngasem cukup cepat. Nggak ada macet-macetnya sama sekali.

Lebaran hari kedua, aku nggak pergi-pergi. Lebaran hari ke-3, malamnya aku pergi nonton Ketoprak Conthong yang judulnya Sang Presiden di Societet. Jalanan maceeet. Beneran aku takjub melihat Yogya bisa semacet itu. Untungnya aku naik motor, jadi bisa mlipir lewat gang dan jalan kampung. Bahkan sampai pukul 11 malam pun jalanan di tengah kota masih ramai. Mobil-mobil luar kota memenuhi jalanan. Dalam hati aku bertanya-tanya, “Kalau semacet ini, apanya yang mau dinikmati?” Dan sayangnya kendaraan umum di Yogya ini buruk. Amat sedikit. Jadi, tidak heran kalau jalanan penuh mobil pribadi.

Ah, kalau aku sih… libur lebaran paling enak sebetulnya di rumah saja. Hasilnya? Ada terjemahan yang selesai dan beberapa potong sabun. Hehe. Bagaimana cerita lebaranmu?

Kapan Kamu Merasa Tua?

Sampai sekarang aku merasa umurku seakan berhenti sampai masa SMA atau kuliah. =)) *Minta ditimpuk.* Aku belum merasa tua. Hanya sayangnya rambutku yang sudah putih makin banyak saja, jadi mungkin wajah bisa dibilang terlihat masih muda, tapi rambut? Hmm… itu adalah kenyataan yang kadang kurasa cukup menjengkelkan. Hampir semua keluarga besarku yang seumur denganku pun begitu (para sepupu, maksudku). Jadi, kuterima saja.

Beberapa bulan lalu, aku ditelepon ibuku. “Ini kain kebaya mau dikirim ke Jakarta atau dijahitkan ke penjahit langganan Ibu di Madiun?” Loh, kebaya buat apa? Ternyata keponakanku mau menikah. Iya, keponakan, bukan sepupu. Mendengar kabar itu aku mendadak merasa disadarkan bahwa yah… ternyata memang usiaku tidak berhenti pada angka 17.

Sejak Simbah tidak ada, keluarga besarku jarang berkumpul. Dulu hampir pasti lebaran adalah saat kami berkumpul–entah bagi yang merayakan atau tidak. Yang penting adalah sowan dan sungkem sama Simbah. Jadi ketika ada acara kawinan kami baru berkumpul. Nah, saat acara kawinan ponakanku minggu lalu kami akhirnya berkumpul plus update berita. Bukan berita heboh sih, tapi bagiku cukup mengagetkan. Misalnya sepupuku yang rasanya baru beberapa waktu lalu SMP sekarang sudah mau kuliah, ada sepupuku yang kuliahnya sudah hampir selesai, ada yang kemarin rasanya masih TK sekarang sudah lulus SD. Kaget nggak sih?

Dulu, waktu aku masih kecil, aku suka sebel kalau para sesepuh bertanya kepadaku: “Sekarang kelas berapa?” Ampun, deh. Rasanya itu pertanyaan yang nggak penting banget. Tapi sekarang aku sadar itu pertanyaan penting bagi orang yang sudah tidak lagi sekolah, yang tidak muda lagi, yang mungkin merasa umur mereka berhenti pada angka 17 atau 25. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang akan menyadarkan mereka bahwa waktu memang berjalan menggilas kelincahan dan mungkin kekonyolan yang mungkin sedikit-sedikit perlu dikurangi demi bisa memberi teladan yang lebih baik kepada generasi di bawahnya.

Kadang aku berpikir, apakah kita perlu awet muda? Secara fisik, tentunya tidak semua orang bisa tampak awet muda. Konon, kalau banyak makan sayur dan buah, plus olahraga semacam yoga begitu kita bisa terlihat awet muda. Aku pernah lihat sih guru yoga yang wajahnya terlihat seperti masih gadis, tapi ternyata anaknya sudah kuliah. Tapi aku juga jadi ingat Sr. Ben, suster kepala asramaku dulu. Waktu aku masuk asrama, aku melihat suster itu sudah tua. Tapi sekarang, dari foto-foto unggahan beberapa teman yang bertemu beliau akhir-akhir ini, wajahnya tidak berubah. Kalau soal penglihatannya yang kabur, dari dulu sudah kabur sih. Memang mata beliau bermasalah. Tapi kurasa daya ingatnya masih baik. Coba deh tanya nama anak-anak asrama kepadanya, aku yakin beliau masih hapal.

Ah, ya… kadang aku lupa bahwa waktu memang benar-benar berjalan. Kadang aku lupa bahwa bergantinya hari juga memakan jatah waktuku di dunia. Kadang aku lupa bahwa suatu saat gerakanku mungkin tidak selincah ketika aku berumur 17 tahun. Tapi semoga aku tidak lupa untuk menuntaskan misi hidupku. Tulisan ini semoga bisa menjadi penanda supaya aku tidak lupa.

100_3216
mungkin hidup itu semacam lilin yang termakan api, lama-lama habis. tapi semoga kita masih ingat untuk menyala.

Membuat Tradisi 3 Januari

Tahun lalu, aku menulis postingan pertama tanggal 3 Januari. Sekarang, aku ingin menulis juga pada tanggal yang sama. Anggaplah ini membuat semacam tradisi. Kalau tanggal 1 dan 2 Januari masih “ayub-ayuben” setelah acara tahun baru, maka tanggal 3 mungkin saat yang tepat. Ini berlaku untukku saja barangkali… 😀

Ini ceritanya, aku dan keluarga sedang berkumpul di rumah alm. Simbah. Acara selamatan 1 tahun meninggalnya Simbah.

Kemarin sore, kami duduk-duduk di serambi depan. Tiba-tiba lewat seorang laki-laki dan ngomong sesuatu. Karena telingaku suka error, kupikir orang itu hanya menyapa. Kadang di sini memang suka ada kejadian seperti itu karena di dusun ini hampir semua saling kenal. Kupikir orang itu masih kerabat atau tetangga desa. Tapi ternyata dia mau menawarkan dagangan.

Awalnya kami menolak. Tapi mungkin karena terbujuk oleh kalimat: “Ningali kemawon saged” (lihat-lihat saja boleh), akhirnya orang itu kami persilakan menggelar barang dagangan. Yang dia jual adalah celana pendek. Bahannya dia beli dari sisa kain pabrik, lalu dia minta kerabat-kerabatnya menjahit. Kerabatnya itu dulu waktu masih muda bekerja di pabrik tekstil, lalu setelah menikah mereka berhenti kerja (mungkin karena harus mengurus anak dan sebagainya), dan menjadi pengangguran. Dia menangkap peluang ini dan jadilah dia membeli kain sisa pabrik untuk diubah jadi celana pendek.

Bapak pedagang itu cukup sabar meladeni kami yang ogah-ogahan membuka barang dagangannya. Tapi toh akhirnya kami membeli tiga potong celana pendek. Yang beli Ibu sih… itu juga setelah ditawar agak lama. Dan mungkin ada unsur kasihan juga (karena hari sudah senja dan gerimis).

Dari kejadian sepele ini aku menarik pelajaran: kalau jadi pedagang, sebaiknya punya sifat sabar, ulet, dan ramah. Setidaknya tiga sifat itu kulihat pada bapak penjual celana pendek tadi… dan itu membuat kami akhirnya membeli barang dagangannya.

Pertanyaan yang berkembang di kepalaku: dari tiga sifat tersebut, mana yang kumiliki?

Nostalgia Lebaran

Hari Minggu ini aku sebenarnya maunya misa tadi pagi, pukul 06.30. Tapi semalam aku batuk-batuk dan susah tidur, jadi akhirnya bangun kesiangan. Pukul 7 kurang 10 mataku baru melek. Yaaaa…  niat misa pagi, buyar langsung. Mau ikut misa kedua, rasanya malas. Karena itu artinya aku harus cepat-cepat mandi dan dandan. Aduh, mata masih 2 watt suruh mandi pagi?

Akhirnya, pagi tadi aku ke pasar. Belanja buat persediaan stok makanan selama pekan lebaran ke depan. Beginilah kalau lebaran tidak mudik. Mesti stok bahan makanan. Eh, yang lebaran di rumah pun mestinya belanjanya lebih banyak ya? Aku belanja tidak banyak, hanya beli daging, wortel, kentang, daun bawang, seledri. Maunya sih masak sup. Yang gampang saja sih.

Akhirnya aku misa Minggu sore pukul 17.00. Kalau ikut misa pukul 19.00, kupikir bakal repot pulangnya karena mungkin orang-orang sudah pada takbiran kan? Pulang gereja pun aku mampir-mampir. Setelah menunggu agak lama, aku tidak melihat angkot 02 yang ke arah rumah. Ya, sudahlah. Aku menyetop bajaj. Lagian sudah mulai gerimis. Aku khawatir kalau tiba-tiba hujan. Males saja sih berbasah-basah.

Sampai di rumah aku dengar orang-orang sudah mulai takbiran. Suara itu selalu melayangkan ingatanku ketika Mbah kakung masih sugeng (Jw–masih hidup) dan masih tinggal di Kayuwangi. Suara takbir itu selalu kunikmati sambil duduk di ruang tamu Simbah, di kursi rotan. Suara gareng pung bersahutan dari kebun sekeliling rumah Mbah. Udara dingin yang masuk lewat sela pintu dan jendela membuatku merapatkan jaket atau sarung. (Aku suka kerukupan pakai sarung kalau dingin.)

Dulu, lebaran berarti aku ikut arus mudik. Seingatku sampai aku kuliah dan bekerja di Jogja, aku masih ikut tradisi mudik. Sebetulnya bukan murni mudik bagiku, karena yang mudik adalah Bapak. Sowan Mbah kakung, menurutku. Karena simbah berlebaran, maka anak dan cucunya mesti ikut beramai-ramai berlebaran juga.

Sebetulnya kenangan lebaran di kepalaku tidak meninggalkan rasa yang cukup manis.Memang, aku berkumpul kok dengan keluarga–dengan Om, Tante, Pakde, Bude, Simbah, serta para sepupu. Dan yang namanya kumpul-kumpul itu kan senang ya? Kalau soal dapat uang dari om dan tante pas lebaran, aku senang. Kalau soal nyicipi opor, ketupat, dan kue-kue, aku senang. Tapi apanya yang tidak cukup manis? Pas di jalan. Pas harus berdesak-desakan di dalam bus. Aku ingat suatu kali aku mesti ke rumah Mbah kakung dengan kakakku. Mungkin awal-awal aku kuliah waktu itu. Lupa. Kami naik bus dari Jogja, berangkat dari terminal Umbulharjo. Iya, dulu terminalnya masih di situ, belum pindah ke Giwangan. Kebayang kan, betapa jadulnya diriku? :)) Aku dan kakakku mencari bus jurusan Semarang. Ketika menunggu bus mau jalan, datanglah pengamen. Masih muda, nyanyi apa aku lupa. Setelah menyanyi dia meminta uang dan memaksa! Aku takut. Kakakku bilang kami tidak punya uang kecil. Tapi pengamen itu ngotot, katanya mau memberi kembalian. Aku lupa kakakku memberi uang berapa akhirnya, tapi seingatku jumlahnya cukup besar waktu itu. Mungkin seribu. Jaman itu, duit seribu sangat besar jumlahnya.

Kenangan lainnya adalah ketika aku dan keluargaku tidak dapat tempat di bus. Jadi, kalau dari rumah Mbah kakung ke Jogja, kami mesti menyetop bus yang dari arah Semarang yang lewat Ambarawa. Jelas dari situ bus tidak ada yang kosong. Kebanyakan sudah penuh dan banyak yang berdiri. Padahal waktu itu kami tidak hanya bawa badan, tapi bawa koper juga. Iya, koper dan dan travel bag. Lalu ketika bus datang, kami mesti berlari-lari dan cepat-cepat naik supaya bisa terangkut. Kebayang rempongnya bawa tas-tas sebanyak itu dan mengejar bus? Asyik banget deh. Haha. Lalu, ketika sudah sampai di dalam bus, kami seringnya tidak dapat tempat duduk. Alhasil, aku mesti berdiri paling tidak Ambarawa-Secang. Lumayan membuat keriting betis deh.

Sewaktu tinggal di Jakarta, aku punya alasan untuk tidak mudik. Yang pasti, tiket harganya selangit. Dan lagi toh sebetulnya aku tidak merayakannya. Hanya ikut ramai-ramainya. Kalaupun Mbah kakung masih ada, kupikir aku bisa mengunjunginya di saat lain saat harga tiket lebih ramah.

Kini, acara mudik dan ramai-ramai lebaran bisa dikatakan tidak menjadi agenda utamaku. Apalagi di zaman serba SMS begini, ucapan selamat bisa disampaikan lewat SMS. Atau lewat status FB dan Twitter, atau blog. Sederhana, mudah, dan tidak melelahkan–setidaknya bagiku. Memang sih, di sini ada om dan tanteku yang berlebaran. Tapi beberapa tahun terakhir, aku hanya mengirim ucapan selamat via SMS dan kartu lebaran. Kalau sepupuku–my partner in crime–bilang, itu namanya keponakan yang bandel. 😀 😀 Tapi entah besok, ya. Mungkin aku kepingin juga menyicipi opor di rumah Om atau Tante. Itu pun kalau tidak malas bepergian. 😀

Hari Keberuntungan?

Bulan Februari hampir berakhir. Rasanya waktu seperti tergelincir. Sebelum bulan ini berlalu, mestinya aku menulis beberapa hal. Tapi sudahlah. Beberapa catatan sudah kutulis di buku harian. Tapi ada satu hal yang perlu kucatat di blog ini. Penting buat kuingat.

Ini cerita agak basi sebetulnya. Tapi seperti yang kubilang, aku perlu mencatat cerita ini. Ceritanya bulan Januari kemarin aku tidak punya rencana untuk pulang ke Jogja atau ke Madiun lagi karena Desember lalu aku sudah cukup lama di Jogja. Lalu, kira-kira pertengahan bulan Januari, aku lupa tanggalnya, pagi-pagi ibuku menelepon. “Mbah Kung jatuh. Sekarang masuk rumah sakit.” Kurang lebih begitu kabar yang disampaikan Ibuk.

Oiya, untuk prolognya, perlu kuceritakan bahwa sebelumnya Mbah Kung sudah cukup lama agak kesulitan untuk jalan karena sempat jatuh kira-kira enam tahun lalu sehingga ada bagian kakinya yang patah dan tidak tersambung sempurna. Mbah Kung memakai alat bantu semacam tongkat untuk berjalan. Aku tidak tahu nama alatnya, tapi semacam kaki empat gitu deh. Semenjak memakai alat bantu itu, aktivitasnya menjadi sangat berkurang. Mbah Kung yang selama ini bertani kemudian meninggalkan sawah dan rumahnya di Kayuwangi lalu ikut dengan keluargaku di Madiun. Beberapa kali Mbah minta pulang, sempat juga kemauannya itu dituruti. Tapi wong sudah tidak bisa jalan dengan baik, sementara kalau di desanya sana, jalanan naik turun, tentu hal itu justru merepotkan Mbah sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Lalu, demi praktisnya, Mbah Kung ikut dengan anaknya satu-satunya, yaitu Bapak. Rumah Mbah di Kayuwangi masih beberapa kali ditengok oleh orangtuaku–terutama Bapak. Sejak kejadian jatuh enam tahun silam, Mbah beberapa kali jatuh lagi. Mungkin karena keseimbangan tubuhnya sudah kurang baik. Kadang Mbah jatuh di rumah, pernah juga katanya jatuh di jalan ketika dia sedang jalan-jalan (tentunya dengan bantuan tongkat-kaki-empat itu) di sekitar rumah. Untuk ukuran orang yang tidak bisa berjalan sempurna, Mbah cukup jauh jalan kakinya. Kalau tidak salah, pernah mau jalan menuju pasar. Aku cuma geleng-geleng kalau mendengar cerita itu. Memang Mbah Kung ini orang yang keras kepala dan pekerja keras. Sebelum ikut ke Madiun, dulu waktu di desa dia masih mengurus sawah dan tegalan yang jaraknya lumayan dari rumah dan jalannya naik turun. Mungkin karena itu dia bisa cukup sehat sampai umur 90-an.

Oke, balik ke telepon ibuku tadi. Jadi, ibuku mengabarkan bahwa Mbah Kung masuk rumah sakit. Aku awalnya tidak terlalu khawatir karena kan Mbah sudah beberapa kali jatuh dan… baik-baik saja. Tapi Ibuk sempat mengatakan bahwa Mbah mengeluh sakit kepala sejak jatuh itu. Gegar otakkah? Suamiku kemudian mengusulkan supaya aku pulang menengok Mbah. Jadi, aku kemudian mencari tiket kereta ke Madiun dan hari yang kira-kira pas untuk pulang. Waktu itu Jakarta sering diguyur hujan. Aku agak malas sebetulnya jika mesti menembus hujan menuju stasiun. Takutnya perjalanan dari rumah ke stasiun mesti melewati daerah banjir. Males banget deh ah.

Akhirnya kupilih berangkat ke Madiun hari Sabtu tanggal 19 Januari. Sebetulnya aku bisa pulang hari Jumat sore tanggal 18. Tapi aku pikir, berangkat Sabtu sore lebih aman karena kalau Jumat sore Jakarta cenderung lebih macet kan? Dan aku supermales menghadapi kemacetan Jakarta… apalagi sering hujan begini. Aku memilih naik kereta Bangunkarta. Kereta itu lewat Semarang. Menjelang keberangkatanku, Jakarta hujan dereeeesss… Lewat internet kubaca kabar mengenai genangan air plus banjir di mana-mana. Waduh, gimana berangkat ke stasiun nanti, pikirku. Sempat terpikir untuk membatalkan keberangkatan. Tapi kok? Untungnya hujan pun reda. Berangkatlah aku naik taksi ke Gambir. Oiya, itu aku pulang sendiri tanpa ditemani suami karena dia mesti ngantor. Bagiku tidak masalah. Toh aku pulang ke rumah sendiri. Waktu akan naik taksi, aku baru sadar kalau uang yang kubawa mepet. Kalau untuk sekadar naik taksi dan beli makan di kereta, cukuplah. Sekali lagi, aku pikir, toh aku pulang ke rumah sendiri. Nanti sesampainya di rumah, aku akan segera ke ATM untuk ambil uang.

Di Gambir aku memutuskan beli oleh-oleh dan makan untuk di kereta. Sebetulnya kupikir aku tak perlu bawa oleh-oleh. Wong duit mepet lo, sempat-sempatnya mikir beli oleh-oleh. Ah, tapi sudahlah. Pukul 17.35 kereta Bangunkarta yang kutumpangi akhirnya berangkat. Tak lama kemudian aku memakan bekalku dan… tidur. Uh, nyaman banget pikirku. Sebelahku kosong pula. Jadi, bisa sedikit selonjor.

Sekitar pukul delapan, aku terbangun ketika kurasakan HP-ku bergetar. Kupikir ini hanya chatting dari teman. Tapi kok terus-terusan bergetar ya? Dengan mata masih lengket, aku membuka tas dan kulihat ada SMS dari suamiku. Katanya ibuku beberapa kali menelepon, tapi tidak kuangkat. Ya iyalah, wong aku tidur. Tak lama kemudian ada telepon masuk. Ternyata kakakku.
“Kowe mengko muduno Semarang utawa Solo yo.” (Kamu nanti turun Semarang atau Solo, ya.)
“He, lha ngopo?” (Memangnya kenapa?)
“Mbah Kung meh digawa ning Kayuwangi.” (Mbah Kung akan dibawa ke Kayuwangi.)
Otakku yang masih belum nyambung ini cuma berpikir, ooh barangkali Mbah sudah agak baikan.
Tapi kemudian kakakku melanjutkan, “Mbah Kung wis seda.” (Mbah Kung sudah meninggal.)
Gusti, nyuwun ngapuro. Lord, have mercy on me. Aku langsung melek. Kantukku hilang.   “Kowe iso to budal ning Kayuwangi dewe?” (Kamu bisa kan ke Kayuwangi sendiri?)
“Ya. Ya. Iso.” (Ya, ya. Bisa.)

Aku hanya berpikir, masak sampai sebesar ini aku tidak bisa jalan sendiri ke sana sih? Selama ini aku belum pernah ke rumah Mbah sendiri. Selalu ada teman. Entah dengan keluargaku, suamiku, atau kakakku. Memang, rumah Mbah Kung itu nun jauh di sana. Agak pelosok, maksudnya. Terbayang mesti naik bus, pindah naik angkot, lalu ngojek. Tapi… berarti sampai Semarang aku pasti sudah tengah malam. Njuk piye? Sementara aku buta dengan kota Semarang alias belum pernah ke sana. Hanya lewat. Dan, astaga… duitku kayaknya tinggal 50-an ribu. Sempurna! Dalam hati aku berdoa, Tuhan temani aku.

Seketika aku ingat kakak asramaku yang tinggal di Semarang, Mbak Elisa Rini. Aku segera mengontaknya dan kukatakan maksudku untuk menumpang sebentar di rumahnya tengah malam nanti. Dia memberiku petunjuk menuju rumahnya. Yang jelas, aku mesti naik taksi. Agak deg-degan juga aku kalau mesti naik taksi sendiri tengah malam di kota yang kurang kukenal baik. Soal duit taksi, Mbak Rini bilang, ongkos taksi nanti bisa dibayar di rumahnya. Ah, tapi semoga di stasiun Tawang nanti ada ATM, pikirku.

Sejak mendengar berita itu aku tak bisa tidur. Beberapa kali berkelebat kenangan ketika bertemu Mbah Kung terakhir, beberapa kata-kata beliau, pertemuan demi pertemuan. Kesadaranku mengatakan bahwa kini Mbah sudah lebih baik keadaannya. Ya, ya. Sugeng tindak, Mbah, kataku dalam hati.

Menjelang pukul 1 dini hari, ada pengumuman di kereta. Kereta akan berhenti di stasiun Poncol (bukan stasiun Tawang seperti yang seharusnya) karena stasiun Tawang banjir. Ketika kereta sudah akan berhenti, aku segera mendekat ke pintu keluar gerbong. Kulihat ada kondektur dan seorang bapak setengah baya. Aku tanya ke petugas tersebut, “Pak kalau ke perumahan Pasadena, jauh nggak dari Poncol?” Ternyata lebih dekat. Gusti, matur nuwun. Setidaknya ongkos taksinya lebih murah, pikirku. Ketika aku bertanya begitu, bapak setengah baya tersebut mengatakan bahwa rumahnya juga di Pasadena. “Kalau Mbak mau, bisa bareng saya. Itu kalau Mbak percaya sama saya lo.” Ng… aku masih diam. Ikut bapak ini nggak ya? tanyaku dalam hati. Bisakah dia dipercaya? Sempat takut kalau bapak ini punya niat jahat. Tapi, hatiku tidak memberikan sinyal bahaya. Sepertinya dia baik. Bapak itu mengenakan jaket bertuliskan IKAPI. Mungkinkah dia orang yang bekerja di penerbitan? Atau pekerja buku seperti aku?

Setelah kereta berhenti, aku mengekor bapak itu. Kami naik taksi bersama. Dia duduk di depan, aku di belakang sopir. Di jalan sempat ngobrol-ngobrol. “Mbak, Anda beruntung sudah ditunjukkan jalan sama Tuhan,” begitu kata si bapak. “Saya punya anak seumur Mbak.” Begitu kira-kira ucapannya. Aku sampai di perumahan Mbak Rini. Dia dan suaminya sudah menunggu. di dekat jalan masuk menuju rumahnya. Aku turun dan tidak diminta untuk ikut membayar taksi. Satu pertolongan kuterima. Matur nuwun. Terima kasih.

Aku masuk rumah Mbak Rini. Lalu aku dibuatkan teh hangat, disiapkan handuk kering. Ditambah lagi aku dipinjami baju untuk tidur. Ah, ya. Pertolongan itu tampak sepele, tapi sangat… sangat membantu. Aku hanya bawa baju sedikit. Sementara di rumah Mbah tidak ada persediaan baju untukku. Setelah mengobrol sedikit dan cuci muka, aku tidur. Sempat terpikir aku tidak bisa tidur. Tapi ternyata aku malah bangun agak terlambat.

Pukul 06.00 aku baru bangun. Hujan deras mengguyur Semarang. Setelah mandi, sarapan, aku mengobrol beberapa saat dengan Mbak Rini. Dulu aku sempat pengin main ke rumah dia di Semarang, tapi ndilalah kersaning Allah, aku mampir ke rumahnya dalam rangka “mengantarkan” Mbah Kung. Sekitar pukul 7 aku melanjutkan perjalanan ke Kayuwangi, dengan diantar Mbak Rini sekeluarga naik mobil ke pemberhentian bus… setelah sebelumnya sedikit putar-putar mengantarkan aku mencari ATM.

Catatan penting yang kupetik selama dua hari itu adalah pertolongan yang tulus itu hangatnya seperti matahari pagi. Pertolongan yang mungkin tampak sepele, tapi sungguh menyentuh hati. Kebaikan itu seperti selimut yang menghangatkan hati di kala kepergian Mbah Kung sempat menyisakan rasa kehilangan.

Terima kasih terutama untuk Mbak Rini, Mas Diksi, dan Ian. Terima kasih sudah memberi tumpangan. Rasanya jadi seperti punya saudara di Semarang. Terima kasih kepada semua teman yang telah mengucapkan bela sungkawa. Perhatian kalian semua turut menghangatkan hati.

*Kenangan 40 hari meninggalnya Mbah Kung Sugito.