Pekerjaan

Apa yang kamu bayangkan ketika membaca kata “pekerjaan”? Bagiku, pekerjaan adalah tumpukan file di folder PC. Kadang entah kenapa ketika aku melihat file-file itu saja rasanya sudah capek. Seperti tumpukan baju kotor yang mau tak mau harus kubawa ke ember, kurendam, lalu kucuci. Kalau baju kotor aku bisa mengalihkan pekerjaanku pada mesin cuci. Tapi pekerjaan? Cuma aku dan harus aku. File-file itu bisa berubah menjadi angka-angka di rekeningku dan aku tersenyum. Kebanyakan pekerjaan itu bentuknya file naskah yang harus dialihbahasakan.

Eiy… tapi ada juga terselip satu dua naskah yang belum selesai-selesai. Sebetulnya di antara file-file itu, file cerita itu membuatku bergairah. Membuatku ingin melamun, googling mencari bahan, lalu membubuhkan satu-dua kalimat lagi atau menghapus bagian-bagian yang tidak perlu agar lebih padat. Tapi… tapi… kenapa ya, rasanya kok aku seperti merasa bersalah kalau kebanyakan melamun dan mencari ide?

Konon katanya pekerjaan mestinya aktivitas yang membahagiakan. Pekerjaan kita sehari-hari semestinya membuat kita menjadi manusia yang utuh. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu kan? Ada yang malah merasa capek setengah mati. Ada yang gara-gara pekerjaan menjadi stres, kehilangan waktu untuk melakukan hal-hal yang diinginkan. Ada yang ketika melihat pekerjaan orang lain, timbul rasa iri. Aku sebenarnya percaya bahwa kita masing-masing punya pekerjaan yang cocok, yang membuat kita bisa merasa menjadi manusia yang utuh, merasa berprestasi, berguna, dan akhirnya bahagia.

Aku sendiri bagaimana dong? Aku hanya ingin mencoba mencatat aktivitasku belakangan ini yang membuatku merasa senang, bersemangat, dan merasa penuh. Pagi ini aku bangun dan menilik sabun-sabun hasil eksperimen yang ada di dalam cetakan. Eh, aku belum bilang ya? Aku belakangan sedang hobi coba-coba membuat sabun. Kali ini aku mencoba memakai cetakan baru. Bentuknya mawar dan hati. Sudah dua hari sabun itu dalam cetakan. Kemarin aku mencoba membukanya, tapi ternyata belum padat benar. Hari ini sudah lebih padat. Yay! Lumayan berhasil. Dan aku suka baunya: pandan bercampur mawar. Masih perlu waktu sebulan lagi agar sabun itu bisa dipakai.

sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.
sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.

Satu lagi yang membuatku senang adalah ketika aku mendapat kiriman foto dari teman-temanku yang sudah menerima bukuku. Mereka membeli bukuku untuk anak-anaknya. Aku senang ketika mereka mengatakan bahwa anak-anak mereka menikmati bukuku. Yay! Aku sadar, aku masih perlu belajar banyak untuk bisa membuat cerita anak yang menarik. Tapi menerima foto dan kabar bahwa anak-anak mereka menyukai ceritaku, membuatku jadi berbesar hati. Mongkok, Saudara-saudara! Hehe.

Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.
Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.

Ada hal yang membuatku senang, yaitu eksperimen di memasak. Rasanya deg-degan gimanaaa gitu. Seperti apa nanti hasil masakanku? Enak nggak? Apakah disukai? Aku tidak sering-sering amat melakukan eksperimen di dapur karena memasak perlu waktu lumayan bagiku. Mulai dari persiapan sampai beres-beres. Terakhir aku eksperimen membuat brownies pisang. Bagiku yang jarang bikin kue, mendapat pujian atas brownies yang kubuat itu rasanya sueneeeng.

Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.
Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.

Ah, ya… kadang (atau sering?), kita perlu undur diri sejenak dari pekerjaan yang rasanya bikin gimanaaa gitu. Ya, ya… mestinya sih pekerjaan itu arena untuk bermain-main. Tapi yah… mungkin aku aja yang lagi geje. Jadi, sudahlah, postingan seperti ini untuk mengingatkanku bahwa aku melakukan beberapa hal yang membuatku cukup berprestasi. Merasa berprestasi itu penting lo, supaya kita nggak gampang depresi.

Advertisements

Obrolan tentang Pencarian

Pagi ini aku teringat obrolan soal pekerjaan, soal panggilan hidup.

+ Kemarin Ratri (teman kami) cerita soal cowok yang lagi dekat dengan dia.
– Pacar barunya?
+ Ng … nggak tahu. Kayaknya bukan, atau belum? Nggak tahu deh. Lagi pedekate kayaknya.
– Apa dia bilang?
+ Dia bilang, mereka punya minat yang sama, sama-sama suka baca buku. Dulu mereka teman satu kampus, satu jurusan. Teman lama.
– Lalu?
+ Katanya si cowok ini sudah lama nggak bekerja.
– Oh.
+ Padahal menurutku kalau sama-sama dari jurusan Bahasa Inggris, nggak akan susah-susah kok cari kerja. Asal nggak terlalu pilih-pilih ya.
– Semua orang, kalau nggak suka pilih-pilih kerjaan, benernya ada saja kerjaan yang bisa dilakukan.
+ Gitu ya?
– Itu menurutku sih.
+ Kayaknya emang dia pilih-pilih banget deh. Kapan hari Ratri nunjukin dia lowongan kerja ngajar bahasa Inggris di pertambangan. Tapi cowok itu nggak mau.
– Kenapa nggak mau?
+ Katanya pekerjaan semacam itu cocok untuk anak yang baru lulus, bukan buat dia.
– Emang dia dulu kerja di mana?
+ Di perusahaan gede. Di penghasil banyak duit dot com. Di luar sana.
– Oh, gitu.
+ Gaji di Indonesia kali kalah jauh sama gaji di luar.
– Emang. Kayaknya sih gitu.
+ Tapi kalau dia nggak kerja-kerja, kan akhirnya tabungan dia selama kerja habis dong.
– Ya, kan dia sendiri yang membuat habis.
+ Benernya orang cari kerja itu mesti gimana sih?
-Cari kerja atau cari panggilan hidup?
+ Dua-duanya.
– Idealnya memang begitu. Tapi kadang nggak bisa. Pekerjaan seseorang kadang bukan panggilan hidupnya.
+ Iya emang sih. Sayang sebetulnya kalau kaya gitu.
-Setiap orang punya panggilan hidup masing-masing.
+ Gimana caranya bisa tahu?
– Cuma kamu yang tahu. Butuh kejernihan batin untuk mengetahuinya. Misalnya, kerbau punya badan yang besar, tenaga kuat. Dia memang dipakai untuk membajak. Atau ayam, dia punya daging yang enak dan telornya bisa dimakan. Kotorannya juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Binatang saja punya “panggilan” masing-masing.
+ Kalau manusia?
– Manusia lebih dari binatang kan? Dia punya otak, punya hati. Setiap orang punya talenta dan minat sendiri-sendiri. Itu harus digali.
+ Caranya menggali?
– Seperti yang aku bilang tadi, butuh kejernihan batin.
+ Caranya?
– Meditasi, misalnya. Atau bisa dengan menuliskan kelebihan, kekurangannya. Tulis hobinya apa saja. Minatnya apa. Intinya adalah melihat ke dalam, melihat diri sendiri.
+ Bagaimana kita tahu bahwa pekerjaan kita adalah panggilan hidup kita atau bukan?
– Orang yang menemukan panggilan hidupnya akan merasa lebih bersemangat dalam bekerja. Orang yang menjalani panggilan hidupnya akan merasa bahagia dengan apa yang dilakukannya. Dan biasanya pekerjaan itu memberi dampak positif kepada orang-orang di sekitarnya.
+ Gitu ya?
– Teorinya sih gitu. Hehehe. Tapi aku yakin kok setiap orang memiliki panggilan masing-masing. Dan panggilan hidup itu biasanya membawa seseorang pada kebaikan.
+ Trus kalau kaya temannya Ratri gitu gimana? Dia kan galau tuh belum dapat-dapat kerja.
– Kali minimal dia kerjakan apa yang memang dia mau deh. Meskipun awalnya itu mungkin tidak menghasilkan banyak uang. Kerjakan hal-hal kecil dengan cinta yang besar, begitu kata Bunda Teresa. Meskipun kita hidup butuh uang, tapi kan hidupmu nggak mesti dikendalikan oleh uang to?

– Mungkin setiap orang perlu bertanya, “Apa fungsiku di dunia ini?” Ayam saja punya tugas di sini: bertelur, memberikan dagingnya untuk dijadikan makanan manusia, kotorannya untuk pupuk. Itu sumbangsih ayam bagi dunia. Manusia tentunya juga begitu. Apalagi manusia kan lebih dari binatang. Mungkin kalau sampai akhir hidupnya seseorang nggak juga menemukan panggilan hidupnya, sumbangsihnya adalah ketika dia mati, dia bisa jadi pupuk.
+ (Membayangkan kuburan dijadikan kebun sayur dan buah-buahan … 😀 :D)

Bukan Rahasia

Beberapa waktu yang lalu aku menerjemahkan buku berjudul Broken Open, tulisan Elizabeth Lesser. Bukunya dalam bahasa Indonesia belum terbit sih. Aku sangat terkesan saat menerjemahkan buku ini. Buku ini berisi kumpulan kisah serta artikel-artikel pemikiran sang penulis. Yang ditulis tak hanya kisah Lesser, tapi juga kisah-kisah orang yang ia kenal di sekitarnya. Buku ini dalam buku aslinya memiliki subjudul: How Difficult Times Can Help Us Grow (Bagaimana masa-masa sulit menolong kita untuk bertumbuh). Jadi, kisah-kisah di dalamnya banyak membahas masa-masa sulit. Menurutku, kisah-kisahnya agak berbeda dengan buku kumpulan kisah yang banyak beredar. Kisah-kisahnya lebih dalam saat menyentuh hati.

Salah satu artikel yang ia tulis berjudul Open Secret (hal. 24) Ringkasnya, dia mengatakan bahwa kita semua punya rahasia, tapi sebetulnya tidak rahasia-rahasia amat. Bingung ya? 😀 Begini, misalnya kalau kita bertanya ke teman kita yang baru saja pindah ke kota lain, “Bagaimana kabarmu? Kerasan di sana?” Teman kita ini kemungkinan akan menjawab, “Baik. Aku sudah kerasan kok.” Lalu, kita mulai bertanya-tanya dalam hati, “Kok dia baik-baik saja ya? Kok dia cepat sekali kerasan. Kok dia sepertinya tidak punya masalah?” Sementara kita, mungkin punya masalah yang buanyak! Punya beban pemikiran yang itu, yang ini, yang ono, yang inu … Punya masalah di tempat kerja, sama tetangga, sama teman dekat, sama orang tua, sama pasangan. Belum lagi kalau kita punya masalah kesehatan, perencanaan dengan masa depan, dan lain-lain. Pokoknya banyak!

Jadi, kita heran dong ya, kenapa teman kita ini baik-baik saja. Kenapa dia sepertinya selalu beruntung? Dan kita pun sedih.

Oke, itulah yang disebut Open Secret. Rahasia yang terbuka. Rahasia yang sebetulnya tak hanya kita miliki, tapi juga disimpan oleh banyak orang. Tapi, ya gitu deh, kita merasa kesepian dan sedih karena sepertinya kita sendiri yang memiliki beban hidup. Padahal, hidup itu kata orang Jawa “sawang-sinawang” atau saling memandang. Aku memandang si A, dan berpikir dia beruntung. Adapun A juga memandangku, dan melihatku baik-baik saja. Padahal aku dan A sama-sama punya masalah, tapi kami sok gengsi, tidak mau mengungkapkannya.

Nah, apa kata Elizabeth Lesser? Dia merujuk pada kata-kata Rumi bahwa begitu kita menerima masalah yang saat ini kita hadapi, maka pintu akan terbuka. Kita seringnya menggedor pintu kebahagiaan dan kebebasan dengan berbagai taktik yang manipulatif. Padahal, yang perlu kita lakukan adalah memulai dari pintu rahasia kita sendiri. Terimalah dirimu apa adanya. Tak perlu terlalu dramatis. Bagikan kemenangan, kegagalanmu dengan orang-orang di sekitarmu. Mungkin kegagalan dan kemenanganmu itu adalah hal yang sepele. Tapi saat kau membuka hati, orang lain kiranya tidak akan malu-malu untuk berbagi beban. Dengan begitu, kita akan saling menguatkan dalam menjalani hidup. Ini adalah PR besarku. Semoga aku bisa menyelesaikan PR ini dengan baik. 🙂

Aih, serius sekali ya tulisanku. 😀

Bekerja di Rumah Itu … Menyenangkan :)

Kira-kira sudah empat tahun ini aku resmi bekerja di rumah. Seingatku, kira-kira di bulan seperti ini, pada tahun 2008, aku mengundurkan diri dari tempat kerjaku. Barangkali itu akan menjadi satu-satunya kantor tempat aku pernah bekerja. Sejak aku mengundurkan diri, aku memantapkan diri menjadi pekerja serabutan lepas, terutama dengan menekuni menjadi penerjemah buku dan editor lepas. Semua pekerjaanku itu kukerjakan di rumah.

Pada awal-awal aku mulai bekerja di rumah, aku rada-rada gimanaaa gitu. Campuran antara senang dan agak-agak sedih. Senang karena akhirnya aku tidak harus bangun pagi, tidak harus buru-buru bersiap untuk masuk kantor, tak perlu lagi menembus jalan yang padat di pagi hari. Enak kan? Tetapi ada acara sedihnya juga ketika aku sadar bahwa ternyata aku sendirian di rumah dan mesti bekerja (sendiri) pula. Huh. Dulu biasanya setiap hari bertemu teman seruangan, ada teman teng-teng crit (tenguk-tenguk crita = duduk-duduk sambil bercerita), bisa bergurau dengan teman. (Dulu ada suatu masa ruanganku itu dipenuhi orang-orang yang suka guyon, terutama sejak ada mc sekaligus “pelawak gadungan” di ruanganku. Entah bagaimana sebenarnya perasaan atasanku dulu terhadap anak-anak buahnya yang kadang tak tahu aturan kalau tertawa. :D) Kalau dulu aku bisa dengan mudah tanya ini dan itu ke teman-teman seruangan, sekarang mau tanya siapa coba? Tanya sama tembok kok rasanya kaya pemain sinetron. 😀

Saat masih di Jogja, semua rasa yang campur aduk itu bisa kuatasi dengan mudah. Toh aku masih bisa main-main ke kantor lamaku (walaupun sebenarnya lama-lama nggak enak juga kalau keseringan main dan akhirnya aku jadi agak-agak tidak mudeng mendengar mereka mengobrol, karena kehilangan konteks). Begitu aku pindah ke Jakarta, ternyata tidak semudah itu untuk mulai bekerja di rumah sendiri. Rasanya aneh. Berada di lingkungan baru, rasanya membuatku betul-betul hampir tak punya teman. Kasihan ya aku hihihi. Untung saja waktu itu ada teman yang rumahnya hanya berjarak tiga gang dari tempatku. Tentu saja, waktu itu ada suamiku sih. Tapi dia kan mesti bekerja. Dia berangkat pagi dan waktu itu pulang malam karena kuliah malam. (Kalau sekarang sih, sore atau petang sudah di rumah.) Dan waktu itu aku merasa sangat “ditemani” oleh radio. Mendengarkan radio benar-benar menghibur. Sampai sekarang aku merasa para penyiar itu adalah teman yang baik. Mereka ngomoooong aja dan aku senang-senang saja mendengar mereka bicara.

Lama-lama aku jadi terbiasa bekerja sendirian. Hanya berteman dengan kamus dan buku yang sedang kukerjakan, plus internet tentu saja. Bisa dibilang aku tidak bicara sama sekali sejak suamiku berangkat kerja sampai dia pulang–kecuali ada telepon masuk. Sisanya, ngomong dengan diri sendiri. 😀 Aneh ya? Hehehe. Tapi aku enjoy saja sih. Sekarang justru tidak terbayang kalau aku mesti bekerja kantoran lagi, bekerja bersama beberapa orang dalam satu ruangan.

Yang jadi “teman” kerjaku selama ini–selain kamus dan buku yang sedang kukerjakan, adalah para penyiar yang dengan rajinnya cuap-cuap di radio. 🙂 Dan sekarang berkat internet, teman bisa datang dari mana saja. Teman-teman blogger, teman-teman di FB, teman-teman chatting, semuanya memberi warna hari-hariku. Yang membuatku senang adalah beberapa waktu lalu aku diundang temanku untuk masuk grup penerjemah-editor buku. Rasa-rasanya aku seperti mendapat teman-teman baru dalam waktu singkat. Di situ kami bisa bertanya apa saja. Bagaimanapun, kita memang perlu teman untuk dimintai pendapat soal kata atau kalimat yang membuat bingung kalau dipikir sendiri. Kadang aku menyimak saja apa yang sedang didiskusikan. Mengasyikkan.

Kalau aku pikir-pikir, ada beberapa hal menguntungkan yang kudapat dengan bekerja di rumah:
– Bisa tidur siang. Walaupun tidak setiap hari tidur siang, tapi kalau pas lagi capeeek banget, aku bisa tidur siang sebentar.
– Bisa bikin jus atau makan buah semauku. Kalau di kantor, mana bisa bolak-balik ke kulkas ambil buah?
– Bisa ngemil sepuasnya. 🙂
– Tak perlu bermacet-macet ria untuk menuju tempat kerja.
– Bisa mandi siang (hahahaha!)
– Tak perlu beli baju kerja. Pakai kaus butut nan adem pun tak ada yang protes. :p
– Kalau mau cuti, tinggal ngomong di depan cermin 😀
– Bisa ngeblog di sela-sela jam kerja :D. (Tapi kalau sedang banyak pekerjaan, aku kadang tidak bisa mikir untuk membuat postingan baru.)

Sisi tidak enaknya:
– Sering dianggap tidak punya pekerjaan, jadi bisa disuruh-suruh kapan saja. Laaah … kalau deadline di depan mata, kan tidak bisa ke mana-mana.
– Mengusahakan bonus tahunan sendiri hihihi. Bercanda ding. Maksudnya, gaji atau honor itu tergantung sepenuhnya pada usaha kita sendiri. Tapi sejak aku bekerja sendiri, aku betul-betul belajar tentang “misteri rejeki.” (Ini termasuk sisi tidak enak atau sisi enaknya ya? Bingung deh.)

Sudah ah, cukup dua saja sisi tidak enaknya … 😀 (Biar pada pengin bekerja sendiri di rumah. Hehehe.)

Aku kadang bertanya-tanya, seberapa banyak orang yang bekerja sendiri di rumah seperti aku? Apakah mereka senang? Menurutku, kalau kita menyukai apa yang kita kerjakan, itu menyenangkan kok, walaupun mesti bekerja sendiri. 🙂

Penyemangat

“Kerja di rumah? Enak dong!”
Begitu kadang tanggapan orang setiap kali aku mengatakan bahwa aku memilih bekerja sendiri di rumah sebagai pekerja lepas. Semua selalu ada enak dan tidaknya.

Aku mau cerita satu sisi yang kualami sebagai pekerja rumahan. Ketika baru awal-awal bekerja di rumah, satu hal yang kualami sangat berbeda adalah tidak adanya teman bicara. Apalagi aku seorang diri di rumah. Biasanya di kantor, selalu ada teman. Kalau di kantor dulu, saat bosan ada saja teman yang bisa digodain atau diajak mengobrol sebentar. Eh, kadang lama ding! Haha! Kadang ada teman yang melucu dan suasana yang sejak tadi senyap, jadi menghangat. Kadang kami tertawa sampai sakit perut karena memang ada yang suka melucu. Kalau sedang bosan, alasan ke kantor adalah bertemu teman-teman. Hihihi. Parah kan?

Nah, begitu bekerja sendiri, kenikmatan untuk berkumpul bersama teman-teman setiap hari, jadi hilang dengan sendirinya. Untuk orang yang terlalu suka ramai-ramai, hal itu sebenarnya tak terlalu jadi masalah. Tapi kadang memang terasa sepi sih. Kadang dari pagi sampai sore atau malam, “teman bicaraku” hanyalah buku dan buku. Tahan? Kadang ditahan-tahanin. Karena itu, aku suka mendengarkan radio dengan penyiar yang suka melucu. Kadang ada teman yang berbaik hati secuil waktunya disela untuk sekadar mengobrol hal yang remeh temeh. Tetapi yang lebih sering sih, ya sendiri saja. Di awal, ketika mengalami peralihan suasana berkantor dengan beberapa orang dalam satu ruangan menjadi sendirian saja di rumah, rasanya memang rada-rada aneh. Tetapi sekarang sih sudah biasa. Kesenyapan dan tidak ada kawan justru jadi suatu kenikmatan bagiku. Entah ya kalau orang lain, apakah bisa menikmati suasana sepi dan tidak ada kawan begini. Aku sih sekarang menikmatinya, loh.

Namun, yang jadi masalah adalah ketika aku kumat malesnya. Repot sangat ini. Apalagi kalau masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Kalau dulu masih bekerja kantoran, kemalasan ini bisa diatasi dengan melihat teman-teman yang begitu rajin bekerja. Lah, kalau sendirian? Mau lihat siapa? Dulu, teman yang tak bisa diganggu karena sedang konsentrasi tingkat tinggi itu bisa menjadi penyemangat kerja loh. Kalau lihat teman kita rajin, kita bisa jadi ketularan rajin. Kan kita tidak hepi kalau teman kita naik pangkat duluan atau gajinya lebih berlipat padahal pekerjaannya tidak jauh beda dengan kita? :p

Jadi siapa yang bisa jadi penyemangat ketika kemalasan melanda? Para pedagang keliling yang lewat di depan rumah. Loh? Hehehe, memang begitulah. Sampai segitunya ya kalau tidak punya teman kantor? Eh, jangan memandang rendah mereka lo. Aku sering kagum dengan mereka. Di satu sisi, mereka itu juga bekerja sendiri. Lihat, abang penjual bakso itu kan mau tak mau harus mendorong gerobaknya sendirian keliling kampung. Bisa dibayangkan seperti apa rasanya kaki setelah berjalan keliling kampung seharian–setiap hari? Apalagi kalau matahari sedang ganas-ganasnya. Atau perhatikanlah tukang sol sepatu, dia berjalan keluar masuk kampung sambil meneriakkan jasanya sendirian pula. Rasanya aku belum pernah menyaksikan tukang sol sepatu yang jalan ramai-ramai. Repot nanti. Bisa menimbulkan persaingan tidak sehat. Nah, dibandingkan dengan aku, tantangan mereka tampaknya lebih besar. Semangat mereka yang besar untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah itu membuatku malu. Mestinya aku pun meniru semangat mereka …. Jadi, ayo (aku) jangan malas yaaaa!