Apakah Menunggu Pesanan Martabak Telur Adalah Saat yang Membahagiakan?

Pertanyaan “Apakah aku bahagia?” muncul beberapa waktu lalu, tepatnya ketika aku menunggu pesananku martabak telur dibuat. Ketika akan berangkat, aku agak terburu-buru karena kulihat mendung sudah cukup gelap. Sementara itu, aku harus mengirim paket sabun, membeli roti tawar, dan ya itu tadi: membeli martabak telur untuk tambahan lauk makan malam. Aku tahu bisa kehujanan kalau aku kurang efisien menata waktu. Dan aku amat sangat menghindari hujan. Aku tak suka kedinginan di jalan–walau aku bisa memakai jas hujan supaya tidak kehujanan, tapi sungguh aku tak suka kehujanan. Apalagi hujan membuat pandanganku kabur.

Membeli martabak adalah urutan terakhir. Yang pertama tentu saja mengirim sabun supaya paket itu bisa segera diterima pembeli. Dan aku sebetulnya mulai tak sabar ketika menunggu martabak pesananku matang. Aduh, kenapa lama matangnya? Lalu sesekali aku mendongak, melihat apakah hujan sudah benar-benar akan turun. Aku sedikit agak lega ketika kulihat orang di jalanan tidak bergegas. Berarti belum hujan. Dan muncullah pertanyaan itu: Apakah aku bahagia?

Sebetulnya apa itu bahagia?

Aku meraba perasaanku dan merenungkan kembali hidupku. Aku merasa cukup nyaman berada di kota ini, tinggal di daerahku sekarang. Aku bisa dengan mudah menjangkau warung, toko, kedai, atau apa pun itu namanya, yang menjual barang kebutuhanku. Aku punya kendaraan yang layak untuk kupakai. Jaket yang kupakai saat itu memang sudah butut, tapi sudah sangat cukup membantu melawan angin atau udara dingin. Kacamataku masih bisa kupakai–walau aku mulai berpikir untuk memeriksakan mataku lagi: Jangan-jangan minus atau plusnya tambah? Sejauh ini, sampai ketika aku menunggu martabakku matang, aku merasa semua yang kumiliki sudah cukup. Lalu, apakah aku sudah bahagia?

Kupikir, perasaan cukup yang kuamati petang itu, membuatku berpikir bahwa aku sudah cukup bahagia. Entah apa pun itu definisi bahagia, aku rasa tidak perlu-perlu amat mencocokkan antara definisi dan perenunganku sore itu. Aku rasa, aku berhak menentukan standar dan definisi bahagiaku sendiri.

Aku melirik ke dalam kedai, dan kulihat martabakku sudah mulai diiris. Aku segera berdiri, mengambil dompet di dalam tas, dan menghitung jumlah uang. Tak terlalu banyak jumlahnya, dan mestinya aku perlu mengambil uang lagi di ATM. Aku mencoba mengingat-ingat berapa saldo terakhirku. Aku hanya berharap, semoga selalu ada rejeki secukupnya. Berapa pun uang yang masuk dan keluar perlu disyukuri. Begitu kutipan yang kubaca di medsos beberapa hari lalu.

Apakah aku masih bahagia ketika mengingat saldo terakhir di rekeningku?

Kupikir, cukuplah bahagiaku sore itu. Kupacu motorku sebelum hujan benar-benar datang. Hujan turun persis ketika aku memasukkan motor ke dalam garasi.

Hitunglah berkat-berkatmu, agar semua terasa cukup dan menghangatkan hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s