Saatnya Penerbit Turun Gunung

Entah sudah berapa kali aku mendengar pembicaraan soal menurunnya penjualan buku dan majalah. Oplah menurun. Majalah banyak yang tutup. Ada yang bilang sekarang adalah zaman senjakala bagi penerbit. Kadang ikut deg-degan ketika mendengar kabar seperti itu.

Beberapa kali aku berpikir bahwa penerbit mungkin ada baiknya “turun gunung” menyapa langsung para pembacanya. Bukan sekadar lewat toko buku. Bukan hanya waktu ada acara peluncuran buku. Tapi benar-benar datang dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk membaca.

Apa itu membaca? Menurutku membaca itu tidak hanya soal mengeja. Membaca itu menangkap makna. Jadi, kalau ada tulisan: Tini makan singkong, perlu juga dilihat konteksnya. Singkong dimakan Tini sebagai kudapan? Sebagai makanan sehari-hari? Sebagai ganjal perut setelah dua hari tidak makan?

Balik lagi ke soal penerbit yang mengajak orang untuk membaca. Kadang kupikir penjualan buku menurun, minimnya minat baca, itu juga karena penerbit kurang turun gunung. (Habis gini ditoyor editor.) Sebenarnya buku bagus itu banyak. Yang ingin membaca kurasa juga banyak. Tapi kenapa buku-buku itu seperti tidak sampai ke (calon) pembaca yang haus bacaan? Ini semacam cinta tak sampai. Ngenes kan? Bikin buku yang bagus itu tidak mudah, biayanya pun tidak sedikit. Tapi begitu terbit, penjualannya kadang (atau sering?) mak plekenyiiik… Puk puk editor. Apalagi katanya minat baca masyarakat rendah. Jadi, bisnis buku itu kesannya suram.

Namun, kalau kita peduli soal gizi untuk tubuh, mestinya kita peduli pula soal “gizi” untuk otak. Hei, kamu tahu nggak kalau otak itu organ terpenting di tubuh kita? Kalau otak kita hanya dijejali ide-ide sampah, hidupmu bakal suram. Makanan untuk otak salah satunya adalah buku yang bagus. Buku yang menginspirasi. Buku yang menambah wawasan. Lalu, kalau daya serap buku di masyarakat makin berkurang, bukan tidak mungkin ini tanda-tanda kemunduran peradaban. Jadi, balik lagi ke tadi… membaca buku itu penting.

Belakangan aku berpikir bahwa penerbit itu ada baiknya membuat semacam gerakan meningkatkan minat baca. Ternyata, apa yang selama ini kupikirkan, dilakukan oleh Penerbit Kanisius. Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-95, Kanisius membuat gerakan untuk mengajak masyarakat membaca, yaitu dengan membentuk Sahabat Literasi. Salah satu kegiatannya adalah dengan turun ke Malioboro, lalu mengajak orang-orang yang saat itu ada sana untuk membaca. Selain di Malioboro, gerakan ini juga dilakukan di kereta Prameks Jogja-Solo, di bus TransJogja, di sekolah Mangunan. Menurutku ini suatu gerakan yang unik. Kuharap hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Dan semoga diikuti oleh para penerbit lain.

Nderek mangayubagyo, Kanisius. Teruslah menerbitkan buku-buku bermutu.

Pekerjaan

Apa yang kamu bayangkan ketika membaca kata “pekerjaan”? Bagiku, pekerjaan adalah tumpukan file di folder PC. Kadang entah kenapa ketika aku melihat file-file itu saja rasanya sudah capek. Seperti tumpukan baju kotor yang mau tak mau harus kubawa ke ember, kurendam, lalu kucuci. Kalau baju kotor aku bisa mengalihkan pekerjaanku pada mesin cuci. Tapi pekerjaan? Cuma aku dan harus aku. File-file itu bisa berubah menjadi angka-angka di rekeningku dan aku tersenyum. Kebanyakan pekerjaan itu bentuknya file naskah yang harus dialihbahasakan.

Eiy… tapi ada juga terselip satu dua naskah yang belum selesai-selesai. Sebetulnya di antara file-file itu, file cerita itu membuatku bergairah. Membuatku ingin melamun, googling mencari bahan, lalu membubuhkan satu-dua kalimat lagi atau menghapus bagian-bagian yang tidak perlu agar lebih padat. Tapi… tapi… kenapa ya, rasanya kok aku seperti merasa bersalah kalau kebanyakan melamun dan mencari ide?

Konon katanya pekerjaan mestinya aktivitas yang membahagiakan. Pekerjaan kita sehari-hari semestinya membuat kita menjadi manusia yang utuh. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu kan? Ada yang malah merasa capek setengah mati. Ada yang gara-gara pekerjaan menjadi stres, kehilangan waktu untuk melakukan hal-hal yang diinginkan. Ada yang ketika melihat pekerjaan orang lain, timbul rasa iri. Aku sebenarnya percaya bahwa kita masing-masing punya pekerjaan yang cocok, yang membuat kita bisa merasa menjadi manusia yang utuh, merasa berprestasi, berguna, dan akhirnya bahagia.

Aku sendiri bagaimana dong? Aku hanya ingin mencoba mencatat aktivitasku belakangan ini yang membuatku merasa senang, bersemangat, dan merasa penuh. Pagi ini aku bangun dan menilik sabun-sabun hasil eksperimen yang ada di dalam cetakan. Eh, aku belum bilang ya? Aku belakangan sedang hobi coba-coba membuat sabun. Kali ini aku mencoba memakai cetakan baru. Bentuknya mawar dan hati. Sudah dua hari sabun itu dalam cetakan. Kemarin aku mencoba membukanya, tapi ternyata belum padat benar. Hari ini sudah lebih padat. Yay! Lumayan berhasil. Dan aku suka baunya: pandan bercampur mawar. Masih perlu waktu sebulan lagi agar sabun itu bisa dipakai.

sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.
sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.

Satu lagi yang membuatku senang adalah ketika aku mendapat kiriman foto dari teman-temanku yang sudah menerima bukuku. Mereka membeli bukuku untuk anak-anaknya. Aku senang ketika mereka mengatakan bahwa anak-anak mereka menikmati bukuku. Yay! Aku sadar, aku masih perlu belajar banyak untuk bisa membuat cerita anak yang menarik. Tapi menerima foto dan kabar bahwa anak-anak mereka menyukai ceritaku, membuatku jadi berbesar hati. Mongkok, Saudara-saudara! Hehe.

Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.
Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.

Ada hal yang membuatku senang, yaitu eksperimen di memasak. Rasanya deg-degan gimanaaa gitu. Seperti apa nanti hasil masakanku? Enak nggak? Apakah disukai? Aku tidak sering-sering amat melakukan eksperimen di dapur karena memasak perlu waktu lumayan bagiku. Mulai dari persiapan sampai beres-beres. Terakhir aku eksperimen membuat brownies pisang. Bagiku yang jarang bikin kue, mendapat pujian atas brownies yang kubuat itu rasanya sueneeeng.

Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.
Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.

Ah, ya… kadang (atau sering?), kita perlu undur diri sejenak dari pekerjaan yang rasanya bikin gimanaaa gitu. Ya, ya… mestinya sih pekerjaan itu arena untuk bermain-main. Tapi yah… mungkin aku aja yang lagi geje. Jadi, sudahlah, postingan seperti ini untuk mengingatkanku bahwa aku melakukan beberapa hal yang membuatku cukup berprestasi. Merasa berprestasi itu penting lo, supaya kita nggak gampang depresi.

Tentang “Pulang” dan Secuil Cita-cita

Beberapa minggu lalu, aku melihat spanduk yang menyebutkan Gramedia Sudirman Jogja sedang mengadakan diskon besar. Aku pikir, nanti deh aku ke sana. Tapi aku ke Gramedia hanya dua kali. Itu pun menjelang diskonan berakhir. Sebetulnya aku pikir aku hanya akan lihat-lihat saja. Bokek lama-lama beli buku melulu. Timbunan makin tinggi saja. Fyuh… #ngekep dompet kenceng-kenceng. Tapi entah kenapa aku selalu luluh melihat harga buku anak dan resep yang miring. >,< Aku selalu nggak tahan dengan dua macam buku itu. Hiks. Kalau beli buku anak, alasannya: untuk belajar. Yaelah, buku referensi sudah banyak, tapi yang keluar baru seuprit. Hmm, biar seuprit tapi menyabet Second Prize Winner di ajang Samsung Kidstime Author’s Award, Singapore. Uyeaaah! *sombong.

ini si Widi dan bubur merah putihnya
ini si Widi dan bubur merah putihnya

Oke, menang sih senang ya. Tapi mestinya aku tidak hanya berhenti di situ. Bikin lagi, kek! Nggak hanya jago bikin alasan. Iya, kan?

Hmm, sampai mana tadi? Oh, ya aku sempat membeli buku di Gramedia. Yang diskon, tentunya ya. Nah, waktu melihat buku-buku yang digelar itu, aku dikejutkan oleh suara sapaan. Eh, tidak disangka aku bertemu temanku semasa kuliah. Dia tinggal di Kupang, dan waktu itu dia sedang mengantar istrinya yang orang Jogja untuk melihat-lihat buku. Senang juga ketemu teman lama. Tapi yang agak menohok, dia bilang dia pangling melihatku karena aku sekarang lebih gemuk. Hihihi. Ya, harus diakui, memang begitulah kenyataannya. (Jadi ingat mesti lebih rajin jalan pagi di Embung, deh.) Lalu, dia tanya, apakah aku melanjutkan studi sampai S2. Aku jawab tidak.

Dulu, ada masa aku ingin sekolah lagi. Tapi seiring berjalannya waktu, keinginan itu menguap. Mungkin karena aku kurang gigih berjuang. Tapi mungkin juga aku tidak punya “objektif” yang kuat. (Kok kaya membahas penyusunan karakter dalam naskah fiksi, ya?) Dulu aku pikir, kalau bisa sekolah lagi, keren aja. Iya, keren. Biar kaya orang-orang. Biar bisa foto-foto dengan latar luar negeri. Kaco banget, deh.

Tapi sekarang aku tidak berminat sekolah lagi. Mungkin karena aku malas belajar sebenarnya. Dan setelah kurenungkan, cita-citaku bukan itu. Bukan sekadar bisa foto-foto dengan latar yang cantik. Indonesia juga punya pemandangan yang cantik, kali. Tergantung kelihaian fotografernya saja.

Setelah aku ikut workshop yang diadakan Room to Read tahun lalu, rasanya cita-citaku seperti diperjelas. Cuma ya itu, semangatnya itu loh… susah banget mompanya, ya? Pompa semangat itu kutemukan lagi ketika beberapa hari lalu aku bertemu dengan teman-teman dari Book for Mountain. Mereka ini kegiatannya berkeliling ke desa-desa untuk mengajak anak-anak membaca. Kurang lebih begitu. Aku setidaknya itu yang kutangkap dari obrolan kemarin. Mereka kesulitan menemukan buku yang pas untuk disajikan pada anak-anak di desa. Mereka menginginkan buku anak yang Indonesia banget dan berkualitas. Waktu aku tunjukkan buku-buku hasil workshop Litara-Room to Read, mereka bilang, ya buku-buku seperti itulah yang mereka butuhkan. Tapi buku-buku seperti itu cari di mana dong? Buku yang kutulis di bawah payung Litara itu sayangnya tidak dijual. Dibagi gratis ke beberapa sekolah yang dipilih oleh Room to Read. Di toko buku, beberapa buku anak yang ada berupa kumpulan cerita (jadi tebal) atau kadang malah buku terjemahan. Kendala buku anak yang terjemahan itu–konon–nama tokoh yang sulit diucapkan bagi anak yang sedang belajar membaca. Plus latar belakang budaya yang berbeda juga. Semacam kurang “gue banget”.

Balik ke soal sekolah tadi, aku rasa saat ini aku hanya ingin “pulang”. Sekolah menjadi sesuatu yang jauh dan aku membayangkan betapa malasnya aku jika harus duduk di kelas dan mengerjakan tugas. Aku lebih ingin duduk-duduk di rumah, baca buku, lalu akhirnya bisa menulis lagi. Karena dalam suasana rumahan, pikiran jadi lebih tenang, dan jadi punya waktu untuk merenung.

Lagi pula, biaya sekolah mahal sekali. Untuk berjuang mendapatkan beasiswa, aku lebih malas lagi. Saingannya banyak. Muda-muda. Dan pasti mereka lebih punya semangat tinggi. Mungkin saat ini pilihanku berbeda dan tidak membanggakan. Tapi tidak apa-apa, kan?

Yang Kunikmati

Beberapa bulan lalu aku membaca buku dan menjumpai pertanyaan: Apa yang paling kamu sukai?

Apa ya?

Belum lama ini aku dikontak oleh temanku. Ceritanya, dia sekarang tinggal di luar Jawa. Dia menjadi kepala sekolah di sana. Dia bilang, dia ingin menambah koleksi buku untuk perpustakaan sekolahnya. Karena pulau yang dia tinggali itu jauh dari mana-mana, dia mau minta tolong aku untuk membelikan buku (dananya dari uangnya pribadi). Aku menyanggupi.

Dan tibalah hari ketika aku mulai belanja buku.

Ternyata, aku menikmati sekali berburu mencari buku yang bagus. Apalagi kan yang dicari adalah buku untuk anak. Selama ini aku koleksi buku anak, jadi hunting buku anak itu nikmat sekali.

Kupikir-pikir, belanja buku–walaupun bukan untukku sendiri–memberi kenikmatan tersendiri buatku. Semacam ada kepuasan jika menemukan buku bagus. Lalu aku membayangkan jika buku-buku itu jadi rebutan dan anak-anak jadi bertambah wawasan.

Kurasa, belanja buku adalah salah satu hal yang paling kunikmati. Dan aku bisa beneran lupa waktu.

Teliti Setelah Membeli

Tadi pagi, aku niat banget; pukul 09.00 kurang sedikit aku sudah sampai Gramedia Matraman. Karena toko belum buka, aku lihat-lihat buku obralan yang ada di teras depan. Setelah menunggu kira-kira 10 menit, toko dibuka, dan aku masuk.

Kunjunganku ke Gramedia ini kulakukan karena dari woro-woro yang kubaca di FB dan Twitter, Gramedia sedang mengadakan promo diskon 30% dengan menggunakan kartu Flazz dan kartu kredit BCA. Dari rumah aku sudah tahu buku apa saja yang akan kubeli. Tapi tetap saja aku keliling dari rak ke rak untuk melihat buku-buku baru. Mengunjungi toko buku, walaupun hanya melihat-lihat, itu baik buat kesehatan jiwa–setidaknya bagiku. Apalagi kalau dari rumah sudah berniat membeli buku dengan diskon.

Setelah puas keliling dari rak ke rak, aku memutuskan untuk segera ke kasir membayar buku-buku yang kubeli. Kuserahkan beberapa buku yang kubeli, lalu si mbak kasir bertanya apakah aku punya kartu anggota. Kujawab iya, sambil menyodorkan kartu Flazz yang berfungsi ganda sebagai kartu member Gramedia. Buku dipindai satu per satu lalu kubayar. Selesai? Belum. Cerita tidak berhenti sampai di sini. Kalau cuma begitu saja, tidak akan kutulis di blog dong. 😀 Ternyata waktu kucek notanya, aku tidak mendapat diskon. Loh? Ternyata begini (ini kurasa salahku juga) aku memang menyerahkan kartu Flazz, tapi karena kartu Flazz-ku belum kuisi, aku membayarnya dengan kartu debit BCA. Dulu seingatku waktu musim diskon begini, aku cukup menunjukkan kartu Flazz, membayar dengan kartu debit, dan tetap dapat diskon. Tapi okelah, aku yang keliru karena tidak menanyakan kepada si mbak kasir bagaimana persisnya untuk mendapatkan diskon. Dan mungkin sebaiknya aku tidak terlalu percaya pada ingatanku sendiri.

Karena dari rumah aku datang ke Gramedia untuk dapat diskon, aku menanyakan apakah tidak mungkin proses pembelian ini semacam dibatalkan lalu aku mengisi kartu Flazz-ku dulu supaya bisa dipakai dan dapat diskon. Ternyata bisa. Si mbak kasir cukup kooperatif. Tapi dari hal ini sebenarnya aku agak menyesalkan kenapa waktu aku menyerahkan kartu Flazz, aku tidak diberitahu semacam ini misalnya: “Kalau ingin mendapatkan diskon 30%, silakan Anda top-up dulu kartu Flazz-nya.” Atau: “Kalau ingin mendapatkan diskon, bayarnya pakai kartu Flazz. Jadi, silakan top-up dulu di lantai bawah.” Tapi kuakui, aku juga kurang proaktif untuk bertanya lebih detail. Aku hanya mengandalkan ingatan yang tidak seperti gajah ini. Oke, baiklah aku mengaku salah. Jadi, pelajaran pertama dari kejadian ini adalah: Jangan mengandalkan ingatan; tanyakan ke kasir dan dapatkan informasi sejelas mungkin bagaimana caranya untuk mendapatkan diskon. Jangan terlalu berharap pihak kasir akan memberi tahu kita bahwa ada diskon dengan menggunakan kartu tertentu. Ini penting supaya tidak menyesal.

Nah, kejadian yang menurutku agak menggelikan dan “aneh” adalah komentar petugas kasir ketika melihat satu buku anak terbitan Kiddo: “Semua dapat diskon, kecuali buku ini.”

Aku langsung menjawab, “Setahu saya, Kiddo itu lini anak penerbit KPG, Mbak.” (Agak deg-degan juga karena aku menjawab berdasarkan ingatanku saja. Beberapa hari lalu, dari seorang teman, aku mengetahui bahwa Kiddo itu bagian dari KPG.)

Si mbak kasir masih belum percaya. Lalu dia mengecek ke bagian customer service. Memang pada akhirnya buku itu dapat diskon sampai 30% sih. Tapi bukankah ini lucu? Bagaimana mungkin pegawai toko buku Gramedia tidak tahu penerbit mana saja yang termasuk kelompok Kompas Gramedia? Lagi pula, program diskon ini sudah berlangsung beberapa hari. Jangan-jangan selama beberapa hari kemarin orang-orang yang membeli buku terbitan Kiddo tidak mendapat diskon? Penerbit Kiddo tidak baru-baru banget, kan? Masak iya, tidak tahu? Nah, kini pelajaran kedua yang kupetik adalah: Kenali penerbit. Pegawai toko buku rupanya tidak selalu paham dengan nama penerbit. Kalau tidak teliti, bisa tidak dapat diskon loh. 😀

Kalau biasanya orang memakai pedoman “teliti sebelum membeli”, hari ini aku tak sengaja memakai pedoman “teliti setelah membeli”. Kalau aku tidak mengecek nota setelah dari kasir, mungkin aku tidak jadi dapat diskon saat beli buku.

Buku Favorit

Apa buku favoritmu? Aku sendiri kalau mesti menyebutkan buku favorit, agak bingung juga. Ada beberapa sih. Biasanya aku menyebut Para Priyayi dan Burung-burung Manyar. Kalau kamu tanya bagaimana cerita persisnya, aku lupa. Aku hanya ingat perasaan yang timbul setelah membaca dua novel itu. Tapi sebetulnya kalau berkaitan dengan perasaan, tidak hanya dua novel itu. Ada beberapa novel lain, di antaranya karya Jhumpa Lahiri.

Beberapa waktu lalu–sudah lama sih, benernya–Mbak Imelda memberiku satu buku, judulnya The Bridges of Madison County. Jarak antara ketika Mbak Imelda memberikan novel itu dan ketika aku membacanya pertama kali, agak lama. Kadang begitu deh “penyakitku”, mau baca buku, tapi eman-eman. Aku yakin novel itu bagus pas aku baca sekilas. Tapi ya gitu, mau baca kutunda-tunda, menunggu saat yang pas. Seingatku aku pertama membaca kali membaca buku ini ketika sedang dalam perjalanan ke Jogja. Pas baca pertama kali, hmmm… rasanya hatiku agak teraduk. Tapi nggak sampai mewek atau nangis bombay. 😀

ini penampakan novelnya :)
ini penampakan novelnya 🙂

Novel ini menceritakan kisah cinta seorang wanita, Francesca, dengan seorang fotografer, Robert Kincaid. Menurutku sih, cinta mereka serius. Sepertinya memang mereka itu menjadi belahan jiwa satu sama lain. Tapi akhirnya kisah mereka tidak bisa berlanjut karena wanita ini punya keluarga yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Buku ini cukup ringan, tapi mengesan. Menurutku, emosinya dapet deh!

Ceritanya, beberapa hari yang lalu, aku chatting dengan temanku, Joanna. Ngobrol ngalor-ngidul, dan sebagian isinya soal nostalgia ketika masih di Madiun dulu. Ah, ya … masa remaja kami dulu sepertinya memang menyimpan hal-hal manis. (Sambil nyanyi: “Terlalu manis untuk dilupakaaaan ….”). Sebagian cerita kenangan itu terbawa dan berlanjut sampai sekarang. Contohnya ya pertemananku dengan Joanna itu. Yang lain sih… off the record. Hihi. Apaan sih? Jadi, ceritanya sedang mengingat-ingat yang getir dan (melanjutkan yang) manis.

Dalam rangka nostalgia itu, kadang timbul perasaan-perasaan yang sulit dijelaskan. Sulit dipilah. Lalu, entah bagaimana siang tadi tanganku serta-merta mengambil novel pemberian Mbak Imelda itu lagi. Dan, aku mendadak tersentuh kembali. Entahlah, kali ini adukan perasaan yang kurasakan lebih dalam. Mungkin karena efek nostalgia. 😀

Akhirnya, tadi sempat chatting dengan Mbak Imelda membahas novel itu. Kesimpulannya (berdasarkan novel The Bridges of Madison County): Cinta itu rumit; kadang kita tidak bisa mengikuti semua keinginan kita karena kita tidak hidup sendiri. Kadang kita bertemu dengan orang yang pas banget di hati, tapi karena kondisi, karena satu dan lain hal, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, semacam cinta Francesca dan Robert Kincaid itulah. Meskipun hati mereka klik banget, meskipun pas ketemu mereka seperti menemukan “sigaraning nyawa” (belahan jiwa) satu sama lain, toh kisah mereka berjalan di tempat.

Buku ini akhirnya masuk ke jajaran salah satu buku favoritku… karena sanggup mengaduk perasaan. 😀 😀 Mbak Imelda, terima kasih sudah memberikan buku ini kepadaku. 🙂

Jangan Risau Jika Ada Buku Dibakar

Sebetulnya aku ingin posting dengan tema lain, tapi karena pengin mengeluarkan uneg-uneg, jadi aku tulis ini dulu saja. (Aku jadi bertanya-tanya, sebetulnya kata uneg-uneg itu berasal dari kata atau bahasa apa? Kenapa mesti ditulis berulang, bukan “uneg” saja?)

Ketika aku pernah jadi teman belajar seorang bocah, dia sempat bertanya kepadaku, “Kenapa sih perlu belajar bahasa Inggris?” Jujur saja aku agak kelabakan ditanyai seperti itu oleh anak kelas 4 SD. Apa yang mesti kujelaskan? Bagaimana menjelaskan secara lebih sederhana konsep di dalam kepalaku tentang pentingnya bahasa Inggris? Apakah cukup jika aku mengatakan bahwa dengan bersusah-susah bahasa Inggris sekarang nanti dia cas cis cus dengan orang asing kelak? Jawaban ini akan dengan mudah dia tangkis bahwa orang-orang yang dia temui adalah keluarga dan teman-temannya, dan dengan mereka semua dia cukup menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Dan memang bodohnya aku sih, tidak bisa berpikir cepat dan memproyeksikan hal-hal “berkilau” di masa mendatang yang bisa ia raih jika dia menguasai bahasa Inggris.

Namun, pertanyaan bocah itu terus melekat di kepalaku. Sampai sekarang. Mengapa perlu belajar bahasa Inggris? Mengapa perlu menguasainya? Ini pertanyaan reflektif bagiku. Mungkin aku bisa menjawab itu penting karena aku mendapat nafkah dari menerjemahkan buku bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Itu jawaban paling mudah bagiku sendiri. Tapi apakah hanya itu?

Dua hari ini aku mengikuti berita tentang sebuah buku terjemahan yang diprotes oleh ormas keagamaan tiga huruf. Bagiku menggubris ormas ini memang seperti mengikuti tuntutan orang tidak waras. Dan sayangnya pemerintah memberi ruang dan angin kepada orang-orang seperti itu. Sayangnya lagi, ternyata ada orang yang menurutku berpendidikan (setidaknya dia dosen sih) yang setuju sama tindakan ormas tersebut. Dengan kata lain, ada saja orang yang menyetujui kekerasan berkedok agama. Cuma bisa mengelus dada deh kalau begitu.

Oke, balik ke soal protes buku itu. Hari ini kubaca buku-buku itu akhirnya dibakar. Haiyaa … kecewa berat deh sama keputusan penerbit tersebut untuk membakar buku itu. Walaupun aku bisa mengerti juga apa kira-kira “ketakutan” penerbit itu sih. Mereka mengayomi banyak karyawan. Kalau toko mereka dibakar, berapa banyak orang yang kehilangan nafkah? Tapi di satu sisi, aku juga bertanya-tanya sampai kapan kita (kita? elu aja kali) akan tunduk pada ketakutan dan tuntutan orang gila? Sebetulnya pembakaran buku itu dapat dihindari kok. Aku yakin pihak penerbit dan editor tahu bagaimana caranya. Editor itu penjaga gawang atau penyaring. Kurasa kata-kata yang bisa membuat ormas tersebut murka, dipotong. (Yang aku heran, kenapa setiap ormas itu marah dan tersinggung, merepotkan banyak orang ya? Negara apa sih yang menurut begitu saja pada suatu ormas?) Itu cara paling mudah. Tapi kan sudah kebacut … nasi sudah menjadi bubur. Dan sebetulnya aku juga agak kurang sreg jika ada kata yang dipotong-potong begitu. (Bukan berarti sebuah buku tidak harus diedit, ya.) Ini bisa membuat buku kurang nendang. Menurutku sih.

Nah, di sinilah kupikir salah satu pentingnya menguasai bahasa Inggris. Dengan menguasai bahasa Inggris, kamu tidak perlu risau dengan tuntutan gila ormas keagamaan itu jika kamu saking penasarannya ingin membaca buku tersebut. Cari saja (kalau tidak punya uang, boleh pinjam, boleh unduh di internet) buku aslinya dalam bahasa Inggris, dan nikmatilah sepuasnya! Plus, kamu juga bisa membaca buanyaaak buku yang jauh lebih keren dan lebih nendang daripada buku-buku yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Mau cari buku apa saja ada. Tak hanya buku sebetulnya, majalah atau koran berbahasa Inggris tulisannya jauh lebih berisi. Efeknya, otakmu akan lebih berisi, wawasanmu lebih luas. Tertarik?

Ah, memang ini kedengarannya muluk-muluk dan terkesan kurang membumi, ya? Tapi dari pengalamanku sendiri, bisa membaca buku berbahasa Inggris yang tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia itu mengasyikkan. Dan aku merasa betapa jauh tertinggalnya pemikiran buku-buku yang ada di sini (baca: buku-buku berbahasa Indonesia). Mungkin kalau banyak buku diterjemahkan (apa adanya) dalam bahasa Indonesia, banyak orang akan terkaget-kaget :D. Dan … ormas tiga huruf itu akan lebih heboh lagi marah-marahnya. Memang susah sih ngajak orang berpikiran maju. Masih banyak orang yang lebih suka berkubang dalam ketidaktahuan.