Tak Cukup Hanya Mengirim Buku

Tulisan ini murni keinginan untuk mengungkapkan apa yang jadi ganjelan. Timbang nggak bisa tidur. 😀

Sekarang kulihat di masyarakat mulai tumbuh kesadaran soal literasi. Yang paling terlihat adalah adanya program pengiriman buku gratis ke taman bacaan terdaftar di TBM setiap tanggal 17. Itu keren. Bagaimanapun ongkos kirim itu lumayan memberatkan; apalagi kalau yang dikirim buku. Cukup mahal–setidaknya buatku.

Aku mengenal beberapa teman yang mau ikut sibuk dengan menjadi “simpul” pengiriman buku-buku yang akan disumbang. Jadi, kita tinggal berikan buku-buku tersebut, lalu dialah yang nanti menyatukan, mengemas, dan mengirimkan semua buku. Pihak yang akan menyumbang buku pun senang, to? Tinggal ngedrop buku, selesai. Beramal dengan menyumbang buku semudah belanja di warung.

Ada pula teman yang mau repot-repot membawa buku sampai ke daerah terpencil. Keren kan? Keren lah.

Namun, kupikir masih dibutuhkan langkah yang lebih jauh lagi yaitu melakukan pendampingan dalam membaca. Menyebarkan buku itu satu hal, sedangkan pendampingan adalah hal lain.

Aku pernah datang ke sebuah perpustakaan kecil di desa. Perpustakaan itu kecil dan kurang terurus. Sebetulnya di situ banyak anak kecil yang kurasa sangat membutuhkan perpustakaan. Memang di situ bukunya sedikit, tapi tak ada orang yang mengorganisir perpustakaan tersebut. Singkatnya tak ada orang yang membuat perpustakaan itu hidup. Buku-buku dibiarkan menumpuk tak dibaca.

Menghidupkan taman bacaan itu penting. Sama pentingnya dengan menyebarkan buku-buku sampai ke pelosok. Perpustakaan itu butuh orang yang bisa membacakan cerita dengan menarik (story telling), membaca lantang (read aloud), menyusun katalog, menata buku di rak supaya anak-anak (dan orang dewasa) tergugah membacanya, dan masih banyak lagi.

Ah, ya… aku kadang merasa bisanya ngomong doang. Kalau disuruh melakoni sebagai penggiat perpus, aku pasti punya banyak alasan. Levelku paling pol baru memilah buku yang ingin kusumbangkan dari koleksi buku-bukuku. Itu pun masih juga enggak sering-sering amat. Namun, kuharap soal menghidupkan taman bacaan itu semakin banyak yang memikirkannya. Atau barangkali memang sudah banyak yang memikir dan menggarapnya? Aku saja yang kuper kalau begitu.

Saatnya Penerbit Turun Gunung

Entah sudah berapa kali aku mendengar pembicaraan soal menurunnya penjualan buku dan majalah. Oplah menurun. Majalah banyak yang tutup. Ada yang bilang sekarang adalah zaman senjakala bagi penerbit. Kadang ikut deg-degan ketika mendengar kabar seperti itu.

Beberapa kali aku berpikir bahwa penerbit mungkin ada baiknya “turun gunung” menyapa langsung para pembacanya. Bukan sekadar lewat toko buku. Bukan hanya waktu ada acara peluncuran buku. Tapi benar-benar datang dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk membaca.

Apa itu membaca? Menurutku membaca itu tidak hanya soal mengeja. Membaca itu menangkap makna. Jadi, kalau ada tulisan: Tini makan singkong, perlu juga dilihat konteksnya. Singkong dimakan Tini sebagai kudapan? Sebagai makanan sehari-hari? Sebagai ganjal perut setelah dua hari tidak makan?

Balik lagi ke soal penerbit yang mengajak orang untuk membaca. Kadang kupikir penjualan buku menurun, minimnya minat baca, itu juga karena penerbit kurang turun gunung. (Habis gini ditoyor editor.) Sebenarnya buku bagus itu banyak. Yang ingin membaca kurasa juga banyak. Tapi kenapa buku-buku itu seperti tidak sampai ke (calon) pembaca yang haus bacaan? Ini semacam cinta tak sampai. Ngenes kan? Bikin buku yang bagus itu tidak mudah, biayanya pun tidak sedikit. Tapi begitu terbit, penjualannya kadang (atau sering?) mak plekenyiiik… Puk puk editor. Apalagi katanya minat baca masyarakat rendah. Jadi, bisnis buku itu kesannya suram.

Namun, kalau kita peduli soal gizi untuk tubuh, mestinya kita peduli pula soal “gizi” untuk otak. Hei, kamu tahu nggak kalau otak itu organ terpenting di tubuh kita? Kalau otak kita hanya dijejali ide-ide sampah, hidupmu bakal suram. Makanan untuk otak salah satunya adalah buku yang bagus. Buku yang menginspirasi. Buku yang menambah wawasan. Lalu, kalau daya serap buku di masyarakat makin berkurang, bukan tidak mungkin ini tanda-tanda kemunduran peradaban. Jadi, balik lagi ke tadi… membaca buku itu penting.

Belakangan aku berpikir bahwa penerbit itu ada baiknya membuat semacam gerakan meningkatkan minat baca. Ternyata, apa yang selama ini kupikirkan, dilakukan oleh Penerbit Kanisius. Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-95, Kanisius membuat gerakan untuk mengajak masyarakat membaca, yaitu dengan membentuk Sahabat Literasi. Salah satu kegiatannya adalah dengan turun ke Malioboro, lalu mengajak orang-orang yang saat itu ada sana untuk membaca. Selain di Malioboro, gerakan ini juga dilakukan di kereta Prameks Jogja-Solo, di bus TransJogja, di sekolah Mangunan. Menurutku ini suatu gerakan yang unik. Kuharap hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Dan semoga diikuti oleh para penerbit lain.

Nderek mangayubagyo, Kanisius. Teruslah menerbitkan buku-buku bermutu.

Pekerjaan

Apa yang kamu bayangkan ketika membaca kata “pekerjaan”? Bagiku, pekerjaan adalah tumpukan file di folder PC. Kadang entah kenapa ketika aku melihat file-file itu saja rasanya sudah capek. Seperti tumpukan baju kotor yang mau tak mau harus kubawa ke ember, kurendam, lalu kucuci. Kalau baju kotor aku bisa mengalihkan pekerjaanku pada mesin cuci. Tapi pekerjaan? Cuma aku dan harus aku. File-file itu bisa berubah menjadi angka-angka di rekeningku dan aku tersenyum. Kebanyakan pekerjaan itu bentuknya file naskah yang harus dialihbahasakan.

Eiy… tapi ada juga terselip satu dua naskah yang belum selesai-selesai. Sebetulnya di antara file-file itu, file cerita itu membuatku bergairah. Membuatku ingin melamun, googling mencari bahan, lalu membubuhkan satu-dua kalimat lagi atau menghapus bagian-bagian yang tidak perlu agar lebih padat. Tapi… tapi… kenapa ya, rasanya kok aku seperti merasa bersalah kalau kebanyakan melamun dan mencari ide?

Konon katanya pekerjaan mestinya aktivitas yang membahagiakan. Pekerjaan kita sehari-hari semestinya membuat kita menjadi manusia yang utuh. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu kan? Ada yang malah merasa capek setengah mati. Ada yang gara-gara pekerjaan menjadi stres, kehilangan waktu untuk melakukan hal-hal yang diinginkan. Ada yang ketika melihat pekerjaan orang lain, timbul rasa iri. Aku sebenarnya percaya bahwa kita masing-masing punya pekerjaan yang cocok, yang membuat kita bisa merasa menjadi manusia yang utuh, merasa berprestasi, berguna, dan akhirnya bahagia.

Aku sendiri bagaimana dong? Aku hanya ingin mencoba mencatat aktivitasku belakangan ini yang membuatku merasa senang, bersemangat, dan merasa penuh. Pagi ini aku bangun dan menilik sabun-sabun hasil eksperimen yang ada di dalam cetakan. Eh, aku belum bilang ya? Aku belakangan sedang hobi coba-coba membuat sabun. Kali ini aku mencoba memakai cetakan baru. Bentuknya mawar dan hati. Sudah dua hari sabun itu dalam cetakan. Kemarin aku mencoba membukanya, tapi ternyata belum padat benar. Hari ini sudah lebih padat. Yay! Lumayan berhasil. Dan aku suka baunya: pandan bercampur mawar. Masih perlu waktu sebulan lagi agar sabun itu bisa dipakai.

sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.
sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.

Satu lagi yang membuatku senang adalah ketika aku mendapat kiriman foto dari teman-temanku yang sudah menerima bukuku. Mereka membeli bukuku untuk anak-anaknya. Aku senang ketika mereka mengatakan bahwa anak-anak mereka menikmati bukuku. Yay! Aku sadar, aku masih perlu belajar banyak untuk bisa membuat cerita anak yang menarik. Tapi menerima foto dan kabar bahwa anak-anak mereka menyukai ceritaku, membuatku jadi berbesar hati. Mongkok, Saudara-saudara! Hehe.

Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.
Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.

Ada hal yang membuatku senang, yaitu eksperimen di memasak. Rasanya deg-degan gimanaaa gitu. Seperti apa nanti hasil masakanku? Enak nggak? Apakah disukai? Aku tidak sering-sering amat melakukan eksperimen di dapur karena memasak perlu waktu lumayan bagiku. Mulai dari persiapan sampai beres-beres. Terakhir aku eksperimen membuat brownies pisang. Bagiku yang jarang bikin kue, mendapat pujian atas brownies yang kubuat itu rasanya sueneeeng.

Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.
Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.

Ah, ya… kadang (atau sering?), kita perlu undur diri sejenak dari pekerjaan yang rasanya bikin gimanaaa gitu. Ya, ya… mestinya sih pekerjaan itu arena untuk bermain-main. Tapi yah… mungkin aku aja yang lagi geje. Jadi, sudahlah, postingan seperti ini untuk mengingatkanku bahwa aku melakukan beberapa hal yang membuatku cukup berprestasi. Merasa berprestasi itu penting lo, supaya kita nggak gampang depresi.

Tentang “Pulang” dan Secuil Cita-cita

Beberapa minggu lalu, aku melihat spanduk yang menyebutkan Gramedia Sudirman Jogja sedang mengadakan diskon besar. Aku pikir, nanti deh aku ke sana. Tapi aku ke Gramedia hanya dua kali. Itu pun menjelang diskonan berakhir. Sebetulnya aku pikir aku hanya akan lihat-lihat saja. Bokek lama-lama beli buku melulu. Timbunan makin tinggi saja. Fyuh… #ngekep dompet kenceng-kenceng. Tapi entah kenapa aku selalu luluh melihat harga buku anak dan resep yang miring. >,< Aku selalu nggak tahan dengan dua macam buku itu. Hiks. Kalau beli buku anak, alasannya: untuk belajar. Yaelah, buku referensi sudah banyak, tapi yang keluar baru seuprit. Hmm, biar seuprit tapi menyabet Second Prize Winner di ajang Samsung Kidstime Author’s Award, Singapore. Uyeaaah! *sombong.

ini si Widi dan bubur merah putihnya
ini si Widi dan bubur merah putihnya

Oke, menang sih senang ya. Tapi mestinya aku tidak hanya berhenti di situ. Bikin lagi, kek! Nggak hanya jago bikin alasan. Iya, kan?

Hmm, sampai mana tadi? Oh, ya aku sempat membeli buku di Gramedia. Yang diskon, tentunya ya. Nah, waktu melihat buku-buku yang digelar itu, aku dikejutkan oleh suara sapaan. Eh, tidak disangka aku bertemu temanku semasa kuliah. Dia tinggal di Kupang, dan waktu itu dia sedang mengantar istrinya yang orang Jogja untuk melihat-lihat buku. Senang juga ketemu teman lama. Tapi yang agak menohok, dia bilang dia pangling melihatku karena aku sekarang lebih gemuk. Hihihi. Ya, harus diakui, memang begitulah kenyataannya. (Jadi ingat mesti lebih rajin jalan pagi di Embung, deh.) Lalu, dia tanya, apakah aku melanjutkan studi sampai S2. Aku jawab tidak.

Dulu, ada masa aku ingin sekolah lagi. Tapi seiring berjalannya waktu, keinginan itu menguap. Mungkin karena aku kurang gigih berjuang. Tapi mungkin juga aku tidak punya “objektif” yang kuat. (Kok kaya membahas penyusunan karakter dalam naskah fiksi, ya?) Dulu aku pikir, kalau bisa sekolah lagi, keren aja. Iya, keren. Biar kaya orang-orang. Biar bisa foto-foto dengan latar luar negeri. Kaco banget, deh.

Tapi sekarang aku tidak berminat sekolah lagi. Mungkin karena aku malas belajar sebenarnya. Dan setelah kurenungkan, cita-citaku bukan itu. Bukan sekadar bisa foto-foto dengan latar yang cantik. Indonesia juga punya pemandangan yang cantik, kali. Tergantung kelihaian fotografernya saja.

Setelah aku ikut workshop yang diadakan Room to Read tahun lalu, rasanya cita-citaku seperti diperjelas. Cuma ya itu, semangatnya itu loh… susah banget mompanya, ya? Pompa semangat itu kutemukan lagi ketika beberapa hari lalu aku bertemu dengan teman-teman dari Book for Mountain. Mereka ini kegiatannya berkeliling ke desa-desa untuk mengajak anak-anak membaca. Kurang lebih begitu. Aku setidaknya itu yang kutangkap dari obrolan kemarin. Mereka kesulitan menemukan buku yang pas untuk disajikan pada anak-anak di desa. Mereka menginginkan buku anak yang Indonesia banget dan berkualitas. Waktu aku tunjukkan buku-buku hasil workshop Litara-Room to Read, mereka bilang, ya buku-buku seperti itulah yang mereka butuhkan. Tapi buku-buku seperti itu cari di mana dong? Buku yang kutulis di bawah payung Litara itu sayangnya tidak dijual. Dibagi gratis ke beberapa sekolah yang dipilih oleh Room to Read. Di toko buku, beberapa buku anak yang ada berupa kumpulan cerita (jadi tebal) atau kadang malah buku terjemahan. Kendala buku anak yang terjemahan itu–konon–nama tokoh yang sulit diucapkan bagi anak yang sedang belajar membaca. Plus latar belakang budaya yang berbeda juga. Semacam kurang “gue banget”.

Balik ke soal sekolah tadi, aku rasa saat ini aku hanya ingin “pulang”. Sekolah menjadi sesuatu yang jauh dan aku membayangkan betapa malasnya aku jika harus duduk di kelas dan mengerjakan tugas. Aku lebih ingin duduk-duduk di rumah, baca buku, lalu akhirnya bisa menulis lagi. Karena dalam suasana rumahan, pikiran jadi lebih tenang, dan jadi punya waktu untuk merenung.

Lagi pula, biaya sekolah mahal sekali. Untuk berjuang mendapatkan beasiswa, aku lebih malas lagi. Saingannya banyak. Muda-muda. Dan pasti mereka lebih punya semangat tinggi. Mungkin saat ini pilihanku berbeda dan tidak membanggakan. Tapi tidak apa-apa, kan?

Yang Kunikmati

Beberapa bulan lalu aku membaca buku dan menjumpai pertanyaan: Apa yang paling kamu sukai?

Apa ya?

Belum lama ini aku dikontak oleh temanku. Ceritanya, dia sekarang tinggal di luar Jawa. Dia menjadi kepala sekolah di sana. Dia bilang, dia ingin menambah koleksi buku untuk perpustakaan sekolahnya. Karena pulau yang dia tinggali itu jauh dari mana-mana, dia mau minta tolong aku untuk membelikan buku (dananya dari uangnya pribadi). Aku menyanggupi.

Dan tibalah hari ketika aku mulai belanja buku.

Ternyata, aku menikmati sekali berburu mencari buku yang bagus. Apalagi kan yang dicari adalah buku untuk anak. Selama ini aku koleksi buku anak, jadi hunting buku anak itu nikmat sekali.

Kupikir-pikir, belanja buku–walaupun bukan untukku sendiri–memberi kenikmatan tersendiri buatku. Semacam ada kepuasan jika menemukan buku bagus. Lalu aku membayangkan jika buku-buku itu jadi rebutan dan anak-anak jadi bertambah wawasan.

Kurasa, belanja buku adalah salah satu hal yang paling kunikmati. Dan aku bisa beneran lupa waktu.

Teliti Setelah Membeli

Tadi pagi, aku niat banget; pukul 09.00 kurang sedikit aku sudah sampai Gramedia Matraman. Karena toko belum buka, aku lihat-lihat buku obralan yang ada di teras depan. Setelah menunggu kira-kira 10 menit, toko dibuka, dan aku masuk.

Kunjunganku ke Gramedia ini kulakukan karena dari woro-woro yang kubaca di FB dan Twitter, Gramedia sedang mengadakan promo diskon 30% dengan menggunakan kartu Flazz dan kartu kredit BCA. Dari rumah aku sudah tahu buku apa saja yang akan kubeli. Tapi tetap saja aku keliling dari rak ke rak untuk melihat buku-buku baru. Mengunjungi toko buku, walaupun hanya melihat-lihat, itu baik buat kesehatan jiwa–setidaknya bagiku. Apalagi kalau dari rumah sudah berniat membeli buku dengan diskon.

Setelah puas keliling dari rak ke rak, aku memutuskan untuk segera ke kasir membayar buku-buku yang kubeli. Kuserahkan beberapa buku yang kubeli, lalu si mbak kasir bertanya apakah aku punya kartu anggota. Kujawab iya, sambil menyodorkan kartu Flazz yang berfungsi ganda sebagai kartu member Gramedia. Buku dipindai satu per satu lalu kubayar. Selesai? Belum. Cerita tidak berhenti sampai di sini. Kalau cuma begitu saja, tidak akan kutulis di blog dong. 😀 Ternyata waktu kucek notanya, aku tidak mendapat diskon. Loh? Ternyata begini (ini kurasa salahku juga) aku memang menyerahkan kartu Flazz, tapi karena kartu Flazz-ku belum kuisi, aku membayarnya dengan kartu debit BCA. Dulu seingatku waktu musim diskon begini, aku cukup menunjukkan kartu Flazz, membayar dengan kartu debit, dan tetap dapat diskon. Tapi okelah, aku yang keliru karena tidak menanyakan kepada si mbak kasir bagaimana persisnya untuk mendapatkan diskon. Dan mungkin sebaiknya aku tidak terlalu percaya pada ingatanku sendiri.

Karena dari rumah aku datang ke Gramedia untuk dapat diskon, aku menanyakan apakah tidak mungkin proses pembelian ini semacam dibatalkan lalu aku mengisi kartu Flazz-ku dulu supaya bisa dipakai dan dapat diskon. Ternyata bisa. Si mbak kasir cukup kooperatif. Tapi dari hal ini sebenarnya aku agak menyesalkan kenapa waktu aku menyerahkan kartu Flazz, aku tidak diberitahu semacam ini misalnya: “Kalau ingin mendapatkan diskon 30%, silakan Anda top-up dulu kartu Flazz-nya.” Atau: “Kalau ingin mendapatkan diskon, bayarnya pakai kartu Flazz. Jadi, silakan top-up dulu di lantai bawah.” Tapi kuakui, aku juga kurang proaktif untuk bertanya lebih detail. Aku hanya mengandalkan ingatan yang tidak seperti gajah ini. Oke, baiklah aku mengaku salah. Jadi, pelajaran pertama dari kejadian ini adalah: Jangan mengandalkan ingatan; tanyakan ke kasir dan dapatkan informasi sejelas mungkin bagaimana caranya untuk mendapatkan diskon. Jangan terlalu berharap pihak kasir akan memberi tahu kita bahwa ada diskon dengan menggunakan kartu tertentu. Ini penting supaya tidak menyesal.

Nah, kejadian yang menurutku agak menggelikan dan “aneh” adalah komentar petugas kasir ketika melihat satu buku anak terbitan Kiddo: “Semua dapat diskon, kecuali buku ini.”

Aku langsung menjawab, “Setahu saya, Kiddo itu lini anak penerbit KPG, Mbak.” (Agak deg-degan juga karena aku menjawab berdasarkan ingatanku saja. Beberapa hari lalu, dari seorang teman, aku mengetahui bahwa Kiddo itu bagian dari KPG.)

Si mbak kasir masih belum percaya. Lalu dia mengecek ke bagian customer service. Memang pada akhirnya buku itu dapat diskon sampai 30% sih. Tapi bukankah ini lucu? Bagaimana mungkin pegawai toko buku Gramedia tidak tahu penerbit mana saja yang termasuk kelompok Kompas Gramedia? Lagi pula, program diskon ini sudah berlangsung beberapa hari. Jangan-jangan selama beberapa hari kemarin orang-orang yang membeli buku terbitan Kiddo tidak mendapat diskon? Penerbit Kiddo tidak baru-baru banget, kan? Masak iya, tidak tahu? Nah, kini pelajaran kedua yang kupetik adalah: Kenali penerbit. Pegawai toko buku rupanya tidak selalu paham dengan nama penerbit. Kalau tidak teliti, bisa tidak dapat diskon loh. 😀

Kalau biasanya orang memakai pedoman “teliti sebelum membeli”, hari ini aku tak sengaja memakai pedoman “teliti setelah membeli”. Kalau aku tidak mengecek nota setelah dari kasir, mungkin aku tidak jadi dapat diskon saat beli buku.

Buku Favorit

Apa buku favoritmu? Aku sendiri kalau mesti menyebutkan buku favorit, agak bingung juga. Ada beberapa sih. Biasanya aku menyebut Para Priyayi dan Burung-burung Manyar. Kalau kamu tanya bagaimana cerita persisnya, aku lupa. Aku hanya ingat perasaan yang timbul setelah membaca dua novel itu. Tapi sebetulnya kalau berkaitan dengan perasaan, tidak hanya dua novel itu. Ada beberapa novel lain, di antaranya karya Jhumpa Lahiri.

Beberapa waktu lalu–sudah lama sih, benernya–Mbak Imelda memberiku satu buku, judulnya The Bridges of Madison County. Jarak antara ketika Mbak Imelda memberikan novel itu dan ketika aku membacanya pertama kali, agak lama. Kadang begitu deh “penyakitku”, mau baca buku, tapi eman-eman. Aku yakin novel itu bagus pas aku baca sekilas. Tapi ya gitu, mau baca kutunda-tunda, menunggu saat yang pas. Seingatku aku pertama membaca kali membaca buku ini ketika sedang dalam perjalanan ke Jogja. Pas baca pertama kali, hmmm… rasanya hatiku agak teraduk. Tapi nggak sampai mewek atau nangis bombay. 😀

ini penampakan novelnya :)
ini penampakan novelnya 🙂

Novel ini menceritakan kisah cinta seorang wanita, Francesca, dengan seorang fotografer, Robert Kincaid. Menurutku sih, cinta mereka serius. Sepertinya memang mereka itu menjadi belahan jiwa satu sama lain. Tapi akhirnya kisah mereka tidak bisa berlanjut karena wanita ini punya keluarga yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Buku ini cukup ringan, tapi mengesan. Menurutku, emosinya dapet deh!

Ceritanya, beberapa hari yang lalu, aku chatting dengan temanku, Joanna. Ngobrol ngalor-ngidul, dan sebagian isinya soal nostalgia ketika masih di Madiun dulu. Ah, ya … masa remaja kami dulu sepertinya memang menyimpan hal-hal manis. (Sambil nyanyi: “Terlalu manis untuk dilupakaaaan ….”). Sebagian cerita kenangan itu terbawa dan berlanjut sampai sekarang. Contohnya ya pertemananku dengan Joanna itu. Yang lain sih… off the record. Hihi. Apaan sih? Jadi, ceritanya sedang mengingat-ingat yang getir dan (melanjutkan yang) manis.

Dalam rangka nostalgia itu, kadang timbul perasaan-perasaan yang sulit dijelaskan. Sulit dipilah. Lalu, entah bagaimana siang tadi tanganku serta-merta mengambil novel pemberian Mbak Imelda itu lagi. Dan, aku mendadak tersentuh kembali. Entahlah, kali ini adukan perasaan yang kurasakan lebih dalam. Mungkin karena efek nostalgia. 😀

Akhirnya, tadi sempat chatting dengan Mbak Imelda membahas novel itu. Kesimpulannya (berdasarkan novel The Bridges of Madison County): Cinta itu rumit; kadang kita tidak bisa mengikuti semua keinginan kita karena kita tidak hidup sendiri. Kadang kita bertemu dengan orang yang pas banget di hati, tapi karena kondisi, karena satu dan lain hal, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, semacam cinta Francesca dan Robert Kincaid itulah. Meskipun hati mereka klik banget, meskipun pas ketemu mereka seperti menemukan “sigaraning nyawa” (belahan jiwa) satu sama lain, toh kisah mereka berjalan di tempat.

Buku ini akhirnya masuk ke jajaran salah satu buku favoritku… karena sanggup mengaduk perasaan. 😀 😀 Mbak Imelda, terima kasih sudah memberikan buku ini kepadaku. 🙂

Jangan Risau Jika Ada Buku Dibakar

Sebetulnya aku ingin posting dengan tema lain, tapi karena pengin mengeluarkan uneg-uneg, jadi aku tulis ini dulu saja. (Aku jadi bertanya-tanya, sebetulnya kata uneg-uneg itu berasal dari kata atau bahasa apa? Kenapa mesti ditulis berulang, bukan “uneg” saja?)

Ketika aku pernah jadi teman belajar seorang bocah, dia sempat bertanya kepadaku, “Kenapa sih perlu belajar bahasa Inggris?” Jujur saja aku agak kelabakan ditanyai seperti itu oleh anak kelas 4 SD. Apa yang mesti kujelaskan? Bagaimana menjelaskan secara lebih sederhana konsep di dalam kepalaku tentang pentingnya bahasa Inggris? Apakah cukup jika aku mengatakan bahwa dengan bersusah-susah bahasa Inggris sekarang nanti dia cas cis cus dengan orang asing kelak? Jawaban ini akan dengan mudah dia tangkis bahwa orang-orang yang dia temui adalah keluarga dan teman-temannya, dan dengan mereka semua dia cukup menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Dan memang bodohnya aku sih, tidak bisa berpikir cepat dan memproyeksikan hal-hal “berkilau” di masa mendatang yang bisa ia raih jika dia menguasai bahasa Inggris.

Namun, pertanyaan bocah itu terus melekat di kepalaku. Sampai sekarang. Mengapa perlu belajar bahasa Inggris? Mengapa perlu menguasainya? Ini pertanyaan reflektif bagiku. Mungkin aku bisa menjawab itu penting karena aku mendapat nafkah dari menerjemahkan buku bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Itu jawaban paling mudah bagiku sendiri. Tapi apakah hanya itu?

Dua hari ini aku mengikuti berita tentang sebuah buku terjemahan yang diprotes oleh ormas keagamaan tiga huruf. Bagiku menggubris ormas ini memang seperti mengikuti tuntutan orang tidak waras. Dan sayangnya pemerintah memberi ruang dan angin kepada orang-orang seperti itu. Sayangnya lagi, ternyata ada orang yang menurutku berpendidikan (setidaknya dia dosen sih) yang setuju sama tindakan ormas tersebut. Dengan kata lain, ada saja orang yang menyetujui kekerasan berkedok agama. Cuma bisa mengelus dada deh kalau begitu.

Oke, balik ke soal protes buku itu. Hari ini kubaca buku-buku itu akhirnya dibakar. Haiyaa … kecewa berat deh sama keputusan penerbit tersebut untuk membakar buku itu. Walaupun aku bisa mengerti juga apa kira-kira “ketakutan” penerbit itu sih. Mereka mengayomi banyak karyawan. Kalau toko mereka dibakar, berapa banyak orang yang kehilangan nafkah? Tapi di satu sisi, aku juga bertanya-tanya sampai kapan kita (kita? elu aja kali) akan tunduk pada ketakutan dan tuntutan orang gila? Sebetulnya pembakaran buku itu dapat dihindari kok. Aku yakin pihak penerbit dan editor tahu bagaimana caranya. Editor itu penjaga gawang atau penyaring. Kurasa kata-kata yang bisa membuat ormas tersebut murka, dipotong. (Yang aku heran, kenapa setiap ormas itu marah dan tersinggung, merepotkan banyak orang ya? Negara apa sih yang menurut begitu saja pada suatu ormas?) Itu cara paling mudah. Tapi kan sudah kebacut … nasi sudah menjadi bubur. Dan sebetulnya aku juga agak kurang sreg jika ada kata yang dipotong-potong begitu. (Bukan berarti sebuah buku tidak harus diedit, ya.) Ini bisa membuat buku kurang nendang. Menurutku sih.

Nah, di sinilah kupikir salah satu pentingnya menguasai bahasa Inggris. Dengan menguasai bahasa Inggris, kamu tidak perlu risau dengan tuntutan gila ormas keagamaan itu jika kamu saking penasarannya ingin membaca buku tersebut. Cari saja (kalau tidak punya uang, boleh pinjam, boleh unduh di internet) buku aslinya dalam bahasa Inggris, dan nikmatilah sepuasnya! Plus, kamu juga bisa membaca buanyaaak buku yang jauh lebih keren dan lebih nendang daripada buku-buku yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Mau cari buku apa saja ada. Tak hanya buku sebetulnya, majalah atau koran berbahasa Inggris tulisannya jauh lebih berisi. Efeknya, otakmu akan lebih berisi, wawasanmu lebih luas. Tertarik?

Ah, memang ini kedengarannya muluk-muluk dan terkesan kurang membumi, ya? Tapi dari pengalamanku sendiri, bisa membaca buku berbahasa Inggris yang tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia itu mengasyikkan. Dan aku merasa betapa jauh tertinggalnya pemikiran buku-buku yang ada di sini (baca: buku-buku berbahasa Indonesia). Mungkin kalau banyak buku diterjemahkan (apa adanya) dalam bahasa Indonesia, banyak orang akan terkaget-kaget :D. Dan … ormas tiga huruf itu akan lebih heboh lagi marah-marahnya. Memang susah sih ngajak orang berpikiran maju. Masih banyak orang yang lebih suka berkubang dalam ketidaktahuan.

Have A Little Faith: Kisah Hebat Dua Orang Sederhana

Rasanya aku sudah agak terlambat mendapatkan buku ini. Sebenarnya aku sudah lama melihatnya dipajang di rak toko buku, tetapi aku selalu menunda membelinya. Kupikir aku akan mudah mendapatkannya. Tapi dugaanku keliru. Entah aku yang kurang teliti mencarinya di sela-sela buku, entah memang buku ini habis di toko, aku baru mendapatkan buku tulisan Mitch Albom ini dua tahun kemudian sejak dicetak untuk pertama kalinya dalam edisi bahasa Indonesia.

Aku kenal tulisan Mitch Albom yang pertama lewat bukunya Tuesday With Morrie (Selasa Bersama Morrie). Kakakku yang pertama kali membawa buku ini kepadaku. Dia bilang, buku ini bagus banget. Memang ada dua orang yang bisa benar-benar membujukku membaca buku tertentu: kakakku dan suamiku. Jadi, aku percaya saja waktu dia berkata begitu. Sejak mengenal Mitch dalam kisahnya tentang profesornya, Morrie, aku jadi membeli buku-buku Mitch yang terbit kemudian. Terakhir buku Have A Little Faith (Sadarlah) inilah yang kubeli kira-kira seminggu yang lalu.

Aku agak lama membaca buku ini. Pelan-pelan; karena aku takut buku ini cepat habis kubaca dalam sekejap. Buku setebal kira-kira 270 halaman ini sebenarnya kalau aku tidak ingat punya cucian kotor, terjemahan, dan mesti memasak serta nyapu-ngepel, bisa selesai yaaa 2 hari lah. Selain itu, entah kenapa ya, aku justru suka memelankan kecepatan bacaku kalau aku merasa buku tersebut menarik dan bisa membenamkanku.

Dan, sore ini aku selesai membacanya–dengan diiringi air mata. Huh, cengeng memang aku ini. Nonton film anak-anak yang lucu macam Totoro saja aku sempet mewek kok, apalagi baca Have A Little Faith. 😀 😀 Sebenarnya yang membuatku menangis adalah mengingat buku ini mengangkat kisah nyata.

Dalam Have A Little Faith ini Mitch bercerita tentang Reb–Rabi Albert Lewis–dan seorang pendeta Henry Covington. Awalnya, Mitch diminta sang Reb untuk menyampaikan eulogi saat beliau meninggal. Mitch adalah seorang Yahudi, dibesarkan dalam tradisi Yahudi, tetapi dia akhirnya menikah dengan perempuan Kristen. Well, aku kurang tahu seperti apakah persisnya agama Yahudi itu dan bagaimana masyarakat di barat (Amerika) memandangnya. Tapi kalau kubaca dari buku ini, rasanya di barat (Amerika) semacam ada sinisme terhadap orang Yahudi. Yah, barangkali semacam pertentangan antar agama lah kalau di sini. Mungkin lo, ya. Tapi barangkali aku keliru. Mitch sendiri dalam perjalanannya menjadi manusia dewasa memiliki sinisme terhadap orang-orang beragama. Dia sendiri mengaku bahwa ketika ia masih kecil dan harus mengikuti pelajaran agama di sinagoga, dia merasa ingin lari dari Reb.

Awalnya aku mengira Reb ini orang yang tegas banget, kaku, dan kurang menyenangkan. Aku berpikir begitu karena kok Mitch ini pengennya lari melulu dari Reb. Tapi semakin ke sini, aku melihat kebalikannya. Aku merasa, Reb ini baiiiik banget. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Ah, tokoh di buku kan memang suka dilebih-lebihkan. Mana ada orang yang baik banget?” Tapi aku beberapa kali mengingatkan diriku sendiri bahwa tokoh Reb ini memang pernah hidup. Namanya juga kisah nyata kan?

Jadi, untuk bisa menyampaikan eulogi saat Reb meninggal, Mitch akhirnya berusaha mengenal diri Reb dengan baik–selama delapan tahun terakhir hidup Reb. Mereka bersahabat. Barangkali seperti guru dan murid relasi mereka. Guru dan murid yang dekat. Dari kedekatan mereka itulah Mitch mengisahkan nilai-nilai yang dipegang Reb: soal kesederhanaan, menghormati orang lain yang punya keyakinan berbeda, mengasihi. Semua itu tak hanya dikhotbahkan Reb, tetapi dijalaninya dengan setia. Tampaknya mudah dan sederhana ya? Tapi kalau membaca detailnya, aku seperti malu sendiri. Beneran. Salah satunya tentang relasi Reb dan Teela Singh. Teela ini adalah perawat kesehatan Reb sekaligus teman belanjanya Ketika berkendara untuk ke sebuah tempat perbelanjaan, Teela biasa menyetel musik rohani Hindu dan Reb menikmatinya serta meminta syair lagu itu diterjemahkan untuknya. Teela biasanya akan menjelaskan soal reinkarnasi berkaitan dengan pandangannya. Reb kemudian akan mengajukan beberapa pertanyaan, lalu minta maaf karena tidak memahami banyak soal agama Hindu (hal. 169). Di situ terlihat Reb sangat menghargai keyakinan agama lain, dan dia tidak memaksakan orang lain menganut keyakinan seperti dirinya.

Sedikit berbeda dengan kisah Reb, kisah Henry Covington–seorang pendeta dari gereja I Am My Brother’s Keeper–dimulai dari masa muda Henry yang terlibat dalam banyak kejahatan. Dia pernah mengedarkan narkoba, merampok, dan berbagai kejahatan lain semata-mata demi mendapatkan banyak uang. Ia sempat masuk penjara, lalu kembali lagi ke dunia hitam. Tapi suatu peristiwa, setelah merampok bandar narkoba, ia lalu sadar. Bahasa rohaninya: bertobat. Kalau aku bilang sih, ia bertobat 100%. Ia meninggalkan kehidupan lamanya, lalu melayani para tunawisma. Ia lalu menjadi pendeta di gereja I Am My Brother’s Keeper tersebut. Agak panjang sebenarnya cerita lengkapnya (jadi, baca bukunya saja deh untuk lebih jelasnya). Banyak tunawisma yang diselamatkan oleh Henry. Ia memberi mereka tumpangan, pakaian, makanan. Padahal saat itu Henry juga kondisinya miskin. Tapi entah bagaimana, dia bisa saja memberikan diri untuk melayani para gelandangan itu.

Buku ini penuturannya mengalir. Ceritanya berganti-ganti, pertama cerita Reb, lalu cerita tentang Henry. Ceritanya banyak memasukkan percakapan. Yang menarik sebenarnya, dua orang itu–Reb dan Henry–tidak hanya bicara dan berkhotbah di atas mimbar, tetapi mereka menjalani hidup sesuai dengan keyakinan mereka, dan hal itu memberikan dampak yang luar biasa terhadap orang-orang di sekeliling mereka. Barangkali, seperti itulah kasih yang tulus. Dan satu hal lagi yang menurutku “hebat” adalah, keduanya sama sekali tidak pernah membujuk orang untuk berganti keyakinan. Tapi dari kehidupan mereka sendiri, aku yakin banyak orang yang akhirnya terpesona dengan keyakinan mereka. Juga, keduanya tak memiliki kebencian. Aku membayangkan, hidup Henry yang melayani para tunawisma itu pasti tidak mudah. Begitu pula Reb sebagai orang Yahudi, kurasa banyak orang yang memiliki praduga tidak mengenakkan terhadap dirinya. Tapi, mereka tidak membenci siapa pun. Heran deh. Setidaknya begitu yang ditulis oleh Mitch dalam buku ini.

Dan, ketika di akhir buku ini dikisahkan Reb meninggal. Hiks hiks … nangis deh aku. Rasanya seperti ikut kehilangan. Lebay ya? Hihi. Mungkin kalau dua tokoh ini hanya rekaan seperti halnya dalam buku fiksi, aku tidak akan begitu terpukau. Masalahnya, dua orang ini ada betulan (Henry masih hidup, sedangkan Reb sudah meninggal).

Buku ini membagikan banyak hal berkenaan tentang hidup dan spiritualitas. Kalau kubilang, pantas untuk dapat empat bintang (dari total lima bintang). Benar-benar memperkaya wawasan soal hidup; soal relasi dengan orang-orang di sekeliling kita.

Hmm, ngomong-ngomong buku terakhir apa yang kamu baca? Menarikkah?

Data buku:

Judul bahasa Inggris: Have A Little Faith
Judul bahasa Indonesia: Sadarlah
Sub judul: Sebuah kisah nyata tentang perjalanan iman untuk menemukan tujuan hidup
Penulis: Mitch Albom
Terbit dalam bahasa Indonesia: November 2009 (cetakan pertama)
Alih bahasa: Rani R. Moediarta
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Hari Nano-nano

Kemarin itu hari gado-gado bin nano-nano buatku. Ceritanya kemarin ada teman dari Bandung, Pak James, datang ke Jakarta untuk hadir di Christian bookfair (pameran buku Kristen) di Citraland. Aku mangu-mangu mau datang ke sana. Utamanya sih karena jauhnya dan memakan waktu. Mesti menghitung waktu dan tenaga. Buatku, bepergian di Jakarta itu butuh tenaga ekstra dan mesti diniati. Kalau tidak, ujung-ujungnya aku pasti tidak berangkat. Sebenarnya tidak hanya ketemu teman dari Bandung itu saja, tetapi juga sekalian ketemu teman lain, Thomdean, si tukang gambar. Sudah lama tidak mengobrol dengannya. Dan kurasa kalau ketemu dengan Pak James dari Bandung dan Thomdean, pasti akan muncul ide-ide untuk berkarya. Oke deh, aku berangkat.

Tapi jujur saja, aku ragu-ragu waktu mau berangkat. Mendung dan angin yang berembus terasa dingin. Pasti akan hujan. Dan kehujanan di jalan itu biasanya sebisa mungkin aku hindari. Tapi kapan lagi bisa bertemu dengan sekaligus beberapa teman? Setelah tanya sana-sini kalau ke Citraland naik kendaraan apa, aku pun berangkat. Aku ke Kampung Melayu dulu untuk naik bus 213. Bus besar ini selalu penuh, jadi mesti berangkat dari Kampung Melayu supaya dapat tempat duduk. Sesampainya di Kampung Melayu, hujan langsung turun. Bres! Aku buru-buru membuka payung dan berlari-lari supaya bisa dapat 213 yang sudah akan berangkat. Dan untung aku dapat duduk yang cukup aman dari terpaan hujan. Maklum, kalau naik bus umum, hujan tetap bisa masuk dari sela-sela jendela dan pintu bus kan tidak pernah ditutup (kecuali bus patas, ya).

Selama ini aku kalau naik bus 213 seringnya cuma sampai jalan Sudirman saja atau pol sampai Slipi. Citraland adalah daerah yang hampir tak pernah aku sentuh sendirian. Aduh, kenapa ya aku ini masih suka deg-degan pergi sendiri di daerah yang jarang sekali aku kunjungi di Jakarta ini. Aku pernah ke Citraland, tapi rasanya cuma sekali. Itu pun sama suamiku. Ndeso sangat ya? Hehe. Aku memang kuper di Jakarta karena jarang keluar rumah (sendiri). Tahunya cuma daerah seputar tempat tinggalku. Kalau dilepas sendirian di Jakarta sepertinya bisa nyasar deh 🙂

Nah, akhirnya aku sampai Citraland dengan selamat. Ternyata bus 213 itu berhenti di samping mal tersebut. Sampai sana tidak hujan, hanya mendung, padahal tadi waktu lewat Sudirman hujan deras banget. Sesampainya di sana, aku ketemu teman-teman bekas kantorku dulu. Tapi aku segera bergabung dengan Thomdean dan Pak James untuk mengobrol soal buku. Memang kalau jadi pekerja lepas begini, mesti mencari teman sendiri, soalnya sehari-hari kan kerja sendirian. Kalau ada event dan bisa bertemu teman, kadang aku datang. Dengan bertemu teman-teman seperti itu, biasanya bisa memacu diri untuk berkarya.

Setelah mengobrol dengan mereka di foodcourt, aku lalu mampir ke stand penerbitan kantorku dulu. Aku cari-cari buku yang pernah kugarap. Banyak buku baru, dan hanya beberapa saja yang ikut kugarap. Buku-buku lama yang pernah kugarap itu ingin kujadikan kenang-kenangan, karena aku lupa, apakah masih menyimpan nomor buktinya. (Nomor bukti = setiap penerjemah atau penyunting akan mendapat buku yang dikerjakannya, buku itu disebut nomor bukti. Aku tidak tahu kalau di penerbit lain, hal itu disebutnya nomor bukti atau tidak.)

Nah, ini buku yang aku beli kemarin:


Buku ini berisi kumpulan kisah pergumulan orang-orang saat berdoa. Menarik sih menurutku. Jadi dikuatkan saat aku menerjemahkannya. Buku ini diterbitkan oleh Gloria Graffa, Oktober 2007 (224 halaman). Kemarin dapat diskon 40%, jadi harganya Rp 22.200.

Kalau yang ini berisi kumpulan kisah seputar Natal. Diterbitkan oleh Gloria Graffa, Oktober 2005 (112 halaman). Karena sudah lama banget, buku ini didiskon heboh, harganya Rp 6.000.

Pulangnya, aku bareng Thomdean. Agak lama juga menunggu 213. Ditambah lagi, aku pulangnya jam 4-an, jam pulang kantor. “Semestinya kita menghindari jam-jam seperti ini,” kata Thom. Ya, aku tahu sih. Begini deh, kalau lupa pakai jam tangan. Jadi nggak perhatian dengan waktu. Dan kami sukses naik bus 213. Bus sudah penuh, tidak dapat kursi. Tapi tempat untuk berdiri masih longgar banget. Sembari di jalan dilanjutkan lagi berbincang dengan Thom sebelum dia turun di Slipi. Ternyata dia suka main board game, sama seperti suamiku yang koleksi beberapa board game. Kayaknya mereka berdua harus bertemu dan main board game bareng deh. Soal board game rasanya perlu aku tulis kapan-kapan. 🙂

Bus 213 yang kutumpangi makin penuh. Rasanya berdiri masih cukup manusiawi dibandingkan naik kereta yang penuh saat jam orang berangkat dan pulang kantor, asal berdirinya jangan di depan pintu ya. Yang harus diwaspadai adalah jangan sampai kecopetan. Selepas dari Slipi bus seperti hampir tidak bergerak. Itu kira-kira sampai 30 menit deh. Atau lebih ya? It seemed forever. Capek berdiri, dan aku takjub dengan orang-orang yang harus berdesak-desakan di dalam bus setiap hari! Oh, no! Kalau penuh tapi jalanan lancar, rasanya masih mendingan deh. Tapi kalau tidak dapat tempat dalam kendaraan umum dan mesti terjebak dalam kemacetan, rasanya itu adalah latihan kesabaran yang baik hihi. Aku jadi bersyukur tidak harus mengalami hal seperti itu setiap hari. Bisa cepet kurus kayaknya ya? :p

Aku sudah putus asa; pasti tidak akan dapat tempat nih sampai Salemba. Aku cuma berkata dalam hati, “Tuhan, aku capek sekali. Aku pengin dapat tempat duduk.” Sebenarnya ada satu-dua penumpang yang turun, tetapi tempat duduknya sudah keburu dipakai orang karena tempatku berdiri agak jauh dari penumpang yang turun itu. Tapi waktu sampai Sudirman, mendadak bapak-bapak yang duduk di dekatku turun, dan aku dapat menggantikan tempat duduknya. Leganyaaaa … Sampai aku menulis ini, aku masih takjub kok bisa ya doaku terkabul? Memang doa itu sederhana sekali, cuma minta tempat duduk di dalam bus yang penuh. Tapi aku senang waktu dikabulkan. 🙂

Aku sampai rumah jam 19.30 malam. Wew! Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Aku keluar rumah pukul 11.30 siang, dan sampai rumah lagi 19.30. Delapan jam (!) dan rasanya setengahnya aku habiskan di jalan. 😀 Kalau tiap hari seperti ini, memang bisa tua di jalan ya. Tapi aku senang bertemu teman-teman dan dapat buku-buku.