Aku, Jazz, dan Java Jazz Festival

Ketika aku masih kecil, aku punya pengasuh. Mak’e, begitu aku memanggilnya. Ia tinggal bersama keluargaku sejak kakakku masih bayi. Bahkan ia ikut mengasuh anak-anak nenekku–alias om dan tanteku. Jadi, dia sudah lama sekali tinggal bersama kami. Kalau tidak salah awalnya dia ikut nenekku, tetapi kemudian dia tinggal bersama keluarga kami. Tapi bisa dikatakan dia adalah milik keluarga besar kami. Semua menyukai masakannya. Rasanya sampai sekarang di keluargaku belum ada yang bisa membuat masakan yang menyamai rasa masakannya. Pokoknya enak banget deh!

Karena orang tuaku bekerja, urusan pengasuhan aku dan kakakku serta segala macam urusan tetek bengek rumah tangga diurus olehnya. Yang jelas, dialah yang mengurus makan kami sekeluarga. Dia yang belanja dan memasak. Belanjanya nggak jauh-jauh sih, karena ada seorang tukang sayur yang selalu datang dan mangkal di depan rumah–Yu Nem, namanya. Mak’e biasanya berbelanja ketika aku sudah hampir berangkat ke sekolah. Walaupun belanja cuma sedikit, dia akan berlama-lama mengobrol dengan tukang sayur itu. Nah, saat yang menyenangkan adalah jika aku libur. Karena aku bisa ikut-ikutan duduk di situ, sambil mendengarkan obrolan soal harga daging yang naik, soal anak Yu Nem, atau soal nomor buntut yang keluar… hihihi. Rasanya mendadak aku ikut dewasa sejenak. Tapi aku pasti tetap dianggap anak-anak oleh mereka.

Eh, tapi apa hubungan cerita Mak’e ini dengan judul di atas? Begini, Mak’e adalah salah seorang agak-agak anti dengan musik jazz. Yang dia sukai adalah lagu-lagu lama dan klenengan–musik dengan gending Jawa. Nah, berhubung banyak waktu kuhabiskan bersama dia, maka beberapa kesukaannya dan ketidaksukaannya nular ke aku. Aku jadi menyukai lagu-lagu lama dan aku tidak menyukai musik jazz. Bagaimana mau suka musik jazz? Wong kalau ada tayangan musik jazz di televisi hitam putih kami yang jadoel itu, Mak’e selalu bilang, “Wis, jazz meneh… Pateni ae tivine.” (Wah, jazz lagi … Udah, matikan saja televisinya.) Dan itulah yang tertanam sejak kecil di benakku soal musik jazz. Musik itu tidak enak didengar. Pokoknya enggak aja deh!

Beberapa belas tahun kemudian ….

Suatu kali, beberapa minggu sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku berkesempatan mengantarkan tiga orang tamu dari Thailand. Mereka sebenarnya tamu temanku. Mereka hanya ingin puter-puter Jogja, dan karena saat itu waktuku banyak yang luang, aku ikut menemani mereka ke beberapa tempat wisata. Pada malam kedua mereka di Jogja, di depan Monumen SO ujung Malioboro ada pertunjukan musik jazz. Gratis. Waktu itu bintangnya adalah Tompi. Ketiga tamu itu rupanya suka jazz dan mereka ingin menonton. Pertunjukannya waktu itu sekitar pukul 7 atau 8 malam. Salah seorang temanku yang ikut mengantarkan ketiga tamu itu bertanya padaku: “Kamu mau ikut nonton jazz nggak?” Wedew … Sekian belas tahun aku tak pernah sekali pun benar-benar mendengarkan musik jazz, kali ini aku ditawari ikut nonton? Ya, gratis sih. Tapi dengan label bahwa musik jazz itu bukan musik yang enak didengar, kok rasanya gimanaaaa gitu, ya? Tapi kalau aku pulang duluan, kok sudah terlalu malam. Lagian waktu itu aku tidak naik motor. Mosok ya aku mau jalan kaki dari Malioboro sampai rumah? Bisa-bisa subuh baru sampai rumah deh (lebay!) Ah, sudahlah … akhirnya aku ikut nonton jazz saja. Kalau nanti di sana bosen, ya tidur aja. Beres kan?

Malam itu adalah kali pertama aku menyaksikan pertunjukan jazz secara langsung.

Lalu, bagaimana?

Rupanya aku sangat terkesan. Sangat… sangat… terkesan. Terkesan dengan para penyanyinya (sebelum Tompi muncul), yang bisa menjadikan lagu-lagu biasa jadi istimewa. Serasa baru. Apalagi waktu Tompi muncul, waaa … keren. Keren. K-e-r-e-n. Sepertinya jazz itu musik yang baru bisa dinikmati (lebih tepatnya aku sih) jika menontonnya secara langsung alias live. Waktu pertunjukan itu, yang membuatku terkesan adalah, ketika Tompi mengeluarkan keahliannya dengan mengeluarkan suara yang kaya anak kecil…. Apa itu namanya ya? Kalau di albumnya dia suka pakai teknik itu kok. Coba dengerin deh. (Dibayar berapa ya aku sama Tompi promosiin dia seperti ini? Hehehe.) Sepertinya dia pakai efek khusus (eh, ini aku sok tahu ding), tapi keren banget. Lalu para pemain musiknya juga bisa membawakan musik yang memikat. Entah kenapa kesannya, musik yang dimainkan tidak gedumbrangan. Dan satu hal yang membuatku rada terheran-heran adalah para penontonnya. Mereka itu rapi sekali duduknya, dan tidak ribut. Perilakunya lumayan baik lah. Kelihatan banget mereka–termasuk aku–sangat menikmati musik dan lagu-lagu yang dibawakan. Harap maklum ya kalau aku terkesan pada pertunjukan kali itu, soalnya aku ini anak yang kuper. Tidak pernah nonton pertunjukan musik atau band yang heboh. Jadi, pas menyaksikan pertunjukan musik jazz itu, aku merasa sangat terkesan.

Dan ndilalah … aku kok ya menikah dengan laki-laki penggemar jazz. Jadi, aku yang baru mulai kesengsem dengan jazz mulai berguru deh. Hihi. Salah satu momen untuk berguru adalah dengan menonton Java Jazz Festival (JJF). Yah, ini cerita tahun kemarin sebenarnya, karena tahun ini aku tidak nonton JJF. Wuah… aku sueneng banget bisa dapat tiketnya. Kabarnya (waktu itu) bakal banyak panggung pemusik jazz. Rasanya aku tidak sabar menunggu hari H.

Akhirnya hari itu pun tiba. Dan… aku kecewa. Loh kok?

Seperti yang kutulis di sini, aku kecewa berat dengan suasana di sana. Ya soal seluruh panggung dan tempat JJF yang ber-AC tetapi penuh dengan asap rokok (sumprit, pulang dari sana aku malah sakit), soal para penonton yang jika mengantre suka berdesak-desakan, soal makanan yang mahal. Ya, gitu deh. Mengecewakan lah. Ibaratnya, beli makanan dengan harga mahal, kita berharap dapat makanan yang enak; begitu juga di JJF dengan dengan tiket seharga dua ratusan ribu lebih, aku mengharapkan suasana dan tempat yang menyenangkan dong! Wong dulu pas nonton Tompi saja gratisan tetapi suasananya asyik kok, lha kok ini yang bayar sampe ratusan ribu suasananya jauh dari ekspetasi ya?

Minggu lalu di berlangsung JJF di Kemayoran. Mengingat pengalaman tahun lalu yang kurang menyenangkan, aku dan suamiku tidak tertarik lagi nonton jazz. Lupakan JJF. Cari pertunjukan jazz yang lain saja deh.

13 thoughts on “Aku, Jazz, dan Java Jazz Festival

  1. ternyata yang menentukan jazz itu bagus atau tidak adalah lingkungan ya mbak? saya rasa semua begitu. kita akan menyukai sesuatu jika lingkungan juga mendukung. bukan begitu ?🙂

  2. Iya tu, atmosfernya gak cocok kali waktu kecil. Layar hitam putih, suara tivi yang mono, ditampah suara dapur, mesin cuci, suara mak’e yang medok, dan suguhan mendoan, duduk dilantai, sambil ndenger tetangga ngegosip dan arisan… ndenger jazz jelas nggak klop sama sekali HAHAHA.

    Ah tapi jazz itu memang anggun. I love it too Kris.

  3. Aku kenal Jazz dari bapakku yang penggemar berat Al Jerreau. Awalnya sih memang suka mendengar Jazz fusion yang easy listening. Lama-lama mulai enjoy juga dengar yang agak berat seperti nomer2 Jazz Standard kayak Miles Davis dan Herbie Hancock hingga mainstream Jazz.

    Rekomendasi:
    Coba dengerin Jazz fusion dari Jepang mulai dari Jazz Rock-nya Tokyo Jihen, Orange Pekoe, atau yang legendaris kayak Casiopea

  4. Suara seperti anak kecil ?
    itu kalau tidak salah namanya …
    Falsetto … (a.k.a Falset )
    tekhnik untuk menjangkau nada-nada tinggi …
    biasa digunakan untuk memberikan aksentuasi dan atau improvisasi pada pagelaran musik … baik itu jazz maupun bukan jazz …

    (jiaaahhh trainer sok tau …)

    Yang jelas mengenai Jazz …
    Saya tidak bisa mengatakan suka atau tidak …
    karena bagi saya … selama itu enak di telinga … ada harmoni dikepala … menimbulkan sensasi di hati …
    Itu adalah musik yang bagus … (baik Jazz atau Bukan …)

    Salam saya Kris …


  5. Wah sama mbak, aku awal suka jazz juga dari nonton konser gratisan disebuah kampus…
    Nama evennya lupa, pokoknya ada jazz road show gitu deh..
    Saat itu nonton balawan yg maduin jazz sama gamelan..
    Wuih.. Uedan apik tenan..
    Abis itu jd suka dengerin kang mas buble, mbak yu Norah..🙂

    Mbak Kris ini masih termasuk penggemar jazz, belum penggila jazz…
    Temenku yg gila jazz aja nekad berangkat dr manado nonton jjf demi diane warren, toni braxton & john legend..😀
    ..

  6. JJF menurutku cukup memprihatinkan karena untuk mengenalkan jazz saja harus menggotong musisi dari aliran lain hehehe..

    Aku dapat kabar banyak dari temen2, mereka banyak ngeluh juga soal parkir JJF.

    Saranku, mau menikmati jazz itu datang aja ke bar2 yang memang konsen di jazz.. kupikir di Jakarta banyak dan di Jogja pun demikian…

    Aku sih ra patio seneng jazz.. rock never dies!🙂

  7. musik memang soal selera dan itu menunjukkan karakter kita. saya yang rada melow dan lebay ini, sukanya musik dengan nada ringan dan lirik yang bermakna. kalau musik dengan dentuman keras, aku kurang suka…🙂

  8. Aku suka jazz tapi nggak yang nge-jazz banget. Awal aku suka jazz karena pernah sekamar dengan penggemar berat jazz….. tiap pagi dia pasti nyetel musik jazz….
    Kalau mendengarkan audionya aja, jazz lebih enak didengerin sambil melakukan aktifitas yang lain.
    Aku juga pernah terpukau nonton pertunjukan jazz di Jogja dulu, biasaaa….yang gratisan hihi….

  9. aku suka smooth jazz…. awal-awal kenal jazz dari adikku yang suka Michael Franks. Lalu pernah dengar Neil Diamond juga kupikir dia jazz, ternyata dalam genre musik dia tidak masuk jazz. Sulit sebetulnya membagi genre musik itu bagaimana….tapi aku sama spt Nana ngga suka jazz yang berat banget sampai lagu aslinya ngga ketahuan lagi… terlalu banyak pletat-pletotnya juga ngga begitu suka…

    (FYI aku ngga begitu suka denger Indra Lesmana tuh hihihi)

  10. Waduhh..siapa tahu situasi sekarang menyenangkan Kris….
    Aku suka mendengarkan Jazz..lagi-lagi walau tak hafal nama penyanyi dan lagunya apa.

    Kris membaca ceritamu, saya ingat cerita si bungsu. Saat dia kecil, sebagian waktunya kan hanya ditemani sama pengasuh, karena saya pulang sore/malam hari. Salah satu si mbak ini pencinta dangdut. Dan setiap kali si mbak mandi, oleh si bungsu chanel radio dipindah biar ke musik pop atau jazz..lagi-lagi si mbak akan mengganti chanel ke dangdut jika selesai mandi.

    Mungkin….karena kupingnya terbiasa mendengar dangdut, jadilah saat karaoke sama teman2nya di Bandung, ( si bungsu kalau nyanyi lumayan, meniru bokap…saya dan si sulung bidik nadanya ngawur….tanya Imel deh, dia sakit kuping mendengar saya nyanyi)….ternyata cengkok dangdut bisa dinyanyikan si bungsu…jadilah jika ke karaoke oleh temen2 cowok lagu dangdutan jatuh ke dia.

  11. suka jazz juga, suka keroncong juga, suka rock juga (gara2 adikku tiap hari muter guns n roses), pokoknya yg enak ditelinga, kecuali rap..pusing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s