Air … Air … Air

Kemarin sore, waktu menyetel radio, aku dengar ternyata kemarin adalah Hari Air. Wah, aku baru tahu bahwa ternyata Air punya hari khusus juga. Baguslah kalau begitu. Karena air ini sering terabaikan. Pakai awalan “ter-” lo! Maksudnya, tidak sengaja mengabaikannya. Tidak ada maksud mengabaikan, tetapi dalam kenyataannya kok sepertinya sering dicuekin. Hehe. Aku sok tahu, ya? 😀

Ngomong-ngomong soal air, aku jadi ingat kejadian beberapa minggu yang lalu. Pagi itu aku bangun pagi dan bermaksud membuka kran air untuk bak mandi. Setelah beberapa saat kutunggu, loh, kok tidak ada setetes air yang mengalir? Oh, rupanya air di tangki atas habis. Oke, aku nyalakan saklar untuk menghidupkan pompa air. Loh … loh … kok tidak terdengar bunyi mesin pompa air seperti biasanya? Ya, ampun … ternyata pompa air itu lagi ngambek. Mendadak error di pagi hari karena ada bagian yang rusak. Huuuu …! Pagi-pagi kok sudah dapat kerjaan yang nggak mutu seperti ini to?

Ya, ya … di saat seperti itulah aku baru sadar bahwa ketersediaan air bersih itu penting. Ya iyalah. Pernyataan itu tak perlu disangkal lagi. Air bersih itu penting buat mandi, masak, minum, sikat gigi, dan mencuci. Tapi rasanya aku kurang bersyukur jika air bersih mudah aku dapatkan. Kadang aku masih suka kelupaan untuk mematikan kran air. Walaupun tidak sampai bermenit-menit, toh beberapa liter air bersih terbuang percuma.

Jujur saja, dulu aku tak terlalu peduli soal air. Dari kecil sampai sekarang ini, bisa dikatakan aku tak pernah tinggal di daerah yang susah air. Paling-paling hanya sebulan. Itu pun hanya sekali seumur hidup, yaitu ketika KKN dulu. (Tok…tok… jangan lagi deh. Sekali itu saja deh.) Saat itu aku kebagian jatah tempat KKN di Gunung Kidul. Walaupun tidak ditempatkan di desa yang terpelosok, (cukup dekat dengan jalan aspal, dan tidak terlalu jauh dari kota Wonosari) toh aku tetap kebagian merasakan kurangnya air. Air bersih harus beli. Dan waktu itu rasanya cukup mahal bagi kami, para mahasiswa yang duitnya tidak seberapa ini. Kadang kami tidak bisa segera menikmati air bersih yang kami pesan itu. Entah kenapa kok kadang mobil pengangkut tangki itu tidak cepat dalam melayani pembeli ya? Aku lupa apa alasannya.

Tapi begitulah, di saat tertentu kami kami harus sangat … sangat … sangat … berhemat. Kalau perlu, mandi sekali sehari, hi hi hi. Dan kami tidak bisa mandi jebar-jebur, dengan memakai air sepuasnya. Rasanya setiap tetes air itu ada label harganya–sekian rupiah. Jadi jangan boros! Kalau mau irit, sebenarnya bisa mandi bersama para warga desa lainnya, yaitu di sungai. Tapi saat itu aku dan beberapa teman perempuan merasa malu dan canggung ikut mandi di kali. Untuk mandi kaum perempuan dan laki-laki memang dipisah, sih. Tapi yaaa tetep malu untuk mandi di tempat umum dan terbuka seperti itu. Belum lagi aku kepikiran bahwa air sungai itu di tempat lain dipakai untuk mandi atau buang air oleh orang lain. Oh, tidaaaak! Lebih baik mandi sekali sehari. Agak mahal tak apa.

Nah, pengalaman tinggal di tempat yang susah air itu masih berbekas sampai sekarang. Dan rasanya sejak saat itu aku melihat air dengan cara pandang yang berbeda. Yaaa, kadang aku masih boros air juga sih. Tapi tidak seboros dulu lah.

Dan saat di Jakarta ini, aku kadang miris melihat padatnya perumahan yang hampir tak punya lahan serapan air. Air hujan menggelontor begitu saja menyusuri jalanan berbeton, dan entah menggenang di mana. Rasa-rasanya, air hujan itu sangat sedikit yang terserap ke dalam tanah. Padahal dalam satu kawasan perumahan, ada ribuan orang yang mengonsumsi air bersih–setiap hari, setiap saat. Kalau dikonsumsi terus, tapi masyarakat tidak mengatur agar banyak air yang terserap kembali ke dalam tanah, bisa habis dong. Belum lagi sekarang semakin banyak polutan yang mencemari air bersih. Dari buku anak-anak berjudul “Aku Suka Belajar … Air” terbitan BIP, dikatakan bahwa air yang bisa digunakan manusia jumlahnya kurang dari 1% air di seluruh dunia (hal. 55). Well, ini memang “hanya” buku anak-anak sih, tapi buku anak-anak tentunya tidak berbohong kan?

Aku cuma berpikir, jangan-jangan besok, entah generasi keberapa dari sekarang, air bersih lebih mahal dari logam mulia ya?