Sekilas Nostalgia dengan Umar Kayam

Aku mengenalnya kira-kira sepuluh tahun silam. Di sebuah perpustakaan besar yang dingin–perpustakaan terbaik yang pernah aku nikmati. Dinginnya ruang basement di perpustakaan itu sangat menggigit, tapi toh aku senang berada di sana. Dan sewaktu aku menyusuri rak-rak raksasa di situ, aku menemukannya. Ya, dia adalah sebuah buku tua yang agak tebal, berpenampilan lusuh, dan sampulnya sudah dibuat hardcover supaya tidak terlalu rusak. Judulnya bagiku kurang terlalu menarik, tapi cukup menggelitik untuk sekadar membaca sekilas halaman-halaman di dalamnya: Madhep Ngalor Sugih, Madhep Ngidul Sugih, karya Umar Kayam (UK).

Ketika aku membolak-balik buku itu, aku mulai tersenyum simpul sendirian. Isinya seolah-olah menjadi cerminan ke-Jawa-anku yang kadang-kadang tidak kusadari ini. Sebenarnya tulisannya biasa-biasa saja sih, cuma UK sering menyisipkan istilah bahasa Jawa yang rasanya pas betul untuk menggambarkan ekspresi atau suasana, misalnya:

Wates hanya sekitar 45 kilometer jauhnya dari Yogya. Dan Yogya hanya 45 menit penerbangan dari Jakarta. Artinya ukuran jauh dan dekat itu mulur-mungkret adanya.

….

Aneh juga, wong laki-laki kok senyumnya merak ati. Dan dalam era tegang dan cemberut bin mbesengut seperti sekarang ini senyum merak ati itu saya anggap aset yang dasyat sekali.

(Madhep Ngalor Sugih, Madhep Ngidul Sugih, hal. 165, Umar Kayam, Jakarta).

Ungkapan seperti mulur-mungkret, mbesengut, merak ati, itu rasanya menimbulkan efek tertentu saat membacanya. Kadang walaupun tidak lucu-lucu amat kalimatnya, bisa membuat tersenyum.

Entah mengapa, aku suka tulisan-tulisannya. Mungkin ini seperti jika aku menonton Dagelan Mataram atau dagelan lokal Jawa Timuran yang kutonton saat aku pulang–di saluran TV lokal. Rasanya guyonan yang biasa-biasa itu dekat di hati. Ibarat puzzle, seperti bisa mengepaskan posisinya di benak dan hatiku. Rasanya seperti mendengar dan menyaksikan obrolan tetangga sendiri, atau seperti ikut–nyemplung–dalam gojek kere; yaitu gojek atau gurauan yang wagu, biasa, tapi sanggup membuat kita tertawa. Dan di dalam kolomnya itu UK, memunculkan tokoh-tokoh yang tampak dekat dengan keseharianku dulu. Ya, walaupun tidak mirip banget, tapi cukup mengingatkan dan mencerminkan kondisi rumahan orang Jawa. Ada Pak Ageng, si majikan–seorang dosen biasa yang berumah di Jogja. Lalu ada pasukan wingking-nya–Mr Rigen, Ms Nansiyem, Beni Prakosa, dan Tolo-tolo–yang sepertinya sudah nderek dan melayani Pak Ageng cukup lama, dan menjadi orang kepercayaannya. Walaupun tampak ada kelas antara Pak Ageng dan Mr Rigen sekeluarga, tapi semuanya tampak selaras. Jawa banget to?

Sejak saat itu, aku mulai membaca beberapa karya UK. Ternyata UK tidak cuma piawai menulis kolom yang santai, tapi dia juga menulis banyak cerpen dan novel. Salah satu novel yang tak pernah bosan kubaca adalah Para Priyayi. Berbeda dengan tulisan di kolomnya yang santai, Para Priyayi ini tampak lebih serius.ย  Bercerita tentang keluarga Jawa yang priyayi, UK memotret dan memaparkan sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan priyayi. Kalau menurutku, di novel ini UK bisa mengetengahkan “soul” priyayi yang sebenarnya; yaitu bukan sekadar kelas, tetapi juga perilaku dan sikap.ย  (Kalau mau tahu lebih banyak, baca sendiri yaaaa๐Ÿ˜€.Ini buku bagus. Nggak akan nyesel menghabiskan waktu untuk membacanya.)

Sejak pertemuan kami di perpustakaan yang dingin itu, aku akhirnya memutuskan untuk mengoleksi karya-karya UK. Waktu itu aku masih bisa menemukan buku-bukunya dengan cukup mudah di toko buku. Tapi kurasa jika sekarang aku mengubek-ubek toko buku, belum tentu ketemu deh. Kalau Para Priyayi mungkin masih ada, tapi buku-bukunya yang lain aku tak yakin bisa menemukannya. Jadi, kurasa ada benarnya perilaku “spontan” dalam membeli buku. Soalnya kadang kalau tidak membelinya pada saat itu, belum tentu bisa menemukannya di lain kesempatan. Apalagi untuk buku-buku budaya jadul seperti itu, yang sepertinya sudah kalah dimakan dengan tren buku-buku masa kini.

Nah, beberapa hari yang lalu, entah mengapa aku tiba-tiba pengen membongkar beberapa koleksi bukuku karya Pak UK ini. Saat ini, di samping bantalku terdapat buku Madhep Ngalor Sugih, Madhep Ngidul Sugih dan Titipan Umar Kayam. Membaca buku itu seperti mengantarkanku ke gerbang Stasiun Tugu …๐Ÿ™‚ Dan aku seperti bisa mendengar seruan “penggeng eyem… penggeng eyem”-nya Pak Joyoboyo.

36 thoughts on “Sekilas Nostalgia dengan Umar Kayam

  1. Ternyata…ya ternyata….saya malah belum pernah baca bukunya UK..kebangetan ya. Dan baca ceritamu ini jadi pengin baca…membayangkan saja pasti seneng ada istilah-istilah yang jarang terdengar saat ini.

  2. Bu, buku itu menarik sekali buat saya sebagai orang Jawa. Yg kumpulan kolomnya UK di Koran Kedaulatan Rakyat itu cukup menyentil dan selalu membuat saya tersenyum. Tapi mungkin sekarang sudah agak susah mencarinya. Maklum buku lama, dan penulisnya sudah meninggal. Kalau Para Priyayi saya pernah melihat di toko2 buku. Coba kapan2 kalau nemu, diborong kemawon hehehe๐Ÿ™‚

  3. Aku pernah baca kumpulan cerpen karya beliau, lupa judulnya. Kalau novel masih belum pernah baca. Kayaknya guyonan beliau kurang kena bagi yang nggak ngerti bahasa Jawa kayak aku.

    • Memang, buat orang yg kurang mengerti bhs Jawa, guyonan UK jadi kurang terasa. Tapi Oni dikit-dikit sudah bisa ngerti lo. Hihihi.

  4. Kris, aku juga penggemar novel UK. Dua buku yang Kris sebut itu, “Madhep Ngendi-endi Sugih” (lho … kok sak enake ngganti judul ๐Ÿ˜€ ) dan “Para Priyayi” aku juga sudah baca. Malah sudah beli ukunya dua kali (soalnya buku pertama dipinjam entah siapa, dan entah kemana). Buku yang kubeli kedua kali juga entah masih ada apa tidak …

    Setuju, UK membuat ‘roso Jowo’ kita termanjakan … hehehe …

    • Kumpulan kolom di KR yg Mangan Ora Mangan Kumpul itu saya punya 3 di antaranya. (Padahal kayaknya ada 4 buku ya?) Setidaknya, itu yg ada di Jakarta. Besok kalau pulang mau bongkar lemari buku lagi, Bu๐Ÿ™‚ Dan UK itu kalau bikin ukara dan mengekspresikan sesuatu kok tepat banget ya? Pas untuk ukuran roso Jawa๐Ÿ™‚

  5. Aku kapan hari sempet ngeTweet begini.

    “Kasihan yang ga bisa bahasa Jawa.. Padahal pusat dari semua keindahan bahasa Indonesia dan banyolannya adalah Jowo Medok.”

    Haha… tapi memang kuakui, bahasa jawa itu jauh bisa menggambarkan sebuah ekspresif dari jiwa kita. Mau dicampur kata-kata buatan sendiripun pasti bisa jadi…

    Contohnya apa ya… “Aku lho bar ketiban pelem, MAK GUABLEK, BENGKONG tenan ndasku…”

    Yang aku huruf besar itu kata-kata buatanku barusan… haha… tapi mudeng kan kamu maksudku?๐Ÿ™‚

    Ah, aku bangga sekali bisa mengerti bahasa jawa.

    • Hahaha… “mak guablek”-mu kuwi lo, rasane nendang banget. Memang, bhs Jawa itu apalagi kalau sudah keluar medoknya, roso atau ekspresinya lebih kena.

  6. Kris, aku mencintai karya Umar Kayam justru setelah aku ‘mengenal’ Umar Kayam dan Jayabaya itu sendiri.

    Critanya, skitar taon 98, aku kenal sama seorang anak yg ternyata dia itu termasuk cucu ponakannya UK. Diajaklah aku maen ke rumah UK (waktu itu UK sudah sakit2an kayaknya).
    Yang kulihat dari sosok UK itu ya dia adalah pemeran BK di film G 30 S, aku waktu itu lom tau kalau dia adalah penulis sastra yang yahud.

    Lima tahun kemudian, waktu kantorku di Papringan, tau2 tiap pagi datang seorang penjual panggang ayam dan ternyata itu adalah Pak Jayabaya.

    Dan you know what, Pak Jayabaya itu teman main nenekku dari kecil dan sampe sekarang masih sering kontak karena ia tinggal di Klaten juga.

    Baru, skitar taon 2006, aku membaca buku UK, dan aku ketagihan.

    Aku rindu dengan buku2nya UK. Koleksiku masih tersimpan di Klaten, soon bakalan kuminta ortu untuk dikirim kemari.๐Ÿ™‚

    • Eh, Pak Joyoboyo itu ada to Don? Wah … wah …. Enak tenan po penggeng eyem’e? Jadi penasaran aku.

      Iya Don, minta segera buku2nya UK dikirim ke Sidney, lumayan ngge tombo kangen๐Ÿ™‚

      • setahuku semua tokoh itu ada kok.. ya Pak Joyoboyo, ya Mr Rigen sekeluarga… memang namanya bukan Mr Rigen, tp itu adalah nama samaran abdi-nya Pak UK sendiri

        Kakakku tuh yg sering ketemu dg ‘Mister Rigen’, dulu kan kakakku sering blusukan di bulaksumur, perumahan dosen, B21 – deket rumahnya UK.

        Yg aku blm tahu tuh “Prof Lemahamba” tuh hanya seorang, atau beberapa orang yg kelakuannya seperti itu…

  7. Hmmm …
    buku Umar Khayam yang saya punya cuma …
    Para Priyayi …

    Dan seingat saya … memang didalamnya tidak ada guyonan yang menurut istilah mbak Kris itu gojek kere … khas jawa …
    ๐Ÿ™‚

    • Memang kalau untuk tulisan yang serius seperti Para Priyayi itu, UK tidak memunculkan kelucuan seperti di Madhep Ngalor Sugih, Madhep Ngidul Sugih.

  8. wah, aku baru punya Para Priyayi, itupun belum sempet kubaca…

    Tapi bener tuh, kl beli buku mesti saat itu juga deh, sering nih, aku menunda beli buku yg kumau. Waktu mau beli beneran, buku itu udah nggak ada…huhuhu…apalagi sekarang, untuk beli buku harus ke kota besar terdekat. 155 km hiks..
    ntar mudik, bakal kalap nih hihi…

    • Hehehe, aku juga suka kalap kalau ke toko buku. Bener sih Na, kalau nggak beli saat itu jg, kadang buku yg kita cari udah ilang. Gak beredar lagi. Kalau kalap terus, benernya boros jg ya๐Ÿ™‚

  9. @Dewa Bantal

    โ€œKasihan yang ga bisa bahasa Jawa.. Padahal pusat dari semua keindahan bahasa Indonesia dan banyolannya adalah Jowo Medok.โ€

    Hmmmm, sepertinya anda terlalu berlebihan. Saya tidak merasa patut dikasihani koq walau gak bisa bahasa jawa dan tidak bangga-bangga amat bisa ngomong beberapa bahasa selain bahasa Indonesia. Kalau memang pusat keindahan bahasa Indonesia adalah jawa medok, berarti yang tak bisa berbahasa Jawa tak mengerti keindahan bahasa Indonesia dong?

    Mungkin lebih tepat jika dibilang pusat keindahan bahasa jawa adalah jawa medok. Toh kalau sampai bahasa Jawa dijadikan bahasa Indonesia jaman dulu, aku gak bisa membayangkan negara Indonesia bisa bertahan hingga 50 tahun lebih gara-gara pemisahan strata sosial lewat bahasa.

    • satu frasa saja deh komentarku: calm down … it’s just joke, i think๐Ÿ™‚

      Bikin tulisan dong ttg bahasa Melayu๐Ÿ˜‰

    • Wahahaha, terkesan rasis ya? Bukan itu maksudku, jadi sori kalo tersinggung.

      Tapi masalah keindahan suatu banyolan aku tetap menganggap Srimulat dkk itu paling kocak dibanding semua tv-show atau film2 komedi menggunakan bahasa baku plus alay dan gaul yang sering kali jayus nya bukan main๐Ÿ™‚

    • Ta, takon DV kui sing wis ngrasakne penggeng eyem’e pak Joyoboyo. Kalau mau baca, cari pinjeman dulu po? Kalau beli soalnya belum tentu ada–kecuali Para Priyayi kali ya…๐Ÿ˜€

  10. Mbak Kris, aku penggemar Pak Umar Kayam , punya novel Para Priyayi dan Jalan Menikung, kumpulan cerpennya dahsyat Seribu Kunang-kunang di Manhattan dan Sri Sumarah dan Bawuk.
    Yang berkesan aku pernah berjumpa beliau di Balai Bahasa Yogya waktu seminar ttg novel beliau Para Priyayi. Aku sempat tanya ttg perempuan Jawa di Para Priyayi yg semata jadi konco wingking. Seusai acara aku menemui beliau dan berslaman. Ada pesan Pak Umar kayam yg kuingat sampai hari ini ” Jangan pegang feminis terlalu erat, anak saya aktivis feminis tapi kalau di rumah apa yang ada di kulkas dibawa, kalau adiknya minta uang dia ikut minta…ha..ha…
    Aku bersyukur pernah berjumpa dan bercakap-cakap dengan Pak Umar semasa hidupnya, karena beberapa tahun kemudian beliau meninggal. Buat yang belum baca coba deh cari Seribu Kunang-kunang di Manhattan cerpen itu luar biasa indah dalam kesederhanaannya.

    • wah, sudah pernah ketemu dan ngobrol2 dengan UK? pasti berkesan ya Mbak…

      saya jadi pengen membongkar koleksi saya yang masih ada di jogja nih. Seribu Kunang-kunang di Manhattan masih ada di sana. seingat saya, cerpen itu memang bagus sih…

  11. Gubrak!! jd ingat, “jalan menikung” dulu dmana yach?? perasaan pernah beli deh๐Ÿ˜ฆ

    memang bahasa yg digunakan UK sangat njawani.. pas banget menunjukkan ekspresi dan kondisi yg terjadi

    • ayo mas, bongkar lagi koleksimu…๐Ÿ™‚
      kekhasan UK adalah bisa mengekspresikan Jawa dengan pas. itu menurutku sih..

  12. @Kris
    ooohh….. saya gak tersinggung koq. Cm kesan tulisannya yang men-generalisasi pendapat satu orang “jawa” Indonesia untuk seluruh penduduk termasuk “non jawa” Indonesia terkesan pen-jawanisasi bahasa Indonesia๐Ÿ˜†

    @Dewa Bantal
    Sekali lagi saya bilang kalau saya gak tersinggung koq. Hanya saja agak terganggu dgn penggunaan bahasa tulisan anda yang cenderung “menghakimi” pengguna bahasa Indonesia lainnya.

    Saya sendiri orang melayu, sampai sekarang nggak mudeng sama komedi srimulat. Lucunya dimana gitu toh, tak jauh dari komedi slaptik berulang-ulang. Tapi kalau ludruk (dulu pernah liat ludruk ITB pada masa jayanya) memang mengocok perut.

    • Ya kamu berati satu diantara mereka yang gak bisa menerima sindiran humorku. Serius bener ah.

      Ya ya ya aku “menghakimi” mereka tuh, yang tinggal di kota metropolis, tapi gak merasa bagian dari penduduk Jawa,๐Ÿ™‚

      Aku memang sering sekali menyindir tapi gak pernah sekalipun meremehkan ato menjelekkan orang lain.

      • Lho lho lho
        Koq balasan anda bener2 jadi seriusan?๐Ÿ˜†
        Komentar saya dibawah ini penuh dengan sindiran, why so serious?

        Tinggal di pulau jawa ataupun penduduk pulau jawa khan tidak harus bisa bahasa Jawa. contohnya orang betawi dan orang sunda๐Ÿ˜€
        Atau maksud anda para pejabat tinggi di ibu kota yg suka bicara “dari pada” sampai menggunakan imbuhan “ken” sebagai pengganti “kan”?๐Ÿ˜†

        Saya setuju koq sama pendapat anda. yang tinggal di kota metropolis, tapi gak merasa bagian dari penduduk “di pulau” Jawa. Harusnya semua orang di Jakarta belajar bahasa Betawi!
        Bukan begitu Kris๐Ÿ˜†

        baiklah… baiklah, saya terima saja lah klaim anda yg tak pernah meremehkan orang lain:mrgreen:

      • Ooo… soalnya sebelum tulisanku yang terakhir diatas, jawabanmu berkesan serius sekali, ya kupikir kamu gak bisa diajak bercanda masalah bahasa jawa. Ya bagus kalo sudah bisa nerima๐Ÿ˜€

      • Nah itu dia. Anda terkesan meremehkan saya๐Ÿ˜†
        Dengan penggunaan kata “sudah” berarti anda sebelumnya meremehkan saya tidak bisa menerima joke.๐Ÿ˜ˆ
        Bukankah itu tidak selaras dgn ucapan anda yg bilang tak pernah meremehkan orang lain?๐Ÿ˜›

        *sepertinya anda harus belajar bahasa Indonesia lagi sebelum “menghakimi” keindahan bahasa Indonesia
        **sepertinya anda tidak bisa menerima joke yg tersirat di dalam kata2 serius berbahasa Indonesia.

      • Haha, aku percaya banyak orang yang mikir kamu tersinggung di komen paling awal diatas sana, walau kamu sebenarnya gak tersinggung seperti yang kamu bilang.

        Intinya kamu nggak tersinggung, ya sudah berati gak perlu eyel2 an lagi =p

      • Hehehehe….
        dan aku percaya kalau anda terlampau percaya diri dalam menilai sesuatu yang anda sendiri kurang tahu.๐Ÿ˜†

        maaf, apa itu eyel2an? anda bisa bicara bahasa Indonesia yg baik dan benar?๐Ÿ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s