Pertemuan di Bawah Rumpun Bambu

Harus kuakui aku pelupa. Aku lupa kapan terakhir kita bertemu. Lima tahun? Kurasa lebih. Pasti lebih.

Samar-samar kuingat pertemuan terakhir kita. Kita belanja di ITC, bukan? Lalu pulangnya naik taksi bersama. Aku pun samar-samar ingat kita sempat ke gereja bersama. Sungguh aku lupa apakah benar kita sempat misa bersama sebelum kamu pulang. Tapi beberapa kali kita memang misa bersama. Aku ingat kita naik bajaj berdua dan kamu membayari ongkosnya. Dari situ aku belajar menaksir berapa ongkos bajaj yang wajar. Aku tahu, kamu tetap memberikan ongkos yang semestinya pada tukang bajaj–tidak kemahalan, tidak pula kemurahan.

Ya, aku banyak lupa kejadian pada saat pertemuan terakhir kita. Yang kuingat adalah beberapa kali kita berkabar lewat SMS. Lalu aku sempat meneleponmu sebentar. Seingatku kamu hanya mengatakan kondisimu sedikit kurang baik karena sulit berjalan? Ya, ampun. Aku sungguh lupa. Tapi saat itu aku sadar kamu pasti memang tidak baik-baik saja. Mestinya aku pergi dan menengokmu. Tapi aku memang punya seribu alasan yang menahanku untuk tidak pergi melihatmu. Mungkin kamu tahu sekarang karena kurasa tak ada lagi yang bisa kusembunyikan darimu.

Seandainya kamu masih punya waktu, mestinya kemarin kita masih bisa berkabar. Oh, tentu saja aku punya banyak pertanyaan untukmu. Bukan pertanyaan basa-basi. Aku tak bisa benar-benar berbasa-basi padamu karena denganmu aku selalu punya banyak cerita yang bisa dibagi. Mungkin aku akan sengaja membeli nomor khusus agar bisa meneleponmu cukup panjang. Hei, kamu pernah juga kan membeli nomor dari provider tertentu agar kita mengobrol cukup lama? Aku ingat kok.

Hari ini, setelah lewat lima tahun, aku baru “berani” dan berkesempatan datang menemuimu. Sebelumnya aku membayangkan akan duduk berdua saja denganmu. Bayanganku, “rumahmu” hanya bata tertata rapi, di bawah naungan rumpun bambu. Tapi ternyata lebih bagus. Kurasa kalau kamu bisa memilih, kamu akan memilih tegel keramik yang warna biru, kan–seperti warna kesukaanmu? Tapi ternyata tegel “rumahmu” berwarna pink. Dalam hati aku tertawa. Mungkin kalau bisa berseloroh langsung padamu, aku akan bilang, “Haiyah, jebule warnane pink, Mbak! Hehe.”

Kamu memilih rumah terakhir yang syahdu, dikelilingi bambu petung yang besar-besar. Aku takjub bambu-bambu yang begitu gagah di sekeliling rumahmu. Bambu-bambu itu jauh lebih besar daripada bambu yang tumbuh tak jauh dari rumahku. Kamu masih ingat, kan?

Di rumahmu masih ada sisa bunga tabur yang sudah layu. Itu artinya belum lama ini ada yang menyambangimu. Ada yang mendoakan dan mengajakmu berbincang dalam hati. Kamu memang dikelilingi orang-orang yang mencintaimu, setiap orang seolah menyimpan ruang untuk memajang kenangan yang baik tentang dirimu.

Sebenarnya aku takut akan butuh banyak tisu saat datang mengunjungimu. Mungkin itu pula yang menahanku untuk datang berkunjung. Tapi hari ini aku mesti berbangga pada diriku sendiri bahwa aku cukup bisa menguasai diri.

Malam ini, seolah kenangan demi kenangan keluar dari kotaknya. Berserak melingkupiku. Menyergapku dengan kepungan rasa. Aku memang lupa bagaimana pertemuan-pertemuan terakhir kita. Tapi tentu saja aku ingat bagaimana kita berjalan keluar dari unit lalu naik ke kafe untuk makan siang setelah kita “mager” lalu tertidur di unit, padahal mestinya kita lebih rajin menggarap skripsi. Aku ingat kita pernah menyusuri jalan Solo, membeli klepon. Aku ingat teh hangat yang kamu buatkan. Rasanya aku pun masih ingat aroma losion yang kamu pakai setelah mandi.

Malam ini, aku teringat “pertemuan” kita tadi siang di bawah rumpun bambu. Aku tak ingin lupa, jadi aku perlu mencatatnya sedikit di sini. Aku juga sempat memotret fotomu yang dipajang di ruang tamu. Boleh kan kusimpan di sini untuk kenang-kenangan?

Mbak Tut...
Mbak Tut…

Hari ini aku merasa lega karena pada akhirnya aku bisa datang menyaksikan rumah peristirahatanmu yang terakhir. Aku perlu berterima kasih pada Mbak Rini. Tanpanya aku mungkin tak akan pernah berani datang berkunjung.

Tentu saja aku masih kangen padamu. Kusadari kini bahwa setiap rasa kangen tak selalu harus dituntaskan. Kurasa kangen itu perlu. Kangen itu menjaga kenangan agar tetap hidup di dalam hati.

Oya, selamat Natal ya. Pesta natalmu di sana pasti lebih meriah karena dalam keabadian kamu pasti telah merasakan cinta.

 

 
26 Desember 2016.
Tulisan untuk mengenang kunjungan ke makam Mbak Tutik (S. Yuni Hariastuti).

Kenangan Tepi Hutan Jati

“Kita berhenti di sini?” tanyamu. Kamu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Aku yakin matamu yang bulat akan semakin bulat ketika aku mengajakmu berhenti di sini. Di tepi hutan jati, tak jauh dari rumahku.
“Ya,” jawabku pendek.
“Rumahmu kan sebelah sana?” tanyamu lagi, sambil menunjuk ke arah belakang kita.
“Memang. Tapi aku ingin membawamu ke sini dulu.” Aku terdiam cukup lama. Kudengar kamu mengembuskan napas panjang. “Aku ingin bercerita sedikit.”
“Oh… Baiklah.”
Ragu aku menggandengmu. Aku takut kamu melepaskan genggamanku. Tapi ternyata tidak. Tanganmu dingin. “Kamu kedinginan?”
“Sedikit,” jawabmu lirih.
Kulepaskan jaket hitamku. Kuminta kau mengenakannya.

“Ning, hutan jati ini warisan dari mbah buyutku. Aku biasa bermain di sini sejak kecil.”
“Asyik, ya, seperti punya hutan sendiri.”
“Ya, begitulah.”
“Mas Tok bermain dengan siapa saja di sini?”
“Adikku kan ada tiga. Dik Retno, Dik Yayuk, Dik Nok.”
“Mas Yus?”
“Mas Yus juga.”
Kugandeng tanganmu sambil menyusuri jalan kecil di tengah hutan kecil ini.
“Kamu lihat cahaya lampu di ujung jalan itu?”
“Ya.”
“Itu rumah Bude. Bude Yati.” Kuhentikan langkahku di jalan setapak ini. Kamu ikut berhenti. “Suatu hari, Ibu menyuruhku ke rumah Bude Yati. Malam-malam.”
“Mas Tok masih kecil?”
“Sudah agak besar. Kelas satu SMP. Waktu itu sedang musim libur. Kau tahu kan, sejak SMP aku sudah meninggalkan rumah. Aku masuk sekolah berasrama. Tapi aku ingat betul, waktu itu aku pulang liburan. Menjelang sore Dik Nok tiba-tiba demam. Ibu memintaku ke rumah Bude Yati, memintakan obat penurun panas.”
“Lalu?”
“Sebetulnya aku takut menembus hutan jati dan menyusuri jalan setapak ini.”
“Pasti gelap ya?”
“Ya, seperti sekarang. Tapi mendongaklah.” Bulan purnama mengintip di balik daun-daun jati.
“Cantik sekali bulannya, ya Mas.”
“Bulan itu seperti menghiburku, membuatku lebih berani. Bulan itu menemani langkahku sampai ke rumah Bude Yati.” Aku terdiam sejenak. “Aku tak pernah melupakan saat itu, Ning. Kehadiranmu mengingatkanku akan bulan di malam itu. Kehadiranmu selalu menguatkanku. Menghiburku.” Kuraih kedua tanganmu. Perlahan kutarik dirimu lebih dekat ke pelukanku. Kau tak menolak. Kucium puncak kepalamu, lalu keningmu. “Aku menyayangimu, Ning. Jadilah bulanku.” Di dadaku aku bisa merasakan kamu mengangguk.

Kenangan di tepi hutan jati itu tak pernah lepas dari ingatanku. Jika aku ditanya apa peristiwa terindah yang pernah kualami, jawabannya adalah peristiwa dua dekade lalu. Ketika pertama kalinya kupeluk gadis itu, saat bulan purnama di awal Juli.

Pasar Becek

Beberapa saat lalu aku chatting dengan seorang teman. Entah bagaimana akhirnya kami membahas soal pengasuhan anak. Hehe, padahal aku belum punya anak. Lebih tepatnya, dia bercerita bagaimana mengasuh anak sulungnya. Satu kalimatnya yang kuingat adalah: “Aku sengaja ‘menyeret’ anakku belanja ke pasar becek.” Maksudnya, biar si anak betul-betul melihat suasana pasar yang terkesan kumuh. Ujung-ujungnya, agar si anak melihat sendiri keadaan sekitar yang tidak selamanya bagus dan menyenangkan.

Cerita temanku itu mengingatkan aku akan pengalamanku sendiri. Dulu aku beberapa kali diajak ibuku belanja ke pasar. Ini jarang-jarang terjadi. Soalnya, untuk kebutuhan masak sehari-hari, dulu ada tukang sayur yang selalu datang ke rumah. Jadi, kami tidak perlu ke pasar. Ibu biasanya ke pasar sebulan sekali untuk belanja kebutuhan bulanan seperti sabun mandi, deterjen, sampo, minyak goreng, dan sebagainya. Toko langganan ibuku terletak di seberang pasar besar. Kalau tidak salah namanya Toko Ramai. Saat memasuki toko itu hidungku selalu mencium aroma minyak goreng campur sabun. Kebayang baunya? Tengik campur segar. Perpaduan bau yang agak sulit dijelaskan. Begitu masuk, biasanya ibuku akan menyerahkan daftar belanja, lalu pelayan toko yang sigap-sigap itu akan mencarikan semua yang tertulis dalam daftar itu.

Kadang ibuku tidak ke Toko Ramai saja. Karena letak toko itu berseberangan dengan Pasar Besar, maka tidak jarang ibuku melanjutkan acara belanja itu dengan menyusuri pasar tradisional itu. Jujur saja, aku kurang suka ke pasar. Pasar itu kesanku remang-remang dan aromanya campur baur. Masih agak lumayan jika di deretan kios yang menjual barang-barang kering. Tapi kadang kala acara belanja itu berlanjut sampai ke bagian yang becek; membuatku terpaksa berjalan berjingkat menghindari lantai yang basah. Belum lagi jika belanjaan ibuku cukup banyak, mau tak mau aku kebagian membawa belanjaan yang membuat tanganku pegal. Ditambah lagi, ibuku kalau berjalan cepat sekali. Duh, rasanya sebel banget! Kalau aku mengeluh, pasti aku akan ganti diceramahi panjang lebar yang intinya anak perempuan itu harus bisa semuanya dan mandiri. Dulu aku berpikir, masak caranya mesti diajak belanja ke pasar seperti ini sih?

Sekarang kalau kupikir-pikir, pengalaman ke pasar becek ini adalah salah satu hal yang kusyukuri. Meskipun dulu tidak menikmatinya, aku merasa ini pelajaran penting dan berguna sampai sekarang. Tidak selamanya aku bisa belanja toko swalayan yang bersih dan ber-AC. Lagi pula, belanja di pasar becek lebih murah kan? Setelah terpisah dari orang tua, aku kini mau tidak mau aku harus belanja sendiri ke pasar. Jadi, aku sudah tidak kaget lagi ketika harus menyusuri pasar tradisional yang tidak sebersih toko swalayan.

Mungkin salah satu hal yang perlu dimasukkan dalam “kurikulum” pengasuhan anak adalah mengajak anak-anak melihat dan merasakan hal yang kurang yang menyenangkan ya? Siapa tahu kalau si anak sukses dan jadi pejabat, dia mau membereskan hal-hal yang kurang nyaman itu. 🙂

Nostalgia Belanja

Aku tak terlalu ingat, sejak kapan aku mulai benar-benar ke pasar. Maksudku, benar-benar belanja sendiri, memilih dan menawar sayur, bahan untuk lauk, bumbu dan semacamnya.

Ketika aku masih kecil, ibuku rasanya ke pasar hanya pada saat akan masak besar atau mau mencoba menerapkan resep baru. Kadang-kadang saja aku ikut Ibu ke pasar. Yang paling kuingat, aku senang jika Ibu belanja di Pasar Kawak (kawak = lama, bahasa Jawa). Pasar itu tidak terlalu besar dan sebenarnya agak jauh dari rumah. Aku tak terlalu ingat mengapa aku suka ke sana. Mungkin jika ke sana, di benakku berdering makna itu berarti ibuku akan mencoba resep baru atau hendak memasak makanan favorit.

Untuk makanan sehari-hari, ada tukang sayur yang sejak pagi pasti sudah meletakkan bakulnya yang penuh dengan berbagai sayur, bumbu, daging, jajanan pasar, dan semacamnya di teras depan. Yu Nem demikian keluarga kami memanggilnya. Aku pun ikut-ikut memanggilnya demikian. Kini kupikir-pikir aku tak seharusnya memanggilnya begitu karena “Yu” itu kependekan dari “Mbakyu” (kakak perempuan), padahal dia ibu-ibu setengah baya. Mungkin sebaiknya aku memanggilnya Mbok atau Bu Nem. Tapi sudahlah, namanya juga anak kecil, bisanya cuma ikut-ikutan. Dia juga tidak protes aku ikut memanggilnya demikian. 😀

Untuk makanan sehari-hari, kami berbelanja pada Yu Nem itu. Nyaris tak pernah ganti tukang sayur, kecuali jika Yu Nem tak datang karena sakit atau ada keperluan tertentu. Yang berbelanja pada Yu Nem seringnya bukan ibuku, tetapi Mak’e–pengasuhku sekaligus pengurus dapur keluarga kami.

Acara belanja itu biasanya mulai sekitar pukul 06.30. Yu Nem biasanya sih datang pukul 06.00. Dia akan meletakkan bakulnya yang besar dan penuh sayuran, yang terdiri dari dua lapis. Lapis pertama adalah bakul lebar dan tak terlalu dalam, biasanya berisi bumbu-bumbu dapur dan jajan pasar. Lalu yang kedua adalah bakul besar, yang menopang bakul pertama tadi. Nah, di situlah tersimpan segala macam sayur: kangkung, bayam, gori (nangka muda), keluwih, kelapa, beberapa potong daging yang dibungkus daun jati, daging ayam, setumpuk daun jati untuk membungkus, dan entah apa lagi aku lupa. Selain itu dia masih menenteng beberapa keranjang ikan pindang. Meriah, deh. Dan aku senang sekali memerhatikannya mengeluarkan berbagai dagangannya. Mak’e biasanya membawa baskom untuk tempat belanja. Zaman itu tas kresek masih sangat jarang dipakai. Pun penjual tak pernah memberikannya kepada pembeli sebagai tempat belanja. Jadi orang yang belanja mesti membawa baskom atau keranjang belanja sendiri.

Aku paling suka jika libur sekolah karena aku bisa ikut nimbrung berbelanja di teras rumah. Kadang-kadang, kalau aku sedang tidak enak badan sehingga tak masuk sekolah, aku ikut nimbrung belanja pula. Hehehe. Nakal ya, harusnya istirahat di dalam rumah malah ikutan ngobrol di depan rumah. Padahal, aku takut juga kalau-kalau ada teman sekolahku yang lewat di depan rumah lalu nanti melaporkan bahwa aku malah duduk-duduk di depan rumah. Aku mendengarkan obrolan mereka sembari duduk di balik badan Mak’e yang gendut. Obrolan mereka selalu hangat walaupun seringnya mempercakapkan hal-hal remeh–soal harga beberapa bahan kebutuhan yang naik, wayang yang mereka dengarkan, dan yang lebih seru lagi adalah soal nomor buntut! 😀 Itu lo, waktu masih ada SDSB, Porkas, dll.

Enaknya ikut nimbrung saat Mak’e berbelanja adalah aku bisa memilih jajan yang akan dibeli. Yu Nem memang selalu membawa jajan. Yang ia bawa bervariasi: getuk, tiwul, gatot, bolang-baling, kue moho (aku tidak tahu apa bahasa Indonesianya), grontol (pipilan jagung rebus yang diberi parutan kelapa), bakpau, kue jongkong (lagi-lagi aku tidak tahu apa sebutan bahasa Indonesianya), kue lapis, bolu kukus. Beberapa jajanan itu dibungkus daun jati, jati saat hendak dimakan, tercium aroma khas daun jati. Sayang sekali saat ini daun jati jarang dipakai untuk membungkus. Padahal ini termasuk pembungkus yang ramah lingkungan dan memiliki bau yang khas.

Selain Mak’e kadang ada juga tetangga yang ikut berbelanja di tempat kami. Jadi, halaman rumahku jadi “jujugan” atau salah satu tempat tujuan berbelanja. Ditambah lagi di depan rumahku ada dokter anak yang praktek pagi dan sore. Ia punya pembantu namanya Pak No. Yang aku ingat, Pak No bertugas membersihkan bagian depan tempat praktik merangkap tukang parkir dan jualan balon untuk anak-anak. Pak No ini juga kerap ikut nimbrung di halaman depan untuk mengobrol ala kadarnya. Walaupun tak ramai-ramai amat yang berbelanja, tetapi yang menyenangkan adalah rasa gayeng yang muncul saat orang-orang ini datang.

Sekarang jika kurenungkan, Yu Nem ini besar sekali jasanya bagi keluargaku. Kami tak perlu keluar ongkos ke pasar dan kami bisa mendapatkan bahan makanan segar setiap hari. Maklum, saat itu kami tidak punya lemari es. Jadi, bahan makanan yang dibeli hari itu, habis pada hari itu pula. Memang ada kalanya Yu Nem tidak berjualan karena sakit atau ada keperluan keluarga. Biasanya kalau hendak libur, ia memberitahukan beberapa hari sebelumnya. Jadi kami pun bersiap belanja di tukang sayur lainnya.

Yu Nem sendiri merupakan gambaran perempuan yang kuat. Ia bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Jarang kudengar ia mengeluh. Setiap hari ia bangun dini hari lalu ke pasar, selanjutnya ia belanja untuk dijual lagi. Bakul (bahasa Jawa: tenggok) yang ia gendong tidak ringan. Pekerjaan itu ia lakoni dengan berjalan kaki. “Seragam” yang kenakan juga khas: kebaya sederhana, jarik, dan sandal jepit. Rumahnya cukup jauh dari pasar besar dan dari rumahku, yaitu di daerah Winongo. Mungkin kalau naik sepeda dengan santai memakan waktu 15-20 menit. Entah sepanjang hari itu ia berjalan berapa lama dan berapa jauh. Aku tak pernah menanyakannya.

Kini, aku tak tahu Yu Nem ada di mana. Semenjak Mak’e meninggal, dia mulai jarang ke rumahku. Jika sekarang masih hidup, barangkali ia sudah tua sekali. Aku berharap, di masa tuanya ia bahagia dan tidak sakit.

SMS yang Tak Terkirim

Untuk urusan SMS, aku berbeda dengan suamiku. Dia rajin menghapus inbox di hpnya. Jika SMS sudah agak menumpuk, ya kira-kira barangkali 20 SMS, dia akan menghapusnya. Kalau ada yang penting, disimpan. Tapi itu pun sangat sedikit.

Aku sebaliknya. Beberapa kali inbox-ku penuh. Penyebabnya, aku tidak serajin suamiku dalam menghapus SMS. Apalagi kalau SMS itu dari orang-orang dekatku–entah isinya penting atau tidak–maka biasanya SMS itu akan bercokol di hpku sampai lama.

Akhir tahun lalu sampai awal tahun ini, sepupuku datang setelah bertahun-tahun tinggal di negerinya Om Obama. Begitu sampai di Jakarta, dia dan suaminya segera membeli kartu telepon. Awalnya mereka tidak hendak membeli hp, karena mereka membawa hp dari sono. Tapi rupanya hp itu tidak bisa dipakai di sini. Singkat kata, setelah sempat dipinjami hp oleh saudara-saudaranya yang ada di Jakarta lalu membeli hp sendiri, mereka pun bisa bersms dan bertelepon ria. Setelah lama tidak bertemu, tidak disangka kami bisa ngobrol cukup akrab–baik dalam obrolan bertemu muka, maupun lewat SMS.

Sekitar bulan Maret mereka kembali ke Kanada. Sampai sekarang masih ada SMS dari kakak sepupuku tersimpan di hpku. Tentu tidak semuanya kusimpan. Hanya yang membuatku tersenyum geli saat mengingat kebersamaan kami. Oke, memang ada yang sudah mulai kuhapus sih. Tetapi masih ada beberapa yang tersisa.

Kalau SMS dari suamiku, jangan ditanya. SMS darinya paling banyak yang kusimpan, walaupun isinya singkat-singkat, seperti dia sedang ada di mana.

Penuhnya inboxku itu sebenarnya entah karena aku malas menghapus, entah merasa sayang. Aku tak tahu. Mungkin dua-duanya.

Nah, di hp itu kan ada inbox dan ada sent box. Aku sengaja mengatur SMS yang terkirim tersimpan dalam bagian sent box. Tetapi sent box ini lebih jarang lagi kubuka. Belum lama ini aku iseng-iseng membuka sent box di hpku. Kulihat rupanya ada satu SMS yang belum terkirim. Mendadak aku merasa ngilu. SMS itu untuk seorang teman dekatku, yang minggu lalu menghadap Bapa. Isinya berupa kata-kata gurauan sekaligus menyemangatinya yang sedang sakit. Dia memang sedang sakit parah waktu itu, dan karena jarak serta kondisiku, aku tak bisa menjenguknya. (Dia opname di Semarang, sedang aku masih tak bisa berkutik di Jakarta.) Entah mengapa sejak tahu dia sakit, aku tak pernah terpikir bahwa ia akan kalah melawan sakit yang dideritanya.

Oya, nama temanku itu Tutik. Serapina Yuni Hariastuti. Kami dulu seasrama, satu unit, dan satu kamar. Dua tahun aku tinggal sekamar dengannya. Tempat tidur kami atas bawah–dia di bawah, aku di atas. Rasanya dari sekian banyak teman asrama, aku merasa dia sudah seperti kakakku sendiri. Mungkin karena selepas dari asrama, dia pernah sekantor denganku dan sempat tinggal di rumahku di Jogja. Walaupun kemudian dia ditugaskan di Jakarta, dan aku tetap di Jogja, toh kami tetap berkomunikasi. Aku ingat dulu kami beberapa kali berkirim surat dan saling telepon. Kalau aku dapat tugas di Jakarta, dia satu-satunya teman yang kuandalkan.

Entah kenapa aku merasa kami ini punya kemiripan. Bukan karena sama-sama lahir di bulan Juni dan punya zodiak sama, tetapi rasanya lebih dari itu. Yang jelas, kami cocok dalam berbincang. Istilahnya, dia itu teman terbaik dalam hal teng-teng crit alias tenguk-tenguk crita (duduk santai sambil mengobrol). Bukankah pertemanan kebanyakan diisi dengan obrolan? Apa saja bisa kami obrolkan. Jangan heran kalau aku cukup familier dengan cerita lucu seputar tetangga-tetangga di kampungnya, soal adik-adik dan orang tuanya, soal saudara-saudaranya, soal teman sekampusnya, dan masih banyak lagi. Begitu pun dia familier dengan nama-nama kerabatku serta orang-orang di sekitarku. Saking seringnya kami mengobrol, kami kadang memakai acara apa pun untuk mengobrol, termasuk saat dulu mencuci baju di asrama. Kadang aku menemani dia mencuci dengan mengajaknya ngobrol, begitu pula sebaliknya.

Tanggal 22 Juli lalu dia mengirim SMS mengabarkan bahwa kondisinya memburuk. Namun, aku tetap berpikir positif. Selama di asrama dulu, dia anak yang sehat, dibandingkan aku yang beberapa kali kena radang tenggorokan atau kambuh asma. Aku selalu berpikir, dia akan baik-baik saja. Meski begitu, aku mencoba meneleponnya. Aku yang banyak bicara waktu itu, dia hanya bilang dia sulit berjalan. Suaranya agak lirih. Ah, dia pasti sembuh, begitu pikirku. Dan selama ini dia jarang sekali mengeluh. Aku tak berpikir buruk.

Namun, akhirnya tanggal 13 Agustus kemarin, sekitar pukul 13.30 dia pergi untuk selamanya. Rasanya antara percaya dan tidak, karena dua hari sebelumnya dia SMS aku, mengabarkan bahwa kondisinya membaik. Aku ikut lega. Aku kemarin-kemarin berpikir, nanti setelah Lebaran aku akan menjenguknya. (Menanggapi keinginanku untuk menjenguknya, dia selalu bilang kira-kira begini, “Jangan bilang menjengukku. Nanti kita ketemu wisata kuliner yuk! Yang kuharapkan adalah doa darimu.” Hampir tak ada nada keluhan, bukan?) Kadang aku masih beranggapan sekarang dia masih ada, hanya saja dia sudah tak bisa membaca SMS lagi.

Bagaimanapun ketika membaca SMS di sent box-ku, aku jadi terkejut. La, ternyata SMSku masih pending? Entah laporan di HPku itu salah atau benar, aku berharap dia bisa membaca SMSku. Kadang aku masih merasa sedih atas kepergiannya, tetapi akhirnya aku sadar bahwa ini yang terbaik buat dia. Dia sudah terbebas dari sakit yang mengungkungnya. Ia sudah bertemu dengan Sang Mahacinta yang bisa memeluknya dengan cinta yang jauh lebih hangat daripada teman dan kerabatnya, yang bisa melepaskan seluruh deritanya. Sudah seharusnya aku ikut bahagia bukan?

Saat bersama Mbak Tutik di Bali. (kiri-kanan: Mbak Tutik, Yusi, aku.) Foto oleh: Maxda

Akan kusimpan banyak cerita buatmu, Mbak Tut.
Simpan ceritamu tentang negeri yang damai itu ya! 

Pengingat dalam Hidup

… kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yak 14:4).

Bulan puasa. Sebentar lagi Lebaran. Meski Katolik, aku biasa ikut meramaikan hari raya Idul Firi. Di keluarga besarku ada yang muslim, jadi saat Lebaran aku dan suami pun ikut “ubyang-ubyung” alias ramai-ramai berkunjung ke rumah saudara yang merayakannya. Selama di Jakarta, dua lebaran yang lalu aku lewatkan di rumah om dan tanteku.

Ceritanya, lebaran tahun lalu aku ke Bekasi, berkunjung ke rumah salah satu omku, Om Agus. Rupanya yang ke sana bukan saudara dari jalur keluarga ibuku (omku adalah adik ibu), tetapi juga ada saudara dari tanteku (istri omku), Tante Rida. Aku jarang bertemu dengan saudara-saudara Tante Rida. Namun, karena lebaran itu, kami jadi bertemu, dan aku jadi tahu: “Oh, ini adiknya Tante Rida yang namanya Tante Sussy. Ini suaminya, namanya Om Eddy.” Tampak juga anak-anak Tante Sussy yang sudah akrab dengan sepupuku. Yah, maklum mereka sebaya dan sama-sama tinggal di Jakarta sejak kecil. Kabarnya Om Eddy ini seorang pilot.

                                                                             ***

Kemarin Om Agus pasang status di FB mengabarkan bahwa ada adiknya yang meninggal. Wah, yang mana ya? Dia menyebutkan nama Eddy Purnomo. Aku sejenak mengingat- ingat siapa ya di antara keluarga besarku yang namanya Eddy Purnomo. Lalu, aku tanya ke sepupuku yang kulihat sedang online di dunia maya.

“Siapa yang meninggal sebenarnya, Mbak?”
“Om Eddy, suaminya Tante Sussy yang pilot itu lo.”
“Oh, Tante Sussy yang adiknya Tante Rida? Sakit ya? Perasaan dulu segar bugar aja tuh.”
“Jadi korban kecelakaan helikopter yang jatuh.”
“Welah… ada heli jatuh to?”
“Ada, aku tadi lihat beritanya di situsnya Tempo.”

Memang belakangan ini aku agak jarang mengikuti berita. Rasa-rasanya berita yang beredar lebih sering membuat sakit kepala dan hati kisruh daripada membuatku bangga atas negara ini. Kebanyakan berita yang kurang menyenangkan. Memang di jurnalistik biasanya “bad news is good news.” Tapi, daripada ikut pusing mikirin negara, aku milih tidak terlalu mendengarkan berita. Kalau pun dengar berita, ya sambil lalu saja.

Aku tidak menyangka kalau ada berita yang ada kaitannya dengan keluargaku–tepatnya keluarga Tante. Dan tadi pagi aku menelepon Bapak. Kupikir Bapak di rumah, tetapi rupanya sedang dalam perjalanan bersama Ibu untuk melayat Om Eddy ke Pare.

Sampai saat ini aku masih tak percaya pada berita itu. Aku kemarin-kemarin masih berpikir Lebaran nanti mungkin akan berkunjung ke rumah Om, dan mungkin akan bertemu dengan Tante Sussy dan suaminya, Om Eddy. Tetapi ternyata aku tidak akan bertemu Om Eddy lagi. Aku yang baru bertemu–katakanlah–dua kali dengan beliau saja merasa terkejut dan ikut kehilangan.

Kepergian Om Eddy mengingatkan aku betapa kita sama sekali tidak tahu kapan hidup kita mencapai titik akhir di dunia ini. Jadi, jika hari ini kita masih diberi waktu, kita kiranya bisa memanfaatkannya dengan bijak. Dan selama masih di dunia, bagaimanapun kita mesti siap untuk kehilangan. Meski hal ini sulit, dan lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan. Akhirnya, semoga Om Eddy dilapangkan jalannya, diberi tempat yang layak oleh Tuhan, dan semoga keluarga yang ditinggalkan tabah serta mendapat penghiburan.

Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi (Mzm 90:12 BIS).

Sumber berita dari sini.