Di Antara Mendung, Gerimis, dan Hujan

Mendung, gerimis, hujan datang mengusir debu musim kemarau. Lalu seperti biasa, memoriku berlari-lari berteduh pada kenangan tentang dirimu. Tentang masa-masa tiga puluhan tahun silam, ketika seragamku masih putih abu-abu, ketika dirimu hadir lalu hari-hariku tak lagi kelabu. Lalu tanpa kusadari gelombang kita terjalin begitu padu.

Dan aku ingat, malam itu kamu mengatakan padaku, “Aku harus tugas ke kota lain.”

Mendung, gerimis, hujan mengguyurku. Aromanya mengingatkanku pada pertemuan kita malam itu, di tepi sawah, dekat hutan jati.

“Lalu bagaimana aku bisa bertemu lagi denganmu?” tanyaku tercekat.

Hujan mengguyur hatiku. Mataku basah. Dan kamu memelukku erat-erat.

Bulan berganti. Kita pun berjumpa beberapa kejap di berbagai kota. Lalu kita berpisah sekian lama. Begitu selalu. Kita menabur sendu dan rindu yang kian merimbun.

Hari-hari ini diwarnai mendung, gerimis, hujan. Memoriku tak sekadar berlari-lari, tetapi melesat pada setiap kenangan yang kita buat di tepi-tepi jalan: ciuman, pelukan, dan gairah yang bersatu. Aroma hujan pertama, hawa dingin yang terbawa air menyelimutiku rapat-rapat, menimbulkan tanya: Apakah kita masih satu gelombang?

“Dik Ning, kapan terakhir kita bertemu?” tanyamu siang tadi lewat teks.
“Setahun yang lalu.”
“Kamu mau kita bertemu?”
“Kapan?”
“Sekarang.”
“Mas Tok! Jangan bercanda.”
“Aku sedang bersama Ibu di kotamu.”

Kupandangi dirimu yang sedang menyetir. Saat seperti ini aku ingin menghentikan waktu.
“Hari-hari hujan kemarin mengingatkanku padamu, Mas Tok. Aku ingat perjumpaan kita dulu. Lalu aku bertanya-tanya, mungkinkah kita bertemu? Rasanya tak mungkin. Jauh sekali jarak kita. Tapi dirimu ada di sini sekarang. Rasanya seperti mimpi.”
“Aku masih mencintaimu, Dik Ning. Sangat.”
“Jadi, apakah gelombang kita masih sepadu?”
“Apakah perlu kau tanyakan lagi, Dik?”

Warna Agustus

Belakangan kupikir Agustus adalah bulan kita. Iya, Agustus. Bukan Juli, ketika kita mengawali perjalanan hati. Beberapa hari ini memori di media sosialku berisi tentang perjumpaan-perjumpaan kita. Hei, kita menyusuri jalanan Borneo bulan Agustus kan dulu? Dua puluh Agustus, sepuluh tahun silam.

“Dik, maaf aku tidak mampir ke kotamu. Waktuku pendek sekali.”
Sebersit kekecewaan mengapung di udara. Aku sudah mengosongkan hari-hari setelah ulang tahun ibumu. Aku teringat kehadiranmu setahun yang lalu. Namun, sudah kuantisipasi kekecewaan itu.

“Oh, ya. Tak apa. Aku pun sedang banyak pekerjaan,” tukasku setengah berbohong. Ya, ada pekerjaan memang, tapi semua bisa kugeser jika kau datang. “Jam berapa besok pesawatmu, Mas?”

“Pagi. Setengah delapan sudah take off.”

“Hati-hati selama di perjalanan ya, Mas. I love you.”

I love you, too, Dik.”

End call.
Aku merasa Agustus ini membiru.

Doa dalam Helaan Napas

Buatku berdoa tak harus duduk diam lalu mengucapkan kalimat dengan format khusus. Buatku doa bisa dilakukan kapan saja. Ketika napas dan hatiku seperti menyatu dan seiring, lalu kunaikkan sebuah harapan, bagiku itu doa.

Begitu pun pagi ini, tak lama setelah membuka mata, ingatanku melayang padamu. Lembaran rindu luruh dan menumpuk di hati. “Mas Tok,” bisikku. Aku seketika mengingatmu dalam helaan napas. Kuraih ponselku dan kulihat dirimu mengunggah video terbaru. Aku lega dirimu baik-baik saja, seperti yang selalu kuharapkan.

Pandemi belum juga berakhir. Kadang aku diliputi kekhawatiran soal dirimu–meskipun kamu sudah divaksin dua kali. Bagaimana kalau dirimu sakit? Tempo hari di telepon kudengar suaramu sedikit sengau, seperti sedang flu. “Aku capek dan letih, Dik.” Begitu katamu ketika kutanya kabarmu. Lalu bersamaan dengan itu terkirim fotomu sedang istirahat. Untunglah kamu tidak memaksa diri untuk terus beraktivitas. Aku lega. Tapi pandemi yang tak kunjung selesai ini tetap saja membuatku khawatir.

Kubuka jendela dan kubiarkan angin pagi menyegarkan kamar. Dalam tarikan napas, kunaikkan harap dan doa. Aku rindu, aku ingin kita suatu saat nanti bertemu membabat rindu.

-Mas Tok, aku mendoakanmu dalam helaan napasku.
+Doamu selalu melahirkan dan menguatkan rindu, Dik Ning.
-Terima kasih sudah merinduiku.

Vaksin Penghapus Cemas

Dulu kupikir lockdown dan pandemi ini hanya akan berjalan hitungan minggu atau bulan. Dulu kupikir, aku tak akan pernah mendengar orang-orang yang kukenal akan terkena virus yang sulit ditebak efeknya ini. Namun, belakangan ini semakin sering kuterima informasi tentang orang-orang yang terkena imbas virus corona. Tak hanya sakit fisik, sakit nonfisik pun bisa timbul karena virus ini. Kekhawatiran perlahan mulai menembus benteng ketenangan batinku. Satu sosok yang jelas-jelas kukhawatirkan adalah Mas Tok. Pekerjaan masih menuntutnya berjumpa dengan orang-orang. Sungguh aku khawatir.

Kadang kerinduan menggempur dada, menimbulkan debar yang membuatku mengetikkan pertanyaan lewat teks atau memencet nomor Mas Tok. Pagi itu aku seperti tak bisa menahan jariku untuk tidak memencet nomor ponselnya. Beberapa detik tak terangkat.

Walau aku khawatir, aku menghibur diri. Mungkin Mas Tok di jalan atau sedang bertugas. Namun, beberapa saat kemudian, kudengar suara teks masuk.

“Dik, aku sedang vaksin.”
Kabar singkat itu menyingkirkan kecemasan yang menggunung beberapa hari ini.

Aku mengirim emotikon senyum dan sebentuk hati untuknya.
“Mas Tok, aku lega banget Mas Tok vaksin. Semoga nanti aku juga bisa dapat vaksin.”

“Lalu kamu ke sini, Dik Ning?”
“Itu sih tak usah ditanya, Mas. Kangenku lebih tinggi daripada Gunung Merapi, tauk!” Kusertakan emotikon tawa.
“Dik, aku pun kangen.”

Aku lega dan ingin segera memeluknya!

Doa Kecil Awal Tahun

Awal tahun bukan hanya soal berganti kalender. Jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan kalender. Awal tahun adalah tanda pertambahan umur Mas Tok. Begitu pun jauh-jauh hari aku telah merancang kalimat ucapan serta memikirkan hadiah kecil yang pantas. Tapi apakah ada kalimat dan kado yang bisa benar-benar menunjukkan hatiku?

Awal tahun adalah hari-hari tersibuk Mas Tok. Aku paham, tak semestinya aku menelepon Mas Tok pada hari-hari dan jam-jam sibuk atau pada jam-jam istirahatnya. Tidak, tidak. Aku mesti bisa menempatkan diri. Tapi kurasa kiriman teks tentu tidak akan terlalu mengganggunya. Jadi, kukirim ucapan persis dua detik pada pergantian hari, tepat saat ulang tahunnya tiba.

Mas Tok tersayang.
Selamat ulang tahun.
Doaku masih selalu sama: Semoga Mas Tok sehat-sehat dan panjang umur.
Selalu ada cinta yang tak terhitung banyaknya untukmu.
Semoga kita selalu saling menemani meskipun berjauhan. Dan semoga kita bisa berjumpa lagi.

Kuletakkan ponsel di meja samping tempat tidurku. Badanku lelah, tetapi mataku masih berjaga. Aku rasa pesan ulang tahun itu akan dibaca besok pagi-pagi.

Tring!

Alarm tubuhku memaksaku bangun dan meraih kembali ponselku.

Terima kasih ya, Dik Ning.

Aku segera membalasnya.

Terima kasih untuk Ibu juga yang melahirkan Mas Tok. Bagaimana kabar Ibu? Semoga semakin sehat ya setelah sakit kemarin. Siapa yang menemani Ibu saat Natal kemarin?

Iya, nanti kusampaikan. Mestinya Ibu senang jika ditemani calon menantu gagal yang rajin menanyakan kabarnya.

Aku senyum-senyum. Kadang Mas Tok membuat guyonan garing, tetapi entah mengapa aku malah tersenyum. Seandainya bisa kuputar kembali waktu kita, Mas Tok, tentu aku ada di sampingmu dan bersama Ibu.

Sentuhan dari Jauh

Siang yang penat.
Baju-baju yang harus disetrika menumpuk, mengantri dengan sabar.
Baju-baju kotor, seprai, lap-lap kotor, piring dan gelas bekas pakai masih beranak pinak di bak cuci dan ember.
Kertas-kertas nota yang harus direkap baru tersentuh sepersekian.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
Tidak, tidak … aku tahu. Hanya saja aku tak ingin melakukannya. Menyelesaikan pekerjaan, menuntaskan semua rutinitas yang kusebut di atas itu agar membentuk sebuah kehidupan harian.
Tapi siang ini sungguh penat.
Aku ingin memejamkan mata semenit-dua menit.
Lalu aku berlari menyusuri lorong kenangan, mencarimu.
Seluruh isi kepalaku mendadak terang benderang, berisi namamu.

Kubuka mataku perlahan. Kusentuh gadget yang tergeletak di samping badanku.
Kutulis satu kalimat: “Mas Tok, seluruh isi kepalaku penuh dengan dirimu.”

Aku bersabar. Pesan itu mungkin akan dibacanya beberapa puluh menit atau bahkan beberapa jam lagi.

Aku pun bangun dan menuju bak cuci.
Piring-piring berebut menyambut.
Setengah jam berlalu.
Isi kepalaku masih tentang dirimu.

Kubuka gadget dan terbaca namamu.
“Sun sayangku buatmu, Dik Ning.”

Malam minggu ini seketika tampak cerah.
Mas Tok, dirimu memang jauh di mata tetapi dekat di hati. Selalu.

Mencari Waktu (‘tuk Bertemu)

Ning

Mas Tok, punya waktu semenit saja?
Kalimat itu kutulis di kotak pesan. Aku harap kamu merespons.

Beberapa kali aku mencoba menghubungimu. Aku ingin mendengar suaramu. Ya, aku bisa menyetel ulang videomu, tetapi bukan… bukan itu yang kumau. Aku ingin bicara denganmu. Kamu sebagai pribadi, yang menyapaku, bukan menyapa semua orang yang menyaksikanmu di dunia maya. Aku ingin dirimu yang nyata–walau lewat telepon nirkabel.

Kadang rindu ini seperti sebuah bongkahan yang bergelung di dada. Menyesakkan. Kadang pula seperti sebatang kayu yang menusuk-nusuk ulu hati, mengirimkan sinyal kepada air mata supaya tumpah.

Rindu ini tak boleh terlihat siapa pun. Hanya kamu yang boleh tahu. Karena sejuta umat akan menganggap ini tabu.

Mas Tok, sungguh kurindu. Tapi aku akan menanti pertemuan kita kembali dengan tabah menyusuri waktu. Sebulan, setengah tahun, atau beberapa tahun lagi? Aku tahu, harus setabah itu menanti. Penantian itu pasti akan berlalu lalu kita akan berjumpa membasuh rindu kembali.

Tok
Hari-hari yang padat. Kumampatkan rindu supaya semua terlihat baik-baik saja. Ning, aku pun ingin berbincang lagi, di tepi pantai seperti bulan lalu atau dalam ruangan yang hanya ada aku dan kamu. Kita berdua saja.

Ning

Tugas-tugas rumah tak ada habisnya. Di situlah kusembunyikan rindu.

Hei, lamat-lamat kudengar suara teleponku berdering.

– “Mas Tok! Aku kangen! Mas Tok sedang apa?”
+ Aku sedang sibuk-sibuknya ini, Dik.
– “Aku minta waktumu semenit saja.”
+ Aku maunya sih kita bertemu lama.
– “Ah, Mas ini! Mas Tok, sudah makan?”
+ Sudah dong. Tapi aku tidak makan banyak. Nanti gemuk.
– “Ah, ya betul. Aku selalu khawatir dengan gula darahmu. Jaga kesehatan, ya Mas. Mas Tok ada rencana ke Jawa?”
+ Ada. Tapi pandemi ini mesti jaga-jaga. Tak bisa sering-sering pergi.
– Kalau ke Jawa pun kadang kita tak bertemu. Aku membatin. “Kita akan bertemu lagi, Mas?”
+ Aku maunya kita bertemu. Seperti ketika dulu aku biasa menjumpaimu pagi hari, sebelum ke tempat kerja dan sekolahmu masuk siang.

Lalu aku teringat berbatang-batang cokelat darimu. Berkantong-kantong apel dan pir. Atau oleh-oleh lain kalau kamu pulang tugas.

– “Semua kaus darimu masih kusimpan, Mas Tok.” Kuraba kalung pemberianmu–sudah kupakai dua puluh tujuh tahun lebih.
+ Setelah sekian lama?
– “Ya, setelah sekian lama. Sebagian besar masih baik. Hanya sudah pudar warnanya. Tapi rinduku tidak pudar, Mas. Malah semakin dalam dan kuat.”
+ Dik, ada tugas yang sudah menungguku. Sudah dulu, ya.
– “Terima kasih atas waktumu, Mas!”

Tok

Tidakkah kau tahu, ku selalu mencari waktu ‘tuk bertemu denganmu…

Puisi Rindu

Ning
Rindu adalah perjalanan hati dalam sepi
Menyusuri waktu sendiri
Kamu di sana, aku di sini
Masing-masing menggenggam hati

Akan kukenang segala keindahanmu
kusesap-sesap setiap kali kalbu mengaduh
berharap lara itu menguar terbawa waktu
hingga kelak kita bertemu

Tok
Tabunglah rindumu hingga kelak kita susuri waktu berdua.
Kelak kugenggam tanganmu, tak akan lagi kulepas.
Ning, temani aku menapaki senja.

Rindu yang Menderu-deru

Ning
Keberangkatanmu kembali ke kota tempat tugasmu meninggalkan sebuah lubang rindu seperti yang sudah-sudah. Aku tak tahu lagi kapan bisa kembali bertemu denganmu.

Ya, mencintaimu itu berarti memendam rindu. Membendung gelombang rindu yang menderu-deru.
Apakah kamu juga rindu?

Tok
Tentu saja aku rindu, Dik.
Rasa sengkring-sengkringnya masih terasa.

Baik-baik di sana, ya Dik Ning. Jaga kesehatan. Akan kureka-reka rencana untuk berjumpa kelak.