Kau (Harus) Tahu

Ning kepada Tok:

Saat senja mulai menurun, kau (harus) tahu aku masih menghitung waktu.
Saat tak ada lagi kata, kau (harus) tahu aku masih membisikkan cerita berbalut doa untukmu.
Saat jarak begitu jauh, kau (harus) tahu aku masih merajut harap.

Advertisements

Pada Sebuah Hari Hujan

Aku tak pernah menyukai hari hujan. Hujan membuat jalan di sekitar kosku becek. Aku pun enggan menembus rintik hujan untuk mengganjal perut.

Tapi mau tak mau aku mesti keluar mencari makan. Aku tak mau sakit maagku kambuh dan mesti meringkuk di kasur beberapa hari lagi.

Aku melompati genangan kecil. Tak bisa kuhalangi ingatan saat berhujan-hujan dengan Mas Tok kembali muncul. Sesaat mataku memanas. Di manakah Mas Tok? Dalam kesendirian seperti ini pertanyaan dan doa untuk Mas Tok selalu mengambang di permukaan hati.

Mas Tok… Mas Tok…

Aku selalu berharap masih ada gelombang yang menautkan hati kami. Mungkin hanya perjumpaan lima menit pun tak apa.

Aku berbelok di tikungan. Duh, nasi goreng terdekat dari kosku tutup.

Aku meneruskan langkah. Perutku minta diisi makanan hangat.

Di ujung jalan kulihat ada restoran baru. Aku tak pernah ke sana. Tempat itu tampak mahal. Tapi saat hari hujan begini, mau tak mau aku ke sana.

Kututup payungku. Kulangkahkan kaki ke dalam. Sekilas kubaca ada menu soto.

“Soto semangkuk, nasi sedikit ya.”

Pemuda berseragam itu mengangguk cepat. Aku mundur, hendak mencari tempat duduk.

Dug!

Kakiku menabrak orang.

“Maaf!”

“Dik Ning!”

Mendadak aku seperti dilemparkan pada hari-hari hujan bersama Mas Tok; menyusuri pinggiran hutan jati, menghirup aroma dirinya. Doaku terkabul! Masih ada gelombang yang menyatukan kami. Seketika aku merasa hangat dan sembuh.

Pertemuan

Tok

“Jadi kita bertemu di mana?”

Pertanyaan Ning itu memacu otakku untuk berpikir. Kami jarang bertemu, jadi setiap pertemuan haruslah sempurna. Sesempurna senyumannya membuyarkan konsentrasiku.

“Nanti kupikirkan,” jawabku singkat. Aku masih mengurus laporan dan harus berkemas saat Ning menelepon memastikan kedatanganku.

Senyum Ning semakin memenuhi kepalaku.

 

Ning

Aku belajar memasak belum lama. Yang kutahu adalah, Mas Tok penggemar makanan enak. Jadi, setiap aku memasak, yang terlintas adalah Mas Tok.

Mas Tok mengajak bertemu. Entah di mana. Tapi aku sejujurnya ingin memberikan sepiring atau semangkuk hasil masakanku. Tapi Mas Tok suka es krim. Aku belum berhasil membuat es krim. Duh…

Aku gugup. Semua terasa seperti mimpi. Mas Tok akan datang!

 

Tok

Dadaku bergemuruh. Siang yang terik tak menyurutkan langkahku menyusuri jalanan Jogja yang menyengat. Ning… Ning… aku merindukan aromamu.

Berkali kubuka peta di android. Jalanan ke rumahmu samar-samar kuingat. Ah, betapa lama aku tak menikmati senyummu, Ning.

 

Ning

“Mas Tok! Cepat sekali datangnya. Tak kusangka Mas Tok ingat rumahku. Aku baru saja selesai masak sayur asem.”

Kehadiran Mas Tok terasa mendadak. Aku tak siap, tapi sekaligus senang. Akhirnya kerinduan ini berujung perjumpaan.

Astaga, aku masih berdaster! Jangan-jangan keringatku terlalu asam di hidungnya?

 

Tok

Bau keringat Ning masih seperti dulu. Namun saat ini berpadu rempah.

Dia masih Ning yang dulu. Hanya kali ini dengan balutan daster kuning, bukan rok lipit rapi yang dia pakai saat memasuki pelataran gereja. Kini terlihat keringat membuat kulitnya mengilat. Seksi!

Kubetulkan kacamataku. “Ning, kamu tidak banyak berubah ya.”

Dadaku bergemuruh. Tak sadar… kulumat bibirnya yang mengembang sempurna.

Sepotong Perjumpaan

Aku sering membayangkan menghabiskan senja denganmu. Diawali dengan menyeduh teh dan kopi, mengudap makanan kecil, lalu kita menghabiskan waktu menikmati matahari tenggelam di beranda rumah kita kelak, tempat kita berdua menghabiskan usia kita yang beranjak senja. Aku mengharapkan waktu berjalan dengan lambat sembari kunikmati wajahmu. Aku akan menghitung rambut putihmu yang mulai banyak, mengamati matamu di balik kacamata, dan memasang telinga baik-baik untuk menyimpan semua ceritamu. Kurasa tawamu masih seperti dulu, seperti dua puluh tahun silam saat jantung kita sama-sama berdebar kala mata kita berjumpa.

Tapi bagaimanapun aku tak akan menampik pertemuan yang kita lakukan dengan mencuri waktu di antara jadwal padatmu.

“Berapa lama waktu yang kaupunya, Mas Tok?”
“Sebenarnya ingin selamanya denganmu, Ning. Tapi kau sudah hafal seperti apa jadwalku, kan?”

Aku mengangguk. Mungkin kau adalah orang terpenting di dunia ini, dengan segudang kegiatan, rapat demi rapat, seminar demi seminar, dan entah apa lagi.

“Setelah ini Mas Tok kembali ke penginapan naik apa?”
“Naik kendaraan umum. Apakah rutemu sejalan denganku?”

Tanpa berpikir panjang, aku mengangguk. Aku tahu, mengikutimu berarti berjalan lebih jauh. Tapi bukankah itu berarti waktuku bersamamu semakin panjang?

“Nanti aku turun di Utan Kayu, sementara itu, Mas Tok bisa melanjutkan perjalanan,” jawabku.

Bus yang membawa kita pun tiba. “Sini kubawakan tasmu,” katamu. Aku selalu tersentuh dengan perhatian kecilmu.

Bus tidak padat, dan kita pun duduk bersebelahan. Kurasakan tanganmu menggenggam tanganku. Kebiasaan lama, batinku sambil tersenyum. Kau masih seperti dulu. Dan ingatanku melayang pada perjalanan panjang kita, dari pelataran gereja hingga Sendangsono. Sepanjang itulah kita berbagi cerita dan tak sedetik pun kaulepas genggaman tanganmu.

Jam tanganku menunjukkan pukul lima kurang lima. Matahari mulai redup. “Mas Tok, jangan pergi lagi,” bisikku di telingamu. Matamu menjadi sendu. Aku ingin menangis.

Waktu bergerak, halte demi halte kita lewati, itu berarti kita menuju perpisahan. Aku mulai mengenali daerah tempat aku harus berganti kendaraan pulang.

“Mas, sebentar lagi aku turun.”

Tanganmu menggenggamku semakin erat.

Ketika petugas menyebutkan halte tempat aku turun, kau mengangsurkan tas lalu mencium pipiku dengan cepat. “Hati-hati, Dik Ning.”

Aku mengangguk. Kulangkahkan kakiku ke luar bus. Aku tak bisa melabeli apa yang bergolak dalam hatiku. Sedih, bahagia, resah. Tabungan rinduku pecah dengan pertemuan singkat ini, sekaligus kembali terisi dengan seribu harapan akan pertemuan kembali.

Aku yakin kita bertemu lagi. Semoga dengan waktu yang lebih lama.

Malam itu lagu My All milik Mariah Carey berputar entah berapa kali, menyemarakkan kerinduan yang mulai memenuhi lorong hatiku.

I am thinking of you
In my sleepless solitude tonight
If it’s wrong to love you
Then my heart just won’t let me be right
‘Cause I’ve drowned in you
And I won’t pull through
Without you by my side

…..

I’d give my all to have
Just one more night with you
I’d risk my life to feel
Your body next to mine
‘Cause I can’t go on
Living in the memory of our song
I’d give my all for your love tonight

Aroma dari Seberang Telepon

Pukul lima lewat lima. Seketika aku teringat obrolan denganmu beberapa saat lalu. Waktu itu kamu meneleponku dari kantor–saat teman-teman kantormu sudah pulang.

“Mas Tok!” suaramu seperti biasa terdengar ringan dan ceria.
“Ya, Dik,” jawabku.
“Mas Tok sedang apa?”

Ya, aku tahu kamu menelepon hanya kangen-kangenan. Tak ada maksud penting.

“Aku mau mandi,” ujarku.
“Aih, mandi. Ikut dong!”

Kudengar kamu tertawa. Suaramu membuatku teringat sepotong malam yang kita habiskan berdua. Dari malam hingga pagi. Ketika itu aku puas mendengarkan suara tawa kecilmu. Menikmati dirimu yang meletakkan kepala di bantal putih, yang tak henti-hentinya tersenyum kala menyimak cerita petualanganku.

“Aku akan misa jam enam, Dik. Mesti mandi cepat nih.”
“Pakai sabun Camay, ya Mas?”
“Iya, kok tahu?”
“Ah, Mas Tok sok lupa. Dulu Mas Tok pernah memberiku sabun Camay merah. Katanya biar selalu ingat pada aroma tubuhmu.”
Kini ganti aku yang tertawa. Ya, ya… aku ingat.
“Aku pun memakai sabun Camay jika kangen sama Mas.” Suaramu berganti sendu.

Ning, aku pun rindu. Rindu padamu. Rindu menghabiskan sore denganmu. Rindu mencerna aroma tubuhmu.

Catatan Kenangan

Dari Tok, untuk Ning
Kau tahu, aku tak pandai berpuisi. Waktu memang berlalu, tapi kata-kataku masih sama: Kau yang pertama dan terbaik.

Dari Ning, untuk Mas Tok
Menunggumu adalah perjalanan dari purnama ke purnama;
mengikatkan hati pada kenangan yang terlukis di tepian hutan jati, dengan bulan di balik bayang-bayang dedaunan.
Kenangan kita menjadi pegangan.
Dirimu tak pernah usang.

Terima kasih untuk segala kenangan. Kapan kita melukis kenangan lagi?