Mimpi Jauh Sekali

Makan siang ini kantin tak seberapa penuh. Bulan puasa memang selalu begini. Hanya aku dan Tia duduk di tengah bangku-bangku kantin.

Entah bagaimana mulanya, Tia bertanya. “Apa mimpi terbesarmu, Ning?”

Aku tergagap. Aku sudah melupakan mimpi-mimpiku. Dan lama sekali tak ada yang menanyakan mimpiku. Tetapi seminggu ini aku terusik oleh sebuah mimpi. Mimpi Mas Tok dengan ibunya. Begitu pagi tiba, aku bangun dan merasakan kerinduan yang jauh terpendam. Ya, kupendam dan kubalut doa. Kami nyaris tak berkontak berbulan-bulan.

“Apa ya mimpi terbesarku?” aku balik bertanya pada diriku sendiri sambil menatap Tia. Lalu tatapanku beralih ke meja, pada serangkaian kunci bergantungan kunci bulat dengan pinggir keemasan, bertuliskan Lourdes-France. Bagian tengahnya terdapat gambar Maria yang menampakkan diri pada Bernadette.

“Ada kaitannya dengan Lourdes?” tanya Tia seolah membaca pikiranku.

“Aku lama sekali tak memikirkan apa mimpiku, Tia. Hanya saja seminggu ini aku memimpikan seseorang …”

“Pacarmu?” tebak perempuan di depanku ini.

Aku tertawa kecil. Pacar? Kutarik napas panjang. Mengingat namanya saja selalu menggetarkan hatiku. Ada perih bercampur bahagia, dan teraduk-aduklah isi dadaku. Kenangan bersamanya muncul berkelebat-kelebat. Hutan jati. Malam-malam yang syahdu. Perjalanan Sintang-Nanga Pinoh. Perjalanan di kereta. Sendangsono. Perjalanan saat bulan purnama. Pertengkaran-pertengkaran kecil. Ah!

“Teman lama, Tia. Lagi pula entah di mana dia sekarang. Kami jarang sekali berkontak.”

“Mungkin dia ingin menghubungimu lewat mimpi,” ujar Tia.

Kami terdiam cukup lama. Kubiarkan gejolak hatiku sedikit mereda.

“Dia mimpi terbesarmu?” tanya Tia hati-hati setelah beberapa menit berlalu.

Aku menunduk. Jangan sampai mataku menjelaskan semua ini pada Tia.

“Kami pernah punya mimpi bersama,” jawabku. “Entah dia ingat atau tidak.”

Sampai sore percakapan dengan Tia masih terngiang. Begitu pula ingatan pada mimpi-mimpiku belakangan ini, menghadirkan adukan emosi yang tak bisa kujelaskan.

Di kamar kos aku memain-mainkan gantungan kunci pemberian Mas Tok. Lourdes-France. Apakah dia ingat mimpi yang kami bangun bersama dulu? Dan kenapa dalam mimpiku ada ibu Mas Tok? Ah, Ibu yang lembut hati. Betapa aku tak sanggup mengoyakkan ketentramanmu demi kuraih mimpiku bersama Mas Tok.

Tanpa sadar kufoto gantungan kunci itu, lalu kukirim lewat WhatsApps kepada Mas Tok.

Aku tersadar ketika tengah malam kudengar suara “ting” pelan di telepon pintarku.

“Dik Ning, aku sedang di Lourdes bersama Ibu. Aku masih ingat mimpi kita berdua untuk ke sini.”

Bersama pesan itu terkirim foto dua sosok yang hadir dalam mimpiku beberapa malam belakangan ini. Dan aku menangis.

Advertisements

Sepanjang Jalan Kenangan

Ning

Hari masih dingin. Mbediding, kata orang Jawa. Walau sudah lewat pukul 8 pagi, matahari belum tampak sempurna. Mendung menggantung di arah barat.

Aku melajukan motor berlawanan arah dengan orang-orang yang bergegas ke kantor atau sekolah. Ini tanggal 7 bulan tujuh. Lewat seminggu dari tanggal “jadian” kita.

Hmm, apa iya kata jadian itu tepat?

Samar kuingat perjalanan yang kita lakukan di sebuah petang: Menyusuri persawahan yang panjang. Kamu melajukan motor bebek pinjaman itu dengan setengah ngebut.

“Pelan-pelan saja, Mas Tok,” kataku agak keras dari belakang.
“Aku kebelet,” jawabmu tak kalah keras.

Haiyah. Selalu, batinku.

“Berhenti saja di pinggir sana, dekat pohon-pohon,” jawabku. Rumah Mbak Yuk–adik kesayanganmu–masih jauh. Kupikir kelamaan kalau Mas Tok menahan hasrat ingin buang air kecil.

Kamu menuruti saranku. Di tempat sepi, di dekat pepohonan kamu mengentikan motor.

Mendadak tanganku kautarik, ke balik pohon. Aku tak sempat menolak.

“Hei! Sana pipis dulu,” kataku.
“Bukan, aku kebelet mencium aroma bedak dan keringat di pipimu!”

Aku yakin pipiku bersemu merah. Hari itu tanggal 7 bulan tujuh. “Tujuh hari lewat dari tanggal 1 ya,” katamu. “Jadi, aku boleh sering-sering mengajakmu menyusuri sawah seperti ini kan, Ning?”

Hari ini 25 tahun berselang, aku mengingat seluruh perjalanan kita tanpa sengaja. Tugas kantor memaksaku menyusuri jalan ini menemui narasumber. Mendadak semua pertanyaan yang sudah kususun di kepala untuk kuajukan pada sang narasumber melayang. Menguap digantikan kenangan.

Kadang aku bertanya-tanya, apa kabarmu di pulau seberang?

 

 

Tok

Mataku kedutan sejak semalam. Pasti karena kurang tidur. Atau… ?

Kubuka email–seperti biasa, walau belum jam kantor.

Ada denyut pelan yang menjalar sampai ke perut waktu kubuka email teratas.

Mas Tok, apa kabar?
Pagi ini aku dapat tugas liputan tak jauh dari Desa Wonotirto, dekat rumah Mbak Yuk. Aku jadi ingat waktu kamu “kebelet”. Haha.

Aku mampir rumah Mbak Yuk.

Di email itu terlampir foto Ning dan Yuk. Rindu menyesak. Mungkin ini sebabnya mataku kedutan. Gelombang cinta itu sampai ke sini.

Perlahan terngiang lagu lama:
Sepanjang jalan kenangan… kita s’lalu bergandeng tangaaan…

Diam-diam aku menggigil. Aku ingin mendengar suaramu. Itu saja.

Pada Sebuah Hari Hujan

Aku tak pernah menyukai hari hujan. Hujan membuat jalan di sekitar kosku becek. Aku pun enggan menembus rintik hujan untuk mengganjal perut.

Tapi mau tak mau aku mesti keluar mencari makan. Aku tak mau sakit maagku kambuh dan mesti meringkuk di kasur beberapa hari lagi.

Aku melompati genangan kecil. Tak bisa kuhalangi ingatan saat berhujan-hujan dengan Mas Tok kembali muncul. Sesaat mataku memanas. Di manakah Mas Tok? Dalam kesendirian seperti ini pertanyaan dan doa untuk Mas Tok selalu mengambang di permukaan hati.

Mas Tok… Mas Tok…

Aku selalu berharap masih ada gelombang yang menautkan hati kami. Mungkin hanya perjumpaan lima menit pun tak apa.

Aku berbelok di tikungan. Duh, nasi goreng terdekat dari kosku tutup.

Aku meneruskan langkah. Perutku minta diisi makanan hangat.

Di ujung jalan kulihat ada restoran baru. Aku tak pernah ke sana. Tempat itu tampak mahal. Tapi saat hari hujan begini, mau tak mau aku ke sana.

Kututup payungku. Kulangkahkan kaki ke dalam. Sekilas kubaca ada menu soto.

“Soto semangkuk, nasi sedikit ya.”

Pemuda berseragam itu mengangguk cepat. Aku mundur, hendak mencari tempat duduk.

Dug!

Kakiku menabrak orang.

“Maaf!”

“Dik Ning!”

Mendadak aku seperti dilemparkan pada hari-hari hujan bersama Mas Tok; menyusuri pinggiran hutan jati, menghirup aroma dirinya. Doaku terkabul! Masih ada gelombang yang menyatukan kami. Seketika aku merasa hangat dan sembuh.

Pertemuan

Tok

“Jadi kita bertemu di mana?”

Pertanyaan Ning itu memacu otakku untuk berpikir. Kami jarang bertemu, jadi setiap pertemuan haruslah sempurna. Sesempurna senyumannya membuyarkan konsentrasiku.

“Nanti kupikirkan,” jawabku singkat. Aku masih mengurus laporan dan harus berkemas saat Ning menelepon memastikan kedatanganku.

Senyum Ning semakin memenuhi kepalaku.

 

Ning

Aku belajar memasak belum lama. Yang kutahu adalah, Mas Tok penggemar makanan enak. Jadi, setiap aku memasak, yang terlintas adalah Mas Tok.

Mas Tok mengajak bertemu. Entah di mana. Tapi aku sejujurnya ingin memberikan sepiring atau semangkuk hasil masakanku. Tapi Mas Tok suka es krim. Aku belum berhasil membuat es krim. Duh…

Aku gugup. Semua terasa seperti mimpi. Mas Tok akan datang!

 

Tok

Dadaku bergemuruh. Siang yang terik tak menyurutkan langkahku menyusuri jalanan Jogja yang menyengat. Ning… Ning… aku merindukan aromamu.

Berkali kubuka peta di android. Jalanan ke rumahmu samar-samar kuingat. Ah, betapa lama aku tak menikmati senyummu, Ning.

 

Ning

“Mas Tok! Cepat sekali datangnya. Tak kusangka Mas Tok ingat rumahku. Aku baru saja selesai masak sayur asem.”

Kehadiran Mas Tok terasa mendadak. Aku tak siap, tapi sekaligus senang. Akhirnya kerinduan ini berujung perjumpaan.

Astaga, aku masih berdaster! Jangan-jangan keringatku terlalu asam di hidungnya?

 

Tok

Bau keringat Ning masih seperti dulu. Namun saat ini berpadu rempah.

Dia masih Ning yang dulu. Hanya kali ini dengan balutan daster kuning, bukan rok lipit rapi yang dia pakai saat memasuki pelataran gereja. Kini terlihat keringat membuat kulitnya mengilat. Seksi!

Kubetulkan kacamataku. “Ning, kamu tidak banyak berubah ya.”

Dadaku bergemuruh. Tak sadar… kulumat bibirnya yang mengembang sempurna.

Sepotong Perjumpaan

Aku sering membayangkan menghabiskan senja denganmu. Diawali dengan menyeduh teh dan kopi, mengudap makanan kecil, lalu kita menghabiskan waktu menikmati matahari tenggelam di beranda rumah kita kelak, tempat kita berdua menghabiskan usia kita yang beranjak senja. Aku mengharapkan waktu berjalan dengan lambat sembari kunikmati wajahmu. Aku akan menghitung rambut putihmu yang mulai banyak, mengamati matamu di balik kacamata, dan memasang telinga baik-baik untuk menyimpan semua ceritamu. Kurasa tawamu masih seperti dulu, seperti dua puluh tahun silam saat jantung kita sama-sama berdebar kala mata kita berjumpa.

Tapi bagaimanapun aku tak akan menampik pertemuan yang kita lakukan dengan mencuri waktu di antara jadwal padatmu.

“Berapa lama waktu yang kaupunya, Mas Tok?”
“Sebenarnya ingin selamanya denganmu, Ning. Tapi kau sudah hafal seperti apa jadwalku, kan?”

Aku mengangguk. Mungkin kau adalah orang terpenting di dunia ini, dengan segudang kegiatan, rapat demi rapat, seminar demi seminar, dan entah apa lagi.

“Setelah ini Mas Tok kembali ke penginapan naik apa?”
“Naik kendaraan umum. Apakah rutemu sejalan denganku?”

Tanpa berpikir panjang, aku mengangguk. Aku tahu, mengikutimu berarti berjalan lebih jauh. Tapi bukankah itu berarti waktuku bersamamu semakin panjang?

“Nanti aku turun di Utan Kayu, sementara itu, Mas Tok bisa melanjutkan perjalanan,” jawabku.

Bus yang membawa kita pun tiba. “Sini kubawakan tasmu,” katamu. Aku selalu tersentuh dengan perhatian kecilmu.

Bus tidak padat, dan kita pun duduk bersebelahan. Kurasakan tanganmu menggenggam tanganku. Kebiasaan lama, batinku sambil tersenyum. Kau masih seperti dulu. Dan ingatanku melayang pada perjalanan panjang kita, dari pelataran gereja hingga Sendangsono. Sepanjang itulah kita berbagi cerita dan tak sedetik pun kaulepas genggaman tanganmu.

Jam tanganku menunjukkan pukul lima kurang lima. Matahari mulai redup. “Mas Tok, jangan pergi lagi,” bisikku di telingamu. Matamu menjadi sendu. Aku ingin menangis.

Waktu bergerak, halte demi halte kita lewati, itu berarti kita menuju perpisahan. Aku mulai mengenali daerah tempat aku harus berganti kendaraan pulang.

“Mas, sebentar lagi aku turun.”

Tanganmu menggenggamku semakin erat.

Ketika petugas menyebutkan halte tempat aku turun, kau mengangsurkan tas lalu mencium pipiku dengan cepat. “Hati-hati, Dik Ning.”

Aku mengangguk. Kulangkahkan kakiku ke luar bus. Aku tak bisa melabeli apa yang bergolak dalam hatiku. Sedih, bahagia, resah. Tabungan rinduku pecah dengan pertemuan singkat ini, sekaligus kembali terisi dengan seribu harapan akan pertemuan kembali.

Aku yakin kita bertemu lagi. Semoga dengan waktu yang lebih lama.

Malam itu lagu My All milik Mariah Carey berputar entah berapa kali, menyemarakkan kerinduan yang mulai memenuhi lorong hatiku.

I am thinking of you
In my sleepless solitude tonight
If it’s wrong to love you
Then my heart just won’t let me be right
‘Cause I’ve drowned in you
And I won’t pull through
Without you by my side

…..

I’d give my all to have
Just one more night with you
I’d risk my life to feel
Your body next to mine
‘Cause I can’t go on
Living in the memory of our song
I’d give my all for your love tonight