Pusi Rindu

Ning
Rindu adalah perjalanan hati dalam sepi
Menyusuri waktu sendiri
Kamu di sana, aku di sini
Masing-masing menggenggam hati

Akan kukenang segala keindahanmu
kusesap-sesap setiap kali kalbu mengaduh
berharap lara itu menguar terbawa waktu
hingga kelak kita bertemu

Tok
Tabunglah rindumu hingga kelak kita susuri waktu berdua.
Kelak kugenggam tanganmu, tak akan lagi kulepas.
Ning, temani aku menapaki senja.

Rindu yang Menderu-deru

Ning
Keberangkatanmu kembali ke kota tempat tugasmu meninggalkan sebuah lubang rindu seperti yang sudah-sudah. Aku tak tahu lagi kapan bisa kembali bertemu denganmu.

Ya, mencintaimu itu berarti memendam rindu. Membendung gelombang rindu yang menderu-deru.
Apakah kamu juga rindu?

Tok
Tentu saja aku rindu, Dik.
Rasa sengkring-sengkringnya masih terasa.

Baik-baik di sana, ya Dik Ning. Jaga kesehatan. Akan kureka-reka rencana untuk berjumpa kelak.

Selamanya Cinta

Ning
Mas Tok libur. Ia pulang untuk ibunya yang berulang tahun. Ya, tidak semata-mata untukku. Ibu jauh lebih penting. Dan aku merasa Ibu memang wanita yang diutamakan Mas Tok.

Menyaksikan foto Mas Tok dengan keluarganya sejenak menghadirkan rasa perih. Andai aku bisa menjadi bagian dari keluarga itu. Andai aku dulu punya sedikit saja keberanian dan mendobrak tembok-tembok penghalang, barangkali aku ada dalam foto itu.

“Bagaimana kabar Ibu, Mas?”
Sehat. Hanya sempat sedih saja kemarin ketika mengira anak-anaknya tidak bisa pulang karena pandemi.
“Lalu akhirnya kalian janjian pulang?”
Ya, demi Ibu.

Aku menghela napas. Kulihat ombak berlomba ke pantai, lalu surut kembali ke laut. Keinginanku untuk menemani Mas Tok barangkali sebesar debur ombak itu, tapi toh akhirnya surut. Seperti menyadari bahwa panggilan kami memang berbeda. Jalan kami berbeda. Seperti tak ada masa depan.

Tok
Ning manis sekali. Meskipun hanya berkaus memakai celana jin, dia terlihat segar. Usianya tak lagi muda, tetapi pipinya terlihat seperti anak remaja–seperti yang kujumpai ketika dia duduk di bangku SMP akhir.

Aku tergoda mendaratkan ciuman. “Tak apa ya kalau aku spontan menciummu.”
Ning berbinar, spontan memelukku. Tentu saja boleh. Di tempat ini tak ada yang mengenali kita, Mas. Kita tak berbeda dengan anak-anak muda itu.

Kulihat beberapa anak muda berpasangan saling bergandengan. Aku tak hanya ingin bergandengan dengan Ning. Aku ingin memilikinya.

“Mestinya dulu Mas Tok memintaku pada Bapak,” kata Ning memecah keheningan di antara kami.
Aku tak punya nyali, Dik.
“Tapi mungkin sebaiknya memang begini ya, Mas. Tak ada yang tersakiti–kecuali kita berdua. Ibu pun tetap bahagia.”

Suara Ning tercekat. Matanya berkaca-kaca. Kupeluk Ning, berharap bisa mengurai laranya.
Aku mencintaimu, Ning. Selamanya cinta.

Yang Tertumpah di Hari Hujan

Ning
Hari-hari ini kulihat kamu mulai absen muncul di gadget kecilku.
“Aku rindu.” Tulisku singkat.
Tak perlu panjang-panjang menulis untukmu. Lagi pula, rindu yang dijelaskan panjang lebar sama beratnya dengan rindu yang tertulis singkat. Perjumpaan lewat layar maya seperti pengobat rindu. Pandemi masih akan lama. Kurasa masih akan lama pula aku bertemu Mas Tok.

“Apa aktivitasmu hari-hari ini, Dik?”
Aku seperti kesetrum membaca balasanmu. Lalu kujelaskan beberapa deret aktivitas harianku. “Tapi aku pasti kalah sibuk denganmu. Mas Tok kan orang paling sibuk sedunia.” Kalimat itu kuakhiri dengan ikon terbahak.

Kutunggu balasanmu. Dan setelah sekian lama, kamu menulis jawaban, “Aku santai hari-hari ini.” Disusul fotomu di antara kerabat-kerabatmu.

Apakah … apakah ini artinya Mas Tok pulang? Pulang ke …?

Jantungku berdebar. Aku seperti ingin menangis. Oh, alangkah cengengnya aku.

 

Tok
Detak jantungku seperti menderu. Aku tak ingin kejutan ini gagal.
Kupacu kendaraan menembus hujan tipis. Berpuluh kilometer kutembus batas pandemi. Ning… apakah kamu mendengar detak jantungku?

 

Ning
“Mas Tok!”
Kakiku gemetar menyaksikan lelaki yang turun dari kendaraan putih itu. Benarkah yang kusaksikan di balik korden? Mas Tok … forever lover of mine.

 

Tok
“Ning …”
Tak kubiarkan Ning menjawabku. Tak ada yang perlu terucap. Hanya perlu pelukan untuk mengungkapkan rasa. Kucari bibirnya. Masih selembut yang dulu. Tapi kini ia tak malu-malu. Ning lebih berani dan mencari.

“Kita ke mana, Dik?”
Pejamkan matamu, Mas. Akan kubawa kau ke tempat yang teduh. Tempatmu berlabuh dan menumpahkan semua yang ingin kauberikan.

Ning memenuhi kata-katanya. Gerimis yang membasahi tanah kering di luar tak bisa menyamai keringat kami yang membanjiri seluruh tubuh. Ning semakin molek, tubuhnya berlekuk matang. Ia masih seperti 27 tahun silam, tetapi lebih berisi. Ia menuntunku menyusuri kelokan demi kelokan dan seluruh hasratku pun tumpah. Tak tertahan lagi rindu dan hasrat yang kubendung dalam hitungan tahun. Kami meliuk bersama menyatukan gairah.

 

Ning
“Aku rasanya seperti bermimpi, Mas. Kau benar-benar hadir, memberi diri, mencintaiku. Terima kasih.”
Terima kasih, juga ya. Kau membuatku benar-benar menjadi laki-laki sejati.

Di luar basah dan dingin.
Sekujur tubuhku basah oleh keringat Mas Tok.
Tapi hatiku menghangat. Sungguh aku yakin kini kamu adalah milikku.

Dua Puluh Tujuh

Ning, semalam kulihat bulan.
Seperti yang kita saksikan 27 tahun yang lalu, Mas Tok?
Seperti yang selalu kulihat di matamu.

 

Ning
Aku tak pernah mengira bisa menjalani hari-hari tanpamu selama ini. Dua puluh tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Sejak kau meninggalkan kotaku, pertemuan kita bisa dihitung dengan jari. Mungkin sepuluh kali lebih, tapi belum tentu tiga atau empat tahun sekali kita bertemu.

Aku menyaksikanmu dari kejauhan. Seperti menatap elang yang terbang gagah di awan. Meliuk, berputar dengan sayap nan panjang terentang. Dirimu begitu jauh dari jangkauan.

Namun aku seperti menemukanmu lagi hari-hari ini. Dalam layar kaca, dalam gadget kecil yang bisa kubawa-bawa. Kita melemparkan harap. Mereka-reka rencana jika ada perjumpaan–seperti lagu Dinda di Mana. Kau pupus rinduku satu-satu, dengan suaramu yang kudengar dari jauh.

Tok
Aku tak pernah lupa padamu. Sesosok gadis malu-malu yang duduk di sudut halaman parkir gereja. Dan aku jatuh hati padamu.

Siapa yang bisa melarang seseorang jatuh hati? Walau semua akan menyebutkan seluruh batasan di antara kita, tetapi kita toh sempat mencuri waktu. Menggenggam tangan dalam beberapa perjalanan. Menatap bulan di tepi sawah, pinggir hutan jati.

Ning, kata novel yang kubaca, sebaiknya seseorang menikah dengan cinta pertamanya.

 

Seandainya bisa, Mas Tok. Seandainya keberanian ini tumbuh sejak dulu kala. Seandainya bisa.
Mestinya kau culik diriku, lalu kita terbang bersama ke balik awan. Melupakan segala apa kata orang dan mewujudkan impian.

Seberapa Dalam?

Tok
Seberapa jauh ingatanmu dan seberapa kuatnya perasaanmu tentang kita?

Ning
Aku tak pernah mengukur. Tapi denganmu walau setelah berlalu belasan tahun, rasa itu masih sangat kuat, Mas. Aku kadang merasa, hanya aku sendiri yang merasakannya. Banyak hal dan kesibukan yang menggulungmu. Kurasa aku sendirian…

Tok
Sebenarnya sampai sekarang aku masih merasakannya, Dik Ning. Jangan merasa sendirian lagi. Rinduku pun tidak ringan.

 

Sepotong Teks di Pagi Mendung

Ning kepada Tok

Mendung sejak pagi. Hatiku ikut murung. Aku mencoba mencari semangat dengan membuka akun media sosialmu. Kulihat ada beberapa video yang kamu buat. Tetapi sepertinya membuka akunmu itu bukan pilihan yang tepat. Aku seperti terhantam meteor rindu bertubi-tubi, sehingga aku malah ingin bergelung sambil menangis mengingat dirimu.

Kukirim teks pendek. “Apakah mencintaimu itu suatu kebodohan dan kesia-siaan, Mas Tok?”

Lama tak ada jawaban. Aku berpikir, kamu sudah memulai kesibukan. Jadi barangkali kiriman teks pendekku tak akan terbaca atau malah “nyrimpet-nyrimpeti” langkah. Tapi sesungguhnya aku hanya mencari rengkuhan hangatmu dari jauh.

Sarapan pagiku kulewati dengan sedikit tergesa karena aku terlalu lama di tempat tidur. Rapat daring akan segera dimulai dan pikiranku masih berkelana padamu. Tulisan yang harus kupresentasikan kubaca sekilas. Sementara itu otakku mulai meluncurkan kata-kata tentang dirimu. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang harusnya kusampaikan kepadamu tetapi sepertinya mandeg ketika sampai di mataku sehingga menimbulkan sumber air mata.

Aku tak tahu kenapa aku tercipta dengan otak yang memiliki jalan pikiran seperti ini. Yang membuat pikiranku rajin bergulir seputar tentang dirimu. Ingatan akan kenangan masa lalu bersamamu seperti berjalan beriringan dengan masa kini, tentang tepi hutan jati, tentang bulan yang mengintip dari balik awan, tentang genggaman sepanjang jalan ke Sendangsono, tentang berbatang-batang cokelat, tentang diary biru darimu dengan sepotong tulisan di halaman terdepan. Semua beriringan dengan beberapa tumpuk tugas tulisan yang harus kubuat, dengan laporan-laporan, dengan pesanan kue-kue yang mesti selesai akhir minggu, dengan setumpuk cucian, dengan urusan-urusan sepele sehari-hari yang tak pernah selesai.

Dorongan untuk menangis masih berdenyut di ujung mata.

Aku baru saja menyalakan laptop ketika kudengar pesan singkat masuk. “Tentu saja tidak bodoh dan sia-sia, Dik Ning.”

Mas Tok, rindu ini tak akan pernah selesai. Kamu tahu itu.

Di luar kulihat matahari sedikit menyembul. Seperti memberi secercah harapan.

Satu Mei

Ning kepada Tok

Aku sudah lupa apakah hari benar-benar berganti. Apakah minggu berganti bulan sejak adanya pandemi ini. Apakah kita hanya menghitung jam yang hanya jalan di tempat?

Kadang aku tak ingat, apakah sebagai manusia, kita ini menguasai waktu atau waktu yang mengikat kita?

Dan sejak pandemi, kadang waktu memupus harapan.

Tetapi lagu First of May kirimanmu tadi siang membuatku memiliki harapan lagi. Minggu benar-benar telah berganti menjadi bulan.

Terima kasih ya atas lagu First of May-nya The Bee Gees, ya Mas Tok.

 

Tok kepada Ning

Minggu-minggu pandemi sering kali membuatku merasa sepi. Banyak kegiatan yang harus kuhabiskan di dalam ruangan sendiri. Memang sesekali aku meeting lewat internet, bertemu banyak wajah. Tetapi seperti kubilang padamu, Ning, rasanya sepo. Hambar.

Harus kuakui sapaanmu yang nyaris setiap hari, seperti membuka harapan. Ada hatimu yang mencinta, yang memberi rasa pada kehampaan.

Ning yang manis, terima kasih atas pelukan doamu.

Jalan Rindu

Ning

Kurasa di masa wabah seperti ini, salah satu hal tersulit adalah menahan rindu. Tetapi untungnya aku telah terbiasa menimbun rindu–tentu saja padamu. Semakin kecil kemungkinan untuk bertemu. Hanya sesekali kulihat kamu tampil di video singkat yang beredar di internet. Ya, zaman sekarang, siapa pun bisa dengan mudah mengudara di dunia maya. Termasuk kamu, Mas Tok. Itulah pengobat rindu.

Tetapi, seperti yang sudah-sudah, rindu seperti menemukan jalannya sendiri. Sore itu kudengar suaramu dari ujung sana.
“Kamu baik-baik saja, Dik?”
“Iya, aku sehat. Mas Tok pun sehat kan?”
“Suaraku terdengar sehat, kan?”
Ya, ya. Suaramu tidak berubah. Masih seperti dulu. Lalu terbayanglah sosok gagahmu walau kurasa ada bagian dirimu yang sudah dimakan usia.

Mendadak aku teringat ibumu. Berapa ya umurnya sekarang? Menjelang delapan puluh kah? Konon wabah ini mengincar penduduk senior dan/atau yang punya daya tahan tubuh buruk.

“Bagaimana kabar Ibu, Mas Tok?”
Kali ini kamu bercerita panjang tentang Ibu. Bahwa Ibu sempat mengeluh sakit. Batuk tak sembuh-sembu. Bahwa kamu dan adik-adik jadi sangat-sangat khawatir. Tetapi di ujung cerita terdengar nada lega. Ibu kembali pulih.

“Aku pun sebenarnya ingin pulang,” kataku.
“Ke sini, Dik Ning?”
“Haish, rayuanmu itu Mas Tok…”
“Aku tidak merayu. Sungguhan.”
Aku tertawa. Kamu memang tempat untuk pulang yang sesungguhnya. Timbunan rindu ini pasti akan menemukan jalannya. Seperti perjumpaan via suara kali ini.

“Mas Tok, sudah dulu ya. I love you!”
“Ssh, jangan kencang-kencang. Telepon ini ku-speaker.”
“Kamu takut ketahuan pacar gelap?”
Aku ngakak.
“Tak enak kalau terdengar yang lain. Kamu tahulah isi hati, Dik Ning.”
Ya, tentu saja aku tak perlu dijelaskan.

“Mas, aku kirim lagu ya buatmu. Buat teman tidur.”
(Karena aku tak bisa berada di sampingmu menemani selama masa wabah ini, karena hanya rindu yang kumiliki…)
“Terima kasih. Baik-baik, ya Dik!”

I Wish You Love
I wish you bluebirds in the spring
To give your heart a song to sing
And then a kiss, but more than this
I wish you love
And in July a lemonade
To cool you in some leafy glade
I wish you health, and more than wealth,
I wish you love
My breaking heart and I agree
That you and I could never be
So, with my best, my very best
I set you free
I wish you shelter from the storm
A cozy fire to keep you warm
But most of all, when snowflakes fall
I wish you love
My breaking heart and I agree
That you and I could…

Nyanyian Rindu di Hari Minggu

Seingatku aku dulu selalu tampil baik saat koor semasa berseragam putih dengan rok biru lipit-lipit. Itu dulu, belasan tahun lalu. Tapi sekarang sepertinya kemampuan menyanyiku turun. Meskipun demikian, aku tetap ikut menyanyi.

Akan kucoba memperdengarkan nyanyianku pada Mas Tok. Tentu saja lewat telepon.

“Halo, Dik Ning.” Suara hangatnya terdengar setelah bunyi tuuut kedua.
“Mas Toooook! Kangeeen!” Kuluapkan rasa kangen ini.
“Ya, ya. Maaf ya aku tidak menjawab teleponmu kemarin. Aku di jalan.”
“Iya, iya. Apa sih yang tak kumaafkan darimu?”
Mas Tok tertawa ringan.
“Mas, aku nanti tugas koor. Mau dengar suaraku tidak?”
Kudengar “Hmmm” yang dalam.
“Dengar ya, Mas.”
….Engkaulah gembala, aku domba-Nya…
… ke padang yang hijau aku Kaubawa…

Hening sesaat setelah nyanyianku berhenti.

“Mas, dengar tidak?”
“Dengarlah. Tentu kudengar. Suara nyanyianmu khas sekali, ya Dik. Tadi kurekam.”

Aku memerah. Tapi Mas Tok tentu tak melihat.

“Dik, aku berangkat misa dulu, ya. Selamat hari Minggu.”

Aku yang terdiam sesaat, segera menjawab, “Ya, ya. Doakan aku ya, Mas.”
“Doa apa?”
“Doa supaya bertemu denganmu lagi.”

Mas Tok tertawa.