Yang Utama

Kemarin aku iseng ikut giveaway yang diadakan oleh temanku sesama penerjemah, Uci. Silakan mampir ke blognya kalau berminat. Awalnya aku tidak berminat ikut. Sepertinya aku cenderung malas kalau ikut lomba, kuis, dan semacamnya. Tapi entah kenapa setelah aku baca-baca komentar yang masuk di postingan giveaway itu, aku jadi tertarik. Iseng-iseng berhadiah. Tidak menang, juga tidak apa-apa. Buat rame-rame saja.

Jadi, ceritanya ada orang bernama Sophie, seorang ibu muda dengan satu anak yang tengah dilanda kegelisahan. Dia merasa bahagia sekaligus tak puas dengan hidupnya. Dia menyimpan sejumlah rahasia dan kekhawatiran yang selama ini hanya dipendamnya sendiri. Namun malam itu dia bertekad akan menceritakan semua kepada Jenny, sahabat karibnya. Sayang, sebelum niat Sophie terlaksana, dia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Berada di antara dua dunia, Sophie tahu dia seakan mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki hidup orang-orang yang paling dia cintai dan paling mencintainya. Pertanyaan giveaway itu adalah: siapa yang akan kamu temui jika kamu mengalami nasib seperti Sophie? Ya, kira-kira begitu deh pertanyaannya. Serem? Pertanyaan itu diadaptasi dari sebuah novel yang akan menjadi hadiah bagi pemenang. Pertanyaan itu klise bukan? Dan mungkin sudah banyak cerita yang berangkat dari pertanyaan serupa. Tapi toh, pertanyaan itu masih selalu membuat kita merenung. Sebelum menjawab pertanyaan giveaway itu di kolom komentar, aku baca-baca dulu jawaban peserta yang lain. Menurutku, jawabannya kurang lebih senada. Banyak yang menjawab bahwa mereka ingin bertemu orang tua/kekasih/mantan/anak/saudara untuk mengucapkan terima kasih, maaf, atau mengungkapkan rasa sayang/cinta. Tiga hal itu yang mengemuka: terima kasih, maaf, dan cinta.

Membaca komentar-komentar itu, aku jadi teringat pada pengalamanku sendiri. Beberapa waktu lalu aku sempat merasa tidak enak dengan seorang teman. Mungkin masalahnya sepele. Tapi dari percakapan terakhir kami, aku merasa ada ganjalan. Ada perasaan marah, kesal, dan menyesal. Kupikir, perasaan itu akan hilang seiring berjalannya waktu. “Ah, nanti juga hilang sendiri. Lagi pula, kalau nggak kontak-kontakan sama dia, ya nggak masalah. Emang teman cuma dia aja? Emang dia yang kasih aku makan?” Lalu aku berusaha melupakan itu dan diam-diam mau mencoretnya dari daftar teman. Bodo, ah!

Tapi perasaan tidak enak itu terus mengganggu. Aku merasa kata-kata yang pernah kuucapkan kepadanya berupa sindiran yang mengutarakan kejengkelanku. Ya, aku kesal sekali. Tapi aku juga salah. Dan aku sadar, tidak sehat jika aku membiarkan masalah itu. Jadi, pada akhirnya aku memutuskan untuk meminta maaf lebih dulu. Entah pihak mana yang salah, bagiku tidak penting. Dan dari percakapan yang mengesalkan sebelumnya, aku jadi berefleksi cukup dalam. Jadi, aku perlu “berterima kasih” kepadanya. Sesudah itu, aku jadi lebih lega. Setidaknya aku sudah berdamai dengan diriku sendiri.

Kembali ke pertanyaan giveaway temanku tadi, aku berpikir bahwa barangkali yang penting di dunia ini adalah kasih. Dan kasih itu terejawantahkan lewat tiga hal mengemuka dari jawaban para peserta kuis: terima kasih, maaf, dan ungkapan sayang/cinta. (Mungkin kalau kepada teman, ungkapan cinta/sayang itu bisa diejawantahkan dalam bentuk sikap saling menghargai, saling menolong.) Tiga hal itu juga yang kurasa menyokong relasi yang baik. Untuk bisa mewujudkannya diperlukan sikap rendah hati, kemauan untuk berefleksi, kemauan untuk menahan diri, kejujuran, kemauan untuk saling memahami … apa lagi ya?

Yah, pada akhirnya aku semakin yakin bahwa hal-hal utama di dunia ini bentuknya bukan materi belaka.

Posted in Refleksi yang biasa-biasa saja | Tagged , | 5 Comments

Bisnis VS Menghargai Teman

Beberapa hari yang lalu seorang teman mengirimiku pesan via FB. Isinya simpel, kurang lebih dia menawariku untuk bergabung dalam bisnis MLM-nya. Jujur saja, aku kurang suka mendapat pesan seperti itu. Masih mending kalau pesannya berisi sapaan. Ya, namanya juga teman. Saling say hello, wajar saja menurutku. Tapi kalau mak bedunduk, ujug-ujug, tiba-tiba muncul hanya untuk menawari barang dagangan atau bisnis, aku kok merasa semacam dimanfaatkan ya?

Sebetulnya aku berpikir untuk menjawab tawarannya dengan penolakan yang halus. Toh ini teman. Memang sih, dia ini bukan teman haha-hihi yang sering mengontak. Hampir tak pernah mengontak malahan. Tapi aku hanya ingin menanggapi dengan wajar, layaknya seorang teman. Menurutku–saat itu–kupikir lebih baik bilang tidak daripada diam saja. Tapi ketika membaca statusnya yang muncul tak lama kemudian, aku jadi males-semalesnya untuk memberikan tanggapan kepadanya. Kurang lebih dia mengatakan bahwa selama menjalankan bisnis itu dia biasa mengalami ditolak, diremehkan, di-remove karena statusnya isinya melulu soal MLM-nya dia, dan dijauhi teman karena takut diprospek. Entah kenapa aku akhirnya memilih untuk tidak menjawab sama sekali pesannya. Membaca statusnya yang seperti itu seperti mendengar seorang pengamen yang mengatakan, “Kalau Bapak/Ibu memberi uang, saya doakan Anda sejahtera. Bagi yang tidak memberi, berarti Anda pelit.” Mungkin ini perasaanku saja. Tapi bagiku, itu menyebalkan. Menurutku, dia menyebalkan karena tiba-tiba mengontakku hanya karena bisnis MLM-nya.

Apakah ini artinya aku anti MLM?

Entah anti, entah tidak aku tidak menjawab dengan tegas. Leda-lede, yo ben. Aku pernah ikut jadi anggota MLM, tapi alasanku ikut adalah karena aku memang berniat membeli produknya. Kalau jadi anggota, kan dapat diskon tuh. Tapi aku tidak suka jualannya. Mungkin ada yang menganggapku bodoh, wong sudah jadi anggota MLM kok tidak sekalian jualan. Ya, kan suka-suka aku, dong. Tapi yang jelas, satu hal yang aku sangat tidak sreg dengan cara penjualan MLM itu adalah sikap si pelaku bisnis itu sendiri. Contohnya? Ya, seperti temanku yang kuceritakan di atas tadi. Orang itu lama sekali tidak menyapa, status-status FB-nya 90% hanya berisi promosi jualannya plus mewartakan bahwa jika ikut bisnisnya orang akan mendapat uang sekian juta dalam hitungan sekian bulan, bisa ke luar negeri, bisa ini dan itu. Menurutku itu kok terlalu egois dan menyamaratakan impian semua orang. Tidak semua orang punya cita-cita untuk ke luar negeri dan punya banyak uang. Lagi pula, kalau hanya itu yang “dijual”, memangnya kamu yakin bahwa dengan begitu dunia akan jadi lebih baik? Sekali lagi, aku tidak yakin bahwa hal yang penting di dunia ini adalah materi yang berlimpah.

Seorang temanku yang lain pernah cerita ketika dia diprospek untuk ikut sebuah MLM. Dia waktu itu ditanya, “Mbak, pengin nggak bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis?”
“Enggak.”
“Pengin nggak punya passive-income?”
“Enggak.”
“Lalu, cita-cita Mbak apa dong?”
“Aku pengin di Indonesia tidak ada pengangguran.”
Eh, ini tidak bercanda lo. Serius. Temanku ini memang cukup aktif memberdayakan masyarakat. Karena dia hobi merajut, dia suka mengajari orang-orang untuk merajut. Kupikir apa yang dia katakan sesuai dengan apa yang dilakukannya. Masih bagusan begitu menurutku.

Sikap pelaku MLM yang menurutku kurang etis adalah ketika bertemu teman, yang diomongin hanya soal bisnisnya melulu. Setiap orang kan punya fokus perhatian sendiri-sendiri. Dan menurutku, jika aku mendapat perlakuan seperti itu, aku merasa dimanfaatkan. Orang itu mendekati aku hanya kalau ada maunya. Dia tidak membangun pertemanan layaknya seorang teman. Fokusnya hanya pada dirinya sendiri dan keuntungan yang dia bayangkan akan dia dapatkan jika berhasil membangun downline. Jadi, wajar kan kalau teman-teman dia yang lain akhirnya menyingkir karena males diprospek. Dan dengar-dengar tidak jarang orang “terpaksa” bergabung dengan suatu bisnis MLM karena merasa tidak enak dengan teman yang mengajaknya.

Yah, pada akhirnya kupikir setiap orang punya pilihan masing-masing. Mau ikut bisnis MLM atau tidak, itu terserah saja, tapi jangan paksa orang lain untuk selalu mengikuti jalanmu dan hargailah temanmu. Itu saja.

Posted in Dunia di sekitar kita | Tagged , | 6 Comments

Sebuah Catatan (Sebelum Dibuang)

Radio adalah salah satu sumber bagiku untuk mendapatkan berita. Belakangan aku agak jarang juga sih menyetel radio, lebih tepatnya tidak sesering dulu. Kebanyakan sekarang buka internet saja. Kalau televisi kutonton saat aku pulang ke Jogja. Itu pun karena ada TV kabel di rumah. Jadi, yang kutonton ya film-film saja. Jarang banget menonton televisi lokal. Gaya ya? Hehe. Ya, begitulah. Soalnya selain di sini juga tidak punya TV, di kepalaku sudah teracuni pemikiran bahwa acara televisi lokal banyak yang buruk.

Ketika mendengarkan radio, kadang aku iseng mencatat kalau ada informasi penting. Seringnya kucatat di kertas bekas. Sempat juga aku berniat mengetik catatan-catatan itu dan membuat file khusus. Tapi yah, dasar males … akhirnya kadang hanya tergeletak di depan komputer saja. Soalnya aku berpikir, “Ah, hal seperti ini kan bisa kudapat di buku lain. Googling juga bisa. Jadi, ngapain mesti repot-repot mengetiknya?” Kadang catatan-catatan itu akhirnya kubuang.

Beberapa waktu lalu kebetulan aku menemukan satu catatan yang rasanya sayang untuk kubuang. Catatan itu tentang tanah dan biopori. Kupikir aku akan membuangnya begitu saja. Tapi aku pikir kalau aku menuliskannya di blog, ada gunanya untuk orang lain. Dan ini bisa jadi pengingat untukku.

Tanah memiliki pori-pori. Pori-pori ini berfungsi untuk menyerap air. Nah, jika tanah tertutup semua oleh bangunan, disemen, atau banyak pohon ditebang, maka air tidak sempat tersimpan dalam tanah. Air langsung ke sungai. Akibatnya, air sungai meningkat dan ini bisa mengakibatkan banjir.

Karena itu, buatlah lubang biopori di halaman rumah. Lubang itu kira-kira 30 cm kedalamannya dan isilah dengan sampah organik. Sampah tersebut akan diurai oleh binatang/cacing. Cacing akan membentuk lubang-lubang dalam tanah (pori-pori) yang bisa menyerap air.

Sebisa mungkin sisakan sebidang tanah di halaman rumah kira-kira 1-2 meter persegi saja untuk menyerap air atau untuk ditanami tanaman perdu.

Begitu saja catatan itu. Singkat ya. Tapi kurasa ini penting. Tidak semua orang peduli akan hal ini. Apalagi di perkotaan, di mana halaman rumah banyak yang disemen dan tidak tersisa secuil tanah pun. Nah, sudahkah kalian memiliki/membuat lubang biopori?

Posted in Dunia di sekitar kita | Tagged , | 9 Comments

Punya Anak? Siapkan Orang/Pihak “Menganggur” untuk Mengurusnya

Beberapa waktu yang lalu temanku di Fb mengirimi tautan tulisan di dunia maya tentang pengasuhan anak. Satu hal yang masih kuingat dari tulisan itu kira-kira bunyinya begini: “Kenapa ada orang tua (terutama ibu) yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan anak (mungkin dengan berbagai terapi), tapi setelah mendapatkan anak, tak lama setelah anak mereka lahir, mereka cepat-cepat kembali bekerja.” Bagiku tulisan itu cukup menohok untuk seorang wanita pekerja yang memiliki anak. Jujur saja pertanyaan itu menggemakan pertanyaan yang selama ini tersimpan di sudut hati. Tapi barangkali aku ini hanyalah seorang pengamat yang nyinyir. Wong, punya anak belum. Meski demikian, boleh kan aku punya pendapat?

Begini, dari pengamatanku selama ini, aku melihat bahwa jika satu pasangan suami-istri memiliki anak, maka mereka mesti menyiapkan seseorang atau institusi (daycare, misalnya) yang siap sedia merawat anak tersebut sepenuhnya. Gambarannya begini: kalau kedua orang tua itu bekerja, maka mereka mesti tahu ke mana akan menitipkan anak mereka selama mereka bekerja. Entah dititipkan ke suatu daycare, ke nenek-kakeknya, ke saudara, ke … siapa pun deh yang mereka percaya. Dan menurutku, kerabat atau daycare yang akan dipilih tersebut sudah disiapkan ketika anak itu belum lahir. Misalnya, ketika si ibu sudah hamil sekian bulan. Misalnya lo. Bagiku–yang lagi-lagi hanya pengamat ini–jika pengasuh atau daycare itu baru dicari menjelang si ibu harus kembali bekerja, bakal merepotkan. Menurutku, kalau orang tua “nubyak-nubyak” alias rempong alias heboh mencari pengasuh baru saat anak harus ditinggal bekerja, itu tindakan yang tidak bertanggung jawab. Lah, ini soal kemanusiaan, kan? Lagi pula, ini anak (kalian) sendiri. Anak tidak minta dilahirkan. Tugas orang tua yang menyiapkan pengasuhan anak sejak awal. Jadi, kupikir tidak selayaknya orang tua beranggapan: “Lihat gimana nanti deh” untuk urusan pengasuh.

Beberapa pasangan yang kukenal, mereka cukup beruntung memiliki saudara atau orang tua/mertua yang bisa dititipi anak mereka ketika si bapak atau ibu kembali bekerja. Biasanya orang-orang dekat itu tinggalnya tidak jauh dari mereka. Misalnya, satu kompleks, atau tetanggaan, atau malah tinggal serumah dengan mereka. Kadang kalau iseng aku menyebutnya: Siapkan orang “menganggur” yang bisa dipercaya yang bisa dititipi anak selagi orang tua si anak bekerja. Terlalu kasar kah? Hihihi. Maaf… maaf. Tapi bukankah kenyataannya begitu? Kalau salah satu orang tua tidak ada yang “mengalah” untuk tinggal di rumah dan mengurus anak plus rumah, berarti perlu ada orang lain yang mengurusnya kan?

Sebetulnya, menyadari kenyataan seperti ini, diperlukan daycare atau tempat penitipan anak di sekitar tempat kerja kedua orang tua si anak. Aku sendiri kurang tahu apakah hal seperti ini sudah umum di Indonesia. Mungkin kalau ada, tarifnya cukup mahal (?).

Melihat beberapa orang tua yang rempong mencari pengasuh anak ketika mereka hendak kembali bekerja (dan kadang ikut “merasa repot” atau minimal “terpaksa ikut berpikir” karena urusan pengasuh tersebut), belakangan aku sangat menghormati seorang ayah/ibu yang memilih tidak bekerja untuk mengurus anak di rumah. Atau setidaknya, si ayah/ibu memilih pekerjaan part-time sehingga punya cukup waktu untuk mendampingi anak. Dan memang pada kenyataannya, pemerintah kita masih belum terlalu peduli soal ini. Aku hanya berpikir, seandainya pemerintah memang peduli, mungkin baik jika ada penitipan bayi/anak yang cukup terjangkau tarifnya di sekitar lingkungan kerja/perumahan. Atau mungkin pemerintah bisa membuat kebijakan yang mendukung para orang tua dalam pengasuhan anak. Ya, lagi-lagi, aku memang bisanya “ngomong doang”. Hehehe, namanya juga pengamat kan?

Posted in Dunia di sekitar kita | Tagged | 9 Comments

Pekerjaan Paling Menantang di Jakarta

Hari Kamis minggu lalu, aku bersama suami dan seorang kawan dari Jepang keliling Jakarta. Sebetulnya bukan keliling, sih karena kami hanya ke seputar Menteng, ke Museum Nasional, lalu ke Plaza Indonesia. Tulisan ini bukan bermaksud membahas perjalanan kami itu, tapi aku ingin bercerita soal perjalanan pulang kami. Soal acara jalan-jalan itu mungkin–kalau aku sempat dan niat–akan kutulis di lain waktu.

Ceritanya, setelah dari Museum Nasional, kami sebetulnya ingin makan di rumah makan Manado, Tude, dekat halte Tosari. Kami naik bus TransJakarta dari depan museum. Tapi waktu itu hujan cukup deras, jadi kami memutuskan untuk mencari makan di Plaza Indonesia saja. Alasannya sederhana, kalau turun di halte depan Plaza Indonesia kami tidak perlu berjalan kaki cukup jauh.

Hujan masih mengguyur setelah kami selesai makan dan belanja sedikit. Niatnya kami memang akan pulang naik taksi. Kami lalu antri di pelataran Plaza Indonesia, menunggu taksi datang. Tapi ternyata meski sudah menunggu cukup lama–sampai kakiku pegal dan panas–tak ada taksi yang datang. Padahal antrian semakin panjang. Suamiku sempat berjalan ke trotoar mencari taksi. Tapi dia bilang, “Nggak ada taksi. Kalaupun ada, mereka nggak mau ngangkut kayaknya.” Ha? Sungguh aku terkejut. Dulu aku memang pernah mendengar bahwa jika hari hujan, sulit sekali mencari taksi di Jakarta. Aku pikir, ah memang sesulit apa sih? Dasarnya aku tidak pernah keluar rumah pas hari hujan, aku menyepelekan kenyataan itu. Dari kejauhan kulihat bus TransJakarta juga sangat penuh. Tidak ada pilihan lain selain menunggu taksi. Apalagi kami bersama teman yang warga negara asing. Rasanya tidak tega mengajaknya naik kendaraan umum yang berjejal.

Akhirnya, setelah sekian lama, datang sebuah taksi BB. Kami segera naik. Tujuan pertama kami adalah ke Sunter, tempat teman kami menginap. Setelah itu baru dari sana kami melanjutkan perjalanan pulang ke Rawamangun. Begitu naik, suamiku menyebutkan tujuan. Dan jawabannya: “Mas, saya kurang tahu daerah sana. Nanti dipandu saja ya.” Dieer! Dalam hati aku ketar-ketir. Tapi untung suamiku cukup cepat responsnya. Dia meminjam smart phone kawan kami itu untuk membuka GPS. Dan selamatlah kami…. Untung deh waktu itu ada suamiku. Kalau tidak, bisa repot karena aku tidak tahu jalan ke daerah Sunter. Beginilah kalau jarang keluar rumah. Aku tahunya jalan-jalan yang biasa kulewati saja. Sisanya aku mengandalkan suami. Hihi. Dan kami tidak bisa meminta kawan kami itu untuk memandu. Dia baru sehari di Jakarta. Jelas tidak tahu jalan pulang kan?

Saat kami di taksi, aku sempat mengobrol dengan mas sopir. Ternyata dia poolnya di daerah Tangerang. Pantas saja dia tidak tahu daerah Sunter. Beberapa kali aku melihat dia beringsut di kursinya. Kurasa dia sudah capek duduk terus. Apalagi saat itu hari hujan, pasti dia melewati banyak daerah macet. Aku tanya, “Sudah narik dari jam berapa, Mas?” Ternyata dia sudah mulai bekerja sejak pukul 9 pagi. Wah! Saat itu sudah hampir pukul 9 malam. Jadi, sudah 12 jam mas sopir itu bekerja. Aku tidak kebayang jika harus duduk terus selama itu. Ya, mungkin dia sempat makan atau istirahat. Mungkin. (Aku tidak menanyakannya sih.)

Waktu lewat daerah macet, aku berkomentar, “Jadi sopir taksi itu mesti sabar ya Mas? Apalagi saat melewati daerah macet seperti ini.”

“Iya. Saat tes masuk, orang yang tekanan darahnya tinggi, tidak akan diterima, Mbak.”

Dan sungguh aku salut dengan para pengemudi taksi. Sebagai konsumen, paling aku hanya kena macet beberapa jam saja. Tapi kalau pengemudi taksi? Bisa-bisa mereka sepanjang hari menghadapi kemacetan. Dia menambahkan, “Kalau pas macet begini, kaki kiri jadi mudah nyeri, karena harus sering menekan kopling.” (Eh, bener kopling nggak ya? Aku lupa-lupa ingat jawabannya. Dan lagi aku tidak bisa menyetir. Mana aku tahu kaki kiri tugasnya apa.)

Menurutku, di Jakarta ini pekerjaan yang paling menantang adalah sopir. Sopir apa saja. Mulai dari sopir metromini sampai sopir taksi. Kurasa mereka harus ekstra sabar menghadapi jalanan Jakarta yang semrawut. Walaupun para sopir kendaraan umum itu kulihat banyak yang berangasan, kurasa tingkat kesabaran mereka lebih tinggi dari aku.

Posted in Dunia di sekitar kita | Tagged , , | 6 Comments

Sepotong Obrolan Malam Minggu

Sudah pukul delapan lewat. Mungkin sudah agak terlambat bagi kami untuk memulai perbincangan di malam minggu. Tapi tak apalah. Lagi pula, Jakarta kota yang tak pernah tidur. Berbincang satu-dua jam tidak akan membuatku pulang kemalaman.

Ya, Sabtu malam yang lalu aku bertemu seorang teman. Kami mengobrol di sebuah kafe kecil sambil menyeruput hot lemon tea. Itu minuman dengan harga yang paling murah–tiga belas ribu satu teko, bisa diminum berdua. Lagi pula ini kan kafe. Jika teh dibandrol kurang dari dua puluh ribu, cukup murah menurutku.

“Jadi, akhirnya kalian tidak pernah saling berkontak lagi?” tanyaku.

Dia menggeleng. Temanku ini–sebut saja namanya Rayi–sebelumnya menceritakan persahabatannya dengan kawan kuliahnya dulu. Sebut saja sahabat Rayi ini bernama Bella.

“Aku merasa persahabatanku dengan Bella tidak imbang,” jelas Rayi. “Aku selalu berusaha ada buat dia ketika dia disakiti oleh pacarnya, ketika dia gagal, ketika dia mau berbagi kebahagiaan. Tapi Bella kerap membuatku sakit hati. Misalnya, ketika aku ulang tahun, dia tidak datang karena dia mau kopi darat dengan seorang teman yang baru dikenalnya lewat internet. Kalau soal mengejek, tidak perlu disebut berapa kali. Aku sudah kenyang dengan sindirannya. Tapi aku tetap mau berkawan sama dia. Barangkali masa itu aku memang gemar menyiksa diri.”

“Kok bisa tahan sih sama dia?” potongku.

“Karena aku kagum sama kecerdasannya. Kalau diskusi sama dia tuh mantep banget. Tapi ya cuma itu. Sisanya adalah sakit hati,” jawab Rayi.

“Rayi, kalau aku jadi kamu, barangkali aku hanya tahan hitungan bulan deh. Biar dia cerdas, tapi kalau dia sering membuatku sakit hati, sepertinya aku bakal mundur teratur,” kataku.

“Mungkin ada gunanya aku bersahabat dengan dia waktu itu. Dengan begitu aku jadi sadar bahwa dalam persahabatan itu harus ada sikap saling menghargai.”

Saling menghargai. Dua kata itu memang sederhana, mudah diucapkan, dan sering dikutip. Tapi penerapannya tidak semudah itu.

Posted in Sekadar cerita | Tagged | 4 Comments

Kebodohan Hari Kartini

Ketika masih kecil dulu, ibuku pernah memberiku kebaya warna merah muda. Jika dilihat-lihat, kebaya itu cantik. Apalagi ada sulaman bunga-bunga dengan benang perak, membuat kebaya itu kelap-kelip. Tapi aku paling tidak suka jika diminta memakai kebaya itu. Gatal! Kebaya itu tidak diberi furing untuk lapisan dalamnya, jadi sulaman benang-benang perak itu menggesek kulit. Aku tidak suka.

Kebaya merah muda itu sebetulnya rencananya mau kupakai saat hari Kartini. Tapi seingatku kebaya itu hanya kupakai sekali, dan aku kapok. Yang membuatku “kapok” juga adalah karena saat memakai kebaya itu aku harus bangun pagi-pagi sekali, pergi ke salon dekat rumah, dan membiarkan rambutku disasak, disemprot dengan hair-spray supaya kaku. Selanjutnya, aku harus menutup hidung rapat-rapat supaya semprotan untuk rambut itu tidak banyak yang kuhirup. Setelah itu, aku juga harus merelakan wajahku dipoles, bibirku dicat merah, mataku diberi celak, dan yang terakhir … aku mesti memakai jarik. Duh, itu siksaan. Aku tidak bisa jalan cepat apalagi berlari. Yang paling repot, aku jadi sulit untuk pipis. Benar-benar merepotkan.

Sesampainya di sekolah, kulihat semua temanku juga didandani. Tapi ternyata ada temanku yang memakai baju bodo dan tidak memakai jarik yang ketat. Baju bodo itu bawahannya semacam sarung lebar. Jadi, si pemakai tidak kesulitan untuk berjalan. Dalam hati aku bertanya-tanya, kok aku baru tahu ada baju daerah semacam ini? Kenapa ibuku tidak memesan si pemilik salon supaya aku memakai baju bodo saja? Entahlah. Yang jelas, hari itu aku sepanjang hari memakai kebaya plus jarik yang rapat. Bukan pengalaman yang menyenangkan untukku.

Aku tidak tahu apakah ada dari teman-temanku yang menikmati atau katakanlah senang didandani saat Hari Kartini. Mungkin ada ya? Mungkin memang ada yang senang dirias dan tampil cantik. Tapi aku tidak termasuk di antara mereka.

Kini, sekian belas tahun berlalu dan acara hari Kartini masih identik dengan memakai baju daerah. Jujur saja, aku tidak paham apa hubungannya. Kalau membaca tulisan-tulisan Kartini, dia lebih banyak membahas semangat anti feodalisme. Dia mempertanyakan mengapa perempuan Jawa banyak dibatasi oleh sekat adat istiadat sehingga tidak bisa bebas seperti perempuan Belanda. Dan dia melihat cara membebaskan diri dari sekat-sekat itu adalah lewat pendidikan. Coba deh baca bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang. Aku sendiri bacanya loncat-loncat; belum tuntas. Hehe. Bukan contoh pembaca yang baik ya. Tapi dari membaca yang loncat-loncat itu, aku jadi menyadari kebodohanku saat diwajibkan memakai kebaya ketika peringatan hari Kartini di sekolah dulu.

Kadang kupikir-pikir pihak sekolah memang malas untuk membuat para muridnya lebih memahami apa yang mereka peringati. Padahal sekolah itu adalah tempat pendidikan. Tempat kita lebih sadar dan maju. Nah, kalau untuk masalah perayaan Kartini saja kita dari dulu hanya begitu-begitu saja, kebayang kan untuk urusan yang lebih serius lagi?

Posted in Sekadar cerita | Tagged , | 4 Comments