Bagaimana Menggerakkan Orang Agar Mau Memilah Sampah?

Tadi siang pas mau buang sampah ke belakang rumah, seorang calon tetangga tanya: “Apakah nggak ada tukang sampah keliling?”

“Ada, tapi saya memilah sampah. Yang saya buang ke kebun belakang ini hanya sampah organik kok.”

Begitulah. Sudah sekian tahun ini aku memilah sampah. Sampah yang tidak bisa busuk, kubuang ke tukang sampah. Yang bisa busuk, kubuang ke kebun belakang. Iya, aku belum punya komposter, belum juga bikin biopori. Ini disebabkan oleh rasa malas dan keenakan punya “jugangan” alias lubang di belakang yang khusus untuk segala sampah yang bisa busuk. Dan iya, benar… aku belum ikut bank sampah. Pemilahan sampahnya baru sebatas sampah organik dan non-organik. Levelnya baru ecek-ecek kalau soal sampah begini.

Namun, mendengar pertanyaan calon tetangga tersebut aku jadi mikir, salah satu hal penting yang mesti ada di daerah perkampungan atau perumahan adalah tukang sampah keliling. Semua yang tidak berguna, serahkan saja pada mereka. Syukur-syukur mereka mau memilah dan membuat sampah organik itu jadi kompos. Tapi kalau aku jadi tukang sampah, kayaknya aku bakal bingung gimana mengatasi sampah yang tidak dipilah tersebut.

Urusan pemilahan sampah ini sepele memang, tapi harus dimulai. Mungkin perlu adanya gerakan masif pemilahan sampah. Paling efektif adalah menggerakkan ibu-ibu atau dimulai dari tingkat keluarga. Nah, setelah itu baru naik ke level RT, RW, dan seterusnya.

Cuma kalau melihat sampah yang bertebaran, saya jadi pesimis. Mana mungkin orang bisa memilah sampah kalau untuk membuang sampah di tempat yang semestinya saja susah. Mungkin perlu edukasi beberapa generasi, baru masyarakat kita sadar pentingnya memilah sampah.

Bagaimana menggerakkan orang mau memilah sampah? Ini PR juga. Mengharapkan pemerintah membuat aturan supaya tiap keluarga memilah sampah? Aduh, rasanya kok nggak mungkin ya? Wong soal zonasi sekolah saja orang-orang jadi gaduh. Kalau ditambah aturan pemilahan sampah, jangan-jangan orang malah minta ganti presidennya sekarang? Kadang untuk sebuah perubahan kecil, masyarakat gaduhnya tak karuan. Pusing dengarnya.

Lalu bagaimana?

Aku pikir salah satu cara paling efektif soal himbau-menghimbau begini adalah lewat agama. Masyarakat kita kan agamis banget nih, jadi kalau para pemuka agama bisa menghimbau umatnya mulai memilah sampah, rasanya umat ada deh yang mau mendengarkan dan menuruti. Mungkin awalnya cuma satu-dua orang yang melakukan. Tapi kalau tiap ada kegiatan keagamaan urusan sampah begini disentil, kurasa lama-lama jadi gerakan juga. Timbang pemuka agama hanya khotbah soal politik dan bikin gaduh, mending mereka menghimbau umatnya memilah sampah. Hasilnya bisa dinikmati banyak orang. Iya, kan?

Advertisements

Memperpanjang Usia

Iseng buka-buka folder koleksi foto, aku menemukan foto ini:

Itu adalah hasil keisenganku. Ceritanya, ada bolpen yang isinya masih banyak dan masih bisa dipakai, tetapi bagian luarnya (bagian body yang biasa kita pegang) rusak. Aku lalu berpikir, kok sayang ya, isi bolpen ini sebenarnya masih bisa dipakai. Aku lalu teringat seorang pemilik toko kelontong di depan rumahku saat aku masih kecil. Dia punya bolpen yang bergagang kertas. Lalu, aku pun mencoba membuat gagang bolpen dari kertas, dan begitulah bentuknya. Haha. Nggak rapi ya? Tapi mending lah, dan isi bolpen itu bisa dipakai lagi. Akhirnya tak lama aku dapat bolpen yang isinya sudah habis, dan aku lalu menukarnya dengan isi bolpen yang tadinya kuberi “baju” kertas tersebut. Itu tadi adalah salah satu cara kreatif yang kulakukan untuk memperpanjang usia pakai suatu benda. Kreatif kah? Entahlah. Dengan begitu, gagang bolpen yang isinya sudah habis itu akhirnya bisa dipakai lebih lama lagi. 🙂

Aku memang kadang menyimpan benda-benda bekas yang kurasa masih bisa dipakai lagi. Salah satunya adalah amplop cokelat. Kadang aku mendapat kiriman barang, biasanya buku, dengan bungkus amplop cokelat. Biasanya aku akan membuka kiriman itu dengan hati-hati supaya amplopnya tidak sobek. Buat apa? Amplop itu kan bisa dipakai lagi untuk mengirim barang. Hehe. Pelit kah? Aku cuma berpikir demikian: Apa salahnya memperpanjang masa pakai suatu benda? Ini bukannya tidak menghormati orang yang kukirimi barang, tetapi semata-mata untuk membuat bumi ini lebih baik. Ah, masak segitunya? Sekarang coba pikir, kertas itu terbuat dari pohon. Dan jika kita bisa memperpanjang masa pakai kertas tersebut, berapa banyak pohon yang bisa dikurangi untuk ditebang? Padahal, itu cuma untuk bungkus. Ya, bungkus yang kemudian dibuang ke tong sampah. Aku sendiri tidak keberatan diberi barang tanpa dibungkus. Kertas pembungkus–atau dalam hal ini amplop cokelat–tidak memengaruhi nilai benda yang dibungkus itu kan? Jadi, tidak masalah apakah benda itu dibungkus pakai koran bekas atau amplop bekas–asal pembungkusnya cukup bersih dan tidak merusak benda itu. Dan aku sebenarnya kurang suka membeli kertas pembungkus kado. Gambarnya bagus-bagus sih. Cuma aku suka sayang kalau kertas itu “hanya” untuk membungkus kado, lalu dia akan disobek dan dibuang saat kado itu dibuka. Padahal gambarnya bagus-bagus lo. Masa pakainya hanya sebentar, lalu dia dibuang. Sayang banget rasanya.

Barang bekas lain yang biasanya kupakai agar “usianya lebih panjang” salah satunya adalah botol bekas air minum mineral. Botol-botol ini biasa kupakai untuk kujadikan wadah misalnya wadah cairan pembersih lantai atau cairan pencuci piring. Aku biasanya membeli cairan-cairan pembersih itu yang kemasan refill. Lagi pula, kalau beli yang kemasannya refill, kan sedikit lebih murah. Lumayan buat nambah ongkos naik angkot. 🙂 Dulu waktu di asrama, kulihat beberapa temanku memakai botol bekas air minum mineral ini (yang ukuran besar) untuk wadah deterjen bubuk. Hehe. Idenya ada-ada saja.

Kalau kamu, barang (bekas) apa yang kaupanjangkan umurnya?

Upin Ipin, Fizi, dan Pengangkut Sampah

Upin dan Ipin barangkali merupakan film cerita anak-anak yang cukup fenomenal saat ini. Aku sendiri tidak tahu sampai seberapa jauh film ini sudah merasuk pada anak-anak zaman sekarang. Namun yang jelas, saat ini kerap kali aku melihat beraneka mainan atau buku dengan gambar tokoh Upin dan Ipin. Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan menjamurnya tokoh Upin dan Ipin di berbagai mainan anak-anak itu. Tetapi harus kuakui, aku menikmati menonton film anak-anak tersebut. Lucu, cerdik, dan khas anak-anak adalah kesan yang menempel setiap kali usai menyaksikan film tersebut. Walaupun satu film sudah diputar berulang kali, aku tak terlalu bosan menontonnya. Hmm, barangkali karena aku tidak punya televisi ya? Jadi aku menontonnya pun jarang-jarang, hanya pada saat mudik, berkunjung ke rumah teman atau saudara yang punya televisi

Salah satu adegan film yang aku ingat betul adalah ketika Cik Gu (Bu Guru) memberi tugas kepada Upin Ipin serta serta teman-temannya di seluruh kelas untuk menggambarkan cita-cita mereka. Yang aku ingat, Jarjit menempelkan gambar polisi yang menangkap pencuri. Apakah Jarjit bercita-cita jadi polisi? Oh, tidak. Lalu, dia jadi pencurinya dong? Tidak juga. Rupanya dia ingin jadi pembawa berita di televisi. Ceritanya, ia akan mengabarkan kejadian semacam itu di televisi. Cara penyampaian yang unik. Lalu keunikan yang kedua adalah cita-cita Fizi. Dia menggambarkan dirinya sedang naik di belakang mobil pengangkut sampah. Awalnya, tentu dia ditertawakan oleh seluruh kelas. Tetapi Cik Gu dengan bijaknya memberi penjelasan bahwa cita-cita Fizi itu mulia. Coba kalau tidak ada petugas pengangkut sampah? Apa jadinya lingkungan kita? Bakalan bau dan jelas tidak sehat.

Siang ini baru saja gerbang halaman depan rumahku dibuka. Rupanya tukang sampah datang. Lelaki berkaus cokelat itu mengambil kantong-kantong plastik berisi sampah dari tong sampah di dekat pohon kelapa dekat pagar. Kantong-kantong itu ia kumpulkan dalam satu keranjang bambu. Setelah itu, ia menyapu bagian dalam tong sampah dan membuang air hujan yang menggenang di dalamnya. Tak sampai 10 menit ia melakukan itu semua. Kemudian ia membawa sampah-sampah kami dalam gerobak sampahnya.

Aku tak tahu, apakah Fizi pernah menyaksikan petugas pengangkut sampah yang biasa bertugas di lingkungan tempat tinggalku. Hmm, barangkali bukan Fizi secara literal ya? Maksudku, sang penggagas cerita tersebut tentunya. Cerita Upin dan Ipin memang buatan Malaysia, dan barangkali di sana petugas pengangkut sampah tampak lebih rapi. Barangkali, lo ya? Wong aku belum pernah ke Malaysia. 🙂

Aku rasa, dari sekian banyak anak yang bersekolah di Indonesia tidak ada yang bercita-cita menjadi petugas pengangkut sampah seperti lelaki yang kusaksikan siang ini. Mungkin, pengangkut sampah itu pun tidak menghendaki anaknya meneruskan pekerjaan ayahnya. Siapa sih yang ingin berkotor-kotor mengangkut sampah? Kupikir, semulia-mulianya pekerjaan mengangkut sampah, pekerjaan itu dianggap pekerjaan kelas bawah.

Bagaimanapun, sampah itu perlu dikelola. Banyak hal yang aku pikir bisa dilakukan untuk itu. Yang paling gampang adalah dengan memilah sampah. Dengan memilah sampah itu saja, petugas pengangkut sampah kupikir sudah cukup terbantu pekerjaannya. (Dari pengalamanku, dipisahnya sampah organik dan nonorganik membuat bak sampah menjadi relatif tidak berbau.) Yang kedua barangkali para petugas pengangkut sampah ini bisa lebih diberdayakan lagi. Mereka tak hanya mengangkut sampah, tetapi bisa membuat bank sampah. Bank sampah adalah suatu wadah di mana warga bisa mengumpulkan sampah nonorganik dan mereka bisa mendapatkan uang (karena sampah anorganik itu bisa didaur ulang dan menghasilkan uang). Soal bank sampah ini bisa dilihat di sini.

Aku berharap kelak ada film (anak-anak) yang menggambarkan tentang pengolahan sampah. Jadi Fizi tak hanya bercita-cita menjadi pengangkut sampah, tetapi menjadi pengolah sampah. Semoga pula orang-orang yang kini telah mengelola sampah terus menjadi inspirasi bagi kita. Dan kita semua akhirnya menjadi lebih bijak dalam memandang dan mengurus sampah.