Mengapa Beryoga?

Kalau googling apa manfaat yoga, banyak banget ditemukan website yang membahasnya. Tapi kalau tanya padaku, jawabannya tentu personal.

Aku sudah lama ingin bisa yoga, seingatku ketika aku masih tinggal di Jakarta. Tapi selama di Jakarta aku belum menemukan tempat latihan yoga yang terjangkau, baik dari segi jarak dan biaya. Mungkin aku saja yang kurang gigih mencari tempat latihan, ya. Aku icip-icip latihan yoga hanya saat aku pulang ke Jogja. Tapi karena icip-icip, jadinya tidak maksimal. Lagi pula rumah kontrakan yang kutempati selama di Jakarta terlalu kecil dan barangku banyak. Jadi, tak ada tempat yang cukup untuk latihan sendiri.

Ketika aku pindah ke Jogja lagi, aku tidak segera ikut kelas yoga. Alasannya, macam-macam. Ada aja deh. Tapi dalam hati kecilku, aku masih ingin bisa berlatih yoga. Kadang aku melihat pose yoga youtube, kadang baca-baca buku tentang yoga. Aku berpikir, sepertinya bisa deh latihan sendiri di rumah. Kebetulan waktu itu beberapa temanku cerita tentang aplikasi untuk olahraga di rumah.

Suatu ketika–out of the blue–seorang temanku mengajakku untuk yoga di rumahnya. Tanpa babibu, aku langsung mengiyakan. Kebetulan rumah kami dekat, sekitar 5 menit naik motor dari rumahku, dan bisa lewat jalan kampung yang tidak ramai. Kami yoga seminggu sekali dengan didampingi seorang guru. Kegiatan yoga bersama itu sempat berhenti. Tapi kemudian saat awal pandemi kemarin, temanku mengajak yoga lagi. Kali ini seminggu dua kali.

Balik ke judul tulisan ini. Kenapa beryoga? Kaki kananku agak sakit. Sepertinya ini karena aku sempat salah posisi duduk cukup lama (tanpa sadar). Kupikir dengan yoga, sakit kakiku akan membaik atau sekurang-kurangnya tidak jadi lebih buruk.

Hanya itu?

Awalnya hanya itu. Tapi setelah latihan yoga selama ini, aku merasa yoga membantuku mengenal tubuhku. Misalnya, aku jadi tahu bagaimana sebaiknya aku berdiri sehingga berat badan tidak ditumpukan ke salah satu bagian saja. Aku dulu sering berdiri tidak imbang, yaitu menekuk salah satu kaki jadi berat tubuhku lebih condong ke kaki yang tegak. Akibatnya kaki bisa panjang sebelah.

Selain itu yoga membantuku mengurai emosi. Ada beberapa pose yoga untuk membuka dada. Pose-pose ini membantu mengurai emosi sedih. Memang tidak langsung hilang sedihnya, tapi jadinya tidak semakin sedih. Maklum, aku cenderung melankolis orangnya. Suatu kali aku merasa sangat sedih karena suatu hal. Lalu aku tidur telentang memasang balok yoga di punggung, di belakang dada. Aku jadi merasa baikan, lho.

Aku belum jago-jago amat berlatih yoga. Banyak pose yang belum kukuasai benar, tapi aku tidak ingin berhenti berlatih.

Alat Yoga Murah Meriah

Dulu, salah satu alasanku menunda-nunda untuk yoga adalah soal peralatannya. Sebenarnya yang paling utama hanyalah yoga mat. Waktu masih di Jakarta, aku mendapatkan yoga mat yang cukup miring harganya di sebuah apotek waralaba. Buatku, yoga mat itu murah jika dibandingkan yoga mat bermerek. Murah meriah deh, kualitasnya juga setara harganya. Seingatku dulu di bawah 100 ribu. Sekarang harganya berkisar 125.000 ribuan. Buatku harga segitu cukup miring, soalnya mat yang lain harganya bisa 3 atau bahkan 10 kali lipat. Untuk pemula, mat yang murah meriah pun cukup kurasa. Kalau akhirnya serius dan rutin beryoga, baru beli mat yang lebih bagus.

Setelah punya mat, PR selanjutnya adalah soal penyimpanannya. Kalau cuma digulung dan ditaruh di pojokan kamar sih bisa saja. Hanya saja, yoga mat yang dibiarkan tanpa baju cenderung berdebu. Males kan kalau pas mau memakainya malah kita repot bersih-bersih dulu. Mat yang debuan itu malah bisa bikin kita sakit. Jadi, benda kedua yang perlu dibeli adalah tas yoga mat. Kalau kita lihat di olshop, harga tas yoga mat bervariasi. Ada yang di bawah 50 ribu, ada yang sampai seratus ribu lebih. Aku tentu saja tidak mau beli yang mahal-mahal. Demi pengiritan, aku jahitin tas yoga ke penjahit terdekat. Aku lupa berapa biayanya, yang jelas jauh lebih murah. Memang agak repot karena aku mesti beli kain sendiri dan mencari contoh tas yoga mat untuk mendapatkan ukurannya. Tapi hal itu sebanding dengan murahnya. Waktu itu aku jahitin di penjahit kampung. Murah dan rapi. Aku puas. Setelah beli mat kedua, aku beli tas yoga mat yang murah di olshop. Harganya di bawah 50 ribu, tapi kainnya cukup tebal.

Ketika mulai agak rutin berlatih yoga, pelatih yogaku menyarankan aku memakai tali yoga. Sebelumnya aku pakai kain apa saja yang ada. Bahkan aku pernah pakai jarik untuk membantuku meluruskan kaki :D. Bisa sih, tapi kurang praktis. Waktu dipinjami tali yoga oleh pelatihku, aku merasakan kepraktisannya dan sangat membantu memaksimalkan gerakan. Tapi untuk selanjutnya masak mau pinjam terus? Aku lalu buka-buka olshop, dan harganya membuatku malas beli. Tali ukuran 2,5 meter saja harganya bisa di atas 50 ribu. Bahkan ada yang sampai 150 ribu. Aduh. Mahal amit, ya?

Aku lalu berpikir, kalau aku beli tali sendiri dan menjahitkan ke penjahit tas, kurasa lebih murah. Benar dugaanku. Aku cari tali sendiri di toko yang menjual aneka tali beserta gespernya. Lalu aku menjahitkannya ke penjahit tas. Tidak pakai lama, aku sudah punya tali yoga. Biayanya sekitar 20 ribu sudah sekalian dengan ongkos jahit. Kalau mau mendapatkan tali yang lebih bagus, biayanya bisa sampai 25-30 ribu. Yang jelas kita mesti mau repot-repot cari bahan sendiri dan ke penjahit. Kalau mau praktis, beli online. Dari pengalamanku, harga tidak berbohong. Tali yoga 20 ribuan yang ada di olshop rata-rata kurang bagus. Terlalu licin. Jauh lebih baik kalau mau berburu tali sendiri dan menjahitkannya.

Perlengkapan yoga ketiga yang membantuku adalah balok. Seperti halnya peralatan yoga lainnya, balok yoga harganya bervariasi. Ada yang muahal banget, ada yang cukup terjangkau. Dari yang harganya di bawah 50 ribu, sampai ada yang ratusan ribu. Ada yang bahannya dari kayu, ada yang dari gabus. Aku sendiri memilih balok yoga dari kayu.

Pengalamanku, aku bisa mendapatkan balok yoga yang cukup murah dengan memesannya ke tukang kayu terdekat. Yang jelas, aku sudah menyertakan ukuran ketika memesannya. Ukuran balok yoga bisa dicari di internet. Ukurannya kurang lebih sama. Pilih tukang kayu yang karyanya cukup halus. Ini yang agak PR. Tapi kalau malas pesan di tukang kayu, beli di olshop saja. Ada yang harganya di bawah 50 ribu dan sudah bagus. Minimal miliki balok yoga sepasang untuk membantu kita melakukan gerakan yoga.