Siapa yang Naik Angkot di Jakarta?

Ini cerita hari Minggu yang lalu. Agak terlambat aku menuliskannya. Jadi begini, suamiku selama dua minggu ke depan dapat tugas dari kantornya untuk mengajar di sebuah sekolah tinggi di daerah Bintaro. Tidak setiap hari, hanya Senin, Rabu, dan Jumat. Ini baru pertama kali dia diminta mengajar di sana. Dia hanya diminta mengajar materi persiapan tes GMAT untuk mendapatkan beasiswa.

Aku selama ini jarang sekali ke Bintaro. Pernah sih ke sana, tetapi selama ini kalau ke sana selalu nebeng saudara yang rumahnya tak jauh dari daerah tersebut. Karena ini terbilang “daerah baru” bagi kami, kami mencari-cari rute yang paling mudah untuk ke sana. Sebenarnya cukup banyak kendaraan ke sana. Bisa naik feeder busway dari depan Ratu Plasa, bisa pula naik kereta komuter. Tapi karena Senin pagi sebelum pukul 8 suamiku harus sudah sampai sana, ini jadi masalah. Kereta yang bisa membawanya ke sana tanpa terlambat adalah kereta pukul 06.25 dari stasiun Tanah Abang. Padahal, jarak dari rumah ke stasiun Tanah Abang cukup lumayan. Jika berangkat pagi-pagi, rasanya agak sulit mengandalkan metromini atau kopaja. Kalau kopajanya ngetem lama, bisa tak dapat kereta kan? Dan siapa yang bisa menjamin kopaja tak akan ngetem?

Oya, untuk mendapatkan informasi tentang jadwal kereta itu pun butuh cara berliku. Awalnya aku tanya ke teman-teman yang rumahnya di Bintaro, tanya juga ke teman yang biasa naik kereta dari dan ke arah sana. Sebagian besar temanku memang menjawab, tetapi ada pula yang tidak. Sebagian besar, hanya mengatakan naik kereta saja dari Tanah Abang lalu turun stasiun Pondok Ranji. Tapi jam berapa saja keretanya? Tak ada yang bisa menjawab. Ya, memang bukan pegawai PT KAI sih, ya… tentu tak hapal jadwal kereta. Hehe. Kebanyakan tahunya adalah jadwal kereta sore ke arah Bintaro/Serpong. Lah, kami kan butuhnya kereta yang pagi. Memang melawan arus sih. Kebanyakan orang pada pagi hari naik kereta dari Serpong ke Jakarta, bukan sebaliknya. Memang melawan arus itu agak repot ya. Hehe. Susah dapat informasinya.

Akhirnya kami coba browsing internet, mencari jadwal kereta. Sampai di situs PT KAI, kami kesulitan membaca jadwal yang tertulis di sana. Kalau ada yang bisa membaca jadwal kereta di sana dengan mudah, tolong kasih tahu aku ya. Mungkin aku yang terlalu bodoh hanya untuk membaca jadwal. Akhirnya dapat juga infonya, tapi itu pun dari sebuah situs lain.

Untuk memastikan, kami ke stasiun terdekat, yaitu ke Manggarai. Ternyata, di sana justru tidak banyak membantu. Kereta paling pagi ke arah Serpong pukul 7.30-an. Suamiku bisa terlambat dong mengajarnya. Jadi, memang mau tak mau harus ke Tanah Abang pagi-pagi.

Karena Senin kemarin adalah hari pertamanya, maka dia tak ambil risiko. Untung aku punya saudara yang rumahnya tak jauh dari sekolah tinggi tersebut. Akhirnya, aku minta izin untuk menginap supaya Senin pagi suamiku tak kerepotan. Jadi, Minggu sore aku dan suamiku menginap di rumah saudaraku. Karena tak pernah ke sana naik kendaraan umum, aku hanya tanya setelah turun di stasiun Pondok Ranji, nanti naik angkot apa? Saudaraku hanya bilang, nanti banyak angkot warna putih di sana. Naik itu saja, katanya. Kami dikasih pula ancer-ancernya, nanti kira-kira turun mana. Tapi aku tak mendapat informasi, mesti naik angkot nomor berapa, jurusan apa. Maklum, saudaraku ini tak pernah naik kendaraan umum. Selama ini kalau bepergian naik kendaraan pribadi atau taksi, dan baru dua bulan terakhir ini saja naik kereta komuter. Tapi kalau ke stasiun, ya naik kendaraan pribadi.

Aku dan suamiku akhirnya bermodal semangat, “Let’s get lost!” Toh kami bawa peta. Dan kami memang angkoter sejati. Ke mana-mana naik angkot. Lagi pula, ini kan masih Indonesia, kalau tanya masih bisa pakai bahasa Indonesia dan senyasar-nyasarnya paling ke mana sih? Nggak sampai ke daerah antah berantah kan? Hehe. Dan kami tak nyasar. Supir angkot yang kami tanyai tak memberi info keliru.

Namun, dari pengalaman itu, aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa sih yang mau naik angkot di Jakarta? Semua orang pasti sudah tahu betapa buruknya layanan kendaraan umum di Jakarta. Sopir metromini yang terkenal suka ngebut, angkot yang penuh dan panas, adanya penodongan dan bahkan belakangan ini pemerkosaan di kendaraan umum, dan kadang kalau belum sampai tujuan kita bisa dioper, dialihkan ke kendaraan lain yang lebih penuh. Sama sekali tidak nyaman. Aku kadang berpikir, kalau orang tua naik kendaraan umum, bagaimana ya? Ibu temanku pernah cerita bahwa ia sampai nangis waktu harus naik turun metromini. Uangnya tak cukup untuk naik taksi atau bajaj. Ia diturunkan dengan buru-buru dan langsung terpapar polusi. Yah, bagi orang yang sudah berumur, pengalaman seperti itu tidaklah mengenakkan. Aku tak sepenuhnya menyalahkan orang yang akhirnya memilih naik kendaraan pribadi. Aku yakin, orang yang mampu pasti memilih naik mobil pribadi daripada harus mengalami kekonyolan-kekonyolan yang tidak penting saat naik kendaraan umum. Tapi sampai kapan akan seperti ini?

Buatku, transportasi umum yang bisa diandalkan itu penting. Kalau tidak, semua orang pasti akan beralih ke kendaraan pribadi. Dan kalau kebanyakan orang naik kendaraan pribadi, jalanan akan makin penuh, kemacetan di mana-mana. Aku merasa, pemerintah tak punya niat baik untuk memperbaiki kendaraan umum. Aku baru tiga tahun di Jakarta, tetapi sama sekali tidak melihat adanya perbaikan yang signifikan dalam hal ini. Bahkan TransJakarta pun kubilang tak bisa diandalkan. Kalau jam sibuk, antrinya bisa setengah jam lebih. Dan lihat saja betapa panjangnya antrian di halte bus TransJakarta. Belum lagi kita akan didorong-dorong saat mengantri. Kadang bus yang ditunggu tak datang-datang. Kadang ada yang lewat, tetapi tidak mengangkut penumpang.

Jadi, sebenarnya siapa sih yang naik kendaraan umum di Jakarta ini? Mestinya kalau kendaraan umum di Jakarta ini bisa diandalkan, para walikota, pak gubernur, dan para pejabat lain kalau ke kantor selalu naik angkot tanpa pengawalan khusus ya? Buktinya, tidak kan?

13 thoughts on “Siapa yang Naik Angkot di Jakarta?

  1. ya begitulah kalau pemimpin pemerintahan tidak berpikir ke depan dan memikirkan rakyat banyak🙂

    pemerintah cuma memikirkan bagaimana cara memperkaya diri sendiri…😦

  2. Kalo menurutku, ide untuk mengatasi ancurnya per-angkot-an kalian (eh kalian hehehe) adalah, semua orang wajib naik angkot dulu… kuyakin kalau semua orang mau naik angkot, kalian akan mulai berpikir bagaimana membuat layanan lebih baik. Jangan sebaliknya, berharap layanan lebih baik dulu baru orang naik.. itu sih ngga akan pernah kejadian..

    Tapi gimana bikin orang mau naik angkot.. itu yang susah🙂

    Lha itu, Don… susah banget meminta sebagian besar warga Jakarta naik angkot. Kalau rakyat kecil, barangkali mau (karena terpaksa). Kalau orang berduit, mungkin dia mikir2 mau berdesak2an di angkot.

  3. Awal masuk Jakarta, saya menikmati naik bis kota. Memang bis kota rutenya untuk dalam kota..berakhir di terminal tertentu, seperti Grogol, Kalideres, Kota, Pulo Gadung, Rawamangun, Cililitan dan Blok M. Dari terminal yang cukup besar ini, jika kita ingin menjangkau daerah kita (istilahnya ring 2 atau 3), maka harus berganti angkot, metro mini atau kopaja…dulu angkot cukup bersih, namun tetap aja ngetem.

    Saya pernah nginep di rumah kakak sepupuku di Condet, berangkat jam 5 pagi…tahu jam berapa sampai kantor dijalan Veteran belakang istana Merdeka? Nyaris telat karena angkotnya ngetem terus. Dulu, untuk ke rumahku di daerah Cipete Raya, angkot yang melayani rute tsb, dari blok M berangkat setengah jam sekali….jadi jika dari dulu naik angkot memang sudah repot..sekarang tambah repot lagi. Jadi, jangan salahkan sepeda motor yang makin berjubel….

    Angkot yg ngetem itu Bu yg membuat kendaraan umum di Jakarta tak bisa diprediksi. Tak bisa diandalkan. Orang kan maunya cepat. Kalau jadwalnya jelas dan bisa diandalkan, saya rasa orang mau kok naik kendaraan umum. TransJakarta saja kadang tak bisa diandalkan. Apalagi pas jam orang berangkat dan pulang kantor. Duh, pegel duluan lihat antriannya.

  4. saya lebih suka naik angkutan umum Menik, bisa tidur di bis soale he..he….
    karena rumahku jauh dari kerjaan yang jadi masalah adalah pas jam pulang, pernah seminggu berturut2 nyetir sendiri, ndilalah lagi macet2nya
    kaki kananku mulai dari mata kaki itu semutan, tak ada rasa, baru ilang sebulan kemudian

    alhamdulillah, belum pernah ada masalah merisaukan dengan angkutan umum, paling2 bocor pas hujan lebat, dan lama2 kenal dengan awak bis jadi lebih nyaman, ketemu para sopir ramah yang bisa kasih solusi kalau kita tanya jalan

    banyak juga soal ini kuceritakan dgn kategori angkutan umum
    so, nikmatilah .. lama2 kalau semua orang mau naik angkot kan kendaraan pribadi menyingkir,
    terbukti tempat penitipan kendaraan dekat rumahku selalu penuh, karena para pekerja kantoran ini memilih naik umum atau omprengan

    wah kesemutan sampai sebulan? sebenarnya kalau kita ketemu angkot yg sopirnya baik, enak juga. saya sudah berusaha untuk menikmatinya, Mbak. kalau tidak menikmati, ya bagaimana? mau nggak mau sih. soalnya tak punya kendaraan sendiri. jadi ke mana2 naik kendaraan umum. saya menghindari jam sibuk dan jam macet

  5. iya rasanya kalo gak terpaksa sih gak bakalan ada yang mau naik angkot ya di jakarta…😀

    orang yang mampu, kebanyakan memilih naik kendaraan pribadi. itu kalau mau nyaman. nggak nyamannya kalau kena macet.😀

  6. Walah walaaaah… rasanya seperti itu ya naik angkot di Jakarta?😯 *shock*
    Haduh, entahlah, siapkah saya seandainya harus naik angkot dan hidup di Jakarta…?😦

    Kalau jam orang berangkat dan pulang kerja, memang parah Sop. Bisa nggak kebagian tempat duduk. Belum lagi macetnya. Kalau di Bandung, nggak terlalu parah ya?

  7. Tebak-tebak buah manggis, setelah membaca tulisan lainnya, mba tinggal di Rawamangun ya? Kalau iya, seingat saya ada trayek Mikrolet M57 yang jurusannya Rawamangun – Tanah Abang😀

  8. jadi inget dulu di jakarta, kalau mau naik bus umum harus melotot dulu baca papan nomor jjurusan bis dan tulisan rutenya. mataku memang kurang awas utk jarak yang terlalu jauh… kalau “membaca” nya pas busnya udah deket, repot juga, udah lari ngejar bis, kalah rebutan sama penumpang lain, belum lagi kalau sudah disemprit polisi karena gak boleh berhenti di lokasi2 tertentu…

    Jadi “membaca jarak jauh” itu suatu keharusan😀 dengan begitu dari jauh aku udah ada persiapan dan ancang-ancang untuk ngejar atau loncat ke bus hihihi…

    Untuk angkot yg kecil, dulu aku jarang bgt naik yg jurusannya aneh-aneh hihihi… tiap hari ya itu-itu aja yang kunaikin, rute dari rumah ke tempat kerja. kalau weekend rute bus-nya juga itu-itu aja untuk ketemuan sama pacar.

    Kalau ke tempat-tempat baru dan jauh biasanya sih sama temen.. jadi kalau nyasar nggak panik hehehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s