Revolusi Mencuci

Halah, judulnya itu lo. Hehe. Ide postingan ini muncul ketika aku sedang mencuci setumpuk baju kotor dan seprei. Setumpuk baju kotor saja sudah lumayan, e … ditambah seprei pula. Hehe, anggap saja olahraga. Eh, aku mencucinya bukan pakai mesin cuci loh. Cukup mengandalkan deterjen dan dua tangan.

Karena cucian banyak, aku minta suamiku membantu. Bagi-bagi kerjaan ceritanya. Biar sepenanggungan capeknya. Hehe. Nah, saat mencuci berdua itu, aku mendadak iseng bertanya, “Siapa ya yang nemuin deterjen?”

“Tauk deh. Tapi kayaknya deterjen ini barang baru. Waktu aku kecil, dulu belum ada deterjen. Masih pakai sabun batangan.”

“Iya, waktu aku kecil, di rumah juga nyucinya masih pakai sabun Superbusa. Sabun batangan warna biru.”

Hiyaa … jadi ketahuan kami termasuk angkatan berapa, kan? Hehe.

Nah, akhirnya selama mencuci itu akhirnya kami bernostalgia masa kecil. Usia kami cuma beda dua tahun, jadi produk-produk yang kami sejak masih kecil sampai sekarang pakai kurang lebih sama ya. Setelah kami ingat-ingat, selama sekian belas tahun ini, urusan cuci mencuci di keluarga kami masing-masing mengalami perkembangan. Ini perkembangan yang sempat terekam dalam ingatanku.

1. Dulu mencuci baju masih pakai sabun batangan. Ada sabun batangan yang warnanya hijau seperti sabun mandi (kalau di tempatku namanya sabun sunlight, tapi bukan sunlight untuk cuci piring seperti yang dikenal sekarang). Ada juga sabun deterjen batangan berwarna biru, salah satunya bermerek Superbusa. Kalau tak salah ada gambar elang di depannya. Ah, lupa deh.

2. Setelah pakai sabun batangan, mulai lazim mencuci dengan sabun colek. Barangkali sekarang masih ada saja yang pakai sabun colek ya? Dulu seingatku, sabun colek itu warnanya kuning. Lalu tak lama muncul sabun colek warna biru. Biasanya orang-orang di rumahku menyebutnya “sabun wings”, kalau tak salah memang karena mereknya “Wings.” Baunya tidak terlalu wangi menurutku. Dan waktu itu, di rumahku jarang sekali kami merendam baju terlebih dahulu sebelum mencucinya. Pokoknya kalau mau mencuci, colek saja sabun itu, oleskan di baju yang kotor, lalu dikucek-kucek.

3. Setelah masa sabun colek berakhir, mulailah masa sabun bubuk seperti yang ada sekarang ini. Aku pun mulai mengenal deterjen merek Rinso. Kadang kami langsung memakainya untuk mencuci (tanpa pakai proses perendaman dahulu).

4. Waktu aku masih kuliah, aku mulai belanja bahan kebutuhan sendiri, termasuk sabun deterjen. Dulu yang sempat sering kubeli adalah merek Rinso atau So Klin. Attack kalau tak salah muncul saat aku sudah cukup besar. Aku lupa, entah zaman aku SMA atau kuliah ya? Atau malah SMP? Lupa deh. Tapi aku ingat, iklan Attack waktu itu mengklaim deterjen ini irit pemakaian. Ada demo perbandingannya dengan sabun deterjen lainnya. Dulu aku jarang beli deterjen ini, karena tergolong mahal untuk kantongku. Dan dulu aku masih suka pakai deterjen yang berbusa. Hihi. Dan Attack ini sedikit busanya. Padahal kayaknya nggak ada hubungannya antara daya cuci sabun dengan banyak sedikitnya busa. Ah, tapi memang Attack agak mahal sih untuk ukuranku waktu itu.

5. Setelah itu lalu muncul pelembut. Dulu merek yang keluar pertama kali seingatku Molto. Warnanya biru. Ayahku sering beli dan memakainya. Memang bau cucian jadi enak. Cuma di zaman kuliah aku jarang pakai, karena itu berarti menambah pengeluaran. Dan aku merasa mencuci biasa tanpa pelembut itu tak masalah.

6. Kemudian mulai ada pelembut sendiri, pewangi sendiri. Lalu ada juga semprotan untuk mempermudah melicinkan pakaian saat disetrika. Aku lupa merek-merek yang muncul pada awal dulu apa saja. Kalau tak salah “Trika”, ya? Aku pernah beli, dan irit banget makainya. Hanya kupakai saat menyetrika baju untuk bepergian saja. Baju rumah, cukup disetrika biasa tanpa pelicin yang wangi itu. Hehehe. Ini pelit atau hemat?😀

7. Sekarang sudah ada pelembut dan pewangi sekali bilas. Tahu kan? Jadi, biar nggak menghabiskan air dan tenaga untuk membilas cucian, bahan tersebut bisa dipakai. Aku sekarang biasa memakai ini karena membilas cucian itu bikin gempor! Capeknya nggak tahan. Daripada setelah mencuci aku tidur karena kecapekan, mending pakai bahan itu saja kan?

Besok beberapa tahun lagi, akan ada perubahan seperti apa lagi ya? Jangan-jangan ada bahan yang bisa untuk mengeringkan pakaian seketika?

Catatan: meski banyak menyebutkan merek, postingan ini bukan dimaksudkan untuk iklan loh…

14 thoughts on “Revolusi Mencuci

  1. 2 tahun terahir ini sudah ga ada acara cuci mencuci
    ada sih, khusus underwear hehehe
    yang lain dikirim ke laundry aja deh.

    waktu mencuci sendiri sihi demen beli molto yg sekali bilas itu
    ngirit air, tenaga dan waktu, wangi pula🙂

    memang kirim ke laundry tuh irit tenaga banget. tapi aku masih sayang duitnya haha. mending dikerjain sendiri. salah satu cara ngirit tenaga kalau aku ya pakai molto sekali bilas itu sih.

  2. Awalnya aku cuek dengan ‘urusan dapur dan sumur’ tapi setelah pindah ke Australia aku semakin ‘aware’ soal gitu2an termasuk cuci-mencuci. Tapi bersyukur aku ngga perlu ‘cuci tangan’, semua selesai dengan mesin cuci dan dryer heheheh🙂

  3. ..
    kalau aku generasi sabun colek Mbak..hehehe..
    ingetnya merk wing warna biru..
    kalau sabun batangan itu udah mulai jarang di pakai.. ^^
    ..

    dulu sabun colek itu selain buat nyuci baju, juga buat nyuci peralatan dapur. bau cucian sama cucian piring, sama hehe

  4. Sabun colek warna biru salah satunya OMO. Haha..inget gk mb sama merk itu? Nah, wadahnya yang 1 kg itu kalau sudah habis dicuci bersih untuk nakar beras. 1 wadah OMO 1 kg penuh sama dengan 1 kg beras. Maklumlah ibu bakul beras.😀

    Sy generasi sabun colek mb, jd agak ke sini dikit lah. Hehe..😛

    Kalau di Jogja wkt kuliah apa2 dikerjakan sendiri, dari nyuci sampai setrika. Tp wkt itu ok2 aja. Giliran udah kerja nyuci masih ok, setrikanya alamak..sampai menggunung cucian bersih. Akhirnya pasrah sama laundry. Kebetulan laundry langganan hasilnya bagus dan setrikaannya juga rapih. Jd sy sll pakai jasa laundry kecuali dalaman dan baju2 yg sy suka. Nah sekarang, di sini udah ada mesin cuci dan dryer, jd nyucinya ringan dan tau kering, tp balik ke awal2 kerja dulu, setrikaan….duh..dasar pemalas.

    oiya, Omo. aku jadi ingat. dulu keluargaku juga pakai omo.
    dulu di Jogja, laundry murah2. sekarang aja ada yang sekilo Rp 2500. kakakku juga nggak setrika sendiri. dia bawa ke laundry. kalau di Jogja, aku juga seringnya pakai mesin cuci. tapi kalau di Jakarta, semua kerja pakai tangan hehe

  5. Aku tidak terlalu ingat zaman aku kecil Ibuku menggunakan sabun apa untuk mencuci baju. Tapi ketika aku mulai belajar mencuci baju sendiri, aku sudah berkenalan dengan sabun bubuk. Sabun batangan seingatku masih dipakai untuk mencuci lap bersih dan lap kotor.

    Sekalipun aku menyukai kegiatan mencuci baju, tapi tidak tahan dengan kulit yang mengelupas karena tidak tahan panasnya. Untunglah sejak menikah aku menggunakan mesin cuci, hemat waktu, hemat tenaga.

    aku masih mengandalkan mengucek pakai tangan. kalau pakai mesin, biasanya untuk mengeringkan saja. itu pun pakainya kalau sedang mudik… hehe

  6. Saya masih ingat mencuci pakai sabun Sunlight batangan, warna hijau. Sabunnya diiris-iris..kemudian dimasukkan dalam air hangat, kemudian baju direndam, baru di cuci. Rasanya saya mulai mengenal Rinso setelah kuliah di Bogor, beli Rinso satu dos untuk sebulan, maklum kostnya hanya termasuk makan dan bersihkan kamar, cuci dan setrika sendiri.

    Sabun colek seingat saya hanya untuk cuci piring (atau saya yang lupa ya). Baca tulisanmu ini, ternyata ada revolusi bahan yang digunakan untuk mencuci ya…dan dulu sumurnya pakai timba….wahh benar-benar olah raga. Belum dikenal adanya pompa listrik seperti sekarang, enaknya tak tergantung listrik, apalagi listrik di kampungku byar pet…mati tiga hari, menyala sehari.

    oiya bu, dulu pakai timba. saya di rumah madiun masih mengalami hal itu. waktu masih kecil, belum bisa nimba. pas agak besar, bisa. tapi mesti hati2. tapi saya suka takut kalau kecebur hehe.

  7. sekarang ada revolusi baru mbak..mencuci dengan ecoball pernah dengar gak ..butiran keramik bukan deterjen ..klaimnya lebih irit air dan ramah lingkungan ….
    btw salam kenal ya mbak…

    ecoball? belum pernah dengar. terima kasih sudah mampir ya

  8. ya aku juga masih kenal sunlight hijau yang batangan dan kalau mau dipakai diiris dengan pisau spt kata Bu Enny. Sabun colek kuning itu B-29 kan? Dulu ada pelawak yang namanya Ratmi B-29, cewek yang berbadan besar.
    Meskipun di sini aku pakai mesin cuci, untuk bahan halus dan batik aku masih cuci tangan dan pakai sabun khusus utk pakaian delicate (semacam biosoftnya sini deh)

    waktu aku SMP, aku masih menjumpai sabun sunlight itu. tapi entah sekarang masih ada apa nggak ya. dulu biasanya dipakai buat nyuci daleman. eh, iya, waktu kuliah aku masih suka bawa sabun itu ding ke asrama. sekarang masih ada nggak ya? kalau batik di rumah dulu pakai klerak. semacam buah yg dikeringkan, direndam pakai air panas, nanti berbusa kaya sabun.

  9. Artikel yang menarik mbak, apakah pernah pakai sabun B29? Kalau tidak salah sabun batangan warna hijau.
    btw, artikelnya tentang evolusi ataukah revolusi mbak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s