Mudik dan E-KTP

Sekitar dua minggu yang lalu, Ibu meneleponku memintaku supaya pulang ke Madiun. Wah, padahal aku belum ada rencana pulang dalam waktu dekat. Dan pekerjaanku masih banyak. Kalau aku pulang, akan banyak waktu yang terpotong di perjalanan. Belum lagi capeknya. Aku tak ingin bercapek-capek kalau sedang banyak pekerjaan. Walaupun bisa membawa pulang pekerjaan, biasanya tak bisa bekerja dengan maksimal.

Tapi Ibu bilang, ini urusan e-ktp.
Wah, e-ktp sudah sampai Madiun, ya?

Aku memang masih ber-KTP Madiun walaupun tiga tahun terakhir ini tinggal di Jakarta. Sengaja aku tidak pindah KTP, karena pak RT di tempat tinggalku dulu (di Klender) mematok tarif Rp 250.000 untuk mengurus KTP baru. Aku mau mengurus sendiri tidak boleh. Katanya, “Sama saja, nanti di kelurahan akan dimintai uang juga.” Jadi, Pak RT tak mau memberiku surat jalan. Ya sudah. Aku urung pindah KTP. Menurutku, itu sudah termasuk korupsi. Kalau aku membayarnya, berarti aku menyetujui tindakannya. Selain itu di tempat tinggalku yang sekarang, kata beberapa tetangga, Pak RTnya juga sama matrenya. (Aku heran, kenapa di ibu kota ini untuk mengurus KTP saja mesti berhadapan dengan “preman” ya?) Akhirnya aku tetap ber-KTP Madiun saja. Toh sejak awal aku tidak berniat menghabiskan sisa hidupku di ibu kota. Jadi masih akan pindah-pindah.

Sebenarnya aku ingin menunda untuk urusan e-ktp ini. Tetapi kupikir, daripada ribet di kemudian hari, aku sendiri yang repot. Selama bisa menghindari berurusan dengan pemerintah, sebaiknya tidak cari masalah kan? Akhirnya aku pun pulang.

Akhirnya Jumat tanggal 14 lalu aku pulang ke Madiun. Dari Jakarta pukul 15.00 naik kereta Senja Kediri. Keretanya bersih, dan walaupun kereta bisnis pedagang tidak ikut terus dalam kereta. Pedagang hanya masuk kalau kereta berhenti di stasiun besar. Lagi pula berhentinya tidak lama. Setelah kereta jalan, para pedagang itu pun turun. Ini berbeda dengan kereta bisnis jurusan ke Jogja. Dalam kereta bisnis ke Jogja biasanya pedagang masuk dan ikut terus dalam kereta sepanjang perjalanan. Tidak nyaman. Dan kurasa ini mengganggu keamanan kereta.

Aku sampai Madiun hari Sabtu pukul 02.30 dini hari. Sampai di rumah langsung tidur lagi. Pagi aku bangun, badanku pegal-pegal. Duh, begini deh kalau naik kereta malam. Tidurnya tidak nyenyak. Aku lalu bilang ke ibuku mau jalan-jalan pagi. Ibu lalu menjawab mau menemaniku jalan-jalan. Oke deh. Ibu lalu mengajakku jalan sampai Lapangan Gulun. Kira-kira 15 menit jalan kaki dari rumah. Ternyata lapangan Gulun ini sekarang jadi lapangan yang dipakai untuk jalan kaki masyarakat. Cukup ramai juga. Kebanyakan yang jalan kaki adalah orang yang sudah berumur. Ada juga kakek-kakek yang sedang belajar jalan lagi (tampaknya habis kena stroke). Di salah satu sisi lapangan ada bagian yang diberi batu kerikil, semacam untuk pijat refleksi. Dan di situ cukup banyak orang memakainya. Setelah kira-kira 30 menit jalan keliling lapangan, aku mencoba bagian yang berkerikil tersebut. Wuah, rasanya nyos banget! Hehe. Setelah jalan-jalan dan kena matahari pagi, badan jadi lebih segar. Gejala masuk angin sudah hilang. Ternyata obat masuk angin itu mudah saja ya. Jalan pagi dan kena sinar matahari.

Sorenya untuk urusan e-ktp ini, aku diminta datang ke kelurahan Oro-oro Ombo hari Sabtu pukul 18.00-20.00. Untung di rumah aku masih ada baju hem, jadi tak perlu pinjam atasan. Aku membayangkan, antriannya bakal panjang. Mesti duduk berjam-jam menunggu giliran. Tetapi ternyata tidak. Waktu aku sampai di sana, aku hanya perlu mengantri satu orang. Sebelumnya aku menyampaikan kepada petugas bahwa nama yang tercantum di KTPku terakhir keliru. Kurang, lebih tepatnya. Nama belakangku hanya ditulis Widyaning, bukannya Widyaningsih seperti dalam akte kelahiran. Petugas yang ada saat itu kebanyakan adalah anak muda. Sepertinya mahasiswa. Mereka awalnya kurang paham waktu aku menjelaskan bahwa namaku keliru. Kata bapakku, petugas yang dulu mengatakan nama dalam KTPku keliru karena tidak cukup tempatnya. Repot memang kalau punya nama cukup panjang. Sebenarnya aku lebih suka disingkat saja. Mbak-mbak petugas yang masih muda itu mengatakan sepertinya permintaanku itu tidak bisa dipenuhi. Si Mbak mengatakan, “Kalau kemarin itu ada kasus, minta ditambah gelar. Itu bisa. Tapi kalau namanya diperbaiki, belum pernah.”
Aku dengan sedikit ngeyel berkata, “Lha kalau nama saya disingkat trus dikasih gelar, bagaimana?”
“Kayaknya nggak bisa, Bu.”
Wah, bagaimana dong? Padahal bagiku, gelar itu tidak penting. Tapai kalau agar namaku bisa diperbaiki, aku harus mencantumkan gelar, ya apa boleh buat? Dan aduh, kok aku dipanggil Bu ya sama mbak-mbak itu? Tampangku sudah tua ya? Hehe. Memang sih, rambutku sudah banyak yang putih, tapi kan masih berjiwa muda 😀

Sewaktu aku memberi penjelasan panjang lebar itu (dengan ditambah penjelasan dari kedua orangtuaku yang ikut juga saat itu), tiba-tiba datang seorang bapak-bapak. Mbak-mbak petugas di garda depan itu lalu berkata, “Nah, ini ada Bapak X. Dia petugasnya Bu,” katanya.

Ibuku yang melihat bapak-bapak itu langsung berkata, “Lo, Dik X to yang bertugas? Njenengan yang mengurusi e-ktp?”
“Inggih, Bu,” jawabnya sopan.
Woalah … ternyata dia temannya ibuku waktu masih berkantor dulu. Bapak itu kemudian mengatakan bahwa namaku bisa diganti sesuai dengan akta kelahiran, asal aku belum difoto.

Akhirnya tak lama kemudian aku difoto, diambil sidik jari, tanda tangan, dan foto iris. Untuk foto iris ini, alatnya semacam teropong. Untuk itu semua hanya memakan waktu sekitar 5-10 menit. Rasanya lebih lama eyel-eyelan dengan petugas tadi daripada untuk foto dan lain-lain itu.

Aku sempat berpikir, bagaimana ya pelaksanaan e-ktp di Jakarta? Jika di Madiun, hampir tak banyak kendala. Kata ayahku, untuk satu RT di daerah kami, memang tidak semua diminta datang saat yang sama. Bergilir. Dan saudaraku yang rumahnya tak jauh dari kami, diminta datang pukul 20.00. Jarak rumah dengan kelurahan tempat untuk foto itu juga tak jauh. Naik motor lima menit sampai, deh.

Dari pengalamanku pulang kemarin itu, aku bersyukur besar di kota kecil. Di kota kecil, apa-apa mudah dan relatif aman. Ke pasar dekat, fasilitas penunjang kesehatan juga mudah dijangkau. Biaya hidup juga relatif murah. Jalanan di Madiun cukup lebar dan jarang sekali jalanan yang rusak. Mungkin bagi orang yang pertama kali datang ke sana, yang agak membingungkan adalah banyak jalan yang satu arah. Tetapi menurutku itu tak soal, karena arus lalu lintas jadi lebih rapi.

Ngomong-ngomong bagaimana e-ktp di daerahmu? Semoga lancar dan tidak banyak kendala.

Advertisements

Siapa yang Naik Angkot di Jakarta?

Ini cerita hari Minggu yang lalu. Agak terlambat aku menuliskannya. Jadi begini, suamiku selama dua minggu ke depan dapat tugas dari kantornya untuk mengajar di sebuah sekolah tinggi di daerah Bintaro. Tidak setiap hari, hanya Senin, Rabu, dan Jumat. Ini baru pertama kali dia diminta mengajar di sana. Dia hanya diminta mengajar materi persiapan tes GMAT untuk mendapatkan beasiswa.

Aku selama ini jarang sekali ke Bintaro. Pernah sih ke sana, tetapi selama ini kalau ke sana selalu nebeng saudara yang rumahnya tak jauh dari daerah tersebut. Karena ini terbilang “daerah baru” bagi kami, kami mencari-cari rute yang paling mudah untuk ke sana. Sebenarnya cukup banyak kendaraan ke sana. Bisa naik feeder busway dari depan Ratu Plasa, bisa pula naik kereta komuter. Tapi karena Senin pagi sebelum pukul 8 suamiku harus sudah sampai sana, ini jadi masalah. Kereta yang bisa membawanya ke sana tanpa terlambat adalah kereta pukul 06.25 dari stasiun Tanah Abang. Padahal, jarak dari rumah ke stasiun Tanah Abang cukup lumayan. Jika berangkat pagi-pagi, rasanya agak sulit mengandalkan metromini atau kopaja. Kalau kopajanya ngetem lama, bisa tak dapat kereta kan? Dan siapa yang bisa menjamin kopaja tak akan ngetem?

Oya, untuk mendapatkan informasi tentang jadwal kereta itu pun butuh cara berliku. Awalnya aku tanya ke teman-teman yang rumahnya di Bintaro, tanya juga ke teman yang biasa naik kereta dari dan ke arah sana. Sebagian besar temanku memang menjawab, tetapi ada pula yang tidak. Sebagian besar, hanya mengatakan naik kereta saja dari Tanah Abang lalu turun stasiun Pondok Ranji. Tapi jam berapa saja keretanya? Tak ada yang bisa menjawab. Ya, memang bukan pegawai PT KAI sih, ya… tentu tak hapal jadwal kereta. Hehe. Kebanyakan tahunya adalah jadwal kereta sore ke arah Bintaro/Serpong. Lah, kami kan butuhnya kereta yang pagi. Memang melawan arus sih. Kebanyakan orang pada pagi hari naik kereta dari Serpong ke Jakarta, bukan sebaliknya. Memang melawan arus itu agak repot ya. Hehe. Susah dapat informasinya.

Akhirnya kami coba browsing internet, mencari jadwal kereta. Sampai di situs PT KAI, kami kesulitan membaca jadwal yang tertulis di sana. Kalau ada yang bisa membaca jadwal kereta di sana dengan mudah, tolong kasih tahu aku ya. Mungkin aku yang terlalu bodoh hanya untuk membaca jadwal. Akhirnya dapat juga infonya, tapi itu pun dari sebuah situs lain.

Untuk memastikan, kami ke stasiun terdekat, yaitu ke Manggarai. Ternyata, di sana justru tidak banyak membantu. Kereta paling pagi ke arah Serpong pukul 7.30-an. Suamiku bisa terlambat dong mengajarnya. Jadi, memang mau tak mau harus ke Tanah Abang pagi-pagi.

Karena Senin kemarin adalah hari pertamanya, maka dia tak ambil risiko. Untung aku punya saudara yang rumahnya tak jauh dari sekolah tinggi tersebut. Akhirnya, aku minta izin untuk menginap supaya Senin pagi suamiku tak kerepotan. Jadi, Minggu sore aku dan suamiku menginap di rumah saudaraku. Karena tak pernah ke sana naik kendaraan umum, aku hanya tanya setelah turun di stasiun Pondok Ranji, nanti naik angkot apa? Saudaraku hanya bilang, nanti banyak angkot warna putih di sana. Naik itu saja, katanya. Kami dikasih pula ancer-ancernya, nanti kira-kira turun mana. Tapi aku tak mendapat informasi, mesti naik angkot nomor berapa, jurusan apa. Maklum, saudaraku ini tak pernah naik kendaraan umum. Selama ini kalau bepergian naik kendaraan pribadi atau taksi, dan baru dua bulan terakhir ini saja naik kereta komuter. Tapi kalau ke stasiun, ya naik kendaraan pribadi.

Aku dan suamiku akhirnya bermodal semangat, “Let’s get lost!” Toh kami bawa peta. Dan kami memang angkoter sejati. Ke mana-mana naik angkot. Lagi pula, ini kan masih Indonesia, kalau tanya masih bisa pakai bahasa Indonesia dan senyasar-nyasarnya paling ke mana sih? Nggak sampai ke daerah antah berantah kan? Hehe. Dan kami tak nyasar. Supir angkot yang kami tanyai tak memberi info keliru.

Namun, dari pengalaman itu, aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa sih yang mau naik angkot di Jakarta? Semua orang pasti sudah tahu betapa buruknya layanan kendaraan umum di Jakarta. Sopir metromini yang terkenal suka ngebut, angkot yang penuh dan panas, adanya penodongan dan bahkan belakangan ini pemerkosaan di kendaraan umum, dan kadang kalau belum sampai tujuan kita bisa dioper, dialihkan ke kendaraan lain yang lebih penuh. Sama sekali tidak nyaman. Aku kadang berpikir, kalau orang tua naik kendaraan umum, bagaimana ya? Ibu temanku pernah cerita bahwa ia sampai nangis waktu harus naik turun metromini. Uangnya tak cukup untuk naik taksi atau bajaj. Ia diturunkan dengan buru-buru dan langsung terpapar polusi. Yah, bagi orang yang sudah berumur, pengalaman seperti itu tidaklah mengenakkan. Aku tak sepenuhnya menyalahkan orang yang akhirnya memilih naik kendaraan pribadi. Aku yakin, orang yang mampu pasti memilih naik mobil pribadi daripada harus mengalami kekonyolan-kekonyolan yang tidak penting saat naik kendaraan umum. Tapi sampai kapan akan seperti ini?

Buatku, transportasi umum yang bisa diandalkan itu penting. Kalau tidak, semua orang pasti akan beralih ke kendaraan pribadi. Dan kalau kebanyakan orang naik kendaraan pribadi, jalanan akan makin penuh, kemacetan di mana-mana. Aku merasa, pemerintah tak punya niat baik untuk memperbaiki kendaraan umum. Aku baru tiga tahun di Jakarta, tetapi sama sekali tidak melihat adanya perbaikan yang signifikan dalam hal ini. Bahkan TransJakarta pun kubilang tak bisa diandalkan. Kalau jam sibuk, antrinya bisa setengah jam lebih. Dan lihat saja betapa panjangnya antrian di halte bus TransJakarta. Belum lagi kita akan didorong-dorong saat mengantri. Kadang bus yang ditunggu tak datang-datang. Kadang ada yang lewat, tetapi tidak mengangkut penumpang.

Jadi, sebenarnya siapa sih yang naik kendaraan umum di Jakarta ini? Mestinya kalau kendaraan umum di Jakarta ini bisa diandalkan, para walikota, pak gubernur, dan para pejabat lain kalau ke kantor selalu naik angkot tanpa pengawalan khusus ya? Buktinya, tidak kan?

Lelang … Lelang (Sebuah catatan iseng)

Kemarin sore, suamiku membawa Koran Tempo (terbitan 12 Agustus 2010). Setelah membaca beberapa beritanya, sampailah aku pada bagian yang memuat daftar lelang (halaman D, berita lelang). Di situ dimuat daftar tender apa saja yang dilelangkan. Biasanya aku tak terlalu memperhatikan daftar semacam itu. Tapi kemarin aku iseng-iseng membacanya, dan ada beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya sekaligus geli. Empat kutipan di bawah ini kukutip dari lelang suku dinas pendidikan untuk wilayah Jakarta Barat .

1. Pengadaan alat pemeriksa Lembar Kerja Siswa SD/SMPN: Rp 983.999.500 (hampir 1 milyar)
Di bagian klasifikasinya tertulis:alat/peralatan/suku cadang: komputer. Kalau kupikir-pikir pemeriksa LKS itu cukup nggak sih kalau berupa bolpen, pensil, tip-ex, penghapus “saja”? Kalau alat-alatnya seperti itu, uang 1 milyar rasanya bisa untuk beli alat tulis berkarung-karung. Apalagi kalau beli banyak kan mestinya bisa dapat diskon besar.

2. Pengadaan bio camera multimedia microscope system: Rp 3.154.228.000 (3 milyar sekian…)
Ini barangnya kayak apa ya? Mahal juga.

3. Pengadaan kit matematika SD: Rp 2.351.250.000 (2 milyar sekian…)
Kit Matematika 2 milyar. Itu berupa apa saja? Kalau pakai kertas untuk oret-oretan, bolpen, pensil, penghapus, plus berbatang-batang lidi untuk hitung-hitungan, bagaimana ya?

4. Pengadaan peralatan multimedia interaktif mengenal budaya nusantara untuk SD, standar depdiknas, nasional dan internasional.: Rp. 3.448.664.230 (hampir 3,5 milyar)
Bayanganku nih, peralatan multimedia interaktif itu yaaa … komputer, software. Hmm… apa lagi ya?

Nah, sekarang coba bandingkan dengan daftar lelang berikut ini.
1. Pengembangan sarana PAM di desa rawan air. Lokasi Nagari Silago, kabupaten Damasraya, Sumatera Barat: Rp. 249.591.000
Pengembangan sarana PAM “hanya” dua ratus jutaan? Yang benar saja. Masak lebih murah dibandingkan dengan pengadaan kit matematika SD, sih?

2. Pembangunan Jembatan Sawangan, Sulawesi Utara: Rp. 1.400.000.000
Kok rasanya tidak beda jauh dengan pengadaan alat pemeriksa LKS ya?

3. Pengadaan naskah kuno dan transliterasi naskah kuno: Rp. 1.072.540.000 (1 milyar lebih sedikit)
Lah kok sedikit banget ya kalau dibandingkan dengan pengadaan peralatan multimedia? Pantesan saja kalau naskah-naskah kuno kita diambil oleh negara asing.

Rasa-rasanya aku mau usul, bagaimana kalau ditambah pengadaan kantong ajaib Doraemon? Mungkin jatuhnya akan lebih murah. 😀

Mungkin aku ini memang kurang kerjaan. Wong daftar lelang saja kok ya diurusi. Lagi pula, aku juga tidak mungkin ikut lelang. Duit dari mana? Dari Hongkong? Atau, barangkali aku yang benar-benar tidak tahu hitung-hitungan lelang semacam itu? Ah, sebodo deh! Namanya juga lagi iseng.

Kantor Pos: Riwayatmu Dulu

Ketika masih SD, aku dan kakakku berlangganan majalah anak-anak. Kadang selama beberapa periode, kami berlangganan Bobo; jika bosan, kami berganti berlangganan Ananda. Suka-suka saja sih. Salah satu kolom yang sering aku tengok di kedua majalah itu adalah kolom Sahabat Pena. Kadang aku mencari-cari, adakah anak yang sekota denganku? Lalu, siapa ya yang seumuran denganku? Adakah yang ulang tahunnya sama denganku? Hehe, ada-ada saja ya pikiranku saat itu. Dan waktu itu, aku sempat punya sahabat pena. Aku tidak ingat, kriteria apa yang kupakai waktu memilih sahabat pena waktu itu. Sepertinya sih asal saja.

Aku pun rajin menulis surat. Jika surat balasan sudah kuterima, aku akan segera membalasnya. Dan waktu itu, aku tidak saja berkirim surat dengan sahabat penaku, aku juga bersurat-suratan dengan kakak sepupuku yang ada di Jepara. Nah, sejak itu, urusan ke kantor pos untuk membeli perangko dan mengirim surat pun menjadi suatu kegiatan tersendiri. Karena kantor pos cukup jauh dari rumahku (dulu sih rasanya cukup jauh, tapi kalau sekarang kok rasanya dekat ya?), aku kadang membeli beberapa perangko sekaligus, jadi kalau mau mengirim surat, aku cukup ke kotak pos yang tak jauh dari rumahku. Masa-masa itu adalah pengalaman pertamaku berhubungan dengan kantor pos.

Pak pos pun menjadi sosok yang aku tunggu-tunggu. Jika dari balik jendela ruang tamu kulihat Pak Pos datang dengan sepedanya, aku akan segera ke depan. Tak jarang, surat diselipkan di sela pintu ruang tamu.

Relasiku dengan kantor pos memang hanya sebatas pengiriman surat. Relasi itu terus berlangsung sampai aku kuliah di Jogja. Dulu aku masih berpikir, kalau kirim surat, ya pakai jasa pos. Aku tidak pernah terpikir untuk memakai jasa kurir yang lain. Tapi ketika aku sudah bekerja, kantorku punya langganan sebuah jasa kurir. Waktu itu aku baru tahu, bahwa mengirim surat dengan jasa kurir bisa juga (hahaha! telmi ya aku :p), dan harganya pun tak jarang lebih murah dibandingkan jasa pos biasa. Karena sudah langganan, pengiriman ke Jakarta dari Jogja, biayanya sekitar 3000 rupiah (atau malah kurang ya?). Eh, tapi itu dulu lo (sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu), sekarang sih sudah naik. Dan kiriman bisa sampai dalam waktu sehari. Dibandingkan dengan kantor pos, tentu jauh beda pelayanannya.
Meskipun aku tahu untuk mengirimkan surat atau barang bisa menggunakan jasa kurir, aku sampai dua bulan yang lalu, masih memakai jasa kantor pos. Yaaa, walaupun aku sering mendengar bahwa kantor pos kurang bagus pelayanannya, aku tetap memakai jasanya. Soalnya bisa dikatakan, aku hampir tak pernah dikecewakan dengan jasa pos. Hanya untuk pengiriman yang butuh waktu cepat aku memakai jasa kurir.

Tapi pengalamanku beberapa waktu kemarin membuatku berpikir seribu kali untuk memakai jasa pos lagi. Ceritanya, waktu itu aku hendak mengirim paket ke temanku di Madiun. Seperti biasa, aku hendak memakai jasa pos karena kantor pos cukup dekat dengan tempat tinggalku dan kupikir, menurutku tarifnya pun agak lebih murah dibandingkan jasa kurir. Setelah ditimbang, paketku beratnya, persis 1kg.
“Berapa, Bu?” tanyaku menanyakan ongkos yang harus kubayar.

“Empat puluh tiga ribu!” Jawaban ibu pegawai kantor pos itu hampir membuat jantungku copot. Lha kok mahal sekali? Padahal persis sebulan sebelumnya, aku mengirim paket ke Jogja, dengan berat dan jenis pelayanan yang sama, aku hanya membayar 12 ribu. Jadi, perkiraanku, kalau ke Madiun paling hanya 15 ribu. Kenapa sekarang jadi mahal sekali?

Dari pegawai kantor pos, aku mendapat informasi bahwa pengiriman paket yang kurang dari 2kg, dihitung sebagai surat. Selanjutnya, pihak kantor pos akan menggunakan perhitungan secara gram (bukan kilogram). Nah, sekarang ongkos per gramnya sudah naik.
Mendengar hal itu, aku tidak jadi menggunakan jasa pos. Aku kemudian memakai jasa kurir. Dan ternyata, ongkosnya jauh lebih murah. Jika kantor pos mematok harga 43 ribu, di kurir yang kupilih itu, ongkosnya sekitar 13 ribu. Bayangkan, selisihnya sampai 30 ribu! Dan lagi, entah mengapa bagiku mengirim barang lewat kurir rasanya lebih terpercaya.

Sekarang, untuk pengiriman barang atau surat aku lebih memilih jasa kurir. Selain tarifnya lebih murah, lebih terjamin, dan aku bisa mengirimkan barang tidak terbatas pada jam kerja saja.

Aku tak tahu apa yang bisa dilakukan kantor pos agar bisa bersaing dengan lebih baik. Coba pikir, dengan adanya internet, pengiriman surat via pos bisa jauh berkurang. Berkirim surat elektronik terasa lebih hemat dan nyaman. Padahal dulu orang mengandalkan pos untuk berkirim surat. Nah, lalu apa ya yang bisa dilakukan PT POS supaya orang tetap menggunakan jasanya? Mau tak mau kantor pos harus melakukan perubahan. Tapi, terus terang aku tak punya solusi.

Sebenarnya aku pikir kantor pos bisa bersaing dengan jasa kurir yang lain. Dengan jaringannya di seluruh Indonesia, (bahkan sampai ke pelosok-pelosok) PT Pos mestinya bisa memberikan pelayanan yang lebih unggul. Tetapi, kenapa ya kok sepertinya jadi kalah saingan? Sangat disayangkan, sebenarnya ….

Silakan Merokok, Tapi Jangan Minta Sokongan Duit Negara

Kemarin sore, waktu mendengarkan I-Radio, dikabarkan bahwa Pemprov DKI tidak akan memberikan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK-Gakin) maupun Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) kepada pemegang kartu yang merupakan perokok berat. Tadi pagi, hal serupa diberitakan oleh KBR 68 H. Kenapa bisa begitu? Alasannya adalah 70% perokok (berat) berasal dari kalangan kelas bawah, alias orang miskinlah yang selama ini paling banyak mengonsumsi rokok. Jadi kalau ada perusahaan rokok yang bisa menjadi besar dan kelihatan “wah”, orang-orang yang bekerja di sana sebaiknya berterima kasih kepada orang-orang miskin yang menjadi pelanggan tetap produk mereka. (Du … du … du …. siapa ya? :D) Bahkan bagi mereka, rokok sudah jadi kebutuhan nomor dua–kalau tidak salah setelah kebutuhan untuk membeli makan. Logikanya begini, kenapa pemerintah mesti peduli dengan kesehatan mereka jika mereka sendiri tidak peduli dengan kesehatan diri mereka sendiri? Dengan kata lain, ini kan tindakan meracuni diri sendiri yang disengaja. Lagipula, uang untuk subsidi kesehatan mereka itu kan uang negara. Uang kita-kita juga. Bukan uang yang mak pluk… turun dari langit. Ya, kurang lebih begitulah yang aku dengar dari radio dari kemarin dan pagi tadi.

Aku tak tahu bagaimana pelaksanaannya di lapangan nantinya. Dan bagaimana caranya mengecek apakah si X perokok atau bukan? Aku sendiri kadang kecele ketika melihat seseorang yang dari tampangnya tidak kelihatan perokok, tapi ternyata dia merokok juga. Mungkin tidak sering sih–sesekali saja. Tapi kan tetep saja dia perokok.

Aku memang tidak suka dengan perokok. Tapi lebih jauh lagi kupikir, merokok atau tidak itu pilihan. (Termasuk memilih pasangan yang merokok atau tidak :p) Kalau mau merokok ya silakan saja, asal tidak mengganggu orang lain. Minimal tidak merokok di ruangan publik sehingga mengganggu orang-orang di sekitarnya yang berhak mendapatkan udara bersih. Dan kalau kemudian pemerintah mengeluarkan seperti yang diberitakan oleh radio tadi, itu kudukung banget deh!

Tak lama setelah aku mendengarkan radio tadi pagi, majalah Newsweek langganan kami datang. Dan ndilalah, ada sebuah artikel yang pas cocok dengan kebijakan pemerintah tadi. Judulnya: Crimes of The Heart, ditulis oleh Walter C Willet dan Anne Underwood. Apa isi artikel itu? Ini adalah feature tentang kota Albert Lea, Minnesota, Amerika. Jadi ceritanya, penduduk kota itu tahun kemarin tidak lebih sehat daripada penduduk Amerika lainnya. Tapi kemudian kota itu menjadi kota Amerika pertama yang menandatangani AARP/Blue Zones Vitality Project. Itu adalah proyek untuk menjadikan kotanya memiliki kebiasaan yang sehat. Gagasan ini dilontarkan oleh Dan Buettner, yang menulis buku The Blue Zones. Di buku itu dia mengemukakan kebiasaan-kebiasaan yang sehat. Tujuannya? Supaya orang-orang Amerika mengadopsinya. Caranya bagiamana? Bukan dengan memaksa orang untuk berdiet atau berolah raga. Lha terus? Tapi dengan mengubah lingkungan mereka sehingga mendukung gaya hidup yang sehat.

Perubahan apa saja yang sudah dilakukan kota itu? Kota itu membangun jalan yang menghubungkan kompleks perumahan penduduk dengan sekolah dan pusat perbelanjaan. Lalu juga dibuat jalan untuk rekreasi di sekeliling danau dan akan dibuat taman yang bisa dinikmati oleh masyarakat. Restoran-restoran mengganti menu mereka dengan menu yang sehat. Sekolah mengeluarkan larangan bagi murid-muridnya untuk makan di koridor–jadi, anak-anak tidak jajan. Lebih dari 2.600 orang dari 18.000 penduduk menjadi sukarelawan untuk menyeleksi apa saja yang menyehatkan jantung. Piring-piring superbesar yang memungkinkan orang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar dieliminasi. Lalu mereka membentuk “walking schoolbuses” untuk mendampingi anak-anak berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. (Kalau naik sepeda sebenarnya asyik juga ya.)

Hasilnya? Dalam 6 bulan, orang-orang yang berpartisipasi dalam kegiatan itu berat badannya turun rata-rata 1,14 kg dan meningkatkan harapan hidup mereka 3,1 tahun. Hal ini bisa terjadi berkat pengaruh jaringan sosial (social network). Sebenarnya diet dan olahraga rutin itu gagal “melakukan tugasnya”–untuk membuat kita jadi lebih sehat–bukan karena kurangnya semangat, tetapi karena lingkungan sekitar tidak mendukung gaya hidup sehat. Sebenarnya kalau lingkungan kita mendukungnya dan semua–atau hampir semua–orang bergaya hidup sehat, sepertinya kita akan jadi terpengaruh untuk menjalankan gaya hidup sehat kan? Misalnya, kalau semua orang di rumah rajin berolahraga, kurasa aku juga akan ikut rajin olahraga juga hehehe. (Ketahuan kalau males olahraga :p).

Dalam gaya hidup sehat, tentu tak ada ruang bagi rokok. Kurasa sih, bukan soal orang (miskin) itu nggak mau berhenti merokok, tetapi karena lingkungan di sekitarnya sangat memungkinkan dia merokok dengan bebas. Harga rokok masih terjangkau. Larangan merokok di area publik tidak ditegakkan. Bahkan pernah aku melihat seorang polisi asyik merokok di dekat tanda dilarang merokok.

Tapi kupikir barangkali ada satu poin yang bisa dikemukakan: gaya hidup sehat itu pilihan. Orang bisa memilih untuk merokok atau tidak. Dan pemerintah memiliki “kuasa” yang sangat cukup untuk mendukung terbentuknya gaya hidup sehat itu. Mungkin ada yang dikorbankan, dan yang penting: mau atau tidak?

Ketemu Presiden SBY di Metromini?

Sudah setahun lebih aku tinggal di Jakarta. Judulnya ikut suami. Ya, begitu menikah aku langsung memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku di Jogja lalu langsung ngibrit mengikuti suami yang bekerja dan kuliah di ibu kota ini.

Seperti layaknya penghuni baru sebuah kota, aku mesti beradaptasi. Dari yang dulu tinggal di kampung yang sepi, sekarang mesti tinggal di sebuah perkampungan yang cukup padat. Dari yang dulu di mana-mana bisa bicara dengan bahasa Jawa dengan banyak orang, sekarang mesti berbahasa Indonesia. Dan di Jakarta ini bahasa Indonesianya adalah bahasa Indonesia yang gaul, yang lu-gue itu loh! Sumpah, sampai sekarang aku tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia ala Jakarta yang disebut gaul oleh banyak orang. (Sebenarnya aku bingung, apa maksudnya gaul dalam hal ini.) Lalu, salah satu adaptasi yang kurasa cukup signifikan adalah dari aku yang dulu ke mana-mana naik sepeda motor, sekarang ke mana-mana harus mengandalkan kendaraan umum.

Ampun!

Bagiku, ke mana-mana naik kendaraan umum adalah adaptasi yang butuh waktu lama. Sepertinya sampai sekarang aku juga masih adaptasi. Nggak pinter-pinter nih. Jadi, ceritanya begini, kalau naik motor sendiri, aku bisa langsung memperkirakan, kalau mau ke suatu tempat, umpamanya mau ke X tuh cuma butuh waktu ya, kira-kira 15 menit lah. Tapi begitu aku harus naik kendaraan umum, ternyata perkiraanku salah! Bisa setengah jam, bisa 45 menit. Dan di sini, perjalanan yang memakan waktu satu jam itu dibilang dekat. Doooh! Mau tahu kenapa bisa begitu? Karena kendaraan umum itu–entah mikrolet, metromini, atau KWK–tak bisa ditebak. Kadang mereka ngetem, kadang jalannya seperti keong, kadang nggak segera muncul, kadang ngebut nggak karuan. Aku sering geregetan kalau sudah begini. Pengin tak sopiri sendiri–sayangnya nggak bisa.

Salah satu kendaraan umum yang sering kupakai jasanya adalah metromini. Itu loh, bus yang warnanya oranye, yang kadang seperti keong tetapi juga suka ngebut itu. Di jam-jam orang berangkat dan pulang kantor, bus oranye jelek itu sering penuh. Penumpangnya kadang terpaksa harus merasa deg-degan karena berdiri di tepi pintu. Dan si sopir yang entah belajar nyopir di mana itu, dengan seenak udelnya terkadang mengerem dan mengegas busnya dengan mendadak. Biyuh… biyuh!

Selain metromini, kendaraan umum lain yang kadang kupakai adalah TransJakarta (TJ). Nah, naik TJ ini ada triknya. Kalau mau nyaman, jangan naik di jam berangkat dan pulang kantor. Lalu, kalau bisa, naiklah di halte pemberangkatan, misalnya di Dukuh Atas, Harmoni, atau Pulogadung karena di situ kita masih bisa mendapatkan tempat duduk, atau mencari tempat berdiri yang cukup nyaman. Nah, yang menyebalkan adalah jika kita buru-buru, dan TJ yang kita tunggu-tunggu tidak muncul. Atau kalaupun dia muncul, lewat begitu saja–tidak mengangkut penumpang yang sudah merindukannya di halte.

Ah, ya … memang naik kendaraan umum di Jakarta ini bisa menimbulkan banyak kesan–dan kadang menjengkelkan. Tapi tahu nggak, selama aku di Jakarta, belum pernah sekalipun aku bertemu Presiden SBY di metromini atau TJ. Ha ha! Mimpi kali yeee? Ya, memang mimpi. Ya jelas tidak mungkin Pak SBY ikut berjejal-jejal di dalam metromini. Dia juga mungkin tidak perlu menembus banjir yang sepertinya belakangan ini mulai berakrab-akrab dengan warga Jakarta. Dia tak mungkin ikut bergelantungan di dalam KRL yang padat. Dia tak mungkin duduk bersebelahan dengan sopir metromini yang sepertinya tak pernah mandi dan terus menerus merokok itu.

Aku cuma berangan-angan, seandainya, seandainya lo ini, jika Pak SBY itu ikut berjejal-jejal di dalam metromini selama sebulan saja, apakah dia bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih baik ya? Setidaknya dia ikut merasakan bahwa sebagian besar rakyatnya ini tidak melulu hidup enak. Itu lo, seperti cerita masa kanak-kanak yang menceritakan ada raja yang menyamar dan tinggal bersama rakyatnya. Lalu usai menyamar ia membuat kebijakan yang menguntungkan rakyat kecil, dan ia akan semakin dicintai rakyatnya. Dalam bayanganku raja itu bijaksana sekali. Tapi rasanya nggak mungkin ya Pak SBY itu bertindak seperti raja yang bijaksana? Kupikir-pikir mengapa pemerintah kita sepertinya tidak mengurusi rakyat dan tidak bisa membuat kebijakan yang signifikan, kurasa adalah karena mereka sudah lupa bagaimana rasanya jadi rakyat biasa. Jika para pejabat itu sama-sama ikut menderita bersama rakyat, mungkin akan lain ceritanya. Jadi, bertemu dengan Pak SBY di metromini? Mimpi kali yeee …!