Sepotong Perjumpaan

Aku sering membayangkan menghabiskan senja denganmu. Diawali dengan menyeduh teh dan kopi, mengudap makanan kecil, lalu kita menghabiskan waktu menikmati matahari tenggelam di beranda rumah kita kelak, tempat kita berdua menghabiskan usia kita yang beranjak senja. Aku mengharapkan waktu berjalan dengan lambat sembari kunikmati wajahmu. Aku akan menghitung rambut putihmu yang mulai banyak, mengamati matamu di balik kacamata, dan memasang telinga baik-baik untuk menyimpan semua ceritamu. Kurasa tawamu masih seperti dulu, seperti dua puluh tahun silam saat jantung kita sama-sama berdebar kala mata kita berjumpa.

Tapi bagaimanapun aku tak akan menampik pertemuan yang kita lakukan dengan mencuri waktu di antara jadwal padatmu.

“Berapa lama waktu yang kaupunya, Mas Tok?”
“Sebenarnya ingin selamanya denganmu, Ning. Tapi kau sudah hafal seperti apa jadwalku, kan?”

Aku mengangguk. Mungkin kau adalah orang terpenting di dunia ini, dengan segudang kegiatan, rapat demi rapat, seminar demi seminar, dan entah apa lagi.

“Setelah ini Mas Tok kembali ke penginapan naik apa?”
“Naik kendaraan umum. Apakah rutemu sejalan denganku?”

Tanpa berpikir panjang, aku mengangguk. Aku tahu, mengikutimu berarti berjalan lebih jauh. Tapi bukankah itu berarti waktuku bersamamu semakin panjang?

“Nanti aku turun di Utan Kayu, sementara itu, Mas Tok bisa melanjutkan perjalanan,” jawabku.

Bus yang membawa kita pun tiba. “Sini kubawakan tasmu,” katamu. Aku selalu tersentuh dengan perhatian kecilmu.

Bus tidak padat, dan kita pun duduk bersebelahan. Kurasakan tanganmu menggenggam tanganku. Kebiasaan lama, batinku sambil tersenyum. Kau masih seperti dulu. Dan ingatanku melayang pada perjalanan panjang kita, dari pelataran gereja hingga Sendangsono. Sepanjang itulah kita berbagi cerita dan tak sedetik pun kaulepas genggaman tanganmu.

Jam tanganku menunjukkan pukul lima kurang lima. Matahari mulai redup. “Mas Tok, jangan pergi lagi,” bisikku di telingamu. Matamu menjadi sendu. Aku ingin menangis.

Waktu bergerak, halte demi halte kita lewati, itu berarti kita menuju perpisahan. Aku mulai mengenali daerah tempat aku harus berganti kendaraan pulang.

“Mas, sebentar lagi aku turun.”

Tanganmu menggenggamku semakin erat.

Ketika petugas menyebutkan halte tempat aku turun, kau mengangsurkan tas lalu mencium pipiku dengan cepat. “Hati-hati, Dik Ning.”

Aku mengangguk. Kulangkahkan kakiku ke luar bus. Aku tak bisa melabeli apa yang bergolak dalam hatiku. Sedih, bahagia, resah. Tabungan rinduku pecah dengan pertemuan singkat ini, sekaligus kembali terisi dengan seribu harapan akan pertemuan kembali.

Aku yakin kita bertemu lagi. Semoga dengan waktu yang lebih lama.

Malam itu lagu My All milik Mariah Carey berputar entah berapa kali, menyemarakkan kerinduan yang mulai memenuhi lorong hatiku.

I am thinking of you
In my sleepless solitude tonight
If it’s wrong to love you
Then my heart just won’t let me be right
‘Cause I’ve drowned in you
And I won’t pull through
Without you by my side

…..

I’d give my all to have
Just one more night with you
I’d risk my life to feel
Your body next to mine
‘Cause I can’t go on
Living in the memory of our song
I’d give my all for your love tonight

One thought on “Sepotong Perjumpaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s