Hadiah pada Minggu Pagi

Minggu pagi kemarin aku sebenarnya sudah memasang alarm agar bisa bangun sebelum jam 5. Alarm berbunyi, tapi aku tidur lagi. 😀 Kupikir tambah tidur 5 menit lagi deh. Eh… kok bablas sampai hampir jam 5.15. Yah, kesiangan deh kalau mau misa jam 5.30 pikirku.

Aku pikir, aku mau misa jam 7.00 saja. Tapi aku keasyikan di depan komputer, dan terlalu mepet kalau mau misa di Banteng. Akhirnya kuputuskan misa di Kapel Belarminus, Mrican. Itu pun aku agak buru-buru. Duh, aku memang buruk soal manajemen waktu. Padahal sudah mandi awal, lo. Tapi kok ya menunda-nunda berangkatnya. Menyebalkan betul aku nih.

Aku tiba di Kapel Belarminus ketika misa sudah dimulai. Untung sepi, jadi aku masih dapat tempat duduk di sayap timur. Efek lebaran mungkin. Jadi, masih banyak orang yang mudik. Gereja ikut berkurang umatnya.

Bacaan Injil kemarin adalah perumpaan kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Setelah ditaburkan ke tanah, tanpa disadari oleh sang penabur, biji itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran lain serta mengeluarkan cabang-cabang yang besar pula. Romo menjelaskan bahwa kerajaan Allah itu merupakan suatu daya yang luar biasa di mana Tuhan bekerja di dalamnya. Mungkin kita tidak menyadarinya, tetapi hasilnya tampak dan berlimpah-limpah. Contohnya adalah Bunda Teresa di Kalkuta. Yang ia lakukan sebenarnya sederhana, yaitu menolong orang miskin yang sekarat. Hmm, nggak sederhana juga kali, ya? Ini mah, luar biasa. Tapi ia tentu tidak bercita-cita membuat gerakan yang besar. Intinya sih, lakukan suatu karya baik, dan lihatlah hasilnya di kemudian hari. Biasanya karya baik akan bergulir dan menular. Begitulah.

Mendengar hal itu, aku lalu ingat hal-hal yang ingin kukerjakan, tetapi masih banyak keragu-raguan yang membuatku mandeg. Setidaknya, khotbah Romo kemarin memantik semangatku.

Menjelang komuni, Romo memberi pengumuman: “Yang berulang tahun bulan ini, silakan maju ke dekat altar.” Aduh, aku deg-degan. Maju nggak ya? Selalu begitu deh. Aku malu untuk urusan maju dan tampil di depan begitu. Tapi aku akhirnya maju. Ternyata sudah ada beberapa orang yang maju. Lumayan banyak temannya–walau nggak kenal juga. Dan… pas komuni, kami boleh menerima komuni dalam dua rupa: roti dan anggur. Huhuhu… sukses mau nangis deh. Tapi aku tahan-tahan.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menerima komuni dalam dua rupa. Yang kuingat, dulu pas di asrama pernah “nyicip” anggur pas unitku tugas. Itu sudah berapa tahun yang lalu? Dua puluh tahun lebih? Dulu aku sempat berpikir, rasanya tidak ada lagi kesempatan untuk menerima komuni dua rupa. Waktu sakramen pernikahan dulu aja enggak. Kapan lagi? Tak ada momen misa khusus lagi, pikirku. Tidak kusangka aku bisa menerima roti dan anggur.

Kali ini aku benar-benar merasakan “pelukan” yang sangaaaat erat. Terima kasih, Yesus! Cinta-Mu membuatku meleleh.

Advertisements

Catatan Minggu Biasa Ke-32

Kemarin aku bangun siang. Kebiasaan buruk. 😦 Tapi aku memang belakangan, entah kenapa lebih suka tidur larut. Akibatnya, bangunku siang. Lalu aku malas misa pagi. Biasanya aku paling suka misa Minggu jam 06.30. Jadi, pulang misa tidak terlalu siang. Meskipun ada misa kedua dan ketiga, aku malas pergi. Aku misa sore saja, pikirku. Risikonya kehujanan. Tapi biarlah, nanti lihat apa kata hatiku. Aku malas misa beneran apa tidak.

Tepat seperti dugaanku, sore kemarin mendung. Herannya, niatku untuk misa tidak surut. Tumben. Biasanya aku mengkeret saat melihat mendung tebal. Pikirku, kalaupun hujan lebat, biar saja. Aku sudah sedia payung di tasku. Toh aku pergi misa untuk “kangen-kangenan” dengan sang pembuat hujan dan mendung. Kalau Dia mau bikin hujan, aku sudah di rumah-Nya.

Bacaan misa kemarin adalah soal janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya (Markus 12:38-44).  Aku sudah sering mendengar bacaan ini. Sudah hafal rasanya. Tapi kemarin rasanya kok bisa seperti mak nyes waktu mendengarnya. Waktu khotbah Romo mengatakan, janda miskin itu tidak lekat dengan hartanya, sehingga dia pribadi yang bebas. Kelekatan hanya akan membuat kita hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran. Padahal kita dipanggil untuk menjadi manusia bebas. Kalau aku memparafrase pesan itu, mestinya kita ikhlas dalam memberi dan tidak lekat dengan harta yang kita punya.

Kurasa, kelekatan tidak hanya soal harta. Rasa senang yang berlebihan, kebencian, kecemburuan, sebutlah semua yang membuat kita tidak bebas, akhirnya membuat kita terkungkung dan kerdil.

Lalu aku sendiri bagaimana?

Aku merasa masih banyak PR yang harus kubereskan. Sering kali aku menetapkan syarat dan batasan agar bahagia dan lepas bebas. Mesti bisa begini atau begitu, mesti punya ini dan itu, mesti yang ini terpenuhi, yang itu juga. Jadinya aku melow sendiri dan tidak bebas. Hih, payah betul aku nih.

Kadang aku rasa, hidup ini sebaiknya seperti siap berangkat kapan saja. Tas sudah dikemas dan siap dicangklong. Tak perlu bawa barang banyak, jadi perjalanan terasa lebih enteng. Tapi aku lebih suka menambah isi tas, membongkar isinya dan membuatnya berceceran di sekitar diriku. Lalu aku mengeluh. Dan setiap kali melihat hal yang menarik, aku ingin mengambilnya. Padahal kalau dibawa serta, hanya akan menambah beban perjalanan.

Lalu kemarin aku sempat merenungkan soal rejeki. Rejeki itu apa? Apa mesti uang? Mestinya tidak, ya? Rejeki itu salah satunya adalah aku bisa ikut misa tanpa terlambat dan pulang tidak kehujanan (padahal mendung sudah cukup tebal). Rejeki itu juga kawan-kawan yang lucu-lucu, yang memberi inspirasi, yang menyemangati. Rejeki itu adalah hati yang bebas. Rejeki itu bisa bangun dengan cukup sehat. Rejeki itu masih bisa makan setiap hari walaupun sederhana. Rejeki itu ditelepon Bapak dan Ibu (eh, mestinya aku yang menelepon, ya? Hihi… dasar anak kurang pengertian.) Rejeki itu bisa ketemu Coco—anjing temanku yang lucu dan senang menciumku. Jadi, yaaa… hidup itu mestinya bersyukur. Nggak cuma melow-melow nggak jelas.

Semua itu benar-benar perlu kuingat. Bagaimanapun, hidup ini mestinya memberi arti. Memberi yang terbaik. Berbuat maksimal—seperti janda miskin yang memberikan seluruh nafkahnya itu.