Ketika WhatsApp-ku Ngambek

Kemarin dan kemarinnya lagi WhatsApp-ku error. Entah kenapa banyak nama tidak muncul di daftar chats. Baru kali ini WA-ku ngambek. Biasanya dia baik denganku. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku install ulang. Waktu install pertama, percakapan yang lama ku-restore. Cukup berhasil walaupun ada beberapa percakapan yang hilang. Lega deh. Tapi tak berapa lama WA-ku ngambek lagi. Duh! Aku pun mengulangi cara kemarin: install ulang. Tapi kali ini aku memutuskan untuk tidak mengembalikan percakapan yang pernah tersimpan.

Hasilnya?

WA-ku baik-baik saja sih. Tapi aku mendadak merasa kehilangan.

Lebay, nggak sih?

Awalnya kupikir hilangnya percakapan-percakapan itu biasa saja. Tapi perasaan kehilangan itu menguatkan pernyataan bahwa aku ini penimbun kenangan. Ya, percakapan dengan beberapa orang memang tidak penting. Tapi percakapan dengan satu-dua orang yang punya arti khusus itu biasanya kusimpan, kueman-eman, dan kujadikan semacam harta karun hati–yang kalau dibaca lagi bisa membuat senyum-senyum sendiri atau malah mau nangis.

Sebetulnya ada pilihan email conversation di WA, tapi aku tidak pernah menggunakannya. Kupikir selama ini tidak perlu. Jadi agak menyesal.

Terlepas dari soal menyimpan atau membiarkan percakapan-percakapan itu hilang, aku berpikir bahwa melepas hal yang remeh pun kadang menimbulkan perasaan tidak enak, ada semacam nyeri yang tak terjelaskan di dalam hati. *Kumat lebaynya.* Tapi yah, kalau untuk hal kecil begini saja aku masih belum sukses “melepaskan”, bagaimana jika kelak waktuku di dunia ini habis? Seberapa rasa nyerinya? Aku jadi ingat nasihat supaya jangan menangisi orang yang meninggal karena akan memberatkan langkahnya. Mungkin benar juga. Kalau ditangisi, dia akan semakin sulit “melepaskan”.

Aku pernah suatu siang naik metromini dan melewati depan Pasar Pramuka, Jakarta. Saat itu aku benar-benar sadar bahwa aku menduduki bangku yang keras, lalu lintas di sekitarku ramai. Suasana di situ semrawut. Jakarta ini hanya rapi di sedikit tempat. Tapi aku berpikir bahwa alangkah berwarnanya dunia ini. Dunia ini memiliki keindahan tersendiri dan dunia rasanya adalah semacam samudera kemungkinan. Kalau kita mati, dunia seperti inilah yang kita tinggalkan. Ada sisi yang kacau, tapi sekaligus ada sisi ajaib dan warna-warni. Mungkin saat ini kita bosan dan kesal dengan dunia ini, tapi bagaimanapun dunia ini menyimpan hal-hal menarik. Di metromini itu aku sempat berpikir, apakah aku sudah siap melepaskan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s