Sepatu Sandal, Sahabatku

Aku lupa sejak kapan aku “alergi” memakai sepatu. Mungkin bukan “alergi”, lebih tepatnya “kurang suka.” Lebih halus kan rasanya? Yah, begitulah bahasa. Pintar-pintarlah menyusun kata apalagi untuk menyampaikan sesuatu yang bisa membuat orang lain tersinggung. *Ngomong untuk diri sendiri.*

Oke, balik lagi ke sepatu. Seingatku sejak aku lulus SMA, aku mulai jarang memakai sepatu. Waktu akan masuk kuliah, sempat aku memesan sepatu kulit di Magetan. Tapi entah mengapa, aku kurang nyaman memakainya. Rasanya kakiku jadi lebih mudah berkeringat. Belum lagi saat memakai sepatu baru, tumitku jadi lecet. Mungkin karena aku tidak memakai kaus kaki, ya. Kurasa sejak itulah aku pun mulai suka menggeser sepatu dan mulai memakai sepatu sandal. Saat membuat tulisan ini aku berusaha mengingat-ingat sepatu sandal seperti apa yang kupakai saat kuliah dulu. Kalau tidak salah mereknya Carvil. Eh, ini bukan iklan lo. Sepatu sandal ini agak berat rasanya. Dan kalau kena hujan, agak merepotkan karena bagian alasnya yang berlapis kulit (?) seperti menyerap air dan bau! Payah, deh. Terus terang aku tidak ingat bagaimana menyiasati sepatu sandal yang basah itu. Mungkin kujemur? Atau mungkin aku memakai sepatu sandal yang lain? Lupa.

Ketika aku bekerja kantoran, aku pun memakai sepatu sandal. Seingatku aku tidak pernah memiliki sepatu, kecuali sepatu kets–yang jarang kupakai. Entah mengapa, aku kurang suka belanja alas kaki. Dan sungguh, aku malas sekali ketika harus berburu sepatu sandal baru karena yang lama sudah rusak. Biasanya aku belanjanya di toko yang itu-itu saja. Seingatku aku biasa beli sepatu sandal di sebuah toko di Jalan Solo, Jogja. Aku sendiri lupa nama tokonya. Karena alasan itu, saat aku ngantor dulu, aku menyimpan di bawah meja kerja sepatu sandalku yang khusus kupakai di kantor. Pikirku, kalau terlalu sering dipakai jalan, akan cepat rusak. Kalau hanya dipakai di seputar kantor, kan lebih awet. Rasanya sepatu sandalku memang cukup awet.

Ketika aku pindah ke Jakarta, aku sempat membawa sepatu sandal yang dulu kupakai di kantor. Tapi karena di sini aku lebih banyak jalan kaki, sepatu sandalku yang khas untuk wanita itu terasa kurang nyaman di kaki. Menurutku sepatu sandal khusus untuk wanita itu kurang cocok untuk berjalan-jalan dan naik turun kendaraan umum. Meskipun haknya cukup pendek–mungkin sekitar 3 sentimeter–aku merasa cepat capek kalau pakai sepatu sandal tersebut. Jadi, akhirnya aku hanya memakainya saat ke gereja. Selebihnya aku lebih nyaman pakai sandal jepit.😀 Parah ya?

Suatu kali aku merasa sudah saatnya aku memiliki sepatu untuk jalan-jalan di Jakarta. Maksudku, aku perlu sepatu yang memang nyaman untuk jalan kaki dan naik kendaraan umum. Kalau bisa yang awet walaupun kena hujan dan panas. *Haiyah, kaya mau jalan keliling Jakarta tiap hari saja.* Saat itu, aku membeli sepatu kain. Enak sih dipakai. Masalah timbul saat hujan turun. Sepatu kain itu seketika menyerap air dan dia mendadak jadi kapal pesiar. Selain itu, belum terlalu lama kupakai, bagian bawah sepatu itu sudah aus.

Akhirnya, ketika pulang ke Jogja, aku kembali mencari sepatu sandal yang pas untukku. Bayangkan, untuk cari sepatu sandal saja aku sampai menunggu pulang ke Jogja. Hebat bener kan? Hehe. Kaya di Jakarta kurang toko sepatu saja. Dan setelah putar-putar, aku menemukan sebuah sepatu sandal. Aku sendiri agak kurang yakin, sandal itu bisa disebut sepatu sandal atau tidak, ya? Orang bilang ini sandal gunung. Tapi aku tidak memakainya untuk jalan-jalan di gunung, tapi di kota. Sesekali saja kuajak dia ke Gunung Agung, Gunung Sahari, atau Gunung Ketur. *Ngelantur.*

IMG_2796

sepatu sandalku selama di Jakarta

Sepatu sandal ini sudah menemaniku kira-kira 3-4 tahun. Lupa persisnya. Memang dari penampilan sepatu sandal ini tidak terlihat cantik. Tapi aku paling suka dengannya. Rasanya nyaman di kaki. Pas. Yang agak masalah hanya saat kena hujan, talinya lama keringnya. Karena itu, saat hari hujan, aku menyimpannya di dalam rumah. Dan kalau terpaksa keluar, aku ganti dengan sepatu sandal lain dari karet yang lebih tahan dengan air. Tapi bagaimanapun, aku paling cocok dengan sepatu sandal itu. Mungkin jika sepatu sandal ini rusak, aku akan mencari yang serupa dengannya.😀

3 thoughts on “Sepatu Sandal, Sahabatku

  1. Itu sepatu sendal khas De Britto! Dulu aku punya banyak sepatu sendal seperti itu untuk sekolah🙂 Dulu pernah juga pesen custom di Bantul! Keren sih, kita bisa milih stripe nya warna apa dan bisa ditungguin langsung jadi😉

    Aku dulu juga sepertimu, tak suka pakai sepatu tapi di Australia sini bekerja harus pakai sepatu karena alasan keamanan (orang sini paling takut menyalahi aturan trus karyawannya luka karena kaki terantuk sesuatu lalu dituntut) dan kenyamanan orang lain, maksudku, mereka menganjurkan kita membungkus kaki supaya tak bau dan baunya menyengat orang lain.

    Memang iya, dulu kakakku yang juga di de Britto punya sandal seperti itu. Pesan di mana aku lupa. Mungkin di Bantul juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s