Ketika Bawang Melambung

Terakhir aku beli bawang kira-kira tiga minggu yang lalu. Waktu itu, sepulang misa hari Minggu aku mampir ke Pasar Rawamangun. Sebetulnya aku cukup suka berbelanja di Pasar Rawamangun karena sayuran di sana bagus-bagus … tapi kesanku lebih mahal dibanding pasar pagi di dekat rumah. Lagi pula, kalau ke Pasar Rawamangun aku mesti naik angkot. Jadi, kalau ke sana biasanya sekalian pulang dari gereja. Oke, balik lagi ke bawang ya. Karena aku ingat persediaan bawang di rumah tinggal sedikit, aku memutuskan untuk membeli bumbu dapur tersebut. “Bawang seperempat, Pak,” kataku kepada penjual bumbu dapur. Dengan cekatan si penjual menimbangnya. “Berapa?” tanyaku kemudian. “Sembilan ribu,” jawabnya. Wuih … mahal amat sih pikirku. Tapi aku bukan orang suka menawar saat di pasar tradisional. Dalam hati sih membatin jika harga bawang di pasar ini lebih mahal. Aku tidak belanja banyak. Hanya beli bawang merah dan tahu.

Beberapa hari kemudian aku membaca berita tentang harga bawang yang melambung. Seketika aku langsung menyesal mengapa tidak beli bawang agak banyak waktu itu. Rasanya aku terlalu cepat menuduh si bapak penjual bumbu itu memberi harga lebih tinggi. Tapi ya sudahlah. Aku menghibur diri dengan mengatakan kepada diriku sendiri bahwa harga bawang sebentar lagi akan turun. Lagi pula Pak SBY katanya mau jualan nasi goreng kan? Kalau harga bawang tidak segera turun, bisa batal dong jualannya.๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Tadi pagi, aku ke pasar pagi dekat rumah. Ketika ke penjual bumbu dapur langgananku, aku bertanya, “Bawang putih sekarang berapa, Mbak?”
“Tiga belas ribu, seperempat kilo. Ini sudah turun. Kapan hari sempat lima belas ribu.” Wih, ternyata harga bawang baru turun dua ribu rupiah, Saudara-saudara. Mungkin aku perlu memutar otak untuk menghemat bumbu dapur–bawang merah dan bawang putih. Salah satu caranya adalah dengan… tidak sering-sering memasak. Hahaha. Itu sih males saja deh kayaknya.

Bawang putih dan bawang merah memang dua bumbu yang sepertinya agak sulit dipisahkan dari menu masakan kita. Tapi di saat harga mereka melambung begini, mungkin kita perlu sedikit kreatif mencari menu yang tidak memakai bawang putih dan bawang merah. Dan … aku menemukan salah satu menu itu. Mau tahu apa? Bukan telor ceplok, kok.๐Ÿ™‚ Menu itu tak lain adalah Bubur Menado (tinutuan). Aku suka membuat bubur ini karena selain mudah, ada beberapa bumbu yang bisa kuambil dari halaman, yaitu sereh dan daun kunyit. Aku paling suka sereh yang masih segar, yang baru diambil.

IMG_4474

sereh dan daun kunyit tinggal memetik dari halaman.

Membuat bubur tinutuan ini cukup mudah. Percaya deh sama aku. Aku ini masih pemula kok kalau masak-memasak. Jadi, kalau kubilang mudah, aku yakin kalian bisa membuatnya juga. Bahan-bahannya sederhana saja:
-Jagung manis (2 bonggol), disisir. Bonggolnya dipotong jadi dua atau tiga. (Nanti bonggol ini dimasukkan ke dalam bubur selama proses memasak. Kata temanku, bonggol ini menambah rasa. Aku sendiri kurang paham benar atau tidaknya. Tapi karena dia lebih sering memasak tinutuan, aku percaya saja.๐Ÿ˜€

-Ubi jalar kuning kira-kira 2 biji. Kalau kecil-kecil boleh 3 biji. Kupas, potong kotak-kotak, 2×2 cm.

-Kimpul 2-3 biji. (Ini sejenis talas, tapi lebih kecil.) Kupas, potong kotak-kotak seperti ubi jalar.

-Labu kuning. Biasanya di pasar dijualnya dalam bentuk potongan sepersekian dari labu yang utuh. Biasanya aku beli 1 potong saja. Tapi kalau tidak ada, tidak pakai juga tidak apa-apa. Kupas kulitnya, potong kotak-kotak.

-Kangkung 1 ikat. Siangi.

-Bayam 1 ikat. Siangi.

-Kemangi 1 ikat. Siangi.

-Daun kunyit 1 lembar. Potong jadi empat.

-Sereh 3-4 batang. Digeprek.

-Garam secukupnya.

-Beras 1 atau 1,5 cup. (Cup-nya aku pakai cup bawaan dari rice cooker.) Cuci bersih.

-Air kira-kira 2-3 kali tinggi beras setelah dimasukkan ke panci. (Maap kemarin lupa menakar, tapi jangan terlalu banyak, dan jangan terlalu sedikit. Kalau dari tinggi panci, kira-kira 1/3-nya.)

Cara memasak:
-Rebus beras bersama air sampai kira-kira setengah matang.
-Masukkan kimpul, ubi jalar, labu kuning, jagung pipilan, dan bonggol jangung. Plus daun kunyit dan sereh. Masukkan juga garam. Tidak usah banyak-banyak. Kira-kira 1 sendok teh saja, biar gurih. Oiya, ini dimasak dengan api kecil. Kalau apinya kegedean, bisa gosong.๐Ÿ™‚
-Setelah ubi jalar dan kimpul empuk dan bubur sudah hampir matang, masukkan segala macam sayur: kangkung, bayam, kemangi. Aduk-aduk sebentar sampai cukup layu sayurannya. Selesai deh.
-Nikmati bubur ini selagi hangat dengan sambal roa. Kalau kalian tidak punya sambal roa, bubur ini bisa dimakan dengan teri medan yang digoreng garing atau ikan asin.

Gampang kan?๐Ÿ™‚

IMG_4468

Bubur tinutuan siap disantap.

Semoga harga bawang segera turun.

7 thoughts on “Ketika Bawang Melambung

  1. sebagai penggemar bubur, maka bubur tinutuan salah satu yg paling saya gemari, karena jauh dari kaldu dan segar sekali rasanya … tapi kok saya blom pernah nyoba bikin yah? Besok ah tak bikinnya, mumpung gak pake bawang juga๐Ÿ˜€ persediaan bawang yg kubeli 1 ons beberapa hari yg lalu tinggal berapa siung mbuh …
    malah udah murah kataku mbak klo dpt 13rb 1/4 kg, lha aku beli 1/4 kg katanya 18rb jeh … hiks larangggg

    wah, sampai 18 ribu untuk 1/4 kg?
    iya, bubur ini gampang kok bikinnya. dan kalau makan bubur ini, aku bisa habis banyak. hehehe.

  2. Wah..ide cemerlang Mbak. Lumayan banget ya menghemat penggunaan bawang. Mungkin kita para ibu rumah tangga perlu membuat list masakan-masakan yang nggak perlu memakai bumbu tertentu. Sehingga jika ada jenis bumbu yang sedang naik, kita bisa menggilir menu yang tidak memakai bumbu yang sedang melambung.

    Iya nih dengan harga bawang yang melonjak begini, mesti putar otak cari menu alternatif. Melonjaknya gila-gilaan soalnya.๐Ÿ™‚

  3. Wah. Buburnya lumayan sedap kelihatannya, ada jagung dan bayamnya…. plus ikan ya, favoritku…
    Sama nih, sekarang kita di rumah berhemat tumisan agar tidak banyak makan bawang….

  4. Aku punya usul, gimana kalo harga bawang ngga usah diturunkan TAPIII gaji semua rakyat Indonesia yang dinaikkan… asik kan?๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s