13

Bukan, aku bukan penggemar angka 13. Angka favoritku 7. Dan belakangan kadang aku suka angka 8 atau 9. Tapi kalau diminta memilih, aku suka angka 7. Angka 7 itu pas. Kalau ujian, dapat nilai 7, kan lumayan. Bisa lulus. Kecuali syarat lulus nilainya harus 8 ya. Ah, tapi kalau soal nilai ujian, aku lebih suka dapat 8–setidak-tidaknya.

Tapi ini tanggal 13. Tiga belas Juni, tepatnya. Dan aku hampir melupakan tanggal ini. Memang aku selalu lupa tanggal belakangan ini. Lupa hari juga. Sepertinya waktu meluncur begitu saja. Yang jadi penanda sekarang hari apa biasanya suamiku. Maksudku, aku bisa tanya ke dia sekarang hari apa kalau dia masuk kerja setiap hari. Kalau sudah Sabtu atau Minggu, itu artinya dia libur. Sesekali saja dia ada kelas sih kalau Sabtu. Tapi tidak selalu. Yang jadi masalah seringkali adalah tanggal. Aku sering lupa.😦

Yang membuatku teringat hari ini tanggal 13 karena kemarin di FB beberapa temanku menyebutkan besok (jadi, artinya hari ini) adalah tanggal 13 dan hari Jumat. Memangnya kenapa kalau tanggal 13 jatuh hari Jumat? Nggak tahu juga sih (malas googling). Tapi aku langsung teringat film seri horor Friday 13th zaman TVRI masih jaya. (Eh, ada nggak sih serial ini di Youtube atau malah ada yang jual?) Kalau yang tahu film ini, pasti orang jadul deh.πŸ˜€πŸ˜€ Iya, kan?

Beberapa belas tahun lalu, aku selalu ingat tanggal 13. Ini ulang tahun sahabatku, mbakyu ketemu gede, Mbak Tutik. Dia teman sekamar waktu kami masih menghuni Asrama Syantikara. Dua malam yang lalu aku mimpi ketemu dia. Lebih tepatnya dalam mimpiku aku telpon-telponan dengan dia. Aku lupa pembicaraan kami persisnya apa. Tapi dalam mimpiku aku agak kaget menerima telepon darinya karena di pikiranku dalam mimpi itu, dia sedang pergi (dan kenyataannya dia sudah meninggal).

Aku senang dalam mimpi bisa bicara sebentar dengan dia. Itu jadi semacam tombo kangen, penawar rindu. Dan rasa-rasanya di saat-saat tertentu kami “bertemu” dalam mimpi. Pernah waktu itu aku pengin sekali mengobrol dengan dia, lalu dia muncul dalam mimpiku dan aku terbangun dengan setengah menangis. Ya ampun, baru sekali itu aku terbangun dengan agak terisak seperti itu. Dalam mimpiku waktu itu dia justru bilang, “Wis, ora usah nangis…” Tapi sepertinya gara-gara ucapannya itu aku malah menangis.

Baiklah, aku tak ingin berpanjang-panjang dan bermelo ria di sini. Biarlah tulisan ini jadi pengingat ulang tahun Mbak Tutik.

Aku isih kelingan ulang tahunmu, Mbak Tut. Kangen ngeteh dan ngemil gorengan lagi denganmu sore-sore di ruang tamu unit.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s