SMS yang Tak Terkirim

Untuk urusan SMS, aku berbeda dengan suamiku. Dia rajin menghapus inbox di hpnya. Jika SMS sudah agak menumpuk, ya kira-kira barangkali 20 SMS, dia akan menghapusnya. Kalau ada yang penting, disimpan. Tapi itu pun sangat sedikit.

Aku sebaliknya. Beberapa kali inbox-ku penuh. Penyebabnya, aku tidak serajin suamiku dalam menghapus SMS. Apalagi kalau SMS itu dari orang-orang dekatku–entah isinya penting atau tidak–maka biasanya SMS itu akan bercokol di hpku sampai lama.

Akhir tahun lalu sampai awal tahun ini, sepupuku datang setelah bertahun-tahun tinggal di negerinya Om Obama. Begitu sampai di Jakarta, dia dan suaminya segera membeli kartu telepon. Awalnya mereka tidak hendak membeli hp, karena mereka membawa hp dari sono. Tapi rupanya hp itu tidak bisa dipakai di sini. Singkat kata, setelah sempat dipinjami hp oleh saudara-saudaranya yang ada di Jakarta lalu membeli hp sendiri, mereka pun bisa bersms dan bertelepon ria. Setelah lama tidak bertemu, tidak disangka kami bisa ngobrol cukup akrab–baik dalam obrolan bertemu muka, maupun lewat SMS.

Sekitar bulan Maret mereka kembali ke Kanada. Sampai sekarang masih ada SMS dari kakak sepupuku tersimpan di hpku. Tentu tidak semuanya kusimpan. Hanya yang membuatku tersenyum geli saat mengingat kebersamaan kami. Oke, memang ada yang sudah mulai kuhapus sih. Tetapi masih ada beberapa yang tersisa.

Kalau SMS dari suamiku, jangan ditanya. SMS darinya paling banyak yang kusimpan, walaupun isinya singkat-singkat, seperti dia sedang ada di mana.

Penuhnya inboxku itu sebenarnya entah karena aku malas menghapus, entah merasa sayang. Aku tak tahu. Mungkin dua-duanya.

Nah, di hp itu kan ada inbox dan ada sent box. Aku sengaja mengatur SMS yang terkirim tersimpan dalam bagian sent box. Tetapi sent box ini lebih jarang lagi kubuka. Belum lama ini aku iseng-iseng membuka sent box di hpku. Kulihat rupanya ada satu SMS yang belum terkirim. Mendadak aku merasa ngilu. SMS itu untuk seorang teman dekatku, yang minggu lalu menghadap Bapa. Isinya berupa kata-kata gurauan sekaligus menyemangatinya yang sedang sakit. Dia memang sedang sakit parah waktu itu, dan karena jarak serta kondisiku, aku tak bisa menjenguknya. (Dia opname di Semarang, sedang aku masih tak bisa berkutik di Jakarta.) Entah mengapa sejak tahu dia sakit, aku tak pernah terpikir bahwa ia akan kalah melawan sakit yang dideritanya.

Oya, nama temanku itu Tutik. Serapina Yuni Hariastuti. Kami dulu seasrama, satu unit, dan satu kamar. Dua tahun aku tinggal sekamar dengannya. Tempat tidur kami atas bawah–dia di bawah, aku di atas. Rasanya dari sekian banyak teman asrama, aku merasa dia sudah seperti kakakku sendiri. Mungkin karena selepas dari asrama, dia pernah sekantor denganku dan sempat tinggal di rumahku di Jogja. Walaupun kemudian dia ditugaskan di Jakarta, dan aku tetap di Jogja, toh kami tetap berkomunikasi. Aku ingat dulu kami beberapa kali berkirim surat dan saling telepon. Kalau aku dapat tugas di Jakarta, dia satu-satunya teman yang kuandalkan.

Entah kenapa aku merasa kami ini punya kemiripan. Bukan karena sama-sama lahir di bulan Juni dan punya zodiak sama, tetapi rasanya lebih dari itu. Yang jelas, kami cocok dalam berbincang. Istilahnya, dia itu teman terbaik dalam hal teng-teng crit alias tenguk-tenguk crita (duduk santai sambil mengobrol). Bukankah pertemanan kebanyakan diisi dengan obrolan? Apa saja bisa kami obrolkan. Jangan heran kalau aku cukup familier dengan cerita lucu seputar tetangga-tetangga di kampungnya, soal adik-adik dan orang tuanya, soal saudara-saudaranya, soal teman sekampusnya, dan masih banyak lagi. Begitu pun dia familier dengan nama-nama kerabatku serta orang-orang di sekitarku. Saking seringnya kami mengobrol, kami kadang memakai acara apa pun untuk mengobrol, termasuk saat dulu mencuci baju di asrama. Kadang aku menemani dia mencuci dengan mengajaknya ngobrol, begitu pula sebaliknya.

Tanggal 22 Juli lalu dia mengirim SMS mengabarkan bahwa kondisinya memburuk. Namun, aku tetap berpikir positif. Selama di asrama dulu, dia anak yang sehat, dibandingkan aku yang beberapa kali kena radang tenggorokan atau kambuh asma. Aku selalu berpikir, dia akan baik-baik saja. Meski begitu, aku mencoba meneleponnya. Aku yang banyak bicara waktu itu, dia hanya bilang dia sulit berjalan. Suaranya agak lirih. Ah, dia pasti sembuh, begitu pikirku. Dan selama ini dia jarang sekali mengeluh. Aku tak berpikir buruk.

Namun, akhirnya tanggal 13 Agustus kemarin, sekitar pukul 13.30 dia pergi untuk selamanya. Rasanya antara percaya dan tidak, karena dua hari sebelumnya dia SMS aku, mengabarkan bahwa kondisinya membaik. Aku ikut lega. Aku kemarin-kemarin berpikir, nanti setelah Lebaran aku akan menjenguknya. (Menanggapi keinginanku untuk menjenguknya, dia selalu bilang kira-kira begini, “Jangan bilang menjengukku. Nanti kita ketemu wisata kuliner yuk! Yang kuharapkan adalah doa darimu.” Hampir tak ada nada keluhan, bukan?) Kadang aku masih beranggapan sekarang dia masih ada, hanya saja dia sudah tak bisa membaca SMS lagi.

Bagaimanapun ketika membaca SMS di sent box-ku, aku jadi terkejut. La, ternyata SMSku masih pending? Entah laporan di HPku itu salah atau benar, aku berharap dia bisa membaca SMSku. Kadang aku masih merasa sedih atas kepergiannya, tetapi akhirnya aku sadar bahwa ini yang terbaik buat dia. Dia sudah terbebas dari sakit yang mengungkungnya. Ia sudah bertemu dengan Sang Mahacinta yang bisa memeluknya dengan cinta yang jauh lebih hangat daripada teman dan kerabatnya, yang bisa melepaskan seluruh deritanya. Sudah seharusnya aku ikut bahagia bukan?

Saat bersama Mbak Tutik di Bali. (kiri-kanan: Mbak Tutik, Yusi, aku.) Foto oleh: Maxda

Akan kusimpan banyak cerita buatmu, Mbak Tut.
Simpan ceritamu tentang negeri yang damai itu ya! 

16 thoughts on “SMS yang Tak Terkirim

  1. Oiya, soal menyimpan SMS, kita punya kesamaan😀
    Dan untuk alasan menyimpannya pun hampir sama,
    seringnya kelabakan ketika sudah tidak bisa mengirim/menerma sms karena overloaded, yang mana yang harus dihapus ya??? payah hiks …

  2. Hmmm…. aku tau bagaimana rasa kehilangan itu, Nik…
    Dua bulan lalu aku memutuskan menghapus semua SMS yang terkirim dan kuterima karena kalau tidak aku selalu sedih membacanya.. Di situ ada sms yang datang dari Chitra adikku mengabarkan saat pertama kali Papa kena stroke dan tiap perkembangan Papa sebelum meninggal.

    Ada juga sms yg tak terkirim ke adikku waktu itu, “Chit, kalo ada apa2 selama aku di atas pesawat, kabari Joyce”

    Bukan menghapus untuk melupakan yang tlah lalu, tapi ada kalanya kita harus menatap masa depan yang suatu waktu juga akan jadi masa lalu..

  3. Kris …
    Ada tiga hal …

    1. Mbak Tuti
    Saya juga ikut mendoakan semoga mbak Tuti tenang disana … dan Kris benar … saya rasa ini adalah jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk dia

    2. SMS
    Kris punya tabiat yang sama dengan saya … Inbox saya itu selalu cepat penuh … Why … ? karena isinya dalah SMS yang sengaja saya simpan … Terutama dari Anak saya … (juga Ibunya …)(hehehe). Bedanya adalah … Sent Item … saya memang sengaja tidak mengaktifkan fitur penyimpanannya

    3. teng-teng crit
    Saya tersenyum …
    Ada-ada aja istilahnya …
    Tapi ini penyebutan yang OK banget … tenguk-tenguk sambil crita … hahaha

    Salam saya Kris

  4. Aku juga mengalami hal yang hampir mirip, Kris…

    Beberapa bulan yang lalu, kawan baikku meninggal dunia. Kami satu angkatan di pesantren dulu.
    Beberapa hari sebelum puasa, aku berkirim sms massal ke kawan2, yg isinya adalah mengajak mengumpulkan donasi untuk sekedar bantuan bagi anak2 yatim dari kawan kami yang sudah mendahului… Ketika satu persatu nomer hp kawan2 itu kutekan, tiba-tiba aku sampai di nama almarhum. Ah, ternyata aku belum sempat menghapus nomer hape-nya. Cukup lama aku tercekat dan terdiam, sampai kemudian tersadarkan… Aku bergetar…

    Semoga kawanmu itu berbahagia di sana ya Kris…

    • Eh sampai lupa…
      Aku juga kerap menyimpan sms, terutama sms yang kuanggap penting…
      Apalagi kalau sms itu berkaitan dengan pekerjaan. Sampai berbulan-bulan tetap saja kusimpan, hehehe…

  5. AH terharu saya bacanya.
    Saya juga suka menyimpan SMS yang penting-penting, bahkan ada yg disimpan di kartu jadilah pernah saya pindahkan k hp lain setahun kemudian dibuka, smsnya masih ada😀.
    Semoga alm bisa beristirahat dengan tenang di alam sana ya. Ikut sedih dan kecewa jg dengan sms yg terpending. Mengingatkan diri utk selalu cross check bila hrs kirim sms.

  6. Semoga mbak Tutik telah damai di sana Menik….dan dia tahu kalau Menik menyayanginya.

    Sms…ahh Menik ini seperti suamiku. Hati-hati lho, kalau tak pernah atau jarang menghapus, bisa hang, dan akhirnya semua data menghilang. Saya termasuk rajin menghapus, karena kawatir hang ini.

    Istilahmu lucu deh..teng-teng-crit…istilah Yogyakah? Yang suka menyingkat kata-kata?

    wah saya kurang tahu deh bu, itu istilah khas Jogja apa tidak. awalnya dulu saya kenal istilah itu dari teman sekantor saya. eh, kok sptnya asyik juga kedengarannya. akhirnya ya saya pakai terus😀

  7. Kris, aku turut berduka cita atas kepergian Mbak Tuti. Aku tahu ceritanya dari Nana, kami sempat BBM-an waktu aku ke Bandung kali ke dua bersama Gen dan anak-anak. Nana cerita tentang Mbak Tuti yang tegar dan kuat menahan sakit bertahun-tahun. Dan meninggal hari Sabtu, pas aku mengajak kamu datang ke Belleza. Memang sudah pasti kamu tidak bisa datang, dan maaf aku tidak banyak bertanya ada apa.

    Kesedihan akan kehilangan teman karib itu bagaikan kehilangan saudara. Meskipun saudara itu tidak setiap hari ada di hadapan kita, tapi kalau kita tahu kita tidak bisa mencapainya di dunia ini, rasanya sedih sekali. Kita doakan supaya mbak Tuti sudah berbahagia di pangkuan Tuhan di Rumah Bapa.

    Aku sama denganmu soal sms, dan email. Kalau perlu email yang berkenan di hatiku aku simpan dalam file khusus. Demikian juga dengan chat. Meskipun aku jarang buka lagi, tapi dengan mengetahui bahwa percakapan/komunikasi dengan orang itu ada tersimpan, sudah menentramkan hati. Dan kadang menguatkan waktu aku merasa labil. BBku tidak bisa dipakai di Jepang, tapi masih bisa kubaca isi smsnya. Nanti aku akan tanya bagaimana cara mengkopinya utk di filing saja.

    Meskipun sms mu tak sampai, aku tahu Tuhan sudah menyampaikannya pada Mbak Tuti, dan anggap saja memang sudah seharusnya begitu.

    EM

    Waktu mau janjian dg Mbak EM itu aku belum tahu kalau Mbak Tutik meninggal. Dia meninggal pk 13.30 Sabtu itu. Yah, memang dia sakit sudah lama. Dan dulu dia bbrp kali cerita ttg pengobatan yg dia jalani serta perkembangannya. Aku tak menyangka ia pergi hari itu, wlpn aku tahu sakitnya sudah parah.

    Seandainya aku ikut ke Beleza, aku mungkin malah jadi “orang aneh” di sana ya? Hehe.😀 Soalnya dari siang sampai malam, moodku saat itu jelek sekali. Sedih banget. Tapi memang harus ikhlas. Dia pasti sudah bahagia sekarang.🙂

    Terima kasih atensinya Mbak🙂

  8. Aku sedih banget waktu kamu kabarin Mbak Tutik meninggal. Memang kedekatanku dengan Mbak Tutik nggak sedekat kamu dan dia.. tapi beberapa kali Mbak Tutik menemani aku di ruang tamu UBB itu kalau aku lagi sendirian di UBA… dia teman yang menyenangkan…
    Aku bisa mengerti rasa dukacita dan kehilanganmu itu Nik…

    Aku gelo banget saat denger kabar itu. Waktu aku tanya no HP-nya mbak Tutik, aku menunda-nunda untuk kirim SMS, takut mengganggu istirahatnya, takut SMSku malah nggak berkenan.. aku menunda, menunggu sampai mbak Tutik lebih baik kondisinya. Aku memberikan no HP-nya pada kakak tingkatnya di SMAnya dulu, dan juga ikut ubyek ngopyak-opyak salah satu adik kelasnya untuk ikut memperhatikan Mbak Tutik, atau kalau sempet bezoek ke Semarang.
    waktu dikabari mbak Tutik membaik, aku ikut lega. Hari Sabtu aku berencana mengirim SMS padanya, kupikir kondisinya udah baik… nggak taunya aku dapat berita itu. rasanya nyesel, gelo banget, kenapa aku nggak segera kirim SMS dan malah menunda-nunda ya…
    aku bener-bener tak mengirimkan SMS padanya… semoga dia bahagia di tempat barunya ya Nik…

    aku juga ingat dulu kami pernah suatu kali sama2 hampir tidak mudik waktu lebaran. biasanya aku ke tempat simbah, tapi kala itu aku sedang kumat malesnya. dan mbak tutik sempat menawariku untuk ikut bersamanya, lebaran ke rumah neneknya. tapi akhirnya aku tidak jadi ikut dia karena bapakku menjemputku untuk ke rumah simbah. dia memang teman yg suka menemani🙂 ya, semoga dia bahagia.

  9. Baru baca Nik, tau gak, sms2mu mulai saat ngabari Tutik sakit, trus sms dari Tutik dan dari Bapaknya selama Tutik sakit sampai saat kritis, semua masih tersimpan di hp-ku. Keinginanku, sms itu kurangkai dengan sent message-ku, bisa menjadi sebuah cerita kenangan tentang saat-saat terakhirku bersama Tutik. Tapi kok belum tatag ya memulainya….

  10. Ah…membaca ini jd ingat almarhum sahabatku itu Kris… siang chatting, malam sms-an, pagi2 nelpon, kadang alurnya bisa spt itu. Tapi mba Tutik sudah damai di sana ya Kris, mari kita doakan saja sahabat2 kita itu🙂

    Iya Mbak, cuma bisa mendoakan sekarang. Padahal masih suka kangen ngobrol lagi dengan dia🙂

  11. Pingback: Pengingat Manis di Dunia Maya | My Writings

  12. Pingback: 13 | My Writings

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s