Amplop Sumbangan

Lelaki itu naik ke atas metromini sesaat setelah bus oranye bernomor 47 itu merapat sebentar ke trotoar. Aku tak langsung melihat wajahnya. Berjalan dari pintu belakang, yang pertama kali kulihat adalah sepatu kets hitamnya yang usang. Jahitan sepatu yang sebelah kanan mulai terbuka, dan dari situ terlihat kulit aslinya yang gelap. Celana panjangnya yang berwarna hijau lumut pun tampak sama usangnya. Entah terbuat dari kain apa celana itu, tetapi benang-benang kain celana itu di beberapa tempat tampak menggumpal seperti benang wol murahan yang kusut.

Lelaki itu mulai berdiri di dekat pintu depan. Agak lama aku menunggu suaranya. Loh, kok nggak kedengaran ya? Aku mendongak dan kulihat dia berkomat-kamit. Lirih sekali suaranya, hampir tak terdengar–padahal aku duduk tepat di depannya. Apakah telingaku memang benar-benar sudah soak ya?

Tak lama kemudian, dia lalu membagikan amplop putih dengan stempel tulisan warna biru di bagian atasnya. Kubaca sekilas, tetapi tak kuingat apa tulisan yang tertera di situ. Yang jelas, itu bukan tulisan cakar ayam berisi permintaan tolong seperti yang biasa ditulis pada amplop-amplop lusuh yang biasa dibagikan anak-anak jalanan di dalam angkot. Itu adalah amplop bertuliskan alamat sebuah tempat sosial dengan nama berbau agama tertentu.

Aduh!

Aku yang awalnya iba mendadak jadi kesal. Aku malas menghadapi orang yang meminta uang dengan cara yang tidak elegan seperti ini, apalagi sambil membawa embel-embel agama tertentu. Mungkinkah, si bapak itu berpikir jika orang yang ia beri amplop itu agamanya sama dengan dia, orang akan lebih mudah memberi uang? Lagi pula, mengapa sih tidak meminta secara jujur saja? Katakanlah, dia bilang bahwa dia tidak punya uang lagi untuk beli makan, mungkin aku mau memberi uang kepadanya.

Aku tidak tahu apakah orang itu berbohong atau tidak. Tetapi aku berpikir mengapa orang yang meminta uang dengan embel-embel agama tertentu atau dengan mengatakan bahwa uang itu nantinya untuk panti asuhan X atau untuk pembangunan tempat ibadah tertentu, tidak melakukannya dengan sedikit lebih elegan? Maksudku, tidak asal meminta. Tapi lakukan sesuatu. Misalnya, dengan berjualan, mengumpulkan barang bekas untuk dijual, atau yah minimal mengamen dengan baik dan santun. Dari yang pernah kulihat, dengan melakukan sedikit usaha, orang biasanya justru dapat uang lebih banyak–dan dihargai. Melihat kenyataan itu, aku kadang lebih menghargai pemulung yang mau mengais sampah demi mencari barang-barang yang bisa dijual lagi.

Ngomong-ngomong, kalau kalian disodori amplop permintaan sumbangan di atas angkot, apa sih yang terlintas dalam benak kalian?

25 thoughts on “Amplop Sumbangan

  1. saya sama sekali tidak mau memberi bila disodori amplop seperti itu, dimanapun…!

    sering juga di depan pintu atm, seseorang dengan pakaian rapi, berdiri dengan sangat sopan dan memberikan secarik amplop yang dicetak bagus, saya tetap tidak mau memberinya.vbagiku, itu adalah cara melecehkan agama yang dibawanya, meski itu berbentuk permintaan sumbangan.

    bila ingin meminta sumbangan, cukuplah menyerahkan sebuah surat permohonan dan menyebutkan alamat lengkap agar orang bisa mendatanginya secara langsung, bukan dengan mengelabui melalui amplop tersebut.

    • Uda, saya kalau mau ngasih sumbangan tuh pilih2. Saya jg lebih suka memberi sumbangan ke suatu yayasan yg memang sudah jelas, yang jelas ke mana uang itu disalurkan dan saya percaya betul uang itu tidak disalahgunakan.

  2. saya tidak pernah memberikan sumbangan yang diminta seperti yg kamu sebutkan tadi, Kris!

    sama seperti pemikiranmu, belum tentu masuk ke kas pembangunan ini itu atau sumbangan yatim piatu.

  3. ..
    Aku sih kalo ada duit ya ngasih, tp kebetulan jarang ada hik..hik..
    ..
    Aku kalo ngasih selalu berpikiran positip aja..
    Memang sih gak mendidik, mo gmana lg pemerintah gak bisa ngasih lapangan kerja..
    ..
    Memang sih cara mintanya kadang gak asik, namanya juga orang kepepet..
    Karna enggak tau latar belakangnya, jadi ku gak berani menjudge orang..
    ..
    Ku lebih sebel sama orang kaya yg masih nyuri..

  4. Saya tak pernah mau memberi sumbangan seperti itu. Kenapa? Karena kalau kita menyumbang harus rela, dan harus tahu uang tersebut digunakan untuk apa dan kemana tujuannya.

    Bukankah kita masing-masing punya kewajiban untuk menyisihkan uang yang kita terima sesuai agama masing-masing? Dan kita pasti menyerahkan pada tujuan tertentu pada orang yang memerlukan. Permintaan seperti itu yang mengatas namakan agama, justru benar kata Uda Vizon, malah menjadi melecehkan agama.

    • Memang yg penting itu kerelaannya ya Bu. Makanya saya kalau ada setitik ketidakrelaan, memilih mending nggak ngasih…. (ini pelit atau apa ya? hihihi)

  5. Saya kembalikan kembali amplopnya …
    Persis seperti semula …
    Ini kan sesuai kerelaan kita …
    Jika saya tidak rela …
    lebih baik saya tidak memberi …

    Jaaaauuuhhh lebih enak memberi langsung ke panti asuhan atau rumah ibadah …
    lebih tenang

    Salam saya Kris

  6. Jaman aku SMA sering banget ketemu sama orang macam ini.

    Aku si gak masalah ngasih sumbangan buat pengamen ato yang minta sumbangan yang katanya buat panti asuhan ato pendirian Masjid dll dsb, dan aku juga gak peduli itu bohongan ato beneran.

    Tapi aku pilih pilih. Kalo yang ngamen asal cuap, kasih 100 paling, ato 200 perak (taon 2000 – 2002 an). Kalo nyanyinya TOP, aku pernah kasih 5000, sampe yang ngamen suwun suwun, hahaha. (nyanyi lagunya koes plus bagus banget dulu).

    Kalo yang minta sumbangan dengan kedok agama dan amal, aku gak keberatan ngasih, kalo PRESENTASI nya bagus dan meyakinkan.

    Kalo yang model kayak baca mantra, dan komat kamit gak kedengeran, serta matanya melirik ke jendela, menatap kosongnya langit… bah, waktu dia nyodorin amplop mah, aku juga terus menatap kosongnya langit dan membisu.

  7. kalo di angkot ya pura-pura ngga mudeng …
    tapi aku sendiri belum pernah mengalami spt ini.
    Yang ada orang itu datang langsung ke rumah.
    Biasanya dia tahu nama papa, dan bilang ke pembantu minta bertemu.
    Papa biasanya akan bilang ..suruh ke kantor (dan biasanya mereka tahu tuh kantornya di mana hihihi)
    Dan di kantor, biasanya papa kasih biarpun sedikit (sampai mama ngomel-ngomel….)
    Tapi aku sendiri tahu kondisi papa, yaitu tidak bisa menolak. Sifatnya nurun banget ke aku hehehe

    Dan kalau ditanya, kok kasih ke mereka, itu pasti masuk kantong sendiri. Jawab papa, “Biar saja, itu urusan dia dengan Tuhan. ”
    Karena itu saya juga selalu berpikiran orang yang menipu kami/saya itu tidak berbuat jahat kepada kami, tapi berbuat dosa kepada Tuhan.

    Soal sumbangan…. sulit memang….

    EM

    • Mbak, benernya aku juga suka nggak tegaan. Tapi entah gimana, di kepalaku sudah ada pemikiran bahwa mereka itu PASTI menipu. Jadi biasanya aku nggak ngasih. Kadang setelah itu aku merasa bersalah. Tapi kalau aku kasih, aku merasa jadi orang bodoh …😦

    • Aku hampir nggak pernah memberi juga. Dan aku sepakat denganmu, agama mana pun rasanya nggak ada yg menganjurkan pemeluknya utk jadi peminta-minta. Tapi kenapa ya banyak banget orang yg meminta2 pake embel2 agama?

      Btw, makasih sudah mampir ya Mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s