Departures yang Sempurna

Aku selalu menyukai cerita yang mendalam. Yang bisa mengantarkanku pada suatu permenungan dan kadang hal itu membuat menangis … (yes, memang aku kadang cengeng hihi). Dan aku sering tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa membuat cerita yang bagus, yang membuat orang terdiam, lalu melongok ke dalam dirinya sendiri. Kelihaian si penyusun cerita itu bisa menguntai kata demi kata, lalu menggabungkan peristiwa demi peristiwa tanpa terasa membosankan … biasanya akan membuatku menaruh respek besar kepada si penulis cerita. Dan biasanya setelah menikmati cerita yang bagus dan memuaskan, rasa puas itu akan menempel terus. Seperti kalau kita mendapat mimpi indah, biasanya sampai besok paginya akan terkenang-kenang kan? Nah, kira2 begitulah rasanya kalau aku merasa puas dengan suatu cerita tertentu.

Ceritanya, hari Jumat lalu (11/12/09), aku dan suamiku ke Blitz lagi untuk menyaksikan film2 Jiffest. Kali ini aku menonton dua film, yang pertama judulnya Departures dan yang satunya lagi 500 Days of Summer. Dari dua film itu, aku terkiwir-kiwir dengan film Departures ini. Sampai hari ini aku masih ingat betul bagaimana rasanya kepuasan yang aku rasakan. Aku tak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Tapi rasanya itu nancep banget di hati. Tak terlupakan seperti ciuman pertama.

Okuribito atau Departures ini menyabet piala Oscar untuk kategori film asing terbaik. Memang tak salah bagi para juri Oscar itu, karena film Jepang ini keren abis. Kalau aku bilang sih, film ini sempurna. Ceritanya menarik, yaitu soal pengantar mayat. Di sini dikisahkan Daigo Kobayashi, terpaksa kehilangan pekerjaan sebagai pemain cello karena kelompok orkesnya bubar. Sepertinya semakin sedikit orang yang menonton orkes itu, padahal musik yang mereka bawakan bagus banget lo! (Heran deh, kok sampai sepi penonton gitu ya?) Nah, Daigo kemudian pulang kampung bersama istrinya, Mika Kobayashi, ke rumah peninggalan ibunya. Mau kerja apa di kota kelahirannya itu? Suatu pagi, dia menemukan iklan lowongan pekerjaan. Dia lalu mendatangi perusahaan yang memasang iklan tersebut. Dia pikir perusahaan itu adalah agen perjalanan. Ternyata oh ternyata … itu adalah agen yang mengurusi jenasah (yang digambarkan di film itu adalah membersihkan, merias, dan memasukkan jenasah ke peti mati). Dan dia langsung diterima di situ dengan bayaran yang gede banget!

Di Jepang, rupanya itu dianggap pekerjaan hina. Memegang mayat orang lain (yang bukan sanak keluarga) dianggap hal yang kotor oleh masyarakat Jepang. Dari blog Yusahrizal, aku tahu bahwa biasanya pekerjaan ini dilakukan oleh pendatang (biasanya orang Korea). Namun, meskipun mendapat cibiran dari orang-orang sekitarnya (termasuk istrinya–pada awalnya), Daigo melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Kalau mau tahu sinopsis dan ulasan film ini, cek saja di sini, sini, dan sini.

Aku mau cerita saja soal kesanku terhadap film ini. Dari mbak Imelda, aku tahu bahwa film ini proses pembuatannya selama 10 tahun! Ya, sepuluh tahun. Gila ya? Tidak heran kalau film ini tampak sempurna. Ada beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya ketika menyaksikan film ini. Yang pertama adalah kenapa ya Daigo kurang terbuka terhadap istrinya? Waktu ia tidak lagi bisa menjadi pemain cello, yang dipikirkannya pertama kali adalah bagaimana ia bisa membiayai cello miliknya? Cello itu masih kredit rupanya. Dan harganya ampun-ampunan: 18 juta yen! (Duit semua ya itu?) Waktu beli cello itu, dia tidak bilang kepada istrinya berapa harga sebenarnya. Daigo bilang, dia khawatir istrinya tidak akan memperbolehkannya membeli cello itu. Dan Daigo awalnya juga tidak memberi tahu istrinya, apa pekerjaan yang didapatnya (sebagai pengurus jenasah). Kok bisa ya? Masak istri sampai nggak tahu apa pekerjaan suaminya sih? Pertanyaan kedua yang muncul di benakku adalah kenapa Daigo sepertinya membiarkan begitu saja ketika Mika meninggalkan dia? Mika pergi karena ia malu dan tidak setuju dengan pekerjaan Daigo. Tidak ada ceritanya Daigo ini tergopoh-gopoh menyusul istrinya. Jepang banget deh!

Kesanku yang lain adalah film ini sangat menyentuh hati. Bagian yang menyentuhku adalah ketika Daigo mengurus jenasah ibu temannya. Tidak terbendung deh air mata yang mendadak mengalir dari mataku. Pas adegan itu juga tidak banyak kata-kata, hanya bahasa gambar. Tapi kesannya daleeeem banget. Adegan lainnya yang sangat menyentuh adalah ketika Daigo mengurus jenasah ayahnya. Huaaaa … nangis bombay deh! Mana waktu itu aku sedang pemulihan batuk, pilek. Jadi, masih belum longgar banget hidung dan tenggorokanku. Akibatnya aku jadi susah bernapas gara-gara air mataku meluncur deras. Malunya itu waktu keluar dari bioskop, mataku kelihatan banget kalau sembab. Huh!๐Ÿ˜ฆ

Soundtrack film ini juga pas banget. Sempurna! Membuat hati semakin terpilin-pilin. Dan jelas membuat air mataku semakin deras mengalir. Parah deh! Pengambilan gambarnya juga bagus. Terutama waktu menampilkan angsa yang sedang terbang itu untuk menggambarkan jiwa orang yang meninggal. Kesanku tuh menyentuh dan pas banget. Aku jarang-jarang nonton film Jepang. Kata suamiku, film Jepang yang dibuat di studio Shochiku biasanya bagus.ย  Dan oiya, Masahiro Motoki yang menjadi Daigo Kobayashi cakep banget! Hi hi hi :”>

Kalau ada kesempatan aku mau menonton film ini lagi. Tapi di mana dan kapan ya?

27 thoughts on “Departures yang Sempurna

  1. ketiga… hehe.. komen nih… film jepang ya?? dari review sekilas disini kayaknya bagus.. jadi interest nih.. soalnya saya pecinta dan penikmat film [lebih parah dari penggila film/moviefreaks]

  2. reminded you of Kurosawa’s masterpiece, yes?
    hay, mbak kris! mungkin nek aku ndelok potomu aku iso kelingan, my dear kakak kelas ๐Ÿ˜€

  3. Ah, aku kayaknya kapan hari baca film ini direkomendasikan juga di blog temenku, entah siapa lupa. Departure… kayaknya memang menarik ya? Hehehe.

    Gila aja tapi rating 8.2 di IMDB… Itu tulisannya 2008, kamu lihat di bioskop? Ato DVD nya udah keluar ya?

      • Oh, ya itu, bioskop kok muter film taon 2008. Blitz jiffest itu apa ya? Haha. Japan something2 festifal?

        Aku tadi cari di torrent, ada ternyata, walau sudah hampir punah seedernya๐Ÿ™‚ — nanti malam menonton. Hidup bajakan!

      • Jiffest tuh Jakarta International Film Festival. Diadakan tiap tahun setauku. Buka aja di http://www.jiffest.org/. Jiffest kali ini diputernya di Blitz Megaplex. Semacam “saingan”-nya jaringan bioskop 21.

        Hidup bajakan (juga)! Haha. Memang asyik tuh kalau bisa dapat bajakan yg kualitasnya bagus…๐Ÿ™‚

  4. Sesaat sebelum membaca, kupikir kamu akan mengulas Departure-nya Leonardo di Caprio :))

    Entah kenapa aku tak terlalu suka film2 Jepang, Taiwan dan Korea… Bukannya menuduh mereka itu crapy things lho… tapi entah kenapa otakku seperti terpatri berpikir bahwa tak ada film Jepang yang lebih hebat ketimbang Oshin dan tak ada film Chinna yang bisa lebih hebat ketimbang film2nya Bruce Lee..

    Naif banget ya? :))

  5. Ya …
    saya pertama kali mengenal ada judul film seperti ini, ketika film ini dibahas oleh Imelda teman nara blog yang ada Jepang

    Dan memang dari komentarnya … film ini bagus …

    Ah jadi kepingin melihat nih … seperti apa “perasaan”yang katanya Kris … menancap … tak terlupakan … seperti ciuman pertama (yang dicoret)๐Ÿ™‚

    Salam saya

    • Iya Pak, saya awalnya tahu film ini juga dari postingannya Mbak Em. Kebetulan di Jiffest kemarin diputar. Bagus banget ternyata…

  6. Aku sudah pernah membaca resensi film ini di blognya Mbak Imel. Menurut Mbak Imel, ini memang film bagus.

    Tentang pertanyaan Kris, kok bisa seorang istri nggak tahu pekerjaan suaminya? Sangat bisa! Mungkin Kris hidup di lingkungan orang-orang yang lurus, sehingga segala sesuatu berjalan serba benar. Tapi di dunia ini, sangat banyak orang yang hidupnya diselimuti tipuan dan kebohongan. Cukup banyak orang yang tidak benar-benar mengenal pasangan hidupnya, bahkan meskipun sudah belasan tahun hidup bersama.

    Tips buat Kris kalau mau nonton film : bawa kaca mata hitam yang lebar, jadi kalau habis nangis nggak kelihatan mata sembabnya … hehehe …

    • Bu Tuti, memang benar banyak pasangan suami istri yang saling memakai topeng, jadi banyak yang tidak benar2 saling mengenal.

      Bu, waktu itu saya menontonnya malam hari. Kalau pakai kaca mata hitam, bisa “blawur” nanti. Hehehe. Tapi ide memakai kaca mata hitam yg lebar itu bisa dipertimbangkan…. hehehe

  7. Aku sudah nonton lho filem ini. Memang bagus banget, apalagi si Ryoko Hirosue main nya sangat menjiwai๐Ÿ™‚

    Tapi kok ini blog ndak ada update yah, padahal aku sudah menunggu huhuhu. Mari menulis?

  8. Hehehe saya ngiri deh…dulu saya juga suka ngejar film bagus di festival film (walau beda selera dengan suami hehehe), biar film lama kalau belum pernah nonton tetap saja suka…(harus siap-siap kacamata hitam juga kayaknya…hehehe).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s