Ingatan dalam Sepotong Hujan

Tok

Hujan selalu membaurkan berbagai ingatan. Kenangan. Ingatan tentang dirimu. Kenangan tentang kita.

Aku tidak suka hujan. Hujan membuatku sulit menemui kamu–dulu. Membuatku harus mengenakan mantol, dan berbasah-basah saat memencet bel rumahmu. Dan dua batang cokelat yang kusimpan di tasku ikut basah.

Semalam hujan. Tapi aku mengingat kamu. Mengenang kita. Mungkin ingatan itu serupa kabel-kabel tak kasat mata yang menghubungkan antarpulau, sehingga mendadak dalam pekatnya kenangan, kudengar bunyi pesan di ponselku. Apakah itu Ning?

Mas Tok sampun sare?

Aku sudah berusaha memejamkan mata. Tapi ingatan tentang kamu ketika dalam dekapan begitu jelas.

“Belum, Dik. Kamu kok belum tidur selarut ini?”

Aku masih harus mengerjakan beberapa hal, Mas. Dan aku kok kangen, ya.

“Sama. Di sini hujan. Aku ingat kamu, Dik Ning.”

Oya?

Iyalah.

Mas Tok selalu ada dalam kepalaku. Dalam ingatanku.

Dik, kamu pun selalu menjadi bagian dari hidupku dan tubuhku.

(Karena rasa kita begitu dalam. Kamu ingat? Pada suatu waktu, saat di luar hujan mengguyur, kulit kita pernah saling menempel, melekat kuat, kurasakan cintamu menguar dari pori-porimu dan kamu melingkupiku diriku dengan gairah yang menggelora. Itu sebabnya, kamu selalu menjadi bagian dari tubuhku.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s