Nostalgia Lebaran

Hari Minggu ini aku sebenarnya maunya misa tadi pagi, pukul 06.30. Tapi semalam aku batuk-batuk dan susah tidur, jadi akhirnya bangun kesiangan. Pukul 7 kurang 10 mataku baru melek. Yaaaa…Ā  niat misa pagi, buyar langsung. Mau ikut misa kedua, rasanya malas. Karena itu artinya aku harus cepat-cepat mandi dan dandan. Aduh, mata masih 2 watt suruh mandi pagi?

Akhirnya, pagi tadi aku ke pasar. Belanja buat persediaan stok makanan selama pekan lebaran ke depan. Beginilah kalau lebaran tidak mudik. Mesti stok bahan makanan. Eh, yang lebaran di rumah pun mestinya belanjanya lebih banyak ya? Aku belanja tidak banyak, hanya beli daging, wortel, kentang, daun bawang, seledri. Maunya sih masak sup. Yang gampang saja sih.

Akhirnya aku misa Minggu sore pukul 17.00. Kalau ikut misa pukul 19.00, kupikir bakal repot pulangnya karena mungkin orang-orang sudah pada takbiran kan? Pulang gereja pun aku mampir-mampir. Setelah menunggu agak lama, aku tidak melihat angkot 02 yang ke arah rumah. Ya, sudahlah. Aku menyetop bajaj. Lagian sudah mulai gerimis. Aku khawatir kalau tiba-tiba hujan. Males saja sih berbasah-basah.

Sampai di rumah aku dengar orang-orang sudah mulai takbiran. Suara itu selalu melayangkan ingatanku ketika Mbah kakung masih sugeng (Jw–masih hidup) dan masih tinggal di Kayuwangi. Suara takbir itu selalu kunikmati sambil duduk di ruang tamu Simbah, di kursi rotan. Suara gareng pung bersahutan dari kebun sekeliling rumah Mbah. Udara dingin yang masuk lewat sela pintu dan jendela membuatku merapatkan jaket atau sarung. (Aku suka kerukupan pakai sarung kalau dingin.)

Dulu, lebaran berarti aku ikut arus mudik. Seingatku sampai aku kuliah dan bekerja di Jogja, aku masih ikut tradisi mudik. Sebetulnya bukan murni mudik bagiku, karena yang mudik adalah Bapak. Sowan Mbah kakung, menurutku. Karena simbah berlebaran, maka anak dan cucunya mesti ikut beramai-ramai berlebaran juga.

Sebetulnya kenangan lebaran di kepalaku tidak meninggalkan rasa yang cukup manis.Memang, aku berkumpul kok dengan keluarga–dengan Om, Tante, Pakde, Bude, Simbah, serta para sepupu. Dan yang namanya kumpul-kumpul itu kan senang ya? Kalau soal dapat uang dari om dan tante pas lebaran, aku senang. Kalau soal nyicipi opor, ketupat, dan kue-kue, aku senang. Tapi apanya yang tidak cukup manis? Pas di jalan. Pas harus berdesak-desakan di dalam bus. Aku ingat suatu kali aku mesti ke rumah Mbah kakung dengan kakakku. Mungkin awal-awal aku kuliah waktu itu. Lupa. Kami naik bus dari Jogja, berangkat dari terminal Umbulharjo. Iya, dulu terminalnya masih di situ, belum pindah ke Giwangan. Kebayang kan, betapa jadulnya diriku? :)) Aku dan kakakku mencari bus jurusan Semarang. Ketika menunggu bus mau jalan, datanglah pengamen. Masih muda, nyanyi apa aku lupa. Setelah menyanyi dia meminta uang dan memaksa! Aku takut. Kakakku bilang kami tidak punya uang kecil. Tapi pengamen itu ngotot, katanya mau memberi kembalian. Aku lupa kakakku memberi uang berapa akhirnya, tapi seingatku jumlahnya cukup besar waktu itu. Mungkin seribu. Jaman itu, duit seribu sangat besar jumlahnya.

Kenangan lainnya adalah ketika aku dan keluargaku tidak dapat tempat di bus. Jadi, kalau dari rumah Mbah kakung ke Jogja, kami mesti menyetop bus yang dari arah Semarang yang lewat Ambarawa. Jelas dari situ bus tidak ada yang kosong. Kebanyakan sudah penuh dan banyak yang berdiri. Padahal waktu itu kami tidak hanya bawa badan, tapi bawa koper juga. Iya, koper dan dan travel bag. Lalu ketika bus datang, kami mesti berlari-lari dan cepat-cepat naik supaya bisa terangkut. Kebayang rempongnya bawa tas-tas sebanyak itu dan mengejar bus? Asyik banget deh. Haha. Lalu, ketika sudah sampai di dalam bus, kami seringnya tidak dapat tempat duduk. Alhasil, aku mesti berdiri paling tidak Ambarawa-Secang. Lumayan membuat keriting betis deh.

Sewaktu tinggal di Jakarta, aku punya alasan untuk tidak mudik. Yang pasti, tiket harganya selangit. Dan lagi toh sebetulnya aku tidak merayakannya. Hanya ikut ramai-ramainya. Kalaupun Mbah kakung masih ada, kupikir aku bisa mengunjunginya di saat lain saat harga tiket lebih ramah.

Kini, acara mudik dan ramai-ramai lebaran bisa dikatakan tidak menjadi agenda utamaku. Apalagi di zaman serba SMS begini, ucapan selamat bisa disampaikan lewat SMS. Atau lewat status FB dan Twitter, atau blog. Sederhana, mudah, dan tidak melelahkan–setidaknya bagiku. Memang sih, di sini ada om dan tanteku yang berlebaran. Tapi beberapa tahun terakhir, aku hanya mengirim ucapan selamat via SMS dan kartu lebaran. Kalau sepupuku–my partner in crime–bilang, itu namanya keponakan yang bandel.šŸ˜€šŸ˜€ Tapi entah besok, ya. Mungkin aku kepingin juga menyicipi opor di rumah Om atau Tante. Itu pun kalau tidak malas bepergian.šŸ˜€

One thought on “Nostalgia Lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s