Inside Out: Belajar tentang Emosi secara Menyenangkan

Note: Postingan telat 😀

Film yang terakhir kutonton di bioskop adalah Inside Out. Sudah lama aku mengincar menonton film itu. Awalnya aku sempat mengira, film itu tidak akan diputar di Indonesia. Tapi ternyata perkiraanku keliru. Dan aku menontonnya pada saat yang tepat: saat suasana hatiku butuh hiburan. 😀 😀

Film itu dibuka dengan film pendek Lava yang kemudian terkenal dengan kalimat: “I lava you”. Film pendek itu cukup menarik sebenarnya, tapi aku mencium “deux et machina” di situ—suatu plot twist yang menurutku sebaiknya dihindari dalam cerita. (Silakan googling sendiri untuk mengetahui apa itu deux et machina.) Menurutku, film itu bisa dibuat lebih nendang lagi dengan eksekusi yang lebih bagus.

Film Inside Out ini menggambarkan personifikasi emosi yang ada dalam otak kita–dengan mengambil tokoh Riley. Riley adalah seorang gadis pra remaja. Dia anak tunggal, kesayangan orangtuanya. Sebagai anak, sebenarnya hidupnya baik-baik saja dan cenderung menyenangkan–menurutku. Hingga sampai pada suatu hari, orangtua Riley pindah ke San Francisco. Pindah rumah memang kadang kala menimbulkan jejak yang tidak menyenangkan, apalagi ketika tempat yang tinggal yang baru itu tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan.

Di awal cerita, digambarkan Riley ketika masih bayi. Emosi yang muncul pertama adalah Joy (sukacita), disusul Sadness (kesedihan). Ketika semakin besar, emosi yang berperan di otaknya bertambah, yaitu Disgust (jijik), Fear (ketakutan), dan Anger (amarah). Interaksi antar emosi di dalam diri Riley digambarkan semakin rumit saat Riley ikut pindah ke San Francisco. Interaksi emosi-emosi itu bergerak seiring dengan pergulatan psikologis Riley.

Dilihat dari penggambaran karakter tokoh, awalnya yang dominan adalah Joy. Sadness yang sering ditegur oleh Joy supaya tidak melakukan ini dan itu. Dalam keseluruhan cerita, semua tokoh mendapat porsi yang pas. Penokohannya kuat. Hmm… mungkin karena sudah jelas ya ciri-cirinya. Kalau Joy berarti si pembuat gembira. Kalau Sadness, pandangannya sediiiih melulu. Anger, yang mengobarkan amarah (emang apa lagi sih?). Fear, yang selalu takut. Disgust, yang jijikan.

Struktur cerita film ini kokoh. Mulai dari karakter hingga plot twist-nya mulus. Oya, ada satu tokoh pembantu yang menurutku lucu sekaligus menyentuh: Bing Bong. Dia merupakan penyelamat dari petualangan Sadness dan Joy, tapi akhirnya dia sendiri lenyap demi untuk membantu si tokoh utama: Riley. Untuk nama Bing Bong ini aku sampai berpikir, seandainya aku bisa punya anjing, aku akan menamainya Bing Bong. Lucu banget kedengarannya. 😀

Dari film Inside Out ini, aku belajar tentang bagaimana otak mengolah apa saja yang kita terima. Soal ingatan jangka panjang, ada ingatan yang kemudian dibuang, ada hal tidak penting yang terus muncul tanpa diundang (dalam film ini digambarkan dalam bentuk iklan Tripledent Gum), soal subconscious mind, soal train of thought, dan sebagainya. Begitu pula aku mulai paham soal emosi yang mengendalikan tindakan-tindakan kita.

Selanjutnya aku jadi teringat ketika latihan meditasi, yaitu berusaha mengamati dan tidak menuruti gejolak emosi (tarik napaaaasss…. lepaskan). Setelah menonton Inside Out ini, aku berpikir bahwa tampaknya memang meditasi itu penting. Kenapa? Karena dengan meditasi kita jadi menjadi punya daya untuk memilih tindakan yang kita ambil saat ada emosi yang begitu dominan menguasai. Misalnya, ketika Riley marah dan memilih meninggalkan keluarganya, saat itulah Anger menguasai dirinya. Seandainya Riley menarik napas, merenung, dan menyadari bahwa Anger-lah yang menggerakkan dia, mungkin dia akan melakukan tindakan yang berbeda. Mungkin looo… 😀 Dan dari tindakan-tindakan yang dilakukan Riley, aku jadi melihat betul bahwa emosi mengambil porsi besar dalam aktivitas kita sehari-hari. Jadi, memang perlu semacam disadari dan dikendalikan, bukan?

Film Inside Out ini dibuat secara serius. Ada ahli emosi kenamaan yang terlibat di dalamnya, yaitu Paul Ekman dan Dacher Keltner. Paul Ekman adalah Profesor Emeritus jurusan Psikologi di UCSF. Dia peneliti dan pengarang yang sudah banyak dikenal, yang membahas perilaku nonverbal, ekspresi muka dan isyarat (gesture). Pada tahun 2009, oleh majalah TIME, Ekman dimasukkan dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia. Dacher Keltner sendiri murid Paul Ekman. Kebayang kan kalau dua orang ilmuwan ini masuk dalam tim yang menggarap film Inside Out? Referensi risetnya sudah tidak diragukan lagi. (Menulis cerita kan tidak asal nulis. Riset itu penting!) Inside Out disutradarai oleh Pete Docter, yang prestasinya sudah tak perlu diragukan lagi. Googling deh kalau nggak percaya. 😀

Singkat kata, film ini keren banget. Keluar dari gedung bioskop, rasanya terhibur banget. (Kan di depan aku sudah cerita, aku lagi butuh hiburan. Hehehe.) Selain itu, dengan menyaksikan fillm ini aku terbantu untuk belajar dan mengenal diriku. Rasanya sih pengen bisa mengoleksi film ini, biar kapan-kapan bisa nonton lagi. 😀
So, kamu sudah nonton Inside Out?

Advertisements

Tabula Rasa: Merayakan Kebhinekaan Indonesia

Aku mau membuat pengakuan… bahwa sesungguhnya aku terlambat mengenal masakan Padang. Seingatku aku mengenal masakan Padang pertama kali waktu SMP atau SMA. Waktu itu, lidahku masih dibawah pengaruh otakku yang “picky eater”–suka pilih-pilih makanan. Jadi, aku kurang menikmatinya. Tapi waktu aku kerja di Jogja, tak jauh dari kantorku ada kedai Padang. Salah seorang teman bilang bahwa nasi Padang di situ enak banget. Ternyata memang enak. Waktu itu aku sudah tidak terlalu picky eater. Sejak tinggal di asrama dan mesti menyantap menu apa saja yang terhidang pada hari itu, kebiasaanku untuk pilih-pilih makanan sudah lumayan jauh berkurang. Oya, sayangnya sekarang tempat itu sudah tidak ada.

Tak jauh dari tempat tinggalku, ada sebuah rumah makan Padang yang sepertinya cukup terkenal di Jakarta, yaitu restoran Sederhana di seberang Pasar Sunan Giri, Jakarta Timur. Seorang temanku merekomendasikan restoran itu. “Rendangnya enak banget,” kata dia. Penjaga kontrakanku, yang orang Padang, juga bilang di restoran itu masakannya enak. “Cocok dengan lidah saya,” katanya. Tapi ketika mencoba makan di situ, aku jatuh cinta pada ayam pop.

Menu masakan Padang beberapa kali menjadi penghibur hati ketika aku sedang bete. Sepertinya untuk melupakan pahitnya dunia, makan enak memang bisa jadi salah satu pelarian.

Beberapa waktu lalu, ketika sedang menonton film Negeri Tanpa Telinga di bioskop, muncul tayangan trailer film Tabula Rasa. Film apa nih? Kok menampilkan masakan Padang? Seingatku, aku belum pernah menyaksikan film yang benar-benar mengangkat kuliner Indonesia. Jadi, sukseslah aku menunggu-nunggu penayangan film Tabula Rasa tersebut.

Tabula Rasa mulai tayang kemarin, tanggal 25 September. Astaga, kayaknya ini kali pertama aku benar-benar mengingat tanggal penayangan perdana sebuah film Indonesia. Aku sudah tak sabar menonton.

Ini trailer film Tabula Rasa itu:

Oke, singkat cerita, aku dan suamiku nonton film itu kemarin di bioskop Arion. Film itu mengisahkan seorang pemuda asal Serui, Papua, bernama Hans yang pergi meninggalkan kampung halamannya ke Jakarta. Hans (Jimmy Kobogau) seorang pemain sepak bola di daerahnya. Cita-citanya adalah menjadi pemain sepak bola profesional. Maka ketika ada seorang yang mengajaknya ke Jakarta untuk dijadikan pemain sepak bola, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Namun, jalan hidup Hans berbelok. Pergi dari Serui bukannya jadi pemain sepak bola profesional, dia malah jadi pemuda gelandangan. Duh, adegan dia menyambung hidup di Jakarta rasanya miris sekali. Jakarta yang keras sempat membuat Hans ingin bunuh diri. Tapi kemudian dia bertemu Mak (Dewi Irawan), seorang pemilik warung makan Padang. Bagiku, adegan pertemuannya dengan Mak ini menyisakan perenungan yang panjang. Mak menemukan Hans yang tengah tergeletak dengan luka di kepala. Waktu itu pagi hari, Mak tengah pulang dari pasar. Mak berusaha membangunkan Hans. Memeriksa apakah pemuda bertampang khas orang Papua itu masih hidup, Mak meletakkan jarinya di bawah hidung Hans. Hans pun bangun karena terkejut. Mak lalu mengajak pulang Hans dengan dibantu Natsir (Ozzol Ramdan), pekerja yang bekerja di warung nasi Padang Mak.

Sebagai orang baru, apalagi dengan penampilannya yang lusuh, Hans tidak serta merta diterima di rumah (sekaligus warung makan) Mak. Kalau aku jadi penghuni rumah Mak, mungkin aku juga mempertanyakan Hans. Siapa dia? Kalau dia orang jahat bagaimana? Bukannya malah merepotkan? Padahal saat itu warung Mak sedang sepi. Alias kondisi keuangan Mak sedang susah juga. Tapi apa komentar Mak? (Aku tulis berdasarkan ingatanku saja. Aku tidak ingat persisnya percakapan antara Mak, Natsir, dan Uda Parmanto, juru masak warung Mak (diperankan Yayu Unru).

Natsir: Berbuat baik itu ada batasnya.
Mak: Apa batasnya?
Natsir dan Uda Parmanto pun diam.

Ya, ya… berbuat baik idealnya tidak ada batasnya. Tapi kita sekarang memang biasa menghitung-hitung perbuatan baik. Adegan Mak menolong Hans itu membuatku teringat kisah orang Samaria yang baik hati. Aku tidak tahu apakah penulis skenarionya membayangkan kisah itu waktu menulisnya atau tidak. Tapi kebaikan Mak yang memberi tumpangan kepada Hans itu menggedor nurani. Zaman sekarang gitu lo, siapa sih yang mau menolong orang yang keleleran di jalanan? Yang menolong begitu saja karena tergerak hatinya? Ah, ya… semoga masih ada.

Film ini dari awal sampai akhir cukup memikatku. Plot dan ceritanya tidak kedodoran. Musiknya oke banget, gabungan antara musik tradisional Papua dan Sumatera. Rasanya seperti mengecap rasa Indonesia yang asli: pasar tradisional, keindahan Papua, potret kemiskinan kota, dan yang pasti… masakan Padang! Dijamin penonton ngeces waktu menyaksikan adegan memasak di dapur Mak. Itu gulai kepala ikan bikinan Mak terbayang-bayang sampai sekarang! Hih, mesti segera mencari hari kapan bisa mencicipi gulai kepala ikan yang uenak!

Film ini menggambarkan kekayaan Indonesia. Mulai dari makanan sampai bahasa. Oya, satu hal yang kusukai dari film ini adalah dialognya memakai bahasa daerah. Tapi tenang… ada terjemahannya kok. Jangan khawatir tidak bisa mengikuti percakapan mereka. Film ini juga mengangkat kebhinekaan Indonesia. Perbedaan suku dan agama di antara para lakon tampil alami, wajar. Terselip pula kelakar serta peribahasa dalam percakapan mereka.

Menonton ini semakin membuatku bangga pada Indonesia… negeri yang cantik dan kaya ini. Plus membuatku lapar! Haha.

Selamat menonton. Selamat merayakan Indonesia.

Untuk mengetahui lebih lengkap tentang film ini, silakan berkunjung ke sini.

Sepeda: Sebuah Kerinduan dan Kebebasan

Kapan kamu mulai bisa naik sepeda? Dibanding teman-teman sebayaku, aku lebih lambat. Baru ketika naik kelas 4 SD aku bisa naik sepeda. Sebelumnya aku takuuut! Memang dasar penakut aku ini. Sebelumnya aku sudah pernah belajar naik sepeda, tapi aku beberapa kali jatuh dan kapok. Jatuhnya sih tidak seberapa. Tapi waktu itu kuku jempol kakiku sempat nggasruk aspal, sehingga copot dan berdarah-darah. Jadi, aku sempat mandeg tidak mau latihan naik sepeda cukup lama.

Lama aku mengubur keinginan untuk bisa naik sepeda. Ketika menyaksikan teman-teman sebayaku bisa naik sepeda, kok aku jadi pengin ya? Akhirnya aku mencoba latihan lagi. Aku ingat, dulu aku latihan naik sepeda di dekat stadion. Di sana ada lapangan kecil yang cukup rindang dan sepi. Seingatku aku tidak terlalu lama latihan dan akhirnya bisa. Mungkin saking penginnya, jadi akhirnya cepat bisa. Meskipun begitu, aku tidak pernah bisa memboncengkan teman. Tidak pernah latihan. Sampai sekarang pun aku tidak bisa. Aku hanya bisa memboncengkan orang lain saat naik sepeda motor.

Selama ini, sepeda yang kumiliki tidak pernah sepeda yang baru. Aku selalu dapat lungsuran. Sepeda pertamaku adalah sepeda mini merah bekas milik kakakku. Ketika aku memakai sepeda mininya, dia punya sepeda jengki. Setelah dia melanjutkan SMA di Jogja, aku ganti memakai sepeda jengkinya. Dulu sempat pengin sepeda federal (waktu aku SMP, sepeda model itu lagi tren), tapi tidak pernah kesampaian. Sepeda-sepedaku dibarui hanya dengan dicat ulang. Warnanya memang jadi kinclong dan membuatku pangling.

Ya, sejak kelas 4 SD sampai aku SMA, sepeda adalah salah satu bagian hidupku. Hampir selalu aku naik sepeda untuk beraktivitas ke sekolah dan ke gereja. Waktu SMA, aku memang mulai naik sepeda motor, tapi untuk ke sekolah aku tetap naik sepeda atau jalan kaki.

Ketika aku kuliah di Jogja, aku tidak membawa sepeda. Waktu itu aku merasa cukuplah aku naik angkot dan jalan kaki. Tapi dalam hati, aku kangen juga naik sepeda. Entah kenapa aku waktu itu tidak memutuskan membawa sepeda, aku tak ingat. Mungkin karena aktivitasku hanya di kampus dan asrama. Lalu setelah lulus, aku mulai naik sepeda motor di Jogja. Sepeda motor jadi bagian yang tak terpisahkan. Menurutku, Jogja kurang bersahabat kendaraan umumnya. Tidak bisa diandalkan. Jadi, kalau mau lebih leluasa ke sana-sini, paling enak naik sepeda motor.

Sekarang aku tinggal di Jakarta dan… aku suka kangen naik sepeda. Tapi aku tetap tidak membawa sepeda ke sini. Aku pikir, tidak terlalu efektif. Lagi pula, kota ini terlalu besar untuk dikelilingi dengan sepeda dan lalu lintasnya kurang bersahabat. Belum lagi polusinya. Jadi males deh bawa-bawa sepeda ke sini.

Rasa-rasanya, ceritaku tentang sepeda tadi biasa saja. Aku pun selama ini merasa, perempuan sepertiku bisa naik sepeda itu hal yang biasa. Begitu pula soal kekangenanku naik sepeda yang sekarang seringnya kutumpahkan saat aku pulang ke Jogja. Itu pun juga kalau bangunku tidak kesiangan. Lalu apa istimewanya ceritaku soal sepeda itu? Aku tersadar bahwa aku bisa naik sepeda semasa kecil dulu adalah hal yang istimewa ketika menyaksikan film Wadjda kemarin di Erasmus Huis. Aku tidak punya ekspektasi apa pun saat akan menyaksikan. Malahan aku agak bingung waktu membaca sinopsis film itu pada awalnya. Dikatakan bahwa Wadjda (si tokoh utama di film itu) pengin beli sepeda. Apa istimewanya keinginan anak perempuan punya sepeda? Hampir semua anak bisa naik sepeda kan? Tapi rupanya sepeda itu adalah simbol. Simbol kebebasan.

Jadi, ceritanya ada anak perempuan di Arab Saudi bernama Wadjda. Dia masih SD. Kesanku, anak itu bandel. Tapi yaaa… bandelnya anak-anak. Biasa. Menurutku, dia agak lain daripada teman-temannya yang lain. Dia berani dan punya kemauan keras. Dan sepertinya dia tidak ingin cepat-cepat dinikahkan seperti hal kebiasaan yang lazim di sana. Dia cuma pengin sepeda warna hijau agar bisa berlomba naik sepeda dengan Abdullah, temannya yang suka menggoda dia. Di film itu terlihat hanya dia yang punya teman laki-laki. Sepertinya di sana memang dibatasi pertemanan antara laki-laki dan perempuan–bahkan untuk anak-anak.

Saking penginnya Wadjda punya sepeda, dia melakukan segala cara. Mulai dari merayu ibunya, jualan gelang buatannya sendiri–yang akhirnya ini pun dilarang oleh gurunya karena dipandang suatu hal yang tidak pantas (atau haram?), menjadi kurir surat teman sekolahnya yang ditujukan kepada teman pria. Suatu hari dia berniat ikut lomba menghapal ayat Al-Quran. Dia pun ikut semacam kegiatan ekstra keagamaan agar bisa berlatih. Alasan utama ikut lomba itu adalah, jika memenangkan lomba menghapal Al-Quran tersebut, uangnya cukup untuk membeli sepeda.

Di situlah aku merasa bahwa sebagai seorang perempuan, aku cukup merasakan kebebasan di negara ini. Aku tidak bisa membayangkan jika untuk hal-hal remeh saja aku dibatasi misalnya tidak boleh naik sepeda, tidak boleh berteman dengan laki-laki. Apa enaknya hidup seperti itu? Terlebih lagi, apa enaknya jadi warga kelas dua?

Pada akhirnya, Wadjda berhasil memenangkan lomba menghapal ayat Al-Quran. Dia jadi juara satu. Terang saja guru-gurunya kagum dan takjub. Anak nakal itu sudah berubah, pikir mereka. Tibalah saat penyerahan piagam dan hadiah. Wadjda dipanggil ke panggung, lalu ditanya uang yang didapatnya itu mau buat apa. Dengan polosnya gadis cilik itu menjawab akan memakainya untuk membeli sepeda. Semua temannya tertawa. Gurunya terhenyak. Ternyata anak ini belum berubah, pikir bu guru bermata tajam itu. Tahu apa yang dilakukan ibu guru itu? Dia memutuskan hadiah uang untuk Wadjda itu disumbangkan ke Palestina. Waktu mendengar keputusan guru itu, aku ikut sebal. Apa-apaan sih? Jelas itu haknya Wadjda. E… enak saja dia mau menyumbangkan uang tersebut. Tapi Wadjda hanya diam menanggapi keputusan sepihak gurunya.

Sesampainya di rumah, Wadjda tidak menjumpai ibunya. Hanya ada ayahnya (yang tampaknya pulang sesekali saja). Ternyata, si bapak hari itu memutuskan akan menikah lagi karena ibu Wadjda yang cantik itu tidak bisa memberikan anak laki-laki. Duh, rasanya pengin nampol si bapak itu deh. Di akhir film itu diperlihatkan Wadjda menjumpai ibunya di loteng sedang merokok. Rambut ibunya yang panjang dan indah sudah pendek. Mungkin itu adalah bentuk perlawanan ibunya setelah suaminya memutuskan menikah lagi. Selain itu, Wadjda akhirnya mendapat sepeda yang diidamkan dari ibunya. Akhir yang manis, menurutku.

Menyaksikan film itu rasanya campur aduk: kesal, geli, marah, dan merasa ngenes. Aduuuh… kenapa ya ada yang seperti itu di belahan dunia lain? Memang itu bukan kisah nyata, tapi itu potret budaya. Film itu disutradarai oleh Haifaa al-Mansour, seorang wanita Arab. Itu adalah film pertama yang syutingnya keseluruhan dilakukan di Arab Saudi, yang mana ini adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan di sana karena budayanya yang sangat didominasi laki-laki.

Aku merasa beruntung menyaksikan film ini. Selain gratis, rasanya kemarin itu adalah satu-satunya kesempatanku untuk menyaksikan Wadjda. Rasanya tak mungkin film seperti ini bisa ditayangkan di bioskop Indonesia. Setelah menyaksikan film itu aku merasa bersyukur di negara ini kaum perempuan masih dihargai dan bisa menikmati kebebasan. Setidaknya waktu kecil, aku bisa naik sepeda dengan gembira keliling kota. Baru kusadari, tidak semua perempuan bisa menikmati bersepeda dengan bebas.

Jika tertarik, silakan menyaksikan wawancara Haifaa al-Mansour di sini dan ini trailernya.

//

Mengintip Kecantikan Indonesia dalam The Mirror Never Lies

Ada pertanyaan yang kadang bergema di benakku: “Apakah aku sudah mengenal Indonesia? Seberapa kenal?” Pertanyaan ini belum menemukan jawaban yang pasti. Entahlah. Mau dijawab sudah kenal, tapi kok rasanya belum kenal-kenal amat. Tapi kalau dijawab belum, kok rasanya keterlaluan. Bagaimanapun, sebagai orang Jawa yang lahir dan besar di Pulau Jawa, aku merasa hidupku ya seputar Jawa. Ketika suatu kali aku berkunjung ke Pulau Bali dan Belitung, sempat terbersit dalam pikiranku, “Eh, ini bagian dari Indonesia juga ya? Ternyata Indonesia itu bukan cuma Jawa dan Jawa dan Jawa.” (Ya iyalah… baru sadar ya? Kasihan deh aku. Hahaha.) Melihat Indonesia dari pulau lain selalu memberikan kesan lain dalam diriku tentang Indonesia. Kesan itu ya soal keindahannya, soal keragaman budayanya, soal Indonesia itu sendiri. Kemarin aku mendapat sekilas perenungan untuk menjawab pertanyaan di atas dari film yang kutonton.

Kemarin aku dan suamiku nonton film, judulnya The Mirror Never Lies (Laut Bercermin). Pertama kali melihat poster film Indonesia itu, aku sebenarnya tak ingin terlalu berharap mengingat film terakhir “?” yang kutonton rasanya biasa-biasa saja. Jangan-jangan film ini juga mengecewakan. (Eh, ini bukan karena isu pluralisme yang ada di film “?”. Tetapi lebih karena film “?” tidak nendang. Mungkin si pembuat film terlalu terbebani untuk menyampaikan pesan, jadi sisi sinematografinya tidak tergarap dengan baik. Biasa sangat.) Entah kenapa ya, kalau ada label film Indonesia, kok aku belakangan agak tak yakin bakal bagus. Apalagi belakangan yang paling mendominasi adalah film pocong dan kawan-kawannya. (Gambar dipinjam dari sini.)

Oke, jadi bagaimana film tersebut?

“Film ini settingnya di Wakatobi,” kata suamiku.
Eh, Wakatobi itu di mana sih? Rasanya pernah dengar. Ketahuan kan kalau pelajaran geografiku buruk? 😀
“Berkisah tentang suku Bajo,” lanjutnya.
Apa itu suku Bajo? Aku memang pernah membeli buku yang mengisahkan perjalanan seorang antropolog Perancis yang sempat menghabiskan waktu beberapa bulan bersama orang Bajo. Tetapi, aku baru membaca sekilas buku itu dan belum kubaca lebih detail. Niatnya sebelum nonton ingin membaca buku itu dulu, tetapi tumpukan baju kotor lebih memaksaku untuk mencuci daripada melewatkan waktu membaca buku. 😦

Buku "Orang Bajo" yang masih menunggu untuk dibaca lebih saksama

Lanjut dulu saja deh.

Film itu menceritakan kisah seorang gadis pra-remaja bernama Pakis (Gita Lovalista). Ayahnya hilang di lautan. Ia sekarang tinggal dengan ibunya, Tayung (Atiqah Hasiolan), yang kini menjadi tulang punggung keluarga. Tayung dan Pakis sering berselisih. Masalahnya, Pakis masih berharap ayahnya akan pulang sembari terus menghidupkan kenangan dengan sang ayah, sedangkan Tayung berusaha untuk realistis dan berusaha menerima bahwa suaminya memang sudah tiada. Bagaimanapun perilaku Pakis yang sering berkutat dengan cermin pemberian ayahnya dan beberapa kali pergi ke paranormal untuk menanyakan keberadaan sang ayah, membuat Tayung sedih. Tetapi dia berusaha menyembunyikan kedukaannya itu lalu ia mulai memakai pupur putih di wajahnya.

Pakis berteman dekat dengan Lubo (Eko), seorang bocah lelaki teman sekelasnya. Menurutku dia menjadi penyeimbang karakter Pakis yang sering sedih. Bocah itu ceria dan sering membantu Pakis.

Suatu hari, datanglah Tudo (Reza Rahadian), seorang pemuda Jakarta yang meneliti lumba-lumba. Awalnya Pakis kurang suka dengan Tudo. Tetapi lama-lama Pakis sering membantu Tudo juga–tentunya dengan Lubo dan salah seorang kawannya yang suka bernyanyi Kutta (Inal). Kisah film itu berkembang di sekitar para tokoh itu: Pakis, Tayung, Tudo, dan Lubo.

Bagiku yang menarik dari film itu adalah gambaran tentang suku Bajo yang kental. Kekentalan itu tampak dari bahasa yang dipakai, yaitu bahasa orang Bajo. Jangan khawatir, ada terjemahan bahasa Indonesianya kok. Lalu ditambah lagi, pengambilan gambar cukup detail tentang keseharian masyarakat Bajo (tentang kasuami, pasar tempat mereka berjual-beli, kaum lelaki yang mencari ikan, dll) dan upacara adat mereka (upacara perjodohan serta penguburan). Dan yang paling keren adalah gambar-gambar pemandangan alam di sana. Cantik sekali. (Foto dipinjam dari sini.)


Hal lain yang menarik adalah tokoh utama film itu Pakis, dimainkan oleh gadis asli suku Bajo, Gita Lovalista. Aktingnya tidak canggung. Selain itu, Lubo, yang dimainkan oleh Eko juga anak suku Bajo. Kalau diminta menilai akting antara Eko dan Gita, bagiku lebih asyik si Eko. Yang lucu adalah adegan ketika Eko memberi makan burung camar peliharaannya. Lucu banget. Dia mengulur-ulur memberi makan, dan kepala si camar ikut bergerak mengikuti gerakan tangan Lubo. Hihihi, jadi geli sendiri kalau ingat. (Gambar dipinjam dari sini.)

Persahabatan Pakis, Lubo, dan Kutta

Menurutku, film ini cocok untuk mempromosikan pariwisata daerah Sulawesi Tenggara, terutama soal suku Bajo dan daerah Wakatobi. Gambar-gambarnya di film itu amat menawan: langit yang biru, gumpalan awan yang seperti kapas, laut yang jernih, pemandangan bawah laut yang aduuuh … keren banget deh!!! Saat menyaksikan itu aku jadi bangga jadi orang Indonesia. Indonesia memang cantik pemandangan alamnya. 🙂

Kalau mau mengulik kekurangan film ini, yaitu ceritanya kurang kuatnya dalam menarik emosi penonton. Aku termasuk penonton yang cengeng, yang kalau ada adegan mengharukan sedikiiit saja, pasti mataku sudah panas. Tetapi kemarin aku tak sampai keluar bioskop dengan mata merah. Hehehe. Tetapi yang aku suka adalah, film ini tidak menggurui. Jadi, orang-orang yang sering mengharapkan bisa menarik pelajaran moral dari film (eh, ini penting ya?), kurasa akan kecewa. 😀

Pra produksi film ini memakan waktu 3 tahun. Film ini disutradarai oleh seorang gadis berumur 25 tahun, Kamila Andini, yang kurasa berhasil dimemetik pelajaran dari sang ayah, Garin Nugroho. Sebagai film pertama hasil penyutradaraannya, film ini bagus banget. Dan, yah, film ini menggambarkan Indonesia dari sisi lain. Kurasa, bangsa ini memerlukan film-film serupa, yaitu film yang menunjukkan ceruk-ceruk cantik dari Indonesia. Semoga ke depan, film horor dan film cinta-cintaan tak bermutu tidak mendominasi bioskop di Indonesia.

Untuk mengetahui film ini lebih jauh bisa berkunjung ke sini.

Jogja dan Acara Murah Meriah

Beberapa waktu lalu, aku ditanya: “Hal apa yang mengubah hidupmu?” Aku tak butuh waktu lama untuk menjawabnya, “Kuliah di Jogja dan tinggal di asrama.”

Ya, rasanya memang dua hal itu yang mengubah hidupku. Dua hal itu merupakan “peristiwa besar”. Memang aku tak pernah mencoba kuliah di kota lain, tetapi aku pernah mencicipi kira-kira satu bulan hidup di luar asrama–kost. Tapi menurutku rasanya tidak berlebihan jika Jogja dan asrama memberi dampak yang berbeda dalam perjalanan hidupku.

Begini, dulu ketika aku sudah pasti diterima kuliah di Sanata Dharma, Jogja, aku bisa memilih tinggal di rumah Mbah atau di asrama. Aku sendiri waktu itu sebenarnya lebih pengin tinggal di rumah Mbah. Rumah Mbah cukup enak, dan sejak kecil, di rumah itulah aku sering menghabiskan waktu liburan sekolah. Jadi, tidak terlalu asing. Tetapi waktu itu, Mbah Putri sudah sakit-sakitan (Mbah Kakung sudah meninggal). Kakakku sendiri waktu itu sudah hampir lulus kuliah. Tetapi, kakakku toh “ngotot” memintaku supaya aku tinggal di asrama. Dia bilang, rumah Mbah lebih jauh dari kampusku dan kalau aku tinggal di asrama, katanya aku akan punya teman banyak dari seluruh Indonesia serta punya kegiatan macam-macam. Kalau mau jujur, aku sama sekali tidak tertarik dengan alasan yang dikemukakan kakakku. Tapi orang tuaku sangat mendukung kakakku. Jadi, si bungsu ini akhirnya menurut saja (dengan setengah hati, tentunya …).

Soal kegiatan asrama, aku sudah pernah menuliskan di sini. Tetapi ada satu hal lagi yang ingin aku ceritakan. Begini, di asramaku dulu cukup sering ada informasi tentang hiburan murah meriah. Apa itu hiburan murah meriah? Itu lo, acara yang gratisan. Kalaupun harus bayar, sangat murah biayanya. Acaranya bisa berupa resital piano, resital gitar, pertunjukan film, teater, pameran lukisan, pameran fotografi. Kalau piano, biasanya pemain musiknya adalah orang asing dan yang dimainkan adalah musik klasik. Sedangkan untuk pertunjukan film, kadang acara itu terselenggara karena ada festival film asing (selain film-film Hollywood).

Awalnya, aku tidak terbiasa dengan pertunjukan atau acara semacam itu. Sebelum ke Jogja, kalau nonton film, yang kutonton ya sebatas film-film bioskop biasa. Dan aku sama sekali tidak kenal dengan resital piano, apalagi musik klasik. Teater juga hanya kukenal waktu SMP. Tapi itu pun sangat berbeda dengan pertunjukan teater yang kutonton di Jogja.

Tetapi, namanya juga mahasiswa yang uang sakunya terbatas, kalau ada acara murah meriah semacam itu, maka itu jadi pilihan kami untuk menghabiskan malam minggu. Acara-acara itu sebagian diadakan di LIP (Lembaga Indonesia Perancis) atau di UGM yang tidak jauh dari asramaku. Biasanya kami akan berangkat dan pulang bersama-sama. Jadi, biarpun acaranya selesai malam, aku tidak takut pulang karena kan bareng-bareng. Dan untuk mengirit, kami akan jalan kaki. He he …

Bagiku, pengalaman itu memberi pengaruh sampai sekarang. Kadang aku masih merindukan saat-saat semacam itu. Jadi, sekarang kalau di Jakarta ada acara semacam itu yang cukup terjangkau tempatnya dari tempat tinggalku, aku biasanya akan menyempatkan waktu untuk menonton. Nah, saat ini di Jakarta ada festival film Perancis. Aku sudah menonton dua filmnya, Le Concert dan Les Enfants de Timpelbach. Bagiku, menyaksikan film festival, yang biasanya temanya berbeda dari film-film yang ada di pasaran, memperkaya hati dan pikiran. Menyenangkan dan tidak mengecewakan.

Kadang-kadang aku berpikir, kenapa ya kok sepertinya tidak terlalu banyak peminat acara-acara seperti itu? Misalnya, dibandingkan film-film Hollywood yang sedang boom seperti Harry Potter atau bahkan film 2012 (yang katanya nggak bagus-bagus amat), masyarakat sepertinya lebih menyerbu film-film itu. Dari pengalamanku, menonton film dari negara lain (selain Amerika), rasanya ada semacam percikan yang berbeda yang ditimbulkan ke dalam hati. Duh, belibet deh ngomongnya. Ibarat makanan, kita tidak hanya mencicipi menu masakan yang umum, tetapi lidah kita juga terlatih menikmati masakan yang lain dari yang lain. Dan “masakan” itu enak kok. Dengan begitu, selera kita pun jadi diperluas.

Ngomong-ngomong pernahkah menyaksikan acara murah meriah semacam itu? Atau barangkali nonton festival film Perancis juga?

Departures yang Sempurna

Aku selalu menyukai cerita yang mendalam. Yang bisa mengantarkanku pada suatu permenungan dan kadang hal itu membuat menangis … (yes, memang aku kadang cengeng hihi). Dan aku sering tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa membuat cerita yang bagus, yang membuat orang terdiam, lalu melongok ke dalam dirinya sendiri. Kelihaian si penyusun cerita itu bisa menguntai kata demi kata, lalu menggabungkan peristiwa demi peristiwa tanpa terasa membosankan … biasanya akan membuatku menaruh respek besar kepada si penulis cerita. Dan biasanya setelah menikmati cerita yang bagus dan memuaskan, rasa puas itu akan menempel terus. Seperti kalau kita mendapat mimpi indah, biasanya sampai besok paginya akan terkenang-kenang kan? Nah, kira2 begitulah rasanya kalau aku merasa puas dengan suatu cerita tertentu.

Ceritanya, hari Jumat lalu (11/12/09), aku dan suamiku ke Blitz lagi untuk menyaksikan film2 Jiffest. Kali ini aku menonton dua film, yang pertama judulnya Departures dan yang satunya lagi 500 Days of Summer. Dari dua film itu, aku terkiwir-kiwir dengan film Departures ini. Sampai hari ini aku masih ingat betul bagaimana rasanya kepuasan yang aku rasakan. Aku tak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Tapi rasanya itu nancep banget di hati. Tak terlupakan seperti ciuman pertama.

Okuribito atau Departures ini menyabet piala Oscar untuk kategori film asing terbaik. Memang tak salah bagi para juri Oscar itu, karena film Jepang ini keren abis. Kalau aku bilang sih, film ini sempurna. Ceritanya menarik, yaitu soal pengantar mayat. Di sini dikisahkan Daigo Kobayashi, terpaksa kehilangan pekerjaan sebagai pemain cello karena kelompok orkesnya bubar. Sepertinya semakin sedikit orang yang menonton orkes itu, padahal musik yang mereka bawakan bagus banget lo! (Heran deh, kok sampai sepi penonton gitu ya?) Nah, Daigo kemudian pulang kampung bersama istrinya, Mika Kobayashi, ke rumah peninggalan ibunya. Mau kerja apa di kota kelahirannya itu? Suatu pagi, dia menemukan iklan lowongan pekerjaan. Dia lalu mendatangi perusahaan yang memasang iklan tersebut. Dia pikir perusahaan itu adalah agen perjalanan. Ternyata oh ternyata … itu adalah agen yang mengurusi jenasah (yang digambarkan di film itu adalah membersihkan, merias, dan memasukkan jenasah ke peti mati). Dan dia langsung diterima di situ dengan bayaran yang gede banget!

Di Jepang, rupanya itu dianggap pekerjaan hina. Memegang mayat orang lain (yang bukan sanak keluarga) dianggap hal yang kotor oleh masyarakat Jepang. Dari blog Yusahrizal, aku tahu bahwa biasanya pekerjaan ini dilakukan oleh pendatang (biasanya orang Korea). Namun, meskipun mendapat cibiran dari orang-orang sekitarnya (termasuk istrinya–pada awalnya), Daigo melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Kalau mau tahu sinopsis dan ulasan film ini, cek saja di sini, sini, dan sini.

Aku mau cerita saja soal kesanku terhadap film ini. Dari mbak Imelda, aku tahu bahwa film ini proses pembuatannya selama 10 tahun! Ya, sepuluh tahun. Gila ya? Tidak heran kalau film ini tampak sempurna. Ada beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya ketika menyaksikan film ini. Yang pertama adalah kenapa ya Daigo kurang terbuka terhadap istrinya? Waktu ia tidak lagi bisa menjadi pemain cello, yang dipikirkannya pertama kali adalah bagaimana ia bisa membiayai cello miliknya? Cello itu masih kredit rupanya. Dan harganya ampun-ampunan: 18 juta yen! (Duit semua ya itu?) Waktu beli cello itu, dia tidak bilang kepada istrinya berapa harga sebenarnya. Daigo bilang, dia khawatir istrinya tidak akan memperbolehkannya membeli cello itu. Dan Daigo awalnya juga tidak memberi tahu istrinya, apa pekerjaan yang didapatnya (sebagai pengurus jenasah). Kok bisa ya? Masak istri sampai nggak tahu apa pekerjaan suaminya sih? Pertanyaan kedua yang muncul di benakku adalah kenapa Daigo sepertinya membiarkan begitu saja ketika Mika meninggalkan dia? Mika pergi karena ia malu dan tidak setuju dengan pekerjaan Daigo. Tidak ada ceritanya Daigo ini tergopoh-gopoh menyusul istrinya. Jepang banget deh!

Kesanku yang lain adalah film ini sangat menyentuh hati. Bagian yang menyentuhku adalah ketika Daigo mengurus jenasah ibu temannya. Tidak terbendung deh air mata yang mendadak mengalir dari mataku. Pas adegan itu juga tidak banyak kata-kata, hanya bahasa gambar. Tapi kesannya daleeeem banget. Adegan lainnya yang sangat menyentuh adalah ketika Daigo mengurus jenasah ayahnya. Huaaaa … nangis bombay deh! Mana waktu itu aku sedang pemulihan batuk, pilek. Jadi, masih belum longgar banget hidung dan tenggorokanku. Akibatnya aku jadi susah bernapas gara-gara air mataku meluncur deras. Malunya itu waktu keluar dari bioskop, mataku kelihatan banget kalau sembab. Huh! 😦

Soundtrack film ini juga pas banget. Sempurna! Membuat hati semakin terpilin-pilin. Dan jelas membuat air mataku semakin deras mengalir. Parah deh! Pengambilan gambarnya juga bagus. Terutama waktu menampilkan angsa yang sedang terbang itu untuk menggambarkan jiwa orang yang meninggal. Kesanku tuh menyentuh dan pas banget. Aku jarang-jarang nonton film Jepang. Kata suamiku, film Jepang yang dibuat di studio Shochiku biasanya bagus.  Dan oiya, Masahiro Motoki yang menjadi Daigo Kobayashi cakep banget! Hi hi hi :”>

Kalau ada kesempatan aku mau menonton film ini lagi. Tapi di mana dan kapan ya?