Teh Mint

“Lasti, kamu masih punya teh?” Kudengar suara serak di seberang telepon.

“Ke sini aja,” jawabku singkat.

Tak sampai lima menit Aning telah muncul di dapur. Matanya merah, mukanya sedikit pucat.

“Kamu flu?” Mestinya aku tak perlu bertanya.

Aning mengangguk.

Aku segera menuang air panas ke cangkir lalu kucelupkan satu kantong teh.

“Itu teh yang dikirim Lani kemarin kan, Las?” suara Aning terdengar semakin serak. Sengau pula.

Ganti aku yang mengangguk. “Cuma teh Lani yang enak,” kataku.

“Benar. Biasanya pagi-pagi begini, kita ngumpul bertiga sambil minum teh di rumah Lani, ya.”

Serempak kami menoleh ke rumah depan yang kosong.

“Itu kan alasan supaya ada yang mengasuh bayinya sebentar,” kataku. Kami tertawa bersama. “Nih, semoga seenak buatan Lani,” aku menyorongkan secangkir teh kepada Aning.

“Hmm… wangi.” Aning menghirup teh sambil terpejam. “Sayangnya cuma satu yang kurang.”

“Apa?” tanyaku cepat.

“Daun mint!”

Cuma Lani yang selalu berhasil menanam mint. Dan teh mint jadi minuman andalannya.

“Coba ada Lani, ya,” suara serak Aning seperti membentur cangkir.

Aku terdiam. Sejak rumah depan itu kosong, seperti ada yang kosong pula dalam hatiku.

 

Kling…

Ding…

 

Suara ponsel kami berbunyi bersamaan. Kami bersamaan melirik ke ponsel. Muncul foto dan pesan di bawah nama Lani:

“Tanpa kalian minum teh mint rasanya ada yang kurang deh…”

“Haha!” Seketika wajah Aning sumringah.

“Kangen juga dia,” sahutku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s