Aroma dari Seberang Telepon

Pukul lima lewat lima. Seketika aku teringat obrolan denganmu beberapa saat lalu. Waktu itu kamu meneleponku dari kantor–saat teman-teman kantormu sudah pulang.

“Mas Tok!” suaramu seperti biasa terdengar ringan dan ceria.
“Ya, Dik,” jawabku.
“Mas Tok sedang apa?”

Ya, aku tahu kamu menelepon hanya kangen-kangenan. Tak ada maksud penting.

“Aku mau mandi,” ujarku.
“Aih, mandi. Ikut dong!”

Kudengar kamu tertawa. Suaramu membuatku teringat sepotong malam yang kita habiskan berdua. Dari malam hingga pagi. Ketika itu aku puas mendengarkan suara tawa kecilmu. Menikmati dirimu yang meletakkan kepala di bantal putih, yang tak henti-hentinya tersenyum kala menyimak cerita petualanganku.

“Aku akan misa jam enam, Dik. Mesti mandi cepat nih.”
“Pakai sabun Camay, ya Mas?”
“Iya, kok tahu?”
“Ah, Mas Tok sok lupa. Dulu Mas Tok pernah memberiku sabun Camay merah. Katanya biar selalu ingat pada aroma tubuhmu.”
Kini ganti aku yang tertawa. Ya, ya… aku ingat.
“Aku pun memakai sabun Camay jika kangen sama Mas.” Suaramu berganti sendu.

Ning, aku pun rindu. Rindu padamu. Rindu menghabiskan sore denganmu. Rindu mencerna aroma tubuhmu.

One thought on “Aroma dari Seberang Telepon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s